of 88 /88
TATARAN LINGUISTIK Disusun untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah : Kajian Bahasa Indonesia SD Dosen Pengampu : Drs. Umar Samadhy, M.Pd Disusun oleh: Kelompok 1. Joko Sarjono ( ) 2. Desy Dwi Astuti (1402408181) 3. Kristina Murti Anissa (1402408188) 4. Titin Indrawati (1402408194)

TATARAN LINGUISTIK - Cakrabuwana's Weblog | … · Web view1. Tahap spekulasi (dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif)

  • Author
    vudung

  • View
    224

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of TATARAN LINGUISTIK - Cakrabuwana's Weblog | … · Web view1. Tahap spekulasi (dalam tahap ini...

TATARAN LINGUISTIK

TATARAN LINGUISTIK

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok

Mata Kuliah: Kajian Bahasa Indonesia SD

Dosen Pengampu: Drs. Umar Samadhy, M.Pd

Disusun oleh:

Kelompok

1. Joko Sarjono

( )

2. Desy Dwi Astuti

(1402408181)

3. Kristina Murti Anissa (1402408188)

4. Titin Indrawati

(1402408194)

5. Yubaedi Siron

(1402408202)

6. Widya Herliliawati

(1402408208)

7. Febriyan Amirul Rizza (1402408214)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2008

BAB II

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

KEILMIAHAN LINGUISTIK

Keilmiahan linguistik dapat dibuktikan melalui tiga tahap,yaitu :

1. Tahap spekulasi (dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif)

contoh : dalam studi bahasa,dulu orang menganggap semua bahasa di dunia ini

diturunkan dari bahasa Ibrani,semua itu hanya spekulasi dan pada zaman sekarang sulit diterima.

2. Tahap observasi dan klasifikasi (dalam tahap ini para ahli bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori dan kesimpulan)

3. Tahap perumusan teori (dalam tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami memahami masalah dasar dan mengajukan pertanyaan kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu)

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap tersebut.Artinya linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan kegiatan ilmiah. Sebagai ilmu,linguistik berusaha mencari keteraturan / kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya.Karena itu lingustik juga disebut ilmu nomotetik.Linguistik tidak berhenti pada satu kesimpulan saja tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan itu berdasarkan data empiris selanjutnya.

SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap ilmu biasanya dibagi menjadi bidang-bidang bawahan / cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah lain.Demikian pula dengan linguistik,karena mengingat objek linguistik adalah bahasa yang merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia,maka subdisiplin linguistik juga sangat banyak,antara lain :

1. Berdasarkan objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya / bahasa tertentu.dapat

dibedakan menjadi :

a. Linguistik umum : linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara

umum.Pernyataan-pernyataan yang dihasilkan akan menyangkut

bahasa pada umumnya.

b. Linguistik khusus : linguistik yang berusaha mengkaji kaidah bahasa tertentu,misal

bahasa Indonesia.

2. Berdasarkan objek kajiannya bahasa pada masa tertentu / bahasa sepanjang masa.

dibedakan menjadi 2 yaitu :

a. Linguistik sinkronik : linguistik yang mengkaji bahasa pada masa yang terbatas.

contoh : mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan.

b. Linguistik diakronik : linguistik yang mengkaji bahasa pada masa yang tidak

terbatas.Bisa sejak awal lahirnya bahasa sampai punahnya

bahasa tersebut (linguistik historis komparatif).

3. Berdasarkan objek kajiannya apakah struktur internal bahasa / bahasa itu dalam

hubungannya dengan faktor di luar bahasa.Dapat dibedakan menjadi :

a. Linguistik mikro : linguistik yang mengarahkan kajiannya pada struktur internal

bahasa pada umumnya.

(dibagi lagi menjadi subdisiplin linguistik fonologi,morfologi,sintaksis,semantik,

dan leksikologi)

- fonologi : ciri-ciri bunyi bahasa

- morfologi : struktur kata,bagian serta cara pembentukannya

- sintaksis : satuan-satuan kata,satuan lain di atas kata,hubungan satu dengan

yang lain,dan cara penyusunannya sehingga menjadi ujaran

- semantik : makna baik yang bersifat leksikal,gramatikal,kontekstual

- leksikologi : leksikon / kosakata suatu bahasa

b. Linguistik makro : linguistik yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor

di luar bahasa.

(dibagi lagi menjadi subdisiplin sosiolinguistik,psikolinguistik,antropolinguistik,

etnolinguistik,stilistika,filologi,dialektologi,filsafat,ilmu bahasa,dan neurolinguistik)

4. Berdasarkan tujuannya apakah penyelidikan linguistik untuk merumuskan teori atau

untuk diterapkan.Dibagi menjadi :

a. Linguistik teoritis : linguistik yang berusaha mengadakan penyelidikan terhadap

bahasa yang tujuannya hanya untuk kepentingan teori belaka.

b. Linguistik terapan : linguistik yang berusaha mengadakan penelitian dengan tujuan

untuk memecahkan masalah-masalah di masyarakat.

5. Berdasarkan aliran / teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dapat dibagi

menjadi :

a. Linguistik tradisional

b. Linguistik struktural

c. Linguistik transformasional

d. Linguistik generatif

e. Linguistik semantik

f. Linguistik relasional

g. Linguistik sistemik

ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa yaitu fonetik,fonemik,morfologi,sintaksis,dan semantik.

STRUKTUR, SISTEM, DAN DISTRIBUSI

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear.

- Sistem adalah hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat

lainnya.

- Distribusi adalah menyangkut masalah dapat / tidaknya penggantian suatu

konstituen tertentu dalam suatu kalimat tertentu dengan konstituen lain.

ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Analisis bawahan langsung sering disebut analisis unsur langsung,atau analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur / konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa entah satuan kata,frase,klausa,maupun kalimat. Manfaat : menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat dapat dipahami dengan analisis tersebut.

ANALISIS RANGKAIAN UNSUR DAN ANALISIS PROSES UNSUR

1. Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata

dari unsur-unsur lain.

misal : satuan tertimbun terdiri dari ter- + timbun

2. Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

misal : bentuk tertimbun adalah hasil proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

MANFAAT LINGUISTIK

1. Bagi linguis : membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya

2. Bagi peneliti,kritikus,dan peminat sastra : membantu dalam memahami karya sastra dengan lebih baik.

3. Bagi guru : membantu merumuskan kaidah-kaidah perspektif dan kaidah deskripti sehingga pengajaran berjalan dengan baik.

4. Bagi penyusun dan penerjemah : membantu dalam menyelesaikan tugasnya.

5. Bagi penyusun buku pelajaran : memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat,memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca.

6. Bagi negarawan / politikus : membantu menyalurkan pemikirannya karena politikus harus menguasai bahasa.

BAB III

OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian. Kata bahasa yang terdapat pada kalimat bisa menunjuk pada beberapa arti atau kategori lain. Menurut peristilahan de Saussure, bahasa bisa berperan sebagai parole, langue, langage. Sebagai objek kajian linguistik, karole merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan oleh para bahasawan dari suatu masyarakat bahasa. Langue merupakan objek yang abstrak karena langue itu berwujud sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan. Langage merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud sistem bahasa yang universal.

Apakah bahasa itu? Seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1983 dan juga dalam Djoko Kentjono 1982) Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Definisi ini sejalan dengan definisi dari Barber(1964: 21), Wardhaugh(1977:3), Trager(1949:18), de Saussure(1966:16) dan Bolinger(1975:15).

Masalah yang berkeneen dengan pengertian bahasa adalah bilamana sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya dan bilamana hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa lainnya dan hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistis dan patokan politis. Masalah lain adalah arti bahasa dalam pendidikan formal di sekolah menengah bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Jawaban ini tidak salah tetapi juga tidak benar sebab hanya mengatakan bahasa adalah alat.

Oleh karena itu, meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena rumitnya menentukan suatu parole bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa yang lain, maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada di dunia ini.

3.2 HAKIKAT BAHASA

Beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa adalah

3.2.1 Bahasa sebagi Sistem

Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan makna cara atau aturan, tapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem bararti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub- subsistem atau sistem bawahan.

3.2.2 Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dikaji orang dengan kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu Semiotika atau Semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Dengan begitu, bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi- bahasa, bukan dalam wujud lain.

3.2.3 Bahasa adalah Bunyi

Sistem bahasa itu bisa berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Kata bunyi, sering sukar dibedakan dengan kata suara. Secara teknik, menurut Kridalaksana (1983: 27) bunyi adalah kesan dari pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan- perubahan dalam tekanan udara. Lalu yang dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi- bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa, seperti teriak, bersin, batuk- batuk, dan sebagainya.

3.2.4 Bahasa itu Bermakna

Bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, maka tentu ada yang dilambangkan. Yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide atau pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang- lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau suatu pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Lambang- lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan- satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang- wenang, berubah- ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

3.2.7 Bahasa itu Produktif

Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah banyak hasilnya atau lebih tepat terus- menerus menghasilkan . Lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsur- unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur- unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan- satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yamg berlaku dalam bahasa itu.

3.2.8 Bahasa itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa dikatakan unik yang artinya setiap bahasa memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, artinya jika kita memberi tekanan pada kata dalam kalimat maka makna kata itu tetap.

3.2.9 Bahasa itu Universal

Bahasa bersifat universal artinya ada ciri- ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri- ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri- ciri atau sifat- sifat bahasa lain.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis

Bahasa adalah satu- satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap dan tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi

Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Anggota masyarakat bahasa itu ada yang berpndidikan baik ada juga yang tidak, ada yang tinggal di kota ada yang tinggal di desa, ada orang dewasa dan kanak- kanak. Oleh karena latar belakang dan lingkungannya tidak sama maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Alat komunikasi binatang bersifat terbatas. Dalam arti hanya untuk keperluan hidup kebinatangannya itu saja. Kalaupun ada binatang yang dapat mengerti dan memahami serta melakukan perintah manusia dalam bahasa manusia adalah berkat latihan yang diberikan kepadanya.

3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Objek kajian linguistik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor- faktor di luar bahasa yaitu tidak lain daripada segala hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab tidak ada kegiatan yang tanpa berhubungan dengan bahasa.

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang banyaknya relatif ), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Yang dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada merasa menggunakan bahasa yang sama, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa

Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi ( T ) digunakan dalam situasi- situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah, surat- menyurat resmi dan buku pelajaran, variasi T ini harus dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah- sekolah. Yang kedua adalah variasi bahasa rendah ( R ) digunakan dalam situasi tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat- surat pribadi dan catatan untuk diri sendiri, variasi R ini dipelajari secara langsung di dalam masyarakat umum dan tidak pernah dalam pendidikan formal. Adanya pembedaan variasi bahasa T dan bahasa R disebut dengan istilah diglosia ( Ferguson 1964 ). Masyarakat yang mengadakan pembedaan ini disebut masyarakat diglosis.

3.3.3 Penggunaan Bahasa

Adanya berbagai macam dialek dan ragam bahasa menimbulkan masalah, bagaimana kita harus menggunakan bahasa itu di dalam masyarakat. Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :

1. Setting and scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan

2. Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan

3. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan

4. Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan

5. Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan

6. Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan

7. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan

8. Genres, yaitu menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

Kedelapan unsur tersebut dalam formulasi lain bisa dikatakan dalam berkomunikasai lewat bahasa harus diperhatikan faktor- faktor siapa lawan atau mitra bicara kita, tentang apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa dan ragam bahasa yang digunakan yang mana.

3.3.4 Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Bahasa dari masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa dari masyarakat yang datang. Hal yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya atau terdapatnya apa yang disebut bilingualisme dan multilingualisme dengan berbagai macam kasusnya, sepertu interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode.

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Satu lagi yang menjadi objek kajian linguistik makro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesisyang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dengan kebudayaan ini. Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf ( hipotesis Sapir- Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan atau bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak manusia. Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh sifat- sifat bahasanya.

3.4 KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukkan dalam satu kelompok. Menurut Greenberg (1957: 66) suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekhaustik, dan unik. Nonarbitrer maksudnya bahwa kriteria klasifikasi hanya harus ada satu kriteria, maka hasilnya akan ekhaustik. Artinya, setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya, semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Hasil klasifikasi juga harus bersifat unik, maksudnya kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam salah satu kelompok, dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok yang lain, kalau masuk ke dalam dua kelompok atau lebih berarti hasil klasifikasi itu tidak unik.

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa- bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro ( bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa- bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa- bahasa pecahan berikutnya.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang sama. Apa yang dilakukan dalam klasifikasi genetis ini sebenarnya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk (bunyi) dan makna. Oleh karena itu, klasifikasi genetis bisa dikatakan merupakan hasil pekerjaan linguistik historis komparatif. Klasifikasi genetis juga menunjukkan bahwa perkembangan bahasa- bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe- tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang- ulang dalam suatu bahasa. Klasifikasi tipologi ini dapat dilakukan pada semua tataran bahasa. Maka hasil klasifikasinya dapat bermacam- macam, akibatnya menjadi bersifat arbitrer karena tidak terikat oleh tipe tertentu.

Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:

Kelompok pertama adalah yang semata- mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi. ( klasifikasi morfologi oleh Fredrich Von Schlegel)

Kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi ( oleh Franz Bopp).

Kelompok ketiga adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi, pakarnya antara lain H. Steinthal.

Pada abad XX ada juga pakar klasifikasi morfologi dengan prinsip yang berbeda, misalnya yang dibuat Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954).

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa- bahasa itu memberikan pengaruh timbal balik dalam hal- hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi inipun bersifat non ekhaustik, sebab masih banyak bahasa- bahasa di dunia ini yang masih bersifat tertutup dalam arti belum menerima unsur- unsur luar. Selain itu, klasifikasi inipun bersifat non unik, sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk ke dalam kelompok lainnya lagi. Usaha klasifikasi ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868- 1954) dalam bukunya Die Sprachfamilien und Sprachenkreise der Ende, yang dilampiri dengan peta.

3.4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor- faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang dapat kita baca dalam artikelnya An Outline of Linguistic Typology for Describing Multilingualism. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri atau kriteria, yaitu :

a. historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa itu,

b. standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal,

c. vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari- hari secara aktif atau tidak,

d. homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi ekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam kelompok- kelompok tertentu. Tetapi hasil ini tidak unik sebab sebuah bahasa bisa mempunyai status yang berbeda.

3.5 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Dalam bagian yang terdahulu sudah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem bunyi. Jadi bahasa itu adalah apa yang dilisankan. Juga sudah disebutkan bahwa linguistik melihat bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang diucapkan, bukan yang dituliskan. Namun linguistik sebenarnya juga tidak menutup diri terhadap bahasa tulis, sebab apapun yang berkenaan dengan bahasa adalah juga menjadi objek linguistik, padahal bahasa tulis dekat sekali hubungannya denganm bahasa. Hanya masalahnya, linguistik juga punya prioritas dalam kajiannya. Begitulah, maka bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa lisan lebih dahulu daripada bahasa tulis. Malah saat ini masih banyak bahasa di dunia ini yang belum punya tradisi tulis. Artinya, bahasa itu hanya digunakan secara lisan, tetapi tidak secara tulisan. Dalam bahasa itu belum dikenal ragam bahasa tulisan, yang ada hanya ragam bahasa lisan.

Bahasa tulis sebenarnya bisa dianggap sebagai rekaman bahasa lisan, sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Namun, ternyata rekaman bahasa tulis sangat tidak sempurna. Banyak unsur bahasa lisan, seperti tekanan, intonasi, dan nada yang tidak dapat direkam secara sempurna dalam bahasa tulis, padahal dalam berbagai bahasa tertentu tiga unsur itu sangat penting.

Apakah bahasa tulis itu sama dengan bahasa lisan, atau bagaimana? Meskipun dari awal sudah disebutkan bahwa bahasa tulis sebenarnya tidak lain daripada rekaman bahasa lisan, tetapi sesungguhnya ada perbedaan besar antara bahasa tulis dengan bahasa lisan. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman. Bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati- hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar, maka kesalahan itu tidak bisa secara langsung diperbaiki. Berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan setiap kesalahan bisqa segera diperbaiki, lagipula bahasa lisan sangat dibantu oleh intonasi, tekanan, mimik, dan gerak- gerik si pembicara.

Berbicara mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan manusia mulai menggunakan tulisan. Ada cerita yang mengatakan bahwa tulisan itu ditemukan oleh Cadmus, seorang pangeran dari Phunisia dan lalu membawanya ke Yunani. Dalam fable Cina dikisahkan bahwa yang menemukan tulisan adalah Tsang Chien Tuhan bermata empat, dan sebagainya. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar- gambar yang terdapat dari gua-gua di Altamira di Spanyol Utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar- gambar itu dengan bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar- gambar ini disebut pictogram, dan sebagai sistem tulisan disebut piktograf.

Beberapa waktu kemudian gambar- gambar piktogram itu benar- benar menjadi sistem tulisan yang disebut piktograf. Dalam piktograf ini, satu huruf yang berupa satu gambar, melambangkan satu makna atau satu konsep. Piktograf ini selanjutnya tidak lagi menggambarkan benda yang dimaksud, tetapi telah digunakan untuk menggambarkan sifat benda atau konsep yang berhubungan dengan benda itu. Piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep ini disebut ideograf. Kemudian ideograf berubah menjadi lebih sederhana, sehingga tidak tampak lagi hubungan langsung antara gambar dengan hal yang dimaksud. Sistem demikian, yang menggambarkan suku kata disebut aksara silabis.

Lalu dalam perkembangannya, aksara silabis ini diambil alih oleh orang Yunani yang kemudian mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan menggambarkan setiap konsonan dan vocal dengan satu huruf. Selanjutnya, aksara Yunani ini diambil alih pula oleh orang Romawi. Pada abad-abad pertama Masehi aksara Romawi ini (yang lazim disebut aksara Latin) menyebar ke seluruh dunia. Tiba di Indonesia sekitar abad XVI bersamaan dengan penyebaran agama Kristen oleh orang Eropa.

Jadi, sudah dikemukakan di atas adanya beberapa jenis aksara, yaitu aksara piktografis, aksara ideografis, aksara silabis, dan aksara fonemis. Semua jenis aksara itu tidak ada yang bisa merekam bahasa lisan secara sempurna. Banyak unsur bahasa lisan yang tidak dapat digambarkan oleh aksara itu dengan tepat dan akurat. Alat pelengkap aksara yang ada untuk menggambarkan unsur- unsur bahasa lisan hanyalah huruf besar untuk memulai kalimat, koma untuk menandai jeda, titik untuk menandai akhir kalimat, tanda tanya untuk menyatakan interogasi, tanda seru untuk menyatakan interjeksi, dan tanda hubung untuk menyatakan penggabungan. Bahasa- bahasa di dunia ini dewasa ini lebih umum menggunakan aksara Latin daripada aksara lain. Aksara Latin adalah aksara yang tidak bersifat silabis. Jadi, setiap silabel akan dinyatakan dengan huruf vokal dan huruf konsonan. Huruf vokal untuk melambangkan fonem vokal dan huruf konsonan untuk melambangkan fonem konsonan dari bahasa yang bersangkutan. Hubungan antara fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna dalam suatu bahasa) dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil dalam aksara) ternyata juga bermacam- macam. Tidak sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, karena jumlah fonem yang ada dalam setiap bahasa tidak sama dengan jumlah huruf yang tersedia dalam alphabet Latin itu.

Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem. Jika demikian, ternyata ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen ideal, sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk melambangkan sebuah fonem. Namun, tampaknya ejaan bahasa Indonesia masih jauh lebih baik daripada ejaan bahasa Inggris.

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGIA. Pengertian

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Fonologi dibentuk dari Fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu.

Rututan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkat-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat pada runtutan bunyi tersebut.

Misal:

(1) [kedua orang itu meninggalkan ruang sidang meskipun rapat belum selesai].

Tahap pertama, runtutan bunyi disegmentasikan berdasarkan adanya jeda yang paling besar.

(1a) [kedua orang itu meninggalkan sidang] (1b) [meskipun rapat belum selesai]

Tahap kedua, segmen (1a) dan (1b) dapat disegmenkan lagi.

(1a1) [kedua orang](1b1) [meskipun]

(1a2) [meninggalkan ruang sidang](1b2) [rapat belum selesai]

Tahap ketiga,segmen (1a1) dan (1ba) dapat disegmenkan lagi.

(1a11) [kedua orang](1b11) [meski]

(1a12) [itu](1b12) [pun]

(1a21) [meninggalkan](1b21) [rapat]

(1a22) [ruang sidang](1b22) [belum selesai]

Tahap keempat, segmen (1a21) dapat menghadilkan silabel.

[meninggalkan] = [me], [ning], [gal], [kan]

Silabel adalah satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring.

Silabel sering disebut juga dengan suku kata.

Adanya puncak kenyaringan (sonoritas) inilah yang menandai silabel, yang biasanya ditandai dengan vokal.

B. Objek Studi Fonologi

Fonetik: yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Contoh: bunyi [i] yang terdapat kata [intan], [angin], dan [batik] tidaklah sama

Fenomik: mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi tersebut sebagai pembeda makna.

Contoh: perbedaab bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan [baru]

1. Fonetik

Ada 3 jenis fonetik, yaitu:

a) Fonetik artikulatoris/fonetik organ/fonetik fisiologis

Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklarifikasikan.

b) Fenotik akuistik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam.

c) Fenotik auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

a. Alat ucap

Alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa (pada fenotik artikulatoris)

Dorsal: pangkal lidah

Medial: tengah lidah

Laminal: daun lidah

Apikal: ujung lidah

Uvular: anak tekak

Dental gigi

Bibir: labial

b. Proses fonasi

Agar tercipta bunyi maka pita harus berada dalam posisi terbuka. 4 macam posisi pita suara:

Terbuka lebar: tidak akan terjadi bunyi bahasa.

Terbuka agak lebar: terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi tak berusara (voiceless).

Terbuka sedikit: terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi bersuara (voice).

Tertutup rapat: terjadi bunyi hamzah atau global stop.

Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi (artikulator)

Artikulator aktif: alat ucap bergerak.

Artikulator pasif: alat ucap tak bergerak

c. Tulisan fonetik

Dalam tulisan fenotik, lambang atau huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisan fenotik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara akurat, meskipun perbedaan hanya sedikit.

d. Klarifikasi bunyi

Bunyi vokal, semuanya adalah bersuara, sebab dihasilkan dengan pita suara terbuka sekikit.

Klasifikasi vokal.

Posisi lidah secara vertikal:

Vokal tinggi: (i) dan (u)

Vokal tengah: (e) dan (()

Vokal rendah: (a)

Posisi lidah horizontal

Vokal depan: (i) dan (e)

Vokal pusat: (()

Vokal belakang: (u) dan (o)

Bentuk mulut

Vokal bundar: (o) dan (u)

Vokal belakang: (i) dan (e)

Diftong atau vokal rangkap

Disebut demikian karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

Diftong ada 2, yaitu :

a) Diftong naik: bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua.

b) Diftong turun: bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi pertama.

Klarifikasi konsonan

Bunyi-bunyi konsonan diibedakan berdasarkan 3 patokan, yaitu: posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain, konsonan:

1) Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah, merapat pada biar atas. Antara lain (b), (p) dan (m).

2) Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi merapat pada bibir atas. Antara lain (f) dan (v).

3) Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi antara lain (t) dan (d).

4) Darsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan volum atau langit-langit lunak. Antara lain (k) dan (g).

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, dapat kita bedakan adanya konsonan.

1) Hambatan ( letupan, plosif, stop ) : bunyi p, b,t,d,k, dan g.

2) Geseran atau frikatif: bunyi f, s, dan z.

3) Paduan atau frikatif: bunyi c, dan j.

4) Sengauan atau nasal: bunyi m, dan n.

5) Getaran atau trill: bunyi r.

6) Sampingan atau lateral: bunyi l.

7) Hampiran atau aproksimal: bunyi w, dan y.

Unsur Suprasegmental

Adalah bunyi yang dapat disegmentasikan di dalam arus ujaran.

1) Tekanan atau stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi, suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, asti dibarengi dengan tekanan keras, begitu juga sebaliknya.

2) Nada atau Pitch.

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi

Macam-macam nada yaitu :

a. Nada naik /

Nada datar

Nada turun \

Nada turun naik ^

Nada turun v

b. Nada paling tinggi, angka 4

Nada tinggi, angka 3

Nada sedang, angka 3

Nada rendah, angka 1

3) Jeda atau persendian

Berkenan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

Macam-macam sendi:

a. Sendi dalam (internal juncture)

Menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel lain. Biasanya diberi tanda (+).

b. Sendi luar (open juncture)

Menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel.

Antara lain: jeda antar kata (/)

Jeda antar frase dalam klausa (//)

Jeda antar kalimat dalam wacana (#)

Silabel

Adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Bunyi vokal selalu menjadi puncak silabis atau kenyaringan dalam suatu silabel.

2. Fonemik

a. Identifikasi fonem

Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.

Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki banyak kesamaan dalam pengucapannnya. Dimana alofon adalah rediasi dari fonem, yang konkret dalam bahasa.

Contoh: fonem (i) setidaknya memiliki 4 buah alofon, yaitu:

Bunyi (i) dalam kata cita

Bunyi (I) dalam kata tarik

Bunyi (i) dalam kata ingkar

Bunyi (i:) dalam kata kali

Klasifikasi fenom

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut segmental. Dan fonem supra segmental atau fonem non segmental adalah fonem yang berupa unsur supra segmental.

Yang membedakan suatu konstruksi adalahkata majemuk atau bukan adalah pada tekanan itu. Kalau tekanan dijatuhkan pada unsur pertama, maka kontruksi itu adalah kata majemuk,kalau dijatuhkan pada unsur kedua maka itu bukan majemuk.

Dalam bahasa Indonesia unsur supra segmental tampaknya tidak bersifat fenomis maupun morfemis, namun intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

Khazanah fenom

Adalah banyaknya fenom yang terdapat dalam satu bangsa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bangsa tidak sama jumlahnya dengan ynag dimiliki bangsa lain.

Jumlah fonem bahasa Indonesia adalah 24 buah, dimana:

6 buah fonem vokal: a, i, u, e, .... dan o

18 buah fonemkonsonan: p,t,c,k,b,d,j,g,m,n, ....s,h,r,l,w dan y

Perubahan fenom

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

Macam-macam kasus perubahan fonem, antara lain:

1) Asimilasi dan disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya. Sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fenomis. Jika tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka disebut asimilasi fonetid atau asimilasi alomorfemis.

Macam-macam asimilasi.

a) Asimilasi progresif: bunyi yang diubah itu terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya.

b) Asimilasi regresif: bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya.

c) Asimilasi resipokal: perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

Proses disimilasi perubahan menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

2) Netralisasi dan arkifonem

Contoh dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja hard keras dilafalkan /hart/. Adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi.

Fenom /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

3) Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman. Untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki. Contohnya kata at kuda bentuk jamaknya adalah atlarkuda-kuda. Dalam bahasa Turki harmoni vokal berlangsung dari kiri ke kanan, atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul.

4) Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi informal, seringkali penutur memperpendek ujarnya. Misal tidak tahu diucapkan ndak tahu. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih ada yang berupa kontrkasi. Dalam kontrkasi, pendekatan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

5) Metatesis dan Epentesis

Metatesis mengubah urutan fenom yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut sebagai variasi.

Dalam proses epentesis sebuah fonem tert3entu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

6) Fonem dan grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Sedangkan yang lainnya sama.

BAB V

OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian. Kata bahasa yang terdapat pada kalimat bisa menunjuk pada beberapa arti atau kategori lain. Menurut peristilahan de Saussure, bahasa bisa berperan sebagai parole, langue, langage. Sebagai objek kajian linguistik, karole merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan oleh para bahasawan dari suatu masyarakat bahasa. Langue merupakan objek yang abstrak karena langue itu berwujud sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan. Langage merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud sistem bahasa yang universal.

Apakah bahasa itu? Seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1983 dan juga dalam Djoko Kentjono 1982) Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Definisi ini sejalan dengan definisi dari Barber(1964: 21), Wardhaugh(1977:3), Trager(1949:18), de Saussure(1966:16) dan Bolinger(1975:15).

Masalah yang berkeneen dengan pengertian bahasa adalah bilamana sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya dan bilamana hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa lainnya dan hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistis dan patokan politis. Masalah lain adalah arti bahasa dalam pendidikan formal di sekolah menengah bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Jawaban ini tidak salah tetapi juga tidak benar sebab hanya mengatakan bahasa adalah alat.

Oleh karena itu, meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena rumitnya menentukan suatu parole bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa yang lain, maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada di dunia ini.

3.2 HAKIKAT BAHASA

Beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa adalah

3.2.1 Bahasa sebagi Sistem

Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan makna cara atau aturan, tapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem bararti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub- subsistem atau sistem bawahan.

3.2.2 Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dikaji orang dengan kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu Semiotika atau Semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Dengan begitu, bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi- bahasa, bukan dalam wujud lain.

3.2.3 Bahasa adalah Bunyi

Sistem bahasa itu bisa berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Kata bunyi, sering sukar dibedakan dengan kata suara. Secara teknik, menurut Kridalaksana (1983: 27) bunyi adalah kesan dari pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan- perubahan dalam tekanan udara. Lalu yang dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi- bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa, seperti teriak, bersin, batuk- batuk, dan sebagainya.

3.2.4 Bahasa itu Bermakna

Bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, maka tentu ada yang dilambangkan. Yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide atau pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang- lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau suatu pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Lambang- lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan- satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang- wenang, berubah- ubah, tidak tetap, mana suka. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

3.2.7 Bahasa itu Produktif

Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah banyak hasilnya atau lebih tepat terus- menerus menghasilkan . Lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsur- unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur- unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan- satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yamg berlaku dalam bahasa itu.

3.2.8 Bahasa itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa dikatakan unik yang artinya setiap bahasa memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, artinya jika kita memberi tekanan pada kata dalam kalimat maka makna kata itu tetap.

3.2.9 Bahasa itu Universal

Bahasa bersifat universal artinya ada ciri- ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri- ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri- ciri atau sifat- sifat bahasa lain.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis

Bahasa adalah satu- satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap dan tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi

Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Anggota masyarakat bahasa itu ada yang berpndidikan baik ada juga yang tidak, ada yang tinggal di kota ada yang tinggal di desa, ada orang dewasa dan kanak- kanak. Oleh karena latar belakang dan lingkungannya tidak sama maka bahasa yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Alat komunikasi binatang bersifat terbatas. Dalam arti hanya untuk keperluan hidup kebinatangannya itu saja. Kalaupun ada binatang yang dapat mengerti dan memahami serta melakukan perintah manusia dalam bahasa manusia adalah berkat latihan yang diberikan kepadanya.

3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Objek kajian linguistik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor- faktor di luar bahasa yaitu tidak lain daripada segala hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab tidak ada kegiatan yang tanpa berhubungan dengan bahasa.

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah yang banyaknya relatif ), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Yang dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada merasa menggunakan bahasa yang sama, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa

Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi ( T ) digunakan dalam situasi- situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah, surat- menyurat resmi dan buku pelajaran, variasi T ini harus dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah- sekolah. Yang kedua adalah variasi bahasa rendah ( R ) digunakan dalam situasi tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat- surat pribadi dan catatan untuk diri sendiri, variasi R ini dipelajari secara langsung di dalam masyarakat umum dan tidak pernah dalam pendidikan formal. Adanya pembedaan variasi bahasa T dan bahasa R disebut dengan istilah diglosia ( Ferguson 1964 ). Masyarakat yang mengadakan pembedaan ini disebut masyarakat diglosis.

3.3.3 Penggunaan Bahasa

Adanya berbagai macam dialek dan ragam bahasa menimbulkan masalah, bagaimana kita harus menggunakan bahasa itu di dalam masyarakat. Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :

9. Setting and scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan

10. Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan

11. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan

12. Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan

13. Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan

14. Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan

15. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan

16. Genres, yaitu menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

Kedelapan unsur tersebut dalam formulasi lain bisa dikatakan dalam berkomunikasai lewat bahasa harus diperhatikan faktor- faktor siapa lawan atau mitra bicara kita, tentang apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa dan ragam bahasa yang digunakan yang mana.

3.3.4 Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Bahasa dari masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa dari masyarakat yang datang. Hal yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya atau terdapatnya apa yang disebut bilingualisme dan multilingualisme dengan berbagai macam kasusnya, sepertu interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode.

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Satu lagi yang menjadi objek kajian linguistik makro adalah mengenai hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesisyang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dengan kebudayaan ini. Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf ( hipotesis Sapir- Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan atau bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak manusia. Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh sifat- sifat bahasanya.

3.6 KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukkan dalam satu kelompok. Menurut Greenberg (1957: 66) suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekhaustik, dan unik. Nonarbitrer maksudnya bahwa kriteria klasifikasi hanya harus ada satu kriteria, maka hasilnya akan ekhaustik. Artinya, setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya, semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Hasil klasifikasi juga harus bersifat unik, maksudnya kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam salah satu kelompok, dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok yang lain, kalau masuk ke dalam dua kelompok atau lebih berarti hasil klasifikasi itu tidak unik.

3.6.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa- bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro ( bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa- bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa- bahasa pecahan berikutnya.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang sama. Apa yang dilakukan dalam klasifikasi genetis ini sebenarnya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk (bunyi) dan makna. Oleh karena itu, klasifikasi genetis bisa dikatakan merupakan hasil pekerjaan linguistik historis komparatif. Klasifikasi genetis juga menunjukkan bahwa perkembangan bahasa- bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

3.6.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe- tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang- ulang dalam suatu bahasa. Klasifikasi tipologi ini dapat dilakukan pada semua tataran bahasa. Maka hasil klasifikasinya dapat bermacam- macam, akibatnya menjadi bersifat arbitrer karena tidak terikat oleh tipe tertentu.

Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:

Kelompok pertama adalah yang semata- mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi. ( klasifikasi morfologi oleh Fredrich Von Schlegel)

Kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi ( oleh Franz Bopp).

Kelompok ketiga adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi, pakarnya antara lain H. Steinthal.

Pada abad XX ada juga pakar klasifikasi morfologi dengan prinsip yang berbeda, misalnya yang dibuat Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954).

3.6.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa- bahasa itu memberikan pengaruh timbal balik dalam hal- hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi inipun bersifat non ekhaustik, sebab masih banyak bahasa- bahasa di dunia ini yang masih bersifat tertutup dalam arti belum menerima unsur- unsur luar. Selain itu, klasifikasi inipun bersifat non unik, sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk ke dalam kelompok lainnya lagi. Usaha klasifikasi ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868- 1954) dalam bukunya Die Sprachfamilien und Sprachenkreise der Ende, yang dilampiri dengan peta.

3.6.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor- faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang dapat kita baca dalam artikelnya An Outline of Linguistic Typology for Describing Multilingualism. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri atau kriteria, yaitu :

e. historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa itu,

f. standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal,

g. vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari- hari secara aktif atau tidak,

h. homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi ekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam kelompok- kelompok tertentu. Tetapi hasil ini tidak unik sebab sebuah bahasa bisa mempunyai status yang berbeda.

3.7 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Dalam bagian yang terdahulu sudah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem bunyi. Jadi bahasa itu adalah apa yang dilisankan. Juga sudah disebutkan bahwa linguistik melihat bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang diucapkan, bukan yang dituliskan. Namun linguistik sebenarnya juga tidak menutup diri terhadap bahasa tulis, sebab apapun yang berkenaan dengan bahasa adalah juga menjadi objek linguistik, padahal bahasa tulis dekat sekali hubungannya denganm bahasa. Hanya masalahnya, linguistik juga punya prioritas dalam kajiannya. Begitulah, maka bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa lisan lebih dahulu daripada bahasa tulis. Malah saat ini masih banyak bahasa di dunia ini yang belum punya tradisi tulis. Artinya, bahasa itu hanya digunakan secara lisan, tetapi tidak secara tulisan. Dalam bahasa itu belum dikenal ragam bahasa tulisan, yang ada hanya ragam bahasa lisan.

Bahasa tulis sebenarnya bisa dianggap sebagai rekaman bahasa lisan, sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Namun, ternyata rekaman bahasa tulis sangat tidak sempurna. Banyak unsur bahasa lisan, seperti tekanan, intonasi, dan nada yang tidak dapat direkam secara sempurna dalam bahasa tulis, padahal dalam berbagai bahasa tertentu tiga unsur itu sangat penting.

Apakah bahasa tulis itu sama dengan bahasa lisan, atau bagaimana? Meskipun dari awal sudah disebutkan bahwa bahasa tulis sebenarnya tidak lain daripada rekaman bahasa lisan, tetapi sesungguhnya ada perbedaan besar antara bahasa tulis dengan bahasa lisan. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman. Bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati- hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar, maka kesalahan itu tidak bisa secara langsung diperbaiki. Berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan setiap kesalahan bisqa segera diperbaiki, lagipula bahasa lisan sangat dibantu oleh intonasi, tekanan, mimik, dan gerak- gerik si pembicara.

Berbicara mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan manusia mulai menggunakan tulisan. Ada cerita yang mengatakan bahwa tulisan itu ditemukan oleh Cadmus, seorang pangeran dari Phunisia dan lalu membawanya ke Yunani. Dalam fable Cina dikisahkan bahwa yang menemukan tulisan adalah Tsang Chien Tuhan bermata empat, dan sebagainya. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar- gambar yang terdapat dari gua-gua di Altamira di Spanyol Utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar- gambar itu dengan bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar- gambar ini disebut pictogram, dan sebagai sistem tulisan disebut piktograf.

Beberapa waktu kemudian gambar- gambar piktogram itu benar- benar menjadi sistem tulisan yang disebut piktograf. Dalam piktograf ini, satu huruf yang berupa satu gambar, melambangkan satu makna atau satu konsep. Piktograf ini selanjutnya tidak lagi menggambarkan benda yang dimaksud, tetapi telah digunakan untuk menggambarkan sifat benda atau konsep yang berhubungan dengan benda itu. Piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep ini disebut ideograf. Kemudian ideograf berubah menjadi lebih sederhana, sehingga tidak tampak lagi hubungan langsung antara gambar dengan hal yang dimaksud. Sistem demikian, yang menggambarkan suku kata disebut aksara silabis.

Lalu dalam perkembangannya, aksara silabis ini diambil alih oleh orang Yunani yang kemudian mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan menggambarkan setiap konsonan dan vocal dengan satu huruf. Selanjutnya, aksara Yunani ini diambil alih pula oleh orang Romawi. Pada abad-abad pertama Masehi aksara Romawi ini (yang lazim disebut aksara Latin) menyebar ke seluruh dunia. Tiba di Indonesia sekitar abad XVI bersamaan dengan penyebaran agama Kristen oleh orang Eropa.

Jadi, sudah dikemukakan di atas adanya beberapa jenis aksara, yaitu aksara piktografis, aksara ideografis, aksara silabis, dan aksara fonemis. Semua jenis aksara itu tidak ada yang bisa merekam bahasa lisan secara sempurna. Banyak unsur bahasa lisan yang tidak dapat digambarkan oleh aksara itu dengan tepat dan akurat. Alat pelengkap aksara yang ada untuk menggambarkan unsur- unsur bahasa lisan hanyalah huruf besar untuk memulai kalimat, koma untuk menandai jeda, titik untuk menandai akhir kalimat, tanda tanya untuk menyatakan interogasi, tanda seru untuk menyatakan interjeksi, dan tanda hubung untuk menyatakan penggabungan. Bahasa- bahasa di dunia ini dewasa ini lebih umum menggunakan aksara Latin daripada aksara lain. Aksara Latin adalah aksara yang tidak bersifat silabis. Jadi, setiap silabel akan dinyatakan dengan huruf vokal dan huruf konsonan. Huruf vokal untuk melambangkan fonem vokal dan huruf konsonan untuk melambangkan fonem konsonan dari bahasa yang bersangkutan. Hubungan antara fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna dalam suatu bahasa) dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil dalam aksara) ternyata juga bermacam- macam. Tidak sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, karena jumlah fonem yang ada dalam setiap bahasa tidak sama dengan jumlah huruf yang tersedia dalam alphabet Latin itu.

Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem. Jika demikian, ternyata ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen ideal, sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk melambangkan sebuah fonem. Namun, tampaknya ejaan bahasa Indonesia masih jauh lebih baik daripada ejaan bahasa Inggris.

BAB VI

6. TATARAN LINGUISTIK (3):

SINTAKSIS

6.1 Struktur Sintaksis

Struktur sintaksis terdiri dari fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat untuk membangun struktur tersebut.

Kategori sintaksis adalah sesuatu yang akan mengisi fungsi sintaksis sehingga menjadi bermakna. Yang termasuk kategori sintaksis yaitu : nomina, verba, ajektiva, dan numeralia.

Peran sintaksis yaitu peran kategori pada sintaksis, misalnya sebagai pelaku, sasaran, waktu, dan sebagainya.

Contoh :

Ibu menyapu halaman tadi pagi.

Fungsi subjek diisi oleh kata ibu yang berkategori nomina dan berperan sebagai pelaku.

Alat-alat yang digunakan dalam pembangunna struktuk sintaksis adalah urutan kata, bentuk kata,intonasi dan konektor.

Urutan kata merupakan letak atau posisi kata satu dengan yang lainnya dalam suatu konstruksi sintaksis. Bentuk kata di dalam Bahasa Indonesia juga mempengaruhi makna. Misal: melirik menjadi dilirik.

Intonasi menentukan perbedaan modus kalimat apakah itu kalimat deklaratif, interogatif atau yang lainnya.

Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas tertutup, yang bertugas menghubungkan satu konstituen dengan lainnya. Ada dua macam konektor yaitu :

a. Konektor koordinatif : menghubungkan dua konstituen setara. Kata hubung yang digunakan biasanya adalah dan, atau, tetapi.

b. Konektor subkoordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak setara atau bertingkat. Kata hubung yang digunakan adalah kalau, meskipun, karena.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Kata adalah satuan terkecil dan bebas dalam sintaksis. Terkecil karena tidak dapat dibagi lebih kecil lagi. Bebas karena dapat berdiri sendiri dalam kalimat atau sebagai penuturan.

Ada dua macam kata, yaitu :

a. kata penuh

Kata yang dapat mengalami proses morfologi (bisa diberi imbuhan), dan dapat berdiri sendiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata penuh yaitu kata yang berkategori nomina, verba, ajektiva, numeralia dan adverbia. Contoh : masak, memasak.

b. Kata tugas

Kata yang tidak mengalmi proses morfologi, dan tidak dapat berdiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata tugas yaitu kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Contoh : dan, meskipun.

6.3 Frase

6.3.1 Pengertian

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat. Contoh : kamar mandi, bukan sepeda.

Frase mungkin untuk diselipi kata lain. Contoh : adik saya menjadi adik milik saya.

Salah satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-sama. Contoh :

Nenek membaca koran di teras depan.

Depan nenk membaca koran di teras. (tidak berterima)

6.3.2 Jenis Frase

6.3.2.1 Frase eksosentrik

Yaitu frase yang komponennya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misal frase di pasar. Frase eksosentrik dibedakan menjadi :

frase eksosentrik direktif

Frase eksosentrik yang komponen pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina.

Frase ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi. Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.

frase eksosentrik non direktif

Frase eksosentrik yanga komponen pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain seperti yang, para, kaum, sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum cendekiawan.

6.3.2.2 Frase endosentrik

Yaitu frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca menjadi membaca.

Frase endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah atau membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti pekerjaan sedang berlangsung.

Selain disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan (inti) dan yang lainnya sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat dari kategori intinya ada frase nomina, verba, ajektifa, dan numeral.

6.3.2.3 Frase koordinatif

Yaitu frase yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baikmaupun). Contoh : sehat dan kuat, buruh atau majikan.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.

6.3.2.4 Frase apositif

Yaitu frase yang kedua komponmennya saling merujuk sesamanya sehingga urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :

Pak Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi

Guru saya, Pak Ahmad,sedang sakit.

6.3.3 Perluasan Frase

Biasanya dilakukan di sebelah kanan atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan frase sangat produktif karena :

1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus.

2) pengungakapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks.

3) keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.

6.4 Klausa

6.4.1 Pengertian

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya dalam konstruksi itu wajib ada komponen (kata atau frase) yang berfunsi sebagai predikat. Dalam klausa, subjek juga wajib ada. Objek wajib ada jika predikat berupa verba transitif. Jika bukan verba transitif, maka yang muncul adalah pelengkap. Keterangan tidak wajib dalam klausa.

Klausa jika diberi intonasi final akan berpotensi menjadi kalimat mayor,sedang kata akan menjadi kalimat minor.

6.4.2 Jenis klausa

1) berdasarkan strukturnya :

klausa bebas

yaitu klaua yang punya unsur-unsur lengkap sekurang-kurangnya subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

klausa terikat

struktur tidak l;engkap, mungkin hanya S saja, P saja, O saja, aau K saja dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa ini biasa dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya disebut klausa subordinatif (bawahan) yang hadir bersama klausa atasan.

2) berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya :

Dibedakan menjadi klausa verbal, numeral, nominal, ajektifal, advertbial, dan proposisional.

Klausa verbal dibedakan menjadi klausa transitif, intransitive, refleksif, dan resiprokal.

6.5 Kalimat

6.5.1 Pengertian

Kalimat adalah satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Atau satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar , klausa, dilengkapi konjungsi bila diperlukan. Kalimat bisa berasal dari klausa yang diberi intonasi final.

6.5.2 Jenis kalimat

6.5.2.1 Kalimat inti dan non inti

Kalimat inti (dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmasif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai transformasi : pemasifan, pengingkaran, penanyaan, dsb.

Kalimat inti + transformasi = kalimat non inti

6.5.2.2 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Perbedaan keduanya berdasarkan banyaknya klausa dalam kalimat. Jika terdiri dari satu klausa, disebut kalimat tunggal. Jika terdiri dari dua atau lebih klausa disebut kalimat majemuk.

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat, kalimat majemuk dibedakan menjadi :

kalimat majemuk koordinatif (setara)

Klausa-klausanya punya status yang sama. Biasanya dihubungkan dengan konjungsi dan, atau, tetapi dan lalu.

- kalimat majemuk subkoordinatif (bertingkat)

Klausa-klausanya punya status yang tidak sama. Klausa satu disebut klausa atasan, sedang lainnya disebut klausa bawahan. Konjungsi yang digunakan : kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yan terdiri dari tiga klausa atau lebih, ada yang dihubungkan secara koordinatif dan juga subkordinatif sehingga merupakan campuran dari koordinatif dan subkoordinatif dan disebut sebagai kalimat majemuk campuran.

6.5.2.3 Kalimat mayor dan minor

Perbedaannya berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar. Kalimat mayor harus punya subjek dan predikat.Jika tidak ada salah satunya, maka termasuk kalimat minor.

6.5.2.4 Kalimat verbal dan nonverbal

Kalimat verbal dibentuk dari klausa verbal, predikat berkategori verba. Kalimat verbal dibedakan menjadi kalimat intransitive, trnsitif, pasif, aktif, dinamis, dan statis.

Kalimat non verbal yaitu kalimat yang predikatnya bukan verba.

6.5.2.5 Kalimat bebas dan terikat

Pembedaan dikaitkan dengan paragraf yang kalimat-kalimatnya adalah satuan-satuan yang berhubungan.

Kalimat bebas dapat disendirikan, dapat memulai suatu paragraf dan berpotensi menjadi ujaran lengkap.

Sedang kalimat terikat tidak dapat disendirikan, harus terikat dengan kalimat lain, tidak dapat memulai suatu paragraf, dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran lengkap.

6.5.3 Intonasi kalimat

Intonasi merupkan ciri utama yang membedakan kalimat dari klausa.

Macam intonasi :

Tekanan: ciri-ciri suprasegmental yang menyertai ujaran

Tempo

: waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran

Nada

: diukur berdasarkan kenyarinagn ssuatu segmen.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1 Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Beberapa macam modus antara lain :

- modus indikatif / deklaratif: menunjukkan sikap objektif / netral.

- modus optatif

: menunjukkan harapan / keinginan

- modus imperative

: menunjukkan perintah / larangan

- modus anterogatif

: menyatakan pertanyaan

-modus obligatif

: menyatakan keharusan

- modus desideratif

: menyatakan keinginan / kemauan

- modus kondisional

: menyatakan persyaratan

6.5.4.2 Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi. Macam aspek antara lain :

- aspek kontinuatif

: menyatakan perbuatan terus berlangsung

- aspek repetitive

: menyatakan perbuatan berulang-ulang

-aspek insentif

: menyatakan perbuatan baru dimulai

- aspek progresif

: menyatakan perbuatan sedang berlangsung

- aspek imperfektif: menyatakan perbuatan hanya berlangsunga sebentar

- aspek sesatif

: menyatakan perbuatan sudah berakhir

6.5.4.3 Kala

Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan yang disebutkan dalam predikat. Kala menyatakan waktu sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan).

Perbedaan kala dengan keterangan waktu adalah kala terikat pada predikatnya, sedang keterangan dapat berpindah di awal atau akhir kalimat.

6.5.4.4 Modalitas

Modalitas adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan dan yang lainnya. Jenis-jenis modalitas :

intensional (keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan)

epistemik ( kemungkinan, kepastian, dan keharusan)

deontik (keizinan, keperkenaan)

dinamik (kemampuan)

6.5.4.5 Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehinggas perhatian pendengar / pembaca tertuju pada bagian itu. Dalam Bahasa Indonesia pemberian fokus dapat dilakukan dengan berbagai cara :

pemberian tekanan

mengedepankan bagian yang ditonjolkan

memakai pertikel pun,yang,tentang dan adalah pada bagian tersebut

mengontraskan dua bagian kalimat

menggunakan konstruksi posesifanaforis beranteseden

6.5.4.6 Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dengan perbuatan. Macam diatesis

aktif (subjek melakukan pekerjaan)

pasif (subjek dikenai pekerjaan)

refleksif ( subjek berbuat untuk dirinya sendiri)

resiprokal (subjek terdiri dari 2 pihak berbuat berbalasan)

kausatif (subjek penyebab terjadinya sesuatu)

6.6 Wacana

6.6.1 Pengertian

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap dan merupakan satuan gramatikal teringgi. Wacana dibentuk oleh kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya.

6.6.2 Alat wacana

Alat wacana digunakan untuk membuat wacana yang kohesif dan koheren. Ada 2 aspek, yaitu :

1) aspek gramatikal

konjungsi (penghubung)

kata ganti dia,-nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis

menggunakan elipsis (penghilangan bagian kalimat yang sama)

2) aspek semantic

hubungan pertentangan

generic-spesifik dan sebaliknya

hub. Perbandingan

hub sebab-akibat

hub tujuan

rujukan yang sama

6.6.3 Jenis wacana

1) Berdasarka sarana : wacana lisan dan tulis

2) Berdasarkan penggunaan bahasa : wacana prosa dan puisi

3) Berdasarkan isi : narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

6.6.4 Subsatuan wacana

Wacana yang berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan bab, subbab,. paragraph, subparagarf. Wacana singkat tidak ada subsatuannya.

6.7 Catatan mengenai Hierarki Satuan

Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana.

BAB VII

TATARAN LINGUISTIK (4) SEMANTIK

Sub sistem semantik disebut bersifat periferal karena makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tak dapat diamati secara empiris.

Hakikat Makna

Makna adalah pengertian atau konsep yang terdapat pada sebuah tanda-tanda linguistik. Para pakar mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna kata bila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Hubungan kata dan maknanya bersifat arbitrer.

Jenis Makna

a. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal: makna yang sebenarnya,makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita.

Makna gramatikal: baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi,dan kalimatisasi.

Makna kontekstual: makna sebuah kata yang berada dalam satu konteks.

b. Makna Referensial dan Non-Referensial

Bermakna referensial kalau ada referensi / acuannya. Kata-kata deiktik acuannya tidak menetap pada satu maujud.

c. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif: makna sebenarnya yang dimiliki sebuah kata.

Makna konotatif: makna lain yang ditambahkan pada makna denotative yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakan kata tersebut.

d. Makna Konseptual atau Makna Asosiatif

Makna konseptual: makna yang dimiliki sebuah kata terlepas dari konteks apapun.

Makna Asosiatif: makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu di luar bahasa.

e. Makna kata dan Makna Istilah

Istilah bermakna yang pasti,yang jelas,yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat.

f. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom: satuan ujaran yang yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya.

Idiom penuh: idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.

Peribahasa memiliki makna yang dapat ditelusuri dari makna unsure-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

Relasi Makna

Sinonim: hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu ujaran dengan satuan ujaran lainnya.

Antonim: hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan,pertentangan antara yang satu dengan yang lain.

Polisemi: jika sebuah kata itu mempunyai makna lebih dari satu.

Homonim: dua buah kata bentuknya sama,maknanya berbeda karena masing-masing merupakan kata berlainan.

Homofon: adanya kesamaan bunyi antara dua kata tanpa memperhatikan ejaan.

Homograf: bentuk ujaran sama ejaannya, tapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Hiponim: hubungan semantik antara sebuah kata yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.

Ambiguiti: gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.

Redundansi: berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

Perubahan Makna

Faktor penyebab adanya perubahan makna pada sebuah kata:

Perkembangan IPTEK

Perkembangan social budaya

Perkembangan pemakaian kata

Pertukaran alat indra / Sinestesia

Asosiasi

Perubahan meluas,contoh:saudara. Menyempit,contoh: sarjana

Medan Makna dan Komponen Makna

Medan makna /medan leksikal: seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan.

Komponen makna: dapat dianalisis satu per satu berdasarkan pengertian yang dimilikinya. Contoh: kata ayah memiliki komponen makna :

/+manusia/,/+dewasa/,/+jantan/,/+kawin/,dan /+punya anak/.

Kata ibu berkomponen makna:

/+manusia/, /+dewasa/, /+kawin/, dan /+punya anak/.

Analisis binner: analisis makna dengan mempertimbangkan ada (+) atau tidak adanya (-) komponen makna pada sebuah butir leksikal.

Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

contoh: * Kambing yang Pak Udin terlepas lagi (tidak berterima)

karena kesalahan gramatikal.

* Segelas kambing minum setumpuk air. ( tidak berterima)

karena kesalahan persesusian leksikal.

Analisis persesuaian semantik dan sintaktik harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci.

BAB VIII

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Tahap-Tahap Studi Linguistik

( Tahap pertama, tahap spekulasi

Pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng/cerita dan klasifikasi.

( Tahap kedua, tahap observasi dan klasifikasi

Diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori.

( Tahap ketiga, tahap perumusan teori

Membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.

Misalnya dalam merumuskan kata kerja, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase dengan . . . ..

8.1.1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Sejarah studi bahasa pada zaman Yunani sangat panjang, yaitu dari lebih kurang abad ke-5 S.M sampai lebih kurang abad ke 2 M.

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada linguis pada waktu itu adalah :

a. Pertentangan antara bahasa bersifat alami (fisis) dan bersifat konvensi (nomos)

Bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. kaum naturalis adalah kelompok yang menganut faham itu, berpendapat bahwa setiap kata mempunyai hubungan dengan benda yang ditunjuknya. Atau dengan kata lain, setiap kata mempunyai makna secara alami, secara fisis.

Sebaliknya kelompok lain yaitu kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi, artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

b. Pertentangan antara analogi dan anomali

Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Jika tidak teratur tentu yang dapat disusun hanya idiom-idiom saja dari bahasa itu. Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Kalau bahasa itu tidak teratur mengapa bentuk jamak bahasa Inggris child menjadi children, bukannya childs; mengapa bentuk past tense bahasa Inggris dari write menjadi wrote dan bukannya writed ?

8.1.1.1. KAUM SOPHIS

Kaum atau kelompok Sophis ini muncul pada abad ke-5 S.M. Mereka dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena :

a) Mereka melakukan kerja secara empiris;

b) mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunan ukuran-ukuran tertentu;

c) mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa;

d) mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

.

8.1.1.2. PLATO (429 347 S.M)

Plato yang hidup sebelum abad Masehi itu, dalam studi bahasa terkenal antara lain, karena :

a) Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialog. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira : bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata.

c) Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onoma dan rhema.

Onoma dapat berarti : (1) nama, dalam bahasa sehari-hari, (2) nomina, nominal, dalam istilah tata bahasa, dan (3) subjek, dalam hubungan subjek logis.

Rhema (bentuk tunggalnya rhemata), dapat berarti (1) ucapan, dalam bahasa sehari-hari, (2) verba, dalam istilah tata bahasa, dan (3) predikat, dalam hubungan predikat logis. Keduanya, onoma dan rhema, merupakan anggota dari logos, yaitu kalimat dan klausa.

8.1.1.3. ARISTOTELES (384 322 S.M)

Aristoteles adalah salah seorang murid Plato. Dalam studi bahasa dia terkenal antara lain, karena :

a) Dia menambahkan satu kelas kata lagi atas pembagian yang dibuat gurunya, Plato yaitu dengan syndesmoi. Jadi menurut Aristoteles ada tiga macam kelas kata, yaitu onoma, rhema, dan syndesma. Syndesmoi adalah kat