Sifat Kimia Kayu Huru Kuning

  • View
    159

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Sifat Kimia Kayu Huru Kuning

SIFAT KIMIA KAYU HURU KUNING

Oleh : Agus Sunyata

ABSTRACT Pulp industry in Indonesia as big processed short fiber wood. Huru Kuning is forest tree having abundance that is enough, and has growth that is relative quickly. This thing enables this type can be developed as component of industrial standard of pulp. This research studies possibility that Huru Kuning is applied as component of standard industry pulp evaluated from the wood anatomy character. Planning is compiled factorial with Completely Randomized Design. Factor submitted counted 2 with every re- factor 3 times causing is obtained sample 3 x 3 x 3 = 27 fruits. Factor that is first is situation in direction bar axial, consisted of part of jetty ( A1), centered ( A2), tip ( A3) and second factor is situation in bar at direction radial, consisted of part of wood near by liver ( R1), between livers and skin ( R2) and near by skin ( R3). Variable measured is rate extractive, holocellulose. Based on result of research about inferential Huru Kuning wood chemical property as follows plane air wind drought powder water contents equal to 11,14%, average of rate extractive dissolves in temperature water 4,51%, average of rate extractive dissolves alcohol benzene 4,06%, average of holocellulose rate 77,43%, average of cellulose alpha rate, 43,06%, average of pentose rate 18,58%, average of lignin rate 33,21%, average of ash content 0,34%. Rate extractive dissolves temperature water, rate extractive dissolves alcohol benzene, holocellulose rate,

cellulose alpha rate, pentose rate, lignin rate, and ash content, at direction axial shows variation to decline from lower end of tree towards tip of bar above branch. Rate extractive dissolves temperature water, rate extractive dissolves alcohol benzene, holocellulose rate, cellulose alpha rate, pentose rate, lignin rate, and ash content, at direction radial shows variation to decline near from liver towards skin. Evaluated from the chemical property wood Huru Kuning has possibility to be made making raw material of pulp and paper. Because having holocellulose rate is being and cellulose alpha rate is being.

Key words : Chemical property; Huru Kuning wood; rate extractive

PENDAHULUAN

Latar Belakang Manfaat hutan adalah sebagai dasar penghasil kayu yang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan papan dan bahan industri perkayuan (Haryanto, 1995). Semakin berkurangnya luas hutan produksi untuk kebutuhan lahan untuk sektor lain dan perumahan mengakibatkan potensi produksi kayu yang berasal dari hutan alam menurun, sedangkan kebutuhan kayu meningkat. Berdasarkan kenyataan tersebut maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan potensi produksi kayu dengan memenfaatkan jenis-jenis kayu yang belum dikenal, salah satu kayu yang belum dikenal adalah kayu Huru Kuning (Litsea angulata BL). Oleh karena kayu memiliki sifat-sifat yang berbeda dan banyak dipengaruhi oleh jenis, letak dalam batang dan kondisis tempat tumbuh, maka perlu dilakukan analisis guna mengetahui pengolahan dan penggunaan kayunya

(Suminar, 1990). Dengan hasil analisis tersebut maka diharapkan dapat menentukan pengerjaan atau pengolahan kayu yang sesuai sehingga didapatkan hasil yang maksimal (anonim, 1976). Penelitian bertujuan untuk mempelajari variasi sifat kimia kayu pada arah aksial dan radial. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi masyarakat dan industri kayu dalam pengolahan maupun pengerjaan kayu Huru Kuning (Litsea angulata ).

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian (INTAN) Yogyakarta TINJAUAN PUSTAKA

Gambaran Umum Huru Kuning Pohon Huru Kuning mempunyai beberapa nama daerah di Indonesia seperti di sunda Huru Koneng, Huru Medang, Huru Mangga, di Jawa Wuru Kunyit. Nama botani Huru kuning adalah Litsea angulata BL. Tumbuhan ini merupakan pohon kecil atau pohon sedang, tinggi pohon pada umumnya tidak lebih dari 15 m dengan diameter 2035 cm. Tumbuhan ini jarang ditemukan di pulau Jawa. Penyebaran dari pohon ini di seluruh pulau, mulai dataran rendah sampai pada dengan ketinggian 2.500 m dpl. Di Jawa Timur pohon ini kadang-kadang digunakan untuk bangunan rumah (Heyne,1987).

Sifat-sifat kayu Kayu yang berasal dari berbagai jenis pohon memiliki sifat yang berbeda, bahkan kayu yang berasal dari satu jenis pohon mungkin memiliki sifat yang berbeda jika dibandingkan dengan bagian lainnya. Karena kayu memiliki

keragaman komposisi serta susunan kimia yang berbeda, maka kayu memiliki tingkat keragaman penggunaan yang berbeda pula (Dumanauw,1990).

Sifat Kimia Kayu Kayu adalah bahan organik yang terdiri atas unsur C 50%, H 6%, O 44%, dan sedikit unsur lain (Suminar, 1990). Komponen kimia penyusun kayu dibedakan atas komponen primer dan sekunder. Komponen primer adalah senyawa-senyawa yang merupakan bagian integral dinding sel, artinya menyatu dengan dinding sel. Sedangkan komponen sekunder adalah komponen di luar dinding sel yang disebut juga ekstraktif dan atau zat-zat infiltrasi atau komponen luar karena tidak merupakan bagian integral dinding sel, tetapi diendapkan dalam rongga sel dan meresap dalam rongga-rongga mikro dalam dinding sel (Soenardi, 1997). Kadar Air Kayu adalah substansi higroskopis, oleh karena itu kayu selalu mengandung sejumlah air, kecuali dalam kondisi yang abnormal. Afinitas kayu terhadap air sangat besar sehingga kayu tidak akan benar-benar kering bila tidak mengalami desikasi sedemikian drastis sampai mengubah sifat kimianya (Anonim, 1993).

Menurut Soenardi (1976) air dan semua cairan yang polar (artinya dapat membentuk suatu ikatan diantara atom-atom dengan gaya elektrostatis) mungkin terdapat dalam kayu dalam dua cara, sebagai air terikat, Air bebas. Kadar air serbuk kayu Weru hasil penelitian Hariyanto (1997) pada arah aksial menunjukkan persentase menurun dari pangkal ke arah ujung pohon. Pada arah radial menurun dari dekat kulit ke arah dekat hati. Kadar air serbuk kayu Kurai hasil penelitian Andi (1996) pada arah aksial menunjukkan persentase

menurun dari pangkal ke ujung. Pada arah radial tidak beda nyata. Kadar Ekstraktif Ekstraktif kayu adalah zat-zat yang larut dalam pelarut netral seperti eter, alkohol, benzen, air, dan lain-lain (Soenardi, 1997). Ekstraktif tidak merupakan bagian dari struktur dinding sel tetapi terdapat dalam rongga sel (Soenardi, 1976). Kehadiran bahan-bahan ekstrakrif dapat memiliki pengaruh besar terhadap kerapatan kayu (Suminar, 1990). Ekstraktif tidak hanya penting untuk mengerti taksonomi dan biokimia pohonpohon, tetapi juga penting bila dikaitkan dengan aspek-aspek teknologi. Ekstraktif merupakan bahan dasar yang berharga dalam pembuatan bahan kimia organik (Sjostrom, 1995). Hasil penelitian pada kayu Bakau kadar ekstraktif pada arah aksial menunjukkan persentase menurun dari pangkal ke ujung pohon dan pada arah radial meningkat dari hati ke kulit (Suhaefi 1998). Holoselulosa Menurut Soenardi (1976), holosesulosa adalah semua bagian karbohidrat dari bahan baku tumbuhtumbuhan sesudah lignin dihilangkan. Holoselulosa dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu : 1.Perlakuan serbuk kayu bebas ekstraktif dengan klor, diikuti dengan alkohol monoetanolamin. 2. Perlakuan serbuk kayu bebas ekstraktif dengan klor, diikiuti dengan ekstraksi dengan alkali 3. Perlakuan serbuk kayu bebas ekstraktif dengan NaClO2 (Natrium klorit) yang diasamkan. Hasil penelitian pada kayu Sampang kadar holoselulosa pada arah aksial menunjukkan persentase menurun dari pangkal ke arah ujung pohon dan pada arah radial menunjukkan kenaikan dari hati ke arah kulit (Habibi, 1999).

Selulosa Selulosa merupakan konstituen utama kayu, kira-kira 40-50% bahan kering dalam kayu adalah

selulosa terdapat dalam lapisan dinding sel sekunder (Sjostrom, 1995). Selulosa alami yang paling murni adalah yang ditemukan pada biji kapas (Gossypium ssp.) yang mengandung 90% selulosa. Polisakarida dalam selulosa tumbuhan yang bukan murni disebut selulosan (Anonim, 1993). Selulosa dapat diperoleh dari semua tumbuhtumbuhan dengan mereaksikan bahan baku dengan zat-zat yang diharapkan akan melarutkan zat-zat non selulosa (Soenardi, 1997). Hasil penelitian kayu Sampang, kadar alfa selulosa pada arah aksial menurun dari pangkal ke arah ujung dan pada arah radial menurun dari hati ke kulit (Habibi 1999).

Hemiselulosa Hemiselulosa termasuk dalam kelompok polisakarida heterogen yang berfungsi sebagai bahan pendukung dalam dinding sel. Hemiselulosa dalam kayu tersusun atas berbagai zat tetapi yang pokok ada dua komponen yaitu selulosan dan poliuronida (Soenardi, 1976). Menurut Sjostrom (1995), hemiselulosa dapat diisolasi dari kayu, holoselulosa, atau pulp dengan ekstraksi. Pentosan Pentosan merupakan bagian dari hemiselulosa, bersama-sama dengan heksosan dan komponen-komponen yang mengandung asam uronat (Soenardi, 1976). Hasil penelitian kayu Kurai pada arah aksial kadar pentosan menunjukkan persentase menurun dari pangkal menuju ujung pohon , pada arah radial kadar menunjukkan persentase dari hati menuju kulit (Andi, 1996). Lignin Lignin adalah suatu polimer kompleks dengan berat molekul tinggi, tersusun atas unit-unit fenilpropana. Terdapat diantara sel-sel dan didalam dinding, diantara sel-sel berfungsi untuk mengikat sel

secara bersama-sama, didalam dinding sel berfungsi untuk memberikan keteguhan dalam sel (Haygreen dan Bowyer, 1996). Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar lignin dalam kayu adalah, kadar lignin dalam kayu gubal lebih tinggi daripada kayu teras. Serabut kayu awal mengandung lebih banyak daripada serabut kayu akhir, sebab lamela tengah relatif lebih tebal. Jari-jari kayu mengandung lebih banyak lignin daripada serabut trakeid menurut (Soenardi, 1976). Hasil penelitian kadar lignin pada kayu Senu pada arah aksial menunjukkan persentase menurun dari pangkal ke arah ujung pohon dan pada arah radial dari bagian dalam menurun ke arah tengah dan naik ke arah bagian luar (Sahlan,1996). Abu (mineral Kayu) Residu yang ta