Tipologi Ekosimtem Pesisir Dan Laut

  • Published on
    19-Jan-2016

  • View
    164

  • Download
    2

Transcript

<ul><li><p>TIPOLOGI EKOSIMTEM PESISIR DAN LAUT </p><p> STAF PENGAJAR FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS BUNG HATTA </p><p>Dosen: </p><p>Ir. Arlius, MS., Ph.D </p><p> 1 </p></li><li><p>WILAYAH PESISIR </p><p> - Pesisir adalah wilayah yang unik, karena dalam konteks bentang alam, wilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan (Kay and Alder, 1999) </p><p> - Transisi antara daratan dan lautan di wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia </p></li><li><p>Daerah peralihan (interface area) antara ekosistem darat dan laut. Batas ke arah darat: Ekologis: kawasan yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti </p><p>pasang surut, intrusi air laut dan percikan air gelombang Administratif: batas terluar sebelah hulu dari desa pantai atau jarak </p><p>definitif secara arbitrer (2 km, 20 km, dst dari garis pantai) Perencanaan: bergantung pada permasalahan yang menjadi fokus </p><p>pengelolaan wilayah pesisir a. Pencemaran dan sedimentasi: suatu kawasan darat dimana </p><p>pencemaran dan sedimentasi yang ditimbulkan di sini berdampak pada kawasan pesisir </p><p> b. Hutan mangrove: batas terluar sebelah hulu kawasan hutan mangrove </p><p>Batas ke arah laut : Ekologis: kawasan perairan laut yang masih dipengaruhi proses-proses </p><p>alamiah dan kegiatan manusia di daratan, seperti aliran air sungai, limpasan air permukaan, sedimen dan bahan pencemar </p><p>Administratif: 4 mil, 12 mil, dst dari garis pantai Perencanaan: bergantung pada permasalahan (kawasan yang masih </p><p>dipengaruhi oleh dampak pencemaran atau sedimentasi, atau proses-proses ekologis) </p></li><li><p>Gambar 1.1. Batas Wilayah Pesisir (Parnetta &amp; Milliman, 1995) dalam Dahuri (1998) </p></li><li><p>WILAYAH PESISIR </p><p>Antar muka </p><p>daratan-lautan </p><p>HT </p><p>LT </p><p>Lingkungan </p><p>lautan Paparan benua </p><p>Daerah tangkapan </p><p>air </p><p>Belakang </p><p>pantai </p><p>Zona </p><p>intertidal </p><p>Lingkungan </p><p>daratan </p><p>Garis </p><p>pantai </p><p>Batas lautan Batas daratan </p><p>Batas Wilayah Pesisir </p></li><li><p>PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN </p><p>PULAU-PULAU KECIL TERPADU </p><p>RESORCE </p><p>HUMAN UTILIZATION </p><p>DISASTER MITIGATION </p><p>ICM </p></li><li><p>PWP-3-K </p></li><li><p>Komponen Sistem WP-3-K </p><p> Wilayah pesisir dengan demikian adalah suatu bentang alam yang "distinct", suatu unit terukur yang ditentukan oleh kelompok ekosistem yang saling berinteraksi dimana kelompok ini berulang, baik dalam skala ruang/luas maupun dalam skala temporal, proses geomorfologi yang berulang, serta regim perubahannya (Forman and Godron, 1986) . </p><p> komponen sistem wilayah pesisir dapat ditelaah dari segi: </p><p>1) Struktur: hubungan keruangan antara ekosistem yang distinct atau elemen-elemen yang ada. Lebih spesifik, struktur keruangan dilihat dari distribusi energi, materi, serta spesies yang berkaitan dengan besar, bentuk, jumlah, jenis, serta konfigurasi dari ekosistem tersebut </p><p>2) Fungsi: interaksi antara elemen spasial yang berkaitan dengan "aliran" energi, material, spesies, serta proses yang dipicu oleh kegiatan manusia dalam elemen ekosistem tersebut </p><p>3) Perubahan: aksi yang menyebabkan perubahan struktur dan fungsi mosaik ekologis sejalan dengan waktu. </p></li><li><p>A. Struktur: Organisasi ruang </p><p> Dahuri et al. (1996) dan Tomascik (1997) menjelaskan bahwa pesisir </p><p>dan laut Indonesia terdiri dari rangkaian sistem ekologi yang terkait satu </p><p>sama lain. </p><p> Rangkaian tersebut terdiri dari: </p><p> - wilayah estuaria </p><p> - wilayah mangrove, </p><p> - Wilayah Pantai </p><p> - wilayah padang lamun, </p><p> - wilayah terumbu karang. </p><p> k </p></li><li><p>B. Proses/ Fungsi: </p><p> Di wilayah pesisir terjadi beragam kegiatan yang merupakan bagian dari sistem keruangan wilayah tersebut. Proses dan fungsi yang terjadi di dalam struktur keruangan wilayah pesisir dapat ditinjau melalui dua karakter utama yaitu: proses alami dan proses antropogenik (Pollnac and Crawford, 2000) . </p><p> Masing-masing karakter kemudian akan saling mempengaruhi. Kemudian kedua proses ini akan memicu regim perubahan yang kemudian akan mempengaruhi komponen struktur wilayah pesisir (Forman and Godron, 1986) </p></li><li><p>B.1. Sistem alami terdiri dari: </p><p>1) Sistem Biotik, </p><p> - Berhubungan dengan sistem biologis dan sistem ekologis di wilayah pesisir. - Sistem kehidupan di wilayah pesisir memiliki jaring proses rantai makanan yang sangat </p><p> ketat sehingga keseimbangan alaminya sangat menentukan produktivitas keluaran </p><p> wilayah pesisir tersebut. </p><p> - Clark (1974) menjelaskan bahwa ada sebelas prinsip ekologi yang dapat mendasari fungsi </p><p> pengelolaan pesisir dan laut. Prinsip-prinsip ekologi tersebut mempengaruhi berjalannya </p><p> fungsi ekosistem yang optimal. Prinsip-prinsip tersebut adalah: Integritas ekosistem tidak ada satu bagian dari ekosistem yang berjalan sendiri Keterkaitan Air merupakan penghubung yang penting bagi elemen-elemen daratan dan lautan dari </p><p>ekosistem pesisir dan laut </p><p> Aliran masuk volume alami, pola, serta laju aliran air tawar musiman Sirkulasi cekungan (basin) pola alami sirkulasi air dalam cekungan Energi aliran dan jumlah energi yang ada mengatur proses hidup dalam ekosistem pesisir Penyimpan (storage ) kapasitas penyimpanan energi yang tinggi Nitrogen Produktivitas perairan pesisir biasanya diatur oleh jumlah nitrogen yang tersedia Cahaya (matahari) </p><p> Suhu </p><p> Jumlah oksigen </p><p> Salinitas </p></li><li><p>2) Sistem Abiotik: sistem yang mempengaruhi bentuk bentang alam </p><p>(landform) dari wilayah pesisir </p><p> - sistem geologi </p><p> - sistem oseanografis dan meteorologis </p><p> - sistem hidrologis di wilayah hulu. </p></li><li><p>Sistem Geologi </p><p>Sistem geologi yang berpengaruh terhadap karakteristik sumberdaya pesisir dan lautan mencakup: </p><p>a. Sistem gunung berapi. </p><p>Indonesia memiliki lebih dari 500 gunung berapi muda (Neuman van Padang 1951 dalam </p><p>Tomascik et al. 1997). Van Bemmelen (1949 dalam Tomascik 1997 </p><p>menjelaskan kelompok gunung berapi aktif di Indonesia serta rangkaiannya dala </p><p>kategori sebagai berikut: </p><p>1. Busur dalam vulkanik </p><p>2. Kelompok busur dalam vulkanik sistem pegunungan Sunda (Sumatra, Jawa, Sunda Kecil, dan Banda) </p><p>3. zona Minahasa Sangihe Ragay 4. Rangkaian Halmahera Utara Ternate Bacan 5. Busur Ruk sepanjang garis pantai utara Papua Nugini </p><p>6. Gunung berapi di bagian timur dari wilayah pegunungan di Papua Nugini </p><p>Busur luar non-vukanik : </p><p> Adaman Nicobar; Pulau-pulau di sebelah barat Sumatra lipatan bawah laut di selatan pulau Jawa Savu Roti </p><p>Timor busur luar Banda (Tanimbar Kai Seram; Lipatan Maju; </p><p> Bagian selatan dari Vogelkop di Papua Nugini. </p><p>Rangkaian gunung api ini berpengaruh terhadap jenis sedimentasi, bathymetri, serta deposit dasar </p><p>laut Indonesia yang kemudian berpengaruh terhadap karakter habitat hidupan pesisir dan lautnya. </p></li><li><p>b. Tektonik </p><p> Indonesia berada dalam lebih dari satu lempeng tektonik (Tomascik et.al. 1997). </p><p> Zen (1993 dalam Tomascik et al. 1997), menjelaskan bahwa kegiatan tektonik di bagian barat Indonesia, sangat berbeda dengan kegiatan tektonik di wilayah timur Indonesia. Tumbukan tektonik yang mencirikan sebelah barat Indonesia dengan zona tumbukan frontal di selatan Jawa dan tumbukan miring di sebelah barat Sumatra. </p><p> Tumbukan tektonik antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia mendominasi wilayah tenggara Indonesia (Zen 1993 dalam Tomascik et.al. 1997). Karakter tektonik ini berpengaruh pada kondisi biogeografi Indonesia. Selain berpengaruh pada kedalaman laut, kondisi tektonik ini berperan dalam pembentukan hamparan terumbu karang, rute migrasi biota terestrial dan penghalang migrasi biota laut, serta hubungan bentik laut dan populasi ikan. </p></li><li><p>Sistem hidrologis </p><p> Karena lokasinya yang merupakan peralihan antara daratan dan lautan, kondisi keseimbangan wilayah pesisir sangat rentan terhadap perubahan di wilayah hulu. Pencemaran di wilayah pesisir sebagian besar berasal dari aliran sungai serta sumber pencemaran yang non-point. </p><p> sistem hidrologis dari daerah aliran sungai (watershed) memegang peran yang penting dalam menentukan kondisi wilayah pesisir tersebut (Volk, 2000) . </p></li><li><p>B.2.Antropogenik </p><p> Keunikan wilayah pesisir tidak hanya dari proses alami yang sangat </p><p>erat kaitan antar elemen sistemnya. Secara umum wilayah pesisir </p><p>memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi yang dapat mengahasilkan </p><p>manfaat yang besar (Delaware, 1999) . </p><p> Dengan mosaik ragam ekosistem dan sumberdayanya, wilayah </p><p>pesisir dan laut merupakan ruang yang sangat strategis secara </p><p>ekonomi dan kesejahteraan sosial populasi penduduk yang ada di </p><p>dalamnya. </p></li><li><p>Sistem Oseanografi fisis dan meteorologis </p><p> Kepulauan Indonesia membentang di katulistiwa dan secara strategis terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Kepulauan Indonesia berfungsi sebagai penghalang dan sekaligus penghubung antara ke dua samudra di atas. Melalui Arus Lintas Indonesia, aliran arus dari samudra Pasifik ke samudra Hindia pengaruhnya sangat besar terhadap sirkulasi laut serta iklim global. </p><p> Dalam Tomascik (1997), beberapa sumber berpendapat bahwa sifat perairan Pasifik barat dan bagian timur samudra Hindia sangat dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia, di samping itu Arus Lintas tersebut adalah pembawa panas dari wilayah perairan hangat di wilayah barat Pasifik ke samudra Hindia. Peralihan panas ini mempengaruhi luas perairan hangat wilayah barat Pasifik yang kemudian akan berhubungan dengan terjadinya dan besarnya event El Nio/Southern Oscillation (ENSO) yang sangat berpengaruh terhadap perubahan suhu permukaan laut. Perubahan kecil saja pada suhu permukaan laut memiliki efek yang besar dalam klimatologi. </p><p> Gelombang pasang surut terdistorsi oleh kondisi batimetri yang rumit dan bentuk pesisir kepulauan Indonesia. Gangguan terhadap gelombang pasang surut memiliki dua efek global, yaitu; ada sebagian besar energi planet yang terdifusikan oleh campuran gelombang pasang surut yang berlangsung di kepulauan Indonesia yang kemudian berpengaruh kepada perlambatan rotasi bumi dan memperpanjang waktu siang hari; serta arus pasang surut memiliki peran penting dalam peralihan dan pencampuran karakter laut Indonesia. </p></li><li><p>B.2.Antropogenik </p><p> Keunikan wilayah pesisir tidak hanya dari proses alami yang sangat </p><p>erat kaitan antar elemen sistemnya. Secara umum wilayah pesisir </p><p>memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi yang dapat mengahasilkan </p><p>manfaat yang besar (Delaware, 1999) . </p><p> Dengan mosaik ragam ekosistem dan sumberdayanya, wilayah </p><p>pesisir dan laut merupakan ruang yang sangat strategis secara </p><p>ekonomi dan kesejahteraan sosial populasi penduduk yang ada di </p><p>dalamnya. </p></li><li><p>c. Perubahan/Change </p><p> perubahan di wilayah pesisir mengalami perubahan yang disebabkan </p><p>oleh perubahan-perubahan keseimbangan komponen sistem yang </p><p>lain (Forman and Godron, 1986, Gunawan, 1994) </p><p> Sumberdaya alam yang pulih dan yang tidak pulih memiliki karakter </p><p>rentang waktu yang berbeda, dengan demikian, pemanfaatannya </p><p>harus ditangani secara berbeda pula. </p><p> sumberdaya alam yang tidak pulih, biaya eksploitasi biasanya </p><p>dimasukkan ke dalam komponen biaya yang akan dibebankan </p><p>kepada komsumen. Sedangkan sumberdaya alam yang pulih, siklus </p><p>pemulihan (recovery) dari cadangan sumberdaya harus menjadi </p><p>pertimbangan utama dalam pemanfaatan sumberdaya tersebut. </p></li><li><p> Eksploitasi (exploitation) yaitu kolonisasi dari suatu daerah yang baru saja mengalami perubah </p><p> Konservasi (conservation) yaitu tahap dimana akumulasi serta penyimpanan energi dan material secara perlahan berlangsung </p><p> Pelepasan (release) yang disebut pula sebagai pengrusakan kreatif (creative destruction), yaitu tahap dimana akumulasi biomas dan nutrien yang tinggi hingga menjadi rentan (overconnected) sampai pada akumulasi tersebut dilepaskan oleh suatu agen seperti kebakaran hutan, badai, hama, dan sebagain </p><p> Reorganisasi (reorganization) yaitu tahap dimana setelah terjadi pelepasan (release) ekosistem melakukan proses minimisasi hilangnya nutrien dan biomas sehingga nutrien dan biomas tersebut siap untuk tahap eksploitasi berikutnya. </p></li><li><p> Eksploitasi (exploitation) yaitu kolonisasi dari suatu daerah yang baru saja mengalami perubah </p><p> Konservasi (conservation) yaitu tahap dimana akumulasi serta penyimpanan energi dan material secara perlahan berlangsung </p><p> Pelepasan (release) yang disebut pula sebagai pengrusakan kreatif (creative destruction), yaitu tahap dimana akumulasi biomas dan nutrien yang tinggi hingga menjadi rentan (overconnected) sampai pada akumulasi tersebut dilepaskan oleh suatu agen seperti kebakaran hutan, badai, hama, dan sebagain </p><p> Reorganisasi (reorganization) yaitu tahap dimana setelah terjadi pelepasan (release) ekosistem melakukan proses minimisasi hilangnya nutrien dan biomas sehingga nutrien dan biomas tersebut siap untuk tahap eksploitasi berikutnya. </p></li><li><p>PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN </p><p>PULAU-PULAU KECIL TERPADU </p><p>RESORCE </p><p>HUMAN UTILIZATION </p><p>DISASTER MITIGATION </p><p>ICM </p></li><li><p>Peran Ekosistem Pesisir Sebagai </p><p>Penyedia Sumberdaya Alam </p></li><li><p>Peran Ekosistem Pesisir Sebagai Penyedia </p><p>Jasa Pendukung Kehidupan &amp; Kenyamanan </p></li><li><p>KOMPLEKSITAS KEGIATAN </p><p>WILAYAH PESISIR RAWAN </p><p>KONFLIK KEPENTINGAN </p><p>KEGIATAN INDUSTRI </p><p>PERHOTELAN </p><p>PARIWISATA </p><p>PELABUHAN </p><p>PEMUKIMAN </p><p>KEGIATAN </p><p>PELAYARAN </p><p>PERTAMBANGAN </p><p>11 </p></li><li><p>( DENR, 2001) </p><p>KOMPLEKSITAS PERMASALAHAN DI WILAYAH PESISIR </p><p>penggundulan hutan dan erosi </p><p>padat tangkap </p><p>polusi </p><p>limbah RT </p><p>limbah pertanian </p><p>kepadatan penduduk </p><p>penambangan pasir </p><p>pengeboman ikan Sampah pelabuhan </p><p>peracunan ikan </p><p>rusaknya habitat dan benih ikan </p><p>limbah budidaya ikan </p><p>penimbunan unsur kimia dari pertanian </p><p>operasi kapal asing di perairan teritorial </p><p>operasi kapal asing di perairan ZEEI </p><p>pertumbuhan penduduk di wilayah pesiisr </p><p>dampak industri </p><p>reklamasi dan pengembangan pantai </p><p>peracunan ikan </p><p>overfishing </p><p>akses terbuka </p><p>alat tangkap yg. merusak: trawl dasar, drift nets dan jaring halus </p><p>10 </p></li><li><p>Peran Ekosistem Pesisir Dalam Mitigasi Bencana </p></li><li><p>PETA LOKASI TSUNAMI DI INDONESIA </p><p>(1960-2006) </p><p>2004 </p><p>2006 </p><p>2005 </p><p>2005 </p><p>1907 </p><p>1921 </p><p>1833 </p><p>9 </p></li><li><p> PRODUKTIVITAS HAYATI TINGGI </p><p> PUSAT KEGIATAN REKREASI, TRANSPORTASI, INDUSTRI, PERMUKIMAN, PELABUHAN, BISNIS, DLL. </p><p> INTENSITAS PEMBANGUNAN TINGGI, BERLAKU REZIM AKSES TERBUKA, RENTAN TERHADAP PERUBAHAN </p><p>LINGKUNGAN GLOBAL </p><p> 140 JT PENDUDUK (60%) INDONESIA TINGGAL DI WILAYAH PESISIR, 80% DI ANTARANYA BERGANTUNG PADA </p><p>PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN </p><p> KONTRIBUSI EKONOMI SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN PADA GDP : SEBESAR 24,5 % DARI TOTAL GDP NASIONAL </p><p> 51 KOTA DAN 243 KABUPATEN BERADA DI PESISIR, DARI TOTAL 440 KAB/KOTA DI SELURUH INDONESIA. (2005) </p><p> TIDAK KURANG DARI 360 TELUK </p><p>5 </p><p>APA WILAYAH PESISIR </p></li><li><p> KONFLIK PEMANFAATAN RUANG </p><p> KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR </p><p>- 80% relatif miskin dengan tingkat pendidikan rendah </p><p> DEGRADASI EKOSISTEM DAN SDA </p><p>- 42% terumbu karang rusak berat, 29% rusak, 23% baik dan hanya 6% sangat baik </p><p>- Kerusakan 40% hutan mangrove </p><p>- Berkurangnya stok sumberdaya ikan </p><p> KERAWANAN BENCANA ALAM </p><p>- Abrasi. erosi, tsunami, perubahan iklim, dll. </p><p> PENCEMARAN LAUT DAN PESISIR </p><p>- Akibat aktivitas di daratan maupun di laut 6 </p><p>PE</p><p>RM</p><p>AS</p><p>AL</p><p>AH</p><p>AN</p><p> DI W</p><p>P-3</p><p>-K </p></li><li><p> PENGELOLAAN KONSERVASI LAUT BELUM...</p></li></ul>