Click here to load reader

TATARAN FONOLOGI

  • View
    253

  • Download
    14

Embed Size (px)

Text of TATARAN FONOLOGI

TATARAN FONOLOGIFonologi ialah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 1994). Satuan bunyi dibedakan antara fonetik dan fonemik. Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Misalnya : bunyi [i] pada kata [intan], [angin], dan [batik] tidak sama. Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasinya. Ini dilakukan karena jumlah bunyi melebihi 26 aksara latin. Bunyi terdiri dari kelompok bunyi vokal dan konsonan. Di samping itu, ada bunyi diftong atau vokal rangkap, karena posisi lidah pada bagian awal dan akhir bunyi tidak sama. Misalnya bunyi [au] pada kata kerbau, [ai] pada kata cukai, dan lain-lain. Bunyi konsonan diklasifikasikan atas (1) posisi pita suara (bergetar atau tidak bergetar), (2) tempat artikulasi (labial, dental), dan (3) cara artikulasi (sengau, hambat). Fonetik terdiri dari :1) Fonetik auditoris (penerimaan bunyi oleh telinga)2) Fonetik artikulasi (penerbitan bunyi oleh alat ucap manusia)3) Fonetik akustik (ciri-ciri bunyi bahasa akibat peristiwa fisika)Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bahasa sebagai pembeda makna. Contoh: bunyi [p] dan [b] pada kata [paru] dan [baru] menyebabkan perbedaan makna. Karena itu [p] dan [b] disebut fonem. Bunyi yang tidak membedakan makna bukan fonem. Bunyi [t] dan [th] dalam bahasa Inggris bukanlah dua fonem yang berbeda, tetapi dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Variasi bunyi yang timbul dari realisasi fonem disebut alofon. Fonem [i] dalam bahasa Indonesia, misalnya, mempunyai empat buah alofon, yaitu bunyi [i] dalam kata cita, tarik, ingkar, dan kali. Klasifikasi Konsonan:1) Berdasarkan artikulator dan titik artikulasiBilabial : b, p, m, wPalatal : c, j, ny, yVelar : k, g, kh, ngDental : t, d, n2) Berdasarkan jalan keluar udaraBunyi oral : p, b, w, r, dan lain-lainBunyi nasal : m, n, ng, ny3) Berdasarkan halangan yang dijumpai saat udara keluarHambat atau stop : p, b, k, t, dFrikatif atau geser : f, vSpiran atau desis : s, z, syTrill atau getar : rLateral : l 4) Berdasarkan getaran pita suaraBersuara : b, c, d, f, g, h, dan lain-lainTidak bersuara : k, t, p, sPerubahan Fonem a. Asimilasi dan DisimilasiAsimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, [Sabtu] diucapkan [saptu] karena pengaruh bunyi [t]. Atau fonem yang tidak sama dijakdikan sama. Misalnya, [al salam] menjadi [assalam] Jika dalam asimilasi, dua bunyi yang berbeda menjadi sama, maka disimilasi perubahan itu menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda. Misalnya kata [citta] dalam bahasa Sanskerta berubah menjadi [cinta] dan [cipta]. Jadi ada perubahan bunyi [tt] menjadi [nt] dan [pt]. a. Metatesis dan EpentesisMetatesis adalah sebuah bunyi yang bertukar tempat dengan bunyi yang lain. Misalnya [brantas] dan [bantras], [jalur] dan [lajur], [almari] dan [lemari]. Epentetis terjadi jika sebuah fonem disisipkan dalam sebuah kata. Misalnya [kapak] menjadi [kampak]a. KontraksiKontraksi terjadi pemendekan ujaran dalam percakapan yang cepat. Misalnya, [tidak tahu] menjadi [ndak tahu], [shall not] menjadi [shant], dan lain-lain.a. DiftongisasiProses perubahan satu vokal menjadi diftong. Misalnya, [sentosa] menjadi [sentausa]a. MonoftongisasiProses perubahan diftong menjadi satu vokal. Misalnya, [satai] menjadi [sate], atau [pulau] menjadi [pulo].a. SandiSandi adalah dua vokal berturut lebur menjadi satu vokal. Misalnya [pesantrian] menjadi [pesantren].a. AdaptasiAdaptasi adalah penyesuaian bentuk. Misalnya, [chauffeur] menjadi [sopir], atau [goal] menjadi [gol].a. AnalogiAnalogi adalah pembentukan kata berdasarkan bentuk yang sudah ada. Misalnya [sastrawan] menjadi [sastrawati].a. HiperkorekMembetulkan yang tepat sehingga menjadi salah. Misalnya, [surga] menjadi [syurga], [pihak] menjadi [fihak].a. HaplologiHaplologi adalah penghilangan sebuah suku kata di tengah kata. Misalnya, [budhidaya] menjadi [budidaya], [mahardika] menjadi [merdeka].

TATARAN MORFOLOGIIstilah morfem diperkenalkan oleh kaum strukturalis karena tata bahasa tradisional tidak mengenalnya. Morfem memang bukan satuan sintaksis. Morfem adalah satuan terkecil yang mempunyai dan mempengaruhi arti. Keseluruhan ilmu yang mempelajari proses pembentuka kata disebut Morfologi. Di samping itu, dikenal juga istilah morfofonemik, yaitu peristiwa berubahnya wujud morfem karena pengaruh 1) afiksasi, 2) reduplikasi, dan 3) komposisi.Alomorf adalah variasi bentuk yang berlainan dari morfem yang sama. Misalnya variasi imbuhan me- pada kata melihat, membaca, mendengar, menyanyi, dan menggali. Dengan demikian me- mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Klasifikasi Morfem:a. Morfem bebasMorfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan. Misalnya meja (KB), pukul (KK), manis (KS), dan telah (KT). Morfem ini biasa juga disebut dengan morfem bermakna leksikal.a. Morfem terikatMorfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri, hanya mempunyai makna jika bergabung dengan bentuk lain. Morfem ini terdiri dari : imbuhan, pokok kata, bentuk unik, partikel, klitika, dan kata tugas yang tidak dapat berdiri sendiri. Morfem ini juga disebut dengan morfem tidak bermakna leksikal.Di samping itu, Verhaar menyebut kelompok morfem prakategorial atau bentuk pradasar. Secara semantik morfem ini mempunyai makna, tetapi secara gramatikal tidak dapat berdiri sendiri. Misalnya [juang], [henti], dan [gaul]. Dalam kelompok ini juga termasuk sejumlah morfem yang hanya dapat muncul pada pasangan yang tetap (morfem unik). Misalnya [renta] pada tua renta, [kerontang] pada kering kerontang, dan [kuyup] pada kata basah kuyup. Preposisi dan konjungsi juga tidak dapat berdiri sendiri, tetapi mempunyai makna. Morfem dasar, dapat berwujud morfem terikat, bisa juga morfem bebas. Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar dalam proses morfologi. Morfem dasar dapat diberi afiksasi, reduplikasi, atau bergabung dengan morfem lain.Bentuk dasar adalah bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologis, dapat berupa morfem tunggal atau morfem gabungan. Misalnya:KomposisiBentuk DasarMorfem Dasar

MemperbaikiPerbaikiBaik

Keanekaragamananeka ragamaneka dan ragam

KataKata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, atau deretan huruf yang diapit oleh dua spasi dan mempunyai satu arti (Tatabahasa Tradisional). Bloomfield (tatabahasa Struktural) menyatakan bahwa kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form). Linguistik Eropah mengemukakan syarat-syarat sebuah kata: 1) mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap serta tidak dapat diselipi fonem lain, 2) mempunyai kebebasan berpindah tempat. Syarat kedua ini menjadi perdebatan, misalnya kalimat Nenek membaca koran kemarin, ternyata dapat dipertukarkan susunannya. Tatabahasa Tradisional mengklasifikasikan kata atas kategori makna dan kategori fungsi. Kategori makna digunakan untuk mengklasifikasikan verba, nomina, dan ajektiva. Kategori fungsi digunakan untuk pengelompokan preposisi, konjungsi, advervia, dan pronomina. Verba (KK) adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan, dapat berdistribusi di belakang kata tidak.Nomina (KB) adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan, dapat mengisi konstruksi bukan .Ajektiva (KS) adalah kata yang menyatakan sifat, atau dapat mengisi konstruksi sangatBeberapa kata dalam bahasa yang berfleksi (Bhs. Arab, Latin, dan Sanskerta), hanya dapat digunakan dalam kalimat jika bentuknya disesuaikan dengan kategori gramatikal yang berlaku. Misalnya dengan afiksasi atau modifikasi lain terhadap bentuk dasar. Proses inflektif ini tidak mengakibatkan pembentukan kata baru. Berbeda dengan itu, derivatif membentuk kata baru. Misalnya, [nyanyi] dengan [penyanyi]. Antara kedua kata itu berbeda identitas leksikalnya. Kelas Kata1. Aliran TradisionalAliran ini membagi kata atas 10 kelas sesuai dengan konsep Aristoteles, yakni:a) kata benda (kata yang menerangkan nama suatu benda atau yang dibendakan). Misalnya, lemari, kemanusiaanb) kata sifat (kata yang menyatakan sifat atau keadaan suatu benda). Misalnya, keriting, manisc) kata kerja (kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan). Misalnya: tendang, berjalan-jaland) kata keterangan (kata yang menerangkan kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan lain-lain). Misalnya:(1) keterangan waktu : sesudah, sebelum, ketika(2) keterangan tempat : di sini, ke sana, dari sana(3) keterangan syarat : jika, kalau, seandainya(4) keterangan sebab : sebab, karena(5) keterangan akibat : sehingga, karena itu(6) keterangan tujuan : agar, supaya, untuk, guna, buat(7) keterangan perwatasan : kecuali, hanya, selaine) kata ganti (kata yang menggantikan kata benda) :(1) kata ganti orang : aku, kau, dia, kita, mereka(2) kata ganti penghubung : yang, bahwa(3) kata ganti penunjuk : itu, ini, tersebut(4) kata ganti penanya : apa, siapa, di mana(5) kata ganti tak tentu : berapa(6) kata ganti milik : -nyaf) kata bilangan (menyatakan jumlah, urutan atau tingkat suatu benda) : (1) bilangan utama : satu, sepuluh(2) bilangan tingkat : pertama, kelima(3) bilangan tak tentu : beberapa, tiap-tiap(4) bilangan kumpulan : berdua, kedua hal itu(5) bilangan bantu : sebuah, seekor, seutas, seorang, sepucukg) kata depan (kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat) : di, ke, dari, padah) kata sambung (kata yang menghubungkan suatu kata dengan kata lain, menghubungkan bagian-bagian dalam kalimat, atau menghubungkan antarkalimat):(1) menunjukkan gabungan : dan, serta, lagipula(2) menunjukkan pertentangan : tetapi, melainkan, sedangkan(3) menyatakan penjelas : yakni, yaitui) kata sandang (kata yang menentukan atau membatasi sesuatu) : si, sang, yang, paraj) kata seru (menyatakan luapan perasaan) : wah!, kasihan!, Ya ampun!2. Aliran Strukturala) kata benda (semua kata yang dapat diperluas dengan menambahkan yang + kata sifat). Contoh : adik yang cantik, bulan yang merahb) kata kerja (yang dapat diperluas dengan menambahkan kata dengan + kata sifat). Misalnya : lari dengan cepat, menatap dengan lembut,c) kata sifat (yang dapat diperluas dengan kata amat., paling., sangat. dan sekali). Contoh: amat indah, paling tinggi, sangat sedih, merah sekali.d) kata tugas (kata yang fungsinya untuk memperluas atau mengadakan transformasi kalimat, kata tersebut tidak dapat menduduki fungsi subyek, predikat, dan objek. Misalnya: di, yang, tetapi, dan lain-lain.AfikasasiAfiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Afiksasi berkaitan dengan : 1) dasar atau bentuk dasar, 2) jenis afiks, dan 3) makna gramatikal yang ditimbulkan. Dasar atau bentuk dasar dapat berupa akar atau berupa bentuk kompleks. Tata bahasa Indonesia mengenal adanya prefiks me- yang bersifat inflektif (misalnya me- yang menunjukkan bentuk aktif pada kata menendang) dan me- sebagai bentuk derivatif (misalnya me- pada kata mematung).Imbuhan (Afiks) terdiri dari :2) Prefiks (awalan) : ber-, se-, me-, di-, ke-, pe-, per-, ter-3) Infiks (sisipan) : -el-, -em-, -er-, in4) Sufiks (akhiran) : -i, -kan, -an, -nya5) Konfiks (imbuhan gabung) : pe-an, per-an, ke-an, se-an, se-nya, ber-an atau mem/per/kan, di/per/kan, di/i. Makna yang ditimbulkan oleh afiksasi adalah :PrefiksContoh Makna

Me-Menggulaimembuat jadi .

Menepimenuju ke

Merotanmencari .

Menyemirmembubuhi ..

Mengabdiberlaku seperti ..

Membekumenjadi ..

Melembagamenjadi seperti .

Menyapubekerja dengan alat

Mengeongmengeluarkan bunyi .

Merokokmenghisap ..

Menarimelakukan perbuatan

ber-BeratapMempunyai

Bersepedamengendarai/menggunakan

BersuaraMengeluarkan

BerkedaiMengusaha

Bergembiradalam keadaan

Bertantememanggil sebagai

Berlimaterdiri dari (kolektif)

Berjemurmelakukan perbuatan untuk diri sendiri (reflesif)

Bergulatberbalasan (resiprok)

Ter-Terbesarpaling (superlatif)

Terpijaktiba-tiba/tak sengaja/spontanitas

Terendamterus-menerus/kontinuitas

Tercetaksudah di (perfektif)

Tertulangsampai ke (mengenai)

Tertutupdalam keadaan .

Terdakwaorang yang di .

Pe-PenggarisAlat

Penelitiorang yang me

Pesuruhorang yang di .

Pemabukorang yang gemar/suka

Pemaluorang yang bersifat

per-Perduamembuat jadi (kausatif)

Perdewamenganggap sebagai

Petinjuorang yang berprofesi/ahli ber

Pejalanorang yang ber

Ke-Kekasihseseorang yang di

Kehendaksesuatu yang di

kedua + KBkumpulan bilangan

KB + kedua bilangan tingkat

di-Ditulismenyatakan pasif

se-SelembarSatu

Seduniaseluruh.

Sesampaisegera setelah/sesudah

Sedalamsama seperti

Sekamarberada dalam

secepat-cepatnyapaling (superlatif)

InfiksContohMakna

-el-telunjuk, pelatukalat me

GelembungBersifat

-er-SerabutBersifat

SerulingAlat

Gerigikumpulan/banyak

-em-GemilangBersifat

SufiksContohMakna

-i Lukaimembuat jadi.. (kausatif)

hormati memberi hormat

pukuli berulang-ulang (repetitif)

masuki masuk ke (lokatif)

kelilingi (berkeliling di) lokatif

Kuliti membersihkan

Sisiki mencabut

Bului membuang

-kanbesarkan membuat jadi (kausatif)

sarankan memberi

bukakan melakukan perbuatan untuk orang lain

kandangkan memasukkan ke

-an kuburan tempat

ayunan alat

daratan kumpulan

harian tiap-tiap

tulisan hasil

manisan sesuatu yang bersifat

makanan sesuatu yang di

tahun 90-an sekitar/kira-kira

KonfiksContohMakna

Pe-an pelatihan proses/perbuatan

pemukiman tempat

penyelesaian hasil

penghargaan perbuatan

per-anpermukiman tempat ber

pergerakan Hal/keadaan

persatuan hasil ber

perpustakaan kumpulan

Ke-an kelurahan tempat ber

kesehatan Hal yang

ketinggalan tiba-tiba/tak sengaja

kehabisan menderita hal

Kebesaranterlalu

kehujanan dikenai

ber-anbersalaman berbalasan (resiprok)

berdatangan berulang-ulang (intensitas frekuensi)

mem-per-kanmempertemukanmempersatukanmembuat jadi ber (kausatif)

mem-per-i MemperbaikiMempersenjataimembuat jadi (kausatif)

Mempelajaripenekanan kualitas (intensitas)

ReduplikasiReduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), atau dengan perubahan bunyi. Jenis-jenis reduplikasi adalah:a. Kata ulang penuh atau dwilingga (pengulangan penuh pada kata dasar atau kata jadian. Misalnya: meja-meja, perubahan-perubahanb. Kata ulang bervariasi bunyi atau dwilingga salin suara (perulangan atas seluruh suku kata, tetapi salah satu lingga-nya terjadi perubahan bunyi. Misalnya : bolak-balik, lauk pauk, serba-serbi, sayur-mayurc. Kata ulang berimbuhan (perulangan dengan salah satu lingganya mendapat tambahan imbuhan). Misalnya: surat-menyurat, bertanya-tanyad. Kata ulang semu (menurut STA, tampaknya hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk yang diulang), Misalnya: kupu-kupu, gado-gadoe. Kata ulang dwipurwa (ulangan pada awal suku kata). Misalnya: rerumputan, tetangga, kekasih, kehendak, lelaki, pepohonan.f. Trilingga (pengulangan morfem dasar sampai dua kali), misalnya: dag-dig-dug, cas-cis-cus, ngak-ngik-ngok.Bentuk reduplikasi ini dapat bersifat paradigmatis (infleksional), yakni yang tidak mengubah identitas leksikalnya, tetapi hanya memberi makna gramatikal. Misalnya: meja-meja, yang berarti banyak meja. Sebaliknya ada juga reduplikasi yang bersifat derivasional, yakni yang membentuk kata baru. Misalnya: laba-laba yang dalam tata bahasa tradisional dianggap berasal dari kata laba. Karena reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat derivasional, karena itu, bentuk-bentuk seperti kita-kitai atau mereka-mereka sebenarnya dapat diterima. Di samping itu, sebagian ahli mengemukakan adanya bentuk reduplikasi semantis yang terdiri dari dua kata yang bermakna sinonim membentuk kesatuan gramatikal. Misalnya, ilmu pengetahuan, alim ulama, hancur luluh (Chaer, 1994).

Makna Kata Ulang NoContohMakna

1mobil-mobilan, rumah-rumahanmenyerupai

2masak-memasak, cetak-mencetakmenyatakan hal

3pening-peningagak atau melemahkan

4putih-putihserba atau seragam

5bersalam-salamanberbalasan (resiprok)

6hujan-hujan, cantik-cantikmeskipun, walaupun

7kekanak-kanakan, keibu-ibuanbersifat seperti

8tidur-tiduran, berjalan-jalanrileks

9meja-mejamengeraskan arti (banyak)

10kuat-kuatintensitas kualitatif

11memukul-mukulintensitas frekuentif

12buah-buahan, tanam-tanamanbermacam-macam

KomposisiKomposisi adalah hasil atau proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar lain sehingga terbentuk suatu konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang baru. Misalnya, lalu lintas, daya juang, akhirulkalam, dan lain-lain. Konstruksi seperti ini sangat banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia, sehingga beberapa di antaranya menimbulkan perdebatan. Misalnya, kumis kucing (untuk menyatakan jenis tumbuhan dan bagian dari tubuh kucing) dan mata sapi (untuk menyatakan telur yang digoreng tanpa dihancurkan dengan bagian dari tubuh sapi), apakah kelompok kata majemuk (kompositum) atau tidak. Tatabahasa struktural menyatakan bahwa kata majemuk sekurang-kurangnya memenuhi syarat:1) menimbulkan makna baru yang bukan merupakan gabungan unsur-unsurnya2) di antara unsur pembentuknya tidak dapat diselipi unsur lain. Misalnya, di antara kamar mandi tidak dapat diselipi kata yang, atau unsurnya tidak dapat dibalik menjadi mandi kamar. 3) hubungan kedua unsurnya merupakan kesatuan yang terikat secara morfologis, tidak bersifat sintaksis (Verhaar, 1978). Misalnya matahari tidak sama artinya dengan matanya hari.Jenis-jenis kata majemuk1) kata majemuk koordinatif (sejajar), contoh : siang malam, semak belukar, sawah ladang.2) kata majemuk subordinatif (tidak sejajar), contoh: rumah sakit, mata pisau, kereta api.3) kata majemuk kiasan (frase idiomatik), yakni frase yang bermakna kiasan. Misalnya: meja hijau, pintu belakangMeskipun begitu, Kridalaksana membedakan antara kata majemuk dengan idiom. Jika kata majemuk merupakan konsep sintaksis, maka idiom adalah konsep semantis. Karena itu bentuk seperti orang tua (orang tua), meja hijau (pengadilan), dan mata sapi (telur) bukanlah kata majemuk, tetapi idiom.

TATARAN SINTAKSISSintaksis berasal dari bahasa Yunani: Sun (dengan) dan tattein (menempatkan). Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kalimat. Jika morfologi membicarakan struktur internal kata, maka sintaksis membicarakan hubungan kata dengan kata lain dan unsur-unsur lainnya dalam satu kesatuan ujaran. FraseFrase adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata yang bersifat nonpredikatif dan mengisi salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Frase dapat juga disebut sebagai kelompok kata yang bukan subjek dan predikat, tetapi dapat menjabat fungsi-fungsi kalimat. Pembentuk frase harus berupa morfem bebas. Jadi konstruksi seperti tataboga atau interlokal bukanlah frase, karena salah satu unsurnya merupakan morfem terikat. Dikatakan nonpredikatif karena hubungan antara unsur pembentuknya tidak berstruktur S-P atau P-O. Disamping itu, berbeda dengan kata majemuk, hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dalam frase cukup longgar, sehingga dapat diselipi kata lain. Misalnya konstruksi nenek saya dapat diselipi nenek dari saya, atau buku humor dapat diselipi buku tentang humor. Perlu juga diingat, karena frase mengisi salah satu fungsi sintaksis, maka salah satu unsur frase itu tidak dapat dipindahkan sendirian. Misalnya kata tidur dalam frase di kamar tidur tidak mungkin dipindahkan. Frase juga berpotensi menjadi kalimat minor, misalnya sebagai kalimat jawaban. Contoh:Nekek saya. (Jawaban pertanyaan: Siapa yang tidur di sana?)Di kamar tidur. (Jawaban pertanyaan : Nenekmu ada di mana?)Jika kata majemuk memiliki komposisi satu makna baru, maka frase tetap membawa makna bawaannya. Frase meja saya, misalnya mengandung makna saya punya meja.Jenis-jenis Frase 1. Frase eksosentrikFrase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Karena itu, tidak ada salah satu komponennya yang dapat menggantikan keseluruhan. Misalnya, frase di pasar. Komponen di maupun komponen pasar tidak dapat mengisi fungsi keterangan, misalnya pada kalimat Dia berdagang di atau Dia berdagang pasar. Frase eksosentrik terdiri dari dua jenis :a) frase eksosentrik yang bersifat direktif (komponen pertamanya berisi preposisi di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berkategori nomina). Misalnya: di pasar, ke Jakarta, dari kayu jati, demi keamanan, dengan gergaji besi, oleh bahaya api, dan lain-lain. Frase direktif disebut juga frase preposisional.b) eksosentrik yang bersifat nondirektif (komponen pertamanya berupa artikulus seperti si dan sang, atau yang, para, dan kaum, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina, ajektiva, atau verba). Misalnya: si miskin, sang mertua, yang berbaju ungu, para remaja mesjid, kaum cerdik pandai.2. Frase endosentrikFrase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Karena itu, salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Misalnya frase sedang membaca. Komponen keduanya dapat menggantikan frase itu dalam kalimat : Nenek membaca komik di kamar. Frase ini disebut juga frase modifikatif atau frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai atasan dan yang lain sebagai bahawan. Dalam kaitan dengan frase endosentrik ini, dari kategori intinya dapat dibedakan beberapa jenis frase, yaitu: a) Frase nominal, intinya berupa kata benda, misalnya : bus sekolah, kecap manis, karya besar, dan guru muda.b) Frase verbal, intinya berupa kata kerja, misalnya: sedang membaca, sudah mandi, makan lagi, tidak akan datangc) Frase ajektiva, intinya berupa kata sifat, misalnya: sangat cantik, indah sekali, merah jambu, kurang baik.d) Frase numeralia, intinya berupa kata bilangan, misalnya: tiga belas, seratus dua puluh lima, satu setengah juta.3. Frase koordinatifFrase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baikmaupun., makinmakin, dan lain-lain). Contoh: sehat dan kuat, buruh atau majikan, makin terang makin baik, baik tua maupun muda, dan lain-lain. Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut parataksis. Misalnya: hilir mudik, tua muda, pulang pergi, sawah ladang, dua tiga hari.4. Frase apositifFrase apositif adalah koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, karena itu urutannya dapat dipertukarkan. Misalnya: pak Ahmad, guru saya dapat ditukar menjadi guru saya, pak AhmadKlausa Klausa adalah satuan sintaksis yang bersifat konstruksi predikatif. Konstruksi klausa terdiri dari Subjek dan Predikat. Klausa belum menjadi kalimat karena konstruksinya belum diberikan intonasi final. Jika frase hanya berpotensi menjadi kalimat minor, maka klausa berpotensi menjadi kalimat mayor. Misalnya : Nenek mandiJika predikatnya berbentuk verba transitif, maka objek wajib hadir. Misalnya: Nenek membaca buku. Di samping itu, juga dikenal verba bitransitif, yang memerlukan dua objek sekaligus. Misalnya: Nenek membelikan kakek baju baru. Kakek adalah objek tak langsung, sedangkan baju baru disebut objek langsung.Dalam konstruksi ini, juga dikenal istilah pelengkap atau komplemen, yaitu bagian dari predikat verba (intransitif) yang melengkapi verba tersebut. Misalnya minyak dalam kalimat Botol itu berisi minyak, dan guru dalam kalimat Nenek dulu ingin menjadi guru. Pelengkap memang tampak mirip dengan objek. Bedanya : a) objek berada di belakang verba transitif, pelengkap tidak b) objek dapat dijadikan subjek, pelengkap tidakJenis Klausa a) klausa utama, disebut juga klausa bebas. Sekurang-kurangnya terdiri dari S dan P, karena itu berpotensi menjadi kalimat mayor dengan memberi intonasi final.b) klausa bawahan, atau klausa terikat. Strukturnya tidak lengkap, unsurnya hanya terdiri dari subjek saja, atau objek saja, atau hanya berupa keterangan saja. Karena itu, tidak berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa bawahan biasanya dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya. Misalnya : ketika kami sedang belajar atau kalau diizinkan oleh ibu, dan lain-lain. Karena itu, klausa ini disebut juga dengan klausa subordinatif. Berdasarkan kategori unsur segemental yang menjadi predikatnya, klausa dapat dibedakan atas:a) klausa verbal, predikatnya berkategori kata kerja. Misalnya, nenek mandi, sapi itu berlari, matahari terbit. Klausa ini dibedakan lagi atas klausa transitif (Nenek menulis surat), klausa intransitif (nenek menangis), klausa refleksi (yang predikatnya berupa verba refleksif, misalnya: nenek sedang berdandan, adik sedang mandi, dia sudah bersolek), serta klausa resiprokal (mereka bertengkar sejak kemarin, keduanya bersalaman).b) Klausa nominal, predikatnya berkategori kata benda. Misalnya, dosen lingistik, satpam bank swasta.c) Klausa ajektifal, predikatnya berkategori kata sifat. Misalnya: Bumi ini sangat luas, gedung itu tua sekali.d) Klausa preposisional, predikatnya berupa kata depan. Misalnya, nenek di kamar, dia dari Medan, kakek ke pasar baru.e) Klausa numeral, predikatnya berupa kata bilangan. Misalnya: gajinya lima jua sebulan, anaknya dua belas orangKalimatBeberapa pengertian kalimat:a) Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap (Tatabahasa Tradisional)b) Kalimat adalah ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhannya (Prof. Dr. A.A. Fokker).c) Kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap (Gorys Keraf).Jenis kalimat1) Berdasarkan jenis predikatnyaa) Kalimat verbal (kalimat yang predikatnya kata kerja). Contoh: Mereka sedang berbicara tentang SPMB.Dalam kelompok ini dibedakan lagi:(1) kalimat aktif, kalimat yang S-nya melakukan tindakan. Kalimat ini ditandai dengan prefiks me- dan memper- Contoh: Kami akan membahas soal UN hari ini. Kelompok ini dapat lagi dibedakan atas aktif transitif dan aktif intransitif.(2) kalimat pasif, kalimat yang S-nya dikenai tindakan. Kalimat ini ditendai dengan prefiks di- dan diper- Contoh: Soal UN akan kami bahas hari ini.Dalam kaitan ini dikenal lagi istilah aktif anti pasif dan pasif anti aktif, karena berkaitan dengan verba tertentu. Misalnya:Kakek kecopetan tadi pagi.Ia tidak menyerupai ibunya.Masih dalam kaitan dengan verba ini, dibedakan lagi:(3) Kalimat dinamis, yaitu verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Misalnya:Mahasiswa itu pulang.Dia pergi begitu saja.Kami bercakap-cakap di sana.(4) Kalimat Statis, yaitu verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau perbuatan. Contoh:Anaknya sakit keras.Dia tidur di kursi.Kambing itu sudah mati.b) Kalimat nonverbal (predikatnya bukan kata kerja). Contoh : Mereka bukan penduduk desa ini. (KB)Anto sangat rajin (KS)Penduduk Indonesia 210 juta jiwa (Kbil)Mereka ke pengadilan (Preposisi)2) Berdasarkan letak predikatnyaa) Kalimat normal (Predikatnya dibelakang subyek), misalnya: Nenek beristirahat.b) Kalimat invers (Predikat mendahului subjek), misalnya: Diusap-usapnya rambutnya.3) Berdasarkan jumlah dan kelengkapan unsurnyaa) Kalimat elips, yaitu kalimat kehilangan salah satu atau kedua unsur pusat (inti S dan inti P). Misalnya:Ke Jakarta.Pergi ke Belanda b) Kalimat mayor, kalimat yang klausanya lengkap, sekurang-kurangnya mengandung S dan P. Misalnya: Nenek berlari pagi.c) Kalimat minor (hanya terdiri satu unsur). Meskipun unsurnya tidak lengkap, tetapi konteksnya diketahui oleh pendengar, misalnya: Pergi!Ayah.Kalimat inti, yaitu kalimat yang hanya terdiri atas dua inti yang merupakan unsur pusat (inti S dan inti P). Ciri-ciri kalimat inti adalah: 1) terdiri atas dua kata, 2) berintonasi normal, dan 3) bersusunan S P.Struktur kalimat inti terdiri dari :(1) kata benda kata benda : Ayah dokter.(2) kata benda kata kerja : Adik menangis(3) kata benda kata sifat : Rambutnya keriting(4) kata benda kata bilangan : Sepatunya lima pasangd) Kalimat Non-Inti (Transformasi), yaitu kalimat inti yang telah mengalami perubahan intonasi, urutan kata, penambahan unsur, pemasifan, pengingkaran, pelesapan, dan penambahan. Contoh:Adik menangis?Menangis adik.Adik menangis di kamar.Adik tidak menangis.Karena terlambat makan, adik menangis. Atau dengan kata lain: Kalimat Inti + Proses Transfotmasi = Kalimat Non-Inti.e) Kalimat tunggal, yaitu kalimat terdiri dari satu pola (SPOK) Contoh: Bu polisi mengatur lalu lintas di persimpangan.f) Kalimat majemuk, yaitu kalimat yang terdiri dari dua pola atau lebih. Kalimat majemuk terdiri dari :(1) kalimat majemuk setara (koordinatif):(a) setara menggabungkan (menggunakan kata konjungsi dan), misalnya: Pak Dokter memberikan pelayanan imunisasi dan Bu Dokter memeriksa ibu hamil.(b) setara memilih (menggunakan konjungsi atau), misalnya: Laki-laki atau perempuan sama kedudukannya dalam negara.(c) setara mempertentangkan (menggunakan konjungsi tetapi, sedangkan, melainkan, dan sebagainya). Contoh: Saya ingin pergi, tetapi Ibu melarang.(d) setara penegasan (menggunakan konjungsi lagipula). Misalnya: Hari sangat gelap lagipula hujan masih turun.(e) setara sebab-akibat (menggunakan konjungsi karena, sebab). Contoh: Jalan sangat licin, karena itu ia terjatuh.(2) kalimat majemuk bertingkat (subordinatif), yaitu kalimat yang hubungan antarpolanya bertingkat. Kalimat majemuk ini ditandai dengan adanya perluasan terhadap salah satu polanya (S, P, O, atau Pelengkap)(3) kalimat majemuk campuran (Kompleks), yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dengan bertingkat. Contoh: Risa sedang menulis surat dan Reza mewarnai gambar ketika Ayah menelepon Paman sore itu.Di samping itu, dibedakan lagi kalimat majemuk yang bersifat :(a) eksplisit, jelas dan ada kata penghubung. Misalnya: Ketika hujan deras saya berangkat ke sekolah.(b) Implisit, tidak jelas dan tidak ada kata penghubung, contoh: Hujan deras, saya berangkat ke sekolah.4) Berdasarkan maksud sumber pesan (a) Kalimat Berita, kalimat yang bernada memberitahukan, contoh: Tempat itu sangat strategis untuk mengembangkan usaha.(b) Kalimat Perintah, kalimat yang bernada menyuruh melakukan sesuatu, contoh: Jangan masuk!(c) Kalimat Tanya, kalimat yang membutuhkan jawaban, atau bisa juga kalimat tanya retoris, contoh: Mengapa diam saja?5) Kalimat KorelatifKalimat korelatif adalah kalimat yang dibentuk dari korelasi klausa-klausa berpasangan. Bila salah satu pasangannya tidak hadir, maka kalimat itu tidak lengkap. Karena berbentuk korelatif, maka kalimat ini juga masuk kelompok kalimat majemuk. Misalnya: Tidak hanya ayah yang sedih atas perangaimu, tetapi juga seisi rumah.Tidak hanya singgah di tempat itu, bahkan ia juga menginap beberapa hari.Bukan Riza yang mengambilnya, melainkan Didi.Makin lama dipandang, makin menarik wajahnya.Jangankn seribu, seratus perak pun aku tak punya.Baik sedih maupun duka, kita harus senantiasa bersuyukur.6) Kalimat Efektif Kalimat Efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan pembicara/penulis kepada pendengar/pembaca sesuai dengan maksudnya. Syarat-syarat kalimat efektif:(a) susunan kata sesuai dengan struktur bahasa Indonesia baku.(b) pikiran yang terkandung lengkap dan utuh(c) setiap kata berdaya guna dalam kalimat(d) pilihan kata tepat sesuai dengan makna yang diinginkan

ModusModus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran pembicara atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Jenis-jenis modus:1) Modus indikatif atau deklaratif, yang menunjukkan sikap objektif dan netral2) Modus optatif, yang menyatakan harapan3) Modus imperatif, yang menyatakan perintah atau larangan4) Modus interogatif, yang menyatakan pertanyaan5) Modus obligatif, yang menyatakan keharusan6) Modus desideratif, yang menyatakan keinginan dan kemauan7) Modus kondisional, yang menyatakan persyaratanAspekAspek adalah cara memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Beberapa jenis-jenisnya adalah:1) Aspek inseptif (baru mulai) : Ia pun berjalanlah2) Aspek repetitif (terjadi berulang-ulang) : Ia memukuli pencuri itu.3) Aspek progresif (sedang berlangsung) : Ia sedang mencuci baju.4) Aspek perfektif (sudah selesai) : Saya telah menulis surat5) Aspek imperfektif (berlangsung sebentar) : Saya memukul adiknya.Berbeda dengan aspek, kala (tensis) adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan dalam predikat. Kala dinyatakan dengan sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan). Kala dalam bahasa Indonesia tidak berbentuk morfemis, tetapi secara leksikal.ModalitasModalitas adalah katerangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal-hal yang dibicarakan atau sikap terhadap lawan bicaranya (perbuatan, keadaan, peristiwa, kemungkinan, keinginan, atau keizinan). Modalitas dinyatakan secara leksikal. Misalnya : mungkin, barangkali, sebaiknya, seharusnya, tentu, pasti, boleh, mau, ingin, dan seyogyanya. Modalitas dapat dikelompokkan atas:1) modalitas intensional (keinginan, harapan, permintaan, ajakan). Misalnya: Nenek ingin menunaikan ibadah haji.2) modalitas epistemik (kemungkinan, kepastian, keharusan). Misalnya: Kalau tidak hujan kakek pasti datang.3) modalitas deontik (keizinan atau perkenanan). Misalnnya: Anda boleh tinggal di sini selamanya.4) modalitas dinamik (kemampuan). Misalnya: Kita bisa menjadi pemenang kalau mau kerja keras.FokusFokus adalah unsur yang menonjolkan bagian tertentu kalimat sehingga perhatian pembaca/pendengar terpusat pada bagian itu. Fokus dilakukan dengan :1) Memberi tekanan pada kalimat yang difokuskan. Misalnya: Ia yang menelepon saya malam itu. Jika tekanan diberikan pada kata ia, berarti yang melakukan ialah ia, bukan orang lain.2) Mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan. Misalnya : Hal itu telah disampaikan kepada DPR oleh pemerintah. Jika pelakunya ingin difokuskan, maka kalimat itu diubah susunannnya menjadi: Pemerintah telah menyampaikan hal itu kepada DPR. 3) Menggunakan partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan. Misalnya:(a) Membaca pun aku belum bisa.(b) Yang tidak berkepentingan dilarang masuk(c) Tentang anak-anak itu, biarlah kami urus nanti.(d) Adalah tidak pantas untuk saling menyalahkan.4) Mengontraskan dua bagian kalimat. Misalnya:(a) Bukan dia yang datang, melainkan istrinya.(b) Ini pensil HB, bukan 2B.5) Menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden. Misalnya:(a) Bu Dosen yang cantik itu pacarnya seorang wartawan(b) Sepeda ayah saya bannya kempes.DiatesisDiatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan. Jenis-jenisnya:1) diatesis aktif (subyek yang berbuat) : Mereka merampas harga diri kami.2) diatesis pasif (subyek menjadi sasaran perbuatan): Muka kami ditamparnya.3) diatesis refleksif (subyek melakukan sesuatu untuk dirinya): Ibu sedang berhias.4) diatesis resiprokal (subyek terdiri dari dua pihak berbuat tindakan yang berbalasan): Mereka akan mengadakan perjanjian damai.5) diatesis kausatif (subyek menjadi penyebab terjadinya sesuatu): Paman mencukur kumisnya.

TATARAN SEMANTIKSemantik adalah bagian tatabahasa yang mempelajari makna kata. Makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem. Sebagian mengatakan bahwa makna sebuah kata baru jelas setelah kata berada dalam konteks kalimat.Jenis Makna1) LeksikalMakna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada kata leksem meski tanpa konteks apapun. Leksem kuda berarti sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, pensil adalah sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang, dan lain-lain. Makna leksikal disebut juga makna yang sebenarnya atau makna apa adanya, atau boleh juga disebut makna kamus atau makna bawaan.2) GramatikalMakna Gramatikal adalah makna yang terjadi setelah sebuah leksem mengalami proses gramatikal. Proses itu dapat berupa afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Ber- + baju, misalnya berarti mengenakan baju, ber + kuda berarti mengendarai kuda, dan lain-lain.3) KonteksMakna konteks adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks tertentu. Misalnya makna jatuh dalam kalimat berikut:(a) Adik jatuh dari sepeda.(b) Dia jatuh dalam ujian yang lalu.(c) Dia jatuh cinta pada adikku.(d) Kalau harganya jatuh lagi kita akan bangkrut.Makna konteks dapat juga berkaitan dengan situasi tertentu. Misalnya, kalimat:Tiga kali empat berapa?Sebagian besar menjawab dua belas. Tapi jika dilontarkan kepada tukang foto, mungkin akan dijawab dengan lima ratus.4) Makna Referensial dan Non-referensial.Sebuah kata dapat dirujuk kepada referen tertentu. Misalnya kata kuda adalah kata yang bersifat referensial, karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata seperti dan, atau, karena bersifat non-referensial, karena tidak ada acuannya dalam dunia nyata.5) Denotasi dan KonotasiMakna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki eksem. Dengan begitu, makna ini sama dengan makna leksikal.Makna konotasi adalah makna kedua atau makna tambahan yang berhubungan dengan nilai rasa orang yang berkaitan dengan penggunaan kata itu. Kata seperti kurus, ramping, dan kerempeng, melahirkan perbedaan tingkat rasa negatif yang berlainan. Demikian juga kata rombongan dan gerombolan, berbeda rasa konotasinya.6) Makna Konseptual dan Makna AsosiatifMakna konseptual adalah makna yang melekat pada sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Jadi, makna ini sama dengan makna leksikal, makna denotasi, dan makna referensial.Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Melati, misalnya diasosiasikan dengan sesuatu yang dianggap suci, buaya berasosiasi dengan jahat, merah berasosiasi dengan berani, dan lain-lain. Makna asosiatif juga berkenaan dengan makna stilistika. Misalnya, rumah, pondok, vila, kondomium, istana, memberikan rasa yang berbeda berdasarkan bentuknya. Makna asosiatif juga berkenaan dengan makna afektif. Kalimat : Tutup mulutmu dan Mohon diam sebentar, sudah tentu memberi nilai rasa yang berbeda.Di samping itu, makna ini juga berkaitan dengan makna lokatif, sesuatu yang dipadankan dengan pasangan tertentu. Kata tampan, misalnya, hanya diperuntukkan bagi pria. 7) Makna Kata atau Makna IstilahSebuah kata baru jelas maknanya ketika dipasangkan dalam kalimat. Kata tangan dan lengan dianggap sama maknanya. Misalnya:Tanggannya luka kena pecahan kaca. Atau : Lengannya luka kena pecahan kaca.Tetapi dalam dunia kedokteran misalnya, lengan dan tangan mengacu pada bagian tubuh yang berbeda. Karena itu, sebuah istilah tetap maknanya sekalipun tidak dipasangkan dalam kalimat.Relasi Makna1) SinonimSinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama.a) Sinonim persis atau lengkap adalah sinonim yang dapat saling menggantikan. Misalnya:betul = benarkonsisten = taat asas = ajekefektif = mangkusefisien = sangkilrealisasi = pelaksanaan = perwujudan = manifestasi = pengejawantahanDika menendang bola = Bola ditendang Dika.b) Sinonim mirip (tidak dapat saling menggantikan)agung = akbarbesar = makro = kolosal = rayaMeskipun dua buah ujaran bersinonim, tetapi maknanya tidak akan persis sama. Hal ini disebabkan:(a) faktor waktuhulubalang (bersifat klasik) komandan (kontemporer)kempa (klasik) stempel (kontemporer)(b) faktor tempatsaya (luas) beta (wilayah timur)(c) faktor keformalanuang (formal) duit (tak formal)(d) faktor sosialsaya (umum) aku (akrab)(e) faktor bidang kegiatanmatahari (umum) surya (sastra)(f) faktor nuansa maknamembedakan : melihat, melirik, meninjau, mengintip, menonton.2) AntonimAntonim artinya kata yang berlawanan makna. Jenis-jenisnya:a) antonim yang bersifat mutlakhidup matidiam bergerakb) antonim yang bersifat relatif atau bergradasibesar keciljauh dekatgelap terangc) antonim yang bersifat relasionalmembeli menjualsuami istrid) antonim yang bersifat hirarkialtamtama bintaragram kilogram3) HomonimHomonim adalah kata yang sama lafal dan bentuknya, tetapi maknanya berbeda. Misalnya :buku (ruas) buku (kitab)bisa (racun) bisa (dapat)mengurus (menjadi kurus) mengurus (mengatur)a) HomografHomograf adalah kata yang sama bentuk dan ejaannya, tetapi lafal dan maknanya berbeda. Misalnya:teras teras (inti) seret seret (tersendat) memerah memerah (susu)b) HomofonHomofon adalah kata yang sama bunyi dan lafalnya, ejaan dan makna berbeda. Misalnya :tank tang bank bank sanksi sangsi 4) HiponimHiponim adalah kata yang maknanya terangkum dalam makna yang lebih luas. a) Superordinat (makna atas atau luas). Misalnya : bungab) Kohiponimi (makna yang lebih sempit). Misalnya: ros, mawarRelasi Hiponim hanya searah. Jadi mawar berhiponim dengan bunga, tetapi bunga bukan berhiponim dengan mawar, tetapi berhipernim.5) PolisemiPolisemi adalah kata yang memiliki banyak makna, tetapi termasuk satu alur pusat. Misalnya: mata berkaitan dengan (sapi, hari, angin, keranjang, kaki, duitan).Perubahan MaknaPenyebab perubahan makna:1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi2) Perkembangan sosial budaya3) Perkembangan pemakaian kata4) Pertukaran tanggapan indraJenis Perubahan Makna1) AmelioratifMakna sekarang dirasakan lebih baik atau lebih tinggi dari makna sebelumnya.perempuan wanitabini istri, nyonya2) PeyoratifMakna sekarang dirasakan kurang baik dibanding makna sebelumnya.gerombolan kelompokkaki tangan pembantu3) MeluasCakupan makna sekarang lebih luas dari makna yang dulu.berlayar, saudara, bapak, ibu, anak, putra, putri4) MenyempitCakupan makna sekarang lebih sempit dibanding makna sebelumnya.madrasah, sarjana, pendeta, bau5) AsosiasiMakna yang timbul karena persamaan sifat.mengocok, menumbangkan, pelicin, amplop6) SinestesiaMakna yang timbul karena pertukaran dua tanggapan indra yang berbeda.Kata-katanya kasar, ucapannya manis7) ApelativaPenyebutan sesuatu berdasarkan:(1) Onomatope (tiruan bunyi) : cecak, tokek(2) Perbuatan : kuli tinta (wartawan)(3) Penemu : ikan mujair, lampu Philips(4) Tempat : dodol Garut(5) Bahan : kain sutera, karong goni(6) Sifat menonjol : si cebolGaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimata) Klimaks (gradasi)Diurutkan secara periodik, urutan pikirannya semakin meningkat.Contoh: Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran membuahkan pengalaman, dan pengalaman membuahkan harapan.b) AntiklimaksKalimat yang berstruktur mengendur, diurutkan dari yang penting menuju yang kurang penting.Pembangunan telah dilancarkan serentak di Ibu Kota, kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa di seluruh Indonesia.c) ParalelismeBerusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.d) AntitesisMengandung gagasan yang bertentangan dengan menggunakan kata atau kelompok kata yang berlawanan.Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya.e) RepetisiPerulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam konteks sosial yang sesuai.(1) Epizeuksis (repetisi yang bersifat langsung) : Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita.(2) Tautotes (repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi): Kau menuding aku, aku menuding kau, kau dan aku menjadi seteru.(3) Anafora (perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat berikutnya): Bahasa baku berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan masyarakat bahasa yang berbeda dialeknya. Bahasa baku akan mengutangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis.(4) Epipora (perulangan kata pada akhir baris atau kalimat) : Bumi yang kaudiami adalah puisi. Laut yang kaulayari adalah puisi. Udara yang kauhirupi adalah puisi.(5) Simploke (repetisi pada awal dan akhir baris secara berturut): Kamu bilang hidup ini brengsek, aku bilang biarinKamu bilang hidup ini nggak punya arti, aku bilang biarinKamu bilang aku nggak punya kepribadian, aku bilang biarin(6) Mesodiplosis (repetisi di tengah baris atau beberapa kalimat berurutan) : Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbonBabu-babu jangan mencuri tulang ayam gorengPara pembesar jangan mencuri bensinPara gadis jangan mencuri perawannya sendiri(7) Epanalepsis (pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama):Kita gunakan pikiran dan perasaan kitaKami cintai perdamaian karena Tuhan KamiBerceritalah padaku, ya malam, berceritalahKuberikan setulusnya, apa yang harus kuberikan.(8) AnadiplosisKata atau frase terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.Dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiaraDalam mutiara: ah tak ada apaDalam baju ada aku, dalam aku ada hatiDalam hati: ah tak apa jua yang adaDalam syair ada kata, dalam kata ada maknaDalam makna: mudah-mudahan ada Kau!Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna1) Gaya Bahasa Retorisa) Aliterasi Perulangan konsonan yang sama : Takut titik lalu tumpahKeras-keras kerak kena air lembut jugab) AsonansiPerulangan bunyi vokal yang sama :Ini muka penuh luka siapa punyaKura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahuc) Anastrof atau inversiPembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat:Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.d) Apofasis atau PresterisioMenegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa Anda pasti membiarkan Anda menipu diri sendiri.Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah.e) ApostrofPengalihan amanat dari hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.Hai kamu dewa-dewa yang ada di syurga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.f) AsindetonAcuan yang bersifat padat di mana kata, frase, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung.Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.g) PolisendetonKebalikan dari Asindeton, frase, kata, atau klausa yang berurutan dihubungkan dengan kata sambung:Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan angin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?h) KiasmusTerdiri dari dua bagian, baik frase atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunannya terbalik bila dibandingkan dengan frase atau klausa lainnya.Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.i) ElipsisMenghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi dan ditafsirkan oleh pembaca, sehingga struktur kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat, tetapi psikis .j) EufemismeUngkapan yang lebih halus rasanya.Anak Saudara memang tidak secepat anak-anak lain mengikuti pelajaran (bodoh).k) LitotesMenyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.Apa yang kami hadiahkan ini sebenarnya tidak berarti bagimu.l) Histeron ProteronKebalikan dari suatu yang wajar. Disebut juga dengan hiperbaton.Kereta melaju cepat didepan kuda yang menariknya.Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk berteduh.Bila sudah berhasil mendaki karang terjal, sampailah ia di tepi pantai yang luas dan pasirnya putih.m) Pleonasme dan TautologiMempergunakan kata yang lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Bila kata yang berlebihan dihilangkan artinya tetap utuh, disebut dengan Pleonasme. Contoh:Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri.Darah yang merah itu melumuri seluruh tubuhnya.Disebut Tautologi, jika kata yang berlebihan itu mengulang kembali gagasan yang sudah disebut sebelumnya. Contoh:Ia tiba jam 20.00 waktu setempat.Globe itu bundar bentuknya.n) PerifrasisMirip dengan Pleonasme. Bedanya, kata yang berlebihan tersebut dapat diganti dengan satu kata saja. Ia telah beristirahat dengan damai (= mati)Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak (= ditolak)o) Prolepsis atau AntisipasiMepergunakan lebih dulu sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya.Almarhum pada waktu itu mengatakan bahwa ia tidak mengenal orang itu.p) Erotesis atau Pertanyaan RetorisTidak menghendaki jawaban, hanya sekedar memperoleh efek yang mendalam.Herankah Saudara kalau harga-harga menjadi tinggi?q) Silepsis dan ZeugmaMenggunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata yang pertama.Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.Fungsi dan sikap bahasa.Dalam Zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya.Dengan membelalakkan mata dan telinganya, ia mengusir orang itu.Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat.r) Koreksio atau EpanortosisMula-mula menegaskan sesuatu, tapi kemudian memperbaikinya.Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.s) HiperbolMengandung pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan suatu hal.Kemarahanku menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak.t) ParadoksMengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.Musuh sering merupakan kawan yang baik.Ia mati kelaparan di tengah kekayaan yang berlimpah.u) OksimoronMenggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan, atau mengandung pertentangan dengan menggunakan kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Sifatnya lebih tajam dari Paradoks.Keramahtamahan yang bengis.Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar.2) Gaya Bahasa Kiasana) Persamaan atau SimilePerbandingan yang bersifat eksplisit, langsung menyatakan sesuatu dengan hal lain, dengan menggunakan kata pembanding : seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, serupa, dan sebagainya.Kikirnya seperti kepiting batuMatanya seperti bintang timurb) MetaforaAnalagi yang membandingkan dua hal secara langsung dalam bentuk yang singkat, tanpa menggunakan kata pembanding.Perahu itu menggergaji ombakMobilnya batuk-batukPemuda adalah bunga bangsac) Alegori, Parabel, dan FabelAlegori adalah cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ditarik dari bawah permukaan cerita.Parabel (parabola) adalah kisah singkat dengan tokoh (biasanya) manusia yang selalu mengandung tema moral yang ada kaitannya dengan kitab suci.Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang dan makhluk tidak bernyawa yang bertindak seolah-olah seperti manusia. Tujuannya untuk menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti.d) Personifikasi dan ProsopopeiaMenggambarkan benda mati seolah-olah memiliki sifat manusia.Angin yang meraung di tengah malam itu menambah ketakutan kami.Kulihat ada bulan di kotamu, lalu turun di bawah pohon jambu di depan rumahmu, barangkali ia menyeka mimpimu.e) AlusiMensugesti kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Biasanya merupakan referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa, tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau karya sastra yang terkenal.Bandung adalah Paris Jawa.Kartini kecil itu turut memperjuangkan haknya.Alusi sekurang-kurangnya memiliki syarat:(1) dikenal oleh pembaca(2) membuat gagasan menjadi lebih jelasf) EponimPenggunaan nama untuk menunjukkan suatu sifat tertentu.Hercules kekuatanHelen dari Troya kecantikang) EpitetAcuan yang menunjukkan suatu sifat.Lonceng pagi ayam jantanPutri malam bulanRaja rimba singah) Sinekdoke(1) pars pro toto, menyebut sebagian untuk maksud keseluruhan.Satu kepala dikenakan sumbangan Rp. 1.000,-(2) Totem pro parte, menyebut keseluruhan untuk maksud sebagian.Indonesia mengalahkan Malaysia di Final Piala Asia 4 3.i) MetonimiaMenggunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena pertalian yang dekat, baik berupa hasil penemuan, pemilik barang, pertalian sebab-akibat, dan lain-lain.Ia membeli sebuah Chevrolet.Ialah yang menyebabkan air mata yang gugur.j) AntonomasiaPengunaan gelar resmi atau jabatan untuk menggantikan nama diri.Yang Mulia tidak dapat menghadiri pertemuan ini.Seminar itu dibuka oleh putra mahkota.k) HipalaseKebalikan dari suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan.Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya).Ia masih menuntut almarhumah maskawin dari Sinta putrinya (ia masih menuntut maskawin dari almarhumah..)l) Ironi, Sinisme, dan SarkasmeIroni adalah acuan untuk mengatakan sesuatu dengan maksud yang berlainan.Saya tahu Anda adalah gadis yang paling cantik di dunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat.Sinisme adalah ironi yang lebih kasar sifatnya.Memang Anda adalah gadis yang tercantik se antero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagad ini.Sarkasme lebih kasar lagi dari Ironi dan Sinisme, semacam acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir.Kelakuanmu memuakkanku.Lihat si cantik itu (maksudnya: si jelek).m) SatireUngkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik mengenai kelemahan manusia.n) InuendoSindiran dengan mengecilkan keadaan yang sebenarnya, tampak tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu.Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan minum.Ia menjadi kaya raya karena sedikit melakukan komersialisasi jabatannya.o) AntifrasisPenggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri.Lihatlah, sang raksasa telah tiba (maksudnya si Cebol)p) Pun atau ParonomasiaKiasan yang menggunakan kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Tanggal dua gigi saya tanggal dua.Engkau orang kaya, ya kaya monyet

MENULISA. KebahasaanBahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Simbol bunyi yang digunakan bersifat arbitrer. Bahasa mencakup dua komponen: bentuk dan makna. Aspek bentuk terdiri atas unsur segmental dan unsur suprasegmental. Makna sebuah kata tergantung kepada konvensi masyarakat bahasa yang bersangkutan.Fungsi Bahasa :(1) untuk menyatakan ekspresi diri(2) alat komunikasi(3) alat untuk mengadakan interaksi dan adaptasi sosial(4) alat untuk melakukan kontrol sosialBahasa sebagai medium komunikasi hanya akan efektif, jika penutur mempunyai kecakapan bahasa. Kecakapan itu adalah:(1) penguasaan terhadap perbendaharaan kata(2) penguasaan kaidah-kaidah sintaksis(3) kemampuan memilih gaya pengungkapan(4) penguasaan terhadap tingkat penalaran (logika)B. Kalimat EfektifSyarat-syarat kalimat efektif:(1) dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulis(2) mampu menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengarCiri-ciri kalimat efektif :(1) Hanya memiliki kesatuan gagasanYang dimaksud dengan kesatuan gagasan adalah kalimat yang hanya mengandung satu ide pokok. Bila dua buah kalimat yang tidak mempunyai hubungan kesatuan gagasan dipadukan, maka akan rusaklah kesatuan pikiran kalimat itu. Secara praktis sebuah kesatuan gagasan diwakili oleh subyek, predikat + objek. Kesatuan yang diwakili oleh S, P atau O itu dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan. Contoh:i) Kita menyadari bahwa KBK hanya akan berhasil jika didukung tenaga edukatif yang profesional, sistem administrasi kurikulum yang memadai, dan kelengkapan sarana pembelajaran yang cukup. (Kesatuan Tunggal)ii) Dia telah memesan Formulir SPMB pagi tadi, dan mulai mempersiapkan segala kelengkapan berkasnya. (Kesatuan Gabungan)iii) Kamu boleh menyiapkan sendiri sarapanmu, atau pesan saja di kantin depan. (Kesatuan Pilihan).iv) Sudah dua tahun ia bekerja di perusahaan itu, tetapi sampai sekarang ia tidak merasa senang dengan pilihannya itu. (Kesatuan yang mengandung pertentangan).(2) KoherenKoheren artinya padu, ada hubungan yang timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Kesalahan yang paling sering merusak koherensi adalah penempatan kata depan, kata penghubung, dan keterangan aspek yang tidak sesuai.(3) VariatifKeanekaragaman bentuk bahasa diyakini dapat memelihara daya tarik sebuah teks. Variasi dapat dibentuk melalui : (ii) variasi sinonim kata(iii) variasi panjang pendeknya kalimat(iv) variasi penggunaan bentuk me- dan di-(v) varisi posisi fungsi kata dalam kalimat(4) ParalelismeParalelisme adalah upaya menempatkan gagasan-gagasan yang sama pentingnya dan sama fungsinya dalam suatu struktur/konstruksi gramatikal yang sama. Misalnya, bila salah satu gagasan ditempatkan sebagai kata benda, maka gagasan yang lain juga harus ditempatkan sebagai kata benda. Perhatikan contoh berikut :Apabila pelaksanaan pembanguna lima tahun kita jadikan titik tolak, maka menonjollah beberapa masalah pokok yang minta perhatian dan pemecahan. Reorganisasi administrasi departemen-departemen. Ini yang pertama. Masalah pokok yang lain yang menonjol ialah (mengentikan) pemborosan dan penyelewengan. Ketiga karena masalah pembanguna ekonomi yang kita jadikan titik tolak, maka kita juga ingin mengemukakan faktor lain. Yaitu bagaimana memobilisir potensi nasional secara maksimal dalam partisipasi pembangunan nasional (Kompas).Wacana di atas sebaiknya ditulis:Reorganisasi administrasi departemen, pengentian pemborosan dan penyelewengan, serta mobilisir potensi nasional, merupakan masalah pokok pembangunan nasional. (Semuanya kata benda).Atau :Mengorganisir administrasi departemen, menghentikan pemborosan dan penyelewengan, serta memobilisasi potensi nasional, merupakan masalah pokok pembangunan nasional. (Semuanya kata kerja).C. Penalaran atau LogikaPenalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubungkan evidensi-evidensi menuju suatu kesimpulan yang masuk akal. Tulisan atau ujaran yang jelas, terarah dan sistematis menandakan cara berpikir yang logis. Penalaran dilakukan dengan :a. Pemberian DefinisiDefinisi atau batasan merupakan kunci berpikir yang logis. Definisi dibuat untuk membentuk kesepakatan makna sebelum digunakan dalam proses semantis yang lain, sehingga tidak menimbulkan salah paham. Definisi dapat dilakukan dengan:1) definisi sinonim kata (pembatasan pengertian)2) definisi etimologi kata (asal-usul kata)3) definisi logis (membedakan kata dengan genusnya, atau mengembalikan ke makna leksikalnya)b. GeneralisasiGeneralisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang semacam, berlaku pula untuk kebanyakan peristiwa atau hal yang sama. Misalnya, generalisasi berdasarkan pengalaman: 1) semua logam akan memuai jika dipanaskan, atau2) minum kopi pada malam hari dapat menyebabkan sulit tidurJenis-jenis Penalaran:1. DeduksiPenalaran ini adalah menari kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan umum yang dihubungkan dengan premis atau pernyataan umum. Penalaran Deduksi terdiri dari:a. Deduksi biasaRumusnya adalah: P1 A = BP2 B = CK A = CContoh:P1 : Pesawat terbang adalah kendaraan bermotorP2 : Kendaraan bermotor membutuhkan bahan bakarK : Pesawat terbang membutuhkan bahan bakarb. SilogismeRumusnya :PU Semua A = CPK C = AK C = BSilogisme dibedakan atas :1) Silogisme positif, yaitu silogisme yang kedua premisnya positif, tidak mengandung kata-kata ingkar seperti tidak dan bukan. Contoh:PU Semua profesor pandai (A = C)PK Habibie adalah profesor (C = A)K Habibie pandai (C = B)2) Silogisme negatif, yaitu silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif, karena itu, kesimpulannya juga bersifat negatif.PU Semua penderita penyakit paru-paru tidak boleh merokokPK Sukarjo penderita penyakit paru-paru (C = A)K Sukarjo tidak boleh merokok (C = B)3) Entimen, yaitu silogisme yang disingkat. Rumusnya :C = B karena C = AContoh: BJ Habibie pandai karena Habibie profesor. Sukarjo tidak boleh merokok karena Sukarjo penderita penyakit paru4) Silogisme salah, yaitu silogisme yang : PU atau PK tidak universal Tidak terdapat PU, karena keduanya PK PK berupa C = B1. InduksiPenalaran atau penarika kesimpulan dari premis khusus menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran ini dibedakan atas:a. Generalisasi, yaitu penarikan kesimpulan dari beberapa premis khusus. Contoh :P1 : Besi adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.P2 : Tembaga adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.P3 : Seng adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.P4 : Aluminium adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.K : Semua logam akan memuai jika dipanaskanb. Analaogi, yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan sifat. Contoh: Kota A dan Kota B mempunyai banyak persamaan. Misalnya: persamaan sosial budaya, suhu, tingkat ekonomi, dan jumlah penduduk. Dari persamaan sifat itu dapat ditarik kesimpulanK : Apa yang terjadi di kota A, akan terjadi di kota B.c. Sebab akibatSebab : Adik sakitAkibat : Adik tidak pergi sekolahKesimpulan : Orang sakit tidak pergi sekolahd. Akibat sebabAkibat : Adik kurusSebab : Adik cacinganKesimpulan : Orang yang cacingan badannya kurusD. ParagrafParagraf adalah kesatuan yang lebih tinggi dari kalimat yang terdiri dari himpunan kalimat-kalimat yang bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Sebuah paragraf sekurang-kurangnya harus memenuhi syarat:c) Hanya mengandung satu pikiran utama.d) Kesatuan (Unity): Semua kalimat yang membangun alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu. e) Pikiran utama didukung oleh beberapa pikiran penjelas.f) Koherensi: Kekompokan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat lain yang membentuk alinea itug) Harmonis secara semantis dan gramatis.Jenis-jenis paragraf1) DeduktifKalimat pokok terletak pada awal paragraf, kemudian disusul uraian yang terperinci.2) InduktifParagraf dimulai dengan uraian atau argumentasi, kemudian ditutup dengan kesimpulan. Jadi, kalimat pokok terletak pada bagian akhir paragraf.3) CampuranKalimat pokok terletak di awal paragraf, kemudian ditegaskan lagi pada bagian akhir.4) Narasi-DeskriptifTidak terdapat kalimat kalimat khusus yang menjadi kalimat topik, karena tersirat dalam keseluruhan kalimat yang membentuk paragraf itu. Misalnya wacana berbentuk deskripsi dan narasi.Pola Pengembangan Paragraf1) Klimaks dan Anti-klimaksPengembangan Klimaks dimulai dengan memperinci satu gagasan awal menuju ke gagasan lain yang lebih tinggi kedudukannya. Contoh : Bentuk traktor mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Di masa kejayaan mesin uap, ada traktor yang dijalankan dengan sistem uap. Perusahaan Caterpillar kemudian merancang traktor yang bentuknya seperti tank, yaitu traktor yang menggunakan roda rantai. Ford kemudian mengembangkan traktor untuk pengelolaan pertanian. Jepang yang tidak mau kalah dengan menciptakan padi traktor yang bentuk dan fungsinya semakin berkembang.2) Sudut pandangSudut pandang adalah posisi seorang pengarang dalam melihat sesuatu. Pengembangan seperti ini disebut juga pengembangan urutan ruang. Misalnya:Di antara daun kayu tampak kepada mereka tebing itu turun ke bawah; di kakinya tegak pondok, sunyi-mati. Di bawahnya kedengaran sebentar-sebentar sapi mendengus. Dari celah dinding pondok keluar cahaya yang kuning merah. Di keliling pondok itu tertegak pedati, ketiganya sunyi.3) Perbandingan dan PertentanganHubungan perbandingan dan pertentangan adalah suatu cara menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua hal atau objek yang bertolak dari segi tertentu. Hubungan perbandingan menonjolkan kesamaannya, sedangkan hubungan pertentangan menonjolkan perbedaannya. Contoh :Vitamin yang ditambahkan pada sabun mandi umumnya vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Seperti diketahui, vitamin C larut dalam air, sedangkan vitamin A dan E tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak. Dengan mengetahui sifat kelarutan tersebut, agaknya sukar dipahami bagaimana vitamin-vitamin yang disebutkan ituyang dikandung dalam sabunsempat terserap oleh kulit.4) AnalogiAnalogi adalah perbandingan yang sistematis antara dua hal yang berbeda, tetapi dengan memperlihatkan kesamaan segi atau fungsi dari keduanya, sekedar sebagai ilustrasi. Tujuannya untuk membandingkan suatu hal yang kurang dikenal dengan sesuatu yang dikenal umum. Misalnya: Awan dari ledakan bom itu, membentuk suatu cendawan raksasa.5) Pemberian contohUntuk mengkonkritkan hal yang bersifat abstrak dilakukan dengan pemberian contoh. Digunakan sekedar untuk menjelaskan maksud, bukan untuk membuktikan pendapat. Contoh yang dipilih terutama yang berkaitan dengan pengalaman pribadi. Contoh:Hasil teknologi Barat, tidak serta merta sesuai untuk bumi Timur. Misalnya, Indonesia pernah mengimpor gerbong-gerbong kereta api dari Perancis. Bentuknya mentereng dan sebagian dilengkapi dengan AC. Padahal gerbong itu hanya digunakan untuk mengangkut para petani dari dusun ke kota. Ternyata publik Indonesia belum cukup dewasa untuk mempergunakan gerbong-gerbong itu dengan semestinya.6) ProsesProses merupakan suatu urutan dari tindakan untuk menciptakan sesuatu. Tahap demi tahap proses diurutkan secara kronologis, sehingga pembaca dapat memahaminya dengan jelas. Contoh:Gemini 7 sudah berhari-hari berada dalam peredarannya, menunggu lintasannya sama dengan Gemini 6 yang akan diluncurkan. Gemini 6 menyusul Gemini 7 sedikit demi sedikit. Setelah satu kali putaran, Gemini 6 menghidupkan roketnya untuk menghapuskan pengaruh hambatan udara. Sementara itu, dilakukan koreksi arah supaya bidang yang dilintasi keduanya lebih tepat sama. Dengan berkali-kali mengadakan pembentukan arah, pengukuran jarak, dan percepatan, akhirnya bertemulah dengan Gemini 7.7) Sebab akibatSebab bertindak sebagai gagasan utama, akibat sebagai perinciannya. Dapat juga sebaliknya. Contoh:Dalam tekanan mental yang demikian hebat, terjadilah G30S. Akibatnya, terjadi kegoncangan hebat dalam sendi-sendi kehidupan. Suara hati yang tertindas, membersit ke luar dan menjadi banjir besar menentang sendi-sendi lama. Lahirlah angkatan baru yang berjuang atas dorongan hati nurani.8) KlasifikasiKlasifikasi adalah proses mengelompokkan hal-hal yang dianggap mempunyai kesamaan tertentu. Contoh:Bahasa Melayu tidak cukup dibagi atas bahasa Melayu tinggi dan bahasa Melayu rendah. Tidak juga dapat dikelompokkan atas bahasa Melayu bangsawan, dagang, atau Melayu dalam. Juga tak cukup dibagi atas bahasa Melayu buku dan bahasa percakapan. Bahasa Melayu percakapan pun banyak juga jenisnya. 9) Pemberian Definisi LuasPemberian Definisi Luas adalah usaha penulis untuk memberikan keterangan terhadap suatu istilah atau hal melalui rangkaian kalimat yang membentuk sebuah alinea. Misalnya:Demokrasi biasanya diterjemahkan sebagai kedaulatan rakyat, yang diartikan sebagai pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi dalam arti ini hanya menggambarkan suatu segi, sedangkan demokrasi dalam arti yang sebenarnya mempunyai makna yang lebih luas. Demokrasi pada hakekatnya berupa suatu mentalitas untuk membina suatu kehidupan dalam masyarakat, mentalitas dalam arti cara berpikir, bersikap dan berbuat.A. KutipanKutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari orang lain. Kutipan terdiri dari kutipan langsung dan kutipan tidak langsung (kutipan isi). Prinsip mengutip adalah:1) Jangan mengadakan perubahan2) Bila terdapat kesalahan (baik dalam ejaan maupun ketatabahasaan), penulis tidak boleh memperbaikinya.3) Bagian yang dianggap tidak penting, dapat dihilangkan sepanjang tidak mengakibatkan perubahan makna. Penghilangan bagian kutipan ditandai dengan tiga titik berspasi. Jika unsur yang dihilangkan terdapat pada akhir kalimat, ditambahkan satu titik lagi. Jika bagian yang dihilangkan terdiri dari satu alinea atau lebih, dinyatakan dengan titik berspasi sepanjang satu baris halaman. Bila menggunakan tanda kutip, bagian titik tersebut dimasukkan dalam bagian tanda kutip.Cara mengutip:a) Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris :(1) kutipan diintegrasikan langsung dengan teks(2) jarak antara baris dua spasi(3) bagian kutipan diapit dengan tanda kutip(4) diakhiri dengan penanda footnote atau tanda kurung berisi nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman.b) Kutipan langsung lebih dari empat baris :(1) kutipan dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi(2) jarak antara baris satu spasi(3) boleh tidak diapit tanda kutip(4) seluruh bagian kutipan dimasukkan 5 7 ketukan. Bila bagian itu dimulai dengan paragraf baru, baris pertama juga dimasukkan 5 7 ketukan.(5) diakhiri dengan penanda footnote atau tanda kurung berisi nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman.c) Kutipan tak langsung :(1) diintegrasikan dengan teks(2) jarak antara baris dua spasi(3) tidak diapit tanda kutip(4) diakhiri dengan penanda footnote atau tanda kurung berisi nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman.B. Catatan KakiCatatan kaki adalah keterangan tambahan dari teks yang ditempatkan pada kaki halaman teks. Penempatan pada catatan kaki bertujuan untuk memelihara kepaduan paragraf. Hubungan teks dengan catatan kaki ditunjukkan melalui nomor penunjukkan berurut, atau dapat juga menggunakan tanda asterik (*) yang ditempatkan satu spasi di atas baris teks. Catatan kaki (footnote) berfungsi untuk:(1) menyusun pembuktian, mengkaitkan dengan kebenaran yang dibuat oleh penulis lain(2) menyatakan utang budi (atas kebenaran yang dipinjam dari orang lain)(3) menyampaikan keterangan tambahan untuk memperkuat uraian di luar persoalan yang diperkenankan oleh laju teks.(4) merujuk bagian lain dari teks, baik yang sudah disebutkan maupun yang belum disebutkanCara membuat catatan kaki:(1) referensi kepada buku dengan seorang pengarang :(a) nama pengarang ditulis lengkap, tidak dibalik(b) antara nama pengarang dan judul menggunakan tanda koma, bukan titik sebagaimana daftar pustaka, antara judul buku dengan dan data publikasi tidak ada titik atau koma(c) tempat dan tahun terbit ditempatkan dalam tanda kurung, nama penerbit tidak disertakanContoh:_________12 Uli Kozok, Warisan Leluhur Sastra Lama dan Aksara Batak (Jakarta, 1999), hal. 75.(2) referensi kepada buku dengan dua atau tiga pengarangNama penerbit dimasukkan. Antara nama penerbit dan tempat diberi titik dua. Selebihnya sama dengan sebelumnya. Contoh:_______7 R. Ibrahim, D. Hardjito, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: Depdikbud, 1984), hal. 82 84.(3) referensi kepada buku dengan banyak pengarangHanya nama pengarang pertama yang disebut, yang lain diganti dengan at al., antara nama dengan et al. dan antara et al. dengan judul buku diberi tanda koma. Contoh:________3 Alton Moris, et al., College English (New York, 1964), hal. 21.(4) referensi kepada buku dengan edisi yang mengalami perbuahanketerangan tentang edisi ulang atau edisi revisi diletakkan dalam kurung sebelum tempat terbit, antara tempat terbit dan keterangan diberi tanda titik koma. Contoh:_____6 H.A. Gleason, An Introduction to Descriptive Linguistics (rev.ed; New York, 1961), hal. 62.(5) buku yang lebih dari satu jilidketerangan tentang nomor jilid ditempatkan dalam kurung sebelum tempat terbit, nomor jilid dengan angka Romawi, nomor halaman dengan angka Arab. Contoh:_____2 A.H. Lightstone, Concepts of Calculus (Vol. I; New York: Harper & Row, 1966), hal 75.(6) sebuah edisi dengan beberapa orang pengarang_______5 Mursal Esten, ed., Kritik Sastra (Bandung, 1988), hal. 18 21.(7) buku terjemahanPengarang asli ditempatkan di depan, penerjemah ditempatkan setelah judul buku, dipisahkan dengan tanda koma. Contoh:______3 Multatuli, Max Havelaar, terj. H.B. Jassin (Djakarta, 1972), hal. 51.(8) artikel dalam anotologiJudul artikel dan judul buku dicantumkan, juga nama penulis dan editornya. Contoh:______8 Rizanur Gani, Sastra Kontekstual, Kritik Satra, ed. Mursal Esten (Bandung, 1988), hal. 7.(9) artikel dalam majalahNomor jilid ditempatkan sesudah nama majalah. Contoh:_____14 Ny. H. Soebadio, Penggunaan Sansekerta dalam Pembentukan Istilah Baru, Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, I (April, 1963), hal. 47 49.(10) artikel dalam harianBila nama pengarang jelas, dimulai dengan nama penulis artikel itu. Jika tidak, cukup diisi dengan nama rubrik dalam harian itu. Contoh:21 Mangunwijaya, Sastra Pembebasan, Kompas, 21 Mei, 1984, hal. 5.Atau :21 Tajuk Rencana dalam Kompas, 21 Mei, 1984, hal. 5.C. Daftar Pustaka1. Dengan seorang pengarangKeraf, Gorys. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.2. Dengan dua atau tiga pengarangOliver, Robert T., and Rupert Cortright. 1958. New Training for Effective Speech. New York: Henry Holt and Company, Inc.3. Dengan banyak pengarangSidarta, Myra D., et al. 1984. Feminisme dalam Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.4. Edisi yang mengalami perubahanGleason, H.A. 1961. An Introduction to Descriptive Linguistics. Rev.ed. New York: Winston.5. Lebih dari satu jilidHakim, Lukman. 1982. Matematika. Jil. 2. Jakarta: Djambatan.6. Edisi karya beberapa orang pengarangEsten, Mursal, ed. 1988. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.7. Artikel dalam majalahKridalaksana, Harimurti. Leksikostatistik Bahasa Nusantara, Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, I: 323, April, 1963.8. TerjemahanMultatuli. 1972. Max Havelaar, terj. H.B. Jassin. Jakarta: Djambatan.D. Sistematika Karya IlmiahE. DMODUL BAHASA INDONESIA STIE MATERI 2 PENDAHULUAN1. Latar Belakang Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan media tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia yang baik dan benar. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar.

Tujuan a. Mahasiswa/i mampu menerapakan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia b. Mahasiswa/i memahami Perkembangan Ejaan c. Mahasiswa/i memahami pengertian dan Ruang Lingkup Ejaan Yang DisempurnakanMasa lalu sebagai bahasa MelayuBahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasaAustronesiadari cabangbahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagailingua francadiNusantarakemungkinan sejak abad-abad awalpenanggalan modern.Kerajaan Sriwijayadari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu (sebagaibahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Limaprasastikuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman daribahasa Sanskerta, suatubahasa Indo-Eropadari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya diPulau Jawa[10]danPulau Luzon.[11]Kata-kata sepertisamudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dankacamasuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malayataumedieval Malay). Bentuk ini dipakai olehKesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagaibahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan disekitar Sumatera,Jawa, dan Semenanjung Malaya. LaporanPortugis, misalnya olehTome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa.Magellandilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman daribahasa Arabdanbahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak, polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.Jan Huyghen van Linschotenpada abad ke-17 danAlfred Russel Wallacepada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di "dunia timur".[12]Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur denganbahasa Portugis,bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya diManado,Ambon, danKupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pulabahasa Melayu TionghoadiBatavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).[13]Varian-varian lokal ini secara umum dinamakanbahasa Melayu Pasaroleh para peneliti bahasa.Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19Raja Ali Hajidari istanaRiau-Johor(pecahan Kesultanan Melaka) menuliskamusekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yangfull-fledged, sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional di masa itu, karena memiliki kaidah dan dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan sebagailingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman.Ejaan van OphuijsenEjaan ini merupakan ejaanbahasa Melayudengan huruf Latin.Charles Van Ophuijsenyang dibantu olehNawawi Soetan MamoerdanMoehammad Taib Soetan Ibrahimmenyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:1. Hurufuntuk membedakan antara hurufisebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengandiftongsepertimuladenganramai. Juga digunakan untuk menulis hurufyseperti dalamSoerabaa.2. Hurufjuntuk menuliskan kata-katajang,pajah,sajang, dsb.3. Hurufoeuntuk menuliskan kata-katagoeroe,itoe,oemoer, dsb.4. Tandadiakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-katamamoer,akal,ta,pa, dsb. Ejaan RepublikEjaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan namaejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:1. Hurufoediganti denganupada kata-kataguru,itu,umur, dsb.2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengankpada kata-katatak,pak,rakjat, dsb.3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti padakanak2,ber-jalan2,ke-barat2-an.4. Awalandi- dan kata depandikedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya. Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan. Perubahan:Indonesia(pra-1972)Malaysia(pra-1972)Sejak 1972

Tjchc

DjJj

Chkhkh

Njnyny

Sjshsy

Jyy

oe*uu

Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia1. Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi namaCommissie voor de Volkslectuur(Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadiBalai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, sepertiSiti NurbayadanSalah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.2. Tanggal 16 Juni 1927Jahja Datoek Kajomenggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidangVolksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.[17]3. Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmiMuhammad Yaminmengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.4. Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagaiPujangga Baruyang dipimpin olehSutan Takdir Alisyahbana.5. Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.6. Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkanKongres Bahasa IndonesiaI diSolo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.7. Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilahUndang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.8. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaanejaan Republiksebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.9. Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II diMedan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.10. Tanggal 16 Agustus 1972H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.11. Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).12. Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.13. Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.14. Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat sepertiBrunei Darussalam,Malaysia,Singapura,Belanda,Jerman, danAustralia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakniKamus Besar Bahasa IndonesiadanTata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.15. Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.16. Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII diHotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

2.1 Pengertian Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya.Batasan tersebut menunjukan pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan. Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan (EYD). EYD mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat Ejaan itu diresmikan pada tahun 1947). Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (nama seorang guru besar belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka. 2.2 Ruang Lingkup Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca. 1) Pemakaian huruf membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa, yaitu :Huruf AbjadHuruf VokalHuruf KonsonanHuruf DiftongGabungan Huruf KonsonanPemenggalan Kata

2) Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang meliputi : Huruf capital atau Huruf besar Huruf miring

3) Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa : kata dasar kata turunanbentuk ulang gabungan katakata ganti ku, -kau, -mu, dan -nyakata depan di, ke, dan darikata si dan sangpartikelsingkatan dan akronim angka dan lambang bilangan.

4) Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama kosakata yang berasal dari bahasa asing.

5) Pemakaian tanda baca (pugtuasi) membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda baca dalam penulisan. Tanda baca itu adalah : Tanda titik (.) Tanda koma (,) Tanda titik koma (;) Tanda titik dua (:) Tanda hubung (-) Tanda pisah (--)Tanda ellipsis () Tanda tanya (?) Tanda seru (!) Tanda kurung (()) Tanda kurung siku ([ ]) Tanda petik ganda () Tanda petik tunggal () Tanda garis miring (/) Tanda penyingkat atau Apostrof ()

1. Pemakaian Huruf a. Huruf AbjadAbjad bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf berikut. Nama tiap huruf disertakan disebelahnya.HurufNamaHurufNamaHurufNama

A aAJ jJeS sEs

B bBeK kKaT tTe

C cCeL lElU uU

D dDeM mEmV vFe

E eEN nEnW wWe

F fEfO oOX xEks

G gGeP pPeY yYe

H hHaQ qKiZ zZet

I iiR rEr

b. Huruf VokalHuruf yang melambangkan vocal terdiri atas lima huruf vokal (v), yaitu A, I, U, E, dan O. Huruf VokalContoh Pemakaian dalam Kata

Di AwalDi TengahDi Akhir

Aapipadilusa

e*enakpetaksore

emaskenatipe

Iitusimpanmurni

Oolehkotaradio

Uulangbumiibu

c. Huruf KonsonanHuruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.Huruf KonsonanContoh Pemakaian dalam Kata

D