of 24 /24
Sabtu Kliwon, 26 Agustus 2006 Kultur Bondres Galeri Buleleng Keberadaan galeri tak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang pelukis. Galeri itu ibarat sebuah surat kabar atau majalah bagi seorang wartawan. Bagaimana pun pintarnya wartawan mewawancarai seseorang atau mendiskripsikan reportasenya di lapangan, tak akan ada gunanya kalau tidak ada surat kabar atau majalah yang memuat tulisannya. Betapa pun banyaknya seorang pelukis berkarya, kalau tak ada galeri yang menampung karyanya, orang tak akan tahu karya pelukis itu. Tentu menjadi aneh kalau seorang pelukis menggendong karyanya keliling kampung dan lorong kota untuk menjual lukisannya. Bisa saja itu terjadi tetapi gengsi lukisan menjadi turun. Karena itu betapa pentingnya sebuah galeri. Karya seni rupa, apakah itu lukisan, patung, keramik, gengsinya tergantung suasana di mana karya itu dipajang. Seorang pedagang menggendong ''lukisan'' atau menggantungnya di pohon pinggir jalan, dan orang menyebutnya ''pedagang gambar'', bukan ''pedagang lukisan''. Galeri jalanan yang banyak terdapat di Jakarta, misalnya di Taman Surapati, tak pernah disebutkan di situ orang berjualan lukisan, tetapi orang berjualan gambar. Padahal bidang yang digambari sama saja, kanvas. Bahkan bisa jadi pula bahan yang dipakai melukis sama. Hal serupa juga terjadi pada kios-kios pedagang kerajinan di pesisir pantai Sanur. Pelukis yang serius dan bukan hanya ''tukang gambar'' harus bisa menjalin kontak dengan pemilik galeri. Kalau tidak, ia harus punya galeri sendiri, yang bisa menyatu dengan studio tempatnya melukis. Permasalahannya tentu adalah tempat. Kalau pelukis itu tinggal di desa yang terpencil, akses jalan menuju ke sana jelimet, bagaimana mengharapkan orang pada datang? Apalagi pelukisnya sendiri belum punya nama, dia tak pernah mendapat publikasi apa pun.

Seni Rupa Buleleng

Embed Size (px)

DESCRIPTION

artikel dari beberapa koran mengenai seni rupa buleleng

Text of Seni Rupa Buleleng

Sabtu Kliwon, 26 Agustus 2006 KulturBondresGaleri Buleleng Keberadaan galeri tak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang pelukis. Galeri itu ibarat sebuah surat kabar atau majalah bagi seorang wartawan. Bagaimana pun pintarnya wartawan mewawancarai seseorang atau mendiskripsikan reportasenya di lapangan, tak akan ada gunanya kalau tidak ada surat kabar atau majalah yang memuat tulisannya. Betapa pun banyaknya seorang pelukis berkarya, kalau tak ada galeri yang menampung karyanya, orang tak akan tahukarya pelukis itu. Tentu menjadi aneh kalau seorang pelukis menggendong karyanya keliling kampung dan lorong kota untuk menjual lukisannya. Bisa sajaitu terjadi tetapi gengsi lukisan menjadi turun. Karena itu betapa pentingnya sebuah galeri. Karya seni rupa, apakah itu lukisan, patung, keramik, gengsinya tergantung suasana di mana karya itu dipajang. Seorang pedagang menggendong ''lukisan'' atau menggantungnya di pohon pinggir jalan, dan orang menyebutnya ''pedagang gambar'', bukan ''pedagang lukisan''. Galeri jalanan yang banyak terdapat di Jakarta, misalnya di Taman Surapati, tak pernah disebutkan di situ orang berjualan lukisan, tetapi orang berjualan gambar. adahal bidang yang digambari sama saja, kan!as. Bahkan bisa jadi pula bahan yang dipakai melukis sama. "al serupa juga terjadi pada kios#kios pedagang kerajinan di pesisir pantai Sanur. elukis yang serius dan bukan hanya ''tukang gambar'' harus bisa menjalin kontak dengan pemilik galeri. Kalau tidak, ia harus punya galeri sendiri, yang bisa menyatu dengan studio tempatnya melukis. ermasalahannya tentu adalah tempat. Kalau pelukis itu tinggal di desa yang terpencil, akses jalan menuju ke sana jelimet, bagaimana mengharapkan orang pada datang$ %palagipelukisnya sendiri belum punya nama, dia tak pernah mendapat publikasi apa pun. %khirnya, sebuah galeri memang menjadi penting. Galeri ini bisa menjadi penghubung antara pelukis dan penikmat seni. engelola galeri bisa memajangkarya#karya pelukis, bisa membuat pameran dengan tema#tema tertentu, bisa menyebarkan brosur ke mana#mana. engelola galeri mendapatkan komisi dari kegiatannya memajang lukisan ini. Galeri pada akhirnya juga sebuah usaha bisnis, yang modalnya antara lain dari titipan karya sang pelukis. Kalau galeri itu sudah terkenal pelukis bisa sangat tergantung pada galeri itu. engelola galeri bisa menolak titipan sang pelukis dengan alasan bermacam#macam. engelola galeri bisa membanting harga lukisan. Tinggal adu kuat, apakah galeri yang lebih kuat atau pelukisnya yang lebih kuat. Karena itu banyak pelukis yang sudah punya nama, misalnya &da Bagus 'ade di (bud, menolak karyanya dimasukkan dalam galeri. Kenapa galeri hanya numplek di Bali Selatan, khususnya )enpasar, Badung dan Gianyar$ &tu karena galeri berkaitan dengan dunia bisnis. )i mana bisnis berkembang di situ galeri tumbuh. *amun, sama sekali tak ada kaitannya antara letak galeri dengan domisili pelukis yang memajang karyanya di sana. Galeri yang ada di +eluk, Gianyar, bisa saja memajang karya pelukis asal Tabanan, Jembrana, Buleleng. &de membuat galeri di Bali (tara, seperti di kawasan antai ,o!ina, memang cukup beralasan karena bisnis berkembang di kawasan itu. Tetapi ke mana arah galeri itu, sebagai usaha bisnis semata#mata atau punya tujuan lain, yakniuntuk menggairahkan para perupa di Bali (tara$ &ni harus jelas lebih dulu. Jikaia semata#mata usaha bisnis, harus dilihat apakah para perupa di Bali (tara punya ''daya saing'' untuk dijual karyanya. Jika tidak galeri tersebut tentu saja merugi, siapa yang mau menanamkan modalnya$ Tetapi jika tujuannya idealis, tidak semata#mata bisnis, maka langkah ini sangat positi-. Galeri itu nantinya juga ber-ungsi sebagai ''toko bersama'' para pelukis Buleleng, atau bisa ber-ungsi sebagai ''ruang pamer'' karya#karya perupa Bali (tara. Kalau arahnya seperti ini maka yang diperlukan adalah sponsor yang bisa memberikan dana, baik untuk pembangunan awal maupun untuk operasional selanjutnya. Tanpa ada sponsor maka galeri ini akan mati muda, karena belum tentu ia bisa dibiayai dari transaksi penjualan karya#karyanya. emilihan kawasan wisata ,o!ina sangat tepat untuk ini karena sampai sekarang nuansa seni dari kawasan wisata itu belum mencuat di permukaan. )eretan restoran dan hotel di sana tidak diimbangi dengan keberadaan elemenseni. Jarang terlihat ada panggung pementasan seni, begitu pula toko kerajinan yang besar. %palagi semacam galeri seni. Kalau para perupa Bulelengbisa bersatu membangun galeri bersama di ,o!ina, tentu gebrakan yang bagus.&ni akan memberikan tambahan kelengkapan bagi kawasan ,o!ina yang cukup berarti. Sekaligus galeri itu nantinya akan memberikan jawaban kepada para penikmat seni bahwa Buleleng juga kaya akan potensi seni rupa. ,ebih enak lagi didengar jika para perupa yang sudah sukses di Bali Selatan, yang sesungguhnya berasal dari Buleleng, memberikan bantuannya, minimal ikut menaruh karyanya di sana. %nggaplah ini untuk mendorong perupa#perupa yang masih belum nongol di daerah kelahiran yang kita cintai bersama. Sekaligus kita bisa menunjukkan bukti bahwa Bali sebenarnya adalah kampungnya para seniman, dari utara ke selatan isinya adalah para seniman. * Putu Setiahttp://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/26/bd2.htmSabtu Paing, 13 Agustus 2005 Kultur Menumbuhkan Gairah Seni Lukis di Buleleng)i tengah gegap#gempitanya perkembangan seni lukis danpelukis ## lengkap dengan berbagai polemiknya ## di BaliSelatan, tampaknya Buleleng masih adem#ayem saja dalambidang seni kuas dan cat di atas kan!as itu. Sejumlah pelukisasal Buleleng, seperti *yoman Tusan .alm/ dan ande Supada,memang mencatatkan dirinya sebagai pelukis terkenal didunia seni rupa internasional, namun yang menjadipertanyaan di manakah generasi pelukis berikutnya diBuleleng$ )i manakah pelukis#pelukis muda itu berkarya, di mana merekaberpameran dan bagaimanakah bentuk dan aliran karya#karyanya$ 000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 SESUNGGUHNYA Buleleng memiliki banyak pelukis muda berbakat. Selainbelajar secara otodidak dan melakukan proses kreati- secara sembunyi#sembunyi di studio#studio sederhana, banyak juga pelukis pemula yangmenempuh pendidikan -ormal di )enpasar, 1ogyakarta dan Bandung. *amun,mereka seakan asyik#asyik sendiri. Bahkan, ketika polemik Bali Binaleberkembang di )enpasar, pelukis Buleleng seakan tak tersentuh sama sekali.'ereka diam, tetapi sebenarnya tetap berkarya.Sayangnya, pelukis Buleleng ini sangat jarang menunjukkan karyanya di depanpublik. &ni dibuktikan dengan jarangnya terdapat pergelaran pameran di wilayahBali (tara. Kalaupun mereka mau berpameran, tak ada galeri yang cukuprepresentati- di Buleleng untuk memajang karya#karya mereka."al ini diakui John "ardi, seorang pelukis yang duluberproses di (bud, Gianyar, dan kini menetap di sebuahstudio sederhana di kawasan ,o!ina. 'enurut John "ardi,banyak pelukis muda yang langka di Buleleng. )i ,o!inasaja, ia mengaku menemukan puluhan pelukis mudapotensial. 2*amun sayangnya, mereka masih malu#malu.'aka perlu dikompori .dipanas#panasi/ agar maumenunjukkan jati dirinya,2 katanya.Seperti juga di (bud sebagai daerah wisata, ,o!ina jugamemberi ruang bagi pelukis#pelukis muda untuk mendapatkan gesekan#gesekankreati- dari pelukis pelancong dari mancanegara. Gesekan#gesekan itu tentubisa memunculkan gaya dan aliran yang berbeda, aliran khas Buleleng yangdikenal sebagai daerah terbuka dan dinamis. "ardi mengakui di ,o!ina terdapatkantong#kantong pelukis yang meski tak seterkenal (bud, namun tetapmemberikan warna tersendiri bagi perkembangan seni modern di Buleleng. (ntuk membangkitkan gairah pelukis muda Buleleng berkarya dan berpameran,Jhon "ardi berencana membikin pameran lukisan di 'useum Buleleng denganmengundang pelukis#pelukis muda berbakat di Bali (tara. )alam pameran itudiharapkan akan muncul pemetaan baru dalam perkembangan seni lukis diBuleleng.Sebagai pemanasan, pada bulan %gustus ini Jhon "ardi mengundang empatpelukis yang sedang menjalani proses kreati- di wilayah pesisir Bali (tara untukberpameran secara sederhana di wilayah ,o!ina. 'ereka adalah Komang Tini,Kadek %ri, %rga )ireja dan aulina +he!alier. ameran itu dibikin sederhana,hanya untuk mengenalkan bahwa geliat seni rupa di Buleleng sesungguhnya takpernah mati.)engan menggelar sekitar 34 lukisan, keempat pelukis dengan cara yang khasdan berbeda#beda seakan ingin merekam sesuatu yang tak pernah abadi.'ereka melukis benda#benda, menggambar wajah dan menggores mimpi#mimpiyang tak pernah abadi. Segalanya sarat dengan perubahan, meski manusiasenantiasa berjuang untuk membuatnya abadi.Sehingga tidak salah jikapameran itu diberi tajuk ''Buleleng 'etamor-osa''.John "ardi, pelukis kawakan yang menjadi kurator sekaligus penyelenggarapameran, menyebut Buleleng adalah sebuah daerah yang dinamis, yang sepertijuga daerah lain, tidak pernah luput dari perubahan. Singaraja dulunya bukanhanya sebagai ibu kota Buleleng, namun juga ibu kota Sunda Kecil. Kini, daerahitu menjadi sebuah kota kabupaten yang jauh dari hiruk#pikuk kota di BaliSelatan.Sebuah kota, sebuah bentuk, bahkan sebuah mimpi dan angan#angan senantiasamengalami metamor-osa. )alam bahasa "ardi, metamor-osa adalah gubahanbentuk ke bentuk yang lain, seperti benih ke bentuk pohon, seperti embrio kebentuk bayi, lalu anak#anak, remaja hingga manusia dewasa. %rti pendewasaanpun merupakan gubahan dari metamor-osa. Jadi, kata "ardi, proses kreati-berawal dari sebuah lingkungan yang bersentuhan dengan proses metamor-osasecara perlahan.asangan suami#istri %ri dan Tini serta %rga adalah pelukis yang lahir danberkembang di Buleleng, sementara aulina adalah pelukis keturunan Belanda,lahir di &ndonesia dan berkembang di kawasan wisata ,o!ina. Keempatnyamenunjukkan perbedaan#perbedaan yang khas untuk melukiskan perubahan#perubahan yang terjadi di Buleleng, Bali, &ndonesia dan dunia, bahkan perubahanalam mimpi. %rga lebih cenderung ke geometris, %ri lebih menampilkan kesanekspresi- realis, Tini menampilkan sapuan#sapuan kesunyian dalam geraksurealis dan aulina lebih memilih penonjolan bentuk dalam close up dalamwarna pop art. Sebagaimana pelukis 2pemalu2 pada umumnya, keempat pelukisitu seakan sedang mencari bentuk untuk memberi warna pada perkembanganseni lukis di Buleleng."ardi menyebutkan keempat pelukis yang berpameran ini bisa disebut sebagai-igur langka di Buleleng, setelah kelahiran pelukis *yoman Tusan .alm/ danande Supada. 'eski belum dikenal dalam dunia seni rupa di Bali, "ardi percayasetiap manusia lahir diberkahi bakat sehingga ia tak meragukan kualitaskeempat pelukis itu rata#rata dari mereka baru pertama kali menunjukkan hasilkaryanya secara luas kepada publik. 2Bak gerundang .anak katak/ besar dikubangan, pelukis juga bisa besar dan berkembang di habitatnya,2 kata "ardi.%rtinya, meski tanpa galeri yang megah pun, pelukis bisa menunjukkan jati diridi daerah tempatnya berproses. )an, Buleleng adalah salah satu tempatberproses yang subur dengan iklim berkesenian yang kondusi-. Selain komunitaspelukis yang dibentuk John "ardi di ,o!ina, di wilayah Kota Singaraja danBuleleng bagian timur seperti Sawan dan Tejakula juga terdapat komunitas#komunitas pelukis yang tetap berkarya dengan konsep yang sederhana dan tidakrumit. )i Singaraja dan Sawan ada nama utu Satria Kusuma, %dnyana danSuma %rgawa beserta anak#anaknya.Selain itu, di Singaraja juga terdapat &K& *egeri Singaraja yang memilikijurusan Seni 5upa dengan pentolan pelukis besar, seperti "ardiman dan kawan#kawan yang bisa diharapkan memberi pengaruh pada perkembangan seni lukis diBali (tara. %palagi, mahasiswa jurusan Seni 5upa &K& itu juga berkali#kalimenunjukkan hasil karyanya dalam ajang pameran di kampus maupun di ,o!ina.(olehttp://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/8/13/bd1.htmSabtu Kliwon, 26 Agustus 2006 Kultur!adikan Museum Buleleng sebagai Pusat "esenian A#GA )ireja, %ri Sudarma, Tini 6ahyuni, dan Gede Guritnaadalah pelukis Buleleng yang mulai menggeliat dengan menggelar di 'useum Buleleng, 37 %gustus hingga 37 September. 'enariknya, geliat dan gairah lima pelukis itu mendapat sambutan luar biasa dari kalangan penikmat seni, termasuk dari tokoh politik dan pejabat penting di Buleleng. Bupati Bagiada pun berkenan membuka pameran tersebut yang membuat para pelukis makin bergairah. Sebelumnya perkembangan seni rupa Buleleng memang jarang mendapat perhatian dari kalangan pemegang kebijakan. Jika bicara soal seni#budaya hampir semuanya menyebut seni tari dan karawitan, sedangkan seni rupa termasuk seni patung seakan diabaikan. (ntuk itulah kedatangan Bupati Bagiada ke ruang pameran seakan menjadi pemicu dan peretas jalan bagi berkembangnya seni rupa Buleleng. (ntuk itu, para pelukis itu minta agar perhatian Bupati dan pejabat berwenanglainnya bisa diteruskan dengan membangun sebuah pusat kesenian di Buleleng yang di dalamnya terdapat gedung pameran yang representati-. 2Gedung pameran sangat diperlukan bukan hanya untuk pameran, namun juga untuk berkumpulnya berbagai ide kreati- dari pelukis#pelukis Buleleng,2 kata Gede Guritna saat ditemui sedang menunggu pameran bersama %rga )ireja dan %ri Sudarma di 'useum Buleleng, Kamis .7894/ kemarin. Guritna dan kawan#kawannya itu mengatakan areal di sekitar 'useum Bulelengitu sangat cocok dijadikan pusat kesenian semacam art center#nya Bali (tara. %palagi, Kantor )inas Kebudayaan dan ariwisata yang berada di areal itu rencananya akan dipindahkan ke Jalan *gurah 5ai. 2Setelah kantor itu pindah, areal 'useum Buleleng ini bisa disulap menjadi pusat kesenian yang di dalamnya berisi gedung pameran,2 katanya. %rga )ireja dan %ri Sudarma juga berharap hal yang sama. 'enurutnya, selain 'useum Buleleng di areal itu juga terdapat Gedung Kirtya dan Gedung Sasana Budaya sebagai tempat pertunjukan. Setelah kantor )isbudpar pindah, di arealitu bisa dibangun berbagai -asilitas seni#budaya lainnya seperti ruang pameran dan ruang diskusi sebagai tempat berkumpulnya seniman dan budayawan. 2%palagi areal 'useum Buleleng ini sangat strategis karena berada di pusat kota,2 kata %rga. (olehttp://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/26/bd3.htm30 Maret 1997 _________________________________________________________________ ! " # $ # _________________________________________________________________

%ekilas &er'ala(a( )ehid*pa( %e(i +*pa di ali !tara ,leh -.oma( /*sa( "0 12",-1 )ert.a .a(3 sa(3at sempit tersimpa( berp*l*h l*kisa(ber3a.a realis4(ai5 hasil kar.a para pel*kis dari at*a(6 %a(*r da( se(ima( *lele(3. 1a.a(.a6 tema l*kisa( .a(3 dipilih(.a diperkiraka( bahwa l*kisa( terseb*t dib*at atas permi(taa( &impi(a( 1ed*(3 )ert.a6 *(t*k kepe(ti(3a( il*strasi b*k*/ ceritra rak.at ata*p*( *(t*k pe(3isia( il*strasi pada ma'alah .a(3 diterbitka( oleh 1ed*(3 )ert.a. 7ala*p*( demikia( dilihat dari keberadaa( se(i l*kis terseb*t ter(.ata se(ima( *lele(3 telah berkiprah pada 3a.a realis6 di sampi(3 pel*kisa( wa.a(3. Mereka mema(3 tidak berkemba(3 seba3aima(a .a(3 dilal*i oleh para pel*kis se8ama((.a di at*a( da( %a(*r6 kare(a tidak ada se(ima( .a(3 membimbi(3(.a lebih la('*t. "a( mereka '*3a tidak disiapka( *(t*k me(3hasilka( l*kisa( seba3ai bara(3 se(i s*9e(ir6 wala*p*( s*dah c*k*p lama '*3a wisatawa( me(3i('akka( kaki(.a di *lele(3. Mema(3 mereka semata4mata dimi(ta mel*kis *(t*k kepe(ti(3a( il*strasi b*k* ata* ma'alah6 da( it*p*( ter(.ata tidak berla('*t.

"i desa :a3ara3a6 pada sisi l*ar tembok &*ra "alem6 terpahat relie5 de(3a( 3a.a .a(3 sama de(3a( l*kisa( di 1ed*(3 )ert.a6 .ait* realis4(ai5. ida(3 tembok terpe(*hi de(3a( tokoh .a(3 sa(3at ko(tras6 serdad* ela(da (aik :eep dihada(3 oleh /wale( da( Merdah6 terli(tas se;wadro( pesawat temp*r di atas wa.a(3 #r'*(a da( seba3ai(.a. %em*la ba(.ak ora(3 me(3ira bahwa tema relie5 terseb*t diambil dari pertemp*ra( .a(3 dahs.at pada &era(3 :a3ara3a .a(3 dipimpi( oleh &atih :ela(tik. &erkiraa( terseb*t tidak be(ar kare(a ada(.a pesawat temp*r .a(3 'elas bel*m ada. "alam b*k*(.a