Click here to load reader

Tifoid demam

  • View
    387

  • Download
    18

Embed Size (px)

DESCRIPTION

qurrotu aini

Text of Tifoid demam

TUGAS LAPORAN KASUS ANAK

OLEH:

QURROTU AINI S.ked09700351

PEMBIMBING:

Dr. Hj. SUBIYATI Sp, A

SUB DEPARTEMEN PEDIATRISMF BAGIAN PEDIATRIRS TK. II dr. SOEPRAOEN-MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA-SURABAYA

Periode 2013-2014

BAB IPENDAHULUANDemam tifoid merupakan penyakit endemis di indonesia yang disebabkanoleh infeksi sistemik salmonella typhi. Prevalens 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Pada minggu pertama sakit, demam tifoid sangat sukar dibedakan dengan penyakit demam lainnya sehingga untuk memastikan diagnosis diperlukan pemeriksaan biakan kuman untuk konfirmasi.96% kasus demam tifoid disebabkan salmonella typhi sisanya disebabkan salmonella paratyphi. Kuman masuk melalui makanan/minuman, setelah melewati lambung kuman mencapai usus halus (ileum) dan setelah menembus dinding usus sehingga mencapai folikel limfoid usus halus (plaque peyeri). Kuman ikut aliran limfe mesenterial ke dalam sirkulasi darah (bakterial primer) mencapai jaringan RES(hepar, lien, sumsum tulang untuk bermultiplikasi). Setelah mengalami bakterimia sekunder, kuman mencapai sirkulasi darah untuk menyerang organ lain (intra dan ekstra intestinal). Masa inkubasi 10-14 hari.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA2.1Definisi

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan, ditopang dengan bakteremia tanpa keterlibatan struktur endotelia atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan peyers pathc.

Beberapa terminologi lain yang erat kaitannya adalah demam paratifoid dan demam enterik. Demam paratifoid secara patologik maupun klinis adalah sama dengan demam tifoid namun biasanya lebih ringan, penyakit ini disebabkan oleh spesies Salmonella entereditis sedangkan demam enterik dipakai baik pada demam tifoid maupun demam paratifoid.2.2Epidemiologi

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2003, terdapat 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 kasus. Insiden di Indonesia rata-rata 900.000 kasus/tahun dengan angka kematian > 20.000 dan 77% kasus terjadi pada umur 3-19 tahun. Menurut data Hasil Riset Dasar Kesehatan (RISKESDAS) tahun 2007, demam tifoid menyebabkan 1,6% kematian penduduk Indonesia untuk semua umur. Pada tahun 2009 kasus demam tifoid di Indonesia meningkat menjadi 80.850 dengan angka kematian 1.013 kasus.Demam Tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah. Menurut surveilans Departemen Kesehatan RI, frekuensi kejadian demam tifoid di Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survei berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8% yaitu dari 19.596 menjadi 26.606 kasus.

Insiden demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan, di daerah rural (Jawa Barat) 157 kasus per 100.000 penduduk, sedangkan di daerah urban ditemukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedaan insiden di perkotaan berhubungan erat dengan penyediaan air bersih yang belum memadai serta sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi syarat kesehatan lingkungan. Menurut data Bulletin Kewaspadaan Dini dan Respons Departemen Kesehatan, insiden demam tifod di Bali pada minggu ke 51 pada tahun 2009 mencapai 47 kasus (proporsi 0,2%).

2.3Etiologi

Salmonella typhi sama dengan salmonella yang lain adalah bakteri gram- negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagellar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang berbentuk lapis luar dari dinding sel dan dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multiple antibiotik.

Gambar 2.1. Bakteri Sakmonella typhimempunyai 3 macam antigen, yaitu :1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.

2. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap fagositosis.

Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.2.4Patogenesis

Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses kompleks:1. Penempelan dan invasi sel-sel M Peyers patch.

2. Bskteri bertahan hidup dan bermultiplikasi di makrofag Peyers patch, nodus limfatikus mesentrikus, dan organ-organ ekstra intestinal sistem retikuloendotilial.

3. Bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah

4. Produksi enterotoksin yang meningkatkan kadar cAMP di dalam kripta usus dan menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke dalam lumen intestinal.

Jalur masuknya bakteri ke dalam tubuh:Bakteri Salmonella typhi bersama makanan/minuman masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH1/200) menunjukkan adanya infeksi akut

b. Titer H menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah menderita infeksi

c. Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier.

Beberapa faktor yang mempengaruhi uji Widal antara lain :1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan penderita

a. Keadaan umum gizi penderita Gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.

b. Waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit

Aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah penderita mengalami sakit selama satu minggu dan mencapai puncaknya pada minggu kelima atau keenam sakit.c. Pengobatan dini dengan antibiotik

Pemberian antibiotik dengan obat antimikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.d. Penyakit-penyakit tertentu

Pada beberapa penyakit yang menyertai demam tifoid tidak terjadi pembentukan antibodi, misalnya pada penderita leukemia dan karsinoma lanjut.e.Pemakaian obat imunosupresif atau kortikosteroid dapat menghambat pembentukan antibodi. f. Vaksinasi Pada orang yang divaksinasi demam tifoid, titer aglutinin O dan H meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh karena itu titer aglutinin H pada seseorang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik. g. Infeksi klinis atau subklinis oleh Salmonella sebelumnya Keadaan ini dapat menyebabkan uji Widal positif, walaupun titer aglutininnya rendah. Di daerah endemik demam tifoid dapat dijumpai aglutinin pada orang-orang yang sehat. 2. Faktor-faktor teknis

a. Aglutinasi silang

Karena beberapa spesies Salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, maka reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat juga menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies lain. Oleh karena itu spesies Salmonella penyebab infeksi tidak dapat ditentukan dengan uji widal.

b. Konsentrasi suspensi antigen

Konsentrasi suspensi antigen yang digunakan pada uji widal akan mempengaruhi hasilnya. c. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen.

Kadar IgM dan IgG (Typhi-dot) Pemeriksaan biakan salmonella

Biakan darah terutama pada minggu 1-2 dari perjalanan penyakit. Biakan sumsum tulang masih positif sampai minggu ke-4.

Pemeriksaan radiologik

Foto toraks apabila diduga terjadi komplikasi pneumonia, foto abdomen apabila diduga terjadi komplikasi intraintestinal seperti perforasi usus atau pendarahan saluran cerna. Pada perforasi usus tampak :

- distribusi udara tak merata- airfluid level

- bayangan radiolusen di daerah hepar

- udara bebas pada abdomen

Kriteria diagnosis

Berikut ini kriteria diagnosis Demam Tifoid :

1. Gambaran klinis demam tifoid tanpa uji Widal, didiagnosis dengan possible demam tifoid.2. Gambaran klinis demam tifoid disertai dengan hasil uji Widal titer O dan H 1/160 pada 1 kali pemeriksaan, didiagnosis dengan probable demam tifoid.3. Kultur darah (biakan empedu) positif atau peningkatan titer uji Widal >4 kali lipat setelah satu minggu, memastikan diagnosis atau definitif demam tifoid.4. Gambaran klinis demam tifoid disertai dengan hasil uji Widal tunggal dengan titer antibodi O 1/320 atau H 1/640, memastikan diagnosis atau definitif demam tifoid.5. Kultur darah negatif tidak menyingkirkan diagnosis.2.7Diagnosis banding Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis dapat menjadi diagnosis bandingnya yaitu inffluenza, gastroenteritis, bronkitis, dan bronkopneumonia. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraselular seperti tuberkulosis, infeksi jamur sistemik, bruselosis, tularemia, shigelosis dan malaria juga perlu dipikirkan. Pada demam tifoid yang berat, sepsis, leukimia, limfoma, dan penyakit Hodkin dapat sebagai diagnosis banding.2.8TatalaksanaIstirahat dan Perawatan

Bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makan, minum, mandi, buang air