Trauma Kapitis

  • View
    610

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dedicated to surgery intern

Text of Trauma Kapitis

BAB I PENDAHULUANKasus trauma kapitis banyak dijumpai di samping trauma tulang, oleh karena bila penderita jatuh pada kecelakaan lalu lintas, sering kepala terkena lebih dahulu. Di Surabaya, frekuensi trauma kapitis meningkat dengan 18 % setiap tahunnya, sehingga secara kumulatif dalam lima tahun frekuensi dapat mencapai 100 % Trauma kapitis merupakan keadaan gawat darurat, sehingga harus segera ditangani. Pada trauma kapitis gangguan yang timbul dapat mengenai kulit dan jaringan subkutan, tulang tengkorak, jaringan otak, saraf otak, dan pembuluh darah. Banyak pasien korban kecelakaan yang mendatangi unit gawat darurat, dengan kondisicidera kepala, denganrata-rata 300 : 100.000 dari populasi pertahunnya membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit, dan 9 : 100.000 daripopulasimengalami kematian,halini terhitung dari 5000 pasien setiaptahunnya yang didata di Inggris. Sebagian dari kasus kematian ini tidak dapatterelakkan, tetapi sebagian kasus dapat dicegah. Penyebab yang paling utama dari cidera kepala adalah, kecelakaan lalulintas, jatuh, perkelahian, kecelakaan kerja, baikdi rumah maupun pada saat olah raga. Frekuensi penyebab terjadinyaciderakepalasangatlah bervariasi, bergantungjugadari usia pada masing-masing tempat di banyak negara. Di banyak negara, kegiatan preventif (pencegahan) dan punitif (pemberianhukuman) dalam pengukuran ambang batas alkohol, serta penggunaan sabuk pengaman,danketersediaan airbag, danjugapenggunaanhelm keselamatan, telah menurunkan jumlah angka kejadian. Sekali cidera kepala terjadi, tidak ada yang dapat mengelakkan kerusakan akibat benturan. Tujuan dari manajemen Cidera kepala adalah untuk meminimalisirkan kerusakan yang terjadi yang akanmengarahke komplikasi sekunder.

1

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI KEPALAII.I ANATOMI Anatomi kepala terdiri dariy y y y y y

Kulit kelapa (scalp) Tulang tengkorak Meningen Otak Cairan serebrospinalis Tentorium

A. Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan (SCALP) yaitu :y y y y y

Skin Connective tissue atau sub kutan Aponeorosis galea Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar Perikranium

Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan akibat laserasi pembuluh kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah, terutama pada bayi dan anak-anak. B. Tulang tengkorak Tulang tengkorak terdiri dari kubah atau kalvaria dan basis kranii. Kalvaria di regio temporalis tipis, namum dilapisi oleh otot temporalis. Sedangkan basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi atau dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fossa yaitu :

2

y y y

Fossa anterior Fossa media Fossa posterior

Fossa anterior adalah tempat dari lobus frontalis, fossa media adalah tempat lobus temporalis, sedangkan fosa posterior ad alah ruang bagian bawah batang otak dan serebelum.

C. Meningen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater, arakhnoid, piamater. Duramater adalah selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dan kranium. Karena tidak melekat erat pada selaput arakhnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (subdura) yang terletak antara duramater dan arakhnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural . Pada cedera otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Pada beberapa tempat tertentu duramater membelah menjadi 2 lapis

3

membentuk sinus venosus besar yang mengalirkan darah vena dari otak. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Sinus sigmoideus umumnya lebih dominan di sebelah kanan. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. Arteri-arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menybabkan laserasi pada arteri-arteri ini dapat menyebabkan perdarahan epidural. Arteri yang paling sering mengalami cidera adalah arteri meningea media yang terletak di fosa temporalis (fosa media). Dibawah duramater terdapat selaput arakhnoid yang tipis dan tembus pandang, setelah itu terdapat lapisan piamater yang melekat erat pada permukaan korteks serebri. Cairan serebrospinal bersirkulasi dalam ruang subarakhnoid. Perdarahan subarakhnoid umumnya disebabkan oleh cidera kepala.

4

D. Otak Otak manusia terdiri dari serebrum, serebelum dan batang otak. Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan hemisfer kiri yang dipisahkan oleh falks serebri (lipatan duramater dari sisi inferior sinus sagitalis superior. Pada hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia atau disebut hemisfer dominan. Lobus fr ontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pada sisi dominan mengandung pusat ekspresi bicara (area bicara motorik). Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Pada lobus temporal untuk mengatur fungsi memori tertentu. Sedangkan lobus parietalis untuk proses penglihatan. Batang otak terdiri dari mesensefalon, pons, dan medula oblongata. Mesensefalon dan pons bagian ayas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi untuk kesadaran dan kewaspadaan. Pada medula obl ngata terdapat pusat o kardiorespiratorik, yang terus memanjang sampai medula spinalis di bawahnya. Jika ada lesi kecil saja pada batang otak akan dapat menyebabkan defisit neurologis yang berat. Serebelum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan, terletak dalam fosa posterior.

5

E. Cairan serebrospinalis CSS dihasilkan oleh pleksus khoroideus dengan kecepatan produksi 20ml/jam. CSS mengalir dari ventrikel lateral melalui voramen monro menuju ventrikel III, kemudian ke akuaduktus silvii menuju ventrikel IV, selanjutnya CSS keluar dari sistem ventrikel dan masuk ke dalam ruang subarakhnoid yang berada di seluruh permukaan otak dan medula spinalis. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Jika terdapat darah dala CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan intrakranial atau hidrochepalus komunikan post trauma.

6

F. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang

supratentorial yang terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media dan ruang infratentorial yang berisi fosa kranii posterior. Mesensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri dengan batang ota (pons dan medula k oblongata) dan berjalan melalui celah lebar tentorium serebeli yang disebut insisura tentorial. Nervus okulomotorius (N.III) berjalan sepanjang tepi tentorium, dan saraf ini dapat tertekan bila terjadi herniasi lobus temporal, yang umum nya diakibatkan oleh adanya masa supratentorial atau edema otak. Serabut serabut parasimpatik berfungsi melakukan konstriksi pupil mata berjalan pada sepanjang permukaan nervus okulomotorius. Jika paralisis pada serabut ini menyebabkan penekanan nervus III akan mengakibatkan dilatasi pupil oleh karena tidak ada hambatan aktivitas serabut simpatik II.2 FISIOLOGI A. Tekanan Intrakranial Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat menyebabkan kenaikan tekanan intrakranial. Kenaikan tekanan intrakranial dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan ataupun memperberat iskemia. Tekanan intrakranial normal pada keadaan istirahat sebesar 10mmHg. Jika tekanan intrakranial lebih tinggi dari 20 mmHg akan mengakibatkan hasil yang buruk. B. Doktrin Monro-Kellie Adalah suatu konsep sederhana yang dapat menerangkan pengertian dinamika TIK. Konsep utamanya volume intrakranial harus selalu konstan. Bila ada massa seperti hematoma, kompensasi intrakranial mengeluarkan darah vena dari ruang intrakranial dengan volume yang sama, TIK akan tetap normal. Namun jika mekanisme kompensasi ini sudah terlampaui, maka kenaikan jumlah massa yang sedikit saja akan menyebabkan tekanan intrakranial yang tajam atau fase dekompensasi.

7

C. Aliran Darah ke Otak (ADO) ADO normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55ml/100gr jaringan otak permenit. Pada anak usia 1 tahun hampir sama dengan ADO orang dewasa, tetapi pada usia 5 tahun ADO bisa mencapai 90ml/100gr/menit, dan secara gradual menurun sebesar ADO dewasa. Cidera otak berat s ampai koma dapat menurunkan 50% dari ADO dalam 6-12 jam pertama sejak trauma. ADO biasanya akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya, tetapi pada penderita koma, ADO tetap berada di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah trauma. ADO yang terlampau rendah tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolisme otak segera setelah trauma, sehingga akan mengakibatkan iskemi otak fokal ataupun menyeluruh. Jadi untuk mempertahankan ADO tetap konstan, pembuluh darah prekapiler otak memiliki kemampuan untuk berk onstriksi atau dilatasi sebagai respon terhadap perubahan kadar PO2 atau PCO2 darah atau disebut autoregulasi kimiawi. Pada cidera otak berat dapat mengganggu kedua mekanisme autoregulasi tersebut. Konsekuensinya adalah terjadi penurunan ADO karena trauma akan mengakibatkan iskemi dan infark otak. Iskemi dengan mudah diperberat oleh adanya hipotensi, hipoksia, atau hipokapnia karen hipoventilasi a yang agresif. Oleh karena itu semua tindakan ditujukan untuk meningkatkan aliran darah dan perfusi otak dengan c ara menurunkan volume intravaskuler, mempertahankan tekanan arteri rata-rata dan mengembalikan oksigenasi.

8

BAB III PEMBAHASAN

I. DEFINISI Cidera kepala adalah trauma pada kepala tanpa menyebabkan gang guan dari fungsi jaringan otak. Sedangkan cidera otak adalah trauma pada kepala yang disertai oleh gangguan fungsi dari otak baik fungsi motorik, sensorik atau autonom. Cidera