Studi Kasus

  • View
    222

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Studi Kasus

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Menurut Djumhur (1975), pada umumnya pendidikan diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Pendidikan sebagai suatu proses pertumbuhan dan perkembangan individu yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses tertentu timbullah interaksi antara individu dengan lingkungannya baik secara fisik maupun secara sosial kultural.

Proses pendidikan dapat bersifat formal maupun non formal yaitu pendidikan yang berada dilingkungan keluarga dan lembaga-lembaga yang bersifat non formal. Sedangkan sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan penting dalam proses pendewasaan anak dan menjadikannya berguna dalam masyrakat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi segala kesulitan belajar yang dihadapi para siswanya. Sebagai seorang guru yang baik maka guru tidak hanya menyampaikan materi yang sesuai tetapi juga harus tanggapan terhadap segala macam masalah-masalah yang dihadapi oleh siswanya. Besar kecilnya hambatan yang dihadapi oleh siswa merupakan salah satu faktor tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut maka seorang guru harus memberikan layanan bimbingan terhadap siswa yang mengalami keterlambat dalam belajar.

Layanan bimbingan siswa merupakan salah satu model pemberian bantuan layanan dan bimbingan kepada siswa sebagai upaya pemberian bantuan pemecahan yang dihadapi siswa secara efektif dan efisien, dengan harapan proses belajar mengajar dapat terlaksana secara optimal.

Menyelenggarkan studi kasus adalah salah satu usaha yang bertujuan untuk memahami siswa sebagai individu dalam penyesuain diri yang baik dan membantu perkembangan siswa secara optimal agar dapat membantu dalam membentuk peserta didik yang unggul sesuai amanat UU tentang tujuan 2

pendidikan formal yang tercantum dalam UU RI No. 20 TH 2003, BAB II Pasal 3 :

untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, kreatif dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Praktik Pengalaman Lapangan (PP ) merupakan kegiatan intrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu dari beberapa syarat untuk dapat dinyatakan sebagai sarjana pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan dan membentuk serta merancang calon tenaga pendidik yang professional dan kompeten serta menguasai kemampuan keguruan yang utuh melalui praktek secara langsung di sekolah yang sudah ditentukan. Dengan adanya program ini, setelah menyelesaikan pendidikannya calon pendidik diharapkan siap secara mandiri dalam mengemban tugas guru sesuai bidangnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam menyelenggarakan Program Pengalaman Lapangan (PPL), praktikan sebagai calon guru tentunya tidak hanya berkewajiban menyampaikan materi pembelajaran, mentransfer pengetahuan tetapi lebih dari pada itu, seorang guru dituntut untuk memahami kondisi peserta didik dalam penerimaan pembelajaran tersebut. Seorang guru juga dituntut untuk menangani peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mencarikan pemecahan sebagai jalan keluarnya. Guru diharapkan peka dan tanggap terhadap masalah yang dihadapi oleh anak didiknya. Karena guru merupakan orang yang terdekat dengan peserta didik, maka disamping berperan sebagai penyampai materi pelajaran, seorang guru diharapkan selalu siap membantu siswa yang mempunyai masalah dengan proses belajarnya. Menurut Prof.Dr. Made Pidarta, pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yang terkait dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulai dari perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, perasaan, kemauan dan sosial. Sedangkan menurut Mulyono (2008) belajar bukanlah sekedar transmisi ilmu pengetahuan semata sebagai fakta. 3 1.2 Pemilihan Kasus

Layanan bimbingan siswa yang dilaksanakan diutamakan pada siwa yang dianggap mempunyai masalah yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya dan perlu dicarikan pemecahannya, agar siswa yang bersangkutan sesegera mungkin dapat mengikuti dan melaksanakan tugas dalam belajarnya dengan hasil yang optimal sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk mendapatkan siswa yang termaksud diatas, selama PPL dan kegiatan mengajar dikelas penulis mengadakan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun yang mendasari penulis untuk memilih siswa yang bersangkutan sebagai subjek studi kasus adalah sebagi berikut:

1. Kelihatan kurang bersemangat dan pasif di kelas.1 Kurang mempunyai rasa percaya diri saat dikelas.

2 Kelihatannya kurang dalam berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman sekelas.

3 Mempunyai nilai di bawah rata-rata kelas.4 Lamban dalam menerima pelajaran yang di sampaikan guru.

1.3 Tujuan Layanan Studi Kasus Tujuan studi kasus di sekolah adalah untuk mencapai dan mendapatkan pemahaman menyuluhan mengenai siswa yang bermasalah sehingga dapat dibuat program bantuan. tujuan studi kasus dapat dibagi menjadi 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

o TUJUAN UMUM

Secara umum tujuan studi kasus bertujuan untuk :

1. Umum memproleh gambaran yang jelas tentang keadaan pribadi siswa yang di anggap mempunyai masalah belajar.

2. Untuk mengetahui penyebab-penyebab dan menerapkan jenis dan sifat kesulitan belajar serta latar belakang timbulnya masalah yang dihadapi siswa kasus.

3. Untuk memberi bekal pengalaman kepada calon guru agar lebih peka terhadap permasalahan yang dihadapi siswa dan mampu memecahkannya.

o TUJUAN KHUSUS

Secara khusus pelaksanan studi kasus bertujuan untuk:

1. Memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi siswa yang mempunyai masalah.

2. Membantu siswa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

3. Membantu siswa memecahkan masalah dan mengembangkan potensi belajar siswa secara optimal.

6

1.4 Manfaat Layanan Studi Kasus Kegunaan studi kasus dalam layanan bimbingan siswa disekolah merupakan suatu upaya dalam membantu siswa yang bermasalah supaya dapat memahami kemampuan dirinya dan lingkungan dalam usaha untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kasus. Selain itu juga dapat berguna untuk siswa agar mengetahui keadaan diri sendiri dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Secara terperinci dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Bagi Siswa

a. Siswa dapat memahami karakteristik keribadiannya sendiri.

b. Siswa mendapatkan bantuan dalam penemuan permasalahan dan jalan pemecahannya.

c. Siswa dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

2. Bagi Calon Guru (Praktikan)

Pengalaman ini memberikan masukan dan bekal dalam usaha mengatasi masalah yang dialami siswa yang juga merupakan pengalaman praktis untuk menunjang profesionalisme sebagai guru di masa yang akan datang.

3. Bagi Wali Kelas

Layanan bimbingan siswa bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam memahami peserta didik, mengidentifikasi permasalahan permasalahan dan jalan pemecahan dalam rangka membimbing dan membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar.

4. Bagi Konselor

Laporan bimbingan siswa ini diharapkan untuk bisa dijadikan sebagai solusi alternatif dalam mengetahui sekaligus memahami siswa yang bermasalah dan penyelesaiannya serta pemberian bimbingan atas latar belakang penyebabnya sehingga siswa mampu menjadi insan seutuhnya. 7

5. Bagi Kepala Sekolah

a. Bahan pertimbangan dalam monitoring keadaan siswa dan kemampuan guru, terutama berkaitan dengan studi kasus.

b. Merupakan salah satu sumber informasi tentang siswanya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan menentukan kebijaksanaan tentang masalah siswa

6. Orang Tua

a. Meningkatkan komunikasi antara orang tua dan sekolah sehingga dapat dihindari kesalahan atau kekeliruan dalam mendidik anak.

b. Memberikan informasi tentang situasi dan kondisi anaknya disekolah pada umumnya, sehingga dengan informasi ini orang tua dapat mengendalikan dan membina anaknnya.

1.5 Konfidensial Pengumpulan data dalam kegiatan studi kasus dilakukan bertujuan untuk memperoleh informasi yang selengkap-lengkapnya tentang siswa. Data siswa baik berupa data pribadi maupun data lingkungan sangat diperlukan karena akan mempermudah praktikan dalam membantu siswa.

Agar lebih menjaga kerahasiaan identitas siswa dalam menyusun laporan studi kasus ini, praktikan menggunakan nama fiktif sebagai pengganti nama asli siswa yang dibantu dalam menyelesaikan masalahnya. Sehingga kerahasiaan identitas siswa yang dibantu untuk menyelesaikan masalahnya tetap terjaga. Hal ini tidak terlepas dari kode etik jabatan konselor yang mana dimaksudkan agar konselor dalam menjalankan tugasnya tetap menjaga standar mutu dan menghindari adanya penyimpangan.

Menurut Munandir (1979) kode etik jabatan konselor adalah terdapat dalam kode etik no. 1 dan 4 penyimpangan penggunaan informasi. Kode etik konselor butir 1.1 adalah: 8

Catatan-catatan tentang diri siswa, yang meliputi data hasil wawancara, testing, surat menyurat, perekam dan data lainnya, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan riset atau pendidikan calon konselor asalkan identitas siswa dirahasiakan.

Butir tersebut diperjelas lagi pada butir 1.2 yang berbunyi:

Penyampaian informasi mengenai siswa kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain hanya boleh dilakukan seizin siswa. Penggunaan informasi tentang siswa yang sama atau yang lain dapat dibenarkan asalkan untuk kepentingan siswa dan tidak merugikan siswa. Kewajiban konselor untuk