of 66 /66
SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA 6,8-DIBROMO KUERSETIN HERMANTO UTOMO N111 07 037 PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN …digilib.unhas.ac.id/uploaded_files/temporary/Digital...SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA Dipertahankan di hadapan Panitia

  • Author
    others

  • View
    24

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN...

  • SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA 6,8-DIBROMO

    KUERSETIN

    HERMANTO UTOMO N111 07 037

    PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

    2013

  • SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA 6,8-DIBROMO

    KUERSETIN

    SKRIPSI

    untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana

    HERMANTO UTOMO N111 07 037

    PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS FARMASI

    UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

    2013

  • SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA 6,8-DIBROMO KUERSETIN

    HERMANTO UTOMO

    N111 07 037

    Disetujui oleh :

    Pembimbing Utama, Pembimbing Kedua,

    Yusnita Rifai, M.Pharm., Ph.D., Apt. Dra. Christiana Lethe, M.Si., Apt. NIP. 19751117 200012 2 001 NIP. 19481002 198203 2 001

    Pada tanggal 2013

  • SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA

    Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji SkripsiFakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

    Panitia Penguji Skripsi

    1. Ketua

    Drs. H. Syaharuddin Kasim, M.Si., Apt.

    2. Sekretaris

    Dr. Mufidah, S.Si.,

    3. Ex Officio

    Yusnita Rifai, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt.

    4. Ex Officio

    Dra. Christiana Lethe, M.Si., Apt.

    5. Anggota

    Prof. Dr. Hj. Asnah Marzuki, M.Si., Apt.

    PENGESAHAN

    SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA 6,8-DIBROMO KUERSETIN

    Oleh : HERMANTO UTOMO

    N111 07 037

    Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji SkripsiFakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

    Pada Tanggal 2013

    Panitia Penguji Skripsi

    Drs. H. Syaharuddin Kasim, M.Si., Apt. :………………..

    . Mufidah, S.Si., M.Si., Apt. : ……………….

    Yusnita Rifai, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt. : ……………….

    Dra. Christiana Lethe, M.Si., Apt. : ……………….

    Prof. Dr. Hj. Asnah Marzuki, M.Si., Apt. : ……………….

    Mengetahui :Dekan Fakultas FarmasiUniversitas Hasanuddin

    Prof. Dr. Elly Wahyud NIP. 19560114 198601 2 001

    SINTESIS, ANALISIS KEMURNIAN, DAN KARAKTERISASI SENYAWA

    Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

    :………………..

    : ……………….

    : ……………….

    : ……………….

    : ……………….

    Mengetahui : Dekan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

    din, DEA., Apt. NIP. 19560114 198601 2 001

  • PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya saya

    sendiri, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh

    gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan

    saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau

    diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

    naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

    Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya ini tidak

    benar, maka skripsi dan gelar yang diperoleh, batal demi hukum.

    Makassar, Mei 2013

    Penulis

  • UCAPAN TERIMA KASIH

    Tiada hal yang paling indah selain menghaturkan puji dan syukur

    kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat limpahan rahmat dan

    karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini

    sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi S1 penulis di Fakultas

    Farmasi tercinta.

    Ucapan terima kasih dan rasa sayang yang tak terhingga kepada

    Ayahanda Mulyanto dan Ibunda Rosmawati yang merupakan sumber

    inspirasi terbaik dan motivator yang luar biasa bagi penulis selama ini.

    Terima kasih telah menjadi orang tua, pribadi, dan sahabat terbaik dalam

    hidup penulis.

    Skripsi ini dapat penulis selesaikan berkat bantuan dari berbagai

    pihak baik langsung maupun tidak langsung. Karenanya patut rasanya

    penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan

    penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak, khususnya

    kepada ketiga pembimbing penulis yang merupakan sosok yang sangat

    inspiratif, Ibu Yusnita Rifai, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt. sebagai

    pembimbing utama, Bapak Muhammad Aswad, S.Si., M.Si., Apt sebagai

    pembimbing pertama, dan Ibunda Dra. Christiana Lethe, M.Si., Apt.

    sebagai pembimbing kedua, atas segala motivasi, saran, waktu, dan

    perhatian yang telah beliau berikan kepada penulis sejak dimulainya

    penelitian hingga selesainya skripsi ini. Terima kasih juga penulis haturkan

    kepada Ibu Dr. Hj. Sartini M.Si., Apt. selaku penasehat akademik yang

  • telah mencurahkan perhatian dan bantuannya kepada penulis dan khusus

    untuk ibunda Dra.Christiana Lethe, M.Si., Apt yang senantiasa menjadi

    orang tua kedua, sahabat, dan motivator terbaik selama penulis berkuliah.

    Juga tak lupa ucapan terima kasih penulis tujukan kepada Ibu

    Dekan, para Pembantu Dekan, Ketua Program Studi Farmasi Fakultas

    Farmasi Universitas Hasanuddin, serta Bapak dan Ibu Dosen Fakultas

    Farmasi Universitas Hasanuddin.

    Kepada Kepala Laboratorium Kimia Analisis Fakultas Farmasi

    Universitas Hasanuddin dan Kepala Divisi Pusat Kegiatan Penelitian

    Universitas Hasanuddin serta seluruh laboran yang telah membantu

    penulis selama pengerjaan penelitian ini, khususnya Ibu Adri, Kak Dewi,

    Arti, dan Kak Beti.

    Kepada saudara-saudara tercintaku Serly Utomo, Selvia Utomo

    dan Cahayadi Utomo yang selalu berdiri hadir di sukacita hidupku.

    Kepada sahabat phantom square: Ferry Novrianto, Stefanus Yudha,

    Christiady, Suhartono Citra, Morten Chandra, Verico Onardy, Oei Vina,

    Dan Ellen Noviana terima kasih untuk golden ways dan persahabatan

    yang seru dan indah.

    Kepada kakak-kakak terbaik : Julianri Sari Lebang, Rahmawati Gani

    Meronda, Andi Affandi, Andi Arjuna, Rahmad Aksa, dan Lukman, terima

    kasih atas dukungan dan doanya.

    Kepada sahabat-sahabatku: Muh. Syaiful, Muliyati Nur, Nurul Fitriah,

    Achmad Himawan, Muh Tri Hidayat, Ferliem, Budi Prasetya, Ardy

  • Novrianugrah, Fachril Thohari, Muh. Munthazir, Ismul Azham, Abdul

    Hamid, Bryan A.Futabara, Fitri Aqmalia, Trisnawardani, Nurwidya Nengsi,

    Ridha Sari Marsuki, Ismawati Tibe, Rugaya Y.M, Sari Fitriani, kepada

    saudara-saudari Mixtura 07 yang luar biasa dan seluruh warga mentari

    pagi, terima kasih untuk persahabatan yang tak terampuni.

    Kepada seluruh Tim Asisten Kimia Analisis Farmasi, Analisis

    Farmasi, dan Sintesis Obat, terima kasih untuk sharing ilmu dan

    kerjasama yang sangat kompak dan membangun.

    Banyak hal yang membuat karya ini jauh dari kesempurnaan.

    Karena itu, penulis selalu berharap agar saran yang membangun selalu

    disampaikan kepada penulis demi terciptanya suatu karya yang lebih

    bermutu. Permohonan maaf yang sebesar-besarnya penulis sampaikan

    kepada semua pihak yang mungkin pernah dirugikan oleh penulis.

    Akhirnya semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi pengembangan

    ilmu pengetahuan.

    Makassar, Mei 2013

    Penulis

  • ABSTRAK

    Telah dilakukan penelitian sintesis, analisis kemurnian, dan

    karakterisasi senyawa 6,8-dibromo kuersetin. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis, analisis kemurnian, dan karakterisasi terhadap senyawa 6,8-dibromo kuersetin dengan menggunakan berbagai teknik spektroskopik untuk memperoleh senyawa murni tersebut. Kuersetin sebagai bahan baku utama dibrominasi menggunakan larutan Bromin dalam asam asetat glasial pada suhu 35°-40°C selama satu jam, kemudian dimurnikan dengan metode kromatografi kolom. Kemurnian dari senyawa dilihat menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Produk yang diperoleh kemudian dikarakterisasi dengan beberapa metode spektroskopi meliputi UV-VIS, FT-IR, 1H-NMR, dan ESI-MS. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa produk yang diperoleh adalah 6,8-dibromo kuersetin dengan persen rendemen sebesar 32,47%.

  • ABSTRACT

    The research concerning on synthesis, purity analysis, and

    characterization of 6,8-dibromo quercetin has been conducted. This study aimed to perform the synthesis, purity analysis, and characterization of the 6,8-dibromo quercetin using various spectroscopic techniques in order to obtain the pure compound. Quercetin as starting material was brominated using bromine solution in glacial acetic acid at 35 ° - 40 ° C for one hour, then was purified using flash colomn chromatography (FCC) method. Purity of compound was monitored by Thin Layer Chromatography (TLC). The product then was characterized by several spectroscopic methods including UV-VIS, FT-IR, 1H-NMR, and ESI-MS. The results showed that the product obtained was 6,8-dibromo quercetin with yield percentage was 32.47% .

  • DAFTAR ISI

    halaman

    HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................. iii

    HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. iv

    HALAMAN PERNYATAAN ................................................................ v

    UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................. vi

    ABSTRAK .......................................................................................... ix

    ABSTRACT ........................................................................................ x

    DAFTAR ISI ....................................................................................... xi

    DAFTAR TABEL .............................................................................. xiv

    DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xv

    DAFTAR GAMBAR ......................................................................... xvi

    BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 4

    II.1 Kuersetin dan Turunannya .......................................................... 4

    II.1.1 Kuersetin .................................................................................. 4

    II.1.2 Turunan Kuersetin .................................................................... 5

    II.2 Sintesis Senyawa Kimia .............................................................. 5

    II.2.1 Sintesis .................................................................................... 5

    II.2.2 Desain Obat .............................................................................. 6

    II.3 Analisis Kemurnian ...................................................................... 7

    II.3.1 Kromatografi Lapis Tipis ........................................................ 7

  • II.3.2 Kromatografi Kolom .................................................................. 9

    II.4 Karakterisasi Senyawa .............................................................. 10

    II.4.1 Spektrofotometri UV-VIS ........................................................ 10

    II.4.1.1 Teori Spektrofotometri ......................................................... 10

    II.4.1.2 Prinsip Kerja ........................................................................ 11

    II.4.2 Spektrofotometri Fourier Transform-Infra Red (FT-IR) ........... 12

    II.4.3 Spektroskopi Proton-Nuclear Magnetic Resonance ............... 15

    II.4.3.1 Asal-Usul Gejala Resonansi Magnetik Nuklir ...................... 15

    II.4.3.2 Spektrum Resonansi Nuklir Magnetik .................................. 17

    II.4.3.3 Keekivalenan Proton ........................................................... 18

    II.4.3.4 Pola Pemisahan Proton ....................................................... 19

    II.4.3.5 Instrumentasi Proton-Nuclear Magnetic Resonance ........... 20

    II.4.4 Electrospray Ionization Mass Spectroscopy (ESI-MS) ........... 20

    BAB III METODE PENELITIAN ...................................................... 23

    III.1 Alat dan Bahan ......................................................................... 23

    III.2 Cara Kerja ............................................................................... 23

    III.2.1 Sintesis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin ............................ 23

    III.2.2 Analisis Kemurnian Senyawa 6,8 Dibromo Kuersetin ........... 24

    III.2.2.1 Kromatografi Lapis Tipis ..................................................... 24

    III.2.2.2 Kromatografi Kolom ........................................................... 24

    III.2.3 Karakterisasi Senyawa 6,8 Dibromo Kuersetin ...................... 26

    III.2.3.1 Spektrofotometri UV-VIS .................................................... 26

    III.2.3.2 Spektrofotometri Fourier Transform-Infra Red (FT-IR) ....... 27

  • III.2.3.3 Spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance ...................... 27

    III.2.3.4 Electrospray Ionization Mass Spectroscopy (ESI-MS) ....... 28

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................ 29

    IV.1 Hasil Penelitian ........................................................................ 29

    IV.2 Pembahasan ............................................................................ 32

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 36

    V.1 Kesimpulan ............................................................................... 36

    V.2 Saran ........................................................................................ 36

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 37

    LAMPIRAN ...................................................................................... 40

  • DAFTAR TABEL

    Tabel halaman

    1 Skema Reaksi Sintesis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin 2 Pemerian Senyawa Kuersetin dan 6,8-Dibromo Kuersetin 3 Rendemen Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    4 Hasil KLT dan Spektrofotometri UV-Vis Senyawa Kuersetin

    dan 6,8-Dibromo Kuersetin

    5 Hasil Pengukuran Spektrofotometri IR senyawa Kuersetin

    6 Hasil Pengukuran Spektrofotometri IR senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    7 Hasil Pengukuran Spektroskopi 1H-NMR dan ESI-MS

    Senyawa Kuersetin dan 6,8-Dibromo Kuersetin

    29

    29

    30

    30

    30

    31 31

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    1. Skema Kerja

    2. Perhitungan Rendemen Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    3. Gambar Hasil Penelitian 4. Gambar Senyawa Kuersetin dan 6,8-Dibromo Kuersetin

    5. Gambar Instrumen

    40

    41

    43 48 49

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    1 Reaksi Sintesis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    2 Kromatogram Senyawa Hasil Sintesis

    3 Kromatogram Senyawa Sintetik murni

    4 Spektra UV-Vis Senyawa Kuersetin

    5 Spektra UV-Vis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    6 Spektra IR Senyawa Kuersetin

    7 Spektra IR Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    8 Spektra 1H-NMR Senyawa Kuersetin

    9 Spektra 1H-NMR Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    10 Spektra ESI-MS Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    11 Senyawa Kuersetin

    12 Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    13 Instrumen Kromatografi Kolom 14 Instrumen Spektrofotometer FT-IR

    15 Instrumen Spektrofotometer UV-VIS 16 Instrumen Spektroskopi 1H-NMR

    17 Instrumen Spektroskopi ESI-MS

    43

    43

    44

    44

    45

    45

    46

    46

    47

    47

    48

    48

    49

    49

    50

    50

    51

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    Umat manusia dalam kehidupannya dikelilingi oleh sumber alam

    hayati dan telah digunakan sejak lama untuk obat-obatan dalam

    menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, jika sumber tersebut terus

    menerus digunakan maka akan mengalami kekurangan dan berdampak

    negatif bagi ekosistem. Oleh karena itu, berbagai metode pendekatan

    yang dilakukan untuk penemuan dan pengembangan obat baru, salah

    satunya yaitu sintesis dari modifikasi struktur molekul senyawa yang telah

    diketahui aktivitas biologisnya yang bertujuan untuk mendapatkan

    senyawa baru yang mempunyai aktivitas lebih tinggi, masa kerja yang

    lebih panjang, tingkat keamanan yang lebih tinggi, lebih selektif dan lebih

    stabil (1).

    Kuersetin merupakan senyawa golongan flavonoid yang memiliki

    inti flavon yang terbentuk dari dua cincin benzen yang terhubung melalui

    jembatan oksigen membentuk cincin heterosiklik. Kuersetin dan

    glikosidanya banyak terdapat di dalam tumbuhan dan merupakan

    senyawa flavonoid yang jumlahnya paling melimpah yaitu sekitar 65-70%

    dari flavonoid yang terdapat di alam. Kuersetin diketahui memiliki

    beberapa efek farmakologis, salah satunya yaitu efek anti-diabetes

    dengan menghambat kerja dari enzim α-glukosidase. Penelitian yang

    telah dilakukan menunjukan bahwa kuersetin memiliki kemampuan

  • menghambat aktivitas enzim α−glukosidase sebesar 75,7% pada dosis 10

    µg/mL (2,3,4).

    α-glukosidase adalah enzim yang ditemukan di dalam saluran

    pencernaan yang berfungsi untuk memecah karbohidrat kompleks menjadi

    gula sederhana yang akan diserap. Penghambat α-glukosidase bekerja

    dengan menghalangi penyerapan karbohidrat pada saluran pencernaan,

    sehingga mengurangi peningkatan kadar glukosa setelah makan

    (postprandial) di dalam darah (5,6).

    Untuk meningkatkan potensi atau optimasi senyawa kuersetin,

    Computer−Aided Drug Design and Development (CADDD) yang

    merupakan salah satu alat bantu untuk rancangan obat secara rasional,

    digunakan untuk merancang turunan kuersetin berdasarkan bentuk

    pengikatan dan interaksi dengan situs pengikatan dari α−glukosidase

    dengan metode simulasi docking menggunakan Arguslab® 4.0.1. Salah

    satu turunan kuersetin yang telah diprediksi memiliki aktivitas lebih baik

    dibanding senyawa induknya (kuersetin) yakni 6,8-dibromo kuersetin

    dengan nilai energi interaksi -12,11 kkal/mol sedangkan kuersetin dengan

    energi interaksi -10.61 kkal/mol terhadap situs pengikatan dari

    α−glukosidase (7).

    Tujuan penelitian ini adalah melakukan sintesis, analisis kemurnian,

    dan karakterisasi terhadap senyawa 6,8-dibromo kuersetin dengan

    menggunakan berbagai teknik spektroskopik.

  • Manfaat dari penelitian ini adalah menambah informasi tentang

    proses sintesis, analisis kemurnian, dan karakterisasi senyawa turunan

    kuersetin (6,8-dibromo kuersetin) dan memperoleh senyawa murni

    6,8-dibromo kuersetin yang digunakan sebagai bahan uji untuk

    eksperimen secara in vitro terhadap α−glukosidase secara langsung guna

    membuktikan hasil prediksi berdasarkan hasil simulasi docking tersebut.

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    II. 1 Kuersetin dan Turunannya

    II.1.1 Kuersetin

    Kuersetin merupakan senyawa golongan flavonoid yang memiliki

    inti flavon yang terbentuk dari dua cincin benzen yang terhubung melalui

    jembatan oksigen membentuk cincin heterosiklik (3). Nama IUPAC

    kuersetin adalah (2-(3’,4’-dihidroksifenil)–3,5,7–trihidroksi–Kromon-4-on),

    dengan rumus molekul C15H10O7, massa molar 302,236 g/mol, kerapatan

    curah 1,799 g/cm3, dan titik leleh 316 °C (11).

    Kuersetin dan glikosidanya banyak terdapat di dalam tumbuhan

    dan merupakan senyawa flavonoid yang jumlahnya paling melimpah yaitu

    sekitar 65-70% dari flavonoid yang terdapat di alam. Kuersetin merupakan

    golongan flavonoid dilaporkan menunjukkan beberapa aktivitas biologi.

    Aktivitas ini dikaitkan dengan sifat antioksidan kuersetin, antara lain

    karena kemampuan menangkap radikal bebas dan spesi oksigen reaktif

    seperti anion superoksida dan radikal hidroksil (3). Beberapa efek

    farmakologis senyawa kuersetin yaitu sebagai obat antidiabetik, prostatitis,

    penyakit hati, katarak, antiinflamasi, antialergi, anti kanker,bronkhitis, dan

    asma (11)

  • II.1.2 Turunan Kuersetin

    Salah satu modifikasi molekul kuersetin yang sudah dilakukan

    adalah dengan klorinasi menggunakan asam hipoklorit menghasilkan

    6-klorokuersetin dan 6,8-diklorokuersetin dengan aktivitas antioksidan

    lebih tinggi dari senyawa induknya. Senyawa 6-klorokuersetin ini

    menunjukkan aktivitas perlindungan terhadap tukak lambung yang

    diinduksi asetosal lebih tinggi dibanding kuersetin. (12)

    Kuersetin diketahui memiliki beberapa efek farmakologis, salah

    satunya yaitu efek anti-diabetes dengan menghambat kerja dari enzim

    α-glukosidase. Untuk meningkatkan potensi atau optimasi senyawa

    kuersetin, Computer−Aided Drug Design and Development (CADDD) yang

    merupakan salah satu alat bantu untuk rancangan obat secara rasional,

    digunakan untuk merancang turunan kuersetin berdasarkan bentuk

    pengikatan dan interaksi dengan situs pengikatan dari α−glukosidase

    dengan metode simulasi docking. Salah satu turunan kuersetin yang

    diprediksi memiliki aktivitas lebih baik dibanding senyawa induknya

    (kuersetin) yakni 6,8-dibromo kuersetin (7).

    II.2 Sintesis Senyawa Kimia

    II.2.1 Sintesis

    Sintesis merupakan perubahan struktur senyawa asal menjadi

    senyawa target yang sama sekali berbeda dengan senyawa asalanya.

    Sebagai contoh perubahan senyawa metabolit sekunder menjadi berbagai

    bentuk senyawa penting. Sintesis senyawa target mempunyai banyak

  • langkah reaksi. Hasil reaksi dari langkah reaksi pertama merupakan zat

    antara untuk langkah reaksi berikutnya. Untuk menyerderhanankan

    langkah reaksi ini dapat dimungkinkan sintesis dimulai dari senyawa hasil

    alam sebagai senyawa kunci (1).

    Ada jutaan senyawa kimia telah diketahui, namun yang merupakan

    senyawa kunci hanya sebagian kecil saja. Senyawa kunci merupakan

    senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mensintesis senyawa kimia

    lain dan menghasilkan bahan kimia penting bagi kehidupan umat

    manusia (1).

    Kekayaan alam nabati Indonesia melimpah ruah, dan telah

    digunakan sejak dahulu untuk pengobatan dalam menyembuhkan

    berbagai penyakit. Namun, jika sumber tersebut terus menerus digunakan

    maka akan mengalami kekurangan dan berdampak negatif bagi

    ekosistem. Oleh karena itu, berbagai metode pendekatan yang dilakukan

    untuk penemuan dan pengembangan obat baru, salah satunya yaitu

    sintesis dari modifikasi struktur molekul senyawa yang telah diketahui

    aktivitas biologisnya yang bertujuan untuk mendapatkan senyawa baru

    yang mempunyai aktivitas lebih tinggi, masa kerja yang lebih panjang,

    tingkat keamanan yang lebih tinggi, lebih selektif dan lebih stabil (1).

    II.2.2 Desain Obat

    Desain obat dimulai dengan menemukan senyawa yang

    menunjukan sifat biologi penting dan diakhiri dengan langkah optimasi,

    baik dari profil aktivitas maupun sintesis senyawa kimia. Dengan kimia

  • komputasi, peneliti menggunakan komputer untuk mengoptimasi aktivitas,

    geometrik dan reaktivitas, sebelum senyawa disintesis secara

    eksperimental. Hal ini dapat menolong dalam mensintesis senyawa yang

    membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya yang tidak sedikit (13).

    Optimasi aktivitas sering kali menggunakan pendekatan struktur

    molekul obat yang disesuaikan dengan struktur target. Struktur target

    merupakan suatu protein baik berupa reseptor atau enzim ataupun DNA

    yang dapat ditentukan dan dapat diidentifikasi menggunakan perangkat

    bioinformatik atau aktivitas farmakologiknya. Jika struktur dari target telah

    diketahui misalnya ditentukan dengan cara Xray crystallography atau

    spektroskopi NMR, maka akan dapat ditentukan molekul obat yang dapat

    secara tepat masuk ke dalam binding sites dari target, sehingga kita

    mampu melakukan simulasi untuk membuktikan adanya interaksi antara

    obat dengan targetnya. Hasilnya adalah mendapatkan usulan senyawa

    yang memiliki aktivitas yang lebih baik dan siap disintesis (13,14).

    II.3 Analisis Kemurnian

    II.3.1 Kromatografi Lapis Tipis

    Kromatografi lapis tipis merupakan metode pemisahan yang

    memerlukan investasi yang kecil untuk perlengkapan, menggunakan

    waktu yang singkat serta pemakaian pelarut dan cuplikan dalam jumlah

    sedikit. KLT termasuk kromatografi serapan, dimana sebagai fase diam

    berupa zat padat yang disebut adsorben (penyerap) dan fase gerak

    adalah zat cair yang disebut larutan pengembang (15).

  • a. Fase diam (Lapisan Penyerap)

    Pada kromatografi lapis tipis, fase diam berupa lapisan tipis yang

    terdiri atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga

    datar yang biasanya terbuat dari kaca, tetapi dapat pula terbuat dari plat

    polimer atau logam. Lapisan melekat pada permukaan dnegan bantuan

    bahan pengikat, biasanya kalsium sulfat atau amilum (pati). Penyerap

    yang umum dipakai untuk kromatografi lapis tipis adalah silika gel,

    alumina, kieselgur, dan selulosa (15).

    Dua sifat yang penting dari fase diam adalah ukuran partikel dan

    homogenitasnya, karena adhesi terhadap penyokong sangat tergantung

    pada kedua sifat tersebut. Ukuran partikel yang biasa digunakan adalah

    1-25 mikron. Partikel yang butirannya sangat kasar tidak akan

    memberikan hasil yang memuaskan dan salah satu cara untuk

    memperbaiki hasil pemisahan adalah dengan menggunakan fase diam

    yang butirannya lebih halus. Butiran yang halus memberikan aliran

    pelarut yang lebih lambat dan resolusi yang lebih baik (15).

    b. Fase gerak (Pelarut Pengembang)

    Fase gerak ialah medium angkut dan terdiri atas satu atau

    beberapa pelarut. Jika diperlukan sistem pelarut multi komponen, harus

    berupa suatu campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas

    maksimum tiga komponen (15).

  • c. Harga Rf

    Untuk menggambarkan jarak pengembangan senyawa pada

    kromatogram dipakai istilah harga Rf (16).

    Jarak titik pusat bercak dari titik awal

    Jarak garis depan pelarut dari titik awal

    II.3.2 Kromatografi Kolom

    Teknik pemisahan kromatografi kolom dalam memisahkan

    campuran, kolom yang telah dipilih sesuai ukuran diisi dengan bahan

    penyerap (adsorben) seperti alumina dalam keadaan kering atau dibuat

    seperti bubur dengan pelarut. Pengisian dilakukan dengan bantuan

    batang pemampat (pengaduk) untuk memampatkan adsorben dengan

    gelas wool pada dasar kolom. Pengisian harus dilakukan secara hati-hati

    dan sepadat mungkin agar rata sehingga terhindar dari gelembung-

    gelembung udara. Untuk membantu homogenitas pengepakan biasanya

    kolom setelah diisi divibrasi, diketok-ketok atau dijatuhkan lemah pada

    pelat kayu. Sejumlah cuplikan dilarutkan dalam sedikit pelarut, dituangkan

    melalui sebelah atas kolom dan dibiarkan mengalir ke dalam adsorben.

    Komponen-komponen dalam campuran diadsorpsi dari larutan secara

    kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas

    kolom, dengan penambahan pelarut (eluen) secara terus-menerus,

    masing-masing komponen akan bergerak turun melalui kolom dan pada

    bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan

    penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan

    RF =

  • tetap bila suatu komponen yang satu dengan lainnya bergerak ke bagian

    bawah kolom dengan waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga

    terjadi pemisahan. Jika kolom cukup panjang dan semua parameter

    pemisahan betul-betul terpilih seperti diameter kolom, adsorben, pelarut

    dan kecepatan alirannya, maka akan terbentuk pita-pita (zona-zona) yang

    setiap zona berisi satu macam komponen. Setiap zona yang keluar dari

    kolom dapat ditampung dengan sempurna sebelum zona yang lain keluar

    dari kolom (17).

    II.4 Karakterisasi Senyawa

    II.4.1 Spektrofotometri UV-VIS

    II.4.1.1Teori Spektrofotometri

    Dalam analisis spektrofotometri digunakan suatu sumber radiasi

    yang menjorok ke dalam daerah ultraviolet spektrum itu. Dari spektrum ini,

    dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita kurang dari

    1 nm. Instrumen yang digunakan untuk maksud ini adalah

    spektrofotometer, yaitu instrument yang terdiri dari dua instrument dalam

    satu kotak sebuah spektrometer dan sebuah fotometer.

    Sebuah spektrofotometer dapat dianggap sebagai sebuah

    fotometer fotolistrik yang diperhalus yang memungkinkan penggunaan

    pita-pita cahaya yang sinambung variabelnya dan lebih mendekati

    monokromatik. Bagian-bagian penting spektrofotometer adalah : suatu

    sumber energi cahaya; sebuah monokromator, yakni suatu piranti untuk

    memencilkan cahaya monokromatik; kuvet kaca atau silica untuk pelarut

  • dan larutan yang dituju dan sebuah peranti untuk menerima atau

    mengukur berkas-berkas energi cahaya yang melewati pelarut atau

    larutan (18)

    Spektrofotometer UV-Vis adalah alat instrument analisis yang

    bekerja berdasarkan prinsip kolorimetri yaitu metode yang menyatakan

    bahwa warna yang timbul pada larutan contoh tergantung pada kepekatan

    konsentrasi suatu unsur. Metode analisis ini didasarkan pada pengukuran

    energy cahaya tampak atau cahaya ultraviolet oleh suatu senyawa

    sebagai fungsi dari panjang gelombang (19).

    II.4.1.2 Prinsip Kerja

    Spektra UV-Vis dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Suatu

    berkas dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar

    radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh

    cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang

    diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies

    penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaya sebanding

    dengan jumlah foton yang melalui satu satuan luas penampang perdetik.

    Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi yang mengenai cuplikan memiliki

    energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan

    terjadinya perubahan tenaga. Kekuatan radiasi juga mengalami

    penurunan dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya, akan

    tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil dibandingkan dengan proses

    penyerapan (20).

  • II.4.2 Spektrofotometri Fourier Transform-Infra Red (FT-IR)

    Sinar infra merah mempunyai panjang gelombang lebih panjang

    dibandingkan dengan UV-Vis, sehingga energinya yang lebih rendah

    dengan bilangan gelombang 600-4000 cm-1 atau sekitar (1,7 x 10-3 cm

    sampai dengan 2, x 10-4 cm). Sinar infra merah hanya dapat

    menyebabkan vibrasi (getaran) pada ikatan baik berupa rentangan

    (streaching= str) maupun berupa bengkokan (bending=bend). Energi

    vibrasi untuk molekul adalah spesifik yang berarti bilangan gelombangnya

    spesifik. Namun pada prakteknya spektroskopi IR lebih diperuntukkan

    untuk menentukan adanya gugus-gugus fungsional utama dalam suatu

    sampel yang diperoleh berdasarkan bilangan gelombang yang dibutuhkan

    untuk vibrasi tersebut (21).

    Frekuensi dari ikatan dipengaruhi oleh atom-atom atau gugus-

    gugus sekelilingnya, namun demikian ikatan rangkap dua atau tiga lebih

    kuat daripada ikatan tunggal seperti C-H, N-H, O-H, C-C dan lain-lain

    timbul antara 3600-1500 cm-1, gugus karbonil memberikan vibrasi ukur

    antara 2000-1500 cm-1, hal ini tentunya juga bergantung pada

    sekelilignya. Daerah dibawah 1600 cm-1 adalah pita-pita ikatan tunggal

    dari C-C, C-N, C-O, C-Halogen dan lain-lain (22).

    Pengertian Overtone adalah frekuensi yang besarnya dua kali

    frekuensi vibrasi normal dan intensitas pitanya kecil contohnya overtone

    dari karbonil 1716 cm-1 absorbsi overtonenya 3430 cm-1, bisa saja

    tumpang tindih dengan absorbsi dari gugus hidroksi. Pengertian

  • “combination tone” adalah pita yang kecil kadang kadang timbul dengan

    besaran frekuensinya merupakan penjumlahan atau pengurangan dari

    dua atom lebih pita fundamental ( X+Y) atau (X-Y) cm-1 (22).

    Serapan pada sekitar 1200-500 cm-1 merupakan sidik jari dari

    molekul dan serapannya sangat kompleks biasanya digunakan untuk

    mengkonfirmasi apakah gugus fungsi utamanya ada. Misalnya bila

    molekul mempunyai gugus fungsional hidroksi (-OH) pada sekitar 3400

    cm-1 biasanya intensitasnya kuat dengan puncak melebar, dan akan

    diperkuat serapan C-O tunggal pada sekitar 1200 cm-1 yang tajam dan

    intensitasnya kuat (21).

    Menganalisis spektra IR dimulai dari kiri ke kanan atau dari

    bilangan gelombang yang lebih besar ke kecil. Serapan suatu gugus

    fungsional biasanya tidaklah eksak (tunggal), tapi dapat berupa interval

    bilangan gelombang (21).

    Berikut adalah beberapa serapan yang spesifik pada spektra IR

    berdasarkan gugus fungsional (21) :

    1. Aromatik

    Untuk aromatik akan muncul serapan dari ikatan rangkap C=C pada

    sekitar 1600 cm-1 dan dari =C-H (Sp2-s) pada sekitar 3000 cm-1

    2. Alkena dan Alkuna

    Alkena pada umumnya mirip dengan aromatik yaitu munculnya

    serapan C=C pada sekitar 1600 cm-1 dan serapan =C-H (Sp2-s).

  • Sedangkan serapan alkuna C=C pada sekitar 2200 cm-1 dan serapan

    =C-H (Sp2-s) pada sekitar 3300 cm-1

    3. Karbonil

    Ada beberapa senyawa karbonil (C=O) yang akan memunculkan

    interval bilangan gelombang antara 1820-1600 cm-1 sebagai berikut :

    a. Asam karboksilat akan memunculkan serapan OH pada

    bilangan gelombang 3500-3300 cm-1

    b. Amida akan muncul serapan N-H yang medium dan tajam pada

    sekitar 3500 cm-1

    c. Ester akan memunculkan serapan C-O tajam dan kuat pada

    1300-1000 cm-1

    d. Anhidrida akan memunculkan serapan C=O kembar 1810 cm-1

    dan 1700 cm-1 dan akan lebih spesifik bila menggunakan FT-IR

    e. Aldehida akan memunculkan C-H aldehida intensitas lemah tapi

    tajam pada 2850-2700 cm-1 baik yang simetri maupun anti

    simetri

    f. Keton bila semua yang diatas tidak muncul

    4. Alkohol dan Fenol

    Kedua golongan senyawa ini akan memunculkan serapan (O-H) pada

    sekitar 3500-3300 cm-1 dengan intensitas kuat dan melebar.

    5. Amina

    Akan muncul serapan N-H pada sekitar 3500 cm-1 dan biasanya

    dikonfirmasi dengan amida

  • Kelima golongan senyawa diatas merupakan gugus fungsional

    utama dan spesifik. Banyak gugus fungsi lain tapi kurang spesifik seperti

    eter C-O yang juga terdapat pada alkohol dan ester, alkana yaitu C-C

    tunggal dan –C-H ( Sp3-s) yang hampir dimiliki semua senyawa organik

    sehingga tidak akan memberikan informasi yang bermanfaat bila dianalisis

    dengan spektroskopi IR (21).

    Sistem fourier transform adalah salah satu bagian dari desain

    spektrofotometer tipe multipleks, subklas nondispersi. Peralatan analitik

    multipleks adalah alat saluran tunggal (single channel) dimana komponen

    sinyal diteliti secara stimultan. Untuk menentukan magnitude tiap

    komponen tersebut sinyal analisis harus disesuaikan hingga

    memungkinkan pengkodean sinyal untuk mengetahui komponennya.

    Kebanyakan alat multipleks bergantung pada fourier transform untuk

    mengkode sinyal dan biasanya disebut alat fourier transform (Fourier

    Transform Instrument) (23).

    II.4.3 Spektroskopi Proton-Nuclear Magnetic Resonance (1H-NMR)

    II.4.3.1 Asal-Usul Gejala Resonansi Magnetik Nuklir

    Inti-inti atom unsur-unsur dapat dikelompokkan sebagai mempunyai

    spin atau tidak mempunyai spin. Suatu inti berspin akan menimbulkan

    medan magnet kecil yang diperikan oleh suatu momen magnetik nuklir,

    suatu vektor. Dalam spektroskopi NMR, suatu medan magnet luar

    diciptakan oleh suatu medan magnet tapal kuda permanen atau suatu

    elektromagnet. Kuat medan magnet luar ini dilambangkan dengan H0, dan

  • arahnya dinyatakan oleh sebuah anak panah. Proton yang bergasing

    dengan momen magnetik nuklirnya, dalam banyak hal, mirip dengan suatu

    batang magnet kecil. Bila molekul yang mengandung atom-atom hidrogen

    ditaruh dalam medan magnetik luar, maka momen magnetik dari tiap inti

    hidrogen atau proton, mengambil salah satu dari dua sikap yaitu paralel

    atau anti paralel terhadap medan luar (24).

    Dalam keadaan paralel arah momen magnetik proton sama dengan

    arah medan luar. Dalam keadaan anti paralel momen magnetik proton

    berlawanan arah dengan medan luar. Keadaan paralel suatu proton lebih

    stabil (berenergi lebih rendah) dibandingkan dengan keadaan anti paralel.

    Bila dikenai gelombang radio yang frekuensinya cocok, momen magnetik

    dari sebagian kecil proton paralel akan menyerap energi dalam membalik

    atau jungkir balik (flip) menjadi keadaan antiparalel yang energinya lebih

    tinggi. Banyaknya energi yang diperlukan untuk membalik momen

    magnetik sebuah proton dari paralel ke antiparalel bergantung sebagian

    pada besarnya H0. Jika H0 dibesarkan maka inti itu lebih bertahan untuk

    dijungkirbalikkan dan diperlukan radiasi berfrekuensi lebih tinggi (24).

    Bila gabungan khusus antara kuat medan magnet luar dan radio

    frekuensi menyebabkan suatu proton berpindah dari keadaan paralel

    menjadi antiparalel maka diikatakan proton itu dalam resonansi. Istilah

    resonansi nuklir magnetik berarti “inti-inti dalam resonansi dalam medan

    magnet” (24).

  • II.4.3.2 Spektrum Resonansi Nuklir Magnetik

    Bila inti dengan spin diletakkan diantara kutub-kutub magnet yang

    sangat kuat maka inti akan menjajarkan medan magnetiknya sejajar atau

    melawan medan magnet. Dengan menerapkan energi dalam kisaran

    frekuensi radio, kita dapat mengeksitasi inti pada keadaan spin yang

    berenergi lebih rendah ke spin yang berenergi lebih tinggi. Membaliknya

    inti dari keadaan paralel ke antiparalel memberikan penyerapan energi

    yang akan dideteksi dengan suatu indikator daya (25).

    Dalam satu macam spektrometer, radio-frekuensinya dibuat tetap

    pada 60 MHz sedangkan H0 diubah-ubah dalam suatu range kecil dan

    frekuensi absorpsi energi direkam untuk pelbagai harga H0. Jadi, spektrum

    NMR adalah banyaknya energi yang diserap berbanding dengan kuat

    medan magnet. Dalam suatu spektrum NMR, posisi serapan sebuah

    proton bergantung pada kuat netto medan magnet lokal yang

    mengitarinya. Medan lokal ini merupakan hasil medan terapan H0 dan

    medan molekul terimbas yang mengitari proton itu dan berlawanan

    dengan medan magnet terapan. Jika medan imbasan proton itu relatif kuat

    maka medan itu melawan H0 dengan lebih kuat dan diperluas medan

    terapan yang lebih besar untuk membawa proton itu agar beresonansi.

    Dalam hal ini, proton dikatakan terperisai (shielded) dan absorpsinya

    terletak diatas medan dalam spektrum itu. Atau sebaliknya jika media

    imbasan disekitar proton itu relatif lemah, maka medan yang dipakai juga

  • lemah dan membawa proton ini ke dalam resonansi. Proton itu dikatakan

    tak terpersai (deshielded) dan absorpsinya muncul dibawah medan.

    Terperisai dan tak terperisai adalah istilah relatif. Untuk memperole

    pengukuran yang kuantitatif dieprlukan suatu titik rujukan. Senyawa yang

    dipilih untuk titik rujukan adalah tetrametilsilena (TMS), yang proton-

    protonnya menyerap pada ujung kanan dalam spektrum NMR.

    Absorpsinya kebanyakan proton lain dijumpai dibawah medan absorpsi

    TMS. Dalam praktek, TMS ditambahkan langsung pada contoh, dan peak

    TMS bersama dengan peak-peak absorpsi dari senyawa contoh diperoleh

    dalam spektrum. Selisih antar posisi absorpsi TMS dan posisi absorpsi

    suatu proton tertentu disebut geseran kimia (chemical shift) (24).

    II.4.3.3 Keekivalenan Proton

    Setiap proton atau kelompok proton pada molekul organik

    mempunyai lingkungan kimia yang spesifik sehingga harga δ juga akan

    spesifik. Kelompok proton adalah sejumlah proton yang mempunyai harga

    δ yang sama. Bila lingkungan kimianya makin elektropositif artinya makin

    terperisai maka harga δ akan menuju TMS, sedangkan bila lingkungannya

    makin elektronegatif maka proton makin tak terperisai maka harga δ akan

    makin jauh dari TMS. Dengan demikian bisa saja terjadi perbedaan harga

    δ untuk kelompok proton yang sama bila lingkungan kimianya

    berbeda (26).

  • II.4.3.4 Pola Pemisahan Proton (24)

    a. Singlet

    Sebuah proton yang tidak memiliki proton tetangga yang secara

    magnetik tak-ekuivalen dengannya, akan menunjukkan sebuah

    peak tunggal, yang disebut singlet dalam spektrum NMR.

    b. Doblet

    Sebuah proton yang memiliki satu proton tetangga yang tidak

    ekivalen dengannya akan memberikan suatu isyarat yang terbelah

    menjadi satu peak rangkap atau disebut doblet.

    c. Triplet

    Sebuah proton (Ha) yang memiliki dua proton tetangga yang saling

    ekivalen satu sama lain namun tidak ekivalen dengannya, maka

    isyarat NMR dari Ha adalah triplet. Jika kedua proton tersebut

    ditandai dengan Hb, ekuivalen, maka keduanya memberikan satu

    sinyal terpisah oleh Ha menjadi suatu doblet.

    d. Kuartet

    Suatu senyawa yang mengandung gugus metil dan satu proton (Ha)

    pada karbon didekat gugus metil. Proton ini tak-ekuivalen dengan

    proton-proton metil. Ketiga proton metil (Hb) yang ekuivalen

    mempunyai satu proton tetangga dan muncul sebagai sebuah

    doblet dalam spektrum. Isyarat yang ditimbulkan oleh Ha muncul

    sebagai suatu kuartet karena Ha memiliki tiga proton tetangga.

  • II.4.3.5 Instrumentasi Spektroskopi Proton-Nuclear Resonance

    (1H-NMR) (26)

    Tabung kaca berbentuk silindris berisis sampel yang dilarutkan

    dalam pelarut tanpa proton ditambah dengan TMS sebagai standar

    internal. Tabung sampel ditempatkan diantara dua kutub magnet

    kemudian diputar agar semua bagian sampel dipengaruhi oleh medan

    magnet (homogen). Pada celah magnet terdapat kumparan dengan

    generator frekuensi, 60 MHz dengan H0 yaitu 14.100 Gauss atau alat

    terbaru 100 MHz dengan H0 yaitu 51.480 Gauss. Kumparan ini akan

    memberikan tenaga elektromagnetik yang digunakan untuk merubah

    orientasi spin. Bila sampel menyerap radiasi maka putaran akan

    menghasilkan sinyal frekuensi radio pada bidang kumparan detektor dan

    akan memberikan respon dan mencatatnya sebagai sinyal resonansi

    magnet inti berupa puncak.

    II.4.4 Electrospray Ionization Spectroscopy (ESI-MS) (27)

    Sampel dimasukkan, diuapkan dan terumpan dalam suatu aliran

    sinambung kedalam kamar pengionan. Kamar pengionan sebagai ditaruh

    dalam vakun untuk meminimalkan tabrakan dan reaksi antara radikal,

    molekul udara, dan lain-lain. Dalam kamar ini, contoh melewati suatu

    aliran elektron berenergi tinggi, yang menyebabkan ionisasi beberapa

    molekul sampel menjadi ion-ion molekul.

  • Setelah terbentuk, sebuah ion molekul dapat mengalami fragmentasi

    dan penataan ulang. Proses-proses ini berjalan sangat cepat

    (10-10 – 10-6 det). Partikel yang berumur lebih panjang dapat dideteksi oleh

    pengumpul ion, sedangkan yang berumur lebih pendek mungkin tak

    sempat mencapai pengumpul ion. Dalam beberapa hal, ion molekul terlalu

    pendek usianya sehingga tak dapat dideteksi, dan hanya produk-produk

    berfragmentasinya yang menunjukkan peak.

    Segera radikal-radikal dan partikel-partikel lain itu terbentuk, mereka

    diumpamakan meleati dua elektroda, lempeng pempercepat ion, yang

    mempercepat partikel bermuatan positif. (Partikel yang bermuatan negatif

    dan netral tak dipercepat dan terus-menerus dibuang oleh pompa vakum).

    Dari lempeng pempercepat, partikel beruatan positif menuju ke tabung

    analisator, dimana partikel-partikel ini dibelokkan oleh medan magnet

    sehingga lintasannya melengkung.

    Jari-jari lintasan melengkung bergantung pada kecepatan partikel

    dan kuat medan magnet yang selanjutnya ditentukan voltase pempercepat

    dan m/e partikel. Pada kuat medan dan voltase yang sama, partikel

    dengan m/e tinggi akan memiliki jari-jari yang lebih besar, sedangkan yang

    m/e-nya rendah akan mempunyai jari-jari rendah pula. Oleh karena itu,

    aliran terus-menerus partikel bermuatan positif lewat tabung analisator

    membentuk suatu pola; partikel dengan m/e tinggi memiliki jari-jari besar,

    partikel dengan m/e rendah memiliki jari-jari kecil. Jika voltase

    pempercepat dikurangi perlahan-lahan dan secara sinambung, kecepatan

  • semua partikel akan berkurang, dan jari-jari lintasan semua partikel juga

    berkurang. Dengan teknik ini, partikel berturut-turut mengenai detektor

    dimulai dengan m/e rendah. Efek yang sama dapat diperoleh dengan

    menaikkan kuat medan magnet, sebagai ganti menurunkan voltase

    pempercepat.

  • BAB III

    METODE PENELITIAN

    III.1. Alat dan Bahan

    Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas,

    chamber, eksikator, electrospray ionization - mass spectroscopy (ESI-MS),

    kamera digital, kolom, lampu UV 254 dan 366 nm, lemari asam, magnetik

    stirer, mikropipet (Socorex®), neraca analitik (Sartorius®), oven, pipet

    volume, spektrofotometer UV-VIS (Agilent®), spektrofotometer Fourier

    Transform – Infra Red (FT-IR) (Bruker® Alpha), spektroskopi Nuclear

    Magnetic Resonance (NMR) (JEOL Oxford® α-500), termometer.

    Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air suling,

    alkohol 96% p.a, asam asetat glasial p.a, etil asetat p.a, glass wool,

    kuersetin murni, larutan bromin, lempeng silica gel GF 254, metanol p.a,

    n-heksan p.a, silika gel G 60.

    III.2. Cara Kerja

    III.2.1 Sintesis senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Sebanyak 1 g kuersetin dilarutkan dengan 100 ml asam asetat

    glasial di dalam stop erlenmeyer, lalu ditempatkan diatas magnetik stirer di

    dalam lemari asam dan dipanaskan sampai mencapai suhu 35°-40°C.

    Kemudian ditambahkan tetes per tetes 400 µl bromin secara perlahan-

    lahan. Setelah satu jam pengadukan yang kuat, akan dihasilkan endapan

    berwarna kuning-kehijauan, lalu disaring untuk memisahkan endapan

  • dengan filtrat kemudian endapan dicuci dengan air suling dan dikeringkan

    di dalam oven (8).

    III.2.2 Analisis Kemurnian senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    III.2.2.1 Kromatografi lapis tipis

    Sampel hasil sintesis yang telah dikeringkan kemudian di analisis

    secara kualitatif dengan menggunakan teknik kromatografi lapis tipis.

    Sampel dan pembanding (kuersetin murni) dilarutkan dengan

    menggunakan alkohol 96% p.a, kemudian ditotol pada lempeng silika gel

    GF 254 dan dielusi dengan menggunakan perbandingan eluen n-Heksan

    p.a : Etil asetat p.a (2 : 5).

    Identifikasi terhadap penampakan noda dilakukan dengan

    menggunakan lampu UV 254 nm dan 366 nm kemudian nilai Rf noda

    pada sampel dibandingkan dengan nilai Rf noda pada pembanding. Jika

    terdapat noda lebih dari satu pada lempeng KLT berarti sampel masih

    belum murni.

    III.2.2.2 Kromatografi Kolom (9)

    Sampel yang belum murni (ditentukan dari profil KLT) dapat

    dipisahkan dengan menggunakan teknik kromatografi kolom.

    a. Penyiapan Kolom

    Kolom dengan diameter 5 cm dengan panjang 60 cm, kolom dicuci

    dan dikeringkan kemudian dipasang pada statif secara tegak lurus.

    Pada dasar kolom dimasukkan kapas dan glass wool yang berfungsi

    sebagai penahan adsorben.

  • b. Cairan Pengelusi

    Cairan pengelusi yang digunakan adalah n-heksan : etil asetat (2:5).

    c. Adsorben

    Adsorben yang digunakan adalah silika gel G 60 yang dilarutkan di

    dalam wadah gelas piala dengan cairan pengelusi hingga

    membentuk bubur silika.

    d. Pemisahan komponen

    Adsorben yang telah disiapkan dituang sedikit demi sedikit kedalam

    Kolom dan dimampatkan untuk memperoleh kerapatan adsorben

    yang baik. Kran kolom diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh

    keseimbangan antara kecepatan mengalir cairan pengelusi dengan

    daya serap adsorben. Lalu ditambahkan glass wool pada lapisan

    atas adsorben sebagai pembatas antara sampel dan adsorsen.

    Selanjutnya sampel dilarutkan dengan cairan pengelusi kemudian

    dipipet sedikit demi sedikit dan dimasukkan ke dalam kolom melalui

    dinding kolom. Tetesan yang keluar ditampung dalam vial 5 ml. Noda

    yang ditampung kemudian diidentifikasi dengan kromatografi lapis

    tipis. Noda yang menunjukkan senyawa campuran disatukan untuk

    kemudian dipisahkan kembali sehingga menunjukkan satu noda

    tunggal (senyawa murni).

  • III.2.3. Karakterisasi Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    III.2.3.1 Spektrofotometri UV-VIS

    a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Kuersetin Secara

    Spektrofotometri UV-VIS

    Kuersetin murni (10 mg), dilarutkan dan dicukupkan volumenya

    dengan metanol hingga 10 ml di dalam labu tentukur sehingga

    diperoleh larutan stok dengan konsentrasi 1000 bpj. Larutan stok

    dipipet sebanyak 500 µl kemudian dimasukkan kedalam labu

    tentukur kemudian dicukupkan volumenya hingga 10 ml

    menggunakan metanol sehingga akan diperoleh larutan dengan

    konsentrasi 50 bpj. Pengerjaan dilakukan di tempat gelap. Larutan

    lalu diukur panjang gelombang maksimal dan serapannya.

    b. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Senyawa 6,8-

    Dibromo Kuersetin Secara Spektrofotometri UV-VIS

    Senyawa sintetik murni (10 mg) dilarutkan dan dicukupkan

    volumenya dengan metanol hingga 10 ml di dalam labu tentukur

    sehingga diperoleh larutan stok dengan konsentrasi 1000 bpj.

    Larutan stok dipipet sebanyak 1 ml kemudian dimasukkan kedalam

    labu tentukur kemudian dicukupkan volumenya hingga 10 ml dengan

    menggunakan metanol sehingga akan diperoleh larutan dengan

    konsentrasi 100 bpj. Pengerjaan dilakukan di tempat gelap. Larutan

    lalu diukur panjang gelombang maksimal dan serapannya.

  • III.2.3.2 Spektrofotometri Fourier Transform-Infra Red (FT-IR)

    a. Penentuan Gugus Fungsi Senyawa Kuersetin secara

    Spektrofotometri FT-IR

    Kuersetin (2 mg) diletakkan di atas plat optik untuk wadah cuplikan,

    lalu diidentifikasi gugus fungsinya bedasarkan data spektrum yang

    direkam oleh alat detektor spektrofotometer FT-IR.

    b. Penentuan Gugus Fungsi Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    secara Spektrofotometri FT-IR

    Senyawa sintetik murni (2 mg) diletakkan di atas plat optik untuk

    wadah cuplikan, lalu diidentifikasi gugus fungsinya bedasarkan data

    spektrum yang direkam oleh alat detektor spektrofotometer FT-IR.

    III.2.3.3 Spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance (NMR)

    a. Penentuan Jumlah Atom H pada Kuersetin secara Spektroskopi

    Proton-Nuclear Magnetic Resonance (1H-NMR)

    Kuersetin (2 mg) dilarutkan dengan pelarut khusus NMR (CD3OD) di

    dalam tube NMR dan dicukupkan volumenya hingga 4 cm dari

    panjang tube lalu ditempatkan dalam alat spektroskopi NMR

    (JEOL Oxford® α-500) untuk pengukuran jumlah atom Hidrogen.

    Selanjutnya data spektrum akan direkam oleh alat detektor NMR.

    b. Penentuan Jumlah Atom H pada 6,8-Dibromo Kuersetin secara

    Spektroskopi Proton-Nuclear Magnetic Resonance (1H-NMR)

    Senyawa sintetik murni (2 mg) dilarutkan dengan pelarut khusus

    NMR (CD3OD) di dalam tube NMR dan dicukupkan volumenya

  • hingga 4 cm dari panjang tube lalu ditempatkan dalam alat

    spektroskopi NMR (JEOL Oxford® α-500,) untuk pengukuran jumlah

    atom Hidrogen. Selanjutnya data spektrum akan direkam oleh alat

    detektor NMR.

    III.2.3.4 Electrospray Ionization Mass Spectroscopy (ESI-MS)

    Senyawa sintetik murni (5 mg) dilarutkan dengan metanol kemudian

    dicampur dengan senyawa matriks lalu diinjeksikan ke dalam wadah

    cuplikan berupa kolom menuju ruang pengion, kemudian ion-ion yang

    dihasilkan akan flight menuju tabung analyzer mass dan ditentukan

    massanya berdasarkan Time Of Flight ion-ion tersebut. Data spektrum

    massa akan direkam pada alat detektor ESI-MS. (10)

  • IV.1 Hasil Penelitian

    IV.1.1 Tabel Skema Reaksi

    Tabel 1. Skema Reaksi Sintesis Senyawa

    Kuersetin

    IV.1.2 Perbedaan Sifat Fisik antara

    Sintesis

    Tabel 2. Pemerian Senyawa Kuersetin dan 6,8

    Sifat Fisik

    Pemerian

    Kelarutan

    Bau

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Hasil Penelitian

    IV.1.1 Tabel Skema Reaksi

    Tabel 1. Skema Reaksi Sintesis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    6,8-Dibromo Kuersetin

    Br2 CH3CO2H, 40ᵒC 1h

    .2 Perbedaan Sifat Fisik antara Parentdrug dengan Senyawa

    Pemerian Senyawa Kuersetin dan 6,8-Dibromo Kuersetin

    Kuersetin 6,8-Dibromo Kuersetin

    Serbuk ringan dan halus

    berwarna kuning pucat

    Serbuk halus berwarna

    kuning kehijauan

    Mudah Larut dalam

    metanol dan etanol

    Larut dalam

    etanol

    Tidak berbau Tidak berbau

    Dibromo Kuersetin

    Dibromo Kuersetin

    dengan Senyawa

    Dibromo Kuersetin

    Dibromo Kuersetin

    Serbuk halus berwarna

    kuning kehijauan

    Larut dalam metanol dan

    Tidak berbau

  • IV.1.3 Rendemen Senyawa 6,8

    Tabel 3. Rendemen Senyawa 6,8

    IV.1.4 Perbedaan Hasil Karakterisasi antara

    Senyawa Sintesis

    Tabel 4. Hasil KLT dan Spektrofotometri 6,8-Dibromo KuersetinKarakterisasi

    KLT

    Nilai Rf : 0,72Eluen (Heksan : EtoAc = 2 : 5)Penampakan noda : UV254 : spot noda kuningUV366 : Tidak berfloresensi

    UV-Vis 374,5 nm305 nm256,5 nm

    Tabel 5. Hasil Pengukuran Spektrofotometri IR senyawa Kuersetin

    Bobot kuersetin (starting material)

    1,507 g

    Bilangan gelombang (cm

    3379 2921, 2850

    1608,1561, 1521,14551263,1200, 1167

    1664

    IV.1.3 Rendemen Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    men Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Perbedaan Hasil Karakterisasi antara Parentdrug

    Senyawa Sintesis

    Hasil KLT dan Spektrofotometri UV-Vis Senyawa Kuersetin dan Dibromo Kuersetin

    Kuersetin 6,8

    Nilai Rf : 0,72 Eluen (Heksan : EtoAc = 2 : 5) Penampakan noda : UV254 : spot noda kuning UV366 : Tidak berfloresensi

    Nilai Rf : 0,33Eluen (Heksan : EtoAc = 2 : 5)Penampakan noda :UV254 : spot noda kuning tuaUV366 : Tidak

    max Abs. max374,5 nm 305 nm 256,5 nm

    0,280 nm 0,097 nm 0,266 nm

    394nm 330,5 nm285 nm

    Tabel 5. Hasil Pengukuran Spektrofotometri IR senyawa Kuersetin

    Bobot teori 6,8-Dibromo Kuersetin

    Bobot praktek 6,8-Dibromo Kuersetin

    2,291 g 0,744 g

    Bilangan gelombang (cm-1) Intensitas Kemungkinan gugus

    fungsi

    Sedang O1, 2850 Lemah C-H Aromatik

    1608,1561, 1521,1455 sedang C1263,1200, 1167 Kuat C

    Lemah C=C

    Parentdrug dengan

    Vis Senyawa Kuersetin dan

    6,8-Dibromo Kuersetin

    Nilai Rf : 0,33 Eluen (Heksan : EtoAc = 2 : 5) Penampakan noda : UV254 : spot noda kuning tua UV366 : Tidak berfloresensi

    max Abs.

    330,5 nm

    0,231 nm 0,143 nm 0,227 nm

    Tabel 5. Hasil Pengukuran Spektrofotometri IR senyawa Kuersetin

    Rendemen (%)

    32,47 %

    Kemungkinan gugus fungsi

    O-H Aromatik C-C C-O C=C

  • Tabel 6. Hasil Pengukuran Spektrofotometri IR senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Tabel 7. Hasil Pengukuran Spektroskopi 1H-NMR dan ESI-MS Senyawa

    Kuersetin dan 6,8-Dibromo Kuersetin

    Bilangan gelombang (cm-1)

    Intensitas Kemungkinan gugus fungsi

    3294 Sedang O-H 2923, 2854 Kuat C-H Aromatik 1588,1449 sedang C-C

    1309,1256,1181, 1115 Kuat C-O 1641 Lemah C=C 644 Sedang C-Br

    Karakterisasi Kuersetin 6,8-Dibromo Kuersetin

    1H-NMR

    Nilai δ : 6,18 ppm (singlet) (C6) 6,38 ppm (singlet) (C8) 6,88 ppm (doublet) (C5’) 7,62 ppm (doublet) (C6’) 7,72 ppm (singlet) (C2’)

    Nilai δ : 6,9 ppm (doublet) (C5’) 7,8 ppm (doublet) (C6’) 7,9 ppm (singlet) (C2’)

    ESI-MS [M+ ] = 302,236 g/mol [M+1] = 458,834 g/mol

  • IV.2. PEMBAHASAN

    IV.2.1 Sintesis dan purifikasi senyawa 6,8−dibromo kuersetin

    Senyawa 6,8−dibromo kuersetin disintesis melalui brominasi satu

    tahap 1,507 g senyawa kuersetin dalam 150 ml asam asetat glasial pada

    suhu 40°C dengan pengadukan kuat selama satu jam (gambar 1).

    Keadaan ini menyebabkan atom brom akan mensubtitusi atom H pada

    posisi C6 dan C8 pada cincin A kuersetin dikarenakan adanya gugus

    hidroksil yang melekat pada atom C5 dan C7 pada cincin A yang

    merupakan pengarah orto-para yang berfungsi mengemban muatan positif

    saat terjadi reaksi adisi elektrofilik pada cincin A (24). Hasil yang

    didapatkan berupa endapan berwarna kuning tua, selanjutnya pelarut

    diuapkan hingga didapatkan serbuk yang berwarna kuning kehijauan.

    Deteksi awal produk hasil sintesis dapat diketahui dari hasil analisis

    kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan silika gel GF 60 sebagai fase

    diam dan campuran heksan dan etil asetat (2:5) sebagai cairan pengelusi

    dan penampak noda UV 254 nm. (gambar 2)

    Purifikasi dilakukan untuk menghilangkan sisa senyawa induk

    (kuersetin) sehingga didapatkan produk berupa senyawa tunggal yang

    merupakan 6,8-dibromo kuersetin menggunakan metode kromatografi

    kolom dengan silika gel sebagai fase diam dan campuran antara heksan

    dengan etil asetat (2:5) sebagai cairan pengelusi. Senyawa 6,8-dibromo

    kuersetin yang diperoleh adalah 0,744 g dengan persen rendemen

    32,47% (tabel 3). Beberapa faktor yang menyebabkan hasil rendemen

  • yang diperoleh tidak maksimal yaitu suhu pada saat melakukan sintesis

    tidak stabil dikarenakan oleh keterbatasan instrumen yang dimiliki.

    Selanjutnya, senyawa tersebut dikarakterisasi.

    IV.2.2 Karakterisasi senyawa 6,8-dibromo kuersetin

    Karakterisasi senyawa hasil sintesis sangat dibutuhkan untuk

    mengevaluasi apakah senyawa yang hasil sintesis tersebut benar atau

    tidak. Untuk melakukan hal tersebut digunakan beberapa instrumen

    analisis seperti spektrofotometer UV-Vis, spektrofotometer Fourier

    Transform – Infra Red (FT-IR), Electro-Spray Ionization Mass

    Spectroscopy (ESI-MS) dan spektroskopi proton resonansi nuklir magnetik

    (1H-NMR).

    Analisis UV-Vis digunakan untuk mengetahui karakter suatu

    senyawa terhadap sinar UV maupun sinar tampak (Visible) yang dapat

    dilihat pada gambar 3 dan 4.

    Spektra UV-Vis yang diukur pada panjang gelombang (λ) 200−800

    nm. Hal yang paling mendasar dari analisis ini adalah perbedaan pada

    panjang gelombang maksimum. Kuersetin memiliki panjang gelombang

    maksimum 374,5 nm sedangkan 6,8-dibromo kuersetin memiliki panjang

    gelombang maksimum 394 nm, menunjukkan bahwa terjadi pergeseran

    batokromik dari senyawa 6,8-dibromo kuersetin dibandingkan dengan

    senyawa induknya. Hal ini dikarenakan subtitusi brom pada cincin C6 dan

    C8 pada cincin A kuersetin dimana brom merupakan senyawa halogen

    yang memiliki elektron menyendiri (n) yang memiliki energi lebih tinggi

  • daripada elektron σ dan elektron π, sehingga energi yang diperlukan

    untuk mempromosikan suatu elektron n lebih rendah (panjang gelombang

    lebih panjang) (27).

    Analisis menggunakan FT-IR menunjukan adanya perbedaan

    spektra IR dari senyawa kuersetin (gambar 5) dan senyawa 6,8-dibromo

    kuersetin (gambar 6), dimana pada gambar 5 terlihat pada bilangan

    gelombang 637 cm-1 terdapat peak dengan intensitas lemah sedangkan

    pada gambar 6 pada bilangan gelombang 644 cm-1 terdapat peak dengan

    instensitas kuat, menunjukkan bahwa adanya subtitusi atom brom pada

    atom C6 dan C8. Brom yang tersubtitusi kedalam C6 dan C8 bersifat

    elektronegatif menyebabkan uluran yang sangat berpengaruh dalam

    momen ikatan (24) yang terlihat jelas pada ikatan C-H aromatik (bukan C-

    H alifatik karena pada senyawa kuersetin semua hidrogen berada pada

    percabangan cincin aromatik) pada bilangan gelombang 2900-2800 cm-1

    (28), dimana peak tajam dengan intensitas lemah (gambar 5) sedangkan

    peak tajam dengan intensitas kuat (gambar 6).

    Spektra 1H-NMR dan ESI-MS menunjukan kepastian produk hasil

    sintesis berupa senyawa 6,8-dibromo kuersetin. Data spektra ESI-MS

    menunjukan bahwa senyawa tersebut benar 6,8-dibromo kuersetin

    dengan nilai m/e = 457,8 g/mol (spektra [M+1] = 458,8 g/mol) (gambar 9)

    dan rumus molekul C15H8O7Br2.

    Data penting yang menunjukan adanya subtitusi 2 atom H pada

    cincin pada posisi C no 6 dan 8 terlihat pada spektra 1H-NMR yakni peak

  • 2 atom H pada posisi δ 6,18 ppm dan δ 6,38 ppm pada senyawa kuersetin

    (gambar 7) tidak terlihat pada senyawa 6,8-dibromo kuersetin (gambar 8).

    Hal tersebut memberikan bukti bahwa telah terjadi reaksi subtitusi 2 atom

    H dengan 2 atom Br pada posisi tersebut seperti pada gambar 1.

  • BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    V.1 Kesimpulan

    Telah diperoleh senyawa sintetik turunan kuersetin melalui

    brominasi pada atom C no 6 dan no 8. Karakterisasi dan elusidasi struktur

    yang dilakukan terhadap senyawa tersebut dengan beberapa metode

    spektroskopi (UV-VIS, FT-IR, 1H-NMR, dan ESI-MS) menyatakan bahwa

    benar senyawa tersebut adalah 6,8-dibromo kuersetin dengan persen

    rendemen sebesar 32,47%.

    V. 2 Saran

    Dilakukan eksperimen menggunakan 6,8-dibromo kuersetin hasil

    sintesis secara in vitro terhadap α−glukosidase secara langsung guna

    membuktikan hasil prediksi berdasarkan hasil simulasi docking yang telah

    diteliti sebelumnya.

  • DAFTAR PUSTAKA

    1. Matsjeh, S., 2004, Sintesis Flavonoid : Potensi Metabolit Sekunder Aromatik dari Sumber Daya Alam Nabati Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hal. 2-5.

    2. Sukarianingsih, D., 2006, Sintesis dan Penentuan Struktur Kuersetin Benzoat, Universitas Negeri Malang, Malang, Hal.1-2.

    3. Waji, R., Andis Sugrani, 2009, Makalah Kimia Organik Bahan Alam

    Flavonoid, Universtas Hasanuddin, Makassar, Hal. 4-5.

    4. Ye XP, Song CQ, Yuan P, Mao RG. α-Glucosidase and α-Amylase Inhibitory Activity of Common Constituents from Traditional Chinese Medicine Used for Diabetes Mellitus. Chinese Journal of Natural Medicines. 2010. Vol. 8(5). Page. 0349-0352.

    5. Chisholms-Burns MA, Wells BG, Schwinghammer TL, Malone PM, Kolesar JM, Rotschafer JC, dkk. Pharmacotherapy : Principles & Practices. The McGraw-Hill Company,Inc. USA. Page.643-644,657.

    6. Copeland RA. Evaluation of Enzyme Inhibitors in Drug Discovery: A

    Guide for Medicinal Chemist and Pharmacologist. John Wiley & Sons, Inc. New Jersey. 2005. Page. 1.

    7. Aswad, M., Tjang Ricky Tjandra, Gemini Alam, 2012, Molecular Docking Study of α−Glucosidase with Quercetin Derivatives, 2nd International Conference for Science and Technology, Nigde, Turkey, 2012 (proceeding).

    8. Nagimova, A. D., Zhusupova, G. E., and Erzhahaniva, M. E., Synthesis of Biologically Active Bromine Derivatives of Quercetine, Chemistry of Natural Compounds, 1996, 32 (5), Page. 695 – 697.

    9. Hasmiah, 1995, Isolasi dan Identifikasi Komponen Kimia Fraksi

    Terlarut dalam Ekstrak n-Butanol Daun Saga (Abrus precatorius L.) Asal Kabupaten Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan.

    10. Staal, B., Characterization of (co)polymers by MALDI-TOF-MS, Technische Universiteit Eindhoven, 2005, Page. 15-21.

    11. Andika, S., Penentuan Kadar Fe(III) dan Cr(VI) secara Simultan dengan Menggunakan Metode Kalibrasi Multivariat, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2011, Hal. 2-3.

  • 12. Gusnidar, T., Rina Herowati, R.E Kartasasmita dan I Ketut

    Adnyana, Sintesis Kuersetin Terklorinasi dan Aktivitas Perlindungan Terhadap Tukak Lambung, Sekolah Farmasi ITB, Bandung, 2009, Hal. 2.

    13. Pranomo, H.D., Peran Kimia Komputasi dalam desain Molekul Obat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2009, Hal. 7-10.

    14. Radji, M., Pendekatan Farmakogenomik dalam Pengembangan Obat Baru, Majalah Ilmu Kefarmasian, 2005, Vol II, Hal 1-11.

    15. Gritter RJ, Bobbitt J dan Schwarting AE, Pengantar Kromatografi. Penerjemah: Padmawinata K. Ed 2, Penerbit ITB, Bandung,1991, Hal.146.

    16. Harborne J.B, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan Edisi II, Penerbit ITB, Bandung, 198, Hal. 123.

    17. Yazid, E., Kimia Fisika untuk Paramedis, Yogyakarta, 2005, Hal

    200-201

    18. Basset J., Denney R.C., Jeffery G.H., Mendham J, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik, EGC, Jakarta, 1994, Hal.3, 809-810, 818 .

    19. Underwood, AL., Analisa Kimia Kuantitatif, Ed.IV, Erlangga, Jakarta, Hal. 383.

    20. Kar, A. Pharmaceutical Drug Analysis 2nd Ed. : Methodology,

    Theory, Instrumentation, Pharmaceutical Assays, Cognate Assays. New Delhi : New Age International Publisher. 2005

    21. Elusidasi Struktur Molekul Organik, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009,

    Hal. 7-8, 15-16, 29, 35-36.

    22. Soleh kosela, Cara Mudah dan sederhana Penentuan Struktur Molekul Berdasarkan spektra Data ( NMR, MASS, IR,UV),Lembaga Penerbit Fakultas ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2010, Hal. 180.

    23. Sastrohamidjojo H, Spektroskopi Inframerah, Penerbit Liberty,

    Yogyakarta, 1992.

  • 24. Fessenden, R.J. and Joan S. Fessenden, Kimia Organik Jilid 1, Edisi III, Penerbit Erlangga, Jakarta Pusat, 1986, Hal. 327-331, 342-348, 479.

    25. Hart, H., Leslie E. Craine, and David J. Hart, Kimia Organik, Edisi XI, Penerbit Erlangga, Jakarta Pusat, 2003, Hal. 377-378.

    26. Sitorus, M., Spektroskopi Elusidasi Struktur Molekul Organik, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009, Hal. 59,65.

    27. Fessenden, R.J. and Joan S. Fessenden, Kimia Organik Jilid 2,

    Edisi II, Penerbit Erlangga, Jakarta Pusat, 1984, Hal. 463, 478-479.

    28. Meena, M. Chand and Vidya Patni, Isolation and Identificationof Flavonoid “Quercetin” from Citrullus colocynthis (Linn.) Schard.,University of Rajashtan, India, Page. 140.

  • -1g kuersetin dilarutkan dengan 100 ml asam asetat glasial -ditetesi 0,4 ml bromin perlahan-lahan pada suhu 35-40ᵒ,

    -dibiarkan satu jam dengan pengadukan kuat (suhukonstan) menggunakan magnetik stirer

    -endapan terbentuk disaring, dicuci, dan dikeringkan

    LAMPIRAN I

    SKEMA KERJA

    Pengumpulan Data

    Pembahasan

    Kesimpulan

    Karakterisasi senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Spektrofotometri UV-VIS

    Spektrofotometri FT-IR

    Spektroskopi 1H-NMR

    ESI-MS

    KLT fraksi

    Senyawa campuran Senyawa tunggal

    Kuersetin

    6,8-Dibromo Kuersertin belum murni

    Analisis Kemurnian

    KLT

    Kromatografi Kolom

  • LAMPIRAN II

    PERHITUNGAN RENDEMEN SENYAWA 6,8-DIBROMO KUERSETIN

    Bobot Kuersetin (starting material) = 1,507 g

    Massa Molekul Relatif (Mr) Kuersetin = 302,236 g/mol

    Mol Kuersetin = ������������

    �������

    = �,����

    ���,����/���

    = 0,00498 mol

    Satu mol kuersetin setara dengan satu mol 6,8-dibromo kuersetin

    Massa Molekul Relatif (Mr) 6,8-Dibromo Kuersetin = 460,04 g/mol

    Bobot teori 6,8-dibromo kuersetin = Mr 6,8-dibromo kuersetin x

    mol kuersetin

    = 460,04 g/mol x 0,00498 mol

    = 2,291 g

    Bobot praktek 6,8-dibromo kuersetin = 0,744 g

    Rendemen (%) 6,8-dibromo kuersetin = �����������

    ��������� x 100%

    = �,����

    �,���� x 100 %

    = 32,47 %

  • O

    OOH

    HO

    MW = 304.25

    Kuersetin

    Gambar 1. Reaksi Sintesis Senyawa 6,8

    Gambar 2.Kromatogram

    MW = 302,236

    LAMPIRAN III

    GAMBAR HASIL PENELITIAN

    OH

    OH

    OH

    O

    OOH

    HO

    Br

    Br

    Br2

    CH3CO2H

    40oC 1 h

    MW = 462.04

    6,8-dibromo kuers

    Gambar 1. Reaksi Sintesis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Gambar 2.Kromatogram Senyawa Hasil Sintesis

    MW = 302,236 MW = 460,04

    SM Rx

    OH

    OH

    OH

    setin

    Dibromo Kuersetin

    intesis

    460,04

  • Gambar 3.Kromatogram

    Gambar

    Gambar 3.Kromatogram Senyawa Sintetik Murni

    Gambar 4. Spektra UV-Vis Senyawa Kuersetin

    Sintetik Murni

    Vis Senyawa Kuersetin

  • Gambar 5. Spektra UV-Vis Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Gambar 6. Spektra IR Senyawa Kuersetin

  • Gambar 7. Spektra IR Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Gambar 8. Spektra 1H-NMR Senyawa Kuersetin

  • Gambar 9. Spektra 1H-NMR Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    Gambar 10. Spektra ESI-MS Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

    [M+1] = 458,034 g/mol

  • LAMPIRAN IV GAMBAR SENYAWA KUERSETIN DAN 6,8-DIBROMO KUERSETIN

    Gambar 11. Senyawa Kuersetin

    Gambar 12. Senyawa 6,8-Dibromo Kuersetin

  • LAMPIRAN V GAMBAR INSTRUMEN

    Gambar 13. Instrumen Kromatografi Kolom

    Gambar 14. Instrumen Spektrofotometer FT-IR

  • Gambar 15. Instrumen Spektrofotometer UV-VIS

    Gambar 16. Instrumen Spektroskopi 1H-NMR

  • Gambar 17. Instrumen Spektroskopi ESI-MS