16
LI.1. Memahami dan Menjelaskan makroskopis dan mikroskopis articulatio Coxae Makroskopis Jenis sendi: Spheroidea (a ball and shcket) kepala sendi seperti bentuk bola kedalam lekuk sendi yang dalam Tulang yang berperan : caput femoris, fossa acetabulum, dan os.Coae Permukaan Artikular . Caput femoris bersendi dengan acetabulum os coae. !edalaman acetabulum diperluas oleh labrum acetabulare dari "aringan fibrokar yang melekat pada tulang tepi acetabulum dan ligamentum tran#ersum acetabuli. Simpan sendi . Simpan sendi "aringan ikat ( capsula articularis fibrosa) y kuat melekat proksimal dari acetabulum dan ligamentum trans#ersum acetabuli. sebelah distal simpai ini melekat pada collum femoris sebagai berikut : %nterior pada linea intertrochanterica dan akar trochanter ma"or &osterior pada collum femoris, proksimal terhadap crista interochanteri Serabut simpai yang terbanyak melintas secara berulir dari os coae ke lin interochanterica, tetapi beberapa serabut dalam melingkar sekeliling collum f membentuk zona orbicularis . Serabut'serabut ini membentuk sebuah kerah sekeliling collum femoris yang mencerutkan simpai sendi dan membantu memegang collum femoris dalam acetabulum. eberapa serabut simpai longitudinal dalam membentu retinaculum yang terbalik kea rah proksimal paa collum femoris sebag longitudinal yang membaur dengan periosteum. $alam retinaculum terdapat pembuluh darah yang mengantar darah pada caput femoris dan collumm femoris. Membarana synovial melapisi permukaan dalam simpai sendi "aringan ikat d "uga menutupi collum femoris antara perlekatan simpai sendi tadi dan articularis capitits femoris, daerah nonartikular acetabulum dan membentuk pe untuk ligamentum capitits femoris Ligamentum . Simpai sendi "aringan ikat di sebelah dengan diperkuat sebuah ligamentum yang kuat dan berbentuk , yakni ligamentum iliofemorale ya melekat pada spina iliaca anterior inferior dan pinggiran acetabulum, serta p interochanterica di sebelah distal. *igamentum iliofemorale mencegah hipereks articulation coae se+aktu berdiri dengan menmutar caput femoris masuk ke dal acetabulum. Simpai sendi "aringan ikat tadi disebelah ba+ah diperkuat oleh lig pubofemorale yang melekat pada baian pubik pinggiran acetabulum dan eminenti iliopubica ligamentum ini membaur dengan bagian medial ligamentum iliofemor dan mengetat se+aktu diadakan ekstensi dan abduksi pada articulation coae, d mencegah ter"adinya hiperabduksi ada articulation coae.

Skenario 3 Blok Muskulo 2

  • Upload
    meila

  • View
    33

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

1234

Citation preview

LI.1. Memahami dan Menjelaskan makroskopis dan mikroskopis articulatio Coxae

Makroskopis

Jenis sendi: Spheroidea (a ball and shcket) kepala sendi seperti bentuk bola masuk kedalam lekuk sendi yang dalam

Tulang yang berperan : caput femoris, fossa acetabulum, dan os.Coxae

Permukaan Artikular. Caput femoris bersendi dengan acetabulum os coxae. Kedalaman acetabulum diperluas oleh labrum acetabulare dari jaringan fibrokartilago yang melekat pada tulang tepi acetabulum dan ligamentum tranversum acetabuli.

Simpan sendi. Simpan sendi jaringan ikat ( capsula articularis fibrosa) yang kuat melekat proksimal dari acetabulum dan ligamentum transversum acetabuli. Di sebelah distal simpai ini melekat pada collum femoris sebagai berikut :

Anterior pada linea intertrochanterica dan akar trochanter major

Posterior pada collum femoris, proksimal terhadap crista interochanterica

Serabut simpai yang terbanyak melintas secara berulir dari os coxae ke linea interochanterica, tetapi beberapa serabut dalam melingkar sekeliling collum femoris, membentuk zona orbicularis. Serabut-serabut ini membentuk sebuah kerah sekeliling collum femoris yang mencerutkan simpai sendi dan membantu memegang collum femoris dalam acetabulum. Beberapa serabut simpai longitudinal dalam membentuk retinaculum yang terbalik kea rah proksimal paa collum femoris sebagai berkas longitudinal yang membaur dengan periosteum. Dalam retinaculum terdapat pembuluh darah yang mengantar darah pada caput femoris dan collumm femoris.

Membarana synovial melapisi permukaan dalam simpai sendi jaringan ikat dan juga menutupi collum femoris antara perlekatan simpai sendi tadi dan tepi cartilage articularis capitits femoris, daerah nonartikular acetabulum dan membentuk pelapis untuk ligamentum capitits femoris

Ligamentum. Simpai sendi jaringan ikat di sebelah dengan diperkuat oleh sebuah ligamentum yang kuat dan berbentuk Y, yakni ligamentum iliofemorale yang melekat pada spina iliaca anterior inferior dan pinggiran acetabulum, serta pada linea interochanterica di sebelah distal. Ligamentum iliofemorale mencegah hiperekstensi articulation coxae sewaktu berdiri dengan menmutar caput femoris masuk ke dalam acetabulum.

Simpai sendi jaringan ikat tadi disebelah bawah diperkuat oleh ligamentum pubofemorale yang melekat pada baian pubik pinggiran acetabulum dan eminentia iliopubica; ligamentum ini membaur dengan bagian medial ligamentum iliofemorale dan mengetat sewaktu diadakan ekstensi dan abduksi pada articulation coxae, dan mencegah terjadinya hiperabduksi ada articulation coxae.

Disebelah belakang, simpai sendi tersebut diperkuat oleh ligamentum ischiofemorale yang berpangkal pada bagian iskial pinggiran acetabulum dan mengulir dalam arah kraniolateral ke kollum femoris, medial dari alas traochanter major; ligamentum ini cenderung memutar caput femoris kea rah medial ke dalam acetabulum sewaktu diadakan ekstensi pada articulation coxae , dan dengan demikian mencegah terjadinya hiperekstensi.

Ligamentum capitits femoris bersifat lemah dan agaknya tidak banyak berguna dalam memperkuat articulation coxae. Ujungnya yang lebar melekat pada tepi-tepi incissura acetabuli dan ligamentum transversum acetabuli;ujung yang sempit melekat pada fovea ( cekungan ) yang terdapat di caput femoris. Biasanya dalam ligamentum ini terdapat arteri kecil yang menuju ke caput femoris .

Gerak sendi

Fleksi : M. iliopsoas, M. pectinus, M. rectus femoris, M.adductor longus, M. adductor brevis, M. adductor magnus pars anterior tensor fascia lata

Ekstensi : M. gluteus maximus, M. gluteus semitendinosis, M.semimembranosus, M. biceps femoris coput langum, M. adductor magnus pars posterior

Abduksi: M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. piriformis, M. Sartorius fasciae lata

Adduksi: M. adductor magnus, M. adductor longus, M. adductor brevis, M. gracilis, M. pectineus, M. obturator externus, M. quadrates femoris

Rotasi medialis: M. gluteus medius, M. gluteus minimus , M. tensor fasciae latae, M. adductor magnus ( pars posterior)

Rotasi lateralis: M. pisiformis, M.obturator internus, Mm. gamelli, M. obturator externus, M. quadrates femoris, M. gluteus maximus dan Mm. adductors.

Pada orang tua terutama perempuan sering terjadi fraktur collum femoris 10 kali lebih bayak pada laki-laki. Selain daripada kondisi tulang itu sendiri( osteoporosis) juga ditentukan oleh sudut inklinasi ( antar aksis collum femoris dan aksis corpus femoris ) . sudut inklinasi yang normal kurang lebih 126 derajat. Bila sudut inklinasi lebih kecil ( coxa vare ) lebih sering terjadi fraktur collum femoris dibandingkan pada sudut yang lebih besar ( coxa valga )

Mikroskopis

Tulang femur dikategorikan tulang panjang, gambaran histologi nya dibagi menjadi 2 bagian, tulang kompak dibagian luar dan tulang kanselosa di bagian dalam.

Pada tulang kompak unit struktural matriksnya adalah osteon (sistem havers), setiap osteon terdiri dari lapisan-lapisam lamela yang tersusun mengelilingi suatu kanalis sentralis. Pada lamela mengandung osteosit dalam rongga berbentuk kenari yang disebut lakuna. Pada masing-masing lakuna terdapat kanal halus yang disebut kanalikuli. Selain itu terdapat pula lamela interstisial, yaitu daerah kecil tidak teratur tulang yang terdapat diantara osteon.

Pada bagian dalam (tulang kanselosa) terdiri dari trabekula tulang yang bentuknya tipis dan bercabang. Trabekula sendiri dikelilingi oleh periosteum. Di luar periosteum terdapat rongga sumsum dengan pembuluh darah

LI.2. Memahami dan Menjelaskan Fraktur

LO.1. Definisi dan Klasifikasi Fraktur

Fraktur : Putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis, maupun tulang rawan sendi

Fraktur Colum Femur: Fraktur yang terjadi di femur, biasanya sering ditemukan pada orang tua terutama wanita umur 60 tahun ke atas

Klasifikasi Fraktur

a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.

b. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragemen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit, fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :

1. Derajat I

luka kurang dari 1 cm

kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.

fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan. Kontaminasi ringan.

2. Derajat II

Laserasi lebih dari 1 cm

Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse

Fraktur komuniti sedang.

3. Derajat III

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.

c. Fraktur Complete : Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal).

d. Fraktur incomplete : Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

e. Jenis khusus fraktur :1. Bentuk garis patah & hubungannya dengan mekanisme trauma Garis patah melintang : trauma angulasi/langsung Garis patah oblique : trauma angulasi Garis patah spiral : trauma rotasi Fraktur kompresi : trauma aksial-fleksi tulang spongiosa Fraktur avulsi : trauma tarikan/traksi otot pada tulang, misalnya patella2. Jumlah garis patah

Fraktur komunitif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.

Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi saling berhubungan

Fraktur multiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan.

3. Bergeser-tidak bergeser

Fraktur tidak bergeser : garis patali kompli tetapi kedua fragmen tidak bergeser. Fraktur bergeser : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut di lokasi fragmen. Dibagi lagi menjadi 3 jenis : Dislokasi ad longitudinam cum contractionum Tpergeseran searah sumbu dan overlapping) Dislokasi ad axim (pergeseran membentuk sudut) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi

Klasifikasi Fraktur Colum femoris

a. Berdasarkan hubungan terhadap fraktur:

1. Ekstrakapsuler

2. Intrakapsuler

b. Berdasarkan lokasi anatomi :

1. Sub-kapital

2. Transservikal

3. Basal

c. Berdasarkan keadaan fraktur femur :

1. Fraktur leher

2. Fraktur trokanterik

3. Fraktur diafisis

4. Fraktur suprakondiler

5. Fraktur kondiler

d. Berdasarkan Garden :

1. Fraktur tidak lengkap atau tipe abduksi/impaksi

2. Fraktur lengkap, tanpa pergeseran

3. Fraktur lengkap, disertai sebagian pergeseran

4. Fraktur tidak lengkap, disertai pergeseran penu

e. Berdasarkan Pauwel (berdasarkan sudut inklinasi leher femur) :

1. Tipe 1 : garis fraktur 30

2. Tipe 2 : garis fraktur 50

3. Tipe 3. : garis fraktur 70

LO.2. Etiologi Fraktur

Trauma : akibat jatuh dari ketinggian, kecelakaan pekerjaan, kecelakaan lalu lintas, dsb.

Trauma dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

Trauma Langsung : benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat tersebut Trauma Tidak Langsung : bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan serta fraktur yang diakibatkan trauma yang minimal atau tanpa trauma adalah fraktur patologis yaitu fraktur dari tulang yang patologik misalnya akibat osteoporosisEtiologi fraktur collum femur :

Trauma Langsung : biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter major terbentur dengan benda keras.

Trauma Tak Langsung : disebabkan gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Karena kepala femur terlihat kuat dengan ligamen di dalam acetabulum oleh ligament iliofemorale dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah colum femur. Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur interkapsuler berarti traumanya cukup hebat. Kebanyakan fraktur colum femur terjadi pada wanita tua dimana tulangnya sudah mengalami osteoporotik

LO.3. Patofisiologi FrakturKesalahan pelatihan adalah faktor-faktor risiko yang paling umum untuk patah tulang leher femur, termasuk peningkatan mendadak dalam jumlah atau intensitas pelatihan dan pengenalan aktivitas baru. Faktor lainnya yaitu kepadatan tulang yang rendah, komposisi tubuh normal, kekurangan makanan, kelainan biomekanik, dan ketidak teraturan menstruasi.

Faktor predisposisi, seperti variasi anatomi, osteopenia relatif, kondisi fisik yang buruk, kondisi medis sistemik(demineralisasi tulang), atau tidak aktif sementara, dapat membuat tulang lebih rentan terhadap patah tulang stres. Perempuan cenderung untuk mengarahkan gaya aksial pada bantalan berat di sepanjang sumbu yang berbeda dari tulang panjang dibandingkan dengan pria.Perempuan juga memiliki massa otot 8 minggu)

Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun 1997

Tingkat kematian dari fraktur:

Kematian : 11.696

Insiden : 1.499.999

0,78% rasio dari kematian per insidenDAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim (Editor). 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGCReksoprodjo S. Dkk. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. FKUI. Jakarta

Buku Anatomi Klinis Dasar

Buku Histologi diFiore. Edisi 11. Jakarta: EGC