of 150 /150
TATARAN FONOLOGI Fonologi ialah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 1994). Satuan bunyi dibedakan antara fonetik dan fonemik. Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Misalnya : bunyi [i] pada kata [intan], [angin], dan [batik] tidak sama. Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasinya. Ini dilakukan karena jumlah bunyi melebihi 26 aksara latin. Bunyi terdiri dari kelompok bunyi vokal dan konsonan. Di samping itu, ada bunyi diftong atau vokal rangkap, karena posisi lidah pada bagian awal dan akhir bunyi tidak sama. Misalnya bunyi [au] pada kata kerbau, [ai] pada kata cukai, dan lain-lain. Bunyi konsonan diklasifikasikan atas (1) posisi pita suara (bergetar atau tidak bergetar), (2) tempat artikulasi (labial, dental), dan (3) cara artikulasi (sengau, hambat). Fonetik terdiri dari : 1) Fonetik auditoris (penerimaan bunyi oleh telinga) 2) Fonetik artikulasi (penerbitan bunyi oleh alat ucap manusia) 3) Fonetik akustik (ciri-ciri bunyi bahasa akibat peristiwa fisika) Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bahasa sebagai pembeda makna. Contoh: bunyi [p] dan [b] pada kata [paru] dan [baru] menyebabkan perbedaan makna. Karena itu [p] dan [b] disebut fonem. Bunyi yang tidak membedakan makna bukan fonem. Bunyi [t] dan [t h ] dalam bahasa Inggris bukanlah dua fonem yang berbeda, tetapi dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Variasi bunyi yang timbul dari realisasi fonem disebut alofon. Fonem [i] dalam bahasa Indonesia, misalnya, mempunyai empat buah alofon, yaitu bunyi [i] dalam kata cita, tarik, ingkar, dan kali. Klasifikasi Konsonan: 1) Berdasarkan artikulator dan titik artikulasi Bilabial : b, p, m, w Palatal : c, j, ny, y Velar : k, g, kh, ng Dental : t, d, n 2) Berdasarkan jalan keluar udara

TATARAN FONOLOGI

Embed Size (px)

Citation preview

TATARAN FONOLOGI

Fonologi ialah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 1994). Satuan bunyi dibedakan antara fonetik dan fonemik.

Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Misalnya : bunyi [i] pada kata [intan], [angin], dan [batik] tidak sama. Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasinya. Ini dilakukan karena jumlah bunyi melebihi 26 aksara latin. Bunyi terdiri dari kelompok bunyi vokal dan konsonan. Di samping itu, ada bunyi diftong atau vokal rangkap, karena posisi lidah pada bagian awal dan akhir bunyi tidak sama. Misalnya bunyi [au] pada kata kerbau, [ai] pada kata cukai, dan lain-lain. Bunyi konsonan diklasifikasikan atas (1) posisi pita suara (bergetar atau tidak bergetar), (2) tempat artikulasi (labial, dental), dan (3) cara artikulasi (sengau, hambat).

Fonetik terdiri dari :

1) Fonetik auditoris (penerimaan bunyi oleh telinga)

2) Fonetik artikulasi (penerbitan bunyi oleh alat ucap manusia)

3) Fonetik akustik (ciri-ciri bunyi bahasa akibat peristiwa fisika)

Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bahasa sebagai pembeda makna. Contoh: bunyi [p] dan [b] pada kata [paru] dan [baru] menyebabkan perbedaan makna. Karena itu [p] dan [b] disebut fonem. Bunyi yang tidak membedakan makna bukan fonem. Bunyi [t] dan [th] dalam bahasa Inggris bukanlah dua fonem yang berbeda, tetapi dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Variasi bunyi yang timbul dari realisasi fonem disebut alofon. Fonem [i] dalam bahasa Indonesia, misalnya, mempunyai empat buah alofon, yaitu bunyi [i] dalam kata cita, tarik, ingkar, dan kali.

Klasifikasi Konsonan:

1) Berdasarkan artikulator dan titik artikulasi

Bilabial : b, p, m, w

Palatal : c, j, ny, y

Velar : k, g, kh, ng

Dental : t, d, n

2) Berdasarkan jalan keluar udara

Bunyi oral : p, b, w, r, dan lain-lain

Bunyi nasal : m, n, ng, ny

3) Berdasarkan halangan yang dijumpai saat udara keluar

Hambat atau stop : p, b, k, t, d

Frikatif atau geser : f, v

Spiran atau desis : s, z, sy

Trill atau getar : r

Lateral : l

4) Berdasarkan getaran pita suara

Bersuara : b, c, d, f, g, h, dan lain-lain

Tidak bersuara : k, t, p, s

Perubahan Fonem

a. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, [Sabtu] diucapkan [saptu] karena pengaruh bunyi [t]. Atau fonem yang tidak sama dijakdikan sama. Misalnya, [al salam] menjadi [assalam] Jika dalam asimilasi, dua bunyi yang berbeda menjadi sama, maka disimilasi perubahan itu menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda. Misalnya kata [citta] dalam bahasa Sanskerta berubah menjadi [cinta] dan [cipta]. Jadi ada perubahan bunyi [tt] menjadi [nt] dan [pt].

a. Metatesis dan Epentesis

Metatesis adalah sebuah bunyi yang bertukar tempat dengan bunyi yang lain. Misalnya [brantas] dan [bantras], [jalur] dan [lajur], [almari] dan [lemari]. Epentetis terjadi jika sebuah fonem disisipkan dalam sebuah kata. Misalnya [kapak] menjadi [kampak]

a. Kontraksi

Kontraksi terjadi pemendekan ujaran dalam percakapan yang cepat. Misalnya, [tidak tahu] menjadi [ndak tahu], [shall not] menjadi [shan’t], dan lain-lain.

a. Diftongisasi

Proses perubahan satu vokal menjadi diftong. Misalnya, [sentosa] menjadi [sentausa]

a. Monoftongisasi

Proses perubahan diftong menjadi satu vokal. Misalnya, [satai] menjadi [sate], atau [pulau] menjadi [pulo].

a. Sandi

Sandi adalah dua vokal berturut lebur menjadi satu vokal. Misalnya [pesantrian] menjadi [pesantren].

a. Adaptasi

Adaptasi adalah penyesuaian bentuk. Misalnya, [chauffeur] menjadi [sopir], atau [goal] menjadi [gol].

a. Analogi

Analogi adalah pembentukan kata berdasarkan bentuk yang sudah ada. Misalnya [sastrawan] menjadi [sastrawati].

a. Hiperkorek

Membetulkan yang tepat sehingga menjadi salah. Misalnya, [surga] menjadi [syurga], [pihak] menjadi [fihak].

a. Haplologi

Haplologi adalah penghilangan sebuah suku kata di tengah kata. Misalnya, [budhidaya] menjadi [budidaya], [mahardika] menjadi [merdeka].

TATARAN MORFOLOGI

Istilah morfem diperkenalkan oleh kaum strukturalis karena tata bahasa tradisional tidak mengenalnya. Morfem memang bukan satuan sintaksis. Morfem adalah satuan terkecil yang mempunyai dan mempengaruhi arti. Keseluruhan ilmu yang mempelajari proses pembentuka kata disebut Morfologi. Di samping itu, dikenal juga istilah morfofonemik, yaitu peristiwa berubahnya wujud morfem karena pengaruh 1) afiksasi, 2) reduplikasi, dan 3) komposisi.

Alomorf adalah variasi bentuk yang berlainan dari morfem yang sama. Misalnya variasi imbuhan me- pada kata melihat, membaca, mendengar, menyanyi, dan menggali. Dengan demikian me- mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya.

Klasifikasi Morfem:

a. Morfem bebas

Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan. Misalnya meja (KB), pukul (KK), manis (KS), dan telah (KT). Morfem ini biasa juga disebut dengan morfem bermakna leksikal.

a. Morfem terikat

Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri, hanya mempunyai makna jika bergabung dengan bentuk lain. Morfem ini terdiri dari : imbuhan, pokok kata, bentuk unik, partikel, klitika, dan kata tugas yang tidak dapat berdiri sendiri. Morfem ini juga disebut dengan morfem tidak bermakna leksikal.

Di samping itu, Verhaar menyebut kelompok morfem prakategorial atau bentuk pradasar. Secara semantik morfem ini mempunyai makna, tetapi secara gramatikal tidak dapat berdiri sendiri. Misalnya [juang], [henti], dan [gaul]. Dalam kelompok ini juga termasuk sejumlah morfem yang hanya dapat muncul pada pasangan yang tetap (morfem unik). Misalnya [renta] pada tua renta, [kerontang] pada kering kerontang, dan [kuyup] pada kata basah kuyup. Preposisi dan konjungsi juga tidak dapat berdiri sendiri, tetapi mempunyai makna.

Morfem dasar, dapat berwujud morfem terikat, bisa juga morfem bebas. Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar dalam proses morfologi. Morfem dasar dapat diberi afiksasi, reduplikasi, atau bergabung dengan morfem lain.

Bentuk dasar adalah bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologis, dapat berupa morfem tunggal atau morfem gabungan. Misalnya:

Komposisi Bentuk Dasar Morfem DasarMemperbaiki Perbaiki BaikKeanekaragaman aneka ragam aneka dan ragam

Kata

Kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, atau deretan huruf yang diapit oleh dua spasi dan mempunyai satu arti (Tatabahasa Tradisional). Bloomfield (tatabahasa Struktural) menyatakan bahwa kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form). Linguistik Eropah mengemukakan syarat-syarat sebuah kata: 1) mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap serta tidak dapat diselipi fonem lain, 2) mempunyai kebebasan berpindah tempat. Syarat kedua ini menjadi perdebatan, misalnya kalimat Nenek membaca koran kemarin, ternyata dapat dipertukarkan susunannya.

Tatabahasa Tradisional mengklasifikasikan kata atas kategori makna dan kategori fungsi. Kategori makna digunakan untuk mengklasifikasikan verba, nomina, dan ajektiva. Kategori fungsi digunakan untuk pengelompokan preposisi, konjungsi, advervia, dan pronomina.

Verba (KK) adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan, dapat berdistribusi di belakang kata tidak….

Nomina (KB) adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan, dapat mengisi konstruksi bukan ….

Ajektiva (KS) adalah kata yang menyatakan sifat, atau dapat mengisi konstruksi sangat……

Beberapa kata dalam bahasa yang berfleksi (Bhs. Arab, Latin, dan Sanskerta), hanya dapat digunakan dalam kalimat jika bentuknya disesuaikan dengan kategori gramatikal yang berlaku. Misalnya dengan afiksasi atau modifikasi lain terhadap bentuk dasar. Proses inflektif ini tidak mengakibatkan pembentukan kata baru. Berbeda dengan itu, derivatif membentuk kata baru. Misalnya, [nyanyi] dengan [penyanyi]. Antara kedua kata itu berbeda identitas leksikalnya.

Kelas Kata

1. Aliran Tradisional

Aliran ini membagi kata atas 10 kelas sesuai dengan konsep Aristoteles, yakni:

a) kata benda (kata yang menerangkan nama suatu benda atau yang dibendakan). Misalnya, lemari, kemanusiaan

b) kata sifat (kata yang menyatakan sifat atau keadaan suatu benda). Misalnya, keriting, manis

c) kata kerja (kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan). Misalnya: tendang, berjalan-jalan

d) kata keterangan (kata yang menerangkan kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan lain-lain). Misalnya:

(1) keterangan waktu : sesudah, sebelum, ketika

(2) keterangan tempat : di sini, ke sana, dari sana

(3) keterangan syarat : jika, kalau, seandainya

(4) keterangan sebab : sebab, karena

(5) keterangan akibat : sehingga, karena itu

(6) keterangan tujuan : agar, supaya, untuk, guna, buat

(7) keterangan perwatasan : kecuali, hanya, selain

e) kata ganti (kata yang menggantikan kata benda) :

(1) kata ganti orang : aku, kau, dia, kita, mereka

(2) kata ganti penghubung : yang, bahwa

(3) kata ganti penunjuk : itu, ini, tersebut

(4) kata ganti penanya : apa, siapa, di mana

(5) kata ganti tak tentu : berapa

(6) kata ganti milik : -nya

f) kata bilangan (menyatakan jumlah, urutan atau tingkat suatu benda) :

(1) bilangan utama : satu, sepuluh

(2) bilangan tingkat : pertama, kelima

(3) bilangan tak tentu : beberapa, tiap-tiap

(4) bilangan kumpulan : berdua, kedua hal itu

(5) bilangan bantu : sebuah, seekor, seutas, seorang, sepucuk

g) kata depan (kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat) : di, ke, dari, pada

h) kata sambung (kata yang menghubungkan suatu kata dengan kata lain, menghubungkan bagian-bagian dalam kalimat, atau menghubungkan antarkalimat):

(1) menunjukkan gabungan : dan, serta, lagipula

(2) menunjukkan pertentangan : tetapi, melainkan, sedangkan

(3) menyatakan penjelas : yakni, yaitu

i) kata sandang (kata yang menentukan atau membatasi sesuatu) : si, sang, yang, para

j) kata seru (menyatakan luapan perasaan) : wah!, kasihan!, Ya ampun!

2. Aliran Struktural

a) kata benda (semua kata yang dapat diperluas dengan menambahkan yang + kata sifat). Contoh : adik yang cantik, bulan yang merah

b) kata kerja (yang dapat diperluas dengan menambahkan kata dengan + kata sifat). Misalnya : lari dengan cepat, menatap dengan lembut,

c) kata sifat (yang dapat diperluas dengan kata amat…., paling…., sangat…. dan …sekali). Contoh: amat indah, paling tinggi, sangat sedih, merah sekali.

d) kata tugas (kata yang fungsinya untuk memperluas atau mengadakan transformasi kalimat, kata tersebut tidak dapat menduduki fungsi subyek, predikat, dan objek. Misalnya: di, yang, tetapi, dan lain-lain.

Afikasasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah kata dasar atau bentuk dasar. Afiksasi berkaitan dengan : 1) dasar atau bentuk dasar, 2) jenis afiks, dan 3) makna gramatikal yang ditimbulkan. Dasar atau bentuk dasar dapat berupa akar atau berupa bentuk kompleks. Tata bahasa Indonesia mengenal adanya prefiks me- yang bersifat inflektif (misalnya me- yang menunjukkan bentuk aktif pada kata menendang) dan me- sebagai bentuk derivatif (misalnya me- pada kata mematung).

Imbuhan (Afiks) terdiri dari :

2) Prefiks (awalan) : ber-, se-, me-, di-, ke-, pe-, per-, ter-

3) Infiks (sisipan) : -el-, -em-, -er-, in

4) Sufiks (akhiran) : -i, -kan, -an, -nya

5) Konfiks (imbuhan gabung) : pe-an, per-an, ke-an, se-an, se-nya, ber-an atau mem/per/kan, di/per/kan, di/i.

Makna yang ditimbulkan oleh afiksasi adalah :

Prefiks Contoh MaknaMe- Menggulai membuat jadi ….

Menepi menuju ke …

Merotan mencari ….

Menyemir membubuhi …..

Mengabdi berlaku seperti …..

Membeku menjadi …..

Melembaga menjadi seperti ….

Menyapu bekerja dengan alat …

Mengeong mengeluarkan bunyi ….

Merokok menghisap …..

Menari melakukan perbuatan

ber- Beratap MempunyaiBersepeda mengendarai/menggunakan

Bersuara Mengeluarkan

Berkedai Mengusaha

Bergembira dalam keadaan

Bertante memanggil sebagai

Berlima terdiri dari (kolektif)

Berjemur melakukan perbuatan untuk diri sendiri (reflesif)

Bergulat berbalasan (resiprok)

Ter- Terbesar paling (superlatif)Terpijak tiba-tiba/tak sengaja/spontanitas

Terendam terus-menerus/kontinuitas

Tercetak sudah di (perfektif)

Tertulang sampai ke (mengenai)

Tertutup dalam keadaan …….

Terdakwa orang yang di ….

Pe- Penggaris AlatPeneliti orang yang me…

Pesuruh orang yang di ….

Pemabuk orang yang gemar/suka

Pemalu orang yang bersifat

per- Perdua membuat jadi (kausatif)Perdewa menganggap sebagai

Petinju orang yang berprofesi/ahli ber…

Pejalan orang yang ber…

Ke- Kekasih seseorang yang di …Kehendak sesuatu yang di …

kedua + KB kumpulan bilangan

KB + kedua bilangan tingkat

di- Ditulis menyatakan pasifse- Selembar Satu

Sedunia seluruh….

Sesampai segera setelah/sesudah

Sedalam sama seperti

Sekamar berada dalam

secepat-cepatnya paling (superlatif)

Infiks Contoh Makna-el- telunjuk, pelatuk alat me…

Gelembung Bersifat

-er- Serabut BersifatSeruling Alat

Gerigi kumpulan/banyak

-em- Gemilang Bersifat

Sufiks Contoh Makna-i Lukai membuat jadi.. (kausatif)

hormati memberi hormat

pukuli berulang-ulang (repetitif)

masuki masuk ke (lokatif)

kelilingi (berkeliling di) lokatif

Kuliti membersihkan

Sisiki mencabut

Bului membuang

-kan besarkan membuat jadi (kausatif)sarankan memberi

bukakan melakukan perbuatan untuk orang lain

kandangkan memasukkan ke

-an kuburan tempatayunan alat

daratan kumpulan

harian tiap-tiap

tulisan hasil

manisan sesuatu yang bersifat

makanan sesuatu yang di

tahun 90-an sekitar/kira-kira

Konfiks Contoh MaknaPe-an pelatihan proses/perbuatan

pemukiman tempat

penyelesaian hasil

penghargaan perbuatan

per-an permukiman tempat ber…

pergerakan Hal/keadaan

persatuan hasil ber…

perpustakaan kumpulan

Ke-an kelurahan tempat berkesehatan Hal yang…

ketinggalan tiba-tiba/tak sengaja

kehabisan menderita hal

Kebesaran terlalu

kehujanan dikenai

ber-an bersalaman berbalasan (resiprok)berdatangan berulang-ulang (intensitas frekuensi)

mem-per-kan

mempertemukan

mempersatukan

membuat jadi ber… (kausatif)

mem-per-i Memperbaiki

Mempersenjatai

membuat jadi (kausatif)

Mempelajari penekanan kualitas (intensitas)

Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), atau dengan perubahan bunyi. Jenis-jenis reduplikasi adalah:

a. Kata ulang penuh atau dwilingga (pengulangan penuh pada kata dasar atau kata jadian. Misalnya: meja-meja, perubahan-perubahan

b. Kata ulang bervariasi bunyi atau dwilingga salin suara (perulangan atas seluruh suku kata, tetapi salah satu lingga-nya terjadi perubahan bunyi. Misalnya : bolak-balik, lauk pauk, serba-serbi, sayur-mayur

c. Kata ulang berimbuhan (perulangan dengan salah satu lingganya mendapat tambahan imbuhan). Misalnya: surat-menyurat, bertanya-tanya

d. Kata ulang semu (menurut STA, tampaknya hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk yang diulang), Misalnya: kupu-kupu, gado-gado

e. Kata ulang dwipurwa (ulangan pada awal suku kata). Misalnya: rerumputan, tetangga, kekasih, kehendak, lelaki, pepohonan.

f. Trilingga (pengulangan morfem dasar sampai dua kali), misalnya: dag-dig-dug, cas-cis-cus, ngak-ngik-ngok.

Bentuk reduplikasi ini dapat bersifat paradigmatis (infleksional), yakni yang tidak mengubah identitas leksikalnya, tetapi hanya memberi makna gramatikal. Misalnya: meja-meja, yang berarti banyak meja. Sebaliknya ada juga reduplikasi yang bersifat derivasional, yakni yang membentuk kata baru. Misalnya: laba-laba yang dalam tata bahasa tradisional dianggap berasal dari kata laba. Karena reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat derivasional, karena itu, bentuk-bentuk seperti kita-kitai atau mereka-mereka sebenarnya dapat diterima. Di samping itu, sebagian ahli mengemukakan adanya bentuk reduplikasi semantis yang terdiri dari dua kata yang bermakna sinonim membentuk kesatuan gramatikal. Misalnya, ilmu pengetahuan, alim ulama, hancur luluh (Chaer, 1994).

Makna Kata Ulang

No Contoh Makna1 mobil-mobilan, rumah-rumahan menyerupai 2 masak-memasak, cetak-mencetak menyatakan hal3 pening-pening agak atau melemahkan4 putih-putih serba atau seragam5 bersalam-salaman berbalasan (resiprok)6 hujan-hujan, cantik-cantik meskipun, walaupun7 kekanak-kanakan, keibu-ibuan bersifat seperti8 tidur-tiduran, berjalan-jalan rileks9 meja-meja mengeraskan arti (banyak)10 kuat-kuat intensitas kualitatif11 memukul-mukul intensitas frekuentif12 buah-buahan, tanam-tanaman bermacam-macam

Komposisi

Komposisi adalah hasil atau proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar lain sehingga terbentuk suatu konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang baru. Misalnya, lalu lintas, daya juang, akhirulkalam, dan lain-lain. Konstruksi seperti ini sangat banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia, sehingga beberapa di antaranya menimbulkan perdebatan. Misalnya, kumis kucing (untuk menyatakan jenis tumbuhan dan bagian dari tubuh kucing) dan mata sapi (untuk menyatakan telur yang digoreng tanpa dihancurkan dengan bagian dari tubuh sapi), apakah kelompok kata majemuk (kompositum) atau tidak. Tatabahasa struktural menyatakan bahwa kata majemuk sekurang-kurangnya memenuhi syarat:

1) menimbulkan makna baru yang bukan merupakan gabungan unsur-unsurnya

2) di antara unsur pembentuknya tidak dapat diselipi unsur lain. Misalnya, di antara kamar mandi tidak dapat diselipi kata yang, atau unsurnya tidak dapat dibalik menjadi mandi kamar.

3) hubungan kedua unsurnya merupakan kesatuan yang terikat secara morfologis, tidak bersifat sintaksis (Verhaar, 1978). Misalnya matahari tidak sama artinya dengan matanya hari.

Jenis-jenis kata majemuk

1) kata majemuk koordinatif (sejajar), contoh : siang malam, semak belukar, sawah ladang.

2) kata majemuk subordinatif (tidak sejajar), contoh: rumah sakit, mata pisau, kereta api.

3) kata majemuk kiasan (frase idiomatik), yakni frase yang bermakna kiasan. Misalnya: meja hijau, pintu belakang

Meskipun begitu, Kridalaksana membedakan antara kata majemuk dengan idiom. Jika kata majemuk merupakan konsep sintaksis, maka idiom adalah konsep semantis. Karena itu bentuk seperti orang tua (orang tua), meja hijau (pengadilan), dan mata sapi (telur) bukanlah kata majemuk, tetapi idiom.

TATARAN SINTAKSIS

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani: Sun (dengan) dan tattein (menempatkan). Sintaksis adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kalimat. Jika morfologi membicarakan struktur internal kata, maka sintaksis membicarakan hubungan kata dengan kata lain dan unsur-unsur lainnya dalam satu kesatuan ujaran.

Frase

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata yang bersifat nonpredikatif dan mengisi salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Frase dapat juga disebut sebagai kelompok kata yang bukan subjek dan predikat, tetapi dapat menjabat fungsi-fungsi kalimat. Pembentuk frase harus berupa morfem bebas. Jadi konstruksi seperti tataboga atau interlokal bukanlah frase, karena salah satu unsurnya merupakan morfem terikat. Dikatakan nonpredikatif karena hubungan antara unsur pembentuknya tidak berstruktur S-P atau P-O. Disamping itu, berbeda dengan kata majemuk, hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dalam frase cukup longgar, sehingga dapat diselipi kata lain. Misalnya konstruksi nenek saya dapat diselipi nenek dari saya, atau buku humor dapat diselipi buku tentang humor. Perlu juga diingat, karena frase mengisi salah satu fungsi sintaksis, maka salah satu unsur frase itu tidak dapat dipindahkan sendirian. Misalnya kata tidur dalam frase di kamar tidur tidak mungkin dipindahkan.

Frase juga berpotensi menjadi kalimat minor, misalnya sebagai kalimat jawaban. Contoh:

Nekek saya. (Jawaban pertanyaan: Siapa yang tidur di sana?)

Di kamar tidur. (Jawaban pertanyaan : Nenekmu ada di mana?)

Jika kata majemuk memiliki komposisi satu makna baru, maka frase tetap membawa makna bawaannya. Frase meja saya, misalnya mengandung makna ‘saya punya meja’.

Jenis-jenis Frase

1. Frase eksosentrik

Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Karena itu, tidak ada salah satu komponennya yang dapat menggantikan keseluruhan. Misalnya, frase di pasar. Komponen di maupun komponen pasar tidak dapat mengisi fungsi keterangan, misalnya pada kalimat Dia berdagang di atau Dia berdagang pasar.

Frase eksosentrik terdiri dari dua jenis :

a) frase eksosentrik yang bersifat direktif (komponen pertamanya berisi preposisi di, ke, dan dari, dan komponen keduanya berkategori nomina). Misalnya: di pasar, ke Jakarta, dari kayu jati, demi keamanan, dengan gergaji besi, oleh bahaya api, dan lain-lain. Frase direktif disebut juga frase preposisional.

b) eksosentrik yang bersifat nondirektif (komponen pertamanya berupa artikulus seperti si dan sang, atau yang, para, dan kaum, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina, ajektiva, atau verba). Misalnya: si miskin, sang mertua, yang berbaju ungu, para remaja mesjid, kaum cerdik pandai.

2. Frase endosentrik

Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Karena itu, salah satu komponennya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Misalnya frase sedang membaca. Komponen keduanya dapat menggantikan frase itu dalam kalimat : Nenek membaca komik di kamar. Frase ini disebut juga frase modifikatif atau frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai atasan dan yang lain sebagai bahawan.

Dalam kaitan dengan frase endosentrik ini, dari kategori intinya dapat dibedakan beberapa jenis frase, yaitu:

a) Frase nominal, intinya berupa kata benda, misalnya : bus sekolah, kecap manis, karya besar, dan guru muda.

b) Frase verbal, intinya berupa kata kerja, misalnya: sedang membaca, sudah mandi, makan lagi, tidak akan datang

c) Frase ajektiva, intinya berupa kata sifat, misalnya: sangat cantik, indah sekali, merah jambu, kurang baik.

d) Frase numeralia, intinya berupa kata bilangan, misalnya: tiga belas, seratus dua puluh lima, satu setengah juta.

3. Frase koordinatif

Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baik…maupun…., makin…makin…, dan lain-lain). Contoh: sehat dan kuat, buruh atau majikan, makin terang makin baik, baik tua maupun muda, dan lain-lain. Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut parataksis. Misalnya: hilir mudik, tua muda, pulang pergi, sawah ladang, dua tiga hari.

4. Frase apositif

Frase apositif adalah koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, karena itu urutannya dapat dipertukarkan. Misalnya: pak Ahmad, guru saya dapat ditukar menjadi guru saya, pak Ahmad

Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis yang bersifat konstruksi predikatif. Konstruksi klausa terdiri dari Subjek dan Predikat. Klausa belum menjadi kalimat karena konstruksinya belum diberikan intonasi final. Jika frase hanya berpotensi menjadi kalimat minor, maka klausa berpotensi menjadi kalimat mayor. Misalnya : Nenek mandi

Jika predikatnya berbentuk verba transitif, maka objek wajib hadir. Misalnya: Nenek membaca buku. Di samping itu, juga dikenal verba bitransitif, yang memerlukan dua objek sekaligus. Misalnya: Nenek membelikan kakek baju baru. Kakek adalah objek tak langsung, sedangkan baju baru disebut objek langsung.

Dalam konstruksi ini, juga dikenal istilah pelengkap atau komplemen, yaitu bagian dari predikat verba (intransitif) yang melengkapi verba tersebut. Misalnya minyak dalam kalimat Botol itu berisi minyak, dan guru dalam kalimat Nenek dulu ingin menjadi guru. Pelengkap memang tampak mirip dengan objek. Bedanya :

a) objek berada di belakang verba transitif, pelengkap tidak

b) objek dapat dijadikan subjek, pelengkap tidak

Jenis Klausa

a) klausa utama, disebut juga klausa bebas. Sekurang-kurangnya terdiri dari S dan P, karena itu berpotensi menjadi kalimat mayor dengan memberi intonasi final.

b) klausa bawahan, atau klausa terikat. Strukturnya tidak lengkap, unsurnya hanya terdiri dari subjek saja, atau objek saja, atau hanya berupa keterangan saja. Karena itu, tidak berpotensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa bawahan biasanya dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya. Misalnya : ketika kami sedang belajar atau kalau diizinkan oleh ibu, dan lain-lain. Karena itu, klausa ini disebut juga dengan klausa subordinatif.

Berdasarkan kategori unsur segemental yang menjadi predikatnya, klausa dapat dibedakan atas:

a) klausa verbal, predikatnya berkategori kata kerja. Misalnya, nenek mandi, sapi itu berlari, matahari terbit. Klausa ini dibedakan lagi atas klausa transitif (Nenek menulis surat), klausa intransitif (nenek menangis), klausa refleksi (yang predikatnya berupa verba refleksif, misalnya: nenek sedang berdandan, adik sedang mandi, dia sudah bersolek), serta klausa resiprokal (mereka bertengkar sejak kemarin, keduanya bersalaman).

b) Klausa nominal, predikatnya berkategori kata benda. Misalnya, dosen lingistik, satpam bank swasta.

c) Klausa ajektifal, predikatnya berkategori kata sifat. Misalnya: Bumi ini sangat luas, gedung itu tua sekali.

d) Klausa preposisional, predikatnya berupa kata depan. Misalnya, nenek di kamar, dia dari Medan, kakek ke pasar baru.

e) Klausa numeral, predikatnya berupa kata bilangan. Misalnya: gajinya lima jua sebulan, anaknya dua belas orang

Kalimat

Beberapa pengertian kalimat:

a) Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap (Tatabahasa Tradisional)

b) Kalimat adalah ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi cirinya sebagai batas keseluruhannya (Prof. Dr. A.A. Fokker).

c) Kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap (Gorys Keraf).

Jenis kalimat

1) Berdasarkan jenis predikatnya

a) Kalimat verbal (kalimat yang predikatnya kata kerja). Contoh: Mereka sedang berbicara tentang SPMB.

Dalam kelompok ini dibedakan lagi:

(1) kalimat aktif, kalimat yang S-nya melakukan tindakan. Kalimat ini ditandai dengan prefiks me- dan –memper- Contoh: Kami akan membahas soal UN hari ini. Kelompok ini dapat lagi dibedakan atas aktif transitif dan aktif intransitif.

(2) kalimat pasif, kalimat yang S-nya dikenai tindakan. Kalimat ini ditendai dengan prefiks di- dan diper- Contoh: Soal UN akan kami bahas hari ini.

Dalam kaitan ini dikenal lagi istilah aktif anti pasif dan pasif anti aktif, karena berkaitan dengan verba tertentu. Misalnya:

Kakek kecopetan tadi pagi.

Ia tidak menyerupai ibunya.

Masih dalam kaitan dengan verba ini, dibedakan lagi:

(3) Kalimat dinamis, yaitu verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Misalnya:

Mahasiswa itu pulang.

Dia pergi begitu saja.

Kami bercakap-cakap di sana.

(4) Kalimat Statis, yaitu verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau perbuatan. Contoh:

Anaknya sakit keras.

Dia tidur di kursi.

Kambing itu sudah mati.

b) Kalimat nonverbal (predikatnya bukan kata kerja). Contoh :

Mereka bukan penduduk desa ini. (KB)

Anto sangat rajin (KS)

Penduduk Indonesia 210 juta jiwa (Kbil)

Mereka ke pengadilan (Preposisi)

2) Berdasarkan letak predikatnya

a) Kalimat normal (Predikatnya dibelakang subyek), misalnya: Nenek beristirahat.

b) Kalimat invers (Predikat mendahului subjek), misalnya: Diusap-usapnya rambutnya.

3) Berdasarkan jumlah dan kelengkapan unsurnya

a) Kalimat elips, yaitu kalimat kehilangan salah satu atau kedua unsur pusat (inti S dan inti P). Misalnya:

Ke Jakarta.

Pergi ke Belanda

b) Kalimat mayor, kalimat yang klausanya lengkap, sekurang-kurangnya mengandung S dan P. Misalnya: Nenek berlari pagi.

c) Kalimat minor (hanya terdiri satu unsur). Meskipun unsurnya tidak lengkap, tetapi konteksnya diketahui oleh pendengar, misalnya:

Pergi!

Ayah.

Kalimat inti, yaitu kalimat yang hanya terdiri atas dua inti yang merupakan unsur pusat (inti S dan inti P).

Ciri-ciri kalimat inti adalah: 1) terdiri atas dua kata, 2) berintonasi normal, dan 3) bersusunan S – P.

Struktur kalimat inti terdiri dari :

(1) kata benda – kata benda : Ayah dokter.

(2) kata benda – kata kerja : Adik menangis

(3) kata benda – kata sifat : Rambutnya keriting

(4) kata benda – kata bilangan : Sepatunya lima pasang

d) Kalimat Non-Inti (Transformasi), yaitu kalimat inti yang telah mengalami perubahan intonasi, urutan kata, penambahan unsur, pemasifan, pengingkaran, pelesapan, dan penambahan. Contoh:

Adik menangis?

Menangis adik.

Adik menangis di kamar.

Adik tidak menangis.

Karena terlambat makan, adik menangis.

Atau dengan kata lain: Kalimat Inti + Proses Transfotmasi = Kalimat Non-Inti.

e) Kalimat tunggal, yaitu kalimat terdiri dari satu pola (SPOK) Contoh: Bu polisi mengatur lalu lintas di persimpangan.

f) Kalimat majemuk, yaitu kalimat yang terdiri dari dua pola atau lebih. Kalimat majemuk terdiri dari :

(1) kalimat majemuk setara (koordinatif):

(a) setara menggabungkan (menggunakan kata konjungsi dan), misalnya: Pak Dokter memberikan pelayanan imunisasi dan Bu Dokter memeriksa ibu hamil.

(b) setara memilih (menggunakan konjungsi atau), misalnya: Laki-laki atau perempuan sama kedudukannya dalam negara.

(c) setara mempertentangkan (menggunakan konjungsi tetapi, sedangkan, melainkan, dan sebagainya). Contoh: Saya ingin pergi, tetapi Ibu melarang.

(d) setara penegasan (menggunakan konjungsi lagipula). Misalnya: Hari sangat gelap lagipula hujan masih turun.

(e) setara sebab-akibat (menggunakan konjungsi karena, sebab). Contoh: Jalan sangat licin, karena itu ia terjatuh.

(2) kalimat majemuk bertingkat (subordinatif), yaitu kalimat yang hubungan antarpolanya bertingkat. Kalimat majemuk ini ditandai dengan adanya perluasan terhadap salah satu polanya (S, P, O, atau Pelengkap)

(3) kalimat majemuk campuran (Kompleks), yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dengan bertingkat. Contoh: Risa sedang menulis surat dan Reza mewarnai gambar ketika Ayah menelepon Paman sore itu.

Di samping itu, dibedakan lagi kalimat majemuk yang bersifat :

(a) eksplisit, jelas dan ada kata penghubung. Misalnya: Ketika hujan deras saya berangkat ke sekolah.

(b) Implisit, tidak jelas dan tidak ada kata penghubung, contoh: Hujan deras, saya berangkat ke sekolah.

4) Berdasarkan maksud sumber pesan

(a) Kalimat Berita, kalimat yang bernada memberitahukan, contoh: Tempat itu sangat strategis untuk mengembangkan usaha.

(b) Kalimat Perintah, kalimat yang bernada menyuruh melakukan sesuatu, contoh: Jangan masuk!

(c) Kalimat Tanya, kalimat yang membutuhkan jawaban, atau bisa juga kalimat tanya retoris, contoh: Mengapa diam saja?

5) Kalimat Korelatif

Kalimat korelatif adalah kalimat yang dibentuk dari korelasi klausa-klausa berpasangan. Bila salah satu pasangannya tidak hadir, maka kalimat itu tidak lengkap. Karena berbentuk korelatif, maka kalimat ini juga masuk kelompok kalimat majemuk. Misalnya:

Tidak hanya ayah yang sedih atas perangaimu, tetapi juga seisi rumah.

Tidak hanya singgah di tempat itu, bahkan ia juga menginap beberapa hari.

Bukan Riza yang mengambilnya, melainkan Didi.

Makin lama dipandang, makin menarik wajahnya.

Jangankn seribu, seratus perak pun aku tak punya.

Baik sedih maupun duka, kita harus senantiasa bersuyukur.

6) Kalimat Efektif

Kalimat Efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan pembicara/penulis kepada pendengar/pembaca sesuai dengan maksudnya. Syarat-syarat kalimat efektif:

(a) susunan kata sesuai dengan struktur bahasa Indonesia baku.

(b) pikiran yang terkandung lengkap dan utuh

(c) setiap kata berdaya guna dalam kalimat

(d) pilihan kata tepat sesuai dengan makna yang diinginkan

Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran pembicara atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Jenis-jenis modus:

1) Modus indikatif atau deklaratif, yang menunjukkan sikap objektif dan netral

2) Modus optatif, yang menyatakan harapan

3) Modus imperatif, yang menyatakan perintah atau larangan

4) Modus interogatif, yang menyatakan pertanyaan

5) Modus obligatif, yang menyatakan keharusan

6) Modus desideratif, yang menyatakan keinginan dan kemauan

7) Modus kondisional, yang menyatakan persyaratan

Aspek

Aspek adalah cara memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Beberapa jenis-jenisnya adalah:

1) Aspek inseptif (baru mulai) : Ia pun berjalanlah

2) Aspek repetitif (terjadi berulang-ulang) : Ia memukuli pencuri itu.

3) Aspek progresif (sedang berlangsung) : Ia sedang mencuci baju.

4) Aspek perfektif (sudah selesai) : Saya telah menulis surat

5) Aspek imperfektif (berlangsung sebentar) : Saya memukul adiknya.

Berbeda dengan aspek, kala (tensis) adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan dalam predikat. Kala dinyatakan dengan sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan). Kala dalam bahasa Indonesia tidak berbentuk morfemis, tetapi secara leksikal.

Modalitas

Modalitas adalah katerangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal-hal yang dibicarakan atau sikap terhadap lawan bicaranya (perbuatan, keadaan, peristiwa, kemungkinan, keinginan, atau keizinan). Modalitas dinyatakan secara leksikal. Misalnya : mungkin, barangkali, sebaiknya, seharusnya, tentu, pasti, boleh, mau, ingin, dan seyogyanya. Modalitas dapat dikelompokkan atas:

1) modalitas intensional (keinginan, harapan, permintaan, ajakan). Misalnya: Nenek ingin menunaikan ibadah haji.

2) modalitas epistemik (kemungkinan, kepastian, keharusan). Misalnya: Kalau tidak hujan kakek pasti datang.

3) modalitas deontik (keizinan atau perkenanan). Misalnnya: Anda boleh tinggal di sini selamanya.

4) modalitas dinamik (kemampuan). Misalnya: Kita bisa menjadi pemenang kalau mau kerja keras.

Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian tertentu kalimat sehingga perhatian pembaca/pendengar terpusat pada bagian itu. Fokus dilakukan dengan :

1) Memberi tekanan pada kalimat yang difokuskan. Misalnya: Ia yang menelepon saya malam itu. Jika tekanan diberikan pada kata ia, berarti yang melakukan ialah ia, bukan orang lain.

2) Mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan. Misalnya : Hal itu telah disampaikan kepada DPR oleh pemerintah. Jika pelakunya ingin difokuskan, maka kalimat itu diubah susunannnya menjadi: Pemerintah telah menyampaikan hal itu kepada DPR.

3) Menggunakan partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan. Misalnya:

(a) Membaca pun aku belum bisa.

(b) Yang tidak berkepentingan dilarang masuk

(c) Tentang anak-anak itu, biarlah kami urus nanti.

(d) Adalah tidak pantas untuk saling menyalahkan.

4) Mengontraskan dua bagian kalimat. Misalnya:

(a) Bukan dia yang datang, melainkan istrinya.

(b) Ini pensil HB, bukan 2B.

5) Menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden. Misalnya:

(a) Bu Dosen yang cantik itu pacarnya seorang wartawan

(b) Sepeda ayah saya bannya kempes.

Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan. Jenis-jenisnya:

1) diatesis aktif (subyek yang berbuat) : Mereka merampas harga diri kami.

2) diatesis pasif (subyek menjadi sasaran perbuatan): Muka kami ditamparnya.

3) diatesis refleksif (subyek melakukan sesuatu untuk dirinya): Ibu sedang berhias.

4) diatesis resiprokal (subyek terdiri dari dua pihak berbuat tindakan yang berbalasan): Mereka akan mengadakan perjanjian damai.

5) diatesis kausatif (subyek menjadi penyebab terjadinya sesuatu): Paman mencukur kumisnya.

TATARAN SEMANTIK

Semantik adalah bagian tatabahasa yang mempelajari makna kata. Makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem. Sebagian mengatakan bahwa makna sebuah kata baru jelas setelah kata berada dalam konteks kalimat.

Jenis Makna

1) Leksikal

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada kata leksem meski tanpa konteks apapun. Leksem kuda berarti ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’, pensil adalah ‘sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang’, dan lain-lain. Makna leksikal disebut juga makna yang sebenarnya atau makna apa adanya, atau boleh juga disebut makna kamus atau makna bawaan.

2) Gramatikal

Makna Gramatikal adalah makna yang terjadi setelah sebuah leksem mengalami proses gramatikal. Proses itu dapat berupa afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Ber- + baju, misalnya berarti ‘mengenakan baju’, ber + kuda berarti ‘mengendarai kuda’, dan lain-lain.

3) Konteks

Makna konteks adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks tertentu. Misalnya makna jatuh dalam kalimat berikut:

(a) Adik jatuh dari sepeda.

(b) Dia jatuh dalam ujian yang lalu.

(c) Dia jatuh cinta pada adikku.

(d) Kalau harganya jatuh lagi kita akan bangkrut.

Makna konteks dapat juga berkaitan dengan situasi tertentu. Misalnya, kalimat:

Tiga kali empat berapa?

Sebagian besar menjawab ‘dua belas’. Tapi jika dilontarkan kepada tukang foto, mungkin akan dijawab dengan ‘lima ratus’.

4) Makna Referensial dan Non-referensial.

Sebuah kata dapat dirujuk kepada referen tertentu. Misalnya kata kuda adalah kata yang bersifat referensial, karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata seperti dan, atau, karena bersifat non-referensial, karena tidak ada acuannya dalam dunia nyata.

5) Denotasi dan Konotasi

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki eksem. Dengan begitu, makna ini sama dengan makna leksikal.

Makna konotasi adalah makna kedua atau makna tambahan yang berhubungan dengan nilai rasa orang yang berkaitan dengan penggunaan kata itu. Kata seperti kurus, ramping, dan kerempeng, melahirkan

perbedaan tingkat rasa negatif yang berlainan. Demikian juga kata rombongan dan gerombolan, berbeda rasa konotasinya.

6) Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang melekat pada sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Jadi, makna ini sama dengan makna leksikal, makna denotasi, dan makna referensial.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Melati, misalnya diasosiasikan dengan sesuatu yang dianggap ‘suci’, buaya berasosiasi dengan ‘jahat’, merah berasosiasi dengan ‘berani’, dan lain-lain. Makna asosiatif juga berkenaan dengan makna stilistika. Misalnya, rumah, pondok, vila, kondomium, istana, memberikan rasa yang berbeda berdasarkan bentuknya. Makna asosiatif juga berkenaan dengan makna afektif. Kalimat :

Tutup mulutmu dan Mohon diam sebentar, sudah tentu memberi nilai rasa yang berbeda.

Di samping itu, makna ini juga berkaitan dengan makna lokatif, sesuatu yang dipadankan dengan pasangan tertentu. Kata tampan, misalnya, hanya diperuntukkan bagi pria.

7) Makna Kata atau Makna Istilah

Sebuah kata baru jelas maknanya ketika dipasangkan dalam kalimat. Kata tangan dan lengan dianggap sama maknanya. Misalnya:

Tanggannya luka kena pecahan kaca. Atau : Lengannya luka kena pecahan kaca.

Tetapi dalam dunia kedokteran misalnya, lengan dan tangan mengacu pada bagian tubuh yang berbeda. Karena itu, sebuah istilah tetap maknanya sekalipun tidak dipasangkan dalam kalimat.

Relasi Makna

1) Sinonim

Sinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama.

a) Sinonim persis atau lengkap adalah sinonim yang dapat saling menggantikan. Misalnya:

betul = benar

konsisten = taat asas = ajek

efektif = mangkus

efisien = sangkil

realisasi = pelaksanaan = perwujudan = manifestasi = pengejawantahan

Dika menendang bola = Bola ditendang Dika.

b) Sinonim mirip (tidak dapat saling menggantikan)

agung = akbar

besar = makro = kolosal = raya

Meskipun dua buah ujaran bersinonim, tetapi maknanya tidak akan persis sama. Hal ini disebabkan:

(a) faktor waktu

hulubalang (bersifat klasik) komandan (kontemporer)

kempa (klasik) stempel (kontemporer)

(b) faktor tempat

saya (luas) beta (wilayah timur)

(c) faktor keformalan

uang (formal) duit (tak formal)

(d) faktor sosial

saya (umum) aku (akrab)

(e) faktor bidang kegiatan

matahari (umum) surya (sastra)

(f) faktor nuansa makna

membedakan : melihat, melirik, meninjau, mengintip, menonton.

2) Antonim

Antonim artinya kata yang berlawanan makna. Jenis-jenisnya:

a) antonim yang bersifat mutlak

hidup mati

diam bergerak

b) antonim yang bersifat relatif atau bergradasi

besar kecil

jauh dekat

gelap terang

c) antonim yang bersifat relasional

membeli menjual

suami istri

d) antonim yang bersifat hirarkial

tamtama bintara

gram kilogram

3) Homonim

Homonim adalah kata yang sama lafal dan bentuknya, tetapi maknanya berbeda. Misalnya :

buku (ruas) buku (kitab)

bisa (racun) bisa (dapat)

mengurus (menjadi kurus) mengurus (mengatur)

a) Homograf

Homograf adalah kata yang sama bentuk dan ejaannya, tetapi lafal dan maknanya berbeda. Misalnya:

teras – teras (inti)

seret – seret (tersendat)

memerah – memerah (susu)

b) Homofon

Homofon adalah kata yang sama bunyi dan lafalnya, ejaan dan makna berbeda. Misalnya :

tank – tang

bank – bank

sanksi – sangsi

4) Hiponim

Hiponim adalah kata yang maknanya terangkum dalam makna yang lebih luas.

a) Superordinat (makna atas atau luas). Misalnya : bunga

b) Kohiponimi (makna yang lebih sempit). Misalnya: ros, mawar

Relasi Hiponim hanya searah. Jadi mawar berhiponim dengan bunga, tetapi bunga bukan berhiponim dengan mawar, tetapi berhipernim.

5) Polisemi

Polisemi adalah kata yang memiliki banyak makna, tetapi termasuk satu alur pusat. Misalnya: mata berkaitan dengan (sapi, hari, angin, keranjang, kaki, duitan).

Perubahan Makna

Penyebab perubahan makna:

1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

2) Perkembangan sosial budaya

3) Perkembangan pemakaian kata

4) Pertukaran tanggapan indra

Jenis Perubahan Makna

1) Amelioratif

Makna sekarang dirasakan lebih baik atau lebih tinggi dari makna sebelumnya.

perempuan wanita

bini istri, nyonya

2) Peyoratif

Makna sekarang dirasakan kurang baik dibanding makna sebelumnya.

gerombolan kelompok

kaki tangan pembantu

3) Meluas

Cakupan makna sekarang lebih luas dari makna yang dulu.

berlayar, saudara, bapak, ibu, anak, putra, putri

4) Menyempit

Cakupan makna sekarang lebih sempit dibanding makna sebelumnya.

madrasah, sarjana, pendeta, bau

5) Asosiasi

Makna yang timbul karena persamaan sifat.

mengocok, menumbangkan, pelicin, amplop

6) Sinestesia

Makna yang timbul karena pertukaran dua tanggapan indra yang berbeda.

Kata-katanya kasar, ucapannya manis

7) Apelativa

Penyebutan sesuatu berdasarkan:

(1) Onomatope (tiruan bunyi) : cecak, tokek

(2) Perbuatan : kuli tinta (wartawan)

(3) Penemu : ikan mujair, lampu Philips

(4) Tempat : dodol Garut

(5) Bahan : kain sutera, karong goni

(6) Sifat menonjol : si cebol

Gaya Bahasa

Berdasarkan Struktur Kalimat

a) Klimaks (gradasi)

Diurutkan secara periodik, urutan pikirannya semakin meningkat.

Contoh: Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran membuahkan pengalaman, dan pengalaman membuahkan harapan.

b) Antiklimaks

Kalimat yang berstruktur mengendur, diurutkan dari yang penting menuju yang kurang penting.

Pembangunan telah dilancarkan serentak di Ibu Kota, kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa di seluruh Indonesia.

c) Paralelisme

Berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.

Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.

d) Antitesis

Mengandung gagasan yang bertentangan dengan menggunakan kata atau kelompok kata yang berlawanan.

Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya.

e) Repetisi

Perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam konteks sosial yang sesuai.

(1) Epizeuksis (repetisi yang bersifat langsung) : Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita.

(2) Tautotes (repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi): Kau menuding aku, aku menuding kau, kau dan aku menjadi seteru.

(3) Anafora (perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat berikutnya): Bahasa baku berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan masyarakat bahasa yang berbeda dialeknya. Bahasa baku akan mengutangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis.

(4) Epipora (perulangan kata pada akhir baris atau kalimat) : Bumi yang kaudiami adalah puisi. Laut yang kaulayari adalah puisi. Udara yang kauhirupi adalah puisi.

(5) Simploke (repetisi pada awal dan akhir baris secara berturut):

Kamu bilang hidup ini brengsek, aku bilang biarin

Kamu bilang hidup ini nggak punya arti, aku bilang biarin

Kamu bilang aku nggak punya kepribadian, aku bilang biarin

(6) Mesodiplosis (repetisi di tengah baris atau beberapa kalimat berurutan) :

Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon

Babu-babu jangan mencuri tulang ayam goreng

Para pembesar jangan mencuri bensin

Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri

(7) Epanalepsis (pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama):

Kita gunakan pikiran dan perasaan kita

Kami cintai perdamaian karena Tuhan Kami

Berceritalah padaku, ya malam, berceritalah

Kuberikan setulusnya, apa yang harus kuberikan.

(8) Anadiplosis

Kata atau frase terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.

Dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara

Dalam mutiara: ah tak ada apa

Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati

Dalam hati: ah tak apa jua yang ada

Dalam syair ada kata, dalam kata ada makna

Dalam makna: mudah-mudahan ada Kau!

Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna

1) Gaya Bahasa Retoris

a) Aliterasi

Perulangan konsonan yang sama :

Takut titik lalu tumpah

Keras-keras kerak kena air lembut juga

b) Asonansi

Perulangan bunyi vokal yang sama :

Ini muka penuh luka siapa punya

Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

c) Anastrof atau inversi

Pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat:

Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.

d) Apofasis atau Presterisio

Menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.

Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa Anda pasti membiarkan Anda menipu diri sendiri.

Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah.

e) Apostrof

Pengalihan amanat dari hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.

Hai kamu dewa-dewa yang ada di syurga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.

f) Asindeton

Acuan yang bersifat padat di mana kata, frase, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung.

Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

g) Polisendeton

Kebalikan dari Asindeton, frase, kata, atau klausa yang berurutan dihubungkan dengan kata sambung:

Dan ke manakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan angin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

h) Kiasmus

Terdiri dari dua bagian, baik frase atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunannya terbalik bila dibandingkan dengan frase atau klausa lainnya.

Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.

i) Elipsis

Menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi dan ditafsirkan oleh pembaca, sehingga struktur kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.

Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat, tetapi psikis ….

j) Eufemisme

Ungkapan yang lebih halus rasanya.

Anak Saudara memang tidak secepat anak-anak lain mengikuti pelajaran (bodoh).

k) Litotes

Menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.

Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.

Apa yang kami hadiahkan ini sebenarnya tidak berarti bagimu.

l) Histeron Proteron

Kebalikan dari suatu yang wajar. Disebut juga dengan hiperbaton.

Kereta melaju cepat didepan kuda yang menariknya.

Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk berteduh.

Bila sudah berhasil mendaki karang terjal, sampailah ia di tepi pantai yang luas dan pasirnya putih.

m) Pleonasme dan Tautologi

Mempergunakan kata yang lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Bila kata yang berlebihan dihilangkan artinya tetap utuh, disebut dengan Pleonasme. Contoh:

Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri.

Darah yang merah itu melumuri seluruh tubuhnya.

Disebut Tautologi, jika kata yang berlebihan itu mengulang kembali gagasan yang sudah disebut sebelumnya. Contoh:

Ia tiba jam 20.00 waktu setempat.

Globe itu bundar bentuknya.

n) Perifrasis

Mirip dengan Pleonasme. Bedanya, kata yang berlebihan tersebut dapat diganti dengan satu kata saja.

Ia telah beristirahat dengan damai (= mati)

Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak (= ditolak)

o) Prolepsis atau Antisipasi

Mepergunakan lebih dulu sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya.

Almarhum pada waktu itu mengatakan bahwa ia tidak mengenal orang itu.

p) Erotesis atau Pertanyaan Retoris

Tidak menghendaki jawaban, hanya sekedar memperoleh efek yang mendalam.

Herankah Saudara kalau harga-harga menjadi tinggi?

q) Silepsis dan Zeugma

Menggunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata yang pertama.

Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

Fungsi dan sikap bahasa.

Dalam Zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya.

Dengan membelalakkan mata dan telinganya, ia mengusir orang itu.

Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat.

r) Koreksio atau Epanortosis

Mula-mula menegaskan sesuatu, tapi kemudian memperbaikinya.

Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.

s) Hiperbol

Mengandung pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan suatu hal.

Kemarahanku menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak.

t) Paradoks

Mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.

Musuh sering merupakan kawan yang baik.

Ia mati kelaparan di tengah kekayaan yang berlimpah.

u) Oksimoron

Menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan, atau mengandung pertentangan dengan menggunakan kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Sifatnya lebih tajam dari Paradoks.

Keramahtamahan yang bengis.

Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar.

2) Gaya Bahasa Kiasan

a) Persamaan atau Simile

Perbandingan yang bersifat eksplisit, langsung menyatakan sesuatu dengan hal lain, dengan menggunakan kata pembanding : seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, serupa, dan sebagainya.

Kikirnya seperti kepiting batu

Matanya seperti bintang timur

b) Metafora

Analagi yang membandingkan dua hal secara langsung dalam bentuk yang singkat, tanpa menggunakan kata pembanding.

Perahu itu menggergaji ombak

Mobilnya batuk-batuk

Pemuda adalah bunga bangsa

c) Alegori, Parabel, dan Fabel

Alegori adalah cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ditarik dari bawah permukaan cerita.

Parabel (parabola) adalah kisah singkat dengan tokoh (biasanya) manusia yang selalu mengandung tema moral yang ada kaitannya dengan kitab suci.

Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang dan makhluk tidak bernyawa yang bertindak seolah-olah seperti manusia. Tujuannya untuk menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti.

d) Personifikasi dan Prosopopeia

Menggambarkan benda mati seolah-olah memiliki sifat manusia.

Angin yang meraung di tengah malam itu menambah ketakutan kami.

Kulihat ada bulan di kotamu, lalu turun di bawah pohon jambu di depan rumahmu, barangkali ia menyeka mimpimu.

e) Alusi

Mensugesti kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Biasanya merupakan referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa, tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau karya sastra yang terkenal.

Bandung adalah Paris Jawa.

Kartini kecil itu turut memperjuangkan haknya.

Alusi sekurang-kurangnya memiliki syarat:

(1) dikenal oleh pembaca

(2) membuat gagasan menjadi lebih jelas

f) Eponim

Penggunaan nama untuk menunjukkan suatu sifat tertentu.

Hercules kekuatan

Helen dari Troya kecantikan

g) Epitet

Acuan yang menunjukkan suatu sifat.

Lonceng pagi ayam jantan

Putri malam bulan

Raja rimba singa

h) Sinekdoke

(1) pars pro toto, menyebut sebagian untuk maksud keseluruhan.

Satu kepala dikenakan sumbangan Rp. 1.000,-

(2) Totem pro parte, menyebut keseluruhan untuk maksud sebagian.

Indonesia mengalahkan Malaysia di Final Piala Asia 4 – 3.

i) Metonimia

Menggunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena pertalian yang dekat, baik berupa hasil penemuan, pemilik barang, pertalian sebab-akibat, dan lain-lain.

Ia membeli sebuah Chevrolet.

Ialah yang menyebabkan air mata yang gugur.

j) Antonomasia

Pengunaan gelar resmi atau jabatan untuk menggantikan nama diri.

Yang Mulia tidak dapat menghadiri pertemuan ini.

Seminar itu dibuka oleh putra mahkota.

k) Hipalase

Kebalikan dari suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan.

Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya).

Ia masih menuntut almarhumah maskawin dari Sinta putrinya (ia masih menuntut maskawin dari almarhumah…..)

l) Ironi, Sinisme, dan Sarkasme

Ironi adalah acuan untuk mengatakan sesuatu dengan maksud yang berlainan.

Saya tahu Anda adalah gadis yang paling cantik di dunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat.

Sinisme adalah ironi yang lebih kasar sifatnya.

Memang Anda adalah gadis yang tercantik se antero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagad ini.

Sarkasme lebih kasar lagi dari Ironi dan Sinisme, semacam acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir.

Kelakuanmu memuakkanku.

Lihat si cantik itu (maksudnya: si jelek).

m) Satire

Ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik mengenai kelemahan manusia.

n) Inuendo

Sindiran dengan mengecilkan keadaan yang sebenarnya, tampak tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu.

Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan minum.

Ia menjadi kaya raya karena sedikit melakukan komersialisasi jabatannya.

o) Antifrasis

Penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri.

Lihatlah, sang raksasa telah tiba (maksudnya si Cebol)

p) Pun atau Paronomasia

Kiasan yang menggunakan kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.

Tanggal dua gigi saya tanggal dua.

Engkau orang kaya, ya kaya monyet

MENULIS

A. Kebahasaan

Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Simbol bunyi yang digunakan bersifat arbitrer. Bahasa mencakup dua komponen: bentuk dan makna. Aspek bentuk terdiri atas unsur segmental dan unsur suprasegmental. Makna sebuah kata tergantung kepada konvensi masyarakat bahasa yang bersangkutan.

Fungsi Bahasa :

(1) untuk menyatakan ekspresi diri

(2) alat komunikasi

(3) alat untuk mengadakan interaksi dan adaptasi sosial

(4) alat untuk melakukan kontrol sosial

Bahasa sebagai medium komunikasi hanya akan efektif, jika penutur mempunyai kecakapan bahasa. Kecakapan itu adalah:

(1) penguasaan terhadap perbendaharaan kata

(2) penguasaan kaidah-kaidah sintaksis

(3) kemampuan memilih gaya pengungkapan

(4) penguasaan terhadap tingkat penalaran (logika)

B. Kalimat Efektif

Syarat-syarat kalimat efektif:

(1) dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulis

(2) mampu menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar

Ciri-ciri kalimat efektif :

(1) Hanya memiliki kesatuan gagasan

Yang dimaksud dengan kesatuan gagasan adalah kalimat yang hanya mengandung satu ide pokok. Bila dua buah kalimat yang tidak mempunyai hubungan kesatuan gagasan dipadukan, maka akan rusaklah kesatuan pikiran kalimat itu. Secara praktis sebuah kesatuan gagasan diwakili oleh subyek, predikat + objek. Kesatuan yang diwakili oleh S, P atau O itu dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan. Contoh:

i) Kita menyadari bahwa KBK hanya akan berhasil jika didukung tenaga edukatif yang profesional, sistem administrasi kurikulum yang memadai, dan kelengkapan sarana pembelajaran yang cukup. (Kesatuan Tunggal)

ii) Dia telah memesan Formulir SPMB pagi tadi, dan mulai mempersiapkan segala kelengkapan berkasnya. (Kesatuan Gabungan)

iii) Kamu boleh menyiapkan sendiri sarapanmu, atau pesan saja di kantin depan. (Kesatuan Pilihan).

iv) Sudah dua tahun ia bekerja di perusahaan itu, tetapi sampai sekarang ia tidak merasa senang dengan pilihannya itu. (Kesatuan yang mengandung pertentangan).

(2) Koheren

Koheren artinya padu, ada hubungan yang timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Kesalahan yang paling sering merusak koherensi adalah penempatan kata depan, kata penghubung, dan keterangan aspek yang tidak sesuai.

(3) Variatif

Keanekaragaman bentuk bahasa diyakini dapat memelihara daya tarik sebuah teks. Variasi dapat dibentuk melalui :

(ii) variasi sinonim kata

(iii) variasi panjang pendeknya kalimat

(iv) variasi penggunaan bentuk me- dan di-

(v) varisi posisi fungsi kata dalam kalimat

(4) Paralelisme

Paralelisme adalah upaya menempatkan gagasan-gagasan yang sama pentingnya dan sama fungsinya dalam suatu struktur/konstruksi gramatikal yang sama. Misalnya, bila salah satu gagasan ditempatkan sebagai kata benda, maka gagasan yang lain juga harus ditempatkan sebagai kata benda. Perhatikan contoh berikut :

Apabila pelaksanaan pembanguna lima tahun kita jadikan titik tolak, maka menonjollah beberapa masalah pokok yang minta perhatian dan pemecahan. Reorganisasi administrasi departemen-departemen. Ini yang pertama. Masalah pokok yang lain yang menonjol ialah (mengentikan) pemborosan dan penyelewengan. Ketiga karena masalah pembanguna ekonomi yang kita jadikan titik tolak, maka kita juga ingin mengemukakan faktor lain. Yaitu bagaimana memobilisir potensi nasional secara maksimal dalam partisipasi pembangunan nasional (Kompas).

Wacana di atas sebaiknya ditulis:

Reorganisasi administrasi departemen, pengentian pemborosan dan penyelewengan, serta mobilisir potensi nasional, merupakan masalah pokok pembangunan nasional. (Semuanya kata benda).

Atau :

Mengorganisir administrasi departemen, menghentikan pemborosan dan penyelewengan, serta memobilisasi potensi nasional, merupakan masalah pokok pembangunan nasional. (Semuanya kata kerja).

C. Penalaran atau Logika

Penalaran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubungkan evidensi-evidensi menuju suatu kesimpulan yang masuk akal. Tulisan atau ujaran yang jelas, terarah dan sistematis menandakan cara berpikir yang logis. Penalaran dilakukan dengan :

a. Pemberian Definisi

Definisi atau batasan merupakan kunci berpikir yang logis. Definisi dibuat untuk membentuk kesepakatan makna sebelum digunakan dalam proses semantis yang lain, sehingga tidak menimbulkan salah paham. Definisi dapat dilakukan dengan:

1) definisi sinonim kata (pembatasan pengertian)

2) definisi etimologi kata (asal-usul kata)

3) definisi logis (membedakan kata dengan genusnya, atau mengembalikan ke makna leksikalnya)

b. Generalisasi

Generalisasi adalah suatu pernyataan yang mengatakan bahwa apa yang benar mengenai beberapa hal yang semacam, berlaku pula untuk kebanyakan peristiwa atau hal yang sama. Misalnya, generalisasi berdasarkan pengalaman:

1) semua logam akan memuai jika dipanaskan, atau

2) minum kopi pada malam hari dapat menyebabkan sulit tidur

Jenis-jenis Penalaran:

1. Deduksi

Penalaran ini adalah menari kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan umum yang dihubungkan dengan premis atau pernyataan umum. Penalaran Deduksi terdiri dari:

a. Deduksi biasa

Rumusnya adalah:

P1 A = B

P2 B = C

K A = C

Contoh:

P1 : Pesawat terbang adalah kendaraan bermotor

P2 : Kendaraan bermotor membutuhkan bahan bakar

K : Pesawat terbang membutuhkan bahan bakar

b. Silogisme

Rumusnya :

PU Semua A = C

PK C = A

K C = B

Silogisme dibedakan atas :

1) Silogisme positif, yaitu silogisme yang kedua premisnya positif, tidak mengandung kata-kata ingkar seperti tidak dan bukan. Contoh:

PU Semua profesor pandai (A = C)

PK Habibie adalah profesor (C = A)

K Habibie pandai (C = B)

2) Silogisme negatif, yaitu silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif, karena itu, kesimpulannya juga bersifat negatif.

PU Semua penderita penyakit paru-paru tidak boleh merokok

PK Sukarjo penderita penyakit paru-paru (C = A)

K Sukarjo tidak boleh merokok (C = B)

3) Entimen, yaitu silogisme yang disingkat. Rumusnya :

C = B karena C = A

Contoh:

BJ Habibie pandai karena Habibie profesor.

Sukarjo tidak boleh merokok karena Sukarjo penderita penyakit paru

4) Silogisme salah, yaitu silogisme yang :

PU atau PK tidak universal

Tidak terdapat PU, karena keduanya PK

PK berupa C = B

1. Induksi

Penalaran atau penarika kesimpulan dari premis khusus menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran ini dibedakan atas:

a. Generalisasi, yaitu penarikan kesimpulan dari beberapa premis khusus. Contoh :

P1 : Besi adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.

P2 : Tembaga adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.

P3 : Seng adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.

P4 : Aluminium adalah sejenis logam yang akan memuai jika dipanaskan.

K : Semua logam akan memuai jika dipanaskan

b. Analaogi, yaitu penarikan kesimpulan berdasarkan sifat. Contoh: Kota A dan Kota B mempunyai banyak persamaan. Misalnya: persamaan sosial budaya, suhu, tingkat ekonomi, dan jumlah penduduk. Dari persamaan sifat itu dapat ditarik kesimpulan

K : Apa yang terjadi di kota A, akan terjadi di kota B.

c. Sebab – akibat

Sebab : Adik sakit

Akibat : Adik tidak pergi sekolah

Kesimpulan : Orang sakit tidak pergi sekolah

d. Akibat – sebab

Akibat : Adik kurus

Sebab : Adik cacingan

Kesimpulan : Orang yang cacingan badannya kurus

D. Paragraf

Paragraf adalah kesatuan yang lebih tinggi dari kalimat yang terdiri dari himpunan kalimat-kalimat yang bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Sebuah paragraf sekurang-kurangnya harus memenuhi syarat:

c) Hanya mengandung satu pikiran utama.

d) Kesatuan (Unity): Semua kalimat yang membangun alinea itu secara bersama-sama menyatakan satu hal, satu tema tertentu.

e) Pikiran utama didukung oleh beberapa pikiran penjelas.

f) Koherensi: Kekompokan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat lain yang membentuk alinea itu

g) Harmonis secara semantis dan gramatis.

Jenis-jenis paragraf

1) Deduktif

Kalimat pokok terletak pada awal paragraf, kemudian disusul uraian yang terperinci.

2) Induktif

Paragraf dimulai dengan uraian atau argumentasi, kemudian ditutup dengan kesimpulan. Jadi, kalimat pokok terletak pada bagian akhir paragraf.

3) Campuran

Kalimat pokok terletak di awal paragraf, kemudian ditegaskan lagi pada bagian akhir.

4) Narasi-Deskriptif

Tidak terdapat kalimat kalimat khusus yang menjadi kalimat topik, karena tersirat dalam keseluruhan kalimat yang membentuk paragraf itu. Misalnya wacana berbentuk deskripsi dan narasi.

Pola Pengembangan Paragraf

1) Klimaks dan Anti-klimaks

Pengembangan Klimaks dimulai dengan memperinci satu gagasan awal menuju ke gagasan lain yang lebih tinggi kedudukannya. Contoh :

Bentuk traktor mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Di masa kejayaan mesin uap, ada traktor yang dijalankan dengan sistem uap. Perusahaan Caterpillar kemudian merancang traktor yang bentuknya seperti tank, yaitu traktor yang menggunakan roda rantai. Ford kemudian mengembangkan traktor untuk pengelolaan pertanian. Jepang yang tidak mau kalah dengan menciptakan padi traktor yang bentuk dan fungsinya semakin berkembang.

2) Sudut pandang

Sudut pandang adalah posisi seorang pengarang dalam melihat sesuatu. Pengembangan seperti ini disebut juga pengembangan urutan ruang. Misalnya:

Di antara daun kayu tampak kepada mereka tebing itu turun ke bawah; di kakinya tegak pondok, sunyi-mati. Di bawahnya kedengaran sebentar-sebentar sapi mendengus. Dari celah dinding pondok keluar cahaya yang kuning merah. Di keliling pondok itu tertegak pedati, ketiganya sunyi.

3) Perbandingan dan Pertentangan

Hubungan perbandingan dan pertentangan adalah suatu cara menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua hal atau objek yang bertolak dari segi tertentu. Hubungan perbandingan menonjolkan kesamaannya, sedangkan hubungan pertentangan menonjolkan perbedaannya. Contoh :

Vitamin yang ditambahkan pada sabun mandi umumnya vitamin A, vitamin C, dan vitamin E. Seperti diketahui, vitamin C larut dalam air, sedangkan vitamin A dan E tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak. Dengan mengetahui sifat kelarutan tersebut, agaknya sukar dipahami bagaimana vitamin-vitamin yang disebutkan itu—yang dikandung dalam sabun—sempat terserap oleh kulit.

4) Analogi

Analogi adalah perbandingan yang sistematis antara dua hal yang berbeda, tetapi dengan memperlihatkan kesamaan segi atau fungsi dari keduanya, sekedar sebagai ilustrasi. Tujuannya untuk membandingkan suatu hal yang kurang dikenal dengan sesuatu yang dikenal umum. Misalnya:

Awan dari ledakan bom itu, membentuk suatu cendawan raksasa.

5) Pemberian contoh

Untuk mengkonkritkan hal yang bersifat abstrak dilakukan dengan pemberian contoh. Digunakan sekedar untuk menjelaskan maksud, bukan untuk membuktikan pendapat. Contoh yang dipilih terutama yang berkaitan dengan pengalaman pribadi. Contoh:

Hasil teknologi Barat, tidak serta merta sesuai untuk bumi Timur. Misalnya, Indonesia pernah mengimpor gerbong-gerbong kereta api dari Perancis. Bentuknya mentereng dan sebagian

dilengkapi dengan AC. Padahal gerbong itu hanya digunakan untuk mengangkut para petani dari dusun ke kota. Ternyata publik Indonesia belum cukup dewasa untuk mempergunakan gerbong-gerbong itu dengan semestinya.

6) Proses

Proses merupakan suatu urutan dari tindakan untuk menciptakan sesuatu. Tahap demi tahap proses diurutkan secara kronologis, sehingga pembaca dapat memahaminya dengan jelas. Contoh:

Gemini 7 sudah berhari-hari berada dalam peredarannya, menunggu lintasannya sama dengan Gemini 6 yang akan diluncurkan. Gemini 6 menyusul Gemini 7 sedikit demi sedikit. Setelah satu kali putaran, Gemini 6 menghidupkan roketnya untuk menghapuskan pengaruh hambatan udara. Sementara itu, dilakukan koreksi arah supaya bidang yang dilintasi keduanya lebih tepat sama. Dengan berkali-kali mengadakan pembentukan arah, pengukuran jarak, dan percepatan, akhirnya bertemulah dengan Gemini 7.

7) Sebab akibat

Sebab bertindak sebagai gagasan utama, akibat sebagai perinciannya. Dapat juga sebaliknya. Contoh:

Dalam tekanan mental yang demikian hebat, terjadilah G30S. Akibatnya, terjadi kegoncangan hebat dalam sendi-sendi kehidupan. Suara hati yang tertindas, membersit ke luar dan menjadi banjir besar menentang sendi-sendi lama. Lahirlah angkatan baru yang berjuang atas dorongan hati nurani.

8) Klasifikasi

Klasifikasi adalah proses mengelompokkan hal-hal yang dianggap mempunyai kesamaan tertentu. Contoh:

Bahasa Melayu tidak cukup dibagi atas bahasa Melayu tinggi dan bahasa Melayu rendah. Tidak juga dapat dikelompokkan atas bahasa Melayu bangsawan, dagang, atau Melayu dalam. Juga tak cukup dibagi atas bahasa Melayu buku dan bahasa percakapan. Bahasa Melayu percakapan pun banyak juga jenisnya.

9) Pemberian Definisi Luas

Pemberian Definisi Luas adalah usaha penulis untuk memberikan keterangan terhadap suatu istilah atau hal melalui rangkaian kalimat yang membentuk sebuah alinea. Misalnya:

Demokrasi biasanya diterjemahkan sebagai kedaulatan rakyat, yang diartikan sebagai pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi dalam arti ini hanya menggambarkan suatu segi, sedangkan demokrasi dalam arti yang sebenarnya mempunyai makna yang lebih luas. Demokrasi pada hakekatnya berupa suatu mentalitas untuk membina suatu kehidupan dalam masyarakat, mentalitas dalam arti cara berpikir, bersikap dan berbuat.

A. Kutipan

Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari orang lain. Kutipan terdiri dari kutipan langsung dan kutipan tidak langsung (kutipan isi). Prinsip mengutip adalah:

1) Jangan mengadakan perubahan

2) Bila terdapat kesalahan (baik dalam ejaan maupun ketatabahasaan), penulis tidak boleh memperbaikinya.

3) Bagian yang dianggap tidak penting, dapat dihilangkan sepanjang tidak mengakibatkan perubahan makna. Penghilangan bagian kutipan ditandai dengan tiga titik berspasi. Jika unsur yang dihilangkan terdapat pada akhir kalimat, ditambahkan satu titik lagi. Jika bagian yang dihilangkan terdiri dari satu alinea atau lebih, dinyatakan dengan titik berspasi sepanjang satu baris halaman. Bila menggunakan tanda kutip, bagian titik tersebut dimasukkan dalam bagian tanda kutip.

Cara mengutip:

a) Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris :

(1) kutipan diintegrasikan langsung dengan teks

(2) jarak antara baris dua spasi

(3) bagian kutipan diapit dengan tanda kutip

(4) diakhiri dengan penanda footnote atau tanda kurung berisi nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman.

b) Kutipan langsung lebih dari empat baris :

(1) kutipan dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi

(2) jarak antara baris satu spasi

(3) boleh tidak diapit tanda kutip

(4) seluruh bagian kutipan dimasukkan 5 – 7 ketukan. Bila bagian itu dimulai dengan paragraf baru, baris pertama juga dimasukkan 5 – 7 ketukan.

(5) diakhiri dengan penanda footnote atau tanda kurung berisi nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman.

c) Kutipan tak langsung :

(1) diintegrasikan dengan teks

(2) jarak antara baris dua spasi

(3) tidak diapit tanda kutip

(4) diakhiri dengan penanda footnote atau tanda kurung berisi nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman.

B. Catatan Kaki

Catatan kaki adalah keterangan tambahan dari teks yang ditempatkan pada kaki halaman teks. Penempatan pada catatan kaki bertujuan untuk memelihara kepaduan paragraf. Hubungan teks dengan catatan kaki ditunjukkan melalui nomor penunjukkan berurut, atau dapat juga menggunakan tanda asterik (*) yang ditempatkan satu spasi di atas baris teks. Catatan kaki (footnote) berfungsi untuk:

(1) menyusun pembuktian, mengkaitkan dengan kebenaran yang dibuat oleh penulis lain

(2) menyatakan utang budi (atas kebenaran yang dipinjam dari orang lain)

(3) menyampaikan keterangan tambahan untuk memperkuat uraian di luar persoalan yang diperkenankan oleh laju teks.

(4) merujuk bagian lain dari teks, baik yang sudah disebutkan maupun yang belum disebutkan

Cara membuat catatan kaki:

(1) referensi kepada buku dengan seorang pengarang :

(a) nama pengarang ditulis lengkap, tidak dibalik

(b) antara nama pengarang dan judul menggunakan tanda koma, bukan titik sebagaimana daftar pustaka, antara judul buku dengan dan data publikasi tidak ada titik atau koma

(c) tempat dan tahun terbit ditempatkan dalam tanda kurung, nama penerbit tidak disertakan

Contoh:

_________

12 Uli Kozok, Warisan Leluhur Sastra Lama dan Aksara Batak (Jakarta, 1999), hal. 75.

(2) referensi kepada buku dengan dua atau tiga pengarang

Nama penerbit dimasukkan. Antara nama penerbit dan tempat diberi titik dua. Selebihnya sama dengan sebelumnya. Contoh:

_______

7 R. Ibrahim, D. Hardjito, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: Depdikbud, 1984), hal. 82 – 84.

(3) referensi kepada buku dengan banyak pengarang

Hanya nama pengarang pertama yang disebut, yang lain diganti dengan at al., antara nama dengan et al. dan antara et al. dengan judul buku diberi tanda koma. Contoh:

________

3 Alton Moris, et al., College English (New York, 1964), hal. 21.

(4) referensi kepada buku dengan edisi yang mengalami perbuahan

keterangan tentang edisi ulang atau edisi revisi diletakkan dalam kurung sebelum tempat terbit, antara tempat terbit dan keterangan diberi tanda titik koma. Contoh:

_____

6 H.A. Gleason, An Introduction to Descriptive Linguistics (rev.ed; New York, 1961), hal. 62.

(5) buku yang lebih dari satu jilid

keterangan tentang nomor jilid ditempatkan dalam kurung sebelum tempat terbit, nomor jilid dengan angka Romawi, nomor halaman dengan angka Arab. Contoh:

_____

2 A.H. Lightstone, Concepts of Calculus (Vol. I; New York: Harper & Row, 1966), hal 75.

(6) sebuah edisi dengan beberapa orang pengarang

_______

5 Mursal Esten, ed., Kritik Sastra (Bandung, 1988), hal. 18 – 21.

(7) buku terjemahan

Pengarang asli ditempatkan di depan, penerjemah ditempatkan setelah judul buku, dipisahkan dengan tanda koma. Contoh:

______

3 Multatuli, Max Havelaar, terj. H.B. Jassin (Djakarta, 1972), hal. 51.

(8) artikel dalam anotologi

Judul artikel dan judul buku dicantumkan, juga nama penulis dan editornya. Contoh:

______

8 Rizanur Gani, “Sastra Kontekstual,” Kritik Satra, ed. Mursal Esten (Bandung, 1988), hal. 7.

(9) artikel dalam majalah

Nomor jilid ditempatkan sesudah nama majalah. Contoh:

_____

14 Ny. H. Soebadio, “Penggunaan Sansekerta dalam Pembentukan Istilah Baru,” Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, I (April, 1963), hal. 47 – 49.

(10) artikel dalam harian

Bila nama pengarang jelas, dimulai dengan nama penulis artikel itu. Jika tidak, cukup diisi dengan nama rubrik dalam harian itu. Contoh:

21 Mangunwijaya, “Sastra Pembebasan,” Kompas, 21 Mei, 1984, hal. 5.

Atau :

21 Tajuk Rencana dalam Kompas, 21 Mei, 1984, hal. 5.

C. Daftar Pustaka

1. Dengan seorang pengarang

Keraf, Gorys. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

2. Dengan dua atau tiga pengarang

Oliver, Robert T., and Rupert Cortright. 1958. New Training for Effective Speech. New York: Henry Holt and Company, Inc.

3. Dengan banyak pengarang

Sidarta, Myra D., et al. 1984. Feminisme dalam Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

4. Edisi yang mengalami perubahan

Gleason, H.A. 1961. An Introduction to Descriptive Linguistics. Rev.ed. New York: Winston.

5. Lebih dari satu jilid

Hakim, Lukman. 1982. Matematika. Jil. 2. Jakarta: Djambatan.

6. Edisi karya beberapa orang pengarang

Esten, Mursal, ed. 1988. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

7. Artikel dalam majalah

Kridalaksana, Harimurti. “Leksikostatistik Bahasa Nusantara,” Madjalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, I: 323, April, 1963.

8. Terjemahan

Multatuli. 1972. Max Havelaar, terj. H.B. Jassin. Jakarta: Djambatan.

D. Sistematika Karya Ilmiah

E. D

MODUL BAHASA INDONESIA STIE MATERI 2

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena selain digunakan sebagai alat

komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara

tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat

dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami infrormasi di segala aspek

kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut,

bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan

penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan

media tersebut secara baik dan benar. Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika

berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut di gunakan, dalam hal ini kita selaku warga

Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia

yang baik dan benar. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam

keseharian Masyarakat sehingga proses penggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan

secara baik dan benar.

                                               Tujuan

a. Mahasiswa/i mampu menerapakan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia

b. Mahasiswa/i memahami Perkembangan Ejaan

c. Mahasiswa/i memahami pengertian dan Ruang Lingkup Ejaan Yang

Disempurnakan

Masa lalu sebagai bahasa Melayu

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari

cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua

franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.

Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui memakai bahasa Melayu

(sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima prasasti kuna yang

ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu

yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari

cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan

pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa [10]  dan Pulau Luzon.[11] Kata-kata

seperti samudra, istri, raja, putra, kepala, kawin, dankaca masuk pada periode hingga abad

ke-15 Masehi.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik

(classical Malay atau medieval Malay). Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang

perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di

kalangan keluarga kerajaan disekitar  Sumatera, Jawa, dan  Semenanjung Malaya.

Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami

oleh semua pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak

dari Nusantara yang menjadi juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam

sejarah ini adalah mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi,

sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata

bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi

seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini.

Proses penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.

Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda, Spanyol, dan Inggris

meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat pengguna bahasa Melayu.

Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan

sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun, meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda

terutama banyak memberi pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam

upacara dan kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak,

polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.

Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat laun dipakai oleh penutur

bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang mulai intensif di bawah penjajahan

Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan

perniagaan dan keperluan sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan

cukong.

Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19

menyatakan bahwa bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling

penting di "dunia timur".[12] Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai

varian lokal dan temporal.

Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara

bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi

proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya

di Manado, Ambon, dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga

menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu

Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai bahasa pengantar bagi

beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak akhir abad ke-19).[13] Varian-varian

lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti bahasa.

Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari

istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahasa

Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged,

sama tinggi dengan bahasa-bahasa internasional di masa itu, karena memiliki kaidah dan

dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.

Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat paling sedikit dua kelompok

bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara: bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan

tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar.

Bahasa ini dapat dikatakan sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa

kedua atau ketiga. Kata-kata pinjaman.

Ejaan van Ophuijsen

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang

dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun

ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama

ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari

ejaan ini yaitu:

1.     Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan

tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis

huruf y seperti dalam Soerabaïa.

2.     Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.

3.     Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.

4.     Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-

kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.

Ejaan Republik

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini

juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:

1.     Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.

2.     Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.

3.     Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.

4.     Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang

mendampinginya.

Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-

tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik

Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD,

ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin

dibakukan.

    Perubahan:

Indonesia

(pra-

1972)

Malaysia

(pra-1972)Sejak 1972

Tj ch c

Dj J j

Ch kh kh

Nj ny ny

Sj sh sy

J y y

oe* u u

Peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan

    bahasa Indonesia

1.         Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang

diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada

tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel,

seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun

memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan

masyarakat luas.

2.       Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya.

Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan

bahasa Indonesia.[17]

3.       Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa

Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.

4.       Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya

sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

5.       Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

6.       Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil

kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia

telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.

7.       Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu

pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

8.       Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan

Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

9.       Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II

di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus

menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan

sebagai bahasa negara.

10.    Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan

penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan

di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

11.    Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman

Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan

Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

12.    Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di

Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini

selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak

tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

13.    Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta.

Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55.

Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus

lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan

Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa

Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.

14.    Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di

Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh

Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei

Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu

ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan

Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata

Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

15.    Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di

Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari

mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia,

Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga

Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.

16.    Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel

Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

2.1 Pengertian

Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan

menggunakan huruf, Kata, dan tanda baca sebagai sarananya.Batasan tersebut menunjukan

pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan

huruf, suku kata, atau kata; sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas

dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.

Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan

dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi

pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah

rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudi mematuhi

rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira

bentuk hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.

Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan (EYD). EYD

mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan ketiga dalam sejarah bahasa

Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah

dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan Ejaan Republik atau Ejaan

Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat Ejaan itu diresmikan pada tahun

1947).

Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (nama seorang guru

besar belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah

Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46

tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka.

2.2 Ruang Lingkup Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu (1) pemakaian huruf, (2) penulisan

huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca.

1)      Pemakaian huruf membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa, yaitu :

Huruf Abjad

Huruf Vokal

Huruf Konsonan

Huruf Diftong

Gabungan Huruf Konsonan

Pemenggalan Kata

2)      Penulisan huruf membicarakan beberapa perubahan huruf dari ejaan sebelumnya yang

meliputi :

Huruf capital atau Huruf besar

Huruf miring

3)      Penulisan kata membicarakan bidang morfologi dengan segala bentuk dan jenisnya berupa

:

kata dasar

kata turunan

bentuk ulang

gabungan kata

kata ganti –ku, -kau, -mu, dan -nya

kata depan di, ke, dan dari

kata si dan sang

partikel

singkatan dan akronim

angka dan lambang bilangan.

4)      Penulisan unsur serapan membicarakan kaidah cara penulisan unsur serapan, terutama

kosakata yang berasal dari bahasa asing.

5)      Pemakaian tanda baca (pugtuasi) membicarakan teknik penerapan kelima belas tanda

baca dalam penulisan. Tanda baca itu adalah :

Tanda titik (.)

Tanda koma (,)

Tanda titik koma (;)

Tanda titik dua (:)

Tanda hubung (-)

Tanda pisah (--)

Tanda ellipsis (…)

Tanda tanya (?)

Tanda seru (!)

Tanda kurung ((…))

Tanda kurung siku ([ ])

Tanda petik ganda (“…”)

Tanda petik tunggal (‘…’)

Tanda garis miring (/)

Tanda penyingkat atau Apostrof (‘)

1. Pemakaian Huruf

a. Huruf Abjad

Abjad bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf berikut. Nama tiap huruf disertakan

disebelahnya.

Huruf Nama Huruf Nama Huruf NamaA a A J j Je S s EsB b Be K k Ka T t TeC c Ce L l El U u UD d De M m Em V v FeE e E N n En W w WeF f Ef O o O X x EksG g Ge P p Pe Y y YeH h Ha Q q Ki Z z Zet

I i i R r Er

b. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vocal terdiri atas lima huruf vokal (v), yaitu A, I, U, E,

dan O.

Huruf VokalContoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal Di Tengah Di Akhir

A api padi lusa

e* enak petak sore

emas kena tipe

I itu simpan murni

O oleh kota radio

U ulang bumi ibu

c. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf

b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf KonsonanContoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal Di Tengah Di Akhir

B bahasa sebut adab

C cakap kaca -

D dua ada abad

F fakir kafir maaf

G guna tiga balig

H hari saham tuah

J jalan manja mikraj

K kami paksa sesak

L lekas alas kesal

M maka kami diam

N nama anak daun

P pasang apa siap

q** quran furqan -

R raih bara putar

S sampai asli lemas

T tali mata rapat

V varia lava -

W wanita hawa -

x** xenon - -

Y yakin payung -

Z zani lazim juz

d. Huruf Diftong

Didalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au dan oi.

Huruf DiftongContoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal Di Tengah Di Akhir

Ai ain syaitan pandai

Au aula saudara harimau

Oi - boikot amboi

e. Gabungan Huruf Konsonan

Didalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan

konsonan, yaitu kh, ng, ny dan sy.

Gabungan Huruf

Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata

Di Awal Di Tengah Di Akhir

Kh khusus akhir tarikh

Ng ngilu bangun senang

Ny nyata hanyut -

Sy syarat isyarat arasy

f. Pemenggalan Kata

1. Pemenggalan Kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut :

a.       Jika ditengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan diantara kedua

huruf vokal itu.

Misalnya : ma-in, sa-at, bu-ah.

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata

tidak dilakukan diantara kedua huruf itu.

Misalnya :

au-la bukan a-u-la

sau-da-ra bukan sa-u-da-r-a

am-boi bukan am-bo-i

6)      Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua

buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

Misalnya :

ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir.

7)      Jika ditengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di

antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.

Misalnya :

man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makhluk

8)      Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di

antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.

Misalnya :

in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las

2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami

perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat

dipenggal pada pergantian baris.

misalnya :

Makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

catatan :

a. Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.

b. Akhiran-i tidak dipenggal. (lihat juga keterangan tentang tanda

hubung, Bab V, pasal E, ayat 1 )

c. Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan

sebagai berikut.

misalnya : te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi

3. Jika suatu kata terdiri dari atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat

bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan dengan:

(1) di antara unsur-unsur itu atau

(2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a,1b,1c dan 1d di atas.

misalnya : bio-grafi, bi-o-gra-fi, oto-grafi, fo-to-gra-fi

Nama Diri

Cara penulisan nama diri (nama orang, lembaga, tempat, jalan, sungai, gunung, dan

nama lainnya) harus mengikuti EYD, kecuali jika ada pertimbangan khusus yang

menyangkut segi adat, hukum, atau sejarah.

Contoh pemakaian biasa :

Rumahnya di Jalan Pajajaran No.5.

Ia berkantor di Jalan Budi Utomo.

Contoh pemakaian dengan pertimbangan khusus :

Pamanku dosen Institut Agama Islam Banten, Serang

Perkumpulan Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908.

Untuk penggunaan huruf x berlaku ketentuan khusus sebagai

berikut.

(1)   Untuk penulisan nama diri, unsur kimia, istilah ilmu pengetahuan,

dan lambang dalam matematika, lambang huruf yang dipakai

adalah x.

Misalnya ;

Alex, Mexico, Texas (nama diri)

Xenon, xantat (nama unsur kimia)

(2)   Untuk penulisan kata-kata biasa yang bukan nama diri, lambang

huruf yang dipakai adalah ks.

2. Penulisan Huruf

a. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.

Misalnya :

Selain buku juga penggaris yang dijual

Dia hendak ke Sumatera

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya :

“Ibu bertanya”

“Kapan Anton pergi”

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang

berhubungan dengan nama Tuhan, nama agama, dan kitab suci;

termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya :

Allah, TuhanYesus, Sang Pencipta, MahaKuasa , Kepada-Mulah, Yang Maha Agung

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan seperti

bapak, ibu, saudara, kakak, adik,dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya :

“KapanBapak berangkat?” tanya Harto.

Adik bertanya “itu apa, Bu?”

Surat Saudara sudah saya terima.

“Silakan duduk,Dik!” kata ucok.

5 . Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang

tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.

Misalnya :

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti anda.

Sudahkah Anda tahu?

Surat Anda telah kami terima.

b. Huruf Miring

1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat

kabar yang dikutip dalam tulisan.

Misalnya :

majalah Bahasa dan Kesastraan.

buku Negarakertagama karangan Pranpanca.

surat kabar Suara Karya.

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian

kata, kata, atau kelompok kata.

Misalnya :

Huruf pertama kata abad ialah a.

Dia bukan menipu, tetapi ditipu.

Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan

asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya :

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Politik divine et impera pernah merajalela di negeri ini.

3. Penulisan Kata

a.      Kata dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Misalnya :

Ibu percaya bahwa engkau tahu.

Kantor pajak penuh sesak.

Buku itu sangat tebal.

b.      Kata Turunan

1) Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

Misalnya :

Bergerigi, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan.

2) Jika bentuk dasar berupa gabungan kata,awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata

yang langsung mengikuti atau mendahului.

Misalnya :

Diberi tahu, beritahukan

Bertanda tangan, tanda tangani

Berlipat ganda, lipat gandakan

3) jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur

gabungan kata itu ditulis serangkai.

Misalnya :

menggarisbawahi menyebarluaskan

dilipatgandakan penghancurleburan

4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu

ditulis serangkai.

Misalnya :

adipati mahasiswa pancasila

telepon swadaya tritunggal

c.       Bentuk Ulang dan Kata Ulang

Bentuk ulang dan kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan kata tanda hubung.

Misalnya : Anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri, buku-buku, dibesar- besarkan, gerak-gerik,

huru-hara, kupu-kupu, laba-laba, lauk-pauk.

d.      Gabungan Kata

Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya

ditulis terpisah.

Misalnya :

duta besar, kerja sama, kereta api cepat, meja tulis,

orang tua, rumah sakit, terima kasih, mata kuliah.

e.       Kata Ganti ku, kau, mu, dannya

Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk sigkat dari kata aku dan engkau, ditulis serangkai

dengan kata yang mengikutinya.

aku = aku bawa, aku ambil

ku = kubawa, kuambil

engkau = engkau bawa, engkau ambil

kau = kaubawa, kauambil

Misalnya :

Bolehkah aku ambil jeruk ini satu ?

Kalau mau, boleh engkau baca buku itu.

Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut ini.

Bolehkah kuambil jeruk ini satu?

Kalau mau, boleh kaubaca buku itu.

Kata ganti ku dan mu sebagai bentuk singkat dari aku dan kamu, ditulis serangkai dengan

kata yang mendahuluinya.

kamu = sepeda kamu

mu = sepedamu

aku = rumah aku

ku = rumahku

Kata ganti nya selalu ditulis dengan kata yang mendahului.

nya = bukunya

Misalnya :

Bolehkah aku pakai sepeda kamu sebentar?

Sepedamu lebih kokoh dari sepedaku.

f.       Kata Depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali didalam

gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti,kepada dan daripada .

Misalnya :

Saya sudah makan di restoran.

Ibuku sedang ke luar kota.

Ia pantas tampil ke depan

g.      Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya :

Harimau itu marah sekali kepada sang kancil.

Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

h.      Partikel

1.      Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya :

Bacalah buku itu baik-baik.

Apakah yang tersirat dalam surat itu?

Apatah gunanya bersedih hati?

2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya :

Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.

Jika ayah pergi, adik pun ingin pergi.

i.        Singkatan dan Akronim

I.                   Singkatan

Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

1.      Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya :

Muh. Yamin

Suman S.

S. E. Sarjana ekonomi

Bpk. Bapak

Sdr. Saudara

S. Kar Sarjana karawitan

2.      Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta

nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak

diikuti dengan tanda titik.

Misalnya :

DPR Dewan Perwakilan Rakyat

PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia

KTP Kartu Tanda Penduduk

3.      Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya :

Dll. Dan lain-lain

Yth. Yang terhormat

a.n. atas nama

u.p. untuk perhatian

4.      Lambing kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti

tanda titik.

Misalnya :

Cu kuprum

Kg kilogram

II.                Akronim

Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun

gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.

1.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya

dengan huruf kapital.

Misalnya :

ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

LAN Lembaga Administrasi Negara

2.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata

dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf capital.

Misalnya :

Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

3.      Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan

huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya :

pemilu pemilihan umum

tilang bukti pelanggaran

j.        Angka dan Lambang Bilangan

1.      Angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Didalam tulisan lazim

digunakan angka arab atau angka romawi.

Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V (5.000), M

(1.000.000).

2.      Penulisan lambing bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.

a.       Bilangan utuh

Misalnya :

Dua belas 12

Dua ratus dua puluh dua 222

b.      Bilangan pecahan

Misalnya :

Setengah ½

Satu persen 1%

3.      Penulisan lambing bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.

Misalnya :

Paku Buwono X

Paku Buwono ke-10

Paku Buwono kesepuluh

Bab II

Bab ke-2

Bab kedua

4.      Penulisan lambing bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut.

Misalnya :

Tahun ‘50-an atau tahun lima puluhan

Uang 5000-an atau uang lima ribuan

Uang lima 1000-an atau uang lima seribuan

4.   Penulisan Unsur Serapan

Dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain,

baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti sanskerta, arab, portugis, belanda,

atau inggris.

Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua

golongan besar.

Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam Bahasa Indonesia,

seperti reshuffle, shuttle cock. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks Bahasa Indonesia,

tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.

Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah

Bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga

bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Contoh kaidah yang berlaku bagi unsur serapan :

aa menjadi a

Paal pal

Baal bal

ae menjadi e

aerobe aerob

haematite hematite

q menjadi k

aquarium akuarium

equator ekuator

rh menjadi r

rhythm ritme

rhombus rombus

th menjadi t

methode metode

thrombosis thrombosis

dsb.

5.   Pemakaian Tanda Baca

a.      Tanda titik (.)

1.      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya :

Ayahku tinggal di Korea.

Impianku menjadi musisi.

2.      Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Misalnya :

III.

A.

1.1.

3.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya :

24.000

13.000

b.      Tanda koma (,)

1.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya :

Saya membeli baju, tas, dan sepatu.

Korea, jepang, yunani, spanyol, paris, inggris, dan las vegas.

2.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara

berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.

Misalnya :

Saya ingin pergi, tetapi hari itu ujian.

Piano bukan alat music favorit saya, melainkan biola.

3.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat

itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya :

Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya :

Kata Ibu, “saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena kamu lulus.”

c.       Tanda titik koma (;)

1.      Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan

setara.

Misalnya :

Malam semain larut;pekerjaan belum selesai juga.

2.      Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan

kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.

Misalnya :

Ayah menonton televisi; Ibu sibuk memasak; Adik mendengar music; saya sendiri asyik

mengerjakan tugas.

d.      Tanda titik dua (:)

1.      Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian

atau pemerian.

Misalnya :

Kita sekarang memerlukan alat tulis : pensil, penghapus, dan penggaris.

Hanya ada dua hasil ujian kita itu : lulus atau tidak lulus.

2.      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya :

Ketua : Kim Jae Joong

Sekretaris : Kim Jun Su

Bendahara : Sim Chang Min

e.       Tanda hubung (-)

1.      Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya :

Disamping cara itu ada ju-

ga cara baru.

2.      Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya :

Anak-anak

Berulang-ulang

3.      Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

Misalnya :

p-e-n-y-a-n-y-i

26-01-1986

f.       Tanda pisah ( - )

1.      Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang member penjelasan di luar

bangun kalimat.

Misalnya :

Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

2.      Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai’.

Misalnya :

1986-1990

Tanggal 25-26 Januari 1986

Korea-Jepang

g.      Tanda Ellipsis ( … )

1.      Tanda ellipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya :

Kalau begitu … ya, marilah mulai pindah.

2.      Tanda ellipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang

dihilangkan.

Misalnya :

Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

h.      Tanda Tanya (?)

1.      Tanda Tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya.

Misalnya :

Kapan ia berangkat?

Kemana ia pergi?

2.      Tanda Tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang

disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya :

Ia dilahirkan pada tahun 1992 (?)

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang

i.        Tanda seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang

menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

Misalnya :

Alangkah seramnya peristiwa itu!

Bersihkan kamar itu sekarang juga!

Merdeka!

j.        Tanda kurung ( (…) )

1.      Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya :

Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

2.      Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Misalnya :

faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

k.      Tanda kurung siku ( […] )

1.      Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau

tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan

bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya :

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemersik.

2.      Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda

kurung.

Misalnya :

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya [lihat halaman 26] tidak dibicarakan) perlu

dibentangkan di sini.

l.        Tanda petik (“…”)

1.      Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau

bahan tertulis lain.

Misalnya :

“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”

Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

2.      Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya :

Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA”

diterbitkan dalam Tempo.

3.      Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya :

Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

m.    Tanda petik tunggal ( ‘…’ )

1.      Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya :

Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

n.      Tanda garis miring ( / )

1.      Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan

masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya :

No. 7/PK/1973

Jalan kramat II/10

2.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.

Misalnya :

Mahasiswa/mahasiswi

Harganya Rp 150,00/lembar.

o.      Tanda penyikat atau Apostrof ( ` )

Tanda penyikat atau apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka

tahun.

Misalnya :

Malam ‘lah tiba (`lah = telah)

1 Januari `86 (`86 = 1986)

Lampiran

Soal :

1.      Jelaskan Pengertian dari Ejaan!

2.      Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, sebutkan 5 aspek!

3.      Bagaimana pemenggalan kata dari :

a.       Kesetiaan

b.      Metropolitan

c.       Kemerdekaan

4.      Kapan Huruf Kapital dipakai dalam penulisan huruf?

Word Order (Susunan kalimat)The basic word order of Indonesian is very similar to English.

There is one basic difference with Indonesian sentence structure.

In Indonesian, the noun or subject comes before the predicate or adjective. 

For example :

Buku saya

Kucing hitam

Adik laki-laki paman saya

my book

black cat

my uncle's younger brother

Active and Passive (Aktif dan Pasif)If someone does something to someone or something, the verb that describes that action is a transitive  verb. The one who does the action is the agent. The person or thing that receives the action of the action is the recipient. In Indonesian, if the agent and/or the action is the main concern of the sentence, the "active" form of the verb is used, which means the verb takes the prefix meN-*.

Often, but not always, the agent will be the subject of an active sentence. The exception is if the verb is in a "yang phrase" and the agent is not in that phrase; then, the agent is the predicate and the verb in the "yang phrase" is active. If the agent is in the "yang phrase" with the verb, the verb is "passive". If the recipient of the action is the main concern of the sentence, the "passive" form of the verb is used. Often, but not always, the recipient will be the subject of a passive sentence. The exception is as mentioned above: if the verb is in a "yang phrase" and the recipient is not in that phrase, the recipient is the predicate and the verb in the "yang phrase" is passive. In the passive, the verb

is preceded either by :

(1) short forms of the intimate pronouns (ku-, kau-) or di-; or by

(2) the full forms of the formal pronouns (saya; Anda, Saudara, Bapak, etc;beliau); or by the plural pronouns (kami, kita, kalian, mereka).

click here........

Example

 In all cases, NOTHING (no auxiliary word such as bisa, harus, akan, etc.) comes between the pronoun form and the verb stem. In the case of third person passive, the noun or pronoun(-nya) which designates the agent comes after the verb, optionally preceded by oleh ("by"). Except for sentences where the verb is in a yang phrase, the subject of a passive verb is the recipient, and often precedes the verb. With subject /predicate inversion the recipient-subject may come after the passive verb.

KERTAS-KERJA  (worksheet) MENGENAI (concerning) AKTIF DAN PASIF = agent focus and object focus

 

Note:  some Indonesian grammars talk about active and passive, to parallel English -- "My mother bought the mat" / "The mat was bought by my mother" -- but it's more accurate to use agent focus (agent = the one who does the action) vs. object focus (object = the recipient of the action).

 

If someone does something to someone or something, the verb that describes that action is a transitive verb.  The one who does the  action is the agent.  The person or thing that receives the action of the action is the recipient or object.

 

In Indonesian, if the agent and/or the action is the main concern of the sentence, the "active" [= agent focus] form of the verb is used, which means the verb takes the prefix meN-*.  Often, but not always, the agent will be the subject of an agent focus sentence.  The exception is if the verb is in a "yang phrase" and the agent is not in that phrase; then, the agent is the predicate and the verb in the "yang phrase" is active.  If the agent is in the "yang phrase" with the verb, the verb is "passive" [ = object focus].

 

(This sounds more confusing than it is; consider the following:

Ibu saya membeli tikar itu = "My mother bought the mat."              "ibu saya" is the subject, "membeli tikar itu" is the predicate

Ibu saya yang membeli tikar itu. = "My mother is the one who bought the mat             "yang membeli tikar itu" is the subject, "ibu saya" is the predicate

Keep in mind -- the subject of a sentence is what we're talking about: in the first example, it's "ibu saja" but in the second it's "yang membeli tikar itu;" the predicate of a sentence is what we're saying about the subject -- the new information: in the first case "membeli tikar itu," in the second "ibu saya.")

 

If the recipient of the action is the main concern of the sentence, the "passive" [ = object focus] form of the verb is used.  Often, but not always, the recipient will be the subject of a object focus sentence.  The exception is as mentioned above:  if the verb is in a "yang phrase" and the recipient is not in that phrase, the recipient is the predicate and the verb in the "yang phrase" is object focus. 

 

In the object focus, the verb is preceded either by (1) short forms of the intimate pronouns (ku-, kau-) or di-; or by (2) the full forms of the formal pronouns (saya; Anda, Saudara, Bapak, etc.;beliau); or by the plural pronouns (kami, kita, kalian, mereka).  In all cases, NOTHING (no auxiliary word such as bisa, harus, akan, etc.) comes between the pronoun form and the verb stem.  In the case of third person passive, the noun or pronoun (-nya) which designates the agent comes after the verb, optionally preceded by oleh ("by").

 

Except for sentences where the verb is in a yang phrase, the subject of a passive verb is the recipient, and often precedes the verb. With subject/predicate inversion the recipient-subject may come after the passive verb.

 

EXAMPLE:        ACTIVE                         PASSIVE

 

              Saya menjual tikar.                        Tikar itu saya jual.

              Ibu(=you) menjual tikar.                Tikar itu Ibu jual.

              Ibu saya menjual tikar.                   Tikar itu dijual ibu saya.

 

EXERCISE:

 

Write two sentences for each of the following words, one in active, one in passive;  the first four in 1st person passive, the second four in 2nd person passive, the third four in 3rd person passive.

 

     1st pers     2nd pers      3rd pers            

                                                                                

     lihat             dengar               ambil            

     tambah        cari                    kirim               

     pakai           beri                  suruh               

     beli              tulis                   lawat            

 *meN- forms:   + r,l,w,y= me-;  + (p),b,(m)= mem-;  + (t),d,c,j,(n)= men-;  + (k),g,h,aeiou,(ng)= meng-;  + (s),(ny)= meny-

 

 

KERTAS KERJA MENGENAI -KAN

 

CAUSATIVE -KAN:

 

Instead of describing an action that somebody does to somebody or something, a word can describe a state or condition.  Such words are not transitive, do not have a recipient/object, and therefore CANNOT focus on it, and DO NOT TAKE MEN-, DI-, ETC.  Many  stative words (both verbs and adjectives) can add -kan and then become transitive verbs, describing the activity of causing the state to happen to a recipient.  With the -kan suffix, the verb can then be agent or object focus.

 

EXAMPLE:

 

 Adik saya mau tidur.                            My little sister wants to sleep.

 Saya harus menidurkan adik saya.        I have to put my sister to sleep. 

 Adik saya tidak usah saya tidurkan.      I don't have to put  "   "   " .

 

EXERCISE:

 

Write two sentences for each of the following words, one using the form without prefixes/suffixes, indicating a state or condition, the other using -kan.  For words 1-4 use -kan with the meN- prefix, for words 5-8 use -kan with any form of the object focus.

 

  1. kawin      2. repot     3. pindah      4. siap ('ready')

  5. rusak      6. dekat     7. lahir            8. habis

 

 

BENEFACTIVE -KAN

 

With verbs that are transitive without -kan (like those in the examples on the worksheet on active and passive), adding -kan makes it possible for them to take another recipient, in addition to the one they take without -kan.  This recipient is a person who benefits from the action of the verb.

 

EXAMPLE:

 

Ali mencari kamus.                               Kamus itu dicari Ali.          

Ali mencarikan temannya kamus.          Temannya dicarikan kamus oleh Ali.

           OR                                                                    OR

Ali mencarikan kamus untuk temannya. Kamus dicarikan Ali untuk temannya.

 

   EXERCISE:

 

Write two sentences for each of the following verbs, one with the ordinary transitive (without  -kan), and the other with the benefactive  -kan suffix.  Make all the sentences active -- never mind about the passive for this exercise.

 

  cari     ambil    tulis    beli    baca    bungkus

 

 

KERTAS KERJA MENGENAI BER- VS. MEN--KAN / DI--KAN

 

Some words are prefixed with beR- as intransitive verbs; they do not indicate an action which has a recipient.  If -kan is added to the root word, however, these words can then have recipients, just like any other transitive verb, which means they are either active (agent focus) or passive (recipient focus); a 3rd possibility is imperative, when meN- is not used.

 

At this point, you know only a limited number of these words, and it's easier just to remember them -- see the grammar section and exercises in Wolff which cover this -- since not all intransitive verbs will take beR-, and not all words which are made transitive with -kan can also take beR- in their intransitive form.

 

The important thing to remember is that if there is a recipient (of the verb, not of a preposition), the verb must be transitive.  For this set of words, that means adding -kan.  If there is no recipient, the verb is intransitive, and FOR THIS SET OF WORDS (not all) that means using beR-.

 

EXAMPLE:

1.Saya mau bercerita tentang anak saya.      I want to tell about my kid.

2.Siapa yang mau Anda ceritakan?                Who is it you want to tell about?

3.Saya mau menceritakan anak saya.            I want to tell-about my kid.

4.Ini anak saya yang baru saya ceritakan.     This is my kid, that I was just now telling about.

5.Jon bekerja di kota.                                     John works in town.

6.Apa yang dikerjakan Jon di kota?              What is it that John does (= works on) in town?

7.John menjual pisang di kota.                       John sells bananas in town.

 

Notice that in sentences 1 and 3, bercerita tentang gives the same information as menceritakan.  Sentences 2 and 4, however, could NOT also be expressed as Siapa yang mau Anda bercerita tentang or Tentang anak saya, saya baru bercerita.  Putting the recipient at the front of the sentence makes the sentence focus on it, and you have to have a transitive (and object focus) verb to handle such situations.

 

In sentence 6, asking about what (=apa) it is that John does forces the verb into the object focus as well, since the recipient (=apa) is in front of the verb.  You could say Jon mengerjakan apa di kota, and be equally correct.  Notice that sentence 7 answers the question asked in sentence 6 WITHOUT using any form of the verb kerja.

 

The verb ajar becomes belajar in its intransitive form (meaning to study something in a general way, to take a course in something), but  becomes pelajari (with meN- or di-/Anda /saya) as the transitive form, meaning to do a specific act of studying.

 

EXERCISE:

Write three sentences for each of the following; one with beR-, one with meN--kan, and one with some form of the object focus and -kan.

 

                   bicara        tanya       ajar    

Some verbs change their meaning somewhat, depending on whether they have beR- or meN-/di- etc. -kan:

 

EXAMPLES:

  Orang-orang berkumpul di warung.             People gather at the food stall.

  Bu Henry mengumpulkan buku.                   Ms. Henry gathers together the books.

 

  Saya ingin berjalan di desa.                          I want to walk in the village.

  Mobil saya tidak bisa saya jalankan.           I can't get my car going today because it's too

hari ini karena terlalu dingin                          cold.                            

 

EXERCISE:

Write three sentences for the following words; on with beR-, one with meN--kan, and one with some form of the object focus and -kan.

 

                        kumpul          jalan

 

Make these sentences DIFFERENT than the examples given!

 

 

KERTAS KERJA MENGENAI -I VS. -KAN VS. NO SUFFIX

 

Like -kan, the suffix -i makes it possible for roots that would not otherwise have recipients to have them.  In other words, it makes an intransitive word into a transitive verb (= a verb that can be made active or passive).  Unlike -kan, -i means that the recipient is the place or person where the action ends up -- the recipient shows a LOCATION and IT DOES NOT GET MOVED OR CHANGED by the action of the verb.  In many cases, the root plus the prepositions di, ke or dari can substitute for the transitive verb, meN- root -i:

 

  Ali duduk di korsi.               Ali sits in the chair. 

  Ali menduduki korsi.                   "      "

 

However, while the second sentence can be made passive (like any other active sentence), the first cannot:

 

  Korsi itu diduduki Ali.           The chair is sat in by Ali.

 

You cannot have the sentences " Di korsi Ali duduk" or "Korsi Ali duduk di" in correct Indonesian.

 

(Also, it sounds fairly weird to use "menduduki" for Ali and the chair -- usually the -i form is used in the sense of "occupying,"

as in "Tentara menduduki negara musuhnya.")

 

Some verbs can be transitive without -i, and take locational recipients when -i is added:

 

  Kami menanam kacang di kebun.               We plant beans in the garden.

  Kacang kami tanam di kebun.                     Beans are planted by us in the

                                                                        garden.

 

  Kami menanami kebun dengan kacang.  We plant the garden with beans.

  Kebun kami tanami (dengan) kacang.        The garden is planted by us

                                                                        with beans.

 

Some words that describe a state or condition can use either -kan or - i to form transitive verbs with different kinds of recipients:

 

  Tuti masuk ke kantor.                     Tuti enters into the office.

 

  Tuti memasuki kantor.                   "       "

  Kantor dimasuki Tuti.                      The office is entered by Tuti.

 

  Tuti memasukkan buku ke lemari.             Tuti puts books into the cupboard.

  Buku dimasukkan Tuti ke lemari.              The books are put by Tuti into the cupboard.

                                      

 

A few words can be used with -kan and -i (when they're transitive) AND with beR- when they are intransitive (especially if they could be

understood as a noun if they don't have any affixes);  jalan is about the only example of this we've seen so far:

 

  Kita harus berjalan di jalan ini. We have to walk on this road.

 

  Kita harus menjalani jalan ini.           "           "

 

  Kita harus menjalankan mobil ini.  We have to get this car going.

 

 

                      

LATIHAN AKTIF/PASIF

 

Tulis bentuk aktif ATAU bentuk pasif untuk kalimat ini.

 

 

1.  Saya mau ___________________ (kunjungi) sekolah di desa.

 

2.  Sekolah di desa itu yang mau saya ____________________(kunjungi).

 

3.  Apa yang perlu ____________________(tanyakan)?

 

4.  Apa Ibu yang sedang ____________________(baca) majalah itu?

 

5.  Apa yang sedang Ibu ____________________(baca)?

 

6.  Siapa yang sedang ____________________(baca) majalah itu?

 

7.  Yang sedang ____________________(baca) Jon,  majalah itu.

 

8.  Jon mau ____________________(lihat) pemandangan yang indah.

 

9.  Jalan mana yang mereka ____________________(lewati)?

 

10. Petani di sini sering ____________________(tanami) pematang dengan sayur-sayuran.

 

11. Petani di sini sering ____________________(tanam) sayur-sayuran di pematang (dikes).

 

12. Sawah itu sudah ____________________(tanami) apa?

 

13. Jagung (corn) sering ____________________(tanam) di mana?

 

14. Apa yang ____________________(tanam) di pinggir sawah?

 

15. Apa yang ____________________(tanami) ubi?

 

16. Bibi saya ____________________(masuki) kantor kepala sekolah.

 

17. Apa yang harus ____________________(kerjakan) bibi saya?

 

18. Buku-buku harus ____________________(masukkan) bibi saya ke dalam lemari buku (="bookcase").

 

19. Keadaan di desa mau ____________________(lihat) Jon.

 

20. Apa yang mau Saudara ____________________(pelajari)?

 

21. O, saya ingin ____________________(pelajari) pendidikan di sini.

 

22. Siapa yang ingin ____________________(pelajari) pendidikan?

 

23. Pak Jon yang ingin ____________________(pelajari) pendidikan.

 

24. Yang ____________________(bicarakan) guru kita tadi, apa?

 

25. ____________________(bicarakan) Pelajaran 12, guru kita.

 

 

Practice with prefixes and suffixes (meN-, di-, beR-, Ø, -kan:

 

1.  Setiap hari penduduk Jalan Lembang _______________(bangun) oleh suara adzan.

 

2.  Keluarga Sudarmo sering ____________(duduki) kursi-kursi di kamar duduk.

 

3.  Kota Jakarta ____________(duduki) orang Belanda selama perjuangan.

 

4,5.  Kebanyakan pembeli ____________(pulang) pada siang hari untuk ____________       (istirahat).

 

6.  Kita dapat _____________ (pilih) kaset musik gamelan.

 

7.  Barang-barang yang sudah anda ____________ (beli) berat sekali.

 

8.   Kami akan ____________(libur) di Pulau Bali tahun depan.

 

9.  Karcis Sulastri ____________ (periksa) pembantu kepala setasiun.

 

10.  Stupa itu masing-masing ____________ (kandung) patung Buddha.

 

11.  Rumah makan itu tidak dapat saya ____________ (anjurkan), karena tidak baik.

 

12.  Siapa yang sedang _____________ (baca) anak itu majalah?* BENEFACTIVE -KAN

 

13.  Pakaiannya sudah ____________(masuk) Sulastri ke dalam kopornya.

 

14.  Kamar harus anda ____________ (pesan) dahulu di losmen itu.

 

15.  Bambang akan ____________(kunjungi) saudara sepupunya di Wonosobo.

 

16, 17.  Perhiasan perak ____________ (buat) oleh orang yang ____________ (kerja) di pabrik perak itu.

 

18.  Jumlah mahasiswa di Universitas Gajah Mada ____________ (lebihi) delapanbelas ribu.

 

19,20.  Kopor yang berat itu tidak dapat saya _____________ (bawa);  mudah-mudahan teman saya akan

 

_____________ (bawa) saya kopor itu. *BENEFACTIVE -KAN

 

21.  Akhirnya kereta api itu siap _____________(angkat).

 

22.  Saya tidak suka ____________(pakai) celana jengki.

 

23.  Kain batik ____________ (jual) di bagian pakaian.

 

24.  Ibu Sudarmo sedang ____________ (siap) makan pagi di dapur.

 

25,26.  Meja yang ____________(bentuk) bundar harus anda ____________ (letak) di sebelah kursi besar.

 

27.  Dewasa ini Republik Indonesia ____________(perintah) oleh pemerintah di Jakarta.

 

28.  Pembatik itu sedang ____________ (guna)canting.                                                                                                                                            

 

 

 Sedikit lagi -- pakailah peN-, meN-, beR-, or nothing:

 

 

1,2. Ada banyak  _________________  (kunjung) yang _________________(kunjung) ke keraton di Yogya.

 

3.  Apa yang akan Anda ____________________(kunjungi) nanti sore?

 

4,5. Inginkah Anda ____________________(bawa) alat ____________________(potret) ke Candi Prambanan?

 

6,7.  Wayang kulit dapat ____________________(tonton) oleh ____________________(tonton) di depan keraton.

 

8.  _______________(duduk) Yogya sangat suka para turis yang kaya.

 

9,10.  Orang yang ____________________(ajar) di universitas disebut “mahasiswa” atau

 

“ ____________________”(ajar).

 

Here is the key for the exercise -- don’t peek prematurely.

 

1.  dibangunkan  (=“awakened”; dibangun would mean “built, erected.”)

2.  menduduki

3.  diduduki

4.  pulang

5.  beristirahat

6.  memilih

7.  beli (anda beli = 2nd person passive)

8.  berlibur

9.  diperiksa

10. mengandung (masing-masing = “each”; mengandung = “contain”)

11. anjurkan (saya anjurkan = 1st person passive, “I can’t recommend this restaurant...)

12.  membacakan (= benefactive -kan)

13.  dimasukkan  (= “caused to enter”, “put in”)

14.  pesan (2nd person passive)

15.  mengunjungi

16.  dibuat

17.  bekerja

18.  melebihi

19.  bawa (1st person passive)

20.  membawakan (= benefactive -kan)

21.  berangkat

22.  memakai

23.  dijual (agent not mentioned -- “sold (by somebody)”)

24.  menyiapkan

25.  berbentuk

26.  letakkan (2nd person passive)

27.  diperintah

28.  menggunakan  

 

 

1.  pengunjung

2.  berkunjung

3.  kunjungi (2nd p. passive)

4.  membawa

5.  pemotret

6.  ditonton

7.  penonton

8.  penduduk

9.  belajar

10. pelajar

 

 

PREPOSITION

 

Locative prepositions are: di, ke, and dari. 

 

Preposition di (in, at, on) indicates that the action

occurs in the place indicated by the following noun

and there is no movement.

Preposition ke (to) indicates movement toward, and

preposition dari (from) indicates movement away.

These prepositions can be combined with a set of

locative pronouns, which indicate position in relation

to the speaker. The locative pronouns are sini 'here'

(near speaker), situ 'there' (not far off), and sana

'there' (far off). These three locative prepositions

also can be combined with a set of locative nouns

which indicate location in relation to the following

noun.

 

atasbawahdepanmuka

belakangdalamluar

"top, above""beneath, under"

"front""front""back""inside"

"outside"

sampingsebelahantara

tepiseberang

"side""side"

"between""edge"

"other side"

EXAMPLES:

1. Sepatu ada di bawah tempat tidur.    Shoes are under the bed.

2. Anak-anak itu berenang ke seberang sungai.    Those children swim to the other side of the river.

3. Adik saya mengeluarkan pensil dari dalam tasnya.    My younger brother/sister pulls a pencil out of his/her bag.

Word Order (Susunan kalimat)The basic word order of Indonesian is very similar to English.

There is one basic difference with Indonesian sentence structure.

In Indonesian, the noun or subject comes before the predicate or adjective. 

For example :

Buku saya

Kucing hitam

Adik laki-laki paman saya

my book

black cat

my uncle's younger brother

 BENTUK-BENTUK KATA KERJA dan KATA BENDA

VERB and NOUN FORMSBacalah artikel di bawah ini dengan seksama. Kata-kata yang berwarna MERAH adalah kata kerja dan kata-kata yang berwarna BIRU adalah kata benda jadian.

Read the article below carefully. RED colored words are verbs and BLUE colored words are nouns.

  Indonesian-English Dictionary

 

AS Janjikan Berlaku Baik pada WNI

 

Jakarta, Kompas - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan jaminan bahwa warga negara Indonesia (WNI) akan diperlakukan dengan baik ketika melaporkan diri kepada pejabat imigrasi AS. Wajib lapor itu terjadi karena AS lewat Immigration and Naturalization Service (INS) mewajibkan warga dari banyak negara yang berada di AS melakukan itu dalam rangka pendataan.

Demikian siaran pers dari Bidang Penerangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington yang diterima Kompas di Jakarta, Sabtu (22/2).

Jaminan itu disampaikan AS kepada delegasi Indonesia yang dipimpin Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Departemen Luar Negeri RI, Arizal Effendi.

Ditambahkan, AS juga menjanjikan tidak akan ada deportasi maupun penahanan massal terhadap WNI yang tidak memiliki dokumen sah untuk tinggal atau bekerja di AS.

Dikatakan, jaminan itu disampaikan oleh sejumlah instansi di AS yang menangani langsung registrasi seperti INS, Departemen Kehakiman, Homeland Security Department, dan Deplu AS.

Kepada delegasi Indonesia yang beranggotakan unsur-unsur dari Departemen Luar Negeri (Deplu), Departemen Kehakiman (Depkeh), Departemen Tenaga Kerja (Depnaker), Departemen Sosial (Depsos), Hak Asasi Manusia (HAM), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan Badan Intelijen Negara (BIN), AS menegaskan kewajiban lapor dari INS tidak dimaksudkan untuk mendiskriminasikan Indonesia, melainkan hanya suatu program jangka panjang yang terkait dengan masalah keamanan nasional AS.

AS juga memberikan perpanjangan masa registrasi bagi WNI hingga 25 April 2003.

Kelonggaran waktu hingga empat bulan akan diberikan kepada WNI yang secara sukarela memilih pulang ke Indonesia untuk mengurus berbagai keperluan pribadi berhubungan dengan pendataan itu. Pihak KBRI di Washington dan semua Konsulat Jenderal RI di AS diperbolehkan memantau langsung proses registrasi dalam rangka membantu WNI yang melakukan registrasi.

Meskipun tidak memiliki perjanjian, AS akan tetap memberitahukan ke Perwakilan RI di AS jika terdapat WNI yang terpaksa harus ditahan dan akan dideportasi. (*/MON)

 

Bacaan diambil dari KompasMinggu, 23 Februari 2003

Kata kerja    Verbs

Words in italic are the base/root words

memberikandiperlakukanmelaporkanmewajibkanmelakukanditerimadisampaikandipimpinmenjanjikanmemilikibekerjamenanganimenegaskandimaksudkanmendiskriminasikanmemberikandiberikanmemilihmengurusdiperbolehkanmemantaumembantumemberitahukanditahandideportasi

meM + beri + kan di + per + laku + kan me + lapor + kan me + wajib + kan me + laku + kan di + terima di + sampai + kan  di + pimpinmeN + janji + kanme + milik + ibe + kerjameN + tangan + imeN + tegas + kandi + maksud + kanmeN + diskriminasi + kanmeM + beri + kandi + beri + kanmeM + pilihmeNG + urusdi + per + boleh + kanmeM + pantaumeM + bantumeM + beritahu + kandi + tahandi + deportasi

to giveto be treatedto reportto requireto doto be received, to be acceptedto be informed, to be deliveredto be ledto promiseto ownto workto handleto stressto be aimedto discriminateto giveto be givento choose, to voteto take care ofto be allowed, to be permittedto monitorto assist, to helpto informto be arrestedto be deported

Kata benda    Nouns

Words in italic are the base/root words  

pemerintahjaminanpendataansiaransiaran perspenerangankedutaanpenahanankewajibankeamanan

peM + perintah jamin + anpeN + data + ansiar + an

peN + terang + anke + duta + anpeN + tahan + anke + wajib + anke + aman + an

governmentwarranty, guarantee, bailcensusbroadcastpress conferenceinformationembassyarrest, detentionduty, obligation, commitmentsafety

perpanjangankelonggarankeperluan

per + panjang + anke + longgar + anke + perlu + an

extension, renewalflexibility, allowancenecessity, needs, errands

Contoh-contoh kalimatExamples of sentencesPembantu yang malang itu diperlakukan tidak baik oleh majikannya.That poor maid is treated badly by her boss.

Perlakuan majikan itu terhadap pembantunya sangat burukThe treatment of that boss to her maid is very bad.

Surat itu disampaikan oleh pak pos kepada keluarga Budiman.That letter was delivered by the postman to the Budiman family.

Sesampainya di rumah, Nico memberitahu ibunya tentang berita yang sangat bagus itu.Arriving at home, Nico informed his mother about that very good news. 

Keluarga Suharto memiliki banyak perusahaan.The Suharto family own many companies.

Kepemilikan perusahaan-perusahaan itu tidak sah.The ownership of those companies is illegitimate.

Mobil itu mempunyai jaminan selama lima tahun.That car has a five year has a five year warranty.

Pedagang obat jalanan itu memberikan jaminan bahwa obat-obatannya aman.That street medicine seller gives assurance that his medicines are safe.

Perpanjangan izin kerja itu dikeluarkan oleh kantor imigrasi.The extension of the working permit is issued by the immigration office.

Apakah kepanjangan dari "DIKTI?"What does "DIKTI" stand for?

BENTUK-BENTUK KATA KERJA dan KATA BENDA

VERB and NOUN FORMSBacalah artikel di bawah ini dengan seksama. Kata-kata yang berwarna MERAH adalah kata kerja dan kata-kata yang berwarna BIRU adalah kata benda jadian.

Read the article below carefully. RED colored words are verbs and BLUE colored words are nouns.

  Indonesian-English Dictionary

 

AS Janjikan Berlaku Baik pada WNI

 

Jakarta, Kompas - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan jaminan bahwa warga negara Indonesia (WNI) akan diperlakukan dengan baik ketika melaporkan diri kepada pejabat imigrasi AS. Wajib lapor itu terjadi karena AS lewat Immigration and Naturalization Service (INS) mewajibkan warga dari banyak negara yang berada di AS melakukan itu dalam rangka pendataan.

Demikian siaran pers dari Bidang Penerangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington yang diterima Kompas di Jakarta, Sabtu (22/2).

Jaminan itu disampaikan AS kepada delegasi Indonesia yang dipimpin Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Departemen Luar Negeri RI, Arizal Effendi.

Ditambahkan, AS juga menjanjikan tidak akan ada deportasi maupun penahanan massal terhadap WNI yang tidak memiliki dokumen sah untuk tinggal atau bekerja di AS.

Dikatakan, jaminan itu disampaikan oleh sejumlah instansi di AS yang menangani langsung registrasi seperti INS, Departemen Kehakiman, Homeland Security Department, dan Deplu AS.

Kepada delegasi Indonesia yang beranggotakan unsur-unsur dari Departemen Luar Negeri (Deplu), Departemen Kehakiman (Depkeh), Departemen Tenaga Kerja (Depnaker), Departemen Sosial (Depsos), Hak Asasi Manusia (HAM), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan Badan Intelijen Negara (BIN), AS menegaskan kewajiban lapor dari INS tidak dimaksudkan untuk mendiskriminasikan Indonesia, melainkan hanya suatu program jangka panjang yang terkait dengan masalah keamanan nasional AS.

AS juga memberikan perpanjangan masa registrasi bagi WNI hingga 25 April 2003.

Kelonggaran waktu hingga empat bulan akan diberikan kepada WNI yang secara sukarela memilih pulang ke Indonesia untuk mengurus berbagai keperluan pribadi berhubungan dengan pendataan itu. Pihak KBRI di Washington dan semua Konsulat Jenderal RI di AS diperbolehkan memantau langsung proses registrasi dalam rangka membantu WNI yang melakukan registrasi.

Meskipun tidak memiliki perjanjian, AS akan tetap memberitahukan ke Perwakilan RI di AS jika terdapat WNI yang terpaksa harus ditahan dan akan dideportasi. (*/MON)

 

Bacaan diambil dari KompasMinggu, 23 Februari 2003

Kata kerja    Verbs

Words in italic are the base/root words

memberikandiperlakukanmelaporkanmewajibkanmelakukanditerimadisampaikandipimpinmenjanjikanmemilikibekerjamenanganimenegaskandimaksudkanmendiskriminasikanmemberikandiberikanmemilihmengurusdiperbolehkanmemantaumembantumemberitahukanditahandideportasi

meM + beri + kan di + per + laku + kan me + lapor + kan me + wajib + kan me + laku + kan di + terima di + sampai + kan  di + pimpinmeN + janji + kanme + milik + ibe + kerjameN + tangan + imeN + tegas + kandi + maksud + kanmeN + diskriminasi + kanmeM + beri + kandi + beri + kanmeM + pilihmeNG + urusdi + per + boleh + kanmeM + pantaumeM + bantumeM + beritahu + kandi + tahandi + deportasi

to giveto be treatedto reportto requireto doto be received, to be acceptedto be informed, to be deliveredto be ledto promiseto ownto workto handleto stressto be aimedto discriminateto giveto be givento choose, to voteto take care ofto be allowed, to be permittedto monitorto assist, to helpto informto be arrestedto be deported

Kata benda    Nouns

Words in italic are the base/root words  

pemerintahjaminan

peM + perintah jamin + an

governmentwarranty, guarantee, bail

pendataansiaransiaran perspenerangankedutaanpenahanankewajibankeamananperpanjangankelonggarankeperluan

peN + data + ansiar + an

peN + terang + anke + duta + anpeN + tahan + anke + wajib + anke + aman + anper + panjang + anke + longgar + anke + perlu + an

censusbroadcastpress conferenceinformationembassyarrest, detentionduty, obligation, commitmentsafetyextension, renewalflexibility, allowancenecessity, needs, errands

Contoh-contoh kalimatExamples of sentencesPembantu yang malang itu diperlakukan tidak baik oleh majikannya.That poor maid is treated badly by her boss.

Perlakuan majikan itu terhadap pembantunya sangat burukThe treatment of that boss to her maid is very bad.

Surat itu disampaikan oleh pak pos kepada keluarga Budiman.That letter was delivered by the postman to the Budiman family.

Sesampainya di rumah, Nico memberitahu ibunya tentang berita yang sangat bagus itu.Arriving at home, Nico informed his mother about that very good news. 

Keluarga Suharto memiliki banyak perusahaan.The Suharto family own many companies.

Kepemilikan perusahaan-perusahaan itu tidak sah.The ownership of those companies is illegitimate.

Mobil itu mempunyai jaminan selama lima tahun.That car has a five year has a five year warranty.

Pedagang obat jalanan itu memberikan jaminan bahwa obat-obatannya aman.That street medicine seller gives assurance that his medicines are safe.

Perpanjangan izin kerja itu dikeluarkan oleh kantor imigrasi.The extension of the working permit is issued by the immigration office.

Apakah kepanjangan dari "DIKTI?"What does "DIKTI" stand for?

BENTUK-BENTUK KATA KERJA dan KATA BENDA

VERB and NOUN FORMSBacalah artikel di bawah ini dengan seksama. Kata-kata yang berwarna MERAH adalah kata kerja dan kata-kata yang berwarna BIRU adalah kata benda jadian. Kata-kata penting lainnya berwarna UNGU.

Read the article below carefully. RED colored words are verbs and BLUE colored words are nouns. Other important words are in PURPLE.

    Indonesian-English Dictionary

Tenganan, Bisakah Tetap "Asli"

TENGANAN adalah sebuah desa terpencil di Kabupaten Karangasem, sekitar 65 kilometer dari Kota Denpasar, Bali. Desa ini terbilang tetap tegar bertahan dalam arus perubahan zaman yang pesat dari teknologi informasi.

Desa dengan luas area sekitar 1.496,002 hektar itu kini juga menanti-nantikan, apa yang akan (bisa) dibawa oleh Otonomi Daerah bagi wilayah yang dihuni sekitar 600 jiwa ini. Bendesa Adat, Mangku Widia mengungkapkan hal itu saat berbincang dengan Kompas di rumahnya yang juga merangkap sebagai art shop pertengahan Januari 2001.

"Kami tahu bahwa Otonomi Daerah itu dimulai tahun ini, dan diperkirakan akan efektif pada bulan Mei mendatang," ujarnya. "Namun, sampai sekarang kami belum mendapatkan petunjuk yang jelas," tambahnya.

Selama ini, dengan berpegang pada awig-awig atau peraturan adat desa yang sudah ditulis sejak abad 11--diperbarui tahun 1842 karena yang asli terbakar--Tenganan berhasil tegak di tengah arus keras perubahan. Ketika Kuta sudah penuh gebyar dengan kehadiran hotel dan arus wisatawannya yang melimpah, Tenganan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam, dengan deretan rumah adat yang satu sama lain persis sama dan bertahan dengan keturunan yang dipertahankan keasliannya dengan perkawinan sesama warga desa.

Dengan Otonomi Daerah, Mangku Widia malahan "menawarkan" diri untuk berubah. "Kami perlu komunikasi. Sekarang yang perlu dilihat adalah potensi kami, lalu bagaimana seharusnya mengelolanya. Kami juga perlu berhubungan dengan dunia luar. Jelas, kami tidak mungkin hidup sendiri," ujar Mangku Widia.

Roda kehidupan masyarakat Tenganan, walaupun nantinya sudah menerima masukan dari "dunia luar", tentu tidak akan bisa cepat berubah begitu saja, karena awig-awig tetap memiliki peran dan fungsi sentral.

***

TENGANAN selama ini kurang "terdengar" dalam peta pariwisata. Jangankan dengan Kuta, Ubud, atau Sanur. Dengan Candidasa yang berdekatan dengan lokasi desa itu saja, Tenganan kalah top. Kesan bahwa penanganan pariwisata di desa ini tidak dikoordinir dengan baik mulai terasa begitu kaki melangkahi gerbang utama.

Memasuki kawasan ini, wisatawan harus melalui "gerbang" sempit yang cukup lewat satu orang. Sebelum masuk wisatawan harus menyumbang sukarela kepada petugas di bangunan kayu semipermanen. Wisatawan harus mengisi buku tamu. Tidak ada tiket masuk ke desa yang sekaligus menjadi obyek wisata itu. Tidak jelas benar berapa penghasilan per kapita penduduk Tenganan, karena di sana berlaku sistem barter yang didasarkan pada kepemilikan kolektif atas tanaman, sawah, dan kerbau yang ini dibiarkan berkeliaran bebas di kawasan desa.

"Selama ini pengaruh pariwisata terhadap masyarakat kami memang masih sedikit, namun komunikasi kami justru mulai terbuka," ujar Mangku Widia.

Tentang usia pariwisata di desa yang berjarak sekitar 17 kilometer dari Amlapura ini, bisa dijejaki sejak tahun 1960. "Tahun 1966 di sini lebih ramai daripada kunjungan di Bali Beach di Sanur," ujar Mangku Widia.

Sementara Candidasa sendiri baru mulai dirambah wisatawan tahun 1985. Jumlah pengunjung memang menunjukkan peningkatan, tetapi, "Dalam satu dua tahun terakhir ini meskipun jumlah pengunjung meningkat, namun belanja souvenir mereka kurang," tambah Mangku Widia.

***

TENGANAN identik dengan kain geringsing. Begitu kaki melangkah ke art shop di dekat pintu masuk, langsung ada tawaran kain geringsing seharga Rp 400.000 sampai nyaris Rp 1 juta. Jangan heran dan kaget. Dibanding kain-kain pabrikan yang dijumpai di toko-toko tekstil, sekilas pandang bisa diketahui bahwa setiap lembar kain geringsing adalah lembar yang eksklusif--sifat yang melekat pada barang buatan tangan.

Harga setinggi itu diberikan untuk kain selebar dua jengkal tangan dengan panjang seperti selendang. Harga setinggi itu bisa dikatakan tinggi dan bisa juga tidak, karena kain geringsing hanya diproduksi di Tenganan. Pengerjaannya pun makan waktu lama, karena warna yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan, butuh perlakuan khusus.

Warna merah, misalnya, dari akar sunti dari Nusa Penida. Sementara warna kuning berasal dari minyak kemiri. Agar warna bisa merasuk ke dalam serat-serat benang, prosesnya panjang. Warna kuning, agar bisa muncul, perlu pemrosesan selama satu bulan tujuh hari. Warna merah, perlu proses tiga hari. Seterusnya, semuanya secara total mencapai lama pemrosesan (cuci-jemur-simpan) secara tiga bulan.

Kekhasan kerajinan tangan lainnya yaitu anyaman ata--bahan dasar yang didapat dari Pulau Flores. Kerajinan ini mulai dikenal di Tenganan setelah ada tameng (perisai) yang rusak dalam acara geret pandan-tarian pemuda. "Kami berusaha memperbaiki sendiri tameng yang kami beli dari luar itu, dan akhirnya kami mengetahui caranya. Ternyata itu mudah," kata I Nengah Kedep, yang juga pelopor kerajinan anyam-menganyam ata ini.

Nah, jika ada hal-hal yang "khas" di Tenganan selain masyarakatnya sendiri-yang memunculkan perasaan halus berbau ironis ketika menyaksikan "keterasingan" dan kesederhanaan mereka, harapan Mangku Widia sudah sepantasnya mendapatkan sambutan yang layak dari mereka yang berkecimpung dan memegang otorisasi di bidang pariwisata.

Jika dimungkinkan, tanpa harus melanggar awig-awig tinggalan para leluhur, masyarakat Tenganan sebaiknya dilatih untuk bisa menangkap peluang pariwisata. Alangkah idealnya.

Mangku Widia bercerita, sudah ada sebuah yayasan di Jakarta--dia lupa namanya--yang beberapa tahun terakhir ini melakukan penjajakan untuk membuat eco-tourism di

kawasan Tenganan. Tahun pertama diawali dengan peta jalur (tracking), tahun kedua mulai dilakukan komunikasi dengan desa adat. "Kami sadar jika ini tidak segera diurus, tentu akan membunuh potensi pariwisata kami sendiri," tutur Mangku Widia yang sebelum bertemu Kompas bercengkerama dengan sejumlah petugas dari Dinas Pariwisata. Tetapi, tambah Mangku Widia, "Kami menghendaki guide lokal."

Persoalannya, benarkah yayasan tersebut bisa menangkap "napas" masyarakat Tenganan yang kental dengan kultur warisan tahun abad ke-11? Ataukah mereka tidak peduli akan masyarakat Tenganan melainkan diri mereka sendiri? Atau ... berbagai kemungkinan terbuka, dari yang terbaik sampai yang terburuk. Kita hanya bisa mendoakan, semoga Tenganan yang penduduknya disebut Baliaga (Bali asli) tetap merupakan Bali yang "asli" yang tidak lagi terkesan muram karena kusam. (bur/rik/isw)

 

Bacaan diambil dari KompasSenin, 12 Maret 2001

Kata kerja    Verbs

Words in italic are the base/root words

bertahanmenanti-nantikandibawadihunimengungkapkanberbincangdimulaidiperkirakanmerangkap mendapatkan berpegangditulisdiperbaruidipertahankanmenawarkanberubahberhubunganmenerima memilikiterdengardikoordinirterasamelangkahimemasukimelaluimenyumbang

ber + tahanmenanti-nanti + kandi + bawadi + hunimeNG + ungkap + kanber + bincangdi + mulaidi + per + kira + kanme + rangkap meN + dapat + kanber + pegangdi + tulisdi + per + baru + idi + per + tahan + kanmeN + tawar + kanber + ubahber + hubung + anmeN + terimame + milik + iter + dengardi + koordinirte + rasame + langkah + ime + masuk + ime + lalu + imeNY + sumbang

hold out, surviveto wait on and onto be carriedto be occupiedto pronounce, to utterto chatto be begun, to be startedto be guessed, to be estimatedserve concurrently as, double asto getbase on, to hold onto be writtento be renewed, to be renovatedto be maintained, to be defendedto offerchange, become differentrelated to s.t., be in contactto receiveto own heard, audibleto be coordinatedfelt, tastedto stepto enterto pass through or by, by means ofto contribute, to donate

mengisiberlakudidasarkandibiarkanberkeliaranterbukadijejakidirambahmenunjukkanmeningkat

meNG + isiber + lakudi + dasar + kandi + biar + kanber + keliar + anter + bukadi + jejak + idi + rambahmeN + tunjuk + anmeN + tingkat

to fillbe valid, be in effectbased onto neglect, to be let aloneroam or wander about, swarm aboutopenedfollowed on the trailto clear away, to cut downto indicate, to point out s.t.to raise, to mount, to increase

Kata benda     Nouns

Words in italic are the base/root words

perubahanpertengahanpetunjukperaturankehadiranderetanketurunankeaslianperkawinankehidupanberdekatanpenangananwisatawanpetugasbangunanpenghasilanpendudukkepemilikankunjunganpengunjungpeningkatan

per + ubah + anper + tengah + anpe + eunuchper + atur + anke + hadir + anderet + anke + turun + anke + asli + anper + kawin + anke + hidup + anber + dekat + anpeN + tangan + anwisata + wanpe + tugasbangun + anpeNG + hasil + anpeN + dudukke + pe + milik + ankunjung + anpeNG + kunjungpeN + tingkat + an

change, alterationthe middle, the centerinstruction, guidelineregulationpresencerow, linedescent, offspringauthenticity, originalitymarriagelife, existencebe adjacenthandlingtouristemployee, functionarybuildingincomepopulationownershipvisitationvisitorthe increase

Kata-kata penting lainnyaOther important words

Words in italic are the base/root words  

terpencilterbilang

ter + pencilter + bilang

isolated, remotebe calculated

terbakarmelimpahsekaligusberjarakkawasanpengaruh

ter + bakarme + limpahsekali + gus ber + jarak

on fireabundant, overflow, plentifulat the same timehave a distanceareainfluence

Contoh-contoh kalimatExamples of sentencesSudah lama dia menanti-nantikan kedatangan pacarnya.It has been for a while she waits on and on for her boyfriend.

Suara bom itu terdengar sampai ke kawasan yang berjarak dua belas kilometer dari pusat ledakan.The sound of the bomb can be heard until to the area that has a distance of twelve kilometers from the center of the blast.

Para pengunjung ke pantai yang terpencil itu kebanyakan wisatawan dari manca negara.Visitors to that isolated beach are mostly tourists from abroad (foreign countries).

BENTUK-BENTUK KATA KERJA dan KATA BENDA

VERB and NOUN FORMSBacalah artikel di bawah ini dengan seksama. Kata-kata yang berwarna MERAH adalah kata kerja dan kata-kata yang berwarna BIRU adalah kata benda jadian. Kata-kata penting lainnya berwarna UNGU.

Read the article below carefully. RED colored words are verbs and BLUE colored words are nouns. Other important words are in PURPLE.

    Indonesian-English Dictionary

 

Bukit Longsor Hancurkan 17 Rumah di Jember

TEMPO Interaktif, Jember:Tujuhbelas rumah hancur, lima di antaranya terkubur tanah,

akibat longsor di Dusun Calok, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Longsoran tanah dari Bukit Gujuran yang terjadi Senin malam (24/2) itu juga menimbun sedikitnya 0,5 hektare sawah siap panen serta jalan desa sepanjang 300 meter.

Meski tak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, kerugian yang diderita warga ditaksir mencapai Rp 60 juta. Hingga saat ini, sedikitnya 48 keluarga warga Dusun Calok terpaksa mengungsi ke rumah tetangga dan sanak famili mereka yang dianggap aman.

Kepala Desa Arjasa, Suharso, tadi siang mengatakan warga setempat sebelumnya sudah menduga akan terjadi longsor. Pada Sabtu (22/2) petang, seorang warga, Mursyid, menemukan tanda-tanda keretakan tanah di punggung Bukit Gujuran. "Minggu siang, warga yang tinggal di bawah gumuk sudah bersiap-siap dengan memindahkan sejumlah barang dan ternak mereka," katanya.

Mursyid menuturkan, hujan deras yang turun sejak Minggu malam hingga Senin siang sudah menimbulkan kekhawatiran warga akan terjadinya bencana longsor seperti 1993 lalu. Pada Senin (24/2) sore sekitar pukul 16.30 WIB sempat terjadi angin puyuh disertai gerimis. “Tidak lama kemudian lindu (gempa bumi) datang sekitar dua menit, kemudian terjadi longsor itu,” tuturnya.

Longsoran dari bukit setinggi 100 meter dengan kemiringan 40 derajat itu langsung tumpah dan mengubur sejumlah rumah beserta isinya yang ada di bawah bukit. “Begitu terdengar suara gemuruh seperti gempa bumi, kami langsung lari keluar tanpa sempat menyelamatkan barang yang ada di dalam rumah,” tutur Suryani, 39 tahun, sambil berkaca-kaca menatap rumahnya yang rata dengan tanah. (Mahbub Djunaidy-Tempo News Room)

 

Bacaan diambil dari Tempo interaktif25 Februari 2003

Kata kerja    VerbsWords in italic are the base/root words

terkuburmenimbundideritaditaksirmencapaiterpaksamengungsidianggapmengatakanmendugamenemukanmemindahkanmenuturkanmenimbulkandisertaimenguburberkaca-kaca

ter + kuburmeN + timbundi + deritadi + taksirmeN + capaiter + paksameNG + ungsidi + anggapmeNG + kata + kanmeN + dugameN + temu + kanmeM + pindah + kan meN + tutur + kan meN + timbul + kandi + serta + imeNG + kuburber + kaca-kaca

buriedto bury, to pile upsufferedestimated, appraisedto reachforced toto take refugeconsidered asto sayto guess, to estimateto discover, to findto moveto tell, to sayto make s.t. appear or to come to the surfaceaccompanied by, accompanied withto bury

menatap meN + tatap be glistening with tears to look at

Kata benda   NounsWords in italic are the base/root words

  longsorankerugiankeretakankekhawatiranterjadinyaterdengar

longsor + anke + rugi + anke + retak + anke + khawatir + anterjadi + nyater + dengar

landslidefinancial losscrackworryeventheard

Kata-kata lainnya   Other wordsWords in italic are the base/root words

sedikitnyasepanjangsetempatsebelumnyasejumlahsetinggikemiringan

sedikit + nyase + panjangse + tempatse + belum + nyase + jumlahse + tinggike + miring + an

at leastas long as, all alongat the localitybefore, prior toa number of, an amount ofas high asslope

Contoh-contoh kalimatExamples of sentencesSetiap hari banyak orang menimbun sampah di tempat penimbunan sampah. Semakin lama timbunan itu menjadi semakin tinggi.Every day many people pile the garbage up at the garbage dump. As the time passes by, the pile becomes higher.

Pada waktu perang, orang-orang terpaksa mengungsi ke tempat lain. Di tempat pengungsian, para pengungsi yang jumlahnya ditaksir mencapai sedikit-dikitnya sepuluh ribu orang ini sangat menderita.In the wartime, people were forced to take refuge to another place. At the refugee camp, these refugees which number was estimated reaching at least ten thousands very suffered.

Lelaki tua itu menuturkan bahwa dia dianggap gila oleh orang-orang sekampungnya karena dia mengaku bahwa dia menemukan sejumlah emas di beberapa tempat di sepanjang sungai di desanya.That old man says that he is considered as crazy by the people of his

village because he claims that he finds an amount of gold at several places along the river in his village.

SUFFIX -an

With measures of time, weight, and distance, suffix -an forms adjectives meaning "done, happening,

appearing once in the measure indicated by the root word.

With some nouns bases -an derives adjectives meaning "having many [root word], containing many

[root word], or suffering from [root word]."

 

Suffix -an forms adjectives meaning "done, happening, appearing once"

bulanhariminggukilometer

"month""day""week""kilogram""meter"

bulananharianmingguankiloanmeteran

"monthly""daily""weekly""by the kilo""by the meter"

 

Suffix -an meaning "having many [root word], containing many [root word], or suffering from [root word]

cacingjamurkudissemutuban

"worm""fungus, mould""scabies""ant""gray hair"

cacinganjamurankudisansemutanubanan

"infested with worms""mouldy""suffering from scabies""suffer pins and needles""gray haired"

 

EXAMPLES:

1. Majalah 'O' adalah sebuah majalah bulanan.   'O' magazine is a monthly magazine.

2. Baju-baju bekas itu dijual secara kiloan.    Those used clothes are sold by the kilo.

3. Banyak anak kecil yang menderita cacingan.    Many small children are infested with worms.

4. Meskipun masih muda, ia sudah ubanan.    Even though he is still young, he is gray-haired already.

Adapted from:Indonesian: A Comprehensive GrammarSneddon, James Neil, Routledge, London, 1996.

SUFFIX -i

The suffix -i is added to roots to form transitive verbs (verbs which take a prefix meN and have

passives). The suffix -i has several meanings. One meaning of verbs with -i which we have seen in the basic sentences is "do at, in, on, from" that is the

verb refers to an object which is the location of the action. The following list gives some verb which take

-i in the locational meaning:

 

datang"come"

datangi "come to"

dekat "near" dekati"approach (go near to)"

duduk "sit" duduki "sit on"jalan "walk" jalani "walk on"jauh "far" jauhi "go far from"ketemu

"meet"

ketemui

"go to meet with"

kirim"send"

kirimi "send to"

tanam"plant"

tanami "plant on, in"

tidur"sleep"

tiduri"sleep on, with"

tulis"write"

tulisi "write on"

The suffix -i is used mainly in writing and formal speech. In colloquial speech one usually expresses idea with a phrase having a similar meaning which does not contain a verb with -i (usually a verb with no -i and a preposition):

(1) Anak itu senang sekali menulis di buku temannya. "That kid likes to write on his friend's books."

(2) Anak itu senang sekali menulisi buku temannya. "That kid likes to writes on his friend's books."

1 and 2 have the same meaning.

 

SUFFIX -kan

One large class of roots, some of which are adjectives uses -kan to make causatives. The

meaning of verbs formed by adding -kan to these roots is "cause to be [root]." For example we know the root habis 'finished, used up." Habiskan means "cause to be finished", or as we would express it in

English. "use something up." Similarly, we have seen kembali meaning "return." Kembalikan means "make something return", i.e., "return something."

 habis "all gone" habiskan "use up, finish up"

kawin "be married" kawinkan "marry off"

kembali "return" kembalikan "return something"

kosong "empty" kosongkan "empty something out"

kurang "be less" kurangkan "make something less"

lahir "be born" lahirkan "give birth (cause to be born)"

mandi "bath" mandikan "bath someone"

naik "ride, climb" naikkan "put upward, allow to ride"

pulang "go home" pulangkan "send home (cause to go home)"

sampai "arrive" sampaikan "pass forward (cause to arrive)"

senang "be happy" senangkan "make happy"

sewa "rent" sewakan "rent out"

tinggal "stay, remain" tinggalkan "leave behind (cause to remain)"

turun "go down, get off" turunkan "lower"

 

EXAMPLES:

1. "Dani, habiskan makanan itu!," kata ibu.    "Dani, finish up that food!," says mother.

2. Tolong kembalikan buku saya.    Please return my book.

3. Nanti malam kosongkan tong sampah ini.    Tonight empty out this garbage bin.

4. Sampaikan berita ini kepada keluarga Anda.    Pass forward these news to your family.

5. "Turunkan harga beras!," kata para mahasiswa kepada pemerintah.    "Lower the price of the rice!," say the university students to the government.

SUFFIXES -anda, -nda

Suffixes -anda and -nda are added to pronouns and kin terms to form honorific addresses to show respect.

Suffix -anda is added to bases which end with a consonant and suffix -nda to bases which end with a vowel. In most cases, a base ends with k loses the k,

then followed with -nda.

 

Suffix -anda, base ends with a consonant 

ayah "father" ayahanda

Suffix -nda, base ends with a vowel 

ibu "mother" ibunda

Suffix -nda, base ends with k 

kakak

adik

nenekanak

"older brother, older sister""younger brother, younger sister""grandmother""child"

kakanda

adinda

nenendaananda

 

Adapted from:Indonesian: A Comprehensive GrammarSneddon, James Neil, Routledge, London, 1996.

SUFFIXES -wan, -wati, and -man

Suffix -wan occurs with bases to indicate a person associated with the base. Suffixes wan and -wati, both borrowed from Sanskrit, are the only affixes

making gender distinction. The form -wan refers to both male and female and the form -wati refer to

female only. The suffix -man derives one noun only.       

 

Suffix -wan, indicates a person (male or female) associated with the base

hartailmuolahraga

"wealth, property""science""sport"

hartawanilmuwanolahragawan

wealthy personscientistsportsman/woman

rohanisejarah

"clergy""history"

rohaniwansejara(h)wan

clergymanhistorian

Suffix -wan to indicate male (m) and -wati to indicate female (f) 

karya

seni

wisuda

"work"

"art"

"graduation"

karyawan (m,f)karyawati (f)

seniman (m,f)seniwati (f)

wisudawan (m,f)wisudawati (f)

male/female workerfemale worker

male/female artistfemale artist

graduating male/femalegraduating female

Suffix -man

seni "art" seniman (m,f) male/female artist

 

EXAMPLE:

1. Hartawan itu sangat murah hati.    That wealthy person is very generous.

2. Para ilmuwan sedang berusaha menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit kanker.    The scientists are trying to find medicine to cure cancer.

3. Para wisudawan sedang memasuki ruangan untuk upacara wisuda.    The graduating people are entering the room for graduation ceremony. 

4. Ada banyak seniman yang tinggal di desa itu.    There are many artists live in that village.

Adapted from:Indonesian: A Comprehensive GrammarSneddon, James Neil, Routledge, London, 1996.

Suffix (Akhiran)

 

Click on the blue word here

suffix - an

suffix -nya

suffix -i suffix -nda,

-anda

suffix - kan

suffix -man, -wan,   -wati

Suffix or akhiran is an element that is structurally being placed on the tail end of a verb.

For example : pangkalan, buatan, hukuman, masuki, sayangkan, etc

 

Prefixs (Awalan) 

Prefiks or awalan is an element that is structurally being put in front of a word, for instance, the word "membeli"  is made up of the prefix "mem-"  + "beli" which is a root

word (kata dasar).

 

Click on the prefixes listed below to learn more about each one:         prefix ber- prefix di-

prefix ke- prefix me-

prefix pe- prefix se-

prefix ter-

 

PREFIX BER-

There are two types of verbs with the ber- prefix; those formed by adding the ber- prefix to a noun, and adding the ber- prefix to a root verb.

When the ber- prefix attached to a verb root the resulting verb is a reflexsive verb.

These are list of example for adding ber- to the root.

Lists of example for ber- + Noun

belanja berbelanja

"shop"

bicara berbicara "talk, speak"

kumpul berkumpul

"gather together"

tanya bertanya "ask"

henti berhenti "stop"

nama bernama "having the name"

umur berumur "having the age of"

sepeda bersepeda

"to go by bicycle"

jalan berjalan "walk"

sekolah bersekolah

"attend school, study"

Irregular prefix ber- 

Click here...........

Exercise

kerja

bekerja

"work"

ajar

belajar

"study"

EXAMPLES:

1. Kalau Anda tidak mengerti, Anda bisa bertanya kepada ibu dosen.    If you don't understand, you may ask the (female university) teacher.

2. Hasan bersekolah di SMA Negeri di kota Surabaya.    Hasan attends school at SMA Negeri (state high school) in the city of Surabaya.

3. Anjing saya bernama "Bleki" dan dia berumur dua tahun.    My dog has a name "Bleki" and he is two years old.

4. Ibu Sumirat bekerja di sebuah rumah sakit tidak jauh dari rumahnya.    Ibu Sumirat works at a hospital not far from her house.

 

PREFIX Ke-

Prefix ke- is added to a few root words to form nouns.

 

hendak "want, will" kehendak "desire, will"

kasih

rangka

tua

"love"

"skeleton, framework"

"old"

kekasih

kerangka

ketua

"lover"

"skeleton"

"chairman"

 

EXAMPLES:

1. Sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa Pak Amat pergi meninggalkan kita.    It is God's will that Pak Amat left us (passed away).

2. Anton dan Rini menjadi sepasang kekasih selama empat tahun.    Anton and Rini become a couple of lovers for four years.

3. Kerangka orang yang hilang itu ditemukan di tengah hutan.    The skeleton of the missing person was found in the forest.

4. Budiman terpilih menjadi ketua organisasi pemuda di desanya.    Budiman was elected as the chairman of the youth organization in his village.

Adapted from:Indonesian: A Comprehensive GrammarSneddon, James Neil, Routledge, London, 1996.

                  

PREFIX -pe

EXAMPLES:

1. Elvi Sukaesih adalah seorang penyanyi 'dangdut' yang terkenal di Indonesia.    Elvi Sukaesih is a famous 'dangdut' singer in Indonesia.

2. Jumlah pemakai internet di Indonesia belum banyak.    The number of internet users in Indonesia has not many yet.

3. Pak Joko bekerja sebagai penggali sumur.    Pak Joko works as a well digger.

4. Para penjahat itu sudah ditangkap polisi.     The criminals have been captured by the police.

PREFIX ter-

The prefix ter- is added to verb roots to form stative verbs.  With a stative meaning-that is, roots that refer to the state of something or of a person, the

prefix ter- forms a word that emphasizes the accidentally of the action by which the state came into being or that is has been possible for the state

to have come into being. The following list gives stative forms that we have so far, which also occur

prefixed by ter-:

 

 

bangun "be awake, get up" terbangu "be awakened by

nsomething that does not intend to awake"

biasa "be accustomed to" terbiasa"get accustomed to something by"

buka "open" terbuka"accidentally come open"

dapat"be in hand after having been obtained"

terdapat "be available"

duduk "be seated" terduduk"fall into a sitting position"

ingat "remember" teringat

"be reminded by something that does not intend to remind one"

masuk "enter, go inside" termasuk

"be included in a group or accidentally get into something"

sedia "be ready" tersedia"be made available for use"

tidur "sleep" tertidur "fall asleep"

tutup "closed" tertutup "be locked"

 

EXAMPLE:

a (1) Dia duduk di depan. "He sat in the front."

a (2) Dia jatuh terduduk. "He fell into a sitting position."

b (1) Pedagang itu mandi setelah bangun. "The merchant took a bath after he woke up."

b (2) Dia terbangun karena ribut di luar kamarnya. "He was awakened by a noise outside of his room."

PREFIX ME-

click here for

Exercise

To learn more about prefix meN-:

meN- worksheet

    1. adding meN-, finding roots;     2. "A good time in the meN-s room"

click here for an easy-to-print version of the chart below

EXAMPLES:

1. Ibu membeli daging, telur, dan sayur-sayuran di pasar.    Ibu bought meat, egg, and vegetables at the market.

2. Para penjual menjual makanan dan minuman.    The sellers sell food and drink.

3. Banyak sampah menggunung di pinggir jalan.    A lot of garbage pile up by the side of the street.

4. Anda bisa menyewa mobil di 'Enterprise'.    You may rent a car at 'Enterprise'.

5. Ibu Harun meyakinkan Michael bahwa sekolah itu adalah sekolah yang baik.    Ibu harun assures Michael that the school is a good school.

PREFIX Se-

Prefix Se- occurs with group numbers to form cardinal numbers and in fractions. It also replaces the number "satu" before classifiers.

To form cardinal numberssepuluhsebelasseratusseribusejuta

semilyar

"ten""eleven"

"one hundred""one thousand"

"one million""one billion"

To form fractionssepertiga

seperempatseperlima

sepersepuluhseperduapuluh

But: setengah or separuh

"one third""one fourth""one fifth"

"one tenth""one twentieth"

"half"

To replace "satu" before classifiersekor (tail)helai (piece)orang (person)titik (dot, drop)gelas (glass)piring (plate)cangkir (cup)

seekor kudasehelai kain batikseorang wanitasetitik airsegelas sususepiring nasisecangkir kopi

"a horse""a piece of batik cloth""a woman""a drop of water""a glass of milk""a plate of rice""a cup of coffee"

EXAMPLES:

1. Ada sebelas orang mahasiswa di kelas ini, sepuluh di antaranya adalah wanita.    There are eleven students in this class, ten of them are females.

2. Hanya seperlima dari penduduk desa itu yang tidak buta huruf.    Only one-fifth of the population of that village who are literate.

3. Untuk membuat kue itu, dibutuhkan tepung sebanyak setengah kilogram.    To make that cake, needed flour a half kilogram.

4. Tadi pagi saya melihat seorang wanita cantik sedang membeli sehelai kain batik sementara suaminya membeli sepiring pisang goreng dan secangkir kopi.    This morning I saw a beautiful woman who was buying a piece of batik cloth whilst her husband was buying a plate of fried banana and a cup of coffee.

Adapted from:Indonesian: A Comprehensive GrammarSneddon, James Neil, Routledge, London, 1996.

Circumfix (Gabungan)

Circumfix or gabungan is a combined element that is structurally being put in front and at the end of a word,

for instance, the word "penembakan"  is made up of the prefix "peN-"  + "tembak," which is a root word (kata dasar) + "-an." 

 

Click on the circumfix listed below to learn more about each one:

Circumfix ke-...an

Circumfix peN-...-an

Circumfix per-...-an

Circumfix (Gabungan)

Back to Main

CIRCUMFIX ke-...-an

Circumfix ke-...-an forms nouns from adjectives, verbs, and other classes. Such nouns are generally

of an abstract nature. In general, the meaning of the noun can be predicted from the meaning of the

adjective base. However, in a few cases this is not so. Circumfix ke-...-an also can be based on nouns,

which then mean "having to do with [base]."

 

These are list of examples of nouns which identify the characteristics of the adjectives

These are list of examples of nouns which DO NOT identify the characteristics of the adjectives

baik kebaikan "kindness"

bebas

kebebasan

"freedom"

berat keberatan "objection"

malu kemaluan "genital"

bersih

kebersihan

"cleanliness"

cantik

kecantikan "beauty"

sehatkesehatan

"health"

terangketerangan

"explanation"

Circumfix ke-...-an can be combined with NOT, which correspond with dis- or in- in English

 

Circumfix ke-...-an that means "having to do with [base]"

adilketidak-adilan

"injustice"

jujur ketidak-jujuran

"dishonesty"

puasketidak-puasan

"dissatisfaction"

senang ketidak-senangan

"displeasure"

anggota

keanggotaan

"membership"

daerah kedaerahan "regionalism"

ibu keibuan"motherliness"

wanita kewanitaan "femininity"

 

EXAMPLES:

1. Kecantikan gadis muda itu dikagumi oleh banyak orang.    The beauty of that young woman is admired by many people.

2. Bapak dan Ibu Sadli menyatakan keberatan kalau Susi pulang larut malam.    Bapak and Ibu Sadli raise an  objection if Susi comes home late at night.

3. Para demonstran itu menyatakan ketidak-puasannya terhadap pemerintah.    The demonstrators raise their dissatisfaction toward the government.

4. Rasa keibuannya timbul ketika ia melihat bayi malang itu.    Her feeling of motherliness grew when she saw that poor baby.

 

Adapted from: Indonesian: A Comprehensive GrammarJames Neil SneddonRoutledge, London, 1996

 

Circumfix (Gabungan)

Back to Main

CIRCUMFIX peN-...-an

Circumfix peN-...-an forms nouns which refer to the action expressed by the corresponding transitive verb and often translate to "the act of doing what the verb refers to." Other nouns relate with the object of the corresponding verb. A number of

peN-...-an nouns refer to the pace where the action of the corresponding verb typically occurs.

 

peN-...-an nouns that refer to the action expressed by the corresponding transitive verb and often translate to "the act of doing what the verb refers to"

 peN-...-an nouns refer to the place where the action of the corresponding verb typically occurs

satu penyatuan"the uniting of"

tulis penulisan"the writing of"

kumpulpengumpulan

"the collecting of"

henti penghentian"the stopping of"

kirim pengiriman"the sending of"

giling penggilingan

"mill"

cuci pencucian "laundry, act of washing"

inap penginapan "lodging, inn"

buang pembuangan

"exile, act of exiling"

 peN-...-an nouns relate with the object of the corresponding verb

pandang memandang pemandangan "view, scenery"

umum mengumumkan

pengumuman "announcement"

 

EXAMPLES:

1. Pengiriman barang-barang P.T. Makmur dilakukan dengan truk-truk.    The sending of P.T. Makmur's commodities are carried out by trucks.

2. Pak Budi sekeluarga menginap di sebuah penginapan di pantai.    Pak Budi and his family stayed overnight at a lodging by the beach.

3. Pemandangan dari jendela kamar Pak Budi indah sekali.    The view from Pak Budi's room's window is very beautiful.

Adapted from: Indonesian: A Comprehensive GrammarJames Neil SneddonRoutledge, London, 1996

Circumfix (Gabungan)

Back to Main

CIRCUMFIX per-...-an

Circumfix per-...-an indicates the process or result of the action referred to by the corresponding verb. Some per-...-an nouns indicating the act of doing

what the verb indicates. Per-...-an nouns with noun bases may indicate "having to do with [base]. With limited usage, per-...-an forms nouns referring to road intersections. Some per-...-an nouns refer to the place where the action of the corresponding

verb occurs.   

per-...-an nouns indicating the act of doing what the verb indicates. Per-...-an nouns with noun bases may indicate "having to do with [base]

 

 

Circumfix per-...-an indicates the process or result of the action referred to by the corresponding verb

budak perbudakan "slavery"

musuh permusuhan "enmity"

saudarapersaudaraan

"brotherhood"

sekutu persekutuan "alliance"

wakil perwakilan"representation, delegation"

kerja bekerja pekerjaan "work"

ajar belajar pelajaran "lesson"

gerak bergerak pergerakan "movement"

janji berjanji perjanjian"promise, agreement"

temu bertemu pertemuan "meeting"

per-...-an forms nouns referring to road intersections

 

per-...-an nouns refer to the place where the action of the corresponding verb occurs

tiga pertigaan"three-way intersection"

empat perempatan "cross-roads"

henti perhentian "stopping place"

judi perjudian "gambling place"

cetak percetakan "printery"

tenun pertenunan "textile mill"

EXAMPLES:

1. Ada perbudakan dalam sejarah negara Amerika Serikat.    There is slavery in the United States' history.

2. Para mahasiswa sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia.    The (university) students like Bahasa Indonesia lesson very much.

3. Lampu lalu lintas di perempatan di depan kampus sudah dipasang.     Traffict lights at the cross-roads in front of the campus have been installed.

4. Ada banyak usaha pertenunan tradisional di Bali.    There are many traditional textile mill industries in Bali.

 

Adapted from: Indonesian: A Comprehensive GrammarJames Neil SneddonRoutledge, London, 1996