Rhinitis Alergy1

  • View
    226

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Rhinitis Alergy1

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI PENCERNAAN DAN PERNAFASAN PRAKTIKUM KE : 1 JUDUL KASUS : RINITIS ALERGI DAN BATUK

OLEH: GOLONGAN/ KELOMPOK MINAT HARI/ TANGGAL PRAKTIKUM : II / 4 : FKK : RABU / 13OKTOBER 2010

NAMA MAHASISWA DANIAR PRATIWI DINAR TRIE PADMASARI QORY ADDIN MAMTA VESUDAVE

NIM FA / 07764 FA / 07765 FA / 07768 FA / 08233

TTD

DOSEN JAGA PRAKTIKUM : Prof.Dr.Zullies Ikawati, Apt.

LABORATORIUM FARMAKOTERAPI DAN FARMASI KLINIK BAGIAN FARMAKOLOGI DAN FARMASI KLINIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2010

BagianFarmakologidanFarmasiKlinik FakultasFarmasi UniversitasGadjahMada Sekip Utara, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 902660 Fax (0274) 543120

RHINITIS ALERGI

I. T

AN PRAKTIKUM Agar mahasiswa mampu memahami dan mengevaluasi tatalaksana terapi rhinitis.

II. DASAR TE RI Rhinitis disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan lokal yang berlangsung di rongga nasal yang mana mekanisme ini dilakukan dengan tujuan untuk

menghindarkan bahan iritan dan alergen memasuki paru. Rhinitis adalah inflamasi yang terjadi pada membran mukosa nasal. Rhinitis dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, terbagi menjadi dua golongan rhinitis, yaitu rhinitis alergi yang disebabkan oleh adanya alergen yang terhirup oleh hidung dan rhinitis nonalergi, yaitu disebabkan oleh faktor-faktor pemicu tertentu (bukan alergen). Simptom -simptom yang terjadi pada pasien rhinitis adalah seperti hidung berair (rhinorrhea), bersin bersin (sneezing), hidung tersumbat (nasal congestion), dan gatal -gatal dihidung (itching). Rhinitis yang terjadi selama kurang dari enam minggu dikategorikan rhinitis akut dan lebih dari enam minggu dikenali sebagai rhinitis kronis. a. Rhinitis Alergi Pengertian rinitis disebabkan adalah inflamasi pada membran mukosa nasal yang

oleh penghirupan senyawa alergenik yang kemudian memicu respon

imunologi spesifik. Rhinitis merupakan suatu reaksi tipe I yang diantarai oleh antibodi IgE yang spesifik bagi alergen tertentu. Sistem imun membuat antibodi khas tersebut dengan maksud memerangi alergen dan memusnahkannya, namun juga menimbulkan suatu reaksi peradangan. (Tjay dan Raharja, 2002) Pada paparan pertama, alergen dari udara terhirup oleh hidung dan kemudian direspon oleh limfosi dengan memproduksi t IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, sehingga host akan tersensitisasi. IgE yang

diproduksi tersebut akan berikatan dengan sel mast pada reseptornya. Pada paparan berikutnya, IgE yang sudah berikatan pada sel mast tersebut ak berinteraksi dengan an alergen dan memi u pelepasan histamin dan mediator inflamasi lain yang berasal dari metabolisme asam arakhidonat, seperti prostaglandin, leukotrien, tromboksan, dan platelet a tivating fa tor. Mediator-mediator ini menyebabkan berbagai reaksi antara lain vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskuler, dan produksi sekresi nasal. Diantara mediator-mediator tersebut, histamin merupakan mediator terpenting dalam reaksi alergi. (Ikawati, 2002) Rhinitis alergi dikarakterisasi oleh respon fase epat dan respon fase lambat.

Setiap tipe respon dikarakterisasi oleh bersin-bersin, hidung tersumbat, dan hidung berair, tetapi hidung tersumbat mendominasi fase lambat. (Walla e et al, 2008) Berdasarkan waktu paparan alergen ada dua tipe rhinitis alergi yaitu: menghirup Rhinitis seasonal (hay fever), yaitu alergi yang terjadi karena

alergen yang

terdapat se ara musiman, seperti serbuk sari bunga. Pada

umumnya alergen bersifat eksternal atau berada di luar rumah. Rhinitis parrenial, yaitu alergi yang terjadi tanpa tergantung musim, kutu rumah, bulu binatang, jamur, dll, dan umumnya

misalnya alergi debu,

menyebabkan gejala kronis yang lebih ringan. Alergen umumnya diperoleh di dalam rumah. Sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut guideline dari ARIA, 2001 (Allergi Rhinitis and its Impa t on Asthma) disdasarkan pada waktu terjadinya gejala dan keparahannya adalah:

Berdasarkan lamanya terjadi gejala Klasifikasi Intermitten Gejala dialami selama Kurang dari 4 hari seminggu, atau kurang dari 4 minggu setiap saat kambuh. Persisten Lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih dari 4 minggu setiap saat kambuh. Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup Ringan Tidak mengganggu tidur, aktivitas harian, olahraga, sekolah atau pekerjaan. Tidak ada gejala yang mengganggu.

Sedang sampai berat

Terjadi satu atau lebih kejadian di bawah ini: 1. 2. gangguan tidur gangguan aktivitas harian,

kesenangan, atau olah raga 3. gangguan pada sekolah atau pekerjaan 4. gejala yang mengganggu

b. Ri i i non al

i

Rinitis non alergi dikarakterisasi oleh gejala periodik atau parrenial yang bukan merupakan hasil dari kejadian IgE-dependent. Tipe-tipe rinitis non alergi adalah: Rinitis Infeksiosa

Rinitis infeksiosa biasanya disebabkan oleh infeksi pada saluran pernafasan Bagian atas, baik oleh bakteri maupun virus. Ciri khas dari rinitis infeksiosa adalah lendir hidung yang bernanah, yang disertai dengan nyeri dan tekanan pada wajah, penurunan fungsi indera pen iuman serta batuk. Rinitis Non-Alergika Dengan Sindroma Eosinofilia

Penyakit ini diduga berhubungan dengan kelainan metabolisme prostaglandin. Pada hasil pemeriksaan apus hidung penderitanya, ditemukan eosinofil sebanyak 10-20%. Gejalanya berupa hidung tersumbat, bersin, hidung meler, hidung terasa gatal dan penurunan fungsi indera pen iuman (hiposmia). Rinitis Okupasional

Gejala-gejala rinitis hanya timbul di tempat penderita bekerja. Gejala-gejala rinitis biasanya terjadi akibat menghirup bahan-bahan iritan (misalnya debu kayu, bahan kimia). Penderita juga sering mengalami asma karena pekerjaan. Rinitis Hormonal

Beberapa penderita mengalami gejala rinitis pada saat terjadi gangguan keseimbangan hormon (misalnya selama kehamilan, hipotiroid, pubertas, pemakaian pil KB). Estrogen diduga menyebabkan peningkatan kadar asam hialuronat di selaput hidung. Gejala rinitis pada kehamilan biasanya mulai timbul pada bulan kedua, terus

berlangsung selama kehamilan dan akan menghilang pada s aat persalinan tiba. Gejala utamanya adalah hidung tersumbat dan hidung berair. Rinitis Karena Obat-obatan (rinitis medikamentosa)

Obat-obatan yang berhubungan dengan terjadinya rinitis adalah dekongestan topikal, ACE inhibitor, reserpin, guanetidin, fentolamin, metildopa, beta-bloker,

klorpromazin,gabapentin, penisilamin, aspirin, NSAID, kokain, estrogen eksogen, pil KB. Rinitis Gustatorius

Rinitis gustatorius terjadi setelah mengkonsumsi makanan tertentu, terutama makanan yang panas dan pedas. Rinitis Vasomotor

Rinitis vasomotor diyakini merupakan akibat dari terganggunya keseimbangan sistem parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan sehingga terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin-bersin dan hidung berair. Gangguan vasomotor hidung adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Rinitis vasomotor adalah gangguan pada mukosa hidung yang ditandai dengan adanya edema yang persisten dan hipersekresi kelenjar pada mukosa hidung apabila terpapar oleh iritan spesifik. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut. Merupakan respon non spesifik terhadap perubahan perubahan lingkungannya, berbeda dengan rinitis alergi yang mana merupakan respon terhadap protein spesifik pada zat allergennya. Faktor pemi unya antara lain alkohol, perubahan temperatur / kelembapan, makanan yang panas dan pedas, bau bauan yang menyengat ( strong odor ), asap rokok atau polusi udara lainnya, faktor faktor psikis seperti : stress, ansietas, penyakit penyakit endokrin, obat-obatan seperti anti hipertensi, kontrasepsi oral.y

Pengobatan Rhiniti Tujuan pengobatan rinitis adalah untuk men egah atau meminimalkan gejala,

dan mengurangi efek samping. Untuk memilih terapi yang tepat, perlu diketahui tipe rinitis

yang diderita, apakah alergi atau non alergi. Untuk rinitis alergi, terapi pen egahannya adalah dengan pen egahan terhadap paparan alergen. Namun pen egahannya tidak mudah, apalagi jika alergen

penyebabnya belum bisa dipastikan. Pengobatan rinitis non alergi berdasarkan penyebabnya, antara lain: Infeksi karena virus biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam

waktu 7-10 hari; sedangkan infeksi bakteri memerlukan terapi antibiotik. Untuk status hipotiroid perbatasan, bisa diberikan ekstrak tiroid. Rinitis karena kehamilan biasanya akan berakhir pada saat persalinan tiba. Untuk mengatasi rinitis akibat pil KB sebaiknya pemakaian pil KB

dikurangi atau diganti dengan kontrasepsi lainnya. suhu, dll. Obat-obat yang dapat digunakan antara lain:y y y y y

Menghindari faktor penyebab, seperti bau yang menyengat, perubahan

Antihistamin Dekongestan nasal Kortikosteroid nasal Antikolinergik Golongan kromolin

Jika obat-obat di atas bersifat simtomatik, terapi menggunakan imunoterapi bersifat kuratif, yaitu menghilangkan penyakit alerginya itu sendiri. Imunoterapi merupakan proses yang lambat dan bertahap dengan menginjeksikan alergen yang diketahui memi u reaksi alergi pada pasien dengan dosis semakin meningkat. Obat

golongan antihistamin dan kromoglikat serta imunoterapi tidak memberikan perbaikan pada rinitis vasomotor.

III.

DESKRIPSI KASUS Ny.MM (28 Tahun ), BB: 56 kg, TB: 150 m,