SIKAP GENERASI MUDA TERHADAP BAHASA BALI DI DESTINASI ...

  • Published on
    31-Dec-2016

  • View
    213

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

  • 159

    SIKAP GENERASI MUDA TERHADAP BAHASA BALIDI DESTINASI WISATA INTERNASIONAL BALI

    Ni Luh Nyoman Seri Malini, Ida Bagus Putra Yadnya, Ni Luh Putu Laksminy,dan I Gst Ngurah Kt Sulibra

    Universitas Udayana

    Abstract:This writing aims at investigating language attitude of Balinese young generationtoward Balinesse, their mother tongue in tourist destination. Qualitative approach isapplied in this research. The data were in the form of spoken data, written data, andresearchers language instuition. Through participative observation the data were collectedfrom young generation at tourist destination such as Kuta, Sanur and Ubud by usingquestionnaire and observation sheet. The respondents were given 10 items of questionsrelated to cognitive, affective, and behavioral (connative) aspects. Data collected werethen analyzed by the theory of language attitude. The study reveals that there are positiveattitudes towards Balinese language by young generation in international touristdestination in Bali.

    Key words : young generation, tourist destination, positive attitude.

    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengalisis sikap bahasa generasi muda Baliterhadap Bahasa Bali sebagai bahasa ibu di daerah destinasi wisata. Pendekatan yang di-gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian ini adalah data.lisan dan data tulis mengenai sikap bahasa bahasa generasi muda Bali terhadap ba-hasaBali. Dengan metode observasi partisipasi data di kumpulkan dari generasi muda di daerahwisata Kuta, Sanur dan Ubud dengan menggunakan kuesioner dan lembar pe-ngamatan.Responden diberikan 10 pertanyaan terkait dengan aspek kognitif, afektif dankonatif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teori sikap bahasa. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa generasi muda Bali di daerah destinasi wisata memilikisikap positif terhadap bahasa Bali.

    Kata-kata kunci: generasi muda, daerah wisata, sikap positif.

    Situasi kebahasaan pada komunitas tuturyang dwibahasawan atau multibahasawanmenimbulkan kemungkinan pilihan baha-sa bagi masing-masing komunitas tutur.Sebagai konsekuensi pilihan bahasa terse-but adalah pola penggunaan bahasa. Polapenggunaan bahasa yang mantap menye-babkan adanya kebertahanan bahasa (lan-guage maintenance), sedangkan pola yanggoyah menyebabkan pergeseran bahasa(language shift). Pembahasan tentang pe-mertahanan bahasa tidak bisa berdiri sen-

    diri karena aspek ini berada dalam ruanglingkup kedwibahasaan, sikap bahasa, per-geseran bahasa, pilihan bahasa, dan peru-bahan bahasa. Salah satu isu yaitu me-ngenai sikap bahasa di bahas dalam tuli-sanini.

    Suhardi (1996:14) menjelaskan bahwasikap sebagai kesiagaan saraf dan mental,yang tersusun melalui pengalaman, yangmemberikan arah atau pengaruh dinamiskepada tanggapan seseorang terhadap se-mua benda dan situasi yang berhubungan

  • 160 BAHASA DAN SENI, Tahun 41, Nomor 2, Agustus 2013

    dengan kesiagaan itu. Dari pengertian itutersirat bahwa sikap tidak dapat diamatisecara langsung, tetapi harus disimpulkanmelalui introspeksi diri seorang subjek.Sementara itu, Rokeach (1972) danAnderson (1974) menjelaskan sikap seba-gai tata kepercayaan (organization of be-liefs) yang secara relatif berlangsung lamaterkait suatu objek atau situasi yang men-dorong seseorang untuk menanggapinyadengan cara tertentu yang disukainya.Rokeach beranggapan bahwa setiap keper-cayaan terdiri atas tiga bagian atau kom-ponen, yakni komponen kognitif, kompo-nen afektif, dan komponen perilaku. Kom-ponen kognitif merujuk kepada pengeta-huan seseorang pada apa yang benar atausalah, baik atau buruk, diinginkan atau ti-dak diinginkan. Komponen afektif berhu-bungan dengan penilaian seseorang me-ngenai suatu objek, apakah ia suka atautidak suka akan objek itu. Komponen peri-laku berhubungan dengan kecenderunganseseorang untuk bertindak.

    Kecenderungan tersebut sangat eratkaitannya dengan ruang dan waktu penu-tur seperti halnya fenomena sikap terha-dap bahasa Bali (BB) di kalangan generasimuda Bali terhadap bahasa Bali. Seiringdengan perkembangan jaman dan muncul-nya berbagai destinasi wisata internasionaldi Bali, menuntut masyarakat sekitar des-tinasi wisata mampu berbahasa asing uta-manya bahasa Inggris dengan baik. Ma-syarakat sekitar destinasi wisata padaakhirnya cenderung menjadi bilingualbahkan multilingual khususnya kalangangenerasi muda. Mengingat kondisi terse-but, timbul pertanyaan sejauh manakahkebertahanan generasi muda terhadap BBsebagai bahasa ibunya yang tercermin darisikapnya terhadap bahasa Bali.

    Berdasarkan fenomena empiris di de-pan maka tulisan ini bertujuan untuk me-ngetahui dan menganalisis sikap bahasagenerasi muda terhadap bahasa Bali di da-erah destinasi wisata internasional di Bali.Sikap Bahasa yang dibahas ditinjau daritiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspekafektif dan aspek konatif. Kajian menge-

    nai sikap bahasa sangat signifikan dilaku-kan karena merupakan salah satu landasanpikir dalam mengetahui model pemerta-hanan bahasa Bali di daerah destinasi wi-sata internasional.

    METODE

    Penelitian ini berdasarkan filosofi fe-nomenologis. Paradigma tersebut mem-buat penelitian ini menggunakan pende-katan kualitatif. Penelitian ini dilakukan didaerah-daerah destinasi wisata internasio-nal di Bali. Penelitian dilakukan di Balibagian Selatan, Tengah dan Timur. Re-presentasi Bali bagian timur dipilih Kabu-paten Gianyar, Kecamatan Ubud yaitu diDesa Padang Tegal Tengah dan di DesaSambahan. Bali bagian tengah diwakilioleh Kota Denpasar, Kecamatan Sanuryaitu di Desa Sanur Kauh. Sedangkan un-tuk Bali bagian Selatan diwakili oleh ka-bupaten Badung, Kecamatan Kuta yaitu diDesa Abianbase dan desa Ungasan. Loka-si tersebut dipilih karena daerah tersebutmerupakan destinasi wisata internasionalyang mana terjadi kontak bahasa yangtinggi antara wisatawan dan masyarakatlokal yang menggunakan bahasa Bali se-bagai bahasa ibunya.

    Jenis data dalam penelitian ini adalahdata lisan. Data primer penelitian ini yaitukata-kata, kalimat-kalimat, atau wacanayang dituturkan antar generasi muda Balidalam ranah keluarga, kekariban, pendi-dikan dan religi. Responden kegiatan iniadalah generasi muda Bali usia 1425tahun dan belum menikah berjumlah 81orang yang berasal dari ketiga lokasi pe-nelitian. Para pemuda ini rata-rata memili-ki orang tua yang berkecimpung di duniapariwisata, seperti memiliki art shop, gal-lery, atau penyedia layanan pariwisatalainnya. Data yang diambil dari respondenberupa data lisan berupa teks pada kehi-dupan sosial generasi muda Bali. Data se-kunder penelitian ini adalah (a) hasil sur-vei sosiolinguistik dan (b) informasi me-ngenai situasi kebahasaan, kebudayaan dantradisi masyarakat Bali.

  • Malini, Sikap Generasi Muda terhadap Bahasa Bali 161

    Untuk mengumpulkan data dalamsuatu penelitian diperlukan beberapa in-strumen, yang terdiri dari instrumen utamayaitu peneliti sendiri (human instrument)dan instrumen tambahan berupa kuesionersurvei linguistik. Daftar pertanyaan disusundengan membuat pertanyaan yang khusus,kongkret, dan sesuai dengan konteks. Daf-tarpertanyaan yang diajukan dalam kuesio-nermeliputi pilihan bahasa, kemampuan bahasadan sikap bahasa generasi muda yangberbahasa ibu bahasa Bali di lokasipenelitian. Selain kuesioner, disiapkan jugapanduan pedoman wawancara dan lembarpengamatan yang berkaitan dengan situasikebahasaan dan sosial budaya masyarakat dilokasi penelitian.

    Penelitian ini menggunakan ancangankualitatif dengan menggunakan metodeobservasi partisipatif, metode wawancara,dan metode survei. Observasi partisipasiyaitu pengamatan secara langsung padalokasi penelitian untuk mendapatkan gam-baran yang sejelas-jelasnya tentang objekpenelitian. Dengan melakukan observasisecara langsung, peneliti dapat mengeta-hui bagaimana kegiatan generasi mudaBali sesungguhnya pada kehidupan sosial-nya. Dalam praktiknya metode observasipartisipatif dilakukan dengan cara berpar-tisipasi sambil menyimak, berpartisipasidalam pembicaraan, dan menyimak pem-bicaraan. Selain itu, peneliti juga melaku-kan wawancara dengan menggunakan pe-doman lembar wawancara yang sistematisdan lengkap melainkan hanya berdasarkangaris besar permasalahan (tidak terstruk-tur) (Sugiyono, 2006:157). Selanjutnya di-lakukan metode survei adalah metode pe-nyediaan data yang dilakukan melalui pe-nyebaran kuesioner atau daftar tanyaanyang terstruktur dan rinci untuk mempero-leh informasi dari sejumlah besar infor-man yang dipandang representatif mewa-kili populasi penelitian.

    Mengacu kepada paradigma peneliti-an, analisis data penelitian ini mengguna-kan dua teknik, yaitu teknik analisis datasecara kualitatif dan secara kuantitatif.Analisis data dilakukan secara berkelan-

    jutan selama melakukan penelitian untukmemberi peluang pengumpulan data yanglebih berkualitas dan menguji asumsi yangmuncul selama analisis data sehingga da-pat menjamin validitas temuan (Miles danHuberman, 1992:73). Selain itu, bias yangmuncul baik dari pihak peneliti maupundari pihak informan juga dapat dikurangi.

    Analisis data dilakukan dengan lang-kah-langkah berikut. Data rekaman kegi-atan generasi muda Bali ditranskripsikandalam bentuk teks utuh. Dari data yangsudah ditranskripsikan dan data yang di-peroleh melalui angket kemudian diidenti-fikasi data-data yang relevan, baik dalambentuk kata-kata, kalimat-kalimat, mau-pun dalam bentuk wacana/teks yang utuh.Setelah data ditranskripsi, peneliti mela-kukan reduksi atau eliminasi (penyortiran)data yang tidak relevan dengan permasa-lahan (data elimination). Penyortiran datadilakukan berdasarkan keterpakaian data.Pemilahan berdasarkan keterpakaian datadilakukan mengingat sumber data cukupbanyak, sehingga tidak menutup kemung-kinan data yang sama muncul pada kon-teks yang sama atau data yang sama mun-cul pada konteks berbeda. Dalam peneliti-an ini, data dikelompokkan sesuai perma-salahan penelitian. Berikutnya diberikanpenomoran/pengkodeaan data. Data yangtidak diperlukan dibuang yang kemudiandilanjutkan mengorganisasi data sesuaidengan kebutuhan analisis.

    Selanjutnya, peneliti menyajikan data(data display), yaitu (a) data bahasa yangsudah dipilih menjadi satuan-satuan dalambentuk kata, frase, klausa, kalimat, dan pa-ragraf diberi nomor urut dan (b) data yangsudah diberi nomor tersebut diklasifikasi-kan. Penyajian data dalam penelitian inidilakukan dengan berbagai tabel dan ba-gan. Langkah selanjutnya adalah penela-ahan data (data analysis). Data dianalisissesuai dengan teori yang dikembangkan.Hasil anlisis data diharapkan dapat me-menuhi prinsip pokok penelitian kualitatifyaitu menemukan teori dari data. Langkahterakhir adalah pengambilan simpulan me-ngenai sikap generasi muda Bali di daerah

  • 162 BAHASA DAN SENI, Tahun 41, Nomor 2, Agustus 2013

    destinasi wisata. Kesimpulan diverifikasiselama penelitian. Seluruh hal-hal yangmuncul dari data diuji kebenarannya, ke-kokohannya, dan kecocokannya melaluivalidisi data.

    Brannen (1997:15) mengemukakanbahwa kajian kuantitatif tidak selalu me-nguji hipotesis dan tujuannya seringkalibersifat deskriptif. Selaras dengan hal ter-

    sebut, penelitian ini hanya bersifat des-kriptif dan tidak menerapkan perhitunganstatistik inferensial karena tujuannya ha-nya untuk mendeskripsikan sikap bahasagenerasi muda Bali. Untuk itu, kajian se-cara kuantitatif dalam menentukan jumlahpersentase pemilih sikap bahasa tertentumenggunakan rumus yang ditunjukkanpada gambar 1.

    Gambar 1 Rumus Penentuan Jumlah Persentase Pemilih Sikap Bahasa

    HASIL

    Terdapat tiga temuan terkait denganpenelitian sikap bahasa ini, yakni aspekkognitif, afektif, dan konatif. Berkenaandengan aspek kognitif, generasi muda Balidiberikan pertanyaan berkenaan dengan

    persepsi mereka terhadap bahasa Bali.Pertanyaan tersebut adalah (a) bahasa Baliadalah bahasa yang indah dan merdu dan(b) bahasa Bali adalah pengemban budayayang tinggi.

    Persentase jawaban yang diberikanoleh responden terlihat pada grafik 1.

    Grafik 1 Sikap Kognitif Generasi Muda Bali

    Grafik 1 menunjukkan bahwa 90% sa-ngat setuju bahwa bahasa Bali adalah pe-ngemban kebudayaan dan di atas 50% se-tuju bahwa bahasa Bali merupakan bahasayang indah dan merdu.

    Sikap afektif generasi muda Bali da-pat dilihat dari tiga pernyataan, yaitu (a)

    sebagai orang Bali, saya bangga dapatberbahasa Bali, (b) saya senang bila orangberbahasa Bali dengan saya, dan (c) sayasenang berbahasa Bali dengan orang Balilainnya. Hasil jawaban responden terlihatpada grafik 2.

    0

    10

    20

    30

    40

    50

    60

    70

    SS S RR TS STS

    PERS

    ENTA

    SE

    ASPEK KOGNITIF

    BB indah dan merdu

    BB pengemban budaya

  • Malini, Sikap Generasi Muda terhadap Bahasa Bali 163

    Grafik 2 Sikap Afektif Generasi Muda Bali

    Grafik 2 menunjukkan bahwa persen-tase untuk pernyataan yang berkaitan de-ngan komponen afektif, rata-rata 90%responden menyatakan setuju terhadappertanyaan mengenai rasa bangga bisaberbahasa Bali dan senang bila ada orangberbahasa Bali dengan responden.

    Berkaitan dengan aspek perilaku ge-nerasi muda Bali terhadap Bahasa Bali,terdapat lima butir pernyataan, yaitu (a)segala upaya perlu dilakukan untuk meles-

    tarikan bahasa Bali, (b) bahasa Bali perluterus dikembangkan (misalnya kosakata-nya ditambah), (c) bahasa bali harus di-ajarkan di sekolah meskipun di daerahyang minoritas berbahasa Bali, (d) peme-rintah harus lebih aktif membina dan me-ngembangkan bahasa Bali dan (e) perluadanya kampanye untuk menggunakanbahasa bali di antara anggota keluarga Ba-li. Jawaban dari responden ditunjukkanpada grafik 3.

    Grafik 3. Sikap Konatif Generasi Muda Bali

    Pada grafik 3 terlihat kecendrunganbahwa jawaban responden antara setujudan sangat setuju terhadap upaya pembi-naan dan pengembangan bahasa Bali. Ha-nya terdapat kurang lebih 1.2% respon-dentidak setuju akan pernyataan (b) ba-hasaBali perlu terus dikembangkan (mi-salnya,kosakatanya ditambah). Menurut

    responden tidak perlu ada upaya khususuntuk itu tetapi biarkan bahasa Bali yangsaat ini mereka pergunakan seperti apaadanya. Demikian juga dengan pernyataan(c) mengenai pentingnya BB diajarkan disekolah. 3.7% generasi muda menyata-kanagar BB tidak diajarkan di sekolah

    0

    20

    40

    60

    80

    SS S RR TS STS

    PRO

    SEN

    TASE

    ASPEK AFEKTIFBangga menggunakanBB

    Senang bila orangmenggunakan BB

    Senang menggunakanBB dg orang Balilainnya

  • 164 BAHASA DAN SENI, Tahun 41, Nomor 2, Agustus 2013

    PEMBAHASANAspek Kognitif Sikap Bahasa

    Komponen kognitif merupakan ga-gasan pada umumnya berupa kategori ter-tentu yang dipakai oleh manusia untukberpikir. Kategori itu diperoleh sebagaihasil kesimpulan dari ketaatasasan di da-lam menanggapi berbagai rangsangan yangberbeda. Mann (dalam Azwar, 2008:24)menjelaskan bahwa komponen kognitifberisi persepsi, kepercayaan, dan stereotipeyang dimiliki individu menge-nai sesuatu.

    Terkait dengan aspek kognitif gene-rasi muda Bali ditemukan hasil sebagai-mana yang tergambar pada grafik 1. Gra-fik tiap-tiap komponen sikap bahasa terse-but menunjukkan bahwa persentase pi-lihan sangat setuju dan setuju sangat do-minan untuk pernyataaan bahwa BB me-rupakan bahasa yang indah dan merdu.Begitu pula bila dikaitkan dengan per-nyataan (b), hampir 95% responden me-nyatakan sangat setuju dengan bahasa Balisecara simboli...