Sken 3 - Titin

Embed Size (px)

DESCRIPTION

bgdcgvhg

Citation preview

  • 1

    Fibroadenoma Mammae

    Titin Agustin Kapitan

    Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

    Jalan Terusan Arjuna No.6, Jakarta 11510

    Email: [email protected]

    Pendahuluan

    Fibroadenoma mammae adalah sebuah tumor jinak yang paling banyak ditemukan pada wanita, terutama berusia muda. Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan jaringan glanduler (epitel) yang berada di payudara. Tumor ini tidak termasuk dalam tumor yang ganas sehingga tidak terdapat adanya metastasis. Namun, keluhan benjolan ini harus dibedakan dengan karsinoma mammae dan penyakit payudara lainnya yang dapat menimbulkan kecacatan pada payudara apabila tidak ditangani dengan benar.1-3

    Pembahasan

    A. Anamnesa dan pemeriksaan 1. Anamnesa

    Menanyakan identitas dan data umum seperti nama, usia, pekerjaan, agama, suku Menanyakan keadaan sosial dan ekonomi, gaya hidup dan kondisi lingkungan Menanyakan adanya keluhan utama dan penyerta Menanyakan apakah pasien telah melakukan pemeriksaan sebelumnya atau

    pengobatan sebelumnya, apa yang dilakukan untuk mengatasi keluahannya sebelum ke dokter

    Menanyakan riwayat penyakit keluarga dan penyakit terdahulu.1 Didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap. Keluhan utama

    penderita dapat berupa: massa tumor di payudara; rasa sakit; cairan dar puting susu; retraksi puting susu; adanya ekzema sekitar areola; keluhan kulit berupa dimpling, kemerahan, ulserasi atau adanya peau d'orange; atau keluhan berupa pembesaran kelenjar getah bening aksila atau tanda metastasis jauh. Adanya tumor ditentukan sejak beberapa lama, cepat atau tidak membesar, disertai sakit atau tidak. Biasanya tumor pada proses keganasan atau,

  • 2

    kanker payudara; mempunyai ciri dengan batas yang irregular umumnya tanpa ada rasa nyeri; tumbuh progresif cepat membesar.1

    Pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor dan perubahan ukuran tumor; kawin atau tidak; jumlah anak, disusukan atau tidak; riwayat penyakil kanker dalam; obat-obatan yang pernah dipakai terutama yang bersifat hormonal; apakah pernah operasi payudara dan obstetri-ginekologi.1

    Penyebaran informasi sesungguhnya tentang riwayat alamiah dan insidens kanker payudara sering bertanggung jawab untuk kewaspadaan pasien akan pe-nyakit payudara. Anamnesis terpadu harus didapatkan sebelum melakukan pemeriksaan fisik. Penyelidikan terinci tentang faktor risiko penyerta seperti usia, pantas serta riwayat menstruasi dan menyusui, bersifat' penting. Usia menarke dan perubahan siklik dengan menstruasi berkorelasi bermakna dengan penyakit jinak dan ganas. Pertanyaan tentang tindakan bedah sebelumnya, terutama ooforektomi, adrenalektomi atau pembedahan pelvis, penting untuk memastikan kemungkinan efek penghentian sekresi estrogen endogen. Penting riwayat terapi hormon sebelumnya, yang mencakup kontrasepsi oral dan estrogen eksogen. Kehadiran dan sifat sekret puting susu maupun hubungannya dengan ovulasi siklus bias memberikan petunjuk penting tentang etiologi.2

    Sekitar 75 sampai 85 persen massa payudara dikenal pasien sebelum mencari pertolongan medis. Sifat pertumbuhan, reprodusibilitas pemeriksaan selama siklus nienstruasi dan sekret puting Susu merupakan pokok informasi bersangkut paut. Nyeri (mastodinia) dengan pembengkakan dan rasa penuh payudara .dalam masa segera pramestruasi atau pascamenstruasi menggambarkan lesi payudara sensitif hormon yang jinak. Penyelidikan riwayat penyakit keluarga kanker payudara dan gejala konstitusional yang mencakup penurunan berat badan, demam, hemoptisis, nyeri dada, anoreksia dan nyeri tulang rangka penting bila indeks kecurigaan keganasan tinggi.2

    Riwayat lain yang perlu ditanyakan, antara lain apakah penderita sedang hamil atau tidak. Hal ini penting untuk diketahui, karena kehamilan dapat mengacaukan interpretasi terhadap adanya massa. Haid terakhir harus dicatat karena perubahan siklus haid me-ngesankan perubahan hormonal pada umumnya, denngan dampak

  • 3

    sekundernya pada payudara. Tanyakan pada pasien bilamana massa itu sebelumnya sudah ada dan diagnose patologik pada biopsi, serta terapi yang diberikan sebelum ini. Perhatikan juga adanya gejala sistemik seperti nyeri tulang, berat badan makin menurun dan lain-lain.1,3,5

    2. Pemeriksaan fisik

    Insp e ksi Vis ual . Sebelum palpasi, dokter seharusnya duduk menghadapi pasien yang harus

    membuka pakaian sampai pinggang serta mengamati simetri dan perubahan kulit seperti fiksasi, elevasi, retraksi dan warna. Pertama dilakukan pemeriksaan dengan lengan pasien di samping tubuhnya dan kemudian di atas pinggulnya. Kontraksi musculus pectoralis akan meningkatkan bentuk payudara. Penting. Pengenalan edema difus sebagai hasil selulitis bakterialis atau akibat peresapan endolimfe dari pembuluh limfe dermis dengan emboli tumor. Terperangkapnya ligamentum Cooper segmental bisa menimbulkan retraksi kulit dan lesung ('dimpling'), serta bisa disertai lengan 'peau d' orange. Gambaran fisik ini biasanya menyertai massa padat yang dapat teraba profunda, yang terlazim menggambarkan neoplasma maligna, tetapi kadang-kadang bisa nekrosis lemak.2

    Palpasi Payudara dan axila Palpasi sistematik atas tempat metastasis yang lazim harus dilakukan sebelum-

    pemeriksaan payudara. Pemeriksaan fossa axillaris dan supraelavieularis memer-lukan palpasi superfisialis dan profunda untuk mengenai metastasis kelenjar limfe. Pasien harus didudukkan dengan lengan disokong oleh pemeriksa. Relaksasi otot gelang bahu penting dan tekanan ujung jari tangan yang lembut terbaik mengenal kelenjar limfe kecil. Metastasis ekstramamma besar bermassa besar bisa jelas ke pasien dan dokter serta penting dokumentasi lokasi dan ukuran yang tepat selama pemeriksaan klinik awal: Lima kelompok kelenjar limfe yang sebelumnya disebutkan harus diperiksa dan jari.tangan yang mempalpasi harus ditempatkan dalam lipat axilla, sehingga semua struktur infra- clavicularis di lateral ligamentum Halsted telah dievaluasi. Ujung jari tangan pemeriksa menekan isi axilla pada otot dinding dada dan sangkar iga.2

    Ekstensi lengan penuh dengan tangan istitahat pada punbak kepala meratakan payudara pada dinding dada dan nyaman bagi pasien. Penempatan pasien kembali dalam posisi terlentang bisa memungkinkan pemeriksaan lebih menyeluruh,

  • 4

    terutama dengan ekstensi dan rotasi externa bahu. Pemeriksaan sistematik semua kuadran payudara diselesaikan. Evaluasi bertujuan mendeteksi lesi kecil yang berbeda dari lemak dan stroma payudara sekelilingnya. Lesi yang berbatas tegas, nyeri dan sama sekali terpisah dari parenkima berdekatan biasanya tidak ganas, sedangkan lesi tak nyeri dengan batas tak tegas secara klasik mungkin ganas. Pembedaan antara-sifat jinak dan ganas tak mungkin dilakukan atas pemeriksaan fisik saja. Penilaian, klinik dan biopsi diperlukan. Selama tahun reproduktif wanita, payudara mempunyai arsitektur lobulus normal, yang dapat membingungkan pasien selama pemeriksaan payudara sendiri. Pasien harus diinstruksikan cara memeriksa, payudaranya. Penemuan lesi dengan sifat tiga dimensi seharusnya menyadarkan pasien untuk kembali ke dokternya.2

    Puting susu dan areola harus diperiksa dengan cermat. Adanya inversi puting susu harus dicatat dan jika unilateral, harus dicurigai karsinoma. Puting susu normal terinversi biasanya dapat dieversikan ke posisi anatomi yang tepat; ketakmampuan melakukan perasat ini membenarkan biopsi. Penyakit jinak dapat juga melibatkan kompleks puting susu-areola. Ekzema dan keadaan peradangan subareola lazim dalam masa pasca persalinan selama laktasi. Adanya erupsi areola , bersisik, berkrusta, ekzematoid patognomonik bagi penyakit Paget puting susu. Lesi ini lazim basah atau berdarah bila kontak. Biopa penyakit Paget mengkonfir- masi karsinoma duktus primer yang telah menginvasi puting susu dan kulit areola untuk memberikan .gambaran klinik yang digambarkan.2

    Karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain estrogen dan progesteron maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan disaat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin, yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggudari hari pertama menstruasi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti, ketepatan pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi.1

    Teknik pemeriksaan

    Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka:1

    1. Posisi tegak (duduk) Penderita duduk dengan tangan bebas ke samping, pemeriksa berdiri d depan

    dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi dilihat simetri payudara kiri-kanao; kelainan papila; letak dan bentuknya; adakah retraksi puting

  • 5

    susu; kelainan kulit, tanda-tanda radang; peau d'orangt dimpling; ulserasi dan lain-lain.1

    2. Posisi berbaring Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata c atas

    lapangan dada; jika perlu bahu/punggung diganjal dengan bantal kecil pada penderita-penderita yang payudaranya besar. Palpasi ini di lakukan dengan mempergunakan falang distal dan falang medial jari II, III IV dan dikerjakan secara sistematis mulai dari kranial setinggi iga ke-I sampai ke distal setinggi iga ke-6; dan jangan dilupakan pemeriksaai daerah sentral subareolar dan papil. Dapat juga sistematisasi ini dari tepi ke sentral (sentrifugal) berakhir di daerah papil. Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada cairan keluar dengan menekan daerah sekitar papil Dengan pemeriksaan rabaan yang halus akan lebih teliti daripada dengan rabaan tekanan keras. Rabaan halus akan dapat membedakan kepadatar massa payudara. Tumor adalah kepadatan massa dalam payudara yang berbentuk dan mempunyai ukuran tiga dimensi.1

    3. Menetapkan keadaan tumornya a. Lokasi tumor menurut kwadran di payudara atau terletak di daerah sentral

    (subareola dan di bawah papil). Payudara dibagi atas empat kuadran yaitu kuadran lateral atas, lateral bawah, medial atas dan bawah serta ditambah satu daerah sentral.

    b. Ukuran tumor, konsistensi, batas-batas tumor tegas atau tidak tegas. c. Mobilitas tumor terhadap kulit dan m. pektoralis atau dinding dada.1

    Apabila lengket pada kulit akan kelihatan adanya cekungan pada posisi diam dalam posisi mengkontraksikan m. pektoralis diperiksa dengan menekankan tangan pada krista iliaka; jika tumor itu terfiksasi pada pektoral yang berkontraksi ini dan akan kelihatan bergerak dengan gerakan pektoral, berarti tumor ini melekat pada m. pektoralis atau pada fasia m. pektoralis.1

    4. Memeriksa kelenjar getah bening regional a. Aksilla:

    Sebaiknya dalam posisi duduk, karena dalam posisi ini fossa aksila jatuh ke bawah sehingga mudah untuk diperiksa dan lebih banyak dapat dicapai. Pemeriksaan aksila kanan, tangan kanan penderita diletakkan/jatuhkan lemas di

  • 6

    tangan kanan/bahu pemeriksa dan aksila diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa. Yang diraba kelompok kelenjar getah bening: - mammaria eksterna; di bagian anterior dan di bawah tepi m. pektoralis aksila; - subskapularis di postenpp-aksija; - sentral di bagian pusat aksila; - apikal di ujung atas fossa aksilaris. Pada perabaan ditentukan besar, konsistensi, jumlah; apakah berfik- sasi satu

    sama lain atau tidak. b. Supra dan infraklavikuler serta leher utama, bagian bawah dipalpasi dengan

    cermat dan teliti.1 5. Organ lain yang ikut diperiksa adalah hepar, lien untuk mencari metastasis jauh,

    juga tulang-tulang utama, tulang belakang.1,3,4

    3. Pemeriksaan penunjuang Mammografi

    Suatu teknik pemeriksaan soft tissue teknik. Adanya proses keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologik dan adahya mikrokalsifikasi. Tanda-tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan areola adanya bridge of tumor; keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mammae dan adanya metastasis ke kelenjar. Mammografi ini dapat .mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba; jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. Hanya saja untuk mass screening cara ini adalah cara yang mahal dan untuk itu dianjurkan digunakan secara selektif saja misalnya pada wanita dengan adanya faktor risiko tadi. Ketepatan 83-95%, tergantung dari teknisi dan ahli radiologinya.1,3

    Ultrasonografi

    Dengan pemeriksaan ini hanya dapat dibedakan lesi solid dan kistik. Mamografi ultrasonografi suatu metode noninvasif untuk membuat potongan tomografi beresolusi tinggi melalui payudara. Perkembangan unit skala abu-abu sangat memperbaiki kualitas gambar ultra- sonografi. Modalitas ini mempunyai keuntungan membedakan massa payudara padat dari massa payudara kistik. Parameter tambahan ini bisa melengkapi XMM tanpa risiko tambahan radiasi apa pun. Ketepatan di-

  • 7

    agnostik skala abu-abu lebih baru ultrasonografi mendekati 80 sampai 85 persen dengan angka negatif palsu (7,6 persen) dan positif palsu rendah (18 sampai 20 persen).1,3

    Xeromamografi.

    Dalam usaha kerjasama, ACS (American Cancer Socety) dan National Cancer Institute memperlihatkan kemanjuran mamografi dengan pemeriksaan sinarx dosis rendah, untuk mendeteksi neoplasma samar yang tak teridentifikasi oleh pemeriksa yang berpengalaman. Pemakaian belakangan ini atas teknik mamografi konvensional dan xeroipamografi (XMM) menunjukkan modalitas utama yang digunakan untuk mendeteksi lesi samar yang tak dapat di- palpasi. Untuk tujuan pembicaraan, XMM dan mamo- graf dua bidang konvensional bisa dipertimbangkan mempunyai potensi diagnostik yang setara. Kedua pemeriksaan radiografi dilakukan dalam proyeksi sefa- lokaudal dan mediolateral dengan reproduksi pola XMM atas lempengan selenium dalam cara positif atau negatif untuk menjelaskan densitas jaringan. Sorotan radiografi ini terdiri dari tenaga elektromagnet dengan panjang gelombang sangat pendek sedemikian, sehingga materi ditembus bervariasi sebagai fungsi den-sitas jaringan. Senyawa yang paling dapat radiopenetrasi adalah lemak, sedangkan timbunan paling 'radio- dense' (radioopak) adalah garam kalsium, yang ada dalam sekitar 35 sampai 45 persen lesi ganas dan pra- ganas. Timbunan ini menempati posisi periduktus atau perilobular. Luas kalsifikasi merupakan fungsi replikasi sel epitel, sehingga bertanggung jawab untuk tingginya frekuensi mikrokalsifikasi dalam hiperplasia epitel jinak serta neoplasma invasif dan noninvasif.2 Indikasi Pembuatan gambar payudara rutin paling bermanfaat dalam mendeteksi neoplasma payudara sebelum penampilan klinikfiya. Payudara besar berlemak pada wanita pascamenopause dan payudara padat aktif pada inidividu muda sulit diperiksa dengan palpasi. Xeromamografi diindikasikan untuk mengevaluasi massa yang dapat dipampasi dan memungkinkan pembedaan antara penyakit fibrokistik dan keganasan. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat dalam mendeteksi kelainan, apa pun yang tak dicurigai dalam payudara kontralateral seorang dengan kanker payudara. Teknik ini meningkatkan hasil diagnostik sekitar dua kali lipit di atas pemeriksaan fisik saja.2

  • 8

    Rekomendasi Saat ini rekomendasi untuk deteksi kanker payudara yang diusulkan ACS meliputi : (1) mamogram tiap tahun untuk wanita asimtomatik berusia 50 tahun atau; lebih; (2) mamogram dasar untuk wanita berusia 40 sampai 49 tahun, yang tergantung atas pemeriksaan fisik dan gambaran mamografi sebelumnya maupun faktor risiko tambahan; (4) pemeriksaan fisik oleh profesional berpengalaman setiap 3 tahun untuk wanita berusia 20 sampai 40 tahun; (4) dan pemeriksaan setiap tahun bagi wanita berusia 40 tahun ke atas.2

    Teknik untuk Biopsi Payudara

    Diagnosis histopatologi harus ditegakkan untuk lesi ganas dan jinak padat payudara. Variasi teknik dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis setelah usaha mendapatkan cairan atau jaringan.2,3

    Pemeriksaan sitologi

    Cairan kistik yang didapat dari aspirasi jarum ma- krokistik parenkima payudara dapat disentrifusi dan endapannya diperiksa secara sitologi. Teknik ini juga bermanfaat untuk pemeriksaan histologi sekret puting susu, JPreparat hapus dan fiksasi serupa dengan hapusan Papanicolaou. Jarangnya diagnosis sel neoplastik yang didapat dari. makrolrista payudara mencerminkan jarangnya kanker kistika. Semua sekret puting susu cairan kista dan positif Hemoccult atau guaiak harus diperiksa secara sitologi. Tetapi cairan jernih, .keruh, hijau atau coklat khas penyakit fibrokistika dan hasil sel ganas dari pemeriksaan sitologi cairan demikian begitu rendah, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efektif biaya tindakan ini.2,3

    Sitologi aspirasi jarum Jarum berlumen kecil yang dipasang ke dalam massa padat dan pengisapan

    dilakukan, sehingga sel-sel khas dapat diperoleh di dalam jarum, yang diaspirasi ke atas gelas objek dan diperiksa secara sitologi. Bahan contoh bisa segera dikeringkan di udara atau difiksasi dalam alkohol yang diikuti pewarnaan dengan hemaoksilin dan eosin. Walaupun lebih dari setengah kasus dapat didiagnosis dengan menggunakan teknik ini, namun reprodusibilitas dan konfirmasi berhubungan langsung dengan pengalaman ahli sitologi dan teknik persiapan gelas objek. Laporan negatif tidak menyingkirkan karsinoma; tetapi laporan positif palsu sangat jarang. Diagnosis positif

  • 9

    berkorelasi langsung dengan ukuran neoplasma, jumlah usaha aspirasi dan pengalaman pemeriksa.2,3

    Biopsi jarum

    Massa payudara padat yang dapat ditegaskan mungkin dapat menerima biopsi jarum. Tersedia berbagai alat biopsi jarum (VimSilveiman, Menghini, Trucut) untuk mendapatkan potongan tengah yang mewakili dari neoplasma payudara.-Tindakan sederhana ini dilakukan di bawah anestesi lokal untuk, tumor superfisialis yang berbatas tegas, tetapi sentral atau profunda dalam parenkdma payudara. Diagnosis positif palsu sangat jarang dan diagnosis dapat ditegakkan dalam sekitar 80 persen kasus. Pengambilan contoh jaringan yang adekuat berhubungan dengan ukuran dan konsistensi neoplashta serta pengalaman mendapatkan masing-masing bahan contoh biopsi. Tindakan ini harus dibatasi pada lebih dari ukuran 1 cm. Harus hati-hati mencegah penetrasi melalui tumor ke dalam musculus pectoralis major atau serratiis anterior. Implantasi sel tumor ke dalam struktur ini bisa suatu sumber kekam- buhan lokoregional. Implantasi saluran biopsi bisa timbul antara kulit dan tumor, serta eksisi j&lur bibpsi yang dirancang bersama neoplasma primer harus merupakan bagian integral terapi definitif pada mastektomi. Biopsi jarum dapat dilakukan dalam lingkungan rawat jalan di bawah anestesi lokal pada biaya minimum dan dengan morbiditas pasien yang tak berarti. Data yang menyimpulkan menggambarkah bahwa biopsi jarum fcurang mungkin menyebarkah sel tumor dalam payudara dibandingkan Suatu biopsi terbuka, yang selama waktu ini neoplasma primer dipotong. Teknik ini mempunyai hasil lebih, tinggi dan angka negatif palsu lebih rendah dibandingkan sitologi aspirasi jarum. Hasil negatif palsu masih tetap terlalu tinggi untuk menggunakan biopsi jariim bagi penyingkiran diagnosis kanker sehingga pengambilan contoh jaringan yang adekuat dengan teknik terbuka dinasehatkan bila diagnosis tak menyimpulkan.2,3

    Pemeriksaan Laboratorium Tes laboratorik rutin, hanya memperlihatkan sedikit arti pada pemeriksaan penyakit payudara, kecuali pada penderita dengan kanker yang telah lanjut.3

    Belum ada pemeriksaan darah yang digunakan untuk mendeteksi adanya kanker payudara. Petanda tumor (Tumor Marker/ TM) ialah molekul protein berupa enzim,

  • 10

    hormon dan lain lain, yang dalam keadaan normal tidak atau sedikit sekali diproduksi oleh sel tubuh. TM merupakan salah satu penunjang pemeriksaan kanker tertentuu baik screening, mengakkan diagnosis, prognosis, pemantauan hasil pengobatan, dan juga deteksi kekambuhan. Pemeriksaan petanda tumor (Tumor marker) untuk payudara yang menggunakan sampel darah yaitu CA 15-3 tidak digunakan untuk mendeteksi atau menegakkan diagnosis kanker. Pemeriksaan CA 15-3 dilakukan bila diagnosis kanker sudah ditegakkan dan lebih banyak digunakan untuk monitor terapi serta progresivitas kanker.3

    Gambar 1 Tindakan pada massa yang ditemukan pada payudara.3

    Ketika menemukan adanya benjolan pada payudara perlu diadakan pemeriksaan fisik akan adanya manifestasi maupun metastasis dari kanker yang mungkin adalah benjolan tesebut.

  • 11

    Tabel 1 Staging tumor pada payudara.3

    B. Diagnosis

    1. Working diagnosis Sesuai dengan keluhan pasien dan hasil pemeriksaan fisik yang ada dimana terdapat benjonlan kenyal pada payudara yang tidak nyeri dan dapat digerakkan, dan keadaan payudara tampak normal, tidak terlihat tandah-tanda peradangan tanpa adanya pembesaran kelenjar getah bening, ini sesuai dengan ciri khas dari fibroadenoma mammae.

  • 12

    2. Differantial diagnosis Tabel 2 Diagnosis banding.1-5

    Fibroadenoma Mammae Fibrokistik payudara Tumor piloides Kanker payudara

    - Tumor jinak

    - Berasal dari sel stroma

    payudara

    - Terjadi karena

    peningkatan mutlak

    aktifitas estrogen

    diperkirakan berperan

    dalam pembentukannya

    - Klinis: berbatas tegas,

    massa soliter, diskret,

    mudah digerakkan dan

    konsistensi padat dan

    kenyal. Lesi dapat

    membesar pada akhir daur

    masa haid dan masa

    hamil. Pasca menopause,

    lesi mungkin mengecil dan

    mengalami kalsifikasi

    - Pemeriksaan histologi

    memperlihatkan bahwa

    sel stroma bersifat

    monoklonal sehingga

    mencerminkan elemen

    neoplastik

    - Perubahan

    nonproliferatif

    - Ditandai dengan

    peningkatan

    stroma fibrosa

    disertai dengan

    dilatasi duktus dan

    pembentukan kista

    dengan berbagai

    ukuran

    - Gejala:

    pembengkakan

    dan nyeri tekan

    payudara

    menjelang

    menstruasi, teraba

    masa yang

    bergerak bebas,

    terasa granularitas

    pada jaringan

    payudara dan

    kadang-kadang

    keluar cairan yang

    tidak berdarah dari

    puting

    - Berasal dari sel stroma

    payudara

    - Tumor ini kecil, tapi dapat

    tumbuh besar (hingga 20-30

    cm) sehingga payudara

    tampak membesar

    - Permukaan berbenjol-benjol,

    konsistensi padat dan

    kisteus, mobile

    - Sebagian mengalami

    lobulusasi dan menjadi kistik,

    karena pada potongan

    memperlihatkan celah mirip

    daun, sehingga disebut

    filoides

    - Perubahan paling merugikan

    adalah peningkatan

    selularitas stroma dengan

    anaplasia dan aktivitas miotik

    tinggi dengan peningkatan

    pesat ukuran, sehingga

    menginvasi jaringan

    payudara dengan stroma

    maligna

    - Tumor ganas yang

    tumbuh membesar

    - Batas tidak tegas,

    bentuk tidak teratur,

    dengan konsistensi

    padat, dan tidak dapat

    digerakkan

    - Dapat timbul ulkus

    pada stadium lanjut

    - Dapat terlihat retraksi

    kulit atau papila

    mamae

    - Dapat terlihat eritema

    dan peau dorange

    - Terdapar pembesaran

    kelenjar limfe axilla

    bila telah menyebar

    - Metastase dapat

    mencapai tulang dan

    trejadi destruksi tulang

    terutama tulang

    belakang

    C. Epidemiologi dan faktor resiko

    Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab sesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui bahwa pengaruh hormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari fibroadenoma mammae, hal ini diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi atau pada saat kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini adalah tumor jinak, dan fibroadenoma ini sangat jarang atau bahkan sama sekali tidak dapat menjadi kanker atau tumor ganas.1,3,5,6

    Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu pada usia sekitar remaja atau sekitar 20 tahun. Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan laporan dari Western Breast Services

  • 13

    Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia yang lebih tua atau bahkan setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian yang lebih kecil dibanding pada usia muda.1,3,5-7

    Faktor resiko yang dapat memicu munculnya fibroadenoma antara lain melibatkan keadaan dimana adanya estrogen yang meningkat seperti pernah hamil atau telah mengalami mestrusasi. Selain itu faktor lainnya adalah usia pasien dimana kebanyakan pasien yang mengalami fibroademoma mammae berada pada usia kurang

    dari 30 tahun. 1,3,5-7

    Pasien perlu digolongkan pada kelompok yang beresiko tinggi atau tidak. Wanita dikatakan beresiko tinggi bila salah satu anggota keluarganya menderita tumor serupa, dan peningkatan resiko baru jelas terlihat, bila dua atau lebih anggota keluarga yang dekat dari pihak ibu, didiagnosa mempunyai fibroadenoma, atau kanker payudara. Resiko mendapatkan fibroadenoma meningkat pula dengan adanya menarkhe pada sebelum usia 11 tahun dan setelah 14 tahun, kehamilan pertama setelah berusia 30 tahun, menopause yang terlambat, dan mungkin obesitas. Pil keluarga-berencana, tak berhubungan dengan kenaikan resiko mendatarkan kanker payudara, demikian pula halnya dengan pemberian esterogen eksogen sebagai hormon pengganti pada saat menopause. Penderita yang pernah mengalami pengangkatan ovarium secara bedah,

    pun tak mengalami kenaikan resiko, bila padanya diberikan esterogen pengganti. 1,3,5-7

    D. Etiologi

    Fibroadenoma berasal dari unit duktus-lobular terminal payudara dan diperkirakan berkembang dari proliferasi dan perluasan stroma jaringan ikat khusus. Faktor etiologi yang mempengaruhi perkembangan fibroadenoma tetap tidak jelas. Perkembangan dari fibroadenoma dipercaya memiliki hubungan dengan hormon, yaitu pada rangsangan estrogen dan progresteron. Fibroadenoma juga terstimulus saat laktasi dan kehamilan. Hal ini diperkuat dengan kenyataan fibroadenoma mengalami atrofi saat menopause. Beberapa fibroadenoma memiliki reseptor dan merespon hormon pertumbuhan dan faktor pertumbuhan epidermal.5,6

    Fibroadenoma payudara juga dilaporkan sebelumnya terdapat pada pasien imunosupresi, misalnya akibat transplantasi organ. Pengembangan fibroadenoma juga

  • 14

    dikaitkan dengan dampak terapi siklosporin A, meskipun mekanisme yang tepat sehingga dapat terjadi belum terjelaskan.5,6

    Selain itu ada juga pengaruh multi faktor termasuk adanya bakat bawaan atau bakat turunan sehingga resiko fibroadoma mammae pada seorang wanita yang keluarganya ada yang mengalami hal yang sama meningkat dibanding orang normal.5,6

    E. Patofisiologi

    Gambar 2 Payudara dan letak lesi payudara.5

    Dua jenis stroma di payudara, intralobulus dan antarlobulus, menghasilkan jenis neoplasma yang berbeda. Tumor bifasik khas payudara, yaitu fibroadenoma dan tumor filoides, berasal dari stroma antarlobulus. Stroma khusus ini dapat mengeluarkan faktor-faktor pertumbuhan untuk sel epitel, menyebabkan proliferasi komponen epitel non-neoplastik tumor-tumor ini. Epitel fibroadenoma berespons terhadap hormon akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam mamary displasia, dan selama setiap fase akhir daur haid, ukuran lesi ini mungkin sedikit membesar. Peningkatan ukuran akibat perubahan laktasional atau, yang tidak jarang terjadi, akibat infark dan inflamasi, dapat menyebabkan fibroadenoma yang mirip dengan karsinoma selama kehamilan. Setelah menopause biasanya terjadi regresi. Stroma sering mengalami hialinisasi padat dan mungkin kalsifikasi. Kalsifisikasi berlobus- lobus ("popcorn") memiliki gambaran mamografik khas, sedangkan kalsifikasi kecil dapat tampak berkelompok dan memerlukan biopsi untuk menyingkirkan karsinoma. Sebagian fibroadenoma memiliki asal poliklonal, kemungkinan akibat adanya fokus-fokus hiperplasia stroma lobulus. Di pihak lain, terdapat subset fibroadenoma yang merupakan neoplasma jinak sel stroma.

  • 15

    Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa di sebagian tumor, komponen fibrosa (stroma) bersifat klonal dan bisa mengalami gangguan sitogenetik, tetapi komponen epitelnya bersifat poliklonal. Belum ditemukan adanya kelainan sitogenetik yang konsisten.5

    Fibroadenoma semula dikelompokkan sebagai "kelainan proliferatif tanpa atipia" sehingga menyebabkan peningkatan ringan risiko timbulnya kanker. Namun, dalam sebuah studi, hanya fibroadenoma dengan kista yang lebih besar dibandingkan dengan 3 cm, adenosis sklerotikans, kalsifikasi epitel, atau perubahan apokrin papilaris ("fibroadenoma kompleks") yang menyebabkan peningkatan ringan risiko kanker payudara. Diharapkan penelitian-penelitian di masa mendatang dapat mendefinisikan secara lebih akurat risiko yang berkaitan dengan lesi-lesi tersebut.5

    F. Manifestasi klinik

    Fibroadenoma adalah tumor jinak tersering di payudara wanita. Fibroadenoma, yang timbul pada usia subur, sedikit lebih sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Tumor ini sering multipel dan bilateral. Pasien biasanya adalah wanita muda yang datang dengan massa yang dapat dipalpasi serta wanita tua dengan densitas atau kalsifikasi pada pemeriksaan mamografi.1-5

    Fibroadenoma mammae ini secara klinis diketahui sebagai suatu tumor di payudara, dengan konsistensi padat kenyal, dapat digerakkan dari jaringan sekitarnya, bentuk bulat lonjongaanBerbatas tegas. Pertumbuhannya lambat, tidak ada perubahan pada kulit. Tidak disertai rasa nyeri. Terdapat pada usia muda (15-30 tahun). Dapat dijumpai bilateral atau multiple (15%). Dan sebagai tumor jinak tidak ada metastase jauh atau pun metastase regioner (pembesaran kelenjar getah bening ketiak).1-5

    G. Penatalaksanaan dan terapi

    Fibroadenoma payudara adalah lesi jinak yang sering mengenai perempuan selama masa reproduksi tahun. Meskipun tergolong tumor jinak, fibroadenoma dapat menimbulkan cacat fisik karena ukurannya yang besar dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau gangguan emosi pada individu yang terkena. Pilihan penanganan konvensional bagi wanita yang didiagnosis dengan suatu fibroadenomameliputi observasi atau eksisi bedah. Dua pendekatan yang lebih baru, percutaneous excision dan in situ cryoablation, telah dikembangkan dan kurang invasif dari eksisi bedah.3,4,6

  • 16

    Pada kebanyakan pasien dengan fibroadenoma, pendekatan yang ideal adalah konfirmasi dengan percutaneous core biopsy dan follow-up secara konservatif. Karena potensi ganas dari fibroadenoma sangat rendah, pengobatan tidak diperlukan atas dasar onkologis. Pendekatan konservatif merupakan penanganan yang paling murah dan menurunkan morbiditas dengan baik. Sebuah fibroadenoma yang tergolong minor akan menghilang tanpa pengobatan; dengan lesi yang tersisa dapat meningkat dalam ukuran atau tetap tidak berubah.3,4,6

    Karena fibroadenoma dapat mengganggu untuk beberapa pasien, menyebabkan cacat fisik, ketidaknyamanan atau gangguan emosi, ahli bedah payudara kebanyakan akan menghormati preferensi pasien terhadap penanganan yang akan dilakukan. Biopsi terbuka dengan eksisi merupakan penanganan yang efektif untuk kasus ini tetapi ini merupakan pilihan yang mahal karena biaya ruang operasi dan waktu istirahat dari pekerjaan. Eksisi Terbuka mungkin masih menjadi pilihan terbaik dalam beberapa kasus berdasarkan ukuran besar fibroadenoma atau penilaian ahli bedah atau preferensi pasien. 3,4,6

    Penelitian telah menunjukkan bahwa percutaneous excision fibroadenoma dengan bantuan USG merupkan prosedur yang aman, efektif dan ditoleransi oleh pasien. Bagi wanita yang lebih memilih pengangkatan lesi, prosedur ini menawarkan morbiditas, biaya, waktu kerja dan dampak kosmetik yang minimal. Percobaan multi-institusi menunjukkan cryoablation menjadi pilihan tepat untuk resolusi fibroadenoma tanpa eksisi bedah. FDA telah menyetujui penggunaan cryoablation sebagai terapi yang aman dan efektif untuk fibroadenoma. Hasil cryoablation telah diikuti selama empat tahun dan menunjukkan prosedur aman, berkhasiat, dan tahan lama. 3,4,6

    Cryoablation Fibroadenoma Payudara - jenis benjolan jinak payudara - dapat dibunuh dengan

    dingin yang intens dari pengobatan cryoablation. Dibandingkan dengan menghapus fibroadenoma dengan sebuah lumpectomy tradisional, cryoablation hanya membekukan benjolan sampai mati sehingga jaringan sehat dapat mengambil tempatnya. Fibroadenoma cryoablation dilakukan dalam satu kali kunjungan, membutuhkan waktu kurang dari 30 menit, dan hasil yang optimal dengan sebuah lesi bekas luka kecil. 3,4,6

    Prosedur tersebut tersedia secara komersial mayoritas di negara-negara Amerika. Prosedur tersebut dapat dilakukan di tempat praktek dokter danhanya

  • 17

    menggunakan anestesi lokal, yaitu tidak memerlukan anestesi umum, yang memberikan keuntungan biaya rendah dan menghindari kunjungan ke rumah sakit. Pasien yang menjalani prosedur tersebut harus memiliki diagnosis jelas fibroadenoma yang dikonfirmasi oleh biopsi payudara, untuk menyingkirkan kondisi lainnya. Tumor harus 4 sentimeter atau lebih kecil, dan beberapa benjolan dapat diobati pada kunjungan yang sama. Jika pasien mempunyai riwayat hipertensi, hemofilia, atai benjolan yang lebih dari 4 cm, Cryoablasi mungkin tidak mejadi pilihan yang terbaik. 3,4,6

    Transduser ultrasound digunakan oleh dokter bedah untuk mencari fibroadenoma pada payudara. Fibroadenoma harus jelas terlihat pada USG, sehingga cryoprobe yang akan digunakan untuk prosedur dapat secara akurat diposisikan di tengah benjolan. Setelah fibroadenoma telah ditemukan, anestesi lokal akan disuntikkan ke payudara. Setelah anestesi lokal sudah bekerja, insisi kecil sekitar 3 milimeter akan dibuat di kulit payudara sebagai tempat masuk cryoprobe tersebut. Insisi tersebut biasanya biasanya dilakukan pada bagian bawah payudara, sehingga bekas luka tidak akan terlihat. 3,4,6

    Dipandu oleh USG, dokter akan memasukkan cryoprobe ke tengah tumor. Menggunakan sudut pandang tegak lurus, dokter akan memeriksa posisi probe dan fibroadenoma untuk memastikan pengobatan yang akurat. Jika tumor terletak anda dekat kulit, beberapa larutan garam akan disuntikkan di antara daerah tumor dan kulit untuk melindungi dari udara dingin yang ekstrim yang akan digunakan. Sistem Visica akan diprogram untuk membuat daerah kustom berukuran jaringan beku yang sesuai fibroadenoma pada payudara. Dua freeze-thaw siklus akan berlangsung, sehingga seluruh fibroadenoma terpajan suhu yang seragam-terdistribusi -40C atau lebih rendah. 3,4,6

    Setelah fibroadenoma telah diobati, probe akan dikeluarkan, dan perban kecil ditempatkan di atas kulit. Jika terdapat lebih dari satu benjolan, prosedur yang sama dapat diulang untuk setiap benjolan. Tergantung pada ukuran fibroadenoma, proses memakan waktu sekitar 15-30 menit total. Dianjurkan kepada pasien untuk tidak mengangkat atau melakukan aktivitas berat selama sekitar 24 jam dan menghindari olahraga dan tugas berat selama 3-4 hari berikutnya. Setelah prosedur, dianggap normal untuk memiliki beberapa daerah yang lembut, memar, dan dalam kasus yang jarang terjadi, rasa sakit di tempat sayatan. Ibuprofen dapat digunakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman. 3,4,6

  • 18

    Bedah kuratif mungkin dilakukan ialah mastektomi radikal, dan bedah konservatif merupakan eksisi tumor luas. 3,4,6

    Terapi kuratif dilakukan jika tumor terbatas pada payudara dan tidak ada infiltrasi ke dinding dada dan kulit mmmae atau infiltrasi dari kelenjar limfe ke struktur sekitarnya. Tumor disebut mampu angkat (operable) jika dengan tindakan bedah radikal seluruh tumor da penyebarannya dai kelenjar limfe dapat dikeluarkan. 3,4,6

    Bedah radikal menurut Halsted meliputi pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya, m. pektoralis mayor, m. pectoralis minor, dan semua kelenjar aksila sekalligus. Pembedahan ini merupakan pembedahan baku sejak permuaan abad ke 20 hingga tahun lima puluhan. 3,4,6

    Setelah tahun enam puluhan biasanya dilakukan operasi radikal yang dimodifikai oleh Patey. Pada operasi ini, m.pektoralis mayor dan minor dipertahankan jika tumor jelas bebas dari otot tersebut. 3,4,6

    Sekarang biasanya dilakukan pembedahan kuratif dengan mempertahankan payudara. Bedah konservatif ini selalu ditambah diseksi kelenjar aksila dan radioterapi pada sisa payudara tersebut. Tiga tindakan tersebut merupakan satu paket terapi yang harus dilaksankan serentak. Secara singkat paket tindakan tersebut disebut terapi denganmempertahankan payudara. Syarat mutlak untuk operasi ini adalah tumormerupakan tumor kecil dan tersedia sarana radioterapi yang khususs (megavolt) untuk penyinaran. Penyinaran diperlukan untuk mencegah kambuhnya tumor di payudara dari jaringan tumor yang tertinggal atau dari sarang tumor lain(karsinoma multisentrik).3,4,6

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada saat terakhir biasanya dilakukan bedah radikal yang dimodifikasi (Patey). Bila ada kemungkinan dan tersedia sarana penyinaran pasca bedah, dianjurkan terapi yang mempertahankan payudara, yaitu berupa lumpektomi luas, segmentektomi, atau kuadrantektomi dengan diseksi kelenjar aksila, yaitu terapi kuratif dengan mempertahankan payudara. 3,4,6

    Bila dilakukan pengangkatan mammae, pertimbangkan kemungkinan rekonstruksi mammae dengan implantasi prostesisatau cangkok flap muskulokutan.implantasi prosthesis atau rekonstruksi mammae secara cangkok dapat dilakukan sekaligus dengan bedah kuratif atau beberapa waktu setelah penyinaran,

  • 19

    kemoterapi setelah ajuvan, atau rehabilitasi penderita selesai. Jika masalah ini tidak mungkin atau tidak dipilih, usahakan prostesi eksterna, yaitu prosthesis buatan yang disangga oleh kutang. Bentuk dan beratnya disesuaikan dengan bentuk dan berat payudara di sisi lain. 3,4,6

    Lumpectomy A Breast-Conserving Procedure Lumpectomy adalah jenis operasi minimal invasif kanker payudara.

    Lumpectomy juga disebut mastektomi secara parsial, reseksi baji, terapi payudara konservasi, biopsi eksisi luas, tylectomy, eksisi segmental, dan quadrantectomy. Akan tetapi, karena lumpectomy hanya mengambil sedikit jumlah jaringan dan meninggalkan bekas luka terkecil dari semua operasi payudara, seharusnya tindakan bedah tersebut hanya menimbulkan perubahan yang minimal di payudara. Lumpectomy juga dapat disebut sebagai eksisi lokal luas (wide local excision, WLE). 3,4,6

    Gambar 3 Lumpectomi.6

    Lumpectomy adalah prosedur pembedahan yang melibatkan menghilangkan tumor yang dicurigai dapat menjadi ganas (kanker), atau benjolan, dan sebagian kecil dari jaringan sekitarnya dari payudara wanita. Jaringan ini kemudian diuji untuk menentukan apakah mengandung sel-sel kanker. Sejumlah kelenjar getah bening juga dapat diangkat untuk melakukan pemeriksaan jika terdapat sel-sel kanker (sentinel lymph node biopsy atau axillary dissection). Jika sel kanker ditemukan pada sampel jaringan atau node, operasi atau pengobatan tambahan mungkin diperlukan. Wanita yang menjalani lumpectomy biasanya menerima terapi radiasi (RT) selama sekitar enam minggu setelah prosedur untuk membunuh sel-sel kanker apapun yang mungkin telah terlewatkan dengan pengangkatan tumor. 3,4,6

  • 20

    Tujuan dari lumpectomy adalah untuk mengangkat tumor dan margin kecil jaringan sekitar tumor. Tugas dokter bedah adalah untuk menemukan benjolan tersebut, dan margin jaringan yang mengelilingi benjolan. Terkadang prosedur lokalisasi kawat digunakan untuk membantu menandai posisi benjolan. Dokter bedah akan melokalisasi dengan melakukan palpasi, dan menggunakan informasi yang telah didapat dari mammogram atau hasil USG. Dokter bedah akan memandu pisau bedah hanya di luar daerah yang keras, untuk memastikan bahwa seluruh tumor disingkirkan. Mendapatkan "margin yang jelas" di sekitar tumor adalah penting, maka pengangkatan jaringan sekitar tumor diperlukan untuk memastikan pengangkatan tumor secara total terlaksana. Tumor biasanya memiliki permukaan yang bergelombang ("spiculated") atau tidak rata, mungkin dalam upaya bercabang dan menyebar, ahli bedah akan mencoba untuk memastikan bahwa ketika tumor diangkat, tidak ada bagian dari benjolan atau tonjolan dari tumor tersebut yang tersisa di jaringan payudara yang dapat menyebabkan kambuhnya kanker. 3,4,6

    Laser Ablation Fibroadenoma payudara, biasanya dikeluarkan selama lumpectomy, dapat

    dihilangkan dengan laser selama prosedur yang disebut Novilase laser ablation therapy. Prosedur tersebut saat ini sedang dipelajari untuk hasil jangka panjang, Novilase menggunakan perangkat laser dengan bantuan USG untuk menghancurkan fibroadenoma, hanya meninggalkan bekas luka kecil, tidak ada jahitan, dan tidak ada perubahan bentuk payudara. Panas dari serat laser digunakan untuk menghancurkan jaringan fibroadenoma, dibanding harus menghapusnya dengan lumpectomy tradisional. Sebuah prosedur rawat jalan, ablasi laser dilakukan dalam waktu sekitar 30 menit, dengan anestesi lokal, dan pemulihan cepat. 3,4,6

    Anestesi umum tidak diperlukan. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal, sehingga pasien akan sadar tetapi tidak akan merasa sakit selama ablasi tersebut. Pasien diharapkan untuk membuka pakaian dari pinggang ke atas, dan berbaring di atas kasur pemeriksaan untuk melakukan prosedur ini. Jika pasien merasa cemas dan tidak yakin bisa tetap tenang, perlu ditanya kepada dokter jika pasien tersebut dapat mengkonsumsi obat anti-kecemasan oral sebelum menjalani prosedur. Tumor fibroadenoma akan tepat ditemukan dengan menggunakan ultrasound scan. Sewaktu menggunakan USG untuk menemukan benjolan, pasien mungkin harus mengubah posisi sampai jaringan yang ditarget dapat terlihat. Hal ini diperlukan untuk penempatan akurat

  • 21

    probe laser. Saat pasien sudah dalam posisi yang nyaman, dokter bedah akan menyuntikan anestesi lokal dan menunggu beberapa menit sampai obat bekerja, lalu tindakan laser dapat dimulai. 3,4,6

    Insisi kecil akan dilakukan pada kulit di atas benjolan untuk membuat jalan bagi probe laser. Menggunakan ultrasound, dokter bedah akan membimbing probe kosong ke tengah tumor. Setelah dalam posisi, serat laser akan dimasukkan ke dalam probe. Lalu probe kedua yang lebih kecil akan dimasukkan di tepi luar fibroadenoma. Ini adalah pemeriksaan suhu dan akan digunakan untuk memonitor panas laser. 3,4,6

    Dengan kedua probe di tempat, dokter bedah menyalakan laser, yang memanaskan bagian tumor hingga 140 derajat Fahrenheit. Saat panas memancar ke batas luar tumor, dokter bedah memperhatikan suhu di monitor di dekatnya. Tindakan tersebut tidak menimbulkan bau ataupun asap apapun dari jaringan yang dipanaskan karena tindakan tersebut berlangsung di dalam payudara. Saat tumor telah hancur, kedua probe akan dikeluarkan, dan perban kecil ditempatkan di atas kulit. Prosedur yang sama akan terulang untuk setiap benjolan jika terdapat lebih dari satu lokasi tumor pada payudara.3,4,6

    Pasien dapat kembali ke aktivitas normal dalam beberapa jam dari prosedur. Pasien dapat merasakan pembengkakan dan ketidaknyamanan ringan selama 24-48 jam, yang dsapat diatasi dengan dengan kantong es atau ibuprofen. Akan terdapa tluka kecil pada kulit payudara (sekitar 0,7cm). Payudara tidak akan berubah bentuk, seperti halnya yang terjadi setelah lumpectomy. Mungkin akan terasa area tebal jaringan parut di situs ablasi, akan tetapi akan memudar dengan seiringnya waktu. Untuk memastikan penyembuhan berlangsung dengan baik, pasien diharapkan untuk menghadiri follow-up yang dijadwalkan ahli bedah. 3,4,6

    Gambar 4 Laser ablation.6

  • 22

    H. Komplikasi

    Simple Fibroadenoma

    Kebanyakan jenis fibroadenoma adalah simple fibroadenoma. Massa ini memiliki tepi yang berbeda dan sel tampak sama. Simple fibroadenoma tidak meningkatkan risiko kanker payudara, terutama jika tidak memiliki riwayat keluarga pengidap keganasan payudara.8

    Complex Fibroadenoma

    Fibroadenoma ini berisi kista, pembesaran lobulus lobulus (adenosis) atau sedikit padat, jaringan opak (kalsifikasi). Complex fibroadenoma juga tidak berubah menjadi ganas, tetapi ini meningkatkan risiko kanker payudara.8,9

    I. Pencegahan

    Ternyata dari penelitian bahwa lebih kurang 85% adanya tumor payudara, diketahui oleh penderita lebih dahulu/ditemukan oleh penderita. Dengan demikian sangat besar artinya jika SADARI ini lebih digalakkan terhadap kaum ibu terutama yang berusia di atas 30 tahun (cancerage), diharapkan akan lebih banyak kasus dapat dijaring dan dalam stadium lebih dini.1-3

    Sebaiknya dikerjakan setelah menstruasi, yaitu hari ke 7-10 dari hari menstruasi pertama; karena saat ini pengaruh hormonal estrogen progresteron sangat rendah dan jaringan kelenjar payudara saat itu dalam keadaan tidak oedema/ti- dak membengkak sehingga lebih mudah meraba adanya tumor atau kelainan. Dilakukan waktu mandi atau waktu lain di depan cermin. American Cancer Society dalam proyek Breast Cancer Screening menganjurkan untuk mendapatkan kasus dini pada a symptomatic woman; (wanita yang tidak ada keluhan) agar melakukan upaya:1 1. Wanita > 20 tahun; melakukan SADARI tiap bulan 2. Wanita 20-40 tahun; tiap 3 tahun memeriksakan diri ke dokter 3. Wanita > 40 tahun; tiap 1 tahun

    4. Wanita 35-40 tahun; dilakukan base line mammografi 5. Wanita < 50 tahun; konsul ke dokter untuk kepentingan mammografi 6. Wanita > 50 tahun; tiap tahun mammografi kalau bias. 1

  • 23

    Wanita dengan riwayat keluarga (+) mengalami kanker payudara dan tumor payudara; memerlukan pemeriksaan fisik oleh dokter lebih sering dan pemeriksaan mammografi rutin/periodik sebelum umur 50 tahun.1

    Teknik SADARI

    a. Berdiri di depan cermin dengan badan bagian atas terbuka (dada terbuka). Lengan ke bawah: bandingkan payudara kanan dan kiri, besarnya dan simetrinya.

    Puting susu: dilihat sama besar/tinggi/bentuknya atau tidak.

    Lengan di atas kepala: seperti tangan di bawah. Kadang-kadang dalam gerakan lengan ke atas dapat dilihat bayangan tumor di bawah kulit ikut bergerak.1,2

    b. Berbaring Sebaiknya bagian payudara yang diperiksa misalnya kanan; bahu kanan diganjal sedikit dengan bantal agar semua payudara jatuh rata di atas lapangan dada. Demikian juga untuk yang sebelahnya. Dengan jari-jari ll-IV bagian tengah dan kaudal dilakukan perabaan seluruh payudara secara sistematis; dari atas ke bawah dari pusat (papila) ke tepi. Jika meraba adanya tumor atau kelainan secepatnya berkonsultasi ke dokter. Untuk wanita di atas 40 tahun dianjurkan untuk tidak lupa memeriksakan ini tiap bulan.1,2

    Jadi sebagai kesimpulan yang penting dalam pendidikan masyarakat ialah:

    - Memberikan kesadaran bahwa penyakit kanker payudara bukanlah penyakit yang tidak dapat disembuhkan; asal penderita datang dalam keadaan dini.

    - Menganjurkan SADARI dan mengajarkan cara-cara SADARI, karena cara ini sangat besar perannya dalam penemuan dini. Kira-kira 85% tumor payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Akhirnya penanganan secara tepat dan adekuat dapat dilakukan.1,2

    Pemeriksaan mamografi sebenarnya dapat dipergunakan untuk mencari kasus-kasus dini; dengan melakukan mass sereening. Dengan mamografi dapat dideteksi lesi-lesi yang kecil 2-4 mm yang secara klinis tidak bisa diketahui. Namun pemeriksaan lesi untuk suatu mass screemng memerlukan biaya yang besar dibandingkan dengan hasil yang didapat. Di AS pun sudah ditinggalkan. Oleh karena itu mamografi dianjurkan pada wanita yang mempunyai faktor risiko tinggi; untuk menemukan lesi-lesi/tumor yang kecil.1,2

  • 24

    Selain itu perlu adanya kesadaran untuk hidup sehat dengan pola makan yang baik sehingga dapat menunjang kondisi kesehatan yang baik.3

    J. Prognosis

    Umumnya prognosis dari penyakit ini baik setelah diterapkan terapi yang ada dikarenakan sifat tumor yang tidak malignan. Pada deteksi dan penanganan yang cepat dan tepat, maka prognosisnya akan lebih baik. Faktor faktor seperti usia dan aktivitas hormonal juga mempengaruhi perjalanan penyakit, sehingga harus selalu dipantau untuk menghindari komplikasi yang mungkin dapat menjadi ganas sehingga prognosis akan menjadi lebih buruk.3,6

    Penutup

    Dengan keluhan benjolan pada payudara dapat memungkinan berbagai macam penyakit, sehingga harus dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh dan teliti pada payudara untuk menentukan karakteristik dari benjolan dan keluhan lain yang menyertai serta dilakukannya pemeriksaan penunjang yang tepat sehingga kepastian diagnosti dapat ditegakkan. Dalam kasus ini penting untuk membedakan fibroadenoma mammae dengan kanker mammae serta tumor piloides sehingga tidak terjadi kesalahan penanganan dan membuahkan prognosis yang baik bagi pasien.

  • 25

    Daftar pustaka

    1. Bagian bedah staf pengajar fakultas kedoktaran Indonesia. Kumpulan kuliah ilmu bedah.

    Jakarta: Binarupa Aksara;2000.h. 342-63. 2. Sabitson DC. Buku ajar bedah 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;1995.h.365-413.

    3. Doherty GM, Way LW. Current surgical diagnosis & treatment. 12th edition. Singapore: Lange

    Medical Books;2006.p.297-315. 4. Jong W, Sjamsuhidajat RS. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta: : Penerbit Buku Kedokteran

    EGC;2005.h.388-401. 5. Kumar, Vinay. Robbins dan Cotran dasar patologi penyakit. Edisi 7. Jakarta: : Penerbit Buku

    Kedokteran EGC;2010.h.1172-4. 6. Breast cancer surgery. 23 April. Diunduh dari breastcancer.com; 12 April 2012.

    7. Henderson C. Kanker payudara. Isselbacher, et al (editor). Dalam : Harrison prinsip prinsip

    ilmu penyakit dalam. Vol 4. Ed 13. Jakarta:EGC, 2000.h. 2045-6. 8. Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, et al. Benign breat tumor and related disease in

    Sabiston textbook of surgery. 18th ed. Philadelphia: Elsevier; 2008.p.234-7 9. Price, Anderson S. Patofisologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit Buku

    Kedokteran EGC;2003.

  • 26