Click here to load reader

SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS (STUDI KASUS : KLINIK

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS (STUDI KASUS : KLINIK

e-ISSN : 2548-1398 Vol. 2, No 9 September 2017
SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS (STUDI KASUS : KLINIK MEDIKA
PRIMA INDRAMAYU)
Klinik Medika Prima adalah sebuah balai pengobatan swasta yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan ruang lingkup yang lebih kecil. Para
pasien kelas menengah kebawah lebih banyak memilih berobat ke klinik karena prosesnya yang sederhana dan dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan rumah sakit. Oleh karena itu, klinik pun membutuhkan sistem informasi
untuk membantu kegiatan pelayanan kesehatan menjadi lebih cepat, efektif dan efesien. Sistem informasi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam
pengelolaan pasien dan obat, proses pemeriksaan rekam medis yang langsung disimpan ke dalam database, proses sistem antrian otomatis, proses pembayaran yang lebih efektif, hingga laporan-laporan yang disajikan lebih akurat dan relevan.
Sehingga para pasien merasakan kepuasan dari pelayanan kesehehatan di Klinik Medika Prima. Tidak hanya para pasien yang merasakan hal posit if dari
penerapan sistem informasi ini, para karyawan berbagai bidang di klinik pun merasakan kemudahan dalam melakukan tugasnya.
Kata Kunci: Sistem Informasi, Rekam Medis
Pendahuluan
pengelola dan pelaksana pelayanan kesehatan seyogyanya memberikan performa
terbaiknya. Tujuan dari peningkatan performa sendiri tidak lepas dari tujuan pelayanan
kesehatan itu sendiri, yakni meningkatkan kualitas dan manfaat atas pelayanan yang
diberikan. Oleh karena hal tersebut, rumah sakit, puskesmas, klinik dan lain sebagainya
harus memberi pelayanan terbaik, pelayanan yang memberi kenyamanan bagi setiap
pasien dan pelayanan yang dapat meningkatkan harapan dan optimisme pasien.
Badan pelayanan kesehatan merupakan badan yang menangani setiap pasien
yang datang untuk berkonsultasi dan berobat. Tingginya jumlah pasien untuk masing-
Tias Beni Purabaya
masing badan pelayanan kesehatan menuntut manajemennya memberlakukan rekam
medis.
Menurut Permenkes no. 55 tahun 2013, rekan medis sendiri adalah berkas berisi
catatan seperti identitas, hasil pemeriksaan, pengobatan dan tindakan pelayanan yang
didapat oleh pasien. Dengan definisi di atas, penulis berkesimpulan bahwa rekam medis
merupakan catatan pokok yang harus dimiliki oleh setiap pasien, dengan tujuan untuk
mempermudah dokter dalam pemberian tindakan lanjutan.
Keberadaan rekam medis dalam dunia kesehatan terbilang penting. Di samping
itu, keberadaannya juga senantiasa bersinggungan dengan teknologi yang sedang
berkembang, yakni komputer dan segala sistemnya. Mengingat, bila pencatatan
dilakukan melalui pola manual, pemborosan dan penumpukan kertas mungkin akan
terjadi. Sehingga, guna meminimalisir hal tersebut, rekam medis pun harus
mengoptimalkan peran sistem komputer.
untuk mencapai tujuan bersama (Jogiyanto dalam Jeperson: 2015). Pada penerapan
rekam medis, sistem yang digunakan merupakan sistem informasi. Sistem informasi
sendiri adalah sistem yang berada dalam suatu organisasi maupun non organisasi, yang
dimana dalam sistem tersebut, organisasi tersebut dapat mempertemukan kebutuhan
terkait transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi
dari suatu organisasi dan menyediakan pihak tertentu dengan laporan- laporan yang
dibutuhkan (Hanif Al Fatta: 2007).
Keberadaan sistem informasi sebagai sebuah pengembangan rekam medis
sangatlah berguna. Akan tetapi, pada kondisi lapangan, tidak banyak badan pelayanan
kesehatan yang menggunakan sistem informasi. Sistem informasi hanya digunakan
untuk sebagian badan kesehatan. Itu pun untuk badan-badan pelayanan kesehatan yang
relatif besar dan hanya sedikit badan kesehatan menengah ke bawah yang menggunakan
sistem ini. Kondisi ini kemudian mempengaruhi kondisi pelayanan di badan pelayanan
non sistem informasi. Kualitas pelayanan di badan pelayanan tersebut cenderung kurang
maksimal. Pencatatan rekam medis pun berjalan secara konvensional yang menguras
waktu para pegawai.
hal, yakni proses pendaftaran, pengambilan nomor urut, rekam medis, hingga
Sistem Informasi Rekam Medis
Syntax Literate, Vol. 2, No. 9 September 2017 153
penebusan obat di apotek. Dengan peran tersebut, ditambah dengan fungsi dan
manfaatnya, keberadaan sistem informasi tidak hanya dibutuhkan oleh badan pelayanan
kesehatan besar saja, melainkan menengah ke bawah juga. Dengan peran dan fungsi
tersebut efektifan pekerjaan di badan pelayanan kesehatan akan lebih baik.
Sistem informasi yang digunakan di badan pelayanan kesehatan meliputi proses
pendaftaran pasien, antrian pasien, rekam medis sampai penebusan obat pada apotik.
Tidak hanya badan pelayanan kesehatan besar seperti rumah sakit saja yang
membutuhkan peranan sistem informasi, badan pelayanan kesehatan kecil seperti klinik
pun membutuhkan peranan sistem informasi. Walaupun ruang lingkup klinik lebih kecil
dari rumah sakit, bukan berarti kegiatan pelayan kesehatan di klinik lebih sedikit dan
mudah ditangani. Para pasien kelas menengah ke bawah lebih banyak memilih berobat
ke klinik karena di klinik tidak rumit seperti rumah sakit, proses berobat pun cukup
sederhana dan tentu saja biaya yang dikeluarkan jauh lebih rendah daripada di rumah
sakit.
Dengan keadaan yang seperti itu, otomatis kegiatan di klinik tidak lagi
sederhana, karena faktor pasien yang terus bertambah. Oleh karena itu klinik juga
membutuhkan peranan sistem informasi untuk membantu kegiatan pelayan kesehatan
menjadi lebih cepat, efektif dan efesien, sehingga para pasien dapat dilayani secara
merata.
Salah satu klinik dengan pelayanan non sistem informasi adalah Klinik Medika
Prima Indramayu yang terletak di Jalan Gatot Soebroto. Kegiatan yang ada di klinik
tersebut meliputi pendaftaran pasien, pemeriksaan pasien, baik itu pasien umum, BPJS,
maupun ASKES. Selain itu klinik juga melayani pembuatan surat keterangan kesehatan.
Semua kegiatan yang tadi disebutkan, dalam pengelolaannya, dilakukan Klinik Medika
Prima melalui pola-pola manual melalui catatan buku kecil. Kendati demikian, ada
pelayanan BPJS dan ASKES yang dilakukan dengan media komputer. Akan tetapi,
terlepas dari hal tersebut, masing-masing kegiatan pelayanan kesehatan di Klinik Media
Prima masih cenderung manual, kecuali kegiatan pendaftaran pasien yang sudah
terkomputerisasi.
melakukan penelitian pada Klinik Media Prima. Penelitian yang dilakukan terkait
pembuatan sistem informasi. Adapun kegiatan pembuatan yang dimaksud disini
Tias Beni Purabaya
meliputi pembuatan dan penjelasan terkait sistem yang dipasang. Lebih lanjut, untuk
mewujudkan hal tersebut, penulis kemudian melaksanakan dan menyusun penelitian
dengan judul “Sistem Informasi Rekam Medis (Studi Kasus: Klinik Medika Prima
Indramayu).”
Penelitian ini merupakan studi kasus. Dengan latar belakang tersebut, peneliti
kemudian menetapkan studi kasus sebagai metode dalam penelitian ini. Secara umum
studi kasus sendiri adalah metode penelitian dimana peneliti secara cermat menyelediki
program, peristiwa, aktivitas, proses, serta sekelompok individu guna mencapai tujuan
peneitian (Creswell: 2010). Sementara dalam pengertian lain studi kasus diartikan
sebagai sebuah penyeledikan empiris (Yin: 2011). Yin juga menambahkan bahwa yang
dimaksud penyelidikan disini adalah upaya mencari dan menginvestigasi suatu
fenomena dan konteks yang masih parsial. Ary dalam Idrus (2009) juga menerangkan
bahwa studi kasus juga merupakan suatu penyeledikana. Dengan kata lain, penyelidikan
yang dimaksud disini adalah penyelidikan intensif atas suatu individu. Akan tetapi,
sambung Idrus, penyeledikan yang dilakukan pada studi kasus tidak hanya berhenti
pada individu, namun juga kelompok sosial seperti keluarga, sekolah, maupun
kelompok-kelompok kecil maupun besar.
Penelitian ini dilakukan di Klinik Medika Prima, Jalan Gatot Soebroto,
Kabupaten Indramayu. Klinik Medika Prima sendiri merupakan klinik yang cukup ba ik
dengan jumlah pasien yang cukup banyak. Akan tetapi, jika mengukur dari kuantitas
pasien, seharusnya Klinik Medika Prima menggunakan sistem informasi untuk
memudahkan proses pelayanan kesehatan. Namun hal berlainan terjadi di klinik
tersebut. Hingga saat ini, klinik tersebut masuk belum menggunakan sistem informasi,
sehingga pelayanan kesehatan di klinik tersebut kerap mengalami penumpukan. Oleh
karena alasan di atas, penulis kemudian menetapkan Klinik Medika Prima sebagai
tempat penelitian.
Metode penelitian erat kaitannya dengan subjek dan objek penelitian. Secara
umum subjek penelitian merupakan subjek––baik individu, kelompok, atau yang lain––
yang dituju untuk diteliti (Arikunto: 2006). Adapun objek penelitian merupakan sasaran
ilmiah (Sugiyono: 2010). Lebih lanjut, Sugiyono juga menerangkan bahwa objek
Sistem Informasi Rekam Medis
penelitian adalah sasaran penelitian. Penelitian ini sendiri menetapkan manajemen
Klinik Medika Prima sebagai subjek penelitian, sedangkan pemasangan sistem
informasi manajemen sebagai suatu objek penelitian.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Melalui teknik ini,
peneliti mendapat informasi lapangan. Observasi sendiri dilakukan dengan mengamati
perkembangan pemasangan sistem informasi manajemen di Klinik Medika Prima
Kabupaten Indramayu.
A. Hasil Penelitian
Dibawah ini menggambarkan sistem yang saat ini berjalan di Klinik Medika
Prima, sistem yang berjalan pada Klinik Medika Prima masih menggunakan cara
manual seperti pendaftaran pasien umum, pencatatan rekam medis, proses antrian,
pembuatan surat keterangan dan dalam pembuatan laporan. Penulis telah
mengamati sistem yang sedang berjalan pada Klinik Medika Prima.
Tias Beni Purabaya
1. Analisis Sistem yang Sedang Berjalan
a. FOD Pendaftaran Pasien Umum (Baru)
Gambar 1
Start
Identitas Pasien
Kartu Berobat
Finish
Antrian
1) Prosedur sistem pendaftaran pasien umum yang sedang berjalan adalah sebagai
berikut:
a) Pasien yang akan berobat harus memberikan identitas diri seperti KTP, SIM
atau tanda pengenal lainnya ke bagian pendaftaran.
b) Bagian pendaftaran akan mencatat data pasien ke dalam buku pasien dan
membuat kartu berobat pasien. Setelah itu pasien akan menerima kartu berobat
dan nomor antrian.
c) Setelah antrian pasien tiba, pasien memberikan kartu berobat ke bagian
pendaftaran dan akan mendapatkan kartu rekam medis. Kartu rekam medis itu
Sistem Informasi Rekam Medis
harus dibawa dan diserahkan ke bagian rekam medis untuk melanjutkan
pemeriksaan.
d) Bagian pendaftaran membuat laporan pasien untuk diserahkan pada kepala
bagian klinik.
2) Masalah-masalah yang ada pada proses pendaftaran yang sedang berjalan ini
adalah:
a) Sering terjadinya kehilangan salinan dokumen data pasien akibat penyimpanan
yang tidak teratur.
b) Pembuatan laporan pasien cenderung memakan waktu yang lebih lama.
c) Proses pencarian kartu rekam medis pasien memakan waktu yang lama
d) Proses pendaftaran cenderung lebih lama dan mengakibatkan antrian
pendaftaran yang panjang, sehingga proses pendaftaran kurang efektif.
Tias Beni Purabaya
b. FOD Rekam Medis Pasien Umum
Gambar 2
Start
Finish
Catat
pemeriksaan
Lap. Pendapatan
1) Prosedur sistem rekam medis pasien umum yang sedang berjalan adalah sebagai
berikut :
a) Setelah pasien mendapat kartu rekam medis, pasien memberikan kartu itu ke
bagian rekam medis lalu pasien diperiksa. Hal-hal yang akan diperiksa diantara
lain yaitu, tekanan darah, golongan darah, tinggi badan, berat badan dan
keluhan(anamnesa).
b) Setelah proses pemeriksaan tersebut, bagian rekam medis mencatat hasil
pemeriksaan itu ke dalam kartu rekam medis pasien, berikut tindakan yang
dilakukan sampai resep obat yang diberikan pada pasien. Kartu rekam medis
yang telah diisi diberikan kebagian apotik. Dan pasien akan menerima kertas
resep obat dari bagian rekam medis.
c) Bagian apotik mengolah data dari kartu rekam medis tersebut dan membuat
nota pembayaran pemeriksaan. Lalu nota pembayaran itu diserahkan pada
pasien.
d) Bagian apotik mengolah laporan pendapatan dan laporan persediaan obat dari
kartu rekam medis pasien yang telah selesai diperiksa. Laporan persedian obat
akan diberikan kepada kepala bagian klinik sedangkan laporan keuangan
diserahkan pada kepala bagian keuangan.
e) Bagian rekam medis mengolah laporan rekam medis dan memberikan laporan
tersebut kepada kepala bagian klinik.
2) Masalah-masalah yang ada pada proses rekam yang sedang berjalan ini adalah :
a) Pasien dibebankan dengan membawa secarik kertas yang berisi resep obat yang
harus ditebus ke bagian apotik.
b) Laporan- laporan cenderung dibuat lebih lama karena proses pencatatan dari
salinan-salinan hasil rekam medis masih belum teratur atau tidak berurutan.
c) Pencarian riwayat periksa pasien lebih lama, karena petugas harus mencari
terlebih dahulu kartu riwayat pasien pada tumpukan kartu pasien yang tidak
sedikit.
c. FOD Pembuatan Surat Keterangan
Gambar 3
PEMBUATAN SURAT KETERANGAN
Kesehatan
1) Prosedur sistem pembuatan surat kesehatan yang sedang berjalan adalah sebagai
berikut:
identitas diri dan keperluan membuat surat keterangan kesehatan.
b) Setelah itu bagian surat kesehatan memeriksa pasien seperti cek golongan
darah, tekanan darah, tes fisik dan berbagai macam tes lainnya. Dan hasil dari
Sistem Informasi Rekam Medis
dibuat menjadi rangkap dua. Rangkap pertama diserahkan kepada bagian apotik
dan rangkap kedua disimpan sebagai arsip klinik.
c) Surat keterangan kesehatan lalu diberikan pada bagian apotik untuk dilakukan
proses transaksi pembayaran.
d) Ketika pasien membayar biayanya, maka surat keterangan kesehatan akan
diberikan kepada pasien berikut dengan nota pembayarannya.
e) Bagian surat kesehatan mengolah laporan surat kesehatan kemudian laporan
diberikan kepada kepala bagian klinik. Bagian apotik mengolah laporan
pendapatan dan laporan akan diserahkan kepada kepala bagian keuangan.
2) Masalah-masalah yang ada pada proses pembuatan surat kesehatan yang sedang
berjalan ini adalah:
a) Proses pembuatan surat kesehatan masih menggunakan metode mencatat pada
lembaran kertas, metode ini cenderung dapat menimbulkan kehilangan data jika
salinan lembaran kertas tersebut hilang atau rusak.
2. Analisis Sistem yang Diusulkan
Dengan melihat kelemahan sistem yang masih menggunakan cara manual
tersebut, penulis mengusulkan pembuatan sistem informasi rekam medis di Klinik
Medika Prima.
a. FOD Pendaftaran Pasien Umum yang Diusulkan
Gambar 4
Start
Input, Simpan Data
Pasien dan Cetak
berikut:
1. Pasien yang akan berobat di Klinik Medika Prima harus mendaftarkan diri
terlebih dahulu agar mendapatkan kartu berobat. Kartu berobat ini merupakan
salah satu syarat bagi pasien jika ingin berobat di Klinik Medika Prima.
Prosedurnya yaitu pasien harus menunjukan identitas diri seperti KTP, SIM atau
tanda pengenal yang lain kebagian pendaftaran.
Sistem Informasi Rekam Medis
Syntax Literate, Vol. 2, No. 9 September 2017 163
2. Setelah pasien menunjukan identitas dirinya, bagian pendaftaran akan menginput
data pasien dalam form pendaftaran pasien dan akan disimpan pada database
pasien pada sistem informasi rekam medis ini.
3. Setelah itu pasien akan menerima kartu berobat yang tercetak. Pasien yang
sudah memiliki kartu berobat sudah bisa mendaftarkan dirinya dalam antrian
tunggu pemeriksaan.
4. Pasien memberikan kembali kartu berobat ke bagian pendaftaran untuk
menukarkannya dengan nomor antrian berobat. Pasien diharuskan untuk
menunggu antrian berobat.
5. Setelah menunggu antriannya disebutkan, pasien bisa menuju ruang pemeriksaan
untuk mendapatkan layanan kesehatan oleh bagian rekam medis.
6. Bagian pendaftaran akan mengolah laporan pasien dan mencetak laporan pasien
untuk diserahkan kepada Kepala bagian klinik.
Tias Beni Purabaya
b. FOD Rekam Medis Pasien Umum yang Diusulkan
Gambar 5
Start
Obat, Pemeriksaan &
Prosedur sistem rekam medis pasien umum yang diusulkan adalah sebagai
berikut :
1. Pasien harus menunjukan kartu berobat pada dokter yang akan memeriksa
keadaan kesehatan pasien. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan pada
pasien.
2. Hasil pemeriksaan tersebut diinput dalam form rekam medis dan disimpan pada
database rekam medis yang disediakan pada sistem informasi rekam medis.
Form itu berisi tentang data pasien, riwayat pemeriksaan pasien, diagnosa dokter
Sistem Informasi Rekam Medis
Syntax Literate, Vol. 2, No. 9 September 2017 165
dan tindakan yang dilakukan oleh dokter terhadap penyakit yang dialami oleh
pasien, serta resep obat yang harus digunakan oleh pasien.
3. Hasil rekam medis dan resep obat akan diberikan pada bagian apotik.
4. Bagian apotik akan melakukan proses transaksi pengobatan pasien dengan
menginput data hasil rekam medis dan resep obat yang diberikan oleh dokter ke
dalam form transaksi pembayaran. Kelebihan dari proses ini yaitu memberikan
kemudahan bagi pasien, agar pasien tidak perlu repot-repot membawa catatan
resep dokter kebagian apotik.
5. Pasien hanya perlu menunggu namanya disebutkan oleh bagian apotik untuk
membayar biaya berobat dan biaya obat yang akan ditebus. Setelah itu pasien
akan menerima nota pembayaran dari bagian apotik dan kartu berobatnya. Dan
proses berobat pun selesai.
6. Bagian rekam medis mengolah laporan rekam medis untuk diberikan pada
kepala bagian klinik, sedangkan bagian apotik mengolah laporan persediaan obat
untuk kepala bagian klinik dan mengolah laporan pendapatan untuk kepala
bagian keuangan.
c. FOD Pembuatan Surat Kesehatan yang Diusulkan
Gambar 6
PEMBUATAN SURAT KETERANGAN
berikut :
identitas diri dan keperluan membuat surat keterangan kesehatan.
2. Setelah itu bagian surat kesehatan memeriksa pasien seperti cek golongan darah,
tekanan darah, tes fisik dan berbagai macam tes lainnya. Dan hasil dari
pemeriksaan tersebut diinput dalam form pembuatan surat kesehatan dan
disimpan dalam database surat kesehatan
3. Dari proses tersebut dicetaklah hasil surat keterangan kesehatan lalu diberikan
pada bagian apotik untuk melakukan proses transaksi pembayaran.
4. Ketika pasien sudah membayar biayanya, maka surat keterangan kesehatan akan
diberikan pada pasien berikut dengan nota pembayarannya.
Sistem Informasi Rekam Medis
5. Bagian surat kesehatan mengolah laporan surat kesehatan kemudian laporan
diberikan kepada kepala bagian klinik. Bagian apotik mengolah laporan
pendapatan lalu laporan akan diserahkan kepada kepala bagian keuangan.
B. Pembahasan
pekerjaan di Klinik Medika Prima Indramayu. Pekerjaan seperti pendaftaran pasien
baru, proses rekam medis, pembayaran dan pembuatan laporan dapat dilakukan
dengan mudah dan praktis. Sistem komputerisasi memudahkan pegawai untuk
menginput dan mencetak data. Di sisi lain, keberadaan sistem ini juga
memungkinkan pegawai untuk tidak kehilangan data, terkecuali terdapat error atau
kesalahan teknis yang menyebabkan data hilang.
Sistem informasi manajemen dapat membantu pihak klinik untuk
menyajikan informasi secara cepat dan akurat. Di sisi lain keberadaan informasi
tersebut juga tidak mengeluarkan biaya sehingga meminimalisir biaya pengadaan
informasi. Berbeda dengan informasi selayaknya mading, informasi yang disajikan
di sistem ini tidak mengharuskan pegawai menyiapkan lahan, kertas, dan lain- lain.
Sebab, untuk menampilkan informasi pada sistem ini, pegawai hanya perlu
menyiapkan data. Data tersebut kemudian ditampilkan pada monitor sebagai sebuah
informasi.
Aplikasi rekam medis memungkinkan data terjaga dengan aman. Sistem ini
mengharuskan setiap orang untuk registrasi dengan username dan sandi. Dengan
kata lain, tidak semua orang dapat mengakses data pasien, sehingga keberadaan
data jauh lebih terjaga dibanding pola konvensional. Di samping itu pola
komputerisasi juga memungkinkan tidak ada penumpukkan kertas sebagaimana
sistem konvensional. Peng-input-an dan pengolahan data dilakukan dengan
komputer, lengkap dengan username dan password, sehingga orang lain tidak
mungkin mengambil, mengurangi atau bahkan mengacak-acak data tersebut.
Kendati menggunakan pola komputerisasi, penerapan aplikasi rekam medis
memiliki orientasi pada kegiatan riil pegawai. Sehingga, secara tidak langsung,
pegawai akan mudah menerapkan sistem informasi dengan mudah.
Tias Beni Purabaya
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil beberapa
kesimpulan yang terkait erat dengan Sistem Informasi Rekam Medis pada Klinik
Medika Prima, yaitu sebagai berikut :
1. Sistem informasi rekam medis yang berbasis komputerasi, dapat memberikan
kemudahan bagi pihak Klinik Medika Prima dalam melakukan proses pelayanan
seperti pendaftaran pasien, proses rekam medis, proses pembayaran serta dalam
membuat laporan-laporan.
2. Dapat membantu pihak Klinik dalam menyajikan informasi dengan lebih cepat
dan akurat.
3. Aplikasi rekam medis ini dapat membuat data-data klinik menjadi lebih aman
karena adanya sistem akses yang mengatur pengguna untuk masuk dalam sistem
tersebut sehingga tidak sembarang orang bisa mengakses aplikasi rekam medis
ini.
4. Aplikasi rekam medis ini dibuat berdasarkan kegiatan nyata yang ada pada
Klinik Medika Prima, sehingga para pengguna aplikasi rekam medis ini mampu
beradaptasi dengan mudah.
BIBLIOGRAFI
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Creswell, John W. 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fatta, Hanif Al. 2007. Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi: Untuk Keunggulan
Bersaing Perusahaan Dan Organisasi Modern. Yogyakarta: Andi
Hutahaean, Jeperson. 2015. Konsep Sistem Informasi. Yogyakarta: Budi Utama
Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Erlangga.
Jogiyanto, H.M. 2005. Analisa Dan Desain Sistem Informasi: Pendekatan Terstruktur
Teori Dan Praktik Aplikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi
Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 55 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis. Berita Negara No. 1.128.
Administrasi Negara Republik Indonesia
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta