Skripsi Burning

  • Published on
    24-Jul-2015

  • View
    518

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>HUBUNGAN PEMAHAMAN KOSAKATA DAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 16 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2010/2011</p> <p>Oleh YENI ZURAIDA</p> <p>Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung</p> <p>FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2011</p> <p>ABSTRAK HUBUNGAN PEMAHAMAN KOSAKATA DAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 16 BANDARLAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2010/2011</p> <p>Oleh YENI ZURAIDA</p> <p>Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah hubungan pemahaman kosakata dan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandarlampung tahun pelajaran 2010/2011. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pemahaman kosakata dan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandarlampung tahun pelajaran 2010/2011.</p> <p>Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara pemahaman kosakata dan kemampuan membaca pemahaman. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandarlampung tahun pelajaran 2010/2011 berjumlah 200 orang. Sampel penelitian ini sebesar 20% dari jumlah populasi sehingga jumlah sampel 40 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data variabel pemahaman koskaata dan variabel kemampuan membaca pemahaman adalah berbentuk tes objektif. Pada uji coba instrumen, penulis menguji validitas dengan menggunakan rumus korelasi</p> <p>product moment dan reliabilitas dengan rumus K-R 21. Untuk pengujian hipotesis, penulis memakai rumus korelasi product moment yang penghitungannya</p> <p>menggunakan program SPSS.12.0 for Windows. Berdasarkan hasil analisis data teruji bahwa r hitung lebih besar (&gt;) dari r tabel, yaitu 0,806 &gt; 0,312 (hasil dari intervolasi pada taraf kebermaknaan =0,05 dengan n=40). Dengan demikian, Ha diterima dan Ho ditolak, atau juga dapat dilihat dari probabilitas (sig. 2-tailed) yaitu 0,000 kurang dari (&lt; membeli 2) hidup &gt;&lt; mati 3) jauh &gt;&lt; dekat 2.3.1.3 Homonim dalam Pemahaman Kosakata Homonim adalah ungkapan (kata atau frasa atau kalimat) yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi dengan perbedaan makna di antara kedua ungkapan tersebut. Dengan kata lain, bentuknya sama (bahkan dalam bahasa Indonesia tulisannya sama, lafalnya sama) tetapi berbeda maknanya (Tarigan, 1984 : 91). Menurut Fatimah (1999 : 43), homonim adalah hubungan makna dan bentuk bila dua buah makna atau lebih dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama. Yayat Sudaryat (2006 : 41) mengemukakan bahwa homonim adalah katakata yang bentuk dan bunyinya sama atau mirip dengan benda lain tetapi maknanya berbeda. Selanjutnya, Abdul Chaer (2006 : 385) berpendapat bahwa homonim adalah dua buah kata atau lebih yang sama bentuknya tetapi berlainan maknanya. Contohnya : a. Ida tidak bisa hadir ke acara perpisahan hari ini, karena kakinya kena bisa ular tadi pagi. (bisa yang berarti dapat dan bisa yang berarti racun) b. Mereka hidup aman di sebuah kota. (tenteram, damai, tidak ada kerusuhan) Oknum itu telah diamankan. ( ditahan )</p> <p>Sebagian linguis membagi homonim menjadi dua jenis sebagai berikut. Homograf Bentuk kesamaannya terletak pada keidentikan ortografi (tulisan dan ejaan), seperti kata seri yang dapat bermakna sinar /sari/ dan jilid /seri/, semi yang dapat bermakna tumbuh /sami/.</p> <p>Homofon Sedangkan homofon menyandarkan kesamaannya pada keidentikan bunyi dan pengucapan. Misalnya bang dapat bermakna kakak (dari abang), yayasan keuangan (dari bank), suara azan, dan tiruan bunyi peti jatuh.</p> <p>2.3.1.4 Hipernim dan Hiponim dalam Pemahaman Kosakata Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain (Tarigan, 1984 : 95). Abdul Chaer (2006 : 387) berpendapat bahwa hipernim adalah kata-kata yang maknanya melingkupi makna kata-kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya. Sedangkan hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata hipernim (Tarigan, 1984 : 95). Menurut Abdul Chaer (2006 : 389) hiponim adalah kata atau ungkapan yang maknanya termasuk di dalam makna kata atau ungkapan lain. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori dan hiponim merupakan anggota dari kata hipernim. Contohnya : - Hipernim : Burung - Hiponim : perkutut, beo, balam, kepodang, cucakrawa, cendrawasih dan lain-lain. - Hipernim : Ikan - Hiponim : Lumba-lumba, tenggiri, hiu, betok, mujaer, sepat, teri, sarden, pari, mas, nila, dan sebagainya. - Hipernim : Sampo - Hiponim : Pantene, sunsilk, emeron, clear, dove, zinc, loreal, dan sebagainya.</p> <p>- Hipernim : Kue - Hiponim : Bolu, apem, nastar nenas, biskuit, bika ambon, serabi, cucur, lapis, bolu kukus, bronis, sus. 2.3.1.5 Polisemi dalam Pemahaman Kosakata Polisemi adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu atau ganda. Karena kegandaan makna seperti itulah maka pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna kata yang didengar atau dibacanya (Tarigan, 1984 : 98). Yayat Sudaryat (2008 : 43) berpendapat bahwa polisemi adalah kata-kata yang mengandung makna lebih dari satu, tetapi makna itu masih berhubungan dengan makna dasarnya disebut juga kata beraneka. Abdul Chaer (2006 : 386) mengemukakan bahwa polisemi adalah kata-kata yang maknanya lebih dari satu, sebagai akibat terdapatnya lebih dari sebuah komponen konsep makna pada kata-kata tersebut. Palmer (1976 : 65) mengatakan, It is also the case that the same word may have a set of different meanings, suatu kata yang mengandung seperangkat makna yang berbeda, mengandung makna ganda. Contoh : a. Kepala Tita terluka karena kejatuhan buah jambu. (bagian tubuh di atas leher) b. 2.4 Kepala bagian produksi perusahaan itu mengalami kecelakaan. (pimpinan) Pemahaman Kosakata</p> <p>Tarigan (1985 : 2) menyatakan bahwa kualitas keterampilan berbahasa dan berkomunikasi bergantung pada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimiliki oleh seseorang. Pemahaman berarti kesanggupan memahami dan menggunakan sesuatu (Depdikbud, 1993 : 48). Pemahaman bukan hanya sebatas kesanggupan</p> <p>dalam memahami, melainkan mencakup ingatan, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan kata lain, pemahaman berkaitan dengan aspek kognitif (Nurgiantoro, 1987 : 24). Dari uraian pengertian dan pemahaman di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman kosakata adalah suatu kegiatan dimana seseorang lebih menitikberatkan pada pemahaman kosakata, sehingga dapat memudahkan dalam mendapatkan informasi di dalam suatu bacaan. 2.5 Kerangka Pikir Hubungan Pemahaman Kosakata dan Kemampuan Membaca Pemahaman Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah pemahaman kosakata dilambangkan dengan X dan variabel terikatnya adalah kemampuan membaca pemahaman yang dilambangkan dengan Y. Seseorang yang memiliki pemahaman kosakata yang baik maka akan dengan mudah dalam menangkap informasi dalam suatu bacaan. Di dalam membaca pemahaman dituntut adanya pemahaman kosakata, karena dengan pemahaman kosakata seseorang akan mudah memahami isi bacaan dan akan mudah pula dalam mengungkapkan kembali informasi apa yang telah dibacanya. Pemahaman kosakata merupakan salah satu faktor penunjang di dalam membaca pemahaman. Semakin tinggi pemahaman kosakata seseorang, maka kemampuan membacanya akan sangat tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang kurang memahami kosakata, maka akan mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan dan sekaligus akan sulit pula dalam mengungkapkan isi bacaan. Penulis menduga bahwa pemahaman kosakata (X) memunyai hubungan yang erat dengan kemampuan membaca pemahaman (Y).</p> <p>Kerangka Pikir Hubungan Pemahaman Kosakata dan Kemampuan Membaca Pemahaman</p> <p>Pemahaman Kosakata Definisi kosakata menurut : 1.Keraf (1985) 2.Soejono (1983) 3.Soedjito (1989)</p> <p>Pemahaman Kosakata 1. Sinonim 2. Antonim 3. Homonim 4. Homofon 5. Homograf 6. Hipernim 7. Hiponim 8. Polisemi</p> <p>Kemampuan Membaca Pemahaman Defenisi membaca pemahaman menurut : 1. Kridalaksana (1984) 2. Tarigan (1989) 3. Lado dalam samhati (2003)</p> <p>Aspek Membaca Pemahaman 1. Kemampuan menangkap informasi dalam kalimat 2. Kemampuan memahami makna kata, ungkapan, kalimat 3. Kemampuan memahami kalimat utama 4. Kemampuan menyimpulkan isi bacaan 5. Kemampuan mennetukan fakta atau opini dalam bacaan</p> <p>2.5 Hipotesis Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian hingga terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2006 : 71). Berdasarkan kerangka pikir di atas, penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut. Terdapat hubungan yang positif, erat dan signifikan antara pemahaman kosakata dengan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2010/2011.</p> <p>III. METODE PENELITIAN</p> <p>3.1</p> <p>Metode Penelitian</p> <p>Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Menurut Arikunto (2006 : 170), penelitian korelasional merupakan penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu. Metode ini dipilih karena peneliti akan menguji ada atau tidaknya hubungan antara pemahaman kosakata dengan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2010/2011. Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Variabel bebas adalah variabel yang memengaruhi dan menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat, sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiono, 2005 : 33). Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah pemahaman kosakata, sedangkan yang menjadi variabel terikat (Y) adalah kemampuan membaca pemahaman. Hubungan kedua variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.</p> <p>Pemahaman Kosakata (X)</p> <p>Kemampuan Membaca Pemahaman (Y)</p> <p>Keterangan : (X) (Y) : Pemahaman Kosakata : Kemampuan Membaca Pemahaman : Hubungan 3.2 Populasi dan Sampel</p> <p>3.2.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek dalam suatu penelitian (Arikunto, 1995 : 102), dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 16 Bandarlampung tahun pelajaran 2010/2011. Populasi penelitian ini berjumlah 200 siswa yang tersebar di lima kelas, dengan perincian sebagai berikut. Kelas X 1. 40 siswa, kelas X 2. 40 siswa, kelas X 3. 40 siswa, kelas X 4. 40 siswa, dan kelas X 5. 40 siswa. Tabel 3.1 Daftar Populasi Siswa Kelas X SMA Negeri 16 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2010/2011 Kelas X1 X2 X3 X4 X5 Jumlah Jumlah Populasi 40 40 40 40 40 200</p> <p>3.2.2 Sampel Pengambilan sampel peneliti lakukan dengan mengacu pendapat Arikunto (2002: 112) yang menyatakan apabila subjek dalam penelitian ini berjumlah besar, subjek penelitian dapat diambil sebagai sampel berkisar 10% sampai dengan 15% atau 20% sampai dengan 25% atau lebih. Peneliti mengambil sampel 20% dari 200 siswa, yaitu 40 siswa. Dalam pengambilan sampel peneliti menggunakan teknik propotional cluster random sampling. Penyampelan dilakukan sebagai berikut. (1) Jika hasil perhitungan 20% dari jumlah siswa setiap kelas itu memiliki angka sesudah koma yang nilainya kurang atau sama dengan lima, jumlah sampel yang ditetapkan adalah angka sebelum koma, dan (2) Jika hasil perhitungan 20% itu memiliki angka sesudah koma lebih dari lima, jumlah sampel yang ditetapkan adalah angka sebelum koma ditambah satu. Tabel 3.2 Perhitungan Sampel dari Jumlah Siswa Kelas X SMA Negeri 16 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kelas X Jumlah Siswa 40 40 40 40 40 200 20% dari jumlah 8 8 8 8 8 40 Sampel Ditetapkan 8 8 8 8 8 40 yang</p> <p>1 X1 2 X2 3 X3 4 X4 5 X5 Jumlah</p> <p>Cara penentuan sampel yang digunakan dalam teknik ini yakni dengan pengundian. Langkah-langkah penyampelan tersebut adalah sebagai berikut. 1. Mendaftar nama semua subjek penelitian yang menjadi populasi penelitian.</p> <p>2. Menulis masing-masing nama pada kertas kecil dan digulung rapi. 3. Mengambil satu persatu kertas gulung tersebut sesuai dengan jumlah sampel yang dibutuhkan. 4. Memberi kode pada sampel yang telah terpilih untuk memudahkan penelitian. 3.3 Teknik Pengumpulan Data</p> <p>Untuk memperoleh data yang diinginkan, peneliti menggunakan teknik tes. Menurut Margono (2007 : 170), tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka. Tes yang terdapat dalam penelitian ini ada dua, yaitu tes pemahaman kosakata (variabel X) dan tes kemampuan membaca pemahaman (variabel Y) yang terurai sebagai berikut. 3.3.1 Tes Pemahaman Kosakata (Variabel X)</p> <p>1. Kemampuan Membaca Pemahaman Variabel kemampuan membaca pemahaman (Y) dijelaskan secara konseptual dan operasional dalam uraian berikut. 1.1 Definisi Konseptual Kemampuan membaca pemahaman adalah aktivitas pemahaman arti dalam suatu bahasa melalui tulisan atau bacaan yang bertujuan utama untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu. Lima aspek berikut ini oleh penulis dijadikan indikator penilaian dalam kemampuan membaca pemahaman, yaitu (a) kemampuan memahami makna kata, ungkapan, kalimat, (b) kemampuan menangkap informasi dalam kalimat, (c)</p> <p>kemampuan menentukan kalimat utama, (d) kemampuan menyimpulkan isi bacaan, (e) kemampuan menentukan fakta atau opini dalam bacaan. 1.2 Definisi Operasional Definisi operasional dari kemampuan membaca pemahaman adalah nilai atau skor diperoleh oleh siswa melalui tes bentuk objektif pilihan berganda (tipe A) dengan empat alternatif jawaban. Nilai atau skor tersebut meliputi lima aspek, yaitu (a) kemampuan memahami makna kata, ungkapan, kalimat, (b) kemampuan menangkap informasi dalam kalimat, (c) kemampuan menentukan kalimat utama, (d) kemampuan menyimpulkan isi bacaan, (e) kemampuan menentukan fakta atau opini dalam bacaan. Kemampuan membaca pemahaman siswa secara tertulis menyajikan enam wacana yang diikuti soal pilihan ganda; jumlah seluruh soal 36 butir dengan waktu 60 menit. Skor untuk satu soal yang benar adalah 1 (satu) dan skor soal yang salah adalah o (nol). Dengan demikian, siswa yang menjawab benar seluruh soal akan mendapatkan nilai 36. Adapun kisi-kisi soal yang dipergunakan untuk menilai kemampuan membaca pemahaman siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.</p> <p>Tabel 3.3 Indikator Penilaian dan Kisi-Kisi Soal Kemampuan Membaca Pemahaman Aspek Indikator a.Kemampuan Menangkap informasi dalam kalimat b. kemampuan memamahami makna kata, ungkapan, atau kalimat c. kemampuan menentukan kalimat utama, d. kemampuan menyimpulkan isi bacaan e. kemampuan menentukan fakta atau opini dalam bacaan. Jumlah Nomor Soal Jumlah Skor 11</p> <p>1, 5, 7, 13, 14, 20, 22, 29, 33, 34, 36 3, 9, 15, 21, 27, 28, 35</p> <p>7</p> <p>Memahami Isi Bacaan</p> <p>10, 12, 18, 26, 31</p> <p>5</p> <p>4, 8, 11, 16, 23, 25, 32</p> <p>7</p> <p>2, 6, 17, 19, 24, 30</p> <p>6</p> <p>36</p> <p>3.3.2</p> <p>Tes Pemahaman Kosakata...</p>