Seni Teater

  • View
    35

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

teater

Transcript

Kata PengantarSegala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan anugrahnya kepada kita sekalian, terutama kepada penyusun yang telah menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta sallam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang telah meuntun kita dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang, sehingga kita dapat meikmati iman dan Islam.

Teater merupakan salah satu seni yang sering kita jumpai. Didalam memainkan seni teater tentu diperlukan keterampilan untuk memainkannya supaya dapat menghasilkan teater yang lebih baik. Selain dapat memainkan teater, tentunya kita juga perlu tahu sejarah perkembangan teater, dari sejak pertama sampai dengan saat ini. Didalam makalah ini membahas tentang sejarah perkembangan teater, mengunkap apa itu teater?. Teater juga berkemabang di Indonesia. Perkembangan teater di Indonesia itu perlu kita pelajari lebih dalam. Penyusun telah menyertakan sejarah perkembangan teater dalam makalah ini.

Tak ada gading yang tak retak, begitulah pepatah berkata. Penyusun menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaikai, tapi untuk kedepannya penyusun akan berusaha sebaik mungkin untuk lebih baik. Semoga makalah ini bisa berguna bagi pembaca.

Penyusun

Daftar isiHalaman judul iKata pengantar 1Daftar isi 2BAB I 4A. Definisi teater 4B. Sejarah singkat teater 5C. Intellegensi Teater 6D.Perkembangan teater di dunia 9a. Teater Yunani Klasik 9b. Teater Romawi Klasik 10c. Teater Zaman Elizabeth 11d. Teater Abad 20 12BAB II 18A. Sejarah teater di Indonesia 18B. Perkembangan teater di Indonesia 20a. Teater taun 1920-an 20b. Teater tahun 1940-an 20c. Teater taun 1980-1990-an 23d. Teater Kontemporer Indonesia 24BAB III 25Kesimpulan 25Penutup 26Daftar pustaka 27

BAB IA. Definisi Teater

Teater (Bahasa Inggris "theater" atau "theatre", Bahasa Perancis "thtre" berasal dari Bahasa Yunani "theatron", , yang berarti "tempat untuk menonton") adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Univesitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai " yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain." Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.Teater adalah tempat persembahan - persembahan kesenian yang dilakonkan di hadapan penonton secara langsung menggunakan kombinasi pertuturan, gerak isyarat, muzik, tarian, bunyi dan sebagainya.

Terdapat pelbagai jenis persembahan teater, antaranya ialah: opera, balet, pantomim dan wayang kulit. Selain itu, menurut prof. datin. dr. rahmah hj bujang dalam bukunya yang berjudul Glosari Kesenian Melayu pula ialah teater adalah sebarang perlakuan kisah atau cerita dalam satu kawasan yang ditentukan sebagai pentas untuk perlakuannya dan menuntut pergerakan fizikal; dengan mempunyai komponen aksi dan reaksi para pelaku, yaitu para pelakon, dan pemerhati, yaitu audiens atau penontonnya.

Beberapa macam arti teater:

1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.2. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak3. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.B.Sejarah Singkat TeaterWaktu dan tempat pertunjukan teater pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut:

Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.

Berasal dari nyayian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.

Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, perang, dsb).

Naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di jaman peradaban mesir kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi dimana pada jaman itu peradaban Mesir kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.

I Kher-nefert menulis naskah tersebut untuk sebuah pertunjukan teater ritual di kota Abydos, sehingga terkenal sebagai Naskah Abydos yang menceritakan pertarungan antara dewa buruk dan dewa baik. Jalan cerita naskah Abydos juga diketemukan tergambar dalam relief kuburan yang lebih tua. Sehingga para ahli bisa mengira bahwa jalan cerita itu sudah ada dan dimainkan orang sejak tahun 5000 SM. Meskipun baru muncul sebagai naskah tertulis di tahun 2000 SM. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui juga bahwa pertunjukan teater Abydos terdapat unsur-unsur teater yang meliputi; pemain, jalan cerita, naskah dialog, topeng, tata busana, musik, nyanyian, tarian, dan properti pemain seperti tombak, kapak, tameng, dan sejenisnya.

C.Intellegensi Teater

Otak bukan hanya segumpalan materi yang dapat dibandingkan sebagai gumpalan daging yang biasa. Tetapi otak memiliki fungsi yang sangat penting untuk kita, seperti juga fungsi jantung untuk peredaran darah dalam tubuh kita. Otak manusia dewasa diperkirakan mengandung antara 12-15 miliyar sel saraf, itupun sel yang ada pada otak besar (neokorteks) belum ditambah dengan otak reptil dan mamalia, sehingga mencapai 200 miliar sel..Dan dari situlah manusia memiliki berbagai kemampuan seperti daya ingat ,berfikir,merasa dan lain sebagainya.

Dari pembagian otak tersebut, dibagi lagi menjadi dua fungsi yaitu fungsi otak kiri dan otak kanan. Dari setiap belahan otak itu mempunyai fungsi tersendiri yang diatur oleh alat penghubung kedua otak tersebut. Dan koordinasi dari kedua otak itu yang memaksimalkan fungsinya, .kalau penghubung itu terganggu, kedua belahan otakpun ikut terganggu. Otak kiri terkait dengan kemampuan logika, matematika, bilangan , bahasa, daya ingat dan daya analisa. Sementara belahan otak kanan banyak berfungsi dalam penguasaan bentuk dan pola, penguasaan ruang, irama, penggambaran, imajinasi dan ukuran dimensional.

Setidaknya ada tiga kemampuan yang biasa disebut orang dengan istilah kecerdasan (intelligence). Dan ke-tiga inteligensi itu diperjelas oleh Ary Ginanjar Agustian secara detil dan hubunganya dengan fungsi otak yang sangat kompleks. Sebelumnya orang mengira bahwa IQ (Intellegence Quotient) merupakan penentu kesuksesan dalam hidup. Jika IQ-nya tinggi maka, dia akan mendapatkan kesuksesan dalam belajar dan akhirnya mendapat kesuksesan dalam hidup. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karna banyak orang pintar dan ber-IQ tinggi pada kenyataanya dia mengalami kesulitan hidup. Artinya, bahwa perlu ada pendukung pendukung yang lain sebagai penyeimbang, seperti EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient) pernyataan Ary Ginanjar Agustian mengenai tiga kecerdasan tersebut mendapat sambutan yang luar biasa sehingga bukunya mengenai ESQ menjadi best Seller.

Berbagai pola pelatihan teater pernah saya ikuti bahkan saya juga mengikuti berbagai workshop teater yang diperuntukkan bagi calon-calon aktor dari unsur pelajar dan mahasiswa juga beberapa orang dari komunitas independen.

Disela-sela proses latihan itu saya teringat seorang teman yang mengatakan seorang aktor itu harus cerdas. Ungkapan itu terus melekat di pikiran saya, apakah memang benar menjadi aktor harus cerdas dan memungkinkan menjadi cerdas. Sementara teman saya yang lain mengatakan mau jadi apa dengan berteater ?. Dua pendapat itu sempat membingungkan, tapi, tetap saya jalani berlatih teater bersama kawan-kawan di komunitas Independen, karna saya yakin ada banyak hal yang menarik dalam proses pelatihan itu.

Ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari workshop dan latihan teater,yang akan terungkap di sini. Pada bulan pertama kami dilatih olah vokal dan artikulasinya, juga cara pengucapanya secara staccato, vibration dan long voice. Seorang aktor harus memiliki vocal yang baik, memiliki power, dan artikulasinya harus jelas, ungkap instruktur kami. Ada beberapa poin yang menarik dari olah vokal ini apabila dilakukan dengan rutin, karena kecerdasan berbahasa akan berkembang dengan sendirinya. Inteligensi linguistik adalah kemampuan menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif, baik secara oral yang kemungkinan akan berkembang pada kemampuan menulis. Olah vokal juga dapat menambah kemampuan berbahasa dengan baik.

Selama satu bulan tersebut sebelum pelatihan dimulai kami disarankan untuk melatih vocal terlebih dahulu.kemudian baru meningkat ke sesi selanjutnya.

Masih pada satu bulan pertama, kami digembleng untuk mengolah tubuh dengan baik, fisik, kelenturan dan gesture. Pengolahan badan secara rutin sangat ideal untuk peningkatan Intelegensi kinestetis badan. Menurut Gadner, kemampuan ini adalah kemampuan menggunakn tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Pada sesi ini aktor diharapkan mampu mengeksplorasikan diri dalam sebuah pementasan teater dengan baik.

Pada bulan kedua kami dilatih mengapresiasikan diri secara total,ber-interaksi dengan lawan main, bahkan juga meng-intregasik