TATARAN FONOLOGI

  • View
    231

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of TATARAN FONOLOGI

TATARAN FONOLOGIFonologi ialah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa (Chaer, 1994). Satuan bunyi dibedakan antara fonetik dan fonemik. Fonetik ialah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Misalnya : bunyi [i] pada kata [intan], [angin], dan [batik] tidak sama. Tulisan fonetik dibuat berdasarkan aksara latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasinya. Ini dilakukan karena jumlah bunyi melebihi 26 aksara latin. Bunyi terdiri dari kelompok bunyi vokal dan konsonan. Di samping itu, ada bunyi diftong atau vokal rangkap, karena posisi lidah pada bagian awal dan akhir bunyi tidak sama. Misalnya bunyi [au] pada kata kerbau, [ai] pada kata cukai, dan lain-lain. Bunyi konsonan diklasifikasikan atas (1) posisi pita suara (bergetar atau tidak bergetar), (2) tempat artikulasi (labial, dental), dan (3) cara artikulasi (sengau, hambat). Fonetik terdiri dari :1) Fonetik auditoris (penerimaan bunyi oleh telinga)2) Fonetik artikulasi (penerbitan bunyi oleh alat ucap manusia)3) Fonetik akustik (ciri-ciri bunyi bahasa akibat peristiwa fisika)Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bahasa sebagai pembeda makna. Contoh: bunyi [p] dan [b] pada kata [paru] dan [baru] menyebabkan perbedaan makna. Karena itu [p] dan [b] disebut fonem. Bunyi yang tidak membedakan makna bukan fonem. Bunyi [t] dan [th] dalam bahasa Inggris bukanlah dua fonem yang berbeda, tetapi dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Variasi bunyi yang timbul dari realisasi fonem disebut alofon. Fonem [i] dalam bahasa Indonesia, misalnya, mempunyai empat buah alofon, yaitu bunyi [i] dalam kata cita, tarik, ingkar, dan kali. Klasifikasi Konsonan:1) Berdasarkan artikulator dan titik artikulasiBilabial : b, p, m, wPalatal : c, j, ny, yVelar : k, g, kh, ngDental : t, d, n2) Berdasarkan jalan keluar udaraBunyi oral : p, b, w, r, dan lain-lainBunyi nasal : m, n, ng, ny3) Berdasarkan halangan yang dijumpai saat udara keluarHambat atau stop : p, b, k, t, dFrikatif atau geser : f, vSpiran atau desis : s, z, syTrill atau getar : rLateral : l 4) Berdasarkan getaran pita suaraBersuara : b, c, d, f, g, h, dan lain-lainTidak bersuara : k, t, p, sPerubahan Fonem a. Asimilasi dan DisimilasiAsimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya, [Sabtu] diucapkan [saptu] karena pengaruh bunyi [t]. Atau fonem yang tidak sama dijakdikan sama. Misalnya, [al salam] menjadi [assalam] Jika dalam asimilasi, dua bunyi yang berbeda menjadi sama, maka disimilasi perubahan itu menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda. Misalnya kata [citta] dalam bahasa Sanskerta berubah menjadi [cinta] dan [cipta]. Jadi ada perubahan bunyi [tt] menjadi [nt] dan [pt]. a. Metatesis dan EpentesisMetatesis adalah sebuah bunyi yang bertukar tempat dengan bunyi yang lain. Misalnya [brantas] dan [bantras], [jalur] dan [lajur], [almari] dan [lemari]. Epentetis terjadi jika sebuah fonem disisipkan dalam sebuah kata. Misalnya [kapak] menjadi [kampak]a. KontraksiKontraksi terjadi pemendekan ujaran dalam percakapan yang cepat. Misalnya, [tidak tahu] menjadi [ndak tahu], [shall not] menjadi [shant], dan lain-lain.a. DiftongisasiProses perubahan satu vokal menjadi diftong. Misalnya, [sentosa] menjadi [sentausa]a. MonoftongisasiProses perubahan diftong menjadi satu vokal. Misalnya, [satai] menjadi [sate], atau [pulau] menjadi [pulo].a. SandiSandi adalah dua vokal berturut lebur menjadi satu vokal. Misalnya [pesantrian] menjadi [pesantren].a. AdaptasiAdaptasi adalah penyesuaian bentuk. Misalnya, [chauffeur] menjadi [sopir], atau [goal] menjadi [gol].a. AnalogiAnalogi adalah pembentukan kata berdasarkan bentuk yang sudah ada. Misalnya [sastrawan] menjadi [sastrawati].a. HiperkorekMembetulkan yang tepat sehingga menjadi salah. Misalnya, [surga] menjadi [syurga], [pihak] menjadi [fihak].a. HaplologiHaplologi adalah penghilangan sebuah suku kata di tengah kata. Misalnya, [budhidaya] menjadi [budidaya], [mahardika] menjadi [merdeka].

TATARAN MORFOLOGIIstilah morfem diperkenalkan oleh kaum strukturalis karena tata bahasa tradisional tidak mengenalnya. Morfem memang bukan satuan sintaksis. Morfem adalah satuan terkecil yang mempunyai dan mempengaruhi arti. Keseluruhan ilmu yang mempelajari proses pembentuka kata disebut Morfologi. Di samping itu, dikenal juga istilah morfofonemik, yaitu peristiwa berubahnya wujud morfem karena pengaruh 1) afiksasi, 2) reduplikasi, dan 3) komposisi.Alomorf adalah variasi bentuk yang berlainan dari morfem yang sama. Misalnya variasi imbuhan me- pada kata melihat, membaca, mendengar, menyanyi, dan menggali. Dengan demikian me- mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Klasifikasi Morfem:a. Morfem bebasMorfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan. Misalnya meja (KB), pukul (KK), manis (KS), dan telah (KT). Morfem ini biasa juga disebut dengan morfem bermakna leksikal.a. Morfem terikatMorfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri, hanya mempunyai makna jika bergabung dengan bentuk lain. Morfem ini terdiri dari : imbuhan, pokok kata, bentuk unik, partikel, klitika, dan kata tugas yang tidak dapat berdiri sendiri. Morfem ini juga disebut dengan morfem tidak bermakna leksikal.Di samping itu, Verhaar menyebut kelompok morfem prakategorial atau bentuk pradasar. Secara semantik morfem ini mempunyai makna, tetapi secara gramatikal tidak dapat berdiri sendiri. Misalnya [juang], [henti], dan [gaul]. Dalam kelompok ini juga termasuk sejumlah morfem yang hanya dapat muncul pada pasangan yang tetap (morfem unik). Misalnya [renta] pada tua renta, [kerontang] pada kering kerontang, dan [kuyup] pada kata basah kuyup. Preposisi dan konjungsi juga tidak dapat berdiri sendiri, tetapi mempunyai makna. Morfem dasar, dapat berwujud morfem terikat, bisa juga morfem bebas. Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar dalam proses morfologi. Morfem dasar dapat diberi afiksasi, reduplikasi, atau bergabung dengan morfem lain.Bentuk dasar adalah bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologis, dapat berupa morfem tunggal atau morfem gabungan. Misalnya:KomposisiBentuk DasarMorfem Dasar

MemperbaikiPerbaikiBaik

Keanekaragamananeka ragamaneka dan ragam

KataKata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, atau deretan huruf yang diapit oleh dua spasi dan mempunyai satu arti (Tatabahasa Tradisional). Bloomfield (tatabahasa Struktural) menyatakan bahwa kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form). Linguistik Eropah mengemukakan syarat-syarat sebuah kata: 1) mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap serta tidak dapat diselipi fonem lain, 2) mempunyai kebebasan berpindah tempat. Syarat kedua ini menjadi perdebatan, misalnya kalimat Nenek membaca koran kemarin, ternyata dapat dipertukarkan susunannya. Tatabahasa Tradisional mengklasifikasikan kata atas kategori makna dan kategori fungsi. Kategori makna digunakan untuk mengklasifikasikan verba, nomina, dan ajektiva. Kategori fungsi digunakan untuk pengelompokan preposisi, konjungsi, advervia, dan pronomina. Verba (KK) adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan, dapat berdistribusi di belakang kata tidak.Nomina (KB) adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan, dapat mengisi konstruksi bukan .Ajektiva (KS) adalah kata yang menyatakan sifat, atau dapat mengisi konstruksi sangatBeberapa kata dalam bahasa yang berfleksi (Bhs. Arab, Latin, dan Sanskerta), hanya dapat digunakan dalam kalimat jika bentuknya disesuaikan dengan kategori gramatikal yang berlaku. Misalnya dengan afiksasi atau modifikasi lain terhadap bentuk dasar. Proses inflektif ini tidak mengakibatkan pembentukan kata baru. Berbeda dengan itu, derivatif membentuk kata baru. Misalnya, [nyanyi] dengan [penyanyi]. Antara kedua kata itu berbeda identitas leksikalnya. Kelas Kata1. Aliran TradisionalAliran ini membagi kata atas 10 kelas sesuai dengan konsep Aristoteles, yakni:a) kata benda (kata yang menerangkan nama suatu benda atau yang dibendakan). Misalnya, lemari, kemanusiaanb) kata sifat (kata yang menyatakan sifat atau keadaan suatu benda). Misalnya, keriting, manisc) kata kerja (kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan). Misalnya: tendang, berjalan-jaland) kata keterangan (kata yang menerangkan kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan lain-lain). Misalnya:(1) keterangan waktu : sesudah, sebelum, ketika(2) keterangan tempat : di sini, ke sana, dari sana(3) keterangan syarat : jika, kalau, seandainya(4) keterangan sebab : sebab, karena(5) keterangan akibat : sehingga, karena itu(6) keterangan tujuan : agar, supaya, untuk, guna, buat(7) keterangan perwatasan : kecuali, hanya, selaine) kata ganti (kata yang menggantikan kata benda) :(1) kata ganti orang : aku, kau, dia, kita, mereka(2) kata ganti penghubung : yang, bahwa(3) kata ganti penunjuk : itu, ini, tersebut(4) kata ganti penanya : apa, siapa, di mana(5) kata ganti tak tentu : berapa(6) kata ganti milik : -nyaf) kata bilangan (menyatakan jumlah, urutan atau tingkat suatu benda) : (1) bilangan utama : satu, sepuluh(2) bilangan tingkat : pertama, kelima(3) bilangan tak tentu : beberapa, tiap-tiap(4) bilangan kumpulan : berdua, kedua hal itu(5) bilangan bantu : sebuah, seekor, seutas, seorang, sepucukg) kata depan (kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat) : di, ke, dari, padah) kata sambung (kata yang menghubungkan suatu kata dengan kata lain, menghubungkan bagian-bagian dalam kalimat, atau menghubungkan antarkalimat):(1) menunjukkan gabungan : dan, serta, lagipula(2) menunjukkan pertentangan : tetapi, melainkan, sedangkan(3) menyatakan penjelas : yakni, yaitui) kata sandang (kata yang menentukan atau membatasi sesuatu) : si, sang, yang, paraj) kata seru (menyatakan luapan peras