of 55 /55
PENDAHULUAN Ovum yang dibuahi oleh sperma dan telah berkembang menjadi blastokista pada umumnya tertanam di lapisan endometrium rongga uterus. Implantasi ditempat lain disebut kehamilan ektopik. Lebih dari 1 dari setiap 100 kehamilan di Amerika Serikat adalah kehamilan ektopik, dan lebih dari 95% kehamilan ektopik terjadi di tuba fallopii. Tipe kehamilan ektopik lainnya adalah implantasi trofoblas di cervix uteri (kehamilan cervix) atau ovarium (kehamilan ovarium). Kehamilan abdominal terjadi bila kehamilan yang sedang tumbuh di dalam tuba fallopii pecah ke dalam rongga peritoneum dan terjadi implantasi di struktur panggul, termasuk uterus, usus, atau dinding lateral panggul. 1 Frekuensi kehamilan ektopik yang sebenarnya sukar ditentukan oleh karena gejala kehamilan ektopik yang dini tidak selalu jelas dan tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus dalam tuba atau ruptur tuba. Sebagian hasil konsepsi mati dan pada umur kehamilan muda kemudian diresorbsi. 2 Angka kejadian kehamilan ektopik 1

Status Pasien Ket

Embed Size (px)

Text of Status Pasien Ket

Page 1: Status Pasien Ket

PENDAHULUAN

Ovum yang dibuahi oleh sperma dan telah berkembang menjadi blastokista pada

umumnya tertanam di lapisan endometrium rongga uterus. Implantasi ditempat lain

disebut kehamilan ektopik. Lebih dari 1 dari setiap 100 kehamilan di Amerika Serikat

adalah kehamilan ektopik, dan lebih dari 95% kehamilan ektopik terjadi di tuba fallopii.

Tipe kehamilan ektopik lainnya adalah implantasi trofoblas di cervix uteri (kehamilan

cervix) atau ovarium (kehamilan ovarium). Kehamilan abdominal terjadi bila kehamilan

yang sedang tumbuh di dalam tuba fallopii pecah ke dalam rongga peritoneum dan

terjadi implantasi di struktur panggul, termasuk uterus, usus, atau dinding lateral

panggul.1

Frekuensi kehamilan ektopik yang sebenarnya sukar ditentukan oleh karena

gejala kehamilan ektopik yang dini tidak selalu jelas dan tidak semua kehamilan ektopik

berakhir dengan abortus dalam tuba atau ruptur tuba. Sebagian hasil konsepsi mati dan

pada umur kehamilan muda kemudian diresorbsi.2 Angka kejadian kehamilan ektopik

terganggu (KET) di Indonesia menurut WHO diperkirakan tidak berbeda jauh dengan

Amerika Serikat, sekitar 60.000 kasus setiap tahun.3 Di rumah Sakit Dr. Cipto

Mangunkusumo pada tahun 1987 terdapat 153 kehamilan ektopik di antara 4.007

persalinan, atau 1 di antara 26 persalinan. Di RSUD Pirngadi Medan dari tahun 1979-

1981 frekuensi 1 : 139 dari semua kehamilan.4 Pada penelitian oleh Aloysius dkk. pada

tahun 2004 yang dilakukan di RS Immanuel Bandung, dari 47 kasus KET kejadian

terbanyak pada usia 30-34 tahun yaitu sebanyak 19 kasus (40.4%), dengan usia

kehamilan terbanyak yang mengalami KET adalah 5-9 minggu sebanyak 26 kasus

(55.3%), dan lokasi KET terbanyak di ampula yaitu sebanyak 39 kasus (83.0%).3

1

Page 2: Status Pasien Ket

Kehamilan ektopik merupakan suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita

yang bersangkutan karena berhubungan dengan kemungkinan terjadinya keadaan yang

gawat, keadaan gawat ini terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu. Oleh karena itu,

pada setiap wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan atau keterlambatan haid

yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu dipertimbangkan kemungkinan

kehamilan ektopik terganggu.2 Kehamilan ektopik terganggu menjadi penyebab utama

kematian maternal dan penyebab paling sering kematian ibu pada trimester pertama di

Amerika Serikat, dan bertanggung jawab terhadap 9-10% kematian maternal akibat

penyakit obstetrik. Akan tetapi, angka kefatalan kasus KET (case-fatality rate) menurun

secara bermakna mungkin disebabkan oleh membaiknya diagnosis dan

penatalaksanaannya.3,5

2

Page 3: Status Pasien Ket

STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien

Nama : Ny. S

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat Tanggal Lahir : Kuningan, 6 September 1978

Umur : 35 Tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Cimara, Pasawahan 07/03 Kuningan Jabar

Agama : Islam

Suku : Sunda

Status : Menikah

Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar (SD)

Tanggal Masuk RS : 21 Desember 2013

Jam Masuk RS : 09.30

Nomor RM : 905923

Tanggal Periksa : 21 September 2013

Jam Periksa : 09.35

Identitas Suami

Nama : Tn. S

Umur : 41 Tahun

Pekerjaan : Buruh

Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar (SD)

3

Page 4: Status Pasien Ket

II. Anamnesa (Autoanamnesa)

A. Keluhan Utama

Nyeri perut kanan bawah

B. Riwayat Penyakit

2 hari SMRS pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah. Setiap kali nyeri ±

selama 15 menit, nyeri dirasakan hilang-timbul, terasa tajam. Nyeri tidak seperti

di remas-remas. Nyeri tidak sampai tembus kebelakang dan nyeri tidak menjalar

kepaha. Nyeri perut membuat pasien tidak bisa berjalan dan membuatnya

menghentikan aktivitasnya, bahkan pasien tidak merubah posisi tubuhnya untuk

tidak bergerak. Pasien juga mengatakan keluar darah dari kemaluannya. Darah

yang keluar dirasakan hanya sedikit-sedikit dan terlihat seperti darah menstruasi.

Sebelumnya nyeri perut sudah dirasakan sejak 1 minggu SMRS namun tidak

sampai mengganggu aktivitas pasien.

7 tahun SMRS pasien mengikuti kontrasepsi mantap secara masal di rumah sakit

swasta di Kuningan. Saat itu pasien sedang tidak haid dan tidak hamil. Dan

pasien tidak mengetahui jenis operasi untuk kontrasepsinya.

19 tahun SMRS pasien pernah mengeluh nyeri perut kanan bawah dan sudah di

lakukan tindakan operasi. Pasien mengatakan di lakukan tindakan operasi karena

usus buntu oleh dokter yang merawatnya.

Pasien tidak mengalami penurunan berat badan. Tidak mengeluh adanya mual

dan muntah, tidak mengeluh buang air besar cair dan berdarah. Tidak ada nyeri

saat buang air besar. Air kencing berwarna kuning jernih, dalam sehari bisa 2-3

kali, tiap buang air kecil sebanyak 1 gelas belimbing. Buang air kecil tidak ada

keluar seperti pasir. Tidak ada nyeri pada saat buang air kecil. Siklus menstruasi

4

Page 5: Status Pasien Ket

pasien teratur. Tidak ada nyeri pada saat menstruasi. Tidak ada keputihan

sebelum dan sesudah menstruasi.

C. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien memiliki riwayat penyakit Appendisitis pada tahun 1994 dan telah

dilakukan operasi appendektomi.

D. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang serupa dengan pasien.

E. Riwayat Haid

Menarke usia 14 tahun.

Siklus haid teratur setiap sebulan sekali, lamanya ± 7 hari dan ganti pembalut 1

kali sehari.

F. Riwayat Kehamilan

Riwayat Kehamilan Sekarang

HPHT : 2 November 2013

Usia Kehamilan : 7-8 Minggu

HPL : 9 Agustus 2014

Riwayat Kehamilan Dahulu

Pasien mengalami keguguran saat mengandung anak kedua.

G. Riwayat Persalinan

No

Tempat TahunHasil

KehamilanPenolong

Kelainan/ Penyakit

Ibu

Anak

JK BB H/M

1 Rumah 1996 Aterm Bidan Tidak ada P 2.8 H

2 Rumah 2004 Abortus Bidan Tidak ada L - M

3 BPS 2005 Aterm Bidan Tidak ada P 2.6 H

4 BPS 2006 Aterm Bidan Tidak ada P 2.5 H

5

Page 6: Status Pasien Ket

5 Sekarang 2013

H. Riwayat ANC

Selama hamil terakhir pasien tidak mengikuti ANC karena tidak mengetahui

dirinya sedang hamil.

I. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi

Pasien setelah melahirkan anak pertama mengikuti program KB hormonal jenis

suntik setiap tiga bulan. Setelah melahirkan anak keempat pada tahun 2006

pasien mengikuti kontrasepsi mantap (MOW), sterilisasi massal.

J. Riwayat Alergi

Tidak ada riwayat alergi terhadap makanan maupun obat-obatan

K. Riwayat Pengobatan

Pasien baru pertama berobat dengan keluhan sekarang

L. Riwayat Habituasi

Pasien sehari-hari adalah seorang Ibu Rumah Tangga dan menghabiskan

waktunya dirumah.

III. Pemeriksaan Fisik (21-12-2013)

A. Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

B. Kesadaran : kompos mentis

C. Vital Sign : Tekanan Darah : 110/80 mmHg

Nadi : 88 ×/menit

Respirasi : 20 ×/menit

Suhu : 37.2°C

6

Page 7: Status Pasien Ket

D. Status Generalisata

1. Kepala

Bentuk : Normocephali

Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut

Muka/Pipi : Tidak ada edema

Kulit : Dalam batas normal

Mata : Refleks Cahaya (+/+), pupil isokor, konjungtiva anemis

(-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung : Dalam batas normal

Telinga : Kanan dan kiri dalam batas normal

Mulut : Dalam batas normal

2. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar, JVP tidak meningkat

3. Thorax

Paru-paru

Inspeksi : Bentuk simetris, retraksi dinding dada (-/-)

Palpasi : Vocal fremitus kanan dan kiri

Perkusi : Sonor kanan dan kiri

Auskultasi : Vesikuler kanan dan kiri, ronki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : Iktus kordis tidak teraba

Perkusi : Tidak ada pembesaran jantung

Auskultasi : Bunyi jantung murni I dan II reguler, gallop negatif (-),

Murmur negatif (-)

7

Page 8: Status Pasien Ket

4. Abdomen

Inspeksi : Tampak scars pada regio inguinal dextra dan regio supra

pubic, perut tidak cembung

Auskultasi : Bising usus normal, borboric sound negative, metallic

sound negative

Palpasi : nyeri tekan pada regio inguinal dextra, rovsing sign

negative, psoas sign negative, obturator sign negative

Perkusi : Timpani seluruh regio abdomen.

5. Genitalia : Lihat Status Obstetri dan Ginekologis

6. Anus : Mucosa licin, konsistensi kenyal, tidak bernodul, nyeri

tekan arah jam 11 pada posisi litotomi

7. Inguinal : Dalam Batas Normal

8. Extremitas : Akral hangat, edema tidak ada, varises tidak ada.

E. Status Obstetris

1. Tinggi Fundus Uteri : Tidak teraba

2. Pemeriksaan Leopold : Tidak dilakukan

3. Auskultasi : Tidak dilakukan

F. Pemeriksaan Dalam Ginekologis

1. Vulva dan Vagina : Tidak ada kelainan

2. Portio : Konsistensi tebal, Nyeri goyang portio positif

3. Pembukaan : Tidak ada pembukaan

4. Massa : Tidak teraba massa

5. Cavum Douglas : Teraba penonjolan dan nyeri tekan positif

6. Nyeri Perut : Nyeri perut kanan bawah positif

7. Handgloves : Darah positif (+)

8

Page 9: Status Pasien Ket

IV. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal 21-12-2013

A. Hematologi

1. Hemoglobin : 12.2 gr%

2. Leukosit : 14.900/mm³

3. Hematokrit : 33.4%

4. Trombosit : 337.000/mm³

5. Golongan Darah : A

B. Kimia Klinik

1. Glukosa Sewaktu : 91 mg/dl

2. SGOT : 19 U/I

3. SGPT : 17 U/I

4. Ureum : 19 mg/dl

5. Kreatinin : 0.72 mg/dl

C. Serologi

1. HbsAg : Negatif

2. Anti HBs : Negatif

D. Elektrolit

1. Natrium : 143 mmol/L

2. Kalium : 3.9 mmol/L

3. Klorida : 109 mmol/L

E. Urin

Tes kehamilan (PP test) positif

9

Page 10: Status Pasien Ket

V. Resume

Pasien perempuan berusia 35 tahun hamil 7-8 minggu dengan keluhan nyeri perut

kanan bawah sejak 2 hari yang lalu dan hilang timbul, terasa tajam dan nyeri

menyebabkan aktivitasnya terganggu. Pasien juga mengeluh perdarahan keluar dari

kemaluannya seperti darah menstruasi. Pasien memiliki riwayat kontrasespsi

mantap 7 tahun yang lalu, dan riwayat appendisitis 19 tahun yang lalu dan telah

dioperasi. Saat hamil kedua pasien mengalami keguguran.

Pada pemeriksaan fisik di regio abdomen, tampak tanda scar bekas operasi

appendektomi dan operasi MOW dan nyeri tekan perut kanan bawah. Pada

pemeriksaan dalam didapatkan nyeri goyang positif, penonjolan cavum douglas dan

nyeri tekan. Pada pemeriksaan urin didapatkan tes kehamilan positif.

VI. Diagnosa Kerja : G5P3A1 gravid 7-8 minggu dengan Kehamilan

Ektopik Terganggu

VII. Diagnosa Banding : Salpingitis dekstra

VIII. Usulan Pemeriksaan : USG Transvaginal

IX. Penatalaksanaan : Infus RL 20 tetes/menit,

Pemasangan dower chateter

Antibiotik Ceftriaxone 2x1 gram

Rujuk Spesialis Obstetri dan Ginekologi untuk

tindakan salpingektomi dextra dan Metode

Operasi Wanita ulang.

X. Prognosis

A. Quo ad Vitam : Ad Bonam

B. Quo ad Functionam : Ad Malam

10

Page 11: Status Pasien Ket

XI. Follow Up (22-12-2013)

A. Anamnesa

Pasien sebelumnya dirawat diruang bedah. Pada sore hari pasien mengeluh

nyeri perut kanan bawah yang terus menerus dan kemudian pasien segera

dibawa keruang operasi.

B. Pemeriksaan Fisik (Preoperesi)

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Vital Sign : Tekanan Darah : 123/81 mmHg

Nadi : 102 ×/menit

Respirasi : 24 ×/menit

Suhu : 37.3ºC

Status Lokalis : Tampak scar di regio inguinal dextra dan suprapubic

Bising usus positif (+) normal

Nyeri tekan regio inguinal dextra

Genitalia : Portio : tebal, tidak ada pembukaan, nyeri

goyang positif.

Cavumdouglas: teraba penonjolan dan nyeri tekan positif

C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan USG transvaginal : Kesan Kehamilan Ektopik

11

Page 12: Status Pasien Ket

Hemoglobin cito : 10.39 gr%

D. Diagnosa Kerja

G5P3A1 gravid 7-8 minggu dengan Kehamilan Ektopik Terganggu

E. Rencana Tindakan

Pasien puasa

Pro-laparotomi (cito)

12

Page 13: Status Pasien Ket

F. Tindakan Operasi

Pasien di bius dengan narkose umum.

Operasi dimulai pada pukul 20.15 WIB

Operasi selesai pada pukul 21.00 WIB

Telah dilakukan Salpingektomi dextra dan sterilisasi Pomeroy tuba sinistra

Pasien diobservasi diruang Recovery room, 30 menit kemudian pasien dibawa

ke ruang nifas.

Laporan Operasi

Dilakukan tindakan antisepsis di daerah abdomen dan sekitarnya

Dilakukan incisi pfannenstiel

Setelah peritoneum dibuka, tampak darah dalam rongga abdomen ± 750 cc

Tampak tuba kanan membesar dengan ukuran 3 × 3 × 4 dengan darah aktif

mengalir dari ostium tuba pada abdomen

Uterus dalam batas normal, tuba kanan utuh

Dilakukan salpingektomi kanan dan sterilisasi pomeroy pada tuba kiri

Perdarahan diobservasi

Rongga abdomen dicuci dengan cairan NaCl, dan dipasang drain

Daerah abdomen dijahit lapis demi lapis.

G. Post Operasi di Ruang Nifas

Anamnesa

Mual negatif (-), muntah negatif (-), pusing positif (+), sesak nafas negatif (-).

Pemeriksaan Fisik

Conjunctiva anemis +/+, sclera tidak icterik

Pemeriksaan urin bag : urin cukup

13

Page 14: Status Pasien Ket

Diagnosa Post Operasi

Post Salpingektomi dextra ec. Kehamilan Ektopik Terganggu + Sterilisasi tuba

sinistra POD 0

Tatalaksana

Oksigen 3 L/menit

Diberikan transfusi Packed Red Cell (PRC) satu labu

Cefotaxim 2 × 1 g iv

Ketorolac 2 × 30 mg iv

Paracetamol 3 × 500 mg oral bila perlu

XII. Follow Up (23-12-2013)

Anamnesa

Mual negatif (-), muntah negatif (-), pusing negatif (-), sesak nafas negatif (-),

nyeri perut negatif (-)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Baik

Kesadaraan : Compos mentis

Vital Sign : Tekanan Darah : 110/80 mmHg

Nadi : 86 ×/menit

Pernapasan : 23 ×/menit

Suhu : 36.9ºC

Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak icterik

Perdarahan pervaginam sedikit berupa bercak-bercak

Pemeriksaan urin bag : urin cukup

Darah pada drain sedikit (± 50 cc)

14

Page 15: Status Pasien Ket

Pemeriksaan Laboratorium

Hemoglobin Post Transfusi : 11.61 gr%

Diagnosa Post Operasi

Post Salpingektomi dextra ec. Kehamilan Ektopik Terganggu + Sterilisasi tuba

sinistra POD 1

Tatalaksana

Cefotaxim 2 × 1 g iv

Ketorolac 2 × 30 mg iv

Paracetamol 3 × 500 mg oral bila perlu

Up dower catheter

XIII. Follow Up (24-12-2013)

Anamnesa

Mual negatif (-), muntah negatif (-), pusing negatif (-), sesak nafas negatif (-),

nyeri perut negatif (-)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Baik

Kesadaraan : Compos mentis

Vital Sign : Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Nadi : 81 ×/menit

Pernapasan : 23 ×/menit

Suhu : 37.4ºC

Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak icterik

Perdarahan pervaginam sedikit

Diagnosa Post Operasi

15

Page 16: Status Pasien Ket

Post Salpingektomi dextra ec. Kehamilan Ektopik Terganggu + Sterilisasi tuba

sinistra POD 2

Tatalaksana

Cefotaxim 2 × 1 g iv

Ketorolac 2 × 30 mg iv

Paracetamol 3 × 500 mg bila perlu

Up drain

XIV. Follow Up (25-12-2013)

Anamnesa

Mual negatif (-), muntah negatif (-), pusing negatif (-), sesak nafas negatif (-),

nyeri perut negatif (-)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Baik

Kesadaraan : Compos mentis

Vital Sign : Tekanan Darah : 120/80 mmHg

Nadi : 72 ×/menit

Pernapasan : 22 ×/menit

Suhu : 36.5ºC

Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak icterik

Perdarahan pervaginam tidak ada

Luka operasi baik, kering, tidak berdarah dan tidak berbau.

Diagnosa Post Operasi

Post Salpingektomi dextra ec. Kehamilan Ektopik Terganggu + Sterilisasi tuba

sinistra POD 3

16

Page 17: Status Pasien Ket

Tatalaksana

Ganti verban

Diberikan cefadroxil capsul 2x 500 mg (untuk dirumah)

Asam mefenamat tablet 3 x 500 mg bila perlu (untuk dirumah)

Pasien dipulangkan dan diberikan edukasi

Kontrol perawatan luka di Puskesmas terdekat

mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat tinggi protein

Mobilisasi yang cukup

17

Page 18: Status Pasien Ket

PEMBAHASAN DAN DISKUSI

A. Definisi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang di buahi, berimplantasi

dan tumbuh diluar endometrium cavum uteri.2 Kehamilan ektopik terganggu

( KET ) adalah kehamilan ektopik yang terganggu, dapat terjadi abortus atau pecah,

dan hal ini dapat berbahaya bagi wanita tersebut.4

B. Klasifikasi

Kehamilan dimana blastokista berimplantasi selain dari endometrium rongga uterus

adalah :6

1. Kehamilan tuba

a. Pars interstitial (2%)

b. Pars ismika (25%)

c. Pars ampula (55%)

d. Pars fimbria (17%)

2. Kehamilan ektopik pada uterus (1 dalam 18.000 kehamilan)

a. Kehamilan servik

b. Kehamilan kornu

3. kehamilan ovarium (0.5%)

4. kehamilan intraligamenter (sangat jarang)

5. kehamilan abdomen (kira-kira 1/15.000 kehamilan)

a. primer

b. sekunder

6. kehamilan kombinasi (antara 1/17.000-30.000 kehamilan)

Pada pasien ini terjadi kehamilan ektopik pars ampularis, dimana pada daerah

tersebut merupakan tempat kehamilan ektopik paling sering.

18

Page 19: Status Pasien Ket

C. Faktor Resiko

Faktor-faktor risiko kehamilan ektopik adalah :5

Faktor Risiko Risiko (odds ratio)

Risiko tingi

Bedah korektif tuba

Sterilisasi tuba

Riwayat kehamilan ektopik

Pajanan dietilstilbestrol

Alat kontrasepsi dalam rahim

Patologi tuba

21.0

9.3

8.3

5.6

4.5-45

3.8-21

Risiko sedang

Infertilitas

Riwayat infeksi genital

Banyak pasangan

2.5-21

2.5-3.7

2.1

Risiko rendah

Riwayat bedah panggul

Merokok

Vaginal douche

Hubungan seks < 18 tahun

0.93-3.8

2.3-2.5

1.1-3.1

1.6

Nilai-nilai tunggal adalah Odds ratio umum dari penelitian-

penelitian homogen; nilai-nilai ganda adalah kisaran nilai dari

penelitian-penelitian heterogen. Dimodifikasi dari Pisarska

dan Carson (1999), dengan izin

Tabel 1. Faktor Resiko Kehamilan Ektopik

Pada pasien ini, faktor resiko kehamilan ektopik adalah adanya riwayat

sterilisasi tuba. Pasien pernah menjalani sterilisasi massal, yang biasanya

dilakukan perlaparoskopi. Setelah dilakukan sterilisasi tuba kemungkinan

terjadinya kehamilan ektopik akan meningkat sebanyak 9 kali lipat. Angka

tertinggi terjadi pada fulgurasi laparoskopik.

19

Page 20: Status Pasien Ket

Sterilisasi perlaparoskopi merupakan pilihan pada sterilisasi tuba nonpuerperium

(interval). Mula-mula dipasang cunam serviks pada bibir depan porsio uteri, agar

uterus mudah digerakkan. Setelah dilakukan sayatan seperlunya dibuat sayatan di

bawah pusat sepanjang kurang lebih 1 cm. Kemudian, ditempat luka tersebut

dilakukan pungsi sampai rongga peritoneum dengan jarum khusus (jarum Veres),

dan melalui jarum itu dibuat pneumoperitoneum dengan memasukkan CO2

sebanyak 1 sampai 3 liter dengan kecepatan kira-kira 1 liter permenit. Setelah

pneumoperitoneum dirasakan cukup, jarum Veres dikeluarkan dan digantikan oleh

troikar (dengan tabungnya). Sesudah itu, troikar diangkat dan dimasukkan

laparoskop melalui tabung. Untuk memudahkan penglihatan uterus dan adneksa,

penderita dalam posisi Trendelenburg dan uterus digerakkan melalui cunam serviks

pada porsio uteri. Kemudian dengan cunam yang dimasukkan ke dalam rongga

peritoneum bersama dengan laparoskop dapat dilakukan tindakan sebagai

berikut :7,8

1. Koagulasi Unipolar

2. Koagulasi Bipolar

3. Falope Ring

4. Spring Clip

5. Filshie Clip

6. Prosedur Pomeroy

Berikut ini adalah tabel probabilitas kehamilan kumulatif seumur hidup (per 1000

prosedur dan 95% interval konfiden) pada wanita yang menjalani sterilisasi tuba

laparoskopik berdasarkan metode, yaitu :5

20

Page 21: Status Pasien Ket

MetodeTahun sejak sterilisasi

Satu Lima Sepuluh

Diatermi unipolar 0.7 6.3 7.5

Diatermi bipolar 2.3 16.5 24.8

Pita karet silikon 5.9 10.0 17.7

Salpingektomi parsial 7.3 15.1 20.1

Klip pegas 18.2 31.7 36.5

Dimodifikasi dari Peterson dkk. (1996)

Tabel 2. Probabilitas Kehamilan Kumulatif Seumur Hidup (Per 1000 Prosedur) pada Wanita

yang Menjalani Sterilisasi Tuba Berdasarkan Metode

Sekitar separuh dari kehamilan yang terjadi setelah kegagalan prosedur

elektrokoagulasi adalah kehamilan ektopik, dibandingkan dengan 10% pada

kegagalan reseksi, cincin, atau klip tuba. Pada sterilisasi ligasi tuba perlaparoskopi

didapatkan kehamilan ektopik 32,9% di antara kehamilan akibat gagal ligasi tuba.

Risiko ini meningkat seiring bertambahnya waktu. Sekitar 20% dari kehamilan

ektopik terjadi pada 3 tahun pertama, dan 61% terjadi 4-10 tahun setelah sterilisasi.

Pasien yang lebih muda dari 30 tahun pada saat sterilisasi memiliki dua kali tingkat

ektopik dibandingkan wanita berusia 30 tahun atau lebih pada saat sterilisasi. Hal

ini mungkin karena kesuburan mereka yang lebih besar. Risiko kehamilan ektopik

tertinggi terjadi pada koagulasi bipolar (65% dari kehamilan ektopik), Falope ring

(29%), dan kelompok klip pegas (15%). Kejadian kehamilan ektopik pada

kauterisasi bipolar yang tinggi diduga hasil dari kauterisasi yang tidak memadai.8

Berikut ini adalah tabel probabilitas kehamilan kumulatif seumur hidup (per 1000

prosedur dan 95% interval konfiden) pada wanita yang menjalani sterilisasi tuba

berdasarkan usia.9

21

Page 22: Status Pasien Ket

Tabel 3. Probabilitas Kehamilan Kumulatif Seumur Hidup (per 1000 prosedur dan 95%

interval konfiden) pada Wanita yang Menjalani Sterilisasi Tuba Berdasarkan Usia.

D. Etiologi

Kehamilan ektopik terjadi karena hambatan pada perjalanan sel telur dari indung

telur (ovarium) ke rahim (uterus). Ada beberapa faktor penyebab kehamilan ektopik

:5

1. Faktor mekanik

a. Salfingitis

b. Perlekatan perituba

c. Kelainan pertumbuhan tuba

d. Berkurangnya cilia di tuba

e. Tindakan operasi pada tuba

f. Penyempitan lumen tuba

22

Page 23: Status Pasien Ket

2. Faktor fungsional

a. Migrasi eksterna ovum

b. Perubahan motilitas tuba

c. Merokok

3. Reproduksi dengan bantuan ( Fertilisasi in Vitro )

4. Kegagalan kontrasepsi

Angka kehamilan ektopik setelah sterilisasi tuba meningkat 9 kali lipat, angka

tertinggi terjadi pada fulgurasi laparoskopik.

Pada pasien ini, kegagalan kontrasepsi merupakan etiologi kehamilan ektopik

yang terjadi.

E. Patogenesis

Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah

dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Mukosa pada tuba bukan

merupakan media yang baik untuk pertumbuhan blastokista yang berimplantasi di

dalamnya. Vaskularisasi kurang baik, dan desidua tidak tumbuh dengan sempurna.

Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai

darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada 3 kemungkinan :1

1. Ovum mati dan kemudian diresorbsi, dalam hal ini seringkali adanya

kehamilan tidak diketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul setelah

meninggalnya ovum, dianggap sebagai haid yang datangnya terlambat.

2. Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis dan

menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba. Darah itu

menyebabkan perdarahan tuba (hematosalping), dan dapat pula mengalir terus

ke peritoneum, berkumpul di kavum douglasi dan menyebabkan hematokel

retrouterina. Peristiwa ini terkenal dengan nama abortus tuba, ovum untuk

23

Page 24: Status Pasien Ket

sebagian atau seluruhnya ikut memasuki lumen tuba dan keluar dari ostrium

tuba abdominalis. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla.

Darah yang keluar kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak

begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.

3. Trofoblast dan villus khorialis menembus lapisan muskularis dan peritoneum

pada dinding tuba dan menyebabkan perdarahan langsung ke rongga

peritoneum. Peristiwa ini sering terjadi pada kehamilan isthmus, dapat

menyebabkan perdarahan banyak karena darah mengalir secara bebas dalam

rongga peritoneum dan dapat menyebabkan keadaan yang gawat pada

penderita.

Pada kehamilan di pars interstisialis tuba, pembesaran terjadi pada jaringan uterus

di sekeliling pars interstisialis. Jaringan ini sebagian besar terdiri atas miometrium

tidak lekas ditembus oleh villus khorialis, sehingga kehamilan bisa berlangsung

terus sampai 16 – 20 minggu. Akan tetapi perdarahan sebagai akibat dari rupture

tidak jarang hebat sekali, sehingga memerlukan pertolongan segera untuk

mengatasinya. Uterus walaupun tidak terisi mudigah di dalamnya pada kehamilan

ektopik juga membesar dan lembek di bawah pengaruh hormone dan terjadi

pembentukan desidua di dalam uterus. Apabila terjadi kematian hasil konsepsi,

maka akan keluar perdarahan dari uterus akibat dukungan endokrin terhadap

endometrium menurun.2,5

24

Page 25: Status Pasien Ket

Gambar 1. Patogenesis Kasus

Pada pasien ini, setelah sterilisasi tuba perlaparoskopi, seiring berjalannya

waktu kemungkinan terjadi regenerasi sel, remodeling jaringan, reposisi dan

rekanalisasi tuba yang tidak sempurna sehingga menyebabkan terjadinya

disfungsi tuba mekanik dan fungsional. Dengan demikian, sperma dalam

jumlah besar dapat masuk ke dalam tuba dan salah satunya bertemu dengan

ovum dan terjadi pembuahan di pars ampularis tuba. Kemudian terbentuk

zigot yang terus membelah, namun dalam perjalanannya menuju cavum uteri

terhambat oleh karena faktor mekanik dan fungsional tuba yang terganggu.

Hasil pembuahan yang telah berkembang menjadi blastokista mengeluarkan

enzim proteolitik untuk berimplantasi sehingga terjadilah kehamilan ektopik

pada tuba.

25

Sterilisasi Tuba

Perlaparoskopi

Seiring berjalannya

waktu

RegenerasiRemodeling

ReposisiRekanalisasi

inkomplit

Disfungsi tuba mekanik

Disfungsi tuba fungsional

Pembuahan Pars

Ampulla

Sper

ma

Ovum

Zigot

Morula

Blastula

Membelah

Membelah

Cavum

Uteriimplantasi

Page 26: Status Pasien Ket

F. Penegakan Diagnosis

Untuk penegakan diagnosis dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut :5

1. Tanda dan Gejala

a. Nyeri

Gejala yang timbul berkaitan dengan apakah kehamilan ektopik tersebut telah

mengalami ruptur. Gejala kehamilan ektopik yang paling sering dialami

adalah nyeri panggul dan abdomen (95%) yang unilateral. Tanda yang paling

konsisten adalah nyeri tekan adnexa sedangkan tanda adler dimana terdapat

nyeri tekan unilateral ketika membalik badan adalah tanda yang tidak

konsisten tetapi penting jika ada.5,6

b. Menstruasi abnormal

Sebagian besar wanita melaporkan amneorea dengan bercak-bercak

perdarahan pervagina. Perdarahan uterus yang terjadi pada kehamilan tuba

sering disangka sebagai haid sejati. Perdarahan ini biasanya sedikit, berwarna

coklat tua, dan mungkin intermiten atau terus menerus. Gejala amenorea

sekunder <2 minggu (68%) dan perdarahan uterus abnormal (75%) sangat

mendukung kehamilan ektopik.1,6

c. Nyeri tekan abdomen dan pelvis

Nyeri tekan hebat pada pemeriksaan abdomen dan pervaginam, terutama bila

servik digerakkan, dapat ditemukan pada lebih dari tiga perempat wanita

dengan kehamilan tuba yang telah atau sedang mengalami ruptur. Namun,

nyeri tekan seperti itu mungkin tidak terasa sebelum ruptur.5

d. Perubahan uterus

Karena hormon-hormon plasenta, pada sekitar 25% kasus, selama 3 bulan

pertama kehamilan ektopik uterus tumbuh dengan ukuran yang hampir sama

26

Page 27: Status Pasien Ket

besar dengan pada kehamilan normal. Konsistensinya mungkin sama selama

janinnya masih hidup. Uterus mungkin terdorong ke satu sisi oleh massa

ektopik atau oleh darah. Massa desidua yang berdegenerasi dikeluarkan

hanya 5-10% wanita. Keluarnya potongan desidua dapat diikuti oleh kram

yang mirip dengan kram abortus spontan.

e. Perubahan hemodinamik

Sebelum ruptur, tanda-tanda vital umumnya normal. Respon dini terhadap

perdarahan sedang dapat berupa dengan atau tanpa perubahan tanda vital,

sedikit peningkatan tekanan darah, atau respon vasovagal disertai bradikardia

dan hipotensi. Jika perdarahan berlanjut, tekanan darah akan turun dan nadi

meningkat dan hipovolemia menjadi nyata. Penelitian oleh Stabile dan

Grudzinkas (1990), dari 2400 ibu dengan kehamilan ektopik hampir

seperempatnya datang dalam keadaan syok, tetapi proporsi ini berkisar dari 1-

50 persen dalam rangkaian penilitian.

f. Suhu

Setelah perdarahan akut, suhu dapat normal atau bahkan rendah. Suhu dapat

mencapai 38°C, tetapi suhu yang lebih tinggi jarang bila tidak ada infeksi.

Demam penting untuk membedakan kehamilan tuba yang mengalami ruptur

dengan kasus salpingitis akut.

g. Massa pelvis

Massa pelvis dapat diraba pada sekitar 20% wanita. Ukurannya berkisar

antara 5-15 cm dengan konsistensi lunak dan elastis. Bila infiltrasi darah ke

dalam dinding tuba luas, massanya mungkin keras. Massa ini hampir selalu

terletak di posterior atau lateral uterus.

27

Page 28: Status Pasien Ket

h. Penonjolan cavum douglas

Pada pemeriksaan dalam didapatkan kavum Douglas menonjol karena darah

yang terkumpul di tempat tersebut. Baik pada abortus tuba maupun pada

ruptur bila serviks digerakan akan terasa nyeri sekali (slinger pain). Douglas

crise : nyeri pada penekanan kavum Douglas.

i. Kuldosintesis

Cara ini merupakan teknik sederhana untuk mengidentifikasi hemoperitonum.

Serviks ditarik kedepan ke arah simfisis dengan tenakulum, dan jarum ukuran

16 atau 18 dimasukkan melalui forniks posterior ke dalam cul-de-sac. Kalau

ada, cairan dapat diaspirasi. Fragmen-fragmen bekuan lama yang berisi

cairan, atau cairan yang mengandung darah yang tidak membeku, cocok

dengan diagnosis hemoperitoneum yang disebabkan oleh kehamilan ektopik.

Jika darah kemudian membeku, mungkin berasal dari pembuluh darah

didekatnya yang pecah dan bukan kehamilan ektopik yang berdarah.5

Pada pasien ini, tanda dan gejala yang mendukung adanya kehamilan

ektopik terganggu adalah adanya nyeri pada abdomen kanan bawah

disertai nyeri tekan pada pelvis. Adanya perdarahan berupa darah

menstruasi yang keluar pervaginam. Pada pemeriksaan dalam didapatkan

nyeri jika serviks digoyangkan dan adanya penonjolan dan nyeri tekan

pada cavum douglas.

2. Uji Laboratorium

a. Darah rutin

Pemulihan volume darah dengan hemodilusi setelah terjadi perdarahan

dipulihkan menjadi dalam waktu satu hari atau lebih. Oleh karena itu,

penilaian awal hemoglobin atau hematokrit pada awalnya mungkin hanya

28

Page 29: Status Pasien Ket

menunjukkan sedikit penurunan. Untuk beberapa jam pertama setelah

perdarahan akut, penurunan kadar hemoglobin atau hematokrit merupakan

petunjuk kekurangan darah yang lebih bermanfaat daripada pembacaan

awal. Derajat leukositosis sangat bervariasi pada kehamilan ektopik yang

mengalami ruptur, pada sekitar setengah dari wanita ini, leukosit normal,

dan setengahnya lagi dapat ditemukan leuokositosis mencapai 30.000/µl.5

Pada pasien ini, pemeriksaan darah rutin untuk hemoglobin, hematokrit

dan trombosit dalam batas normal, namun terjadi leukositosis dengan

jumlah leukosit 14.900/mm³.

b. Tes urin

Paling sering digunakan tes slide inhibisi aglutinasi dengan sensitivitas

untuk gonadotropin korionik dalam kisaran 500-800 mIU/ml. Kemungkinan

kehamilan ektopik dengan tes ini adalah 50 sampai 60%. Jika menggunakan

tes jenis tabung, kisaran gonadotropin korionik berkisar antara 150-250

mIU/ml dam positif pad 80-85% kasus. Tes ELISA sangat sensitif pada

kadar 10-50 mIU/ml, dan positif pada 95% kasus.5

Pada pasien ini dilakukan PPT tes dengan hasil yang positif.

c. Pemeriksaan β-hCG serum

Radioimmunoassay adalah metode paling tepat, dan hampir semua

kehamilan dapat di deteksi. Karena sensitivitasnya, suatu kehamilan dapat

dipastikan sebelum terjadi perubahan yang dapat dilihat di tuba fallopii. Tes

ini memiliki sensitivitas dimana gonadotropin serum 5-10 mIU/ml.

29

Page 30: Status Pasien Ket

d. Progesteron serum

Nilai rogesteron serum diatas 25 ng/ml menyingkirkan kehamilan ektopik

dengan sensitivitas 97.5%. nilai kurang dari 5 ng/ml menunjukkan bahwa

janin-embrio telah mati, tetapi tidak menunjukkan lokasinya. Hahlin dkk.

(1990) menyebutkan tidak ada kehamilan intrauteri yang memiliki kadar

progesteron serum di bawah 10 ng/ml.

3. Pencitraan Ultrasonografi

a. Sonografi abdomen

Hasil tes kehamilan ektopik kemungkinan besar positif jika ditemukan

adanya cairan di cul-de-sac dan massa pelvik abnormal. Jika kerja jantung

dapat diidentifikasi dan jelas bukan di cavum uteri merupakan bukti yang

kuat adanya kehamilan ektopik.

b. Sonografi vagina

Sonografi dengan transduser di vagina dapat digunakan untuk mendeteksi

kehamilan uteri sejak satu minggu terlambat haid, bila β-hCG serum lebih

dari 1500 mIU/ml. Dalam penelitian oleh Banhart dkk. (1994), uterus yang

kosong dengan konsentrasi β-hCG serum 1500 mIU/ml atau lebih, 100%

akurat mengidentifikasi kehamilan ektopik. Sadek dan Schiatz (1995)

melaporkan sensitivitas dan spesifitas ultrasonografi vagina 96 dan 99, jika

teridentifikasi cairan bebas di peritoneum.5

Pada pasien ini, dilakukan pemeriksaan USG transvaginal dan ditemukan

adanya hematokel retrouterina yang menandakan adanya kumpulan cairan

atau darah di dalam rongga abdomen.

4. Diagnosis Bedah

Diagnosa bedah untuk kehamilan ektopik dapat dilakukan sebagai berikut :5

30

Page 31: Status Pasien Ket

a. Kuretase

Pada kasus yang dicurigai abortus inkomplet atau kehamilan ektopik,

Stovall dan rekan (1992) merekomendasaikan kuretase bila progesteron

serum kurang dari 5 ng/ml dan kadar β-hCG serum meningkat abnormal

(kurang dari 2000mIU/ml), dan kehamilan uterus tidak terlihat dengan

menggunakan sonografi transvaginal. Jika telah dilakukan kuretase tidak

ditemukan janin, embrio, plasenta kemungkinannya adalah kehamilan tuba

dan dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan sonografi dan kadar β-hCG

serum.

b. Laparoskopi

Keuntungan laparoskopi untuk diagnostik antara lain :

1. Diagnosis definitif pada kebanyakan kasus

2. Sekaligus untuk mengangkat massa ektopik dengan laparaskopi operatif

3. Menyuntikkan agen kemoterapi ke dalam massa ektopik secara

langsung.

Namun demikian, visualisasi secara lengkap mungkin tidak dapat dilakukan

bila ada radang pelvis atau perdarahan aktif. Kadang-kadang, identifikasi

kehamilan dini yang tidak mengalami ruptur sulit dilakukan, sekalipun

tubanya dapat terlihat dengan jelas.

c. Laparatomi

Tindakan ini lebih disukai bila wanita tersebut secara hemodinamik tidak

stabil dan laparoskopi tidak mungkin dilakukan. Laparatomi hendaknya

tidak ditunda saat melakukan laparoskopi pada seorang wanita yang jelas

mengalami perdarahan abdominal yang memerlukan terapi definitif segera.5

31

Page 32: Status Pasien Ket

G. Diagnosa Banding

Diagnosa banding dari kehamilan ektopik adalah sebagai berikut :2,4

1. Infeksi pelvik, salpingitis

2. Abortus iminens atau abortus inkompletus

3. Torsi kista ovarium

4. Appendisitis

5. Ruptura korpus luteum

Pada pasien didiagnosa banding dengan salpingitis dextra karena gejala nyeri

yang ditimbulkan dan adanya leukositosis pada pemeriksaan laboratorium.

H. Penatalaksanaan

Tatalaksana kehamilan ektopik dapat berupa tatalaksana bedah dan tatalaksana

medis atau konservatif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai bahan

pertimbangan dalam menangani kasus kehamilan ektopik adalah dengan

memperhatikan kondisi penderita saat itu, keinginan penderita terhadap fungsi

reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ pelvik,

kemampuan teknik bedah mikro dokter operator, dan kemampuan teknologi

fertilisasi invitro setempat.2

1. Penatalaksanaan Bedah

Penatalaksanaan laparoskopi lebih disukai daripada laparotomi pada kehamilan

ektopik yang belum ruptur. Sekalipun hasil reproduksinya-termasuk angka

kehamilan uterus dan kehamilan ektopik rekuren-sama, laparoskopi lebih murah

dan masa pemulihannya lebih singkat-1.3 versus 3.1 hari. Bedah tuba untuk

kehamilan ektopik dianggap konservatif bila tuba masih dipertahankan.

32

Page 33: Status Pasien Ket

a. Salpingostomi

Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat kehamilan kecil yang panjangnya

biasanya kurang dari 2 cm, dan terletak disepertiga distal tuba fallopii. Insisi

linear, sepanjang 10 mm sampai 15 mm atau kurang, dibuat pada tepi

antimesenterik tepat diatas kehamilan ektopik. Produk konsepsi biasanya

terdorong keluar dari insisi dan dapat diangkat atau dibilas keluar dengan

hati-hati. Tempat-tempat perdarahan kecil diatasi dengan elektrokauter

jarum atau laser, dan insisinya dibiarkan tanpa jahit agar mengalami

penyembuhan persekundam. Prosedur ini mudah dengan laparoskopi.

b. Salpingotomi

Prosedurnya sama dengan salpingostomi kecuali bahwa insisinya ditutup

dengan benang vicryl 7-0 atau yang serupa. Menurut tulandi dan Saleh

(1999) tidak ada perbedaan prognosis dengan atau tanpa penjahitan.

c. Salpingektomi

Reseksi tuba radikal dapat dilakukan melalui laparoskopi operatif dan dapat

digunakan baik untuk kehamilan ektopik yang ruptur maupun yang tidak

ruptur. Tindakan ini biasanya dilakukan jika tuba fallopiimengalami

penyakit atau kerusakan yang luas. Ketika mengangkat tuba, dianjurkan

untuk melakukan eksisi berbentuk segitiga/baji tidak lebih dari sepertiga

luar bagian interstisial tuba tersebut.

d. Reseksi segmental dan anastomosis

Reseksi massa dan anastomosis tuba kadang kala digunakan untuk

kehamilan isthmus yang tidak ruptur. Prosedur ini digunakan karena

salpingostomi dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lebih

lanjut pada lumen yang sudah kecil. Setelah segmen tuba dibuka,

33

Page 34: Status Pasien Ket

mesosalping dibawah tuba diinsisi, dan isthmus tuba yang berisi massa

ektopik direseksi. Mesosalping dijahit, sehingga merekatkan kembali

puntung-puntung tuba. Segmen-segmen tersebut kemudian diaposisikan

satu sama lain secara berlapis dengan jahitan terputus dengan menggunakan

benang vycril 7-0. Dibuat tiga jahitan dlapisan muskularis dan tiga lapisan

serosa, dengan perhatian khusus untuk menghindari lumen tuba.

Pada pasien ini dilakukan salpingektomi dextra (reseksi tuba radikal) dan

diikuti sterilisasi tuba sinistra dengan teknik pomeroy.

2. Penatalaksanaan Medis

Medikamentosa sebagai kemoterapi untuk kehamilan ektopik biasanya

menggunakan regimen metotreksat. Kandidat untuk terapi metotreksat harus

stabil secara hemodinamik dengan hemogram normal serta fungsi hati dan

ginjal normal. Mereka sebaiknya diberikan instruksi :

a. Terapi medis gagal pada 5-10% kasus dan bertambah pada usia gestasi yang

melampaui 6 minggu dengan diameter massa tuba lebih dari 4 cm

b. Kegagalan terapi medis mengakibatkan terapi harus diulang baik secara

medis maupun bedah.

c. Jika ditangani sebagai pasien rawat jalan harus tersedia transportasi cepat

d. Tanda dan gejala ruptur tuba seperti perdarahan pervaginam, nyeri abdomen

dan nyeri pleuritik, lemas, pusing, atau pingsan harus dilaporkan segera.

e. Dilarang melakukan hubungan seksual sampai β-hCG serum tidak

terdeteksi lagi.

f. Tidak boleh mengkonsumsi alkohol

g. Multivitamin yang mengandung asam folat tidak boleh dikonsumsi.

34

Page 35: Status Pasien Ket

Metotreksat adalah suatu obat antineoplastik yang bekerja sebagai antagonis

asam folat dan sangat efektif terhadap trofoblas yang proliferasi dengan cepat.

Dosis tunggal diberikan 50 mg/m² IM dan dosis variabel 1 mg/kg IM. Setelah

diberika dosis tunggal dipantau pada hari keempat dan ketujuh. Sedangkan

pada dosis variabel (selang sehari) konsentrasi β-hCG serum diukur dengan

interval 48 jam sampai kadarnya turun lebih dari 15%. Setelah terapi berhasil

dilakukan pemeriksaan β-hCG serum mingguan sampai kadarnya 5 mIU/ml.

Terapi lain dengan aktinomisin yang dilaporkan oleh Neary dan Rose (1995)

secara intravena selama 5 hari menghasilkan resolusi kehamilan ektopik yang

sempurna pada seorang wanita yang telah gagal dengan metotreksat. Suntikan

langsung obat sitotoksik metotreksat, prostaglandin F2α dan glukosa

hiperosmolar pada kehamilan tuba juga pernah dilaporkan berhasil pada

kehamilan ektopik yang belum ruptur.

Penatalaksanaan menunggu dengan melakukan observasi pada wanita hamil

ektopik yang sangat dini yang disertai dengan kadar β-hCG serum yang stabil

atau menurun. Sebanyak sepertiga dari wanita dengan kehamilan ektopik akan

mengalami penurunan kadar β-hCG serum, hasil ini lebih mungkin terjadi bila

kada awal 1000 mIU/ml. Kriteria penatalaksanaan menunggu adalah :

a. Kadar β-hCG serial menurun

b. Hanya kehamilan tuba

c. Tidak ada bukti perdarahan abdomen atau ruptur pada USG transvaginal

d. Diameter massa ektopik tidak lebih dari 3.5 cm.

I. Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :4

35

Page 36: Status Pasien Ket

1. Pada pengobatan konservatif, yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung (4-6

minggu), terjadi perdarahan ulang, hal ini merupakan indikasi untuk operasi.

2. Dapat terjadi infeksi pelvis

3. Sub ileus karena massa pelvis

4. Dapat terjadi sterilitas.

Pada pasien ini, belum ditemukan adanya komplikasi tersebut, sterilitas pada

pasien adalah karena tindakan operasi salpingektomi dan sterilisasi pomeroy.

J. Prognosis

Kematian akibat KET cenderung menurun dengan adanya diagnosis dini dan

fasilitas daerah yang cukup. Sekitar 60% wanita dengan KET dapat hamil kembali,

walaupun angka kemandulannya akan menjadi lebih tinggi. Angka kehamilan

ektopik yang berulang dilaporan 0-14.6% dengan kemungkinan melahirkan bayi

cukup bulan adalah 50%.4

Pada pasien ini, prognosisnya baik, karena keadaan umum pasien pasca

operasi cenderung membaik, namun fungsi reproduksi untuk hamil kembali

dan melahirkan bayi cukup bulan tidak dapat lagi diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

36

Page 37: Status Pasien Ket

1. Kenneth dkk. Obstetri Williams Panduan Ringkas. Edisi 21. Jakarta : EGC,

2009.

2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta : Yayasan Bina

Pustaka, 2007.

3. Aloysius dkk. Profil Penderita Ektopik Terganggu Periode 1 Januari 2003

sampai 31 Desember 2004 di RS Immanuel Bandung. Artikel Penelitian. Vol. 6,

No. 2, Februari 2007. Diakses Tanggal 6 Januari 2014. Diunduh dari :

http://majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/view/89/pdf

4. Mochtar, Rustam. Kelainan Letak Kehamilan. Dalam: Sinopsis Obstetri, Obstetri

Fisiologi dan Obstetri Patologi. Jilid I. Ed. II. Jakarta : EGC, 1998.

5. Cunningham dkk. Obstetri Williams. Kehamilan Ektopik. Edisi 21. Jakarta :

EGC, 2006.

6. Ralph & Martin. Buku Saku Obstetri & Ginekologi. Edisi 9. Jakarta : EGC, 2009.

7. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta : Yayasan Bina

Pustaka, 2008.

8. Versage, Jessica. Laparocopic Tubal Ligation Technique. Medical Journal, 13 Nov

2012. [Cited 2014 Jan 7]; available from:

http://emedicine.medscape.com/article/1848429-technique#aw2aab6b4b3

9. Peterson et all. The Risk of Pregnancy after Tubal Sterilization : Findings from the

U.S. Collaborative Review of Sterilization. Medical journal. 1996. [Cited 2014 Jan

7]; available from:

http://prod.obgyn.ubc.ca/Education/Residency/JournalClub/docs/Yen_001.pdf

37