of 29 /29
TINJAUAN KASUS I. PENGKAJIAN Waktu : 11/01/2013 Jam 13.30 WIB Tempat : Ruang Mawar RSUD Majalengka 1. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. E Umur : 27 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia Agama : Islam Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMP Alamat : Desa Sukadana RT 01 RW 04 Kabupaten Majalengka Tanggal Masuk Rumah Sakit : 11/01/2013 Jam 23.30 WIB Cara Masuk Rumah Sakit : Masuk melalui UGD atas rujukan Puskesmas Argalingga Diagnosa Medis : Diare Akut Dehidrasi Sedang Alasan dirawat : Mencret, muntah, badan lemes

TINJAUAN KASUS DIARE

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: TINJAUAN KASUS DIARE

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN

Waktu : 11/01/2013 Jam 13.30 WIB

Tempat : Ruang Mawar RSUD Majalengka

1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. E

Umur : 27 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SMP

Alamat : Desa Sukadana RT 01 RW 04

Kabupaten Majalengka

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 11/01/2013 Jam 23.30 WIB

Cara Masuk Rumah Sakit : Masuk melalui UGD atas

rujukan Puskesmas Argalingga

Diagnosa Medis : Diare Akut Dehidrasi Sedang

Alasan dirawat : Mencret, muntah, badan lemes

Keluhan Utama : Mencret

Upaya yang telah dilakukan : Berobat ke Puskesmas Argalingga

Terapi/Operasi yang pernah dilakukan : Terapi tidak diketahui / Operasi

tidak pernah

2. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

1) Riwayat Penyakit Sekarang

Klien masuk RSUD Majalengka melalui UGD atas rujukan Puskesmas

Argalingga dengan keluhan mencret, muntah dan badan lemes. Pada saat

dikaji Ny. E masih mengalami mencret dan muntah dengan frekuensi lebih

dari 10 kali disertai dengan perut mules, konsistensi tinja cair, tidak terdapat

lendir ataupun darah, mual, napsu makan menurun, badan terasa lemes.

Page 2: TINJAUAN KASUS DIARE

2) Riwayat Penyakit Dahulu

Pernah mengalami diare 4 bulan yang lalu, namun tidak berlanjut

setelah berobat ke Puskesmas.

3) Riwayat Penyakit Keluarga

Klien mengatakan diantara anggota keluarga tidak ada yang mempunyai

penyakit yang bersifat herediter, seperti DM, Asma, dll.

GENOGRAM

Keterangan :

: Laki-laki : Perempuan

: Klien : Meninggal

4) Keadaan Kesehatan Lingkungan

Menurut pengakuan klien, merasa nyaman dengan lingkungan fisik maupun

sosialnya. Klien tinggal di pedesaan. Rumah klien bersifat permanen dengan lantai

keramik. Luas rumah kurang lebih 80 m2 yang terdiri dari 3 kamar tidur, ruang

Page 3: TINJAUAN KASUS DIARE

tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Ventilasi dan pencahayaan rumah

melalui jendela kaca yang bisa dibuka tutup. Sumber air minum dari sumur pompa,

sarana pembuangan air limbah (SPAL) menggunakan septik tank.

5) Riwayat Kesehatan Lainya

Tidak ada riwayat penggunaan narkotikapsikotropika dan zat adiktif.

3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK

1) Keadaan Umum :

Penampilan : Tampak lemah

Kesadaran : Composmentis, GCS 15 (E4V5M6)

2) Tanda-tanda Vital :

Suhu : 36,2 o C

Nadi : 100 x/menit

Tekanan Darah : 90/60 mmHg

Respirasi : 24 x/menit

3) Pengkajian

a. Pemeriksaan Fisik

1. Sistem Pengindaran

a Penglihatan

Mata sedikit cekung, konjungtiva kedua mata ananemis, sklera

kedua mata anikterik, reflex cahaya (+), reflex kornea (+), ptosis (-),

distribusi kedua alis merata, tajam penglihatan normal (klien dapat

membaca huruf pada koran pada jarak baca sekitar 30 cm) , strabismus (-),

lapang pandang pada kedua mata masih dalam batas normal, tidak ada

massa, tidak ada nyeri tekan pada kedua mata.

b Penciuman

Fungsi penciuman baik ditandai dengan klien dapat membedakan

bau kopi dan kayu putih.

c Pendengaran

Tidak ada lesi pada kedua telinga, tidak ada serumen, fungsi

pendengaran pada kedua telinga baik ditandai dengan klien dapat

menjawab seluruh pertanyaan tanpa harus diulang, tidak ada nyeri tekan

pada kedua tulang mastoid, tidak ada nyeri tekan pada tragus, tidak ada

massa pada kedua telinga.

Page 4: TINJAUAN KASUS DIARE

d Pengecapan/Perasa

Fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis,

asam, asin dan pahit.

e Peraba

Klien dapat merasakan sentuhan ketika tangannya dipegang, klien

dapat merasakan sensasi nyeri ketika dicubit.

2. Sistem Pernafasan

Mukosa hidung merah muda, lubang hidung simetris, tidak ada lesi

pada hidung, polip (-), keadaan hidung bersih, sianosis (-), tidak ada nyeri

tekan pada area sinus, tidak ada lesi pada daerah leher dan dada, tidak ada

massa pada daerah leher, bentuk dada simetris, tidak ada nyeri tekan pada

daerah leher dan dada, pergerakan dada simetris, tidak tampak pernapasan

cuping hidung dan retraksi interkosta, tidak ada kesulitan saat bernafas atau

berbicara. Pola nafas reguler dengan bunyi nafas vesikuler, wheezing (-),

ronchi (-).

3. Sistem Pencernaan

Keadaan bibir simetris, mukosa bibir kering, stomatitis (-), tidak ada

gigi yang tanggal maupun berlubang, lidah berwarna merah muda, tidak ada

nyeri saat menelan, tidak ada pembesaran hepar, mual, muntah, distensi

abdomen (+), bising usus 36 x / menit.

4. Sistem Kardiovaskuler

Tidak ada peningkatan vena jugularis, Capillary Refill Time (CRT)

kembali kurang dari 2 detik, bunyi perkusi redup pada daerah ICS 2

lineasternal dekstra dan sinistra, tidak ada pelebaran batas redup jantung,

terdengar jelas bunyi jantung S1 pada ICS 4 lineasternal sinistra dan bunyi

jantung S2 pada ICS 2 lineasternal sinistra tanpa ada bunyi tambahan atau

split, murmur ataupun gallop, irama jantung terdengar regular,

5. Sistem Urinaria

Tidak terpasang kateter, tidak ada keluhan nyeri atau sulit BAK, tidak

terdapat distensi pada kandung kemih, tidak ada nyeri tekan pada daerah supra

pubis, tetapi BAK berkurang tidak seperti biasanya sewaktu sebelum sakit.

6. Sistem Endokrin

Pada saat dilakukan palpasi tidak ada pembesaran kelenjar thyroid,

tremor (-), tidak ada tanda kretinimse, tidak ada tanda gigantisme.

Page 5: TINJAUAN KASUS DIARE

7. Sistem Muskuloskeletal

a) Ekstremitas Atas

Kedua tangan dapat digerakkan, reflek bisep dan trisep positif pada

kedua tangan. ROM (range of motion) pada kedua tangan maksimal, tidak

ada atrofi otot kedua tangan, terpasang infuse pada tangan kiri.

b) Ekstremitas Bawah

Kedua kaki dapat digerakkan, klien dapat berjalan ke kamar

mandi, tidak ada lesi, reflek patella positif, reflek babinski negative,

tidak ada varises, tidak ada edema.

Kekuatan otot :

5 5

5 5

Keterangan :

Skala 0 : Paralisis berat

Skala 1 : Tidak ada gerakkan, teraba / terlihat adanya kontraksi

otot sedikit

Skala 2 : Gerakan otot penuh menentang gravitasi

Skala 3 : Rentang gerak lengkap / normal menentang gravitasi

Skala 4 : (jari pergelangan tangan dan kaki, siku dan lutut, bahu

dan panggul) gerakan otot penuh sedikit tekanan

Skala 5 : (jari, pergelangan tangan dan kaki, siku dan lutut, bahu

dan panggul) gerakan otot penuh menentang gravitasi dengan

penahanan penuh

8. Sistem Reproduksi

Pertumbuhan payudara (+), tidak ada lesi, tidak ada benjolan pada

payudara. Klien mengalami haid pertama pada usia 13 tahun (kelas 1

SMP), siklus haid 28 hari, tidak ada nyeri haid, klien sudah menikah

dan mempunyai 2 orang anak.

9. Sistem Integumen

Warna kulit sawo matang, keadaan kulit kepala bersih, rambut

tumbuh merata, turgor kulit jelek, terdapat ada lesi, kuku pendek dan

bersih.

10. Sistem Persyarafan

Orientasi klien terhadap orang, tempat dan waktu baik.

Page 6: TINJAUAN KASUS DIARE

a) Nervus I (Olfaktorius)

Fungsi penciuman hidung baik, terbukti klien dapat membedakan

bau kopi dan kayu putih.

b) Nerfus II (Optikus)

Fungsi penglihatan baik, klien dapat membaca koran pada jarak

sekitar 30 cm.

c) Nerfus III (Oculomotorius)

Reflek pupil mengecil sama besar pada saat terkena cahaya, klien

dapat menggerakkan bola matanya ke atas.

d) Nerfus IV (Tochlearis)

Klien dapat menggerakkan bola matanya kesegala arah.

e) Nerfus V (Trigeminus)

Klien dapat merasakan sensasi nyeri dan sentuhan, gerakan

mengunyah baik.

f) Nerfus VI (Abdusen)

Klien dapat menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri.

g) Nerfus VII (Facialis)

Klien dapat menutup kedua mata, menggerakkan alis dan dahi, klien

dapat tersenyum, ada rangsangan nyeri saat dicubit.

h) Nerfus VIII (Aksutikus)

Fungsi pendengaran baik, klien dapat menjawab pertanyaan perawat

tanpa diulang.

i) Nerfus IX (Glosofaringeal)

Fungsi pengecapan baik, klien dapat membedakan rasa manis, asam,

asin dan pahit.

j) Nerfus X (Vagus)

Reflek menelan baik.

k) Nerfus XI (Asesorius)

Leher dapat digerakkan ke segala arah, klien dapat menggerakkan

bahunya.

l) Nerfus XII (Hipoglosus)

Klien dapat menggerakkan dan menjulurkan lidahnya.

b. Pola Aktifitas Sehari-hari

1. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Klien berpandangan bahwa sehat itu sangat berharga karena saat sakit

ia tidak dapat melakukan aktivitas dengan bebas. Klien berusaha untuk

selalu berperilaku hidup sehat seperti cuci tangan sebelum makan dan gosok

Page 7: TINJAUAN KASUS DIARE

gigi sebelum tidur dan sesudah makan, menyajikan dan mengkonsumsi

makanan bergizi untuk keluarga serta tidak menyalahgunakan obat-obatan.

2. Pola Nutrisi dan Metabolisme

Di rumah : makan 3 x/hari yang terdiri dari nasi, lauk pauk dan

sayuran, makanan yang paling disukai mie baso, tidak ada makanan pantang,

tidak ada riwayat alergi makanan. Minum 8-9 gelas/hari, jenisnya air putih

dan teh.

Di rumah sakit : selera makan menurun karena mual dan muntah,

makan 3 kali sehari tetapi porsi makan hanya habis 2-3 sendok dari menu

yang disajikan.

3. Pola Eliminasi

Ny. E mengalami mencret konsintensi cair, tidak ada lendir, tidak ada

darah dalam tinja, dengan frekuensi > 10 kali dalam sehari, BAK 3-4 kali

sehari dengan warna urine kuning pekat dan berbau khas urine, selama di

rumah sakit mendapatkan terapi untuk pengobatan diarenya dan penanganan

dehidrasinya.

4. Pola Aktifitas dan Latihan

Di Rumah Sakit sehari-hari hanya berbaring di tempat tidur. Di rumah

klien setiap hari rajin ke sawah. Penggunaan alat bantu (-), kesulitan gerak

(-). Di rumah klien tidur jam 22.00 sampai dengan jam 04.30 dan jarang

tidur siang. Di Rumah sakit klien tidur jam 22.00 sampai dengan 05.00,

gangguan tidur (-).

5. Pola Kognitif dan Perseptual

Klien dapat melihat dengan baik, klien mampu melihat dengan

jelas tulisan dari jarak kurang lebih 30 cm. Indra perasa klien juga

berfungsi baik, klien dapat mengecap rasa asin, manis dan pahit. Klien

mengetahui penyakitnya dengan bertanya ke dokter dan perawat.

6. Persepsi dan Konsep Diri

Klien merasakan sakitnya sebagai sebuah stressor dan menganggapnya

sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Secara lengkap konsep diri klien

dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Body image / gambaran diri

Klien mengatakan menerima dengan keadaan tubuhnya walaupun merasa

cemas dengan kondisinya sekarang.

Page 8: TINJAUAN KASUS DIARE

b) Ideal diri

Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang ke rumah, berkumpul

dengan keluarganya.

c) Harga diri

Sejak klien dirawat di Rumah Sakit, semua kebutuhan klien banyak

dibantu oleh keluarganya serta perawat sehingga klien merasa sangat

diperhatikan.

d) Identitas diri

Klien mampu menyebutkan nama, umur, pekerjaan dan lain-lain pada

saat dilakukan pengkajian.

e) Peran diri

Klien adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak dan merasa

dengan konsisi sakitnya klien tidak dapat menjalankan perannya.

7. Pola Hubungan dan Peran

Klien adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Klien sudah menikah

dan mempunyai 2 orang anak, hubungan klien dengan anggota keluarga,

saudara dan dengan lingkungan tempat tinggal klien baik. Klien juga

kooperatif terhadap dokter dan perawat.

8. Pola Reproduksi Seksual

Klien sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak.

9. Pola Penanggulangan Stress

Klien selalu menganggap masalah sebagai suatu cobaan hidup yang

harus dijalaninya, klien berpandangan bahwa setiap masalah pasti ada jalan

keluarnya. Setiap ada masalah selalu dibicarakan dengan suaminya.

10. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan

Di lingkungan tempat tinggalnya terdapat kepercayaan

masyarakat yang berpandangan bahwa ketika sakit tidak boleh

keramas, memotong rambut dan kuku (pamali), dan apabila ada luka

tidak boleh mengkonsumsi makanan yang anyir-anyir.

11. Personal Higiene

Di Rumah Sakit klien mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari,

keramas belum pernah tetapi rambut klien tampak bersih, gunting kuku juga

belum pernah karena kukunya masih pendek. Semua aktivitas personal

hygiene dilakukan dengan bantuan dari keluarga.

Page 9: TINJAUAN KASUS DIARE

12. Ketergantungan

Klien tidak mempunyai riwayat ketergantungan terhadap obat-obat

tertentu, termasuk alkohol, dan zat adiktif lainya.

c. Aspek Psikologis

Klien selalu menanyakan tentang kondisi penyakitnya, berapa lama

penyakitnya akan sembuh sehingga klien bisa beraktivitas seperti

biasanya, klien juga selalu menanyakan tindakan yang dilakukan. Ekspresi

wajah klien tampak lesu.

d. Aspek Sosial/Interaksi

Hubungan klien dengan anggota keluarga, saudara dan dengan lingkungan

tempat tinggal klien baik. Klien juga kooperatif terhadap dokter dan perawat.

e. Aspek Spiritual

Klien beragama islam dan meyakini bahwa sakitnya merupakan

cobaan dari Allah SWT, sehingga klien merasa yakin bahwa dirinya akan

sembuh. Dalam kesehariannya di rumah, klien selalu melakukan shalat 5

waktu, namun selama klien dirawat di rumah sakit, klien merasa ada

hambatan untuk menunaikan kewajiban sholatnya, namun klien selalu

berdoa agar cepat diberi kesembuhan.

4. DIAGNOSTIC TEST

A. Laboratorium

Tabei 1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 11/01/2013

JENIS PEMERIKSAAN HASIL NILAI NORMAL ANALISA

GDS 118 < 150 TinggiHB 11,8 12-18 Normal

Leukosit 18.900 4000-10.000 TinggiLED 38 0-20 TinggiPCV 36 37-48 Normal

Trombosit 318.000 150.000-300.000 NormalCholesterol 166 150-220 NormalCreatinin 0,8 0,8-1,5 Normal

SGOT 35 s/d 29 TinggiSGPT 34 s/d 29 Tinggi

Page 10: TINJAUAN KASUS DIARE

B. TERAPI :

Tabel 2 Terapi yang diberikan di Ruang Mawar

No. Nama Obat Dosis Jam Cara Pemberiaan Sediaan

1 IVFD : RL 40 tts/menit Intravena Flabot

2 Buscopan 3 x 1 12-20- 24 Per oral Tablet

3 Ranitidin 2 x 1 12 - 24 Intravena Ampul

4 New diatab 3 x 1 12-20- 24 Per oral Tablet

5 Metronidazol 3 x 500 mg 12-20-04 Intravena Botol

5. ANALISA DAN SINTESA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH

Subyektif :

Klien mengatakan

mencret terus-menerus,

muntah dan badan

lemes

Obyektif :

Bab >10x/hr

Nadi 100x/mnt.

Turgor kulit jelek

Peritaltik usus 36

x/menit

Leukosit 18.900

Mata cekung

BAB konsistensi cair

Micro organisme masuk

saluran cerna

Berkembang dlm usus/toxin

tidak dapat diserap

Hiperperistaltik

Hipersekresi air dan

elektrolit

Frekuensi BAB meningkat

Kehilangan cairan dan

elektrolit

Gangguan keseimbangan

cairan dan elektrolit

Page 11: TINJAUAN KASUS DIARE

DATA ETIOLOGI MASALAH

Subyektif :

Klien mengatakan mual

tidak nafsu makan.

Obyektif :

Klien tampak lemah

Porsi makan 2-3 sendok

(bubur)

Peristaltic usus 36

x/menit

Hiperperistaltik usus

Absorbsi makanan menurun

Diare

Distensi abdomen

Mual-muntah

Nafsu makan menurun

Perubahan nutrisi

Nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh

Subyektif :

Klien mengeluh tidak

tahu tentang

pengelolaan

penyakitnya

Obyektif :

Klien sering bertanya

mengenai keadaan

penyakitnya

Klien sering mengulang

pertanyaan yang sama

Kurang informasi

Keterbatasan kognitif

Perilaku tidak

sesuai/Ungkapan verbal dari

ketidaktahuan

Kurang pengetahuan

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS

1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan

cairan sekunder terhadap diare.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare /

output berlebih dan intake yang kurang.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

Page 12: TINJAUAN KASUS DIARE

III. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

TGLDIAGNOSA

KEPERAWATANTUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN

RENCANA TINDAKAN RASIONAL PARAF

11/01/2013 Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare ditandai dengan : Data subjektif

Klien mengatakan mencret terus-menerus, muntah dan badan lemes

Data objektif Bab >10x/hari Nadi 100x/mnt. Turgor kulit jelek Peritaltik usus 36

x/menit Leukosit 18.900 Mata cekung BAB konsistensi

cair

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal, dengan kriteria hasil : Tanda vital dalam batas

normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 24 x/mnt )

Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cekung.

Konsistensi BAB lembek, frekuensi 1 kali perhari.

1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit

2. Pantau intake dan output

3. Timbang berat badan setiap hari

4. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien, 2-3 lt/hr

5. Kolaborasi : Pemeriksaan laboratorium

serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)

Cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur

Obat-obatan: (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik

1. Penurunan sirkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit

2. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.

3. Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt

4. Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral

5. Kolaborasi : koreksi keseimbang cairan dan

elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).

Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.

Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

Page 13: TINJAUAN KASUS DIARE

TGLDIAGNOSA

KEPERAWATAN/DATA PENUNJANG

TUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN

RENCANA TINDAKAN RASIONAL PARAF

11/01/2013 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare / output berlebih dan intake yang kurang ditandai dengan : Data subjektif

Klien mengatakan mual tidak nafsu makan.

Data objektif Klien tampak

lemah Porsi makan 2-3

sendok (bubur) Peristaltic usus 36

x/menit

Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 2x24 jam kebutuhan nutrisi terpenuhi, dengan kriteria hasil : Nafsu makan meningkat BB meningkat atau

normal sesuai umur

1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin).

2. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat

3. Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan

4. Monitor intake dan out put dalam 24 jam

5. Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :

- terapi gizi : Diet TKTP rendah serat

- obat-obatan atau vitamin

1. Serat tinggi, lemak, air terlalu panas atau dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan saluran usus.

2. situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.

3. Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan

4. Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.

5. Mengandung zat yang diperlukan oleh tubuh.

TGLDIAGNOSA

KEPERAWATAN/DATA TUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN

RENCANA TINDAKAN RASIONAL PARAF

Page 14: TINJAUAN KASUS DIARE

PENUNJANG11/01/2013 Kurang pengetahuan

berhubungan dengan keterbatasan kognitif, ditandai dengan : Data subjektif

Klien mengeluh tidak tahu tentang pengelolaan penyakitnya

Data objektif Klien sering

bertanya mengenai keadaan penyakitnya

Klien sering mengulang pertanyaan yang sama

setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit klien dan keluarga mengerti tentang pengelolaan penyakitnya , dengan kriteria hasil : Pasien dan keluarga

mampu menjelaskan kembali tentang penyakitnya

Mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan tanpa cemas

1. Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya

2. Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi kemungkinan penyebab. Jelaskan kondisi tentangklien

3. Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan

4. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk  mencegah komplikasi

5. Diskusikan tentang terapi dan pilihannya

1. Mempermudah dalam memberikan penjelasan pada klien

2. Meningkatan pengetahuan dan mengurangi cemas

3. Mempermudah intervensi

4. Mencegah keparahan penyakit

5. Memberi gambaran tentang pilihan terapi yang bisa digunakan

IV. IMPLEMENTASI TINDAKAN KEPERAWATAN

Page 15: TINJAUAN KASUS DIARE

TGL JAMNO. DX

KEPERAWATANTINDAKAN KEPERAWATAN RESPON PARAF

11/01/2013 15.00 WIB 1 1. Memonitor tanda-tanda vital

2. Memantau asupan cairan.3. Memantau IV rate.4. Menganjurkan keluarga untuk memberi minum

banyak pada klien 2-3 liter/hari5. Memberikan pendidikan kesehatan kepada

keluarga tentang Pentingnya asupan cairan Tanda dan gejala kekurangan cairan.

6. Kolaborasi dokter untuk pemberian cairan intra vena

1. TD : 90/60 mmHg N : 100 x/menit R : 24 x/menit , S :36,2oC , irama jantung regular, suara napas vesikuler.

2. IVFD RL500 ml.3. IV rate infus set 40 gtt/menit.4. Pasien masih jarang minum karena

mual5. Keluarga dapat menjelaskan kembali

alasan dan tujuan pentingnya masukan cairan, tanda & gejala yang memerlukan tindakan medis.

6. IVFD RL 40 tetes/menit

11/01/2013 15.30 WIB 2 1. Berdiskusi dengan keluarga alasan tidak menghabiskan porsi makannya.

2. Mengamati, menanyakan dan mencatat makanan yang dikonsumsi.

3. Menganjurkan kepada klien untuk minum air hangat sebelum makan dan makan dalam porsi kecil tapi sering.

4. Kolaborasi dokter untuk pemberian antiemetik

1. Pasien mengatakan bahwa ia merasa mual ketika makan makanan yang disajikan.

2. Porsi makan hanya habis setengahnya

3. Klien dapat memahami terhadap anjuran yang diberikan

4. Memberikan injeksi ranitidin 1 ampu intra vena.

11/01/2013 14.00 WIB 3 1. Memberikan pendidikan kesehatan tentang diare yang meliputi : Pengertian diare Penyebab diare Bahaya diare Cara pertolongan pertama dan pencegahan diare

1. Setelah diberikan penkes 1x30 menit klien dan keluarga mampu menyebutkan dan menjelaskan kembali tentang : Pengertian dan penyebab diare Bahaya diare Cara pertolongan pertama dan

pencegahan diare

V. CATATAN PERKEMBANGAN

Page 16: TINJAUAN KASUS DIARE

TGL JAMNO. DX

KEPERAWATANEVALUASI PARAF

11/01/2013 16.00

16.15

1

2

Subyektif : Klien mengatakan BAB mencret cair

Obyektif : TD ; 90/60 mmHg, Nadi : 96x/menit, Suhu 36,2 oc, Respirasi 24 x/menit Turgor jelek (> 2 detik), mata masih cekung.

Analisa : Masalah belum teratasi

Planning :1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit2. Pantau intake dan output3. Timbang berat badan setiap hari4. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien, 2-3 lt/hr5. Kolaborasi untuk pemberian terapiImplementasi :1. Memonitor tanda-tanda vital 2. Memantau asupan cairan.3. Memantau IV rate.4. Menganjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien 2-3 liter/hari5. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang

Pentingnya asupan cairan Tanda dan gejala kekurangan cairan.

6. Kolaborasi dokter untuk pemberian cairan intra vena

Subyektif : Klien mengatakan masih mual

Obyektif : Porsi makan habis ½ porsi

Analisa : Masalah belum teratasi

Planning : 1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan

air terlalu panas atau dingin).2. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan

makanan dalam keadaan hangat

Page 17: TINJAUAN KASUS DIARE

3. Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan 4. Monitor intake dan out put dalam 24 jam5. Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :

terapi gizi : Diet TKTP rendah serat obat-obatan atau vitamin

Implementasi :1. Berdiskusi dengan keluarga alasan tidak menghabiskan porsi makannya.2. Mengamati, menanyakan dan mencatat makanan yang dikonsumsi.3. Menganjurkan kepada klien untuk minum air hangat sebelum makan dan makan dalam

porsi kecil tapi sering.4. Kolaborasi dokter untuk pemberian antiemetik

12/01/2013 14.00

15.00

1

2

Subyektif : Klien mengatakan mencret 2 kali tetapi masih cair

Obyektif : TD ; 100/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Suhu 36,2 oc, Respirasi 20 x/menit Turgor membaik, mata tidak cekung.

Analisa : Masalah belum teratasi

Planning :1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit2. Pantau intake dan output3. Timbang berat badan setiap hari4. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien, 2-3 lt/hr5. Kolaborasi untuk pemberian terapi

Implementasi :1. Memonitor tanda-tanda vital 2. Memantau asupan cairan.3. Memantau IV rate.4. Menganjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien 2-3 liter/hari5. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang

Pentingnya asupan cairan Tanda dan gejala kekurangan cairan.

6. Kolaborasi dokter untuk pemberian cairan intra vena

Subyektif : Klien mengatakan mual berkurang

Obyektif :

Page 18: TINJAUAN KASUS DIARE

Porsi makan habis ½ porsiAnalisa : Masalah belum teratasi

Planning : 1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan

air terlalu panas atau dingin).2. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan

makanan dalam keadaan hangat3. Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan 4. Monitor intake dan out put dalam 24 jam5. Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :

terapi gizi : Diet TKTP rendah serat obat-obatan atau vitamin

Implementasi :1. Berdiskusi dengan keluarga alasan tidak menghabiskan porsi makannya.2. Mengamati, menanyakan dan mencatat makanan yang dikonsumsi.3. Menganjurkan kepada klien untuk minum air hangat sebelum makan dan makan dalam

porsi kecil tapi sering.4. Kolaborasi dokter untuk pemberian antiemetik

VI. EVALUASI

Page 19: TINJAUAN KASUS DIARE

TGL JAMNO. DX

KEPERAWATANEVALUASI PARAF

13/01/2013 14.00 WIB

14.30 WIB

1

2

Subyektif : Klien mengatakan sejak malam belum buang air besar (BAB), BAK banyak

Obyektif : Klien tampak segar TD : 120/70 mmHg, Nadi : 80x/menit, Suhu 36,2 oc, Respirasi 20 x/menit Turgor baik (< 2 detik)

Analisa : Masalah teratasi

Planning : Intervensi hentikan

Subyektif : Klien mengatakan masih mual

Obyektif : Porsi makan habis ½ porsi

Analisa : Masalah belum teratasi

Planning : Intervensi lanjutkan

1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin).

2. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat

3. Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan 4. Monitor intake dan out put dalam 24 jam5. Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain : 6. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat7. obat-obatan atau vitamin