14
Lansia sangat rentan terhadap konsekuensi fisiologis dan psikologis dari imobilitas, perubahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini imobilitas mempengaruhi tubuh yang telah terpengaruh sebelumnya. Kompetensi fisik seseorang lansia mungkin berada atau dekat dengan tingkat ambang batas untuk aktivitas mobilitas tertentu. Perubahan lebih lanjut atau kehilangan dari imobilitas dapat membuat seseorang menjadi tergantung. Keuntungan latihan secara teratur untuk lansia termasuk memperlambat proses penuaan, memperpanjang usia. Fungsi kardiovaskular yang lebih baik dan peningkatan perasaan sejahtera. Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal a. Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. b. Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. 2. Pencegahan sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dikurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal diri suatu pengertian tentang berbagai faktor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. 3. Pencegahan tersier Upaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang ahli gizi, aktivitas sosial, dan keluarga serta teman-teman

risiko jatuh

Embed Size (px)

DESCRIPTION

keperawwatan

Citation preview

Lansia sangat rentan terhadap konsekuensi fisiologis dan psikologis dari imobilitas, perubahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini imobilitas mempengaruhi tubuh yang telah terpengaruh sebelumnya.Kompetensi fisik seseorang lansia mungkin berada atau dekat dengan tingkat ambang batas untuk aktivitas mobilitas tertentu. Perubahan lebih lanjut atau kehilangan dari imobilitas dapat membuat seseorang menjadi tergantung. Keuntungan latihan secara teratur untuk lansia termasuk memperlambat proses penuaan, memperpanjang usia. Fungsi kardiovaskular yang lebih baik dan peningkatan perasaan sejahtera.Pencegahan primerPencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonala.Pengembangan program latihanProgram latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan.b.KeamananKetika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan.2. Pencegahan sekunderSpiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dikurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal diri suatu pengertian tentang berbagai faktor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan.3.Pencegahan tersierUpaya-upaya rehabilitasi untuk memaksimalkan mobilitas bagi lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat, dokter, ahli fisioterapi, dan terapi okupasi, seorang ahli gizi, aktivitas sosial, dan keluarga serta teman-teman

jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai / tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka ( Reuben, 1996 ).Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor berperan di dalamnya, baik faktor intrinsic dalam diri lansia tersebut seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope dan dizzines, serta faktor ekstrinsik seperti lantai yang licin dan tidak rata, tersandung benda benda, penglihatan kurang karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:a.Sistem sensoriYang berperan di dalamnya adalah: visus ( penglihatan ), pendengaran, fungsi vestibuler, dan proprioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karpena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses manua. Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif(Tinetti, 1992). Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir sepertiga penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.b.Sistem saraf pusat ( SSP )SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal, sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik ( Tinetti, 1992).c.KognitifPada beberapa penelitian, dementia diasosiasikan dengan meningkatkan risiko jatuh.d.Muskuloskeletal ( Reuben, 1996; Tinetti, 1992; Kane, 1994; Campbell, 1987; Brocklehurs, 1987 ).Faktor ini disebutkan oleh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguanmuskuloskeletal. Menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh:1. Kekakuan jaringan penghubung2. Berkurangnya massa otot3. Perlambatan konduksi saraf4. Penurunan visus / lapang pandangYang kesemuanya menyebabkan:1. Penurunan range of motion ( ROM ) sendi2. Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah3. Perpanjangan waktu reaksi4. Kerusakan persepsi dalam5. Peningkatan postural sway ( goyangan badan )Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah / terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpleset, tersandung, kejadian tiba tiba, sehingga memudahkan jatuh.FAKTORFAKTOR LINGKUNGAN YANG SERING DIHUBUNGKAN DENGAN RESIKO JATUHPADA LANSIA1. Alat alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah2. tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok3. tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang4. Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun5. Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser6. Lantai yang licin atau basah7. Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan)8. Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.

AKTOR FAKTOR SITUASIONAL YANG MUNGKIN MEMPRESIPITASI JATUH ANTARA LAIN : ( Reuben, 1996; Campbell, 1987 )1. AktivitasSebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya sedikit sekali ( 5% ), jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki gunung atau olahraga berat. Jatuh juga sering terjadi pada lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak. Jatuh juga sering terjadi pada lansia yang imobil ( jarang bergerak ) ketika tiba tiba dia ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.2. LingkunganSekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda perlengkapan rumah tangga, lantai yang licin atau tak rata, penerangan ruang yang kurang3. Penyakit AkutDizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak nafas akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba tiba pada penderita penyakit jantung iskenmik, dan lain lain.H. KOMPLIKASIJatuh pada lansia menimbulkan komplikasi komplikasi seperti : ( Kane, 1994; Van der Cammen, 1991 )1. Perlukaan ( injury )a. Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri / venab. Patah tulang ( fraktur ) : Pelvis, Femur ( terutama kollum ), humerus, lengan bawah, tungkai bawah, kistac. Hematom subdural2. Perawatan rumah sakita. Komplikasi akibat tidak dapat bergerak ( imobilisasi )b. Risiko penyakit penyakit iatrogenik3. Disabilitasa. Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisikb. Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan pembatasan gerak4. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan ( nursing home )5. MatiI. PENCEGAHANUsaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : ( Tinetti, 1992; Van der Cammen, 1991; Reuben, 1996 )1. Identifikasi faktor resikoPada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor intrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari / menyebabkan jatuh.Keadaan leingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yangsudah tidak aman ( lapuk, dapat bergeser sendiri ) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan / tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.Obat obatan yang menyebabkanhipotensi postural, hipoglikemik atau penurunan kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan dengan penjelasan yang komprehensif pada lansia dan keluargannya tentang risiko terjadinya jatuh akibat minum obat tertentu.Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.2. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan ( gait )Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan ( gait ) juga harus dilakukan dengan cermat apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan / penurunan.3. Mengatur / mengatasi fraktur situasionalFaktor situasional yang bersifat serangan akut / eksaserbasi akut, penyakit yang dideriata lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

JatuhJatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor berperan di dalamnya, baik faktor intrinsic dalam diri lansia tersebut seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope dan dizzines, serta faktor ekstrinsik seperti lantai yang licin dan tidak rata, tersandung benda benda, penglihatan kurang karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.The International Classification of Disease (ICD 9) mendefinisikan jatuh sebagai kejadian yag diharapka dimana seseorang terjatuh dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah dengan atau tempat yang sama tingginya( Masud, Morris, 2006).King, mendefinisikan jatuh sebagai kejadian yang tidak disadari oleh seseorang yang terduduk di lantai/tanah atau tampat yang lebih rendah tanpa disebabkan oleh hilangnya kesadaran, stroke, atau kekuatan yang berlebihan(King, 2004).

B. FAKTOR RESIKOUntuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:1. Sistem sensorikYang berperan di dalamnya adalah: visus ( penglihatan ), pendengaran, fungsi vestibuler, dan proprioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menimbulkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karpena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses manua. Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi proprioseptif ( Tinetti, 1992 ). Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hampir sepertiga penderita lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.

2. Sistem saraf pusat ( SSP )

SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal, sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik ( Tinetti, 1992 ).

3.Kognitif

Pada beberapa penelitian, dementia diasosiasikan dengan meningkatkan risiko jatuh.

4.Muskuloskeletal ( Reuben, 1996; Tinetti, 1992; Kane, 1994; Campbell, 1987; Brocklehurs, 1987 ).

Faktor ini disebutkan oleh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan muskuloskeletal. Menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis.

Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh:a.Kekakuan jaringan penghubung.b.Berkurangnya massa otot.c.Perlambatan konduksi saraf.d.Penurunan visus / lapang pandang.e.Kerusakan proprioseptif

Yang kesemuanya menyebabkan:a.Penurunan range of motion ( ROM ) sendi.b.Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah.c.Perpanjangan waktu reaksi.d.Kerusakan persepsi dalam.e.Peningkatan postural sway ( goyangan badan )

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah / terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpleset, tersandung, kejadian tiba tiba, sehingga memudahkan jatuh.

C.PENYEBAB PENYEBAB JATUH PADA LANSIAPenyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor, antara lain: ( Kane, 1994; Reuben , 1996; Tinetti, 1992; campbell, 1987; Brocklehurs, 1987 ).a.Kecelakaan :Merupakan penyebab jatuh yang utama ( 30 50% kasus jatuh lansia ), Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung.Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan kelainan akibat proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda benda yang ada di rumah tertabrak, lalu jatuh, nyeri kepala dan atau vertigo, hipotensi orthostatic, hipovilemia / curah jantung rendah, disfungsi otonom, penurunan kembalinya darah vena ke jantung, terlalu lama berbaring, pengaruh obat-obat hipotensi, hipotensi sesudah makanb.Obat obatan1.Diuretik / antihipertensi.Antidepresen trisiklik.2.Sedativa.3.Antipsikotik.4.Obat obat hipoglikemia.5.Alkoholc. Proses penyakit yang spesifik

Penyakit penyakit akut seperti :1.Kardiovaskuler : aritmia.2.Stenosis aorta.3.Sinkope sinus carotis.4.Neurologi : TIA.5.Stroke.6.Serangan kejang.7.Parkinson.8.Kompresi saraf spinal karena spondilosis.9.Penyakit serebelumd. Idiopatik ( tak jelas sebabnya)e. Sinkope : kehilangan kesadaransecara tiba-tiba.1.Drop attack ( serangan roboh )Penurunan darah ke otak secara tiba tiba.2.Terbakar matahari.

D.FAKTOR-FAKTOR RESIKO JATUH PADA LANSIA DIBAGI DALAM 2 GOLONGAN BESAR, yaitu (Kane, 1994)Faktor faktorresiko jatuh pada lansia dibagi dalam 2 golonga besar, yaitu:

1.Faktor IntrinsikFaktor instrinsik dapat disebabkan oleh proses penuaan dan berbagai penyakit sepertiStroke dan TIA yang mengakibatkan kelemahan tubuh sesisi , Parkinson yang mengakibatkan kekakuan alat gerak, maupun Depresi yang menyebabkan lansia tidak terlalu perhatian saat berjalan . Gangguan penglihatan pun seperti misalnya katarak meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Gangguan sistem kardiovaskuler akan menyebabkan syncope, syncope lah yang sering menyebabkan jatuh pada lansia.Jatuh dapat juga disebabkan oleh dehidrasi. Dehidrasi bisa disebabkan oleh diare, demam, asupan cairan yang kurang atau penggunaan diuretik yang berlebihan.

2.EkstrinsikAlat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua atau tergeletak di bawah,tempat tidur tidak stabil atau kamar mandi yang rendah dan tempat berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dipegang, lantai tidak datar, licin atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser,lantai licin atau basah, penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan), alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.

E.FAKTOR FAKTOR LINGKUNGAN YANG SERING DIHUBUNGKAN DENGAN KECELAKAAN PADA LANSIA.

1.Alat alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di bawah.2.Tempat tidur atau WC yang rendah / jongkok.3.Tempat berpegangan yang tidak kuat / tidak mudah dipegang.4.Lantai yang tidak datar baik ada trapnya atau menurun.5.Karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal / menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser.6.Lantai yang licin atau basah.7.Penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan).8.Alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.

F.FAKTOR FAKTOR SITUASIONAL YANG MUNGKIN MEMPRESIPITASIJATUH ANTARA LAIN : ( Reuben, 1996; Campbell, 1987 )

1. AktivitasSebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya sedikit sekali ( 5% ), jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki gunung atau olahraga berat. Jatuh juga sering terjadi pada lansia dengan banyak kegiatan dan olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak. Jatuh juga sering terjadi pada lansia yang imobil ( jarang bergerak ) ketika tiba tiba dia ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.

2. LingkunganSekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda perlengkapan rumah tangga, lantai yang licin atau tak rata, penerangan ruang yang kurang

3. Penyakit AkutDizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak nafas akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba tiba pada penderita penyakit jantung iskenmik, dan lain lain.

G.KOMPLIKASIJatuh pada lansia menimbulkan komplikasi komplikasi seperti : ( Kane, 1994; Van der Cammen, 1991 ).

1.Perlukaan ( injury ).a.Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri / vena.b.Patah tulang ( fraktur ) : Pelvis, Femur ( terutama kollum ), humerus, lengan bawah, tungkai bawah, kista.c.Hematom subdural

2.Perawatan rumah sakit.a.Komplikasi akibat tidak dapat bergerak ( imobilisasi ).b.Risiko penyakit penyakit iatrogenik

3. Disabilitasa. Penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik.b.Penurunan mobilitas akibat jatuh, kehilangan kepercayaan diri, dan pembatasan gerak4. Resiko untuk dimasukkan dalam rumah perawatan ( nursing home )5. Mati

H. PENCEGAHANPencegahan dilakukan berdasar atas faktor resiko apa yang dapat menyebabkan jatuh seperti faktor neuromuskular, muskuloskeletal, penyakit yang sedang diderita, pengobatan yang sedang dijalani, gangguan keseimbangan dan gaya berjalan, gangguan visual, ataupun faktor lingkungan.dibawah ini akan di uraikan beberapa metode pencegahan jatuh pada orang tua :

1. Latihan fisik Latihan fisik diharapkan mengurangi resiko jatuh dengan meningkatkan kekuatan tungkai dan tangan, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, dan meningkatkan reaksi terhadap bahaya lingkungan, latihan fisik juga bisa mengurangi kebutuhan obat-obatan sedatif. Latihan fisik yang dianjurkan yang melatih kekuatan tungkai, tidak terlalu berat dan semampunya, salah satunya adalah berjalan kaki.(1,4,5,6)

2. Managemen obat-obatanGunakan dosis terkecil yang efektif dan spesifik di antara:1. Perhatikan terhadap efek samping dan interaksi obat2. Gunakan alat bantu berjalan jika memang di perlukan selama pengobatan3. Kurangi pemberian obat-obatan yang sifatnya untuk waktu lama terutama sedatif dan tranquilisers4. Hindari pemberian obat multiple (lebih dari empat macam) kecuali atas indikasi klinis kuat5. Menghentikan obat yang tidak terlalu diperlukan3. Modifikasi lingkunganAtur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk menghindari pusing akibat suhu di antara:1. Taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan berada dalam jangkauan tanpa harus berjalan dulu2. Gunakan karpet antislip di kamar mandi.3. Perhatikan kualitas penerangan di rumah.4. Jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk melintas.5. Pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu tambahan untuk daerah tangga.6. Singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari jalan yang biasa untuk melintas.7. Gunakan lantai yang tidak licin.8. Atur letak furnitur supaya jalan untuk melintas mudah, menghindari tersandung.9. Pasang pegangan tangan ditempat yang di perlukan seperti misalnya di kamar mandi.4.Memperbaiki kebiasaan pasien lansia misalnya :1. Berdiri dari posisi duduk atau jangkok jangan terlalu cepat.2. Jangan mengangkat barang yang berat sekaligus.3. Mengambil barang dengan cara yang benar dari lantai.4. Hindari olahraga berlebihan.5.Alas kakiPerhatikan pada saat orang tua memakai alas kaki:1. Hindari sepatu berhak tinggi, pakai sepatu berhak lebar2. Jangan berjalan hanya dengan kaus kaki karena sulit untuk menjaga keseimbangan3. Pakai sepatu yang antislip6. Alat bantu jalanTerapi untuk pasien dengan gangguan berjalan dan keseimbangan difokuskan untuk mengatasi atau mengeliminasi penyebabnya atau faktor yang mendasarinya.1. Penggunaannya alat bantu jalan memang membantu meingkatkan keseimbangan, namun di sisi lain menyebabkan langkah yang terputus dan kecenderungan tubuh untuk membungkuk, terlebih jika alat bantu tidak menggunakan roda., karena itu penggunaan alat bantu ini haruslah direkomendasikan secara individual.2. Apabila pada lansia yang kasus gangguan berjalannya tidak dapat ditangani dengan obat-obatan maupun pembedahan. Oleh karena itu, penanganannya adalah dengan alat bantu jalan seperti cane (tongkat), crutch (tongkat ketiak) dan walker. (Jika hanya 1 ekstremitas atas yang digunakan, pasien dianjurkan pakai cane. Pemilihan cane type apa yang digunakan, ditentukan oleh kebutuhan dan frekuensi menunjang berat badan. Jika ke-2 ekstremitas atas diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan tidak perlu menunjang berat badan, alat yang paling cocok adalah four-wheeled walker. Jika kedua ekstremitas atas diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan menunjang berat badan, maka pemilihan alat ditentukan oleh frekuensi yang diperlukan dalam menunjang berat badan.7.Periksa fungsi penglihatan dan pendengaran.

8. Hip protektor : terbukti mengurangi resiko fraktur pelvis.

9. Memelihara kekuatan tulang1. Suplemen nutrisi terutama kalsium dan vitamin D terbukti meningkatkan densitas tulang dan mengurangi resiko fraktur akibat terjatuh pada orang tua2. Berhenti merokok3. Hindari konsumsi alkohol4. Latihan fisik5. Anti-resorbsi seperti biophosphonates dan modulator reseptor estrogen6. Suplementasi hormon estrogen / terapi hormon pengganti.