Click here to load reader

Sistem Saraf Otonom Dr Sofie

  • View
    80

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

a

Text of Sistem Saraf Otonom Dr Sofie

Tinjauan Pustaka

REFREAT

ANATOMI SISTEM SARAF OTONOM

PEMBIMBING :Dr. SOFIE MINAWATI Sp.S

DISUSUN OLEH :NAMA : JULIAN PRATAMANIM : 1102008127

Kepaniteraan Klinik Mahasiswa Fakultas KedokteranUniversitas Yarsi Bagian Ilmu NeurologiRumah Sakit Umum Dr. Slamet Garut2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Yang manakami dapat menyelesaikan penyusunan referat ini yang berjudul Anatomi Sistem Saraf Otonom. Referat ini kami susun untuk melengkapi tugas di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf RSUD dr Slamet Garut. Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Sofie Minawati, Sp.S yang telah membimbing dan membantu kami dalam melaksanakan kepaniteraan dan dalam menyusun referat ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan baik pada isi maupun format referat ini. Oleh karena itu, kami menerima segala kritik dan masukan dengan tangan terbuka.Akhir kata kami berharap referat ini dapat berguna bagi rekan-rekan serta semua pihak yang ingin mengetahui tentang Anatomi Sistem Saraf Otonom.

Garut, Juli 2013Penyusun

DAFTAR ISI

Kata PengantarDaftar isiBab IPendahuluan4 Bab II Sistem Saraf5Bab III Neurotransmiter Sistem Saraf Otonom7III.A. Anatomi Sistem Saraf Simpatis8III.B. Anatomi Sistem Saraf Parasimpatis15III.C.Konsep Transmisi Sistem Saraf Simpatis dan Parasimpatis 17III.D. Interaksi Neurotransmiter Dengan Reseptor20III.E. Efek Peransagan Simpatis Dan Parasimpatis Dengan Organ24SpesifikIII.F. Tonus Sistem Saraf Otonom27III.G. Reflek Otonom28 Bab VI Ringkasan32Daftar Pustaka34

BAB IPENDAHULUAN

Sistem saraf manusia adalah suatu jalinan jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. System saraf mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya. System tubuh yang penting ini juga mengatur kebanyakan aktivitas system-system tubuh lainnya. Karena pengaturan saraf tersebut maka terjalin komunikasi antara berbagai system tubuh hingga menyebabkan tubuh berfungsi sebagai unit yang harmonis. Dalam system inilah berasal segala fenomena kesadaran, pikiran, ingatan, bahasa, sensasi, dan gerakan. Jadi, kemampuan untuk dapat memahami, belajar, dan memberi respon terhadap suatu rangsangan merupakan hasil kerja integrasi dari system saraf yang puncaknya dalam bentuk kepribadian dan tingkah laku individu. 1

Anggapan bahwa tidak sulit untuk mempelajari bangun (struktur) dan faal Susunan Saraf Pusat (SSP) adalah tidak berdasar sama sekali. Barangkali salah satu alasan yang dapat diajukan untuk membantah anggapan tadi ialah, karena bila dibandingkan dengan hal-hal tentang bagian tubuh lainnya, secara relatif belum banyak tentang SSP yang sudah diketahui. Tetapi alasan yang lebih utama ialah, karena perkembangan SSP manusia adalah yang paling sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. 1,2

BAB II SISTEM PERSARAFAN

Salah satu organ yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerja sama yang rapih dalam organisasi dan koordinasi kegiatan tubuh. Dengan pertolongan saraf kita dapat menerima suatu rangsangan dari luar pengendalian pekerjaan otot. 1

1.1 Pembagian susunan sarafSusunan Saraf pusat1. Medula Spinalis2. Otaka. Otak besarb. Otak kecilc. Batang otakSusunan saraf perifer1. Susunan saraf somatic2. Susunan saraf otonoma. Susunan saraf simpatisb. Susunan saraf parasimpatisSusunan saraf somatic adalah susunan saraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang. Susunan saraf otonom adalah susunan saraf yang mempunyai peranan penting memengaruhi pekerjaan otot involunter (otot polos) seperti jantung, hati, pancreas, jalan pencernaan, kelenjar dan lain-lain. 1,3,4

Pusat sel saraf (neuron) terdiri dari sebuah badan sel yang disebut perikarion, berisi nucleus. Di dalam sitoplasma perikarion terdapat badan-badan yang disebut substansia nissel. Dari perikarion keluar prosesus yang menghantarkan rangsangan perikarion yang disebut dendrit, jumlahnya lebih banyak (lebih dari satu). Prosesus yang menghantarkan rangsangan keluar dari perikarion disebut akson. Jumlah akson biasanya hanya satu. 1,3

Simpai myelin yang berlekuk-lekuk disebut nodus ranvier di dalam saraf perifer. Akson dan dendrit tergabung dalam berkas-berkas jaringan ikat disebut endoneurium. Berkas ini tergabung menjadi berkas yang lebih besar disebut epineurium. Apabila sebuah akson terputus maka bagian yang terputus hubungannya dengan korion akan mengalami degenerasi, akson dan simpai mielinnya akan berdegenerasi. 1,3

Sel saraf menurut jenis rangsangannya meliputi sel saraf (sel ganglion) dan serabut saraf (neurit) atau akson. Sel saraf (neuron) besarnya bermacam-macam dilihat dari geriginya satu, dua, dan banyak. Gerigi yang banyak bercabang menghubungkan sel itu dengan sesamanya, gerigi ini disebut dendrite. Alat penghubung disebut neuron. Serabut saraf (neurit) atau akson adalah bagian utama serabut saraf, yang disebut sumbu toraks, dan di bagian tengah disebut juga benang saraf. Sumbu saraf mempunyai benang saraf terdiri dari zat lemak, dinamakan myelin. Sumbu toraks yang tidak mempunyai selaput kehilangan keabu-abuan atau serabut saraf gaib (saraf sulung) sekeliling serabut saraf ini ada selaput bening, disebut selaput Schwan. 1,3

BAB IIINEUROTRANSMITTER DALAM FISIOLOGI SARAF OTONOM

Bagian sistem saraf yang mengatur fungsi viseral tubuh disebut sistem saraf otonom. Sistem ini membantu mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi gastro- intestinal pengosongan kandung kemih, berkeringat suhu tubuh dan banyak aktivitas lainnya. Ada sebagian yang diatur saraf otonom sedangkan yang lainnya sebagian saja. 1 Sistem saraf otonom adalah bagian sistem saraf tepi yang mengatur fungsi viseral tubuh.2 Sistem saraf otonom terutama diaktifkan oleh pusat-pusat yang terletak di medula spinalis, batang otak, dan hipotalamus.3 Juga, bagian korteks serebri khususnya korteks limbik, dapat menghantarkan impuls ke pusat-pusat yang lebih rendah sehingga demikian mempengaruhi pengaturan otonomik. Sistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan.4,5,6,7 Sebenarnya tidak ada penyamarataan yang dapat dipakai untuk menjelaskan apakah rangsangan simpatis atau parasimpatis dapat menyebabkan timbulnya eksitasi atau inhibisi pada suatu organ tertentu. Oleh karena itu, untuk dapat mengerti fungsi simpatis dan parasimpatis, kita harus mempelajari seluruh fungsi kedua sistem saraf ini pada masing-masing organ.3,4 Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun parasimpatis.4

Gambar 1. Bagan pembagian sistem saraf manusia 8

III.A. Anatomi sistem saraf simpatis Sistem saraf simpatis dimulai dari medula spinalis segmen torakolumbal (torak 1 sampai lumbal 2).3,5,6,7,9 Serabut-serabut saraf ini melalui rangkaian paravertebral simpatetik yang berada disisi lateral korda spinalis yang selanjutnya akan menuju jaringan dan organ-organ yang dipersarafi oleh sistem saraf simpatis. Tiap saraf dari sistem saraf simpatis terdiri dari satu neuron preganglion dan saraf postganglion. Badan sel neuron preganglion berlokasi di intermediolateral dari korda spinalis.9 Serabut saraf simpatis vertebra ini kemudian meninggalkan korda spinalis melalui rami putih menjadi salah satu dari 22 pasang ganglia dari rangkaian paravertebral simpatik.4,9 Selanjutnya serat-serat ini dapat mengalami salah satu dari ketiga hal berikut : (1) serat-serat dapat bersinaps dengan neuron postganglionik yang ada didalam ganglion yang dimasukinya. (2) Serat-serat dapat berjalan ke atas atau kebawah dalam rantai dan bersinaps pada salah satu ganglia lain dalam rantai tersebut. Atau (3) serat itu dapat berjalan melalui rantai ke berbagai arah dan selanjutnya melalui salah satu saraf simpatis memisahkan diri keluar dari rantai, untuk akhirnya berakhir di salah satu ganglia paravertebral.1,4,9,10,11,12,13 Akson-akson neuron preganglion kebanyakan bermielin, hantarannya lambat, tipe B.3,9,14 Pada rangkaian paravertebral simpatik, serabut-serabut preganglion dapat bersinap badan sel dari neuron postganglion atau melalui cephalad atau caudal untuk bersinap dengan neuron postganglion (kebanyakan serabut -serabut saraf yang tidak bermielin,tipe C )3,.9,14 Di ganglia paravertebral yang lain, neuron-neuron postganglion kemudian keluar dari ganglia paravertebra menuju ke berbagai organ-organ perifer. Neuron postganglion kembali ke saraf spinal melalui rami abu-abu, neuron ini selanjutnya akan mempengaruhi tonus otot pembuluh darah, otot-otot piloerektor, dan kelenjar keringat.4,9Ganglia prevertebra yang berlokasi di abdomen dan pelvis, terdiri dari ganglia coeliaca, ganglia aoarticorenal, mesenterica superior dan inferior. Ganglia terminal berlokasi dekat dengan organ yang disarafi contohnya vesica urinaria dan rektum.4,6

Gambar 2. Alur perjalanan rami putih simpatetik 11

Berdasarkan letaknya, ganglia simpatetik digolongkan menjadi :5,61. Ganglia servikalis, terdiri dari 3 ganglia yaitu : ganglia servikalis superior ganglia servikalis media ganglia servikalis inferior2. Ganglia thorakalis3. Ganglia lumbalis

Gambar ganglia servikalis dan distribusinya.11

Gambar . Ganglion lumbalis11

Pembagian segmental saraf simpatis Jaras simpatis yang berasal dari berbagai segmen medula spinalis tak perlu didistribusikan ke bagian tubuh yang sama seperti halnya saraf-saraf spinal somatik dari segmen yang sama.9,11Serabut-serabut saraf dari sistem saraf simpatis tidak menginnervasi bagian-bagian tubuh sesuai dengan segmennya. Sebagai contoh, serabut yang berasal dari torakal 1 biasanya melewati rangkaian paravertebral simpatik naik kedaerah kepala, torakal