Teori Dampak Pariwisata Terhadap Sosial Budaya

  • Published on
    26-Dec-2015

  • View
    235

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

yrstuy tuyfiy iyf utfl yd tufuf ydutf iy iyf liyfiyfkglifihjgjftudly,hljh oogkg iyy fufulfic fxlutyi;iy fu fouf u uo;ui utdyfliy ifif;o ohifijh igg iu out ougo ou ;o8tugyf iyf iylfiyiy ;uougugu ;o8iug u

Transcript

Pembangunan berkelanjutan memang menjadi priolitas pemerintah yang membawa perkembangan dengan sangat pesat tetapi ada hal yang mesti di kaji lebih jauh yaitu akan terjadi perubahan dimasyarakat sebagaimana dikemukakan oleh Fuad Hasan(1993:114)

Dampak yang ditimbulkan dari pembangunan bukan hanya positip tetapi juga dampak yang tidak kita inginkan yaitu Negatif hal ini tidak bisa kita tolak karena merupakan hal yang lumrah dari efek pembangunan tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Posman Simanjuntak (2003:188)

Pengaruh yang Nampak dari pesatnya pembangunan adalah terjadinya Perubahan social budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salah satu dampak yang dirasakan sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmadi Abu (2004 : 14 )

Masalah tentang dampak Pariwisata terhadap sosial budaya selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial-budaya akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi yang umum, yaitu: (Martin, 1998:171):a. perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosial-budaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;b. perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;c. perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.Menurut pendapat diatas menyiratkan bahwa di dalam melihat dampak pariwisata terhadap sosial-budaya masyarakat setempat, pariwisata semata-mata dipandang sebagai faktor luar yang akan merubah secara pasti terhadap social budaya pada masyarakat local.

Dalam perubahan yang diakibatkan oleh Pariwisata Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokkan dampak Pariwisata terhadap sosial budaya ke dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:a. dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya;b. dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat;c. dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial;d. dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata;e. dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat;f. dampak terhadap pola pembagian kerja;g. dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial;h. dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan;i. dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial; danj. dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.

Perubahan Sosial Menurut Robert H.Lauer ( 2003:4) persefective on social adalah perubahan penting dari struktur social yaitu pola prilaku dan anteraksi social tercakup dalam ekspresi tentang norma, nilai, dan fenomena culture sebagai variasi baru atau modifikasi dalam setiap aspek proses social, pola social dan bentuk bentuk social. selanjutnya Davis (2000:42) menjelaskan perubahan social sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. yang dipertegas oleh Mac Iver bahwa sebagai perubahan dalam hubungan social yang mengarah pada kesinambungan dalam hubungan social. Barker ( 2006 ) menegaskan perubahan social sebagai perubahan multidimensi dan saling terkait mencakup ekonomi teknologi, politik, budaya dan identitas.

Menurut Sumarjan dan Soemardi ( 1964 ) bahwa perubahan perubahan pada lembaga lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk didalamnya nilai nilai, sikap sikap dan pola pola perlakuan diantara kelompok kelompok dalam masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa betapa luasnya bidang bidang yang mungkin mengalami perubahan.Oleh karena itu perubahan pada masyarakat berarti juga perubahan pada kebudayaan, maka tidak mudah untuk mengemukakan batasannya secara ringkas dan terperinci karena bidang kajian cukup luas.Kendala yang cukup serius dalam hubungannya dengan proses perubahan perubahan masyarakat yang semakin cepat adalah ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi baru, sehingga upaya untuk dapat mengimbangi tuntutan kecepatan perubahan itu mengalami keterlambatan. Keterlambatan perubahan ini terjadi karena dalam proses perubahan masyarakat yang semakin cepat itu terdapat kumulasi benturan budaya dan kepentingan hidup. Di satu pihak masyarakat berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan dan mengembangkan kualitas kepentingan ekonomi yang semakin terbatas, dipihak lain harga barang dan jasa meningkat, serta menurunkan kepercayaan terhadap penguasa dan eksitensi hukum.Untuk mengatasi masalah tersebut, maka sedikitnya perlu ada 4 upaya yaitu: pertama peningkatan lapangan kerja dan potensi perekonomian masyarakat; kedua, peningkatan keterampilan dan pengetahuan teknis terhadap pelaku atau aparat pembangunan( agen of change ); ketiga peningkatan terhadap kualitas nilai nilai moral, agama, dan kesadaran hokum masyarakat dan plaku pembangunan; keempat mempertahankan dan meningkatkan wibawa dan kesadaran hokum pemerintahan dengan memberikan teladan perilaku yang baik dan benar sesuai dengan cita cita pembangunan nasional.Disimpulkan bahwa perubahan bahwa perubahan masyarakat pada dasarnya merupakan perubahan pola perilaku kehidupan dari seluruh norma norma social yang lama menjadi pola perilaku dan seluruh norma norma social yang baru.

1. Menurut John M. Bryden (1973) dalam Abdurrachmat dan E. Maryani (1998:79) yang menyebutkan suatu penyelenggaraan kegiatan pariwisata dan obyek wisata dapat memberikan setidaknya ada 5 butir dampak positif, adapun dampak positif tersebut yaitu: 1. Penyumbang devisa negara 2. Menyebarkan pembangunan 3. Menciptakan lapangan kerja 4. Memacu pertumbuhan ekonomi melalui dampak penggandaan (multiplier effect) 5. Wawasan masyarakat tentang bangsa-bangsa di dunia semakin luas 6. Mendorong semakin meningkatnya pendidikan dan ketrampilan penduduk Abdurrachmat dan E. Maryani (1998:80) menjelaskan pula dampak-dampak negatif yang timbul dari pariwisata secara ekonomi, yaitu : 1. Semakin ketatnya persaingan harga antar sektor 2. Harga lahan yang semakin tinggi 3. Mendorong timbulnya inflasi 1. Bahaya terhadap ketergantungan yang tinggi dari negara terhadap pariwisata 1. Meningkatnya kecenderungan impor 1. Menciptakan biaya-biaya yang banyak 1. Perubahan sistem nilai dalam moral, etika, kepercayaan, dan tata pergaulan dalam masyarakat, misalnya mengikis kehidupan bergotong royong, sopan santun dan lain-lain. 1. Memudahkan kegiatan mata-mata dan penyebaran obat terlarang 1. Dapat meningkatkan pencemaran lingkungan seperti sampah, vandalisme (corat- coret), rusaknya habitat flora dan fauna tertentu, polusi air, udara, tanah, dsb.

Menurut Chohen (1984), dampak pariwisata terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal dapat dikategorikan menjadi delapan kelompok yaitu : 1. Dampak terhadap penerimaan devisa. 2. Dampak terhadap pendapatan masyarakat. 3. Dampak terhadap kesempatan kerja. 4. Dampak terhadap harga-harga. 5. Dampak terhadap distribusi. 6. Dampak terhadap kepemilikan dan kontrol. 7. Dampak terhadap pada pembangunan pada umumnya. 8. Dampak terhadap pendapatan pemerintah. Perkembangan pariwisata yang sangat pesat dan terkosentrasi dapat menimbulkan berbagai dampak. Secara umum dampak yang ditimbulkan adalah dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif dari pengembangan pariwisata meliputi; (1) memperluas lapangan kerja; (2) bertambahnya kesempatan berusaha; (3) meningkatkan pendapatan; (4) terpeliharanya kebudayaan setempat; (5) dikenalnya kebudayaan setempat oleh wisatawan. Sedangkan dampak negatifnya dari pariwisata tersebut akan menyebabkan; (1) terjadinya tekanan tambahan penduduk akibat pendatang baru dari luar daerah; (2) timbulnya komersialisasi; (3) berkembangnya pola hidup konsumtif; (4) terganggunya lingkungan; (5) semakin terbatasnya lahan pertanian; (6) pencernaan budaya; dan (7) terdesaknya masyarakat setempat (Spillane, 1989:47).

Dampak sosial budaya menurut Cooper (1993) muncul karena industri pariwisata melibatkan tiga hal, yaitu wisatawan, masyarakat setempat, dan hubungan wisatawan dan masyarakat. Dampak sosial budaya muncul apabila terjadi interaksi antara wisatawan dan masyarakat ketika (1) wisatawan membutuhkan produk dan membelinya dari masyarakat disertai tuntutan- tuntutan sesuai dengan keinginannya, (2) pariwisata membawa hubungan yang informal dan pengusaha pariwisata mengubah sikap spontanitas masyarakat menjadi transaksi komersial, dan (3) wisatawan dan masyarakat bertatap muka dan bertukar informasi atau ide, menyebabkan munculnya ide-ide baru.

Douglas dan Douglas (1996: 49) mengingatkan bahwa berbagai perubahan sosial-budaya yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata semata-mata. Hal ini adalah karena pariwisata terjalin erat dengan berbagai aktivitas lain, yang mungkin pengaruhnya lebih besar, atau sudah berpengaruh jauh sebelum pariwisata berkembang,

Secara teoritis, Cohen (1984), mengelompokkan dampak sosial budaya pariwisata ke dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:1. Dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya.2. Dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat.3. Dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial4. Dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata.5. Dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat.6. Dampak terhadap pola pembagian kerja.7. Dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial.8. Dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan.9. Dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial, dan10. Dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.

Sedangkan Figuerola (dalam Pearce, 1989: 218) mengidentifikasi ada enam kategori dampak sosial budaya, yaitu:1. Dampak terhadap struktur demografi2. Dampak terhadap bentuk dan tipe mata pencaharian3. Dampak terhadap transformasi nilai4. Dampak terhadap gaya hidup tradisional.5. Dampak terhadap pola konsumsi6. Dampak terhadap pola pembangunan masyarakat yang merupakan manfaan sosial budaya masyarakat.

Sementara itu, Pizam and milman (19840 juga mengklasifikasikan dampak sosial-bidaya pariwisata atas enam, yaitu:1. Dampak terhadap aspek demografi (jumlah penduduk, umur, perubahan npiramida kependudukan)2. Dampak terhadap mata pencaharian 9perubahan pekerjaan, distribusi pekerjaan)3. Dampak terhadap aspek budaya (tradisi, keagamaan, bahasa)4. Dampak terhadap transformasi norma (nilai, moral, peranan seks)5. Dampak terhadap modifikasi pola konsumsi (infrastruktur, komunitas), dan6. Dampak terhadap linkungan (polusi, kemacetan lalu lintas)

Sifat dan bentuk dari dampak sosial-budaya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pitana (1999) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang ikut menentukan dampak sosial-budaya tersebut adalah sebagai berikut:1. Jumlah wisatawan, baik absolute maupun relative terhadap jumlah penduduk lokal,2. Objek dominan yang menjadi sajian wisata (the tourist gaze) dan kebutuhan wisatawan terkait dengan sajian tersebut,3. Sifat-sifat atraksi wisata yang disajikan, apakah alam, situs arkeologi, budaya kemasyarakatan, dan seterusnya,4. Struktur dari fungsi organisasi kepariwisataan di DTW,5. Perbedaan tingkat ekonomi antara wisatawan dengan masyarakat lokal.6. Perbedaan kebudayaan atau wisatawan dengan masyarakat lokal,7. Tingkat otonomi (baik politik, geografis, dan sumber daya) dari DTW,8. Laju/kecepatan pertumbuhan pariwisata9. Tingkat perkembangan pariwisata10. Tingkat pembanguan ekonomi DTW,11. Struktur sosial masyarakat local,12. Tipe resort yang dikembangkan (open ataukan enclave resort),13. Peranan pariwisata dalam ekonomi DTW.Ada beberapa hal menarik yang dikemukakan dari berbagai penelitian tentang dampak pariwisata yang telah dilakukan sebelumnya. Mathieson dan Wall (1982) menemukan bahwa pariwisata telah mengubah struktur internal dari masyarakat, sehingga terjadi pembedaan antara mereka yang mempunyai hubungan dengan pariwisata dan mereka tidak. Jadi, keterkaitan dengan pariwisata menjadi salah satu pemisah atau pembeda dalam masyarakat. Krippendorf (1987) lebih lanjut melaporkan bahwa pariwisata mempunyau kolonitas, sehingga merebut independensi masyarakat lokal di dalam proses pengambilan keputusan. Burn and Holden (1995) juga menyebutkan bahwa pariwisata memberikan keuntungan sosial-ekonomi pada satu sisi, tetapi sisi lain membawa ketergantungan dan ketimpangan sosial, atau memperparah ketimpangan yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKAPitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.Coover, C. et.al. 1993. Tourism Principles and Pratice. London : Pitman Publishing.

Recommended

View more >