Teori Kesantunan Bahasa

  • View
    298

  • Download
    6

Embed Size (px)

Text of Teori Kesantunan Bahasa

  • 7/21/2019 Teori Kesantunan Bahasa

    1/49

    Horison Baru Teori Kesantunan

    Berbahasa: Membingkai yang Terserak,

    Menggugat yang Semu, Menuju

    Universalisme yang HakikiPosted onFebruary 17, 2012

    Pidato Pengukuhan Drs. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. sebagai Guru Besar dalam Bidang

    Linguistik pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia, 21

    Oktober 2008

    Pidato ini kupersembahkan kepadaEma jeung Bapa

    yang mengajariku berbahasa dan berpikir

    Jazakumullaahu khairan katsiiran.

    Horison Baru Teori Kesantunan Berbahasa:

    Membingkai yang Terserak, Menggugat yang Semu,

    Menuju Universalisme yang Hakiki[1]

    1. 1. Pengantar

    Kajian tentang (teori) kesantunan berbahasa banyak menarik perhatian para peneliti bahasa, budaya,

    dan psikologi sosial setelah terbit artikel Hsien Chin Hu yang berjudulThe Chinese concept of

    facepadaAmerican Anthropologist (1944). Hu menyatakan bahwa konsep wajah pada masyarakat

    Cina moderen sebenarnya berakar dari konsep tradisional yang dikembangkan oleh Kung Fu-tzu

    (Confucianism) terkait dengan ren (nilai-nilai kemanusiaan). Pada rumusan Hu digambarkan bahwa

    yang melekat pada wajah (lian atau mianzi) adalah harga diri yang diperoleh seseorang sebagai

    penghargaan dari masyarakat sekitarnya. Sebagai atribut sosial, nilai-nilai sakral wajah akan

    senantiasa dipertahankan para pemiliknya. Pada seseorang yang merasa memiliki wajah akan

    terbersit rasa malu kalau berbuat salah apalagi nista. Sebagai pinjaman, wajah dapat kapan saja

    ditarik kembali oleh masyarakat. Walaupun mengakui bahwa teori kesantunan berbahasa yang

    dikembangkannya diambil dari konsep wajah Hu pascaelaborasi oleh Goffman (1959, 1967),

    Brown&Levinson (B&L) (1987) merumuskan konsep wajah agak berbeda. Bagi B&L, wajah adalah

    http://aminudin.staf.upi.edu/2012/02/17/horison-baru-teori-kesantunan-berbahasa-membingkai-yang-terserak-menggugat-yang-semu-menuju-universalisme-yang-hakiki/http://aminudin.staf.upi.edu/2012/02/17/horison-baru-teori-kesantunan-berbahasa-membingkai-yang-terserak-menggugat-yang-semu-menuju-universalisme-yang-hakiki/http://aminudin.staf.upi.edu/2012/02/17/horison-baru-teori-kesantunan-berbahasa-membingkai-yang-terserak-menggugat-yang-semu-menuju-universalisme-yang-hakiki/http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn1http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn1http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn1http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn1http://aminudin.staf.upi.edu/2012/02/17/horison-baru-teori-kesantunan-berbahasa-membingkai-yang-terserak-menggugat-yang-semu-menuju-universalisme-yang-hakiki/
  • 7/21/2019 Teori Kesantunan Bahasa

    2/49

    atribut pribadi yang ada pada semua masyarakat dan bersifat universal. Setiap orang dengan

    sendirinya dituntut untuk memuliakan wajahnya sendiri dan wajah anggota masyarakat lainnya.

    Menurut B&L, setiap orang memiliki wajah dan keinginan positif (positive face/want) serta wajah

    dan keinginan negatif (negative face/want).Wajah positif terkait dengan nilai-nilai solidaritas,

    ketakformalan, pengakuan, dan kesekoncoan (camarraderri). Sementara itu, wajah negatif bermuara

    pada keinginan seseorang untuk tetap mandiri, bebas dari gangguan pihak luar, dan adanya

    penghormatan pihak luar terhadap kemandiriannya itu. Salah satu cara untuk menjaga nilai-nilai

    wajah tersebut adalah melalui pola komunikasi yang mengedepankan nilai-nilai kesantunan dan tidak

    saling menyerang wajah. Kedua pandangan tentang konsep wajah di atas ternyata tidak menemukan

    titik temu, sebab masing-masing berdiri pada kutub yang berbeda. Konsep wajah dari Kung Fu-tzu

    lebih memperhatikan aspek-aspek/dimensi sosial, sementara B&L lebih peduli dengan dimensi

    kemerdekaan individual. Lalu, Leech (1983) mencoba membuat kompromi melalui pandangannya

    yang menempatkan kesantunan sebagai salah satu buah kebijaksanaan sosial seorang individu. Olehkarenanya, Leech menempatkanTact Maximpada tempat yang paling tinggi di antara maksim-

    maksim yang dirumuskannya. Sayangnya, maksim-maksim dari Leech itu berlaku menurut hukum

    tautologis, sehingga secara logika akan mudah dipertanyakan kekokohan salah satu pasangan

    maksim-maksim tersebut. Dalam hal ini, Aziz (2000) menyodorkan sebuah alternatif rumusan

    konsep kesantunan berbahasa yang tidak tautologis melainkan lebih berpijak pada hukum kausalitas.

    Selain mempertimbangkanpre-event politeness dan on-the-spot politeness, model kesantunan

    berbahasa dari Azizdikenal dengan nama Prinsip Saling Tenggang Rasajuga

    mempertimbangkanpost-event politeness. Kajian lebih cermat menunjukkan bahwa prinsip

    kesantunan seperti ini ternyata dibangun berdasarkan tiga dimensi yaitu dimensi individual, sosial

    dan ilahiah/syurgawi (Aziz, 2005). Pada kesempatan Pidato Pengukuhan Guru Besar ini, akan

    ditunjukkan bagaimana ketiga dimensi tersebut saling terkait dan sebenarnya menjadi dasar dan

    sekaligus tujuan dari prinsip kesantunan berbahasa. Bahkan, apabila dikaji lebih jauh, ketiga dimensi

    tersebut memiliki landasan teologis (selain epistimologis dan ontologis) yang

    kesemestaannya/universalismenya bersifat hakiki.

    1. 2. Sebuah ilustrasi

    Perhatikanlah cuplikan dialog pendek berikut ini:

  • 7/21/2019 Teori Kesantunan Bahasa

    3/49

    1. [Di sebuah terminal angkot, di antara calo dan sopir; November 2000][2]

    A:Hy Dn, iraha Adn th sumping ti lembur?

    Hey Den, kapan Aden datang dari kampung?

    B:Alah goblog siah anjing, ti iraha sia ngalebok sakola? Kamari burit, euy!

    Ah, gila kau anjing, sejak kapan kamu makan sekolahan? Kemarin sore!

    A:Hahaha. Pdah w ceuk si goblog, manh rk lila di lemburna. Aya naon heueuh?

    Hahaha. Itu, kata si kamu mau lama [tinggal] di kampung. Memang, ada apa sih?

    B:Ah biasa w, indung budak bbja geus teu boga bekel.

    Ah biasa saja, ibunya anak-anak bilang sudah tidak punya bekal.

    A: Oh, sugan th aya naon. Manh ayeuna narik k nepi ka sor heueuh?

    Oh, dikira ada apa. Kamu hari ini mau bekerja sampai sore, kan?

    B:HeueuhIya

    Bagaimana penilaian atau komentar Anda terhadap cara A dan B berkomunikasi? Ada kemungkinan,

    sebagian Anda akan menyatakan bahwa mereka berbicara kasar, ganjil, tidak wajar, dan tidak

    menunjukkan tatakrama atau sopan santun yang semestinya dimiliki oleh orang Sunda. Anda yang

    memiliki penilaian seperti ini sangat mungkin beralasan dan memiliki keyakinan bahwa orang Sunda

    itu lemah lembut, memiliki nilai kesopansantunan yang tinggi, dan sangat beradab. Akan tetapi,

    mungkin juga ada di antara Anda yang menilai cara A dan B berkomunikasi itu sangat wajar. Dasar

    berpikirnya adalah karena masing-masing antara A dan B adalah dua sahabat dekat, hidup di

    lingkungan terminal yang seringkali jauh dari adab berbahasa santun, kecuali apabila bertutur

    dengan para (calon) penumpang, dan menduga bahwa mereka umumnya berpendidikan rendah saja.

    Tidak ada yang salah dari kedua kutub pemikiran tersebut, sebab masing-masing orang di antara kita

    http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn2http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn2http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn2http://aminudin.staf.upi.edu/WEB/Website%20E%20A%20Aziz/Pidato%20Pengukuhan/Horison%20Baru.doc#_ftn2
  • 7/21/2019 Teori Kesantunan Bahasa

    4/49

    berpikir dan membuat penilaian menurut versi kita sendiri. Pertanyaan adalah: apa sesungguhnya

    yang dimaksud dengan bertutur atau berkomunikasi secara sopan dan santun itu? Apa kriteria atau

    batas-batasnya? Telah banyak kajian yang dilakukan untuk mengungkap hakikat komunikasi yang

    sopan dan santun tersebut. Sejumlah teori telah disajikan. Dukungan dan sanggahan terhadap

    masing-masing teori pun telah banyak disampaikan. Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar ini, di

    hadapan sidang yang amat terhormat ini, perkenankan saya berbagi sedikit pandangan tentang

    hakikat dari dimensi kesantunan berbahasa. Gagasan yang saya sampaikan ini merupakan salah satu

    hasil kontemplasi yang dilakukan sambil merujuk kepada hasil-hasil kajianyang sesungguhnya

    belumpanjang terhadap fenomena berbahasa oleh para penuturnya sejak saya menyibukkan diri

    untuk tahu lebih banyak tentang hal ihwal linguistik.

    1. 3. Retrospeksi

    Perenungan terhadap fenomena berbahasa ini saya mulai secara serius ketika memulai karier sebagai

    (bakal calon) linguis di kampung Clayton, Australia. Ketika itu, saya memiliki kesempatan untuk

    belajar di Department of Linguistics, Monash University (Master of Arts/MA, 1994-1996, atas

    dukungan AusAID, dan Doctor of Philosophy/Ph.D., 1997-2000 atas dukungan Projek PGSM, Ditjen

    Dikti, Depdiknas RI ) . Sesungguhnya, masa-masa itu sangat sulit bagi saya dan keluarga. Terutama

    saat mengikuti pendidikan Ph.D. ini, keadaan menuntut saya untuk bekerja ekstra keras. Untuk

    memenuhi kebutuhan hidup minimal sekali pun, saya terpaksa menjadi buruh kasar di pabrik

    meubel, pabrik plastik, mengedarkan koran lokal, serta mengadu keberuntungan menjadi tukang

    bakso. Pekerjaan ini saya lakoni sampai akhirnya mendapat kesempatan menjadi tutor bahasa

    Indonesia di Department of Asian Languages and Studies serta tutor Linguistik pada Department of

    Linguisti

Search related