SIROSIS HEPATIS

  • Published on
    06-Aug-2015

  • View
    14

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

<p>Dipresentasikan oleh: Kelompok I</p> <p> Sirosis</p> <p>adalah penyakit hepar kronis yang dicirikan dengan distorsi arsitektur hepar yang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hepar, yang tidak berkaitan dengan dengan vaskulatur normal. (Glenda, 2006) Secara histopatologis sirosis hepatis didefinisikan sebagai penyakit hepar menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat yang difus dan disertai adanya nodul.</p> <p>Di Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk. Penyebabnya sebagian besar akibat penyakit hepar alkoholik maupun infeksi virus kronik. Akibat nonalkoholik prevalensi 4% dan berakhir dengan sirosis hepatis dengan prevalensi 0,3%, dan akibat alkoholik dilaporkan 0,3%. Di RS Dr. Sardjoto Yogyakarta pasien sirosis hepatis berkisar 4,1 % dari pasien yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam dalam kurun waktu 1 tahun (2004). Di Medan dalam 4 tahun pasien sirosis hepatis sebanyak 819 (4%) pasien dari seluruh pasien di Bagian Penyakit Dalam.(Siti Nurdjanah, 2006)</p> <p> Secara </p> <p>klinis:</p> <p>sirosis hepatis kompensata (belum adanya gejala klinis yang nyata); sirosis hepatis dekompensata (gejala klinis jelas).</p> <p> Secara </p> <p>etiologi dan morfologi:</p> <p>alkoholik; kriptogenetik dan post hepatitis (pasca nekrosis); biliaris; kardiak; metabolik, keturunan, dan terkait obat.</p> <p>Penyakit infeksi kronik: bruselosis, ekinokokus, skistosomiasis, toksoplamosis, dan hepatitis virus (hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, sitomegalovirus) Penyakit Keturunan dan Metabolik: defisiensi antitripsin, sindrom fanconi, galaktosemia, penyakit gaucher, penyakit simpanan glikogen, hemokromatosis, intoleransi fluktosa herediter, dan penyakit wilson. Obat dan Toksin: alkohol, amiodaron, arsenik, obstruksi bilier, penyakit pelemakan hepar non alkoholik, sirosis bilier primer, dan kolangitis sklerosis primer. Penyebab lain atau tidak terbukti: penyakit usus inflamasi kronik, fibrosis kistik, pintas jejunoileal, dan sarkidosis.</p> <p>Peradangan sel hepar, nekrosis dan kolaps lobulus hepar memacu timbulnya jaringan kolagen. Tingkat awal terbentuk septa yang pasif oleh jaringan retikulum penyangga yang mengalami kolaps dan jaringan parut. Tahap berikut kerusakan parenkim dan peradangan yang terjadi pada sel duktus, sinusoid dan sel retikuloendotelial di dalam hepar, memacu fibrogenesis sehingga terbentuk septa aktif. Sel limfosit T dan makrofag berperan dengan mengeluarkan limfokin yang dianggap sebagai mediator dari fibrogenesis. Septa aktif ini menjalar menuju ke dalam parenkim hepar dan berakhir di daerah portal. Pembentukan septa tingkat kedua menentukan perjalanan progresifitas sirosis hepar. Pada tingkat yang bersamaan nekrosis jaringan parenkim memacu proses regenerasi sel-sel hepar yang akan mengganggu pembentukan susunan jaringan ikat tadi. Fibrogenesis dan regenerasi sel yang terjadi terus menerus dalam hubungannya peradangan dan perubahan vaskular intrahepatik serta gangguan kemampuan fisiologi hepar, pada akhirnya menghasilkan susunan hepar yang dapat dilihat pada sirosis hepatis.</p> <p>Sirosis Hepatis</p> <p>Hipertensi Portal</p> <p>Vasodilatasi Splanik (faktor utama)</p> <p>Hipoalbuminemia</p> <p>VDAE </p> <p>Aktivasi baroreseptor arteri</p> <p> aliran darah ginjal dan LFG</p> <p>Simulasi vasopresin</p> <p>Simulasi sistim saraf simpatis</p> <p>Aktivasi RAAS</p> <p>Retensi natrium dan air</p> <p>Anamnesa Identitas pasien Informasi yang mendukung</p> <p>Pemeriksaan Klinis Manifestasi klinis yang timbul</p> <p>Pemeriksaan Penunjang Hasil uji laboratorium dan penunjang (USG, Biopsi Hepar)</p> <p> Peritonitis</p> <p>bakterial spontan. Sindrom hepatorenal terjadi gangguan fungsi ginjal akut berupa oliguri, peningkatan ureum, kreatinin tanpa adanya kelainan organik ginjal. Varises esofagus. Enselopati hepatik.</p> <p> Prognosis</p> <p>dipengaruhi etiologi, beratnya kerusakan hepar, komplikasi, dan penyakit lain yang menyertai. Klasifikasi child-pugh untuk menilai prognosis pasien yang akan menjalani operasi, variabelnya konsentrasi bilirubin, albumin, ada tidaknya asites dan enselopati juga status nutrisi. Angka kelangsungan hidup selama satu tahun untuk pasien Child A, B, dan C berturut-turut 100, 80, dan 45 %.</p> <p>Sirosis merupakan suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif. Gambaran ini terjadi akibat nekrosis hepatoselular. Pembentukan edema terjadi penurunan konsentrasi protein plasma akibat kegagalan untuk menghasilkan protein dalam jumlah yang cukup maupun karena kebocoran protein dari plasma, akan menimbulkan penurunan tekanan osmotik koloid plasma. Hal ini akan meningkatkan filtrasi kapiler di seluruh tubuh dan edema ekstrasel.</p>

Recommended

View more >