52
DOSEN : SAAD ABDUH, S.Kep, M.Kes TUGAS : KMB II OLEH : KELOMPOK XII SAMNIAH NURMAYANTI ROSNA DANI KATA PENGANTAR 1

Saad abses paru

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Saad abses paru

DOSEN : SAAD ABDUH, S.Kep, M.Kes

TUGAS : KMB II

OLEH :

KELOMPOK XII

SAMNIAH

NURMAYANTI

ROSNA DANI

KATA PENGANTAR

1

Page 2: Saad abses paru

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat dan hidayahnya hingga penulis dapat merampungkan pembuatan makalah

yang berjudul

“ASUHAN KEPERAWATAN DENGANSALURAN PERNAFASAN BAWAH

(ABSES PARU)”

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah

mendukung dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Penyusun

menyadari bahwa dalam penulisan askep ini masih terdapat banyak kesalahan dan

kekurangan karena faktor batasan pengetahuan penyusun, maka penyusun dengan

senang hati menerima kritikan serta saran – saran yang bersifat membangun demi

kesempurnaan makalah ini ini.

Semoga hasil dari penyusunan makalah ini dapat dimanfaatkan bagi generasi

mendatang, khususnya mahasiswa D-III Akademi Keperawatan Pemerintah

Kabupaten Muna.

Akhir kata, melalui kesempatan ini penyusun makalah mengucapkan banyak

terima kasih.

Raha, februari 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

2

Page 3: Saad abses paru

KATAPENGANTAR...................................................................................

DAFTARISI..................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. LatarBelakang....................................................................................

B. Tujuan................................................................................................

C. Metode...............................................................................................

BABII KONSEP PENYAKIT ABSES PARU

A.Konsep penyakit ..................................................................................

B.konsep Askep ......................................................................................

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan........................................................................................

B. Saran..................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

3

Page 4: Saad abses paru

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Organ penting merupakan salah satu organ vital bagi kehidupan manusia.

Khususnya berfungsi pada sistem pernapasan manusia. Bertugas sebagai tempat

pertukaran oksigen yang dibutuhkan manusia dan mengeluarkan karbondioksida

yang merupakan hasil sisa proses pernapasan yang harus dikeluarkan dari tubuh,

sehingga kebutuhan tubuh akan oksigen tetap terpenuhi. Udara sangat penting

bagi manusia, tidak menhirup oksigen selama beberapa menit dapat menyebabkan

kematian. Itulah peranan penting paru-paru. Organ yang terletak di bawah tulang

rusuk ini memang mempunyai tugas yang berat, belum lagi semakin tercemarnya

udara yang kita hirup serta berbagai bibit penyakit yang berkeliaran di udara. Ini

semua dapat menimbulkan berbagai penyakit paru-paru

B. Tujuan

1. Mengetahui tentang definisi dari abses paru

2. Mengetahui Eteologi dari abses paru

3. Mengetahui klasifikasi dari abses paru

4. Mengetahui dampak terhadap berbagai sistem tubuh dari abses paru

5. Mengetahui patofisiologis dan penyimpangan KDM dari abses paru

6. Mengetahui tanda dan gejala dari abses paru

7. Mengetahui Prosedur diagnostik dari abses paru

8. Mengetahui menejemen medik dari abses paru

4

Page 5: Saad abses paru

9. Mengetahui Pengkajian, Diagnosa, Intervensi, dan Evaluasi dengan masalah

pada sistem pernafasan bawah

C. Metode Penulisan

Dalam memperoleh data atau informasi yang digunakan untuk penulisan

makalah ini, penyusun mengambil dari internet yang relevan dan berbagai kajian

pustaka dengan topik penulisan askep ini sebagai dasar untuk mengetahui dan

memperkuat teori yang digunakan.

BAB II

5

Page 6: Saad abses paru

PEMBAHASAN

A. KONSEP PENYAKIT

a. Pengertian

Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material

purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses

terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small

abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”.

Abses besar atau abses kecil mempunyai manifestasi klinik berbeda namun

mempunyai predisposisi yang sama dan prinsip diferensial diagnosea sama pula.

Abses timbul karena aspirasi benda terinfeksi, penurunan mekanisme pertahanan

tubuh atau virulensi kuman yang tinggi.

Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi

tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Pada

negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons

imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska

obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob

dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru.

b. Etiologi

6

Page 7: Saad abses paru

Pendapat dari Prof. dr. Hood Alsagaff (2006) tentang penyebab abses paru

sesuai dengan urutan frekuensi yang ditemukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya

adalah:

1. Infeksi yang timbul dari saluran nafas (aspirasi)

2. Sebagai penyulit dari beberapa tipe pneumonia tertentu

3. Perluasan abses subdiafragmatika

4. Berasal dari luka traumatik paru

5. Infark paru yang terinfeksi

Pravelensi tertinggi berasal dari infeksi saluran pernafasan,

mikroorganisme penyebab umumnya berupa campuran dari bermacam-macam

kuman yang berasal dari flora mulut, hidung, tenggorokan, termasuk kuman

aerob dan anaerob seperti Streptokok, Basil fusiform, Spirokaeta, Proteus, dan

lain-lain.

Finegold SM dan Fishman JA (1998) mendapatkan bahwa organisme

penyebab abses paru lebih dari 89% adalah kuman anaerob. Asher MI dan

Beadry PH (1990) mendapatkan bahwa pada anak-anak kuman penyebab abses

paru terbanyak adalah stapillococous aureus.

7

Page 8: Saad abses paru

Kuman penyebab Abses Paru menurut Asher MI dan Beadry PH (1990)

antara lain adalah sebagai berikut:

1. Staphillococcus aereus: Haemophilus influenzae types B, C, F, and

nontypable; Streptococcus viridans pneumoniae; Alpha-hemolytic

streptococci; Neisseria sp; Mycoplasma pneumoniae

2. Kuman Aerob: Haemophilus aphropilus parainfluenzae; Streptococcus

group B intermedius; Klebsiella penumonia; Escherichia coli, freundii;

Pseudomonas pyocyanea, aeruginosa, denitrificans; Aerobacter aeruginosa

Candida; Rhizopus sp; Aspergillus fumigatus; Nocardia sp; Eikenella

corrodens; Serratia marcescens

3. Sedangkan kuman Anaerob: Peptostreptococcus constellatus intermedius,

saccharolyticu;s Veillonella sp alkalenscenens;

Bacteroidesmelaninogenicus oralis, fragilis, corrodens, distasonis,

vulgatus ruminicola, asaccharolyticus Fusobacterium necrophorum,

nucleatum Bifidobacterium sp.

c. Klasifikasi

Berdasarkan jenis kelamin, abses paru lebih sering terjadi pada laki-laki

karena sering mengkonsumsi alkohol dan merokok. Abses paru mungkin terjadi

lebih sering pada pasien usia lanjut karena terjadinya penurunan fungsi paru.

8

Page 9: Saad abses paru

Namun, serangkaian kasus dari pusat perkotaan dengan prevalensi tinggi

alkoholisme melaporkan rata-rata penderita abses baru berusia 41 tahun.

Angka kejadian Abses Paru berdasarkan penelitian Asher et al tahun 1982

adalah 0,7 dari 100.000 penderita yang masuk rumah sakit hampir sama dengan

angka yang dimiliki oleh The Children’s Hospital of eastern ontario Kanada

sebesar 0,67 tiap 100.000 penderita anak-anak yang MRS. Dengan rasio jenis

kelamin laki-laki banding wanita adalah 1,6 : 1.

Angka kematian yang disebabkan oleh Abses paru terjadi penurunan dari 30 –

40 % pada era preantibiotika sampai 15 – 20 % pada era sekarang.

d. Patofisiologi Dan Penyimpangan KDM

a. Patofisiologi

Abses paru terjadi karena bakteri atau kuman yang masuk pada saluran

pernapasan sehingga terjadinya obstruksi dan daya tahan pada saluran

pernapasan terganggu.Bakteri dan kuman  mengadakan miltiplikasi sehingga

terjadi peradangan pada bronkus dan menyebar ke parenkim paru

menyebabkan edema trakeal atau faringeal dan terjadi peningkatan produksi

secret (batuk produktif), sesak napas, dan penurunan kemampuan batuk

efektif sehingga timbul masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas.

Selain itu juga peradangan pada bronkus yang menyebar ke parenkim

paru dapat membentuk jaringan granulasi di paru.sehingga pembentukan pus

dan drainase tidak memadai menyebabkan jaringan efektif paru atau

9

Page 10: Saad abses paru

kerusakan membran alveolar kapiler dan gangguan sesak napas, pengguanaan

otot bantu napas, pola napas tidak efektif sehingga timbul gangguan

pertukaran gas di paru.

Pembentukan pus dan drainase tidak memadai  dapat menimbulkan

reaksi sistemis karena bakteri menyebabkan penurunan berat badan sedangkan

laju metabolisme meningkat, anoreksia dan intake nutrisi tidak adekuat

sehingga makin kurus sehingga timbul gangguan ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh.

b. Penyimpangan KDM

Adanya mikrorganisme penyebab infeksi

Masuk ke perenkim paru

inflamasi

Lesi

Lesi membentuk ruang

Abses paru

10

Page 11: Saad abses paru

e. Tanda Dan Gejala

Gejala klinis yang ada pada abses paru hampir sama dengan gejala pneumonia

pada umumnya yaitu:

1. Panas badan

Dijumpai berkisar 70% - 80% penderita abses paru. Kadang dijumpai dengan

temperatur > 400C.

2. Batuk, pada stadium awal non produktif. Bila terjadi hubungan rongga

abses dengan bronkus batuknya menjadi meningkat dengan bau busuk

yang khas (Foetor ex oroe)

3. Produksi sputum yang meningkat dan Foetor ex oero dijumpai berkisar 40

– 75% penderita abses paru.

4. Nyeri yang dirasakan di dalam dada

5. Batuk darah

6. Gejala tambahan lain seperti lelah, penurunan nafsu makan dan berat

badan.

Pada pemeriksaan dijumpai tanda-tanda proses konsolidasi seperti redup pada

perkusi, suara nafas yang meningkat, sering dijumpai adanya jari tabuh serta

takikardi.

11

Page 12: Saad abses paru

f. Prosedur Diagnostik

1. Laboratorium

a. Pada pemeriksaan darah rutin. Ditentukan leukositosis, meningkat lebih

dari 12.000/mm3 bahkan pernah dilaporkan peningkatan sampai dengan

32.700/mm3. Laju endap darah ditemukan meningkat > 58 mm / 1 jam.

b. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan gram tahan asam dan KOH

merupakan pemeriksaan awal untuk menentukan pemilihan antibiotik

secara tepat.

c. Pemeriksaan kultur bakteri dan test kepekaan antibiotika merupakan cara

terbaik dalam menegakkan diagnosa klinis dan etiologis serta tujuan

therapi.

d. Pemeriksaan AGD menunjukkan penurunan angka tekanan O2 dalam

darah arteri

2. Radiologi

Pada foto thorak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda

konsolidasi disekelilingnya. Kavitas ini bisa multipel atau tunggal dengan

ukuran f 2 – 20 cm. Gambaran ini sering dijumpai pada paru kanan lebih dari

paru kiri.

Bila terdapat hubungan dengan bronkus maka didalam kavitas terdapat Air

fluid level. Tetapi bila tidak ada hubungan maka hanya dijumpai tanda-tanda

konsolidasi. Sedangkan gambaran khas CT-Scan abses paru ialah berupa Lesi

12

Page 13: Saad abses paru

dens bundar dengan kavitas berdinding tebal tidak teratur dan terletak di

daerah jaringan paru yang rusak.

Tampak bronkus dan pembuluh darah paru berakhir secara mendadak pada

dinding abses, tidak tertekan atau berpindah letak. Sisa-sisa pembuluh darah

paru dan bronkhus yang berada dalam abses dapat terlihat dengan CT-Scan,

juga sisa-sisa jaringan paru dapat ditemukan di dalam rongga abses.

Lokalisasi abses paru umumnya 75% berada di lobus bawah paru kanan

bawah.

3. Bronkoskopi

Fungsi Bronkoskopi selain diagnostik juga untuk melakukan therapi drainase

bila kavitas tidak berhubungan dengan bronkus.

g. Menejemen Medik

Penatalaksanaan Abses paru harus berdasarkkan pemeriksaan mikrobiologi

dan data penyakit dasar penderita serta kondisi yang mempengaruhi berat

ringannya infeksi paru. Ada beberapa modalitas terapi yang diberikan pada abses

paru :

1. MedikaMentosa

Pada era sebelum antibiotika tingkat kematian mencapai 33%, pada era

antibiotika maka tingkat kematian dan prognosa abses paru menjadi lebih

13

Page 14: Saad abses paru

baik. Pilihan pertama antibiotika adalah golongan Penicillin, pada saat ini

dijumpai peningkatan abses paru yang disebabkan oleh kuman anaerobs (lebih

dari 35% kuman gram negatif anaerob).

Maka bisa dipikirkan untuk memilih kombinasi antibiotika antara golongan

penicillin G dengan clindamycin atau dengan Metronidazole, atau kombinasi

clindamycin dan Cefoxitin. Alternatif lain adalah kombinasi Imipenem

dengan ß Lactamase inhibitase pada penderita dengan pneumonia nosokomial

yang berkembang menjadi Abses paru.

Waktu pemberian antibiotika tergantung dari gejala klinis dan respon

radiologis penderita. Penderita diberikan terapi 2-3 minggu setelah bebas

gejala atau adanya resolusi kavitas, jadi diberikan antibiotika minimal 2-3

minggu.

2. Drainage

Drainase postural dan fisiotherapi dada 2-5 kali seminggu selama 15 menit

diperlukan untuk mempercepat proses resolusi Abses paru. Pada penderita

Abses paru yang tidak berhubungan dengan bronkus maka perlu

dipertimbangkan drainase melalui bronkoskopi.

3. Bedah

Reseksi segmen paru yang nekrosis diperlukan bila:

1. Respon yang rendah terhadap therapi antibiotika.

14

Page 15: Saad abses paru

2. Abses yang besar sehingga mengganggu proses ventilasi perfusi

3. Infeksi paru yang berulang

4. Adanya gangguan drainase karena obstruksi

15

Page 16: Saad abses paru

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Biodata

Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status, suku/bangsa,

diagnosa, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no. medical record, dan

alamat.

Identitas penanggung jawab

Meliputi nama, umur, alamat, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, dan

hubungan dengan klien.

Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan sekarang

RSMRS

- Kaji apakah klien sebelum masuk rumah sakit memiliki riwayat

penyakit yang sama ketika klien masuk rumah sakit.

Keluhan utama : Nyeri

Riwayat keluhan utama

P : adanya punumpukan cairan nanah dalam dada

Q : hilang timbul

R : pada bagian dada

S : 3 (0-5)

T : saat beraktifitas

Riwayat kesehatan dahulu

16

Page 17: Saad abses paru

- Kaji apakah klien pernah menderita riwayat penyakit yang sama

sebelumnya.

- Kaji apakah klien pernah mengalami riwayat alergi obat-obatan ataupun

makanan

1. aktifitas atau istirahat

Gejala:klien tidak mampu melakukan aktifitas karena badany terasa lemah

Tanda:klien Nampak lemah

2. sirkulasi

Tanda:takikardi.

3. Pernapasan

Gejala:klien mengatakan sulit bernafas dan batuk .

Tanda:

klien Nampak sesak napas

batuk produktif dengan sputum kuning kehijauan dan berbau

amis.

4. integritas ego

Gejala :

klien mengatakan stress pada penyakitnya.

Tanda:

gelisah

5. nyeri atau kenyamanan

17

Page 18: Saad abses paru

Gejala:

klien mengatakan nyeri pada dadanya.

Tanda:

klien memegang daerah yang nyeri

klien memegang daerah yang nyeri

6. makanan atau cairan

Gejala:

klien mengatakan nafsucmakanya menurun dan mual.

Tanda:

penurunan berat badan.

porsi makan tidak dihabiskan.

7. Neurosensori

Tanda:

perubahan mental.

8. Keamanan

Gejala:

klien mengatakan demam

Tanda:

peningkatan suhu tubuh

18

Page 19: Saad abses paru

9. seksualitas

Gejala:

penurunan minat melakukan hubungan seks

10. hygiene

Gejala:

klien mengatakan tidak mampu melakukan perawatan diri

Tanda:

klien Nampak kusam

11. penyuluhan dan pembelajaran

Gejala:

klien mengatakan kurang mengetahui tentang penyakitnya dan

penangananya

Tanda:

klien kurang mengetahui tentang penyakitnya.

klien Nampak bingung bila ditanya tentang penyakitnya

b. klasifikasi data

Data subjektif

i. klien mengatakan sulit bernafas dan batuk

ii. Klien Nampak memegang dadanya saat nyeri

19

Page 20: Saad abses paru

iii. klien mengatakan nyeri pada dadanya

iv. Klien mengatakan nafsu makanya menurun dan mual

v. klien mengatakan stress pada penyakitnya

vi. klienmengatakan kurang mampu melakukan perawatan diri karena badanya

lemah

Data objekti

- Nampak sesak nafas

- batuk produktif dengan sputum kuning kehijauan dan bau amis

- suhu tubuh meningkat

- nampak meringis

- penurunan berat badan

- klien Nampak lemah

- klien Nampak kusam

- porsi makan tidak dihabiskan

20

Page 21: Saad abses paru

b. .Analisa data

Syimptom Etiologi problem

DS:klien mengatakan sulit

bernafas dan batuk

DO:-Nampak sesak nafas

-batuk produktif dengan

sputum kuningn

kehijauan dan bau amis

Adanya faktor penyebab

(abses paru)

Inflamasi paru

Adaya edema trakea

(faringel)

Peningkatan produksi

sekret

Ketidak efektifan jalan

nafas

Ketidak efektifan

Bersihan jalan

nafas

DS:- klien mengatakan nyeri

pada dada

DO:- Klien Nampak

memegang dadanya saat

nyeri

-nampak meringis

Adanya faktor penyebab

(abses paru)

Inflamasi parenkim paru

Adanya abses paru dekat

Gangguan rasa

nyaman nyeri

21

Page 22: Saad abses paru

- skala : 3 (0-5) pleura

terjadi pergesekan antara

pleura parietaldan visceral

saat respirasi

impuls diteruskan di

korteks cerebri

nyeri dipersepsikan

DS:- klien mengatakan

demam

Do:- suhu tubuh meningkat

Adanya faktor penyebab

(abses paru)

Adanya infeksi perenkim

paru

Inflamasi perenkim paru

terjadi reaksi tubuh

terhadap infeksi

Hipertermi

22

Page 23: Saad abses paru

Peningkatan suhu tubuh

Gangguan keseimbangan

suhu tubuh (hipertermi)

DS: - Klien mengatakan

nafsu makanya

menurun dan mual

DO:- penurunan berat badan

-porsi makan tidak

dihabiskan

Faktor penyebab

Adanya sputum yang

berbau amis dan rasa

sputum saat batuk

produktif

Anoreksia dan mual

Intake tidak adekuat

Nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh

Nutrisi kurang

dari kebutuhan

tubuh

23

Page 24: Saad abses paru

DS:-klien mengatakan stress

pada penyakitnya

DO:- gelisah

-perubahan

mental(bingung)

Adanya faktor penyebeb

Perubahan status

kesehatan

Klien kurang terpapar

informasi tentang

penyakitnya

Kurang pengetahuan

Ansietas

ansietas

c. Prioritas Masalah

1.bersihan jalan nafas tidak efektif

2.gangguan rasa nyaman nyeri

3.hipertermi

4.gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

5. ansietas

24

Page 25: Saad abses paru

B. Diagnosa keperawatan

1.bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sputum

2.gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya abses paru

3.hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi

4.nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

5. ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

C. intervensi

Dx Tujuan intervensi Rasional

1. Tupan:setelah a.berikan petunjuk a.dengan batuk efektifdapat

25

Page 26: Saad abses paru

diberikan tikep

selama 7 hari

bersihan jalan

nafas efektif

Tupan: setelah

diberikan tikep

selama 2 hari

bersihan jalan

nafas berangsur-

angsur membaik

dengan criteria:

-klien dapat

bernafas dengan

baik

-.sputum berkurang

kepada klien untuk

batuk efektif

b.berikan minum hangat

c.beri o2 dengan nasal

kanul sesuai resep

d.kolaborasi dengan tim

medis dalam pemberian

obat

antibiotic,ekspetoran

melancarkan bersihan jalan

nafas alami

b. cairan dapat

memobilisasi dan

mengeluarkan secret

c.memberikan bantuan

pernafasan bagi pasien agar

bernafas dengan baik

d.antibiotik dapat

membunuh

mikroorganisme penyakit

dan ekspetoran

mengencerkan dahak

2 Tupan:setelah

diberikan tikep

selama 5 nyeri

dapat hilang

Tupen: setelah

a.ajarkan tehnik

distraksi Pada klien

b.anjurkan tehnik

relaksasi dan nafas

dalam

a.tehnik distraksi dapat

menghilangkan perhatian

pasien pada nyeri

b tehnik relaksasi dan nafas

dalam mengurangi nyeri

26

Page 27: Saad abses paru

diberikan tikep

selama 2 hari

nyeri berkurang

dengan kriteria

-klien tidak

mengeluh nyeri

-wajah klien

tenang

c.atur posisi yang

nyaman pada klien

d.kolaborasi dengan

medis dalam pemberian

obat analgesik

c.posisi nyaman dapat

memberikan rasa

kenyamanan pada klien

d.analgesik dapat menekan

pusat nyeri

3. Tupan:setelah

diberikan tikep

selama 2 hari suhu

tubuh kembali

normal

Tupen: setelah

diberikan tikep

selama 1 hari

peningkatan suhu

tubuh berangsur-

angsur menurun

dengan kriteria

a. berikan kompres

mandi hangat

b.kolaborasi dengan

medis dalam pemberian

obat anti piretik

a.kompres mndi hangat

dapat membantu

mengurangi demam

b.antipiretik dapat

mengurangi demam

27

Page 28: Saad abses paru

-klien tidak

mengeluh demam

-suhu tubuh 36-

37C

4. Tupan:setelah

diberikan tikep

selama 3 hari

kebutuhan nutrisi

dapat terpenuhi

Tupen: setelah

diberikan tikep

selama 2 hari

nutrisi dapat

terpenuhi dengan

criteria

-nafsu makan baik

-porsi makan

dihabiskan

a.pantau kebiasaan diit

pasien

b.berikan makanan

berfariasi dan sesuai

dengan kesukan klien

c.berikan makanan porsi

kecil hangat dan

menarik

Tupan:setelah

diberikan tikep

a.bina hubungan saling

percaya antara pasien

a.hubungan saling percaya

menurunkan kecemasan

28

Page 29: Saad abses paru

selama 2 hari

aansietas dapat

teratasi

Tupen: setelah

diberikan tikep

selama 1 hari

ansietas berkurang

dengan kriteria

-klien tidak gelisah

-klien tidak

bingung dan tidak

stres

dan perawat

b.bantu pasien untuk

mengungkap

kecemasanya secara

sportif

c.berikan penjelasan

tentang penyakitnya

dengan kesembuhanya

klien

b.mengungkapkan perasaan

dapat mengurangi

kecemasan

c.penjelasan tentang

penyakit dan kesembuhan

dapat mengurangi

kecemasan

d.berikan pujian dapat

memberikan motifasi dan

mengurangi atau

menghilangkan kecemasan

1. Implementasi dan Evaluasi

Diagnosa Implementasi Evaluasi

a.memberikan petunjuk kepada S : klien mengatakan pola

29

Page 30: Saad abses paru

Bersihan jalan

nafas tidak efektif

berhubungan

dengan

peningkatan

sputum

klien untuk batuk efektif

hasil :

- Klien kooperatif

b.memberikan minum hangat

hasil :

- Klien merasa lega

saat bernafas

c.memberikan o2 dengan nasal

kanul sesuai resep

hasil :

- Klien dapat bernafas

secara efektif

d.berkolaborasi dengan tim

medis dalam pemberian obat

antibiotic,ekspetoran

hasil :

- Gliseril guayakolat

nafas berangsur-

angsur membaik

O : tampak produksi

sputum berkurang

A : masalah sebagian

teratasi

P : persepsi di lanjutkan

Gangguan rasa

nyaman nyeri

berhubungan

a.mengajarkan tehnik distraksi

Pada klien

hasil :

S : klien mengatakan nyeri

berkurang saat batuk

O : klien nampak tenang

30

Page 31: Saad abses paru

dengan adanya

abses paru

- Klien kooperatif

b.meng anjurkan tehnik

relaksasi dan nafas dalam

hasil :

- Klien kooperatif

c.mengatur posisi yang

nyaman pada klien

hasil :

- Klien merasa

nyaman

d.berkolaborasi dengan medis

dalam pemberian obat

analgesic

hasil :

- Ketorolac

saat batuk, skala 2 (0-5)

A : masalah sebagain

teratasi

P : intervensi dilanjutkan

Hipertermi

berhubungan

dengan proses

inflamasi

a. memberikan kompres mandi

hangat

hasil :

- Klien merasa

S : klien mengatakan

panasnya sudah menurun

O : suhu tubuh 37 derajad

A : masalah teratasi

31

Page 32: Saad abses paru

nyaman

b.berkolaborasi dengan medis

dalam pemberian obat anti

piretik

hasil :

-

P : intevensi di

pertahankan

Nutrisi kurang

dari kebutuhan

tubuh

a.memantau kebiasaan diit

pasien

hasil :

- klien makan secara

teratur

b.memberikan makanan

berfariasi dan sesuai dengan

kesukan klien

hasil :

- klien nampak makan

S :klien mengatakan nafsu

makanya membaik

O : porsi makan di

habiskan

A : masalah teratasi

P : intervensi di

pertahankan

Ansietas

berhubungan

a.membina hubungan saling

percaya antara pasien dan

S : klien mengatakan sudah

tidak cemas lagidengan

32

Page 33: Saad abses paru

dengan kurangnya

pengetahuan

perawat

hasil :

- klien nampak

percaya diri

b.membantu pasien untuk

mengungkap kecemasanya

secara sportif

hasil :

- klien nampak

terbuka dengan

penyakitnya

c.memberikan penjelasan

tentang penyakitnya dengan

kesembuhanya

hasil :

- klienkooperativ

penyakinya

O : klien nampak tenang

A : masalah teratasi

P : intervensi di

pertahankan

33

Page 34: Saad abses paru

BAB III

PENUTUP

B. kesimpulan

Abses paru adalah suatu kavitas dalam jaringan paru yang berisi material

purulent berisikan sel radang akibat proses nekrotik parenkim paru oleh proses

terinfeksi. Bila diameter kavitas < 2 cm dan jumlahnya banyak (multiple small

abscesses) dinamakan “necrotising pneumonia”.

Pada umumnya kasus Abses paru ini berhubungan dengan karies gigi, epilepsi

tak terkontrol, kerusakan paru sebelumnya dan penyalahgunaan alkohol. Pada

negara-negara maju jarang dijumpai kecuali penderita dengan gangguan respons

imun seperti penyalahgunaan obat, penyakit sistemik atau komplikasi dari paska

obstruksi. Pada beberapa studi didapatkan bahwa kuman aerob maupupn anaerob

dari koloni oropharing yang sering menjadi penyebab abses paru

C. saran

Dalam penulisan askep ini masih kurang dari kesempurnaan karena kurangnya

referensi yang kami dapatkan. Jadi, kritik dan saran yang sifatnya membangun

khususnya dari dosen pembimbing maupun dari rekan-rekan pembaca sangat

kami harapkan untuk kesempurnaan askep ini kedepannya.

34

Page 35: Saad abses paru

DAFTAR PUSTAKA

1. Doenges, Marilynn E; 1999; Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk

perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien; Edisi ke-3 Penerbit

buku kedokteran EGC, Jakarta

2. Finegold SM, Fishman JA; 1998; Empyema and lung Abcess; in Fishman’s

Pulmonary Diseases and Disorders 3rded; Philadelphia

3. http://blognyanaghperawat.blogspot.com/2012/01/asuhan-keperawatan-abses-

paru.html

4. http://wwwdagul88.blogspot.com/2011/02/askep-abses-paru.html

5. http://areamahasiswarantau.blogspot.com/2012/06/asuhan-keperawatan-abses-paru.html

35

Page 36: Saad abses paru

36