Respi skenario 1.pdf

  • Upload
    nadia

  • View
    249

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    1/19

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    2/19

    o Meatus nasalis media (antara concha media dan inferior)

    o Meatus nasalis inferior (antara concha nasalis inferior dan dinding atas

    maxilla)

    • Sinus paranasalis

    o Sinus sphenoidalis, mengeluarkan sekresinya melalui meatus superior

    o Sinus frontalis, ke meatus media

    o Sinus maxillaris, ke meatus media

    o Sinus ethmoidalis, ke meatus superior dan media

    Persyarafan :

    • Nervus Opthalmicus mempersarafi hidung bagian Depan dan atas cavum nasi

    • Ganglion Sfenopalatinum mempersarafi sebagian cavum nasi

    • Ganglion Pterygopalatinum mempersarafi Nasofaring dan concha nasalis.

    • Proses penciuman dimulai dari : gyrus frontalis (pusat penciuman)  

    menembus lamina cribrosa ethmoidalis   tractus olfactorius   bulbus

    olfactorius serabut N.olfactorius pd mucusa atas depan cavum nasi.

    Vaskularisasi hidung/pendarahan hidung

    Berasal dari cabang-cabang A.opthalmica dan A.maxillaris interna

    1. Arteria ethmoidalis anterior dengan cabang-cabang nya sbb : a.nasalis externa dan

    lateralis, a.septalis anterior

    2. Arteria ethmoidalis posterior dgn cabang-cabang nya : a.nasalis posterior, lateralis

    dan septal, a.palatinus majus

    3. Arteria sphenopalatinum cabang a.maxillaris interna.

    Ketiga pembuluh darah di atas pada mukusa hidung membentuk anyaman kapiler

     pembuluh darah yang disebut “plexus kisselbach

    FARING

    Bagian sebelah atas faring dibentuk oleh badan tulang sfenoidalis dan sebelah dalamnya

    berhubungan langsung dengan esophagus. Pada bagian belakang faring dipisahkan dari

    vertebra servikalis oleh jaringan penghubung, semntara dinding depannya tidak sempurnadan berhubungan dengan hidung, mulut dan laring. Faring merupakan struktur seperti tuba

    yang menghubungkan hidung dan ronggamulut ke laring. Dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

    Nasofaring (terletak posterior dari cavitas nasalis di atas palatum)

    Orofaring (membentang dari palatum menuju ujung superior epiglottis; terletak posterior

    dari

    cavitas oral)

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    3/19

    Laringofaring (membentang dari ujung epiglottis ke bagian inferior dari cartilaginosa

    cricoidea)

    LARING

    Daerah yang dimulai dari aditus laryngis sampai batas bawah cartilago cricoidRangka laring terbentuk oleh:

    1. Berbentuk tulang ialah os hyoid (1 buah) didaerah batas atas leher dengan batas

    bawah dagu

    2. Berbentuk tulang rawan: tiroid (1buah), arytenoid (2 buah), epiglotis (1 buah)

    • Cavum laryngis → bagian terbawah dari saluran nafas bagian atas

    • Aditus laryngis

    • Os hyoid

    o Terbentuk dari ajringan tulang, seperti besi telapak kuda

    o Mempunyai 2 cornu; majus dan minus

    o Berfungsi tempat perlekatan otot mulut dan cartilago tiroid

    • Cartilago thyroid

    o Terdapat prominen’s laryngis atau adam’s apple atau jakun

    o Jaringan ikatnya ialah membrana thyroid

    o Mempunya cornu superior dan inferior

    o Perdarahan dari a.thyroidea superior dan inferior

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    4/19

    • Cartilago arytenoid

    o Bentuk seperti penguin, ada cartilago cornuculata dan cuneiforme

    o Kedua arytenoid dihubungkan oleh m,arytenoideus transversus

    • Epiglotis

    o Tulang rawan berbentuk sendok 

    o Berfungsi membuka dan menutup aditus laryngis

    o Pada waktu biasa epiglotis terbuka, tapi pada saat menelan epiglotis

    menutup aditus laryngis → agar makanan tidak masuk ke laring

    • Cartilago cricoid

    o Batas bawah cartilago thyroid

    o Batas bawah cincin pertama trachea

    Otot-otot ekstrinsik laring:

    1. M.cricothyroideus2. M.thyroepigloticus

    Otot-otot intrinsik laring:

    1. M.cricoarytenoideus posterior

    2. M.cricoarytenoideus lateralis

    3. M.arytenoideus tranversus dan oblique

    4. M.vocalis

    5. M.aryepiglotica

    6. M.thyroarytenoideus

    Dalam cavum laryngis terdapat :

    1. Plica vocalis = pita suara asli

    2. Plica vestibularis = pita suara palsu

    Plica vocalis adalah pita suara yang terbentuk dari lipatan mucusa lig.vocale dan

    lig.ventricularis.

    - Bidang antara plica vocalis kiri dan kanan disebut dengan “ rima glotidis”, sedangkan

    antara kedua plica vestibularis disebut “rima vestibulli ”

    - Ruanga yang terletak di antara plica vestibularis dan plica vocalis disebut “ventriculuslarynges

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    5/19

    LO 1.2 Mikroskopik 

    1. Rongga hidung

    Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum di sekitar nares terdapat

    kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitelrespirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh

    septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing

    dinding lateralnya. Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka

    superior ditutupi oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghidu/membaui. Epitel

    olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar

    dengan dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai

    reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak), sel basal

    (berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman

    menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses

    neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga

    hidung membuat setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan

    penghangatan sebelum masuk lebih jauh

    Silia berfungsi untuk mendorong lendir ke arah nasofaring untuk tertelan atau dikeluarkan

    (batuk) .Sel goblet dan kelenjar campur di lamina propria menghasilkan sekret, untuk menjaga

    kelembaban hidung dan menangkap partikel debu halus . Di bawah epitel chonca inferior

    terdapat swell bodies, merupakan fleksus vonosus untuk menghangatkan udara inspirasi

    Sinus paranasalis

    Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan sinus sphenoid, semuanya

    berhubungan langsung dengan rongga hidung. Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi

    yang lebih tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria yang

    mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan periosteum.

    Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

    2. Faring

    Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak dengan palatum mole,sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe skuamosa/gepeng.

    Terdiri dari :

    1. Nasofaring (epitel bertingkat torak bersilia, dengan sel goblet)

    2. Orofaring (epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk)

    3. Laringofaring (epitel bervariasi)

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    6/19

    3. Laring

    Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina propria

    laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang mencegah

    masuknya makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi.. Di bawah epitel

    terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa.

    4. Epiglottis

    1. Memiliki permukaan lingual dan laringeal

    2. Seluruh permukaan laringeal ditutupi oleh epitel berlapis gepeng, mendekati basis

    epiglottis pada sisi laringeal, epitel ini mengalami peralihan menjadi epitel

    bertingkat silindris bersilia

    LI 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Saluran Pernapasan Atas

    LO 2.1 Fungsi Saluran Pernapasan Atas

    Proses pernapasan dibagi menjadi 2,yaitu:

    1. Pernapasan luar (eksternal)

    Dimana terjadi penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara keseluruhan.

    2. Pernapasan dalam (internal)

    Akan terjadi penggunaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel-sel serta pertukaran gas

    antara sel-sel tubuh dengan media cair sekitarnya.

    Fungsi pernapasan:

    - Mengeluarkan air dan panas dari tubuh

    - Proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dalam paru

    - Meningkatkan aliran balik vena

    - Mengeluarkan dan memodifikasikan prostaglandin

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    7/19

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    8/19

    Pada saat cavum toraks membesar, paru melebar untuk mengisi udara tambahan, yang

    menjadikan peningkatan volume dan penurunan tekanan di dalam paru.

    Aliran udara masuk kedalam paru pada saat tersebut, dikarenakan tekanan di dalam paru lebbih

    kecil daripada tekanan luar paru.

    Udara terus masuk kedalam paru sampai volume berhenti meningkat dan pekanan internalsama

    dengan tekanan eksternal.

    Ketika volum cavum toraks menurun, tekanan dalam paru akan meningkat, dan udara terhembus

    keluar system pernafasan.

    Mekanisme pernapasan berdasarkan antomi

    Pada waktu inspirasi udara masuk melalui kedua nares anterior → vestibulum nasi →cavum nasi

    lalu udara akan keluar dari cavum nasi menuju → nares posterior (choanae) → masuk ke

    nasopharynx,masuk ke oropharynx (epiglottis membuka aditus laryngis) → daerah larynx →

    trakea.masuk ke bronchus primer → bronchus sekunder → bronchiolus segmentalis (tersier) →

    bronchiolus terminalis → melalui bronchiolus respiratorius → masuk ke organ paru → ductus

    alveolaris → alveoli.pada saat di alveoli terjadi pertukaran CO2 (yang dibawa A.pulmonalis)lalu

    keluar paru dan O2 masuk kedalam vena pulmonalis.lalu masuk ke atrium sinistra → ventrikel

    sinistra → dipompakan melalui aorta ascendens → masuk sirkulasi sistemik → oksigen (O2) di

    distribusikan keseluruh sel dan jaringan seluruh tubuh melalui respirasi internal,selanjutnya CO2

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    9/19

    kembali ke jantung kanan melalui kapiler / vena → dipompakan ke paru dan dengan ekspirasi

    CO2 keluar bebas.

    LO 2.2 Mekanisme Pertahanan Saluran Pernapasan Atas

    Hidung merupakan penjaga utama dari udara yang masuk pertama kali. Dalam sehari,kita menghirup sekitar 10.000-20.000 liter udara. Fungsi hidung selain sebagai jalan masuk 

    udara, menghangatkan udara, dan melembabkan udara, juga sebagai penyaring udara.

    Mekanisme pertahanan utama dari saluran napas adalah epitel permukaannya yang cukup

    istimewa yaitu epitel respiratorius atau epitel bertingkat (berlapis semu) silindris bersilia

    dan bersel goblet.

    Epitel ini terdiri dari lima macam jenis sel yaitu:

    1. Sel silindris bersilia: sel terbanyak (1 sel mengandung 300 silia). Silia ini

    terus bergerak utuk menangkap dan mengeluarkan partikel asing.

    2. Sel goblet mukosa: bagian apikal mengandung droplet mukus yang terdiri

    dari glikoprotein.3. Sel sikat (brush cells): sel yang memiliki ujung saraf aferen pada

    permukaan basal (reseptor sensorik penciuman).

    4. Sel basal (pendek)

    5. Sel granul kecil: mirip sel basal tetapi mempunyai banyak granul dengan

    bagian pusat yang padat.

    Lamina propria dibawah dari epitel ini banyak mengandung pembuluh darah yang berguna

    untuk menghangatkan udara masuk serta dibantu dengan silia yang membersihkan udara dari

    partikel asing dan kelenjar serosa dan mukosa yang melembabkan udara masuk.Kombinasi hal

    ini memungkinkan tubuh untuk mendapatkan udara lembab, hangat serta bersih.

    Selain itu, epitel respiratorius dilapisi oleh 5-10 μm lapisan mukus gelatinosa (fase gel) yang

    mengambang pada suatu lapisan cair yang sedikit lebih tipis (fase sol).Lapisan gel/mukus dan

    cair/sol mengandung mekanisme pertahanan imunitas humoral dan seluler.

    1. Lapisan gel terdiri atas albumin, glikoprotein, IgG, IgM, dan faktor komplemen.

    2. Lapisan cair terdiri atas sekresi serosa, laktoferin, lisozim, inhibitor sekresi

    leukoprotease, dan sekretorik IgA.

    Silia pada sel-sel epitel berdenyut secara sinkron, sehingga ujungnya dijumpai pada fase gel

    dan menyebabkannya bergerak ke arah mulut, membawa partikel dan debris seluler bersamanya(transpor mukosilier atau bersihan).Banyak faktor dapat mengganggu mekanisme tersebut,

    termasuk peningkatan viskositas atau ketebalan mukus, membuatnya lebih sulit untuk bergerak 

    (misalnya peradangan, asma), perubahan pada fase sol yang menghambat gerakan silia atau

    mencegah perlekatan pada fase gel dan gangguan aktivitas silia (diskinesia silia).Transpor

    mukosilier ini menurun performanya akibat merokok, polutan, anestetik, dan infeksi serta pada

    fibrosis kistik dan sindrom silia imotil kongenital yang jarang terjadi.Transpor mukosilier yang

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    10/19

    berkurang menyebabkan infeksi respirasi rekuren yang secara progresif merusak paru, misalnya

    bronkiektasis.Pada keadaan tersebut dinding bronkus menebal, melebar, dan meradang, secara

    permanen.

    Mukus (sekret kelenjar) dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan kelenjar

    submukosa.Unsur utamanya adalah glikoprotein kaya karbohidrat yang disebut musin yang

    memberikan sifat seperti gel pada mukus.Fluiditas dan komposisi ionik fase sol dikontrol oleh

    sel-sel epitel. Mukus mengandung beberapa faktor yang dihasilkan oleh sel-sel epitel dan sel lain

    atau yang  berasal dari sel plasma: antiprotease seperti α1-antitripsin yang menghambat aksi

     protease yang dilepaskan dari bakteri dan neutrofil yang mendegradasi protein, defisiensi α1-

    antitripsin merupakan predisposisi terjadinya gangguan elastin dan perkembangan emfisema.

    Protein surfaktan A, terlepas dari aksinya pada tegangan permukaan, memperkuat fagositosis

    dengan menyelubungi atau mengopsonisasi bakteri dan partikel-partikel lain. Lisozim disekresi

    dalam jumlah besar pada jalan napas dan memiliki sifat antijamur dan bakterisidal; bersama

    dengan protein antimikroba, laktoferin, peroksidase, dan defensin yang berasal dari neutrofil,enzim tersebut memberikan imunitas non spesifik pada saluran napas.

    Imunoglobulin sekretori (IgA) adalah imunoglobulin utama dalam sekresi jalan napas dan

    dengan IgM dan IgG mengaglutinasi dan mengopsonisasi partikel antigenik; IgA juga menahan

    perlekatan mikroba ke mukosa.IgA sekretori terdiri dari suatu dimer dua molekul IgA yang

    dihasilkan oleh sel-sel plasma (limfosit B teraktivasi) dan suatu komponen sekretori

    glikoprotein.Komponen tersebut dihasilkan pada permukaan basolateral sel-sel epitel, tempatnya

    mengikat dimer IgA.Kompleks IgA sekretori kemudian dipindahkan ke permukaan luminal sel

    epitel dan dilepaskan ke dalam cairan bronkial. Kompleks tersebut merupakan 10% protein total

    dalam cairan lavase bronkoalveolar.

    LI 3. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis Alergi

    LO 3.1 Definisi Rhintis Alergi

    Menurut WHO ARIA ( Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, rinitis

    alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan

    tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

    LO 3.2 Etiologi Rhinitis Alergi

    Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi genetik dalam

    perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis

    alergi (Adams, Boies, Higler, 1997). Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada

    dewasa dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti

    urtikaria dan gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    11/19

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    12/19

    3.4 Patofisiologi Rhinitis Alergi

    Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi

    dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic

    reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen

    sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL)

    yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan

    dapat berlangsung 24-48 jam.

    Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang

    berperan sebagai sel penyaji ( Antigen Presenting Cell /APC) akan menangkap alergen yang

    menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmenpendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC

    kelas II ( Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper

    (Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1) yang akan

    mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai

    sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13.

    IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel

    limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah

    akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel

    mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan

    sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang

    sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya

    dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk 

    (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan  Newly Formed 

     Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT

    C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    13/19

    CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor ) dan lain-lain. Inilah yang disebut

    sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).

    Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan

    rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan

    sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore.

    Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang

    ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi

    pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).

    Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan

    akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini

    saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL

    ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit,

    netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5

    dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor  (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret

    hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil

    dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti  Eosinophilic Cationic Protein (ECP),

     Eosiniphilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP), dan  Eosinophilic Peroxidase

    (EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat

    memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban

    udara yang tinggi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).

    Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad ) dengan pembesaran

    sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler dan penebalan

    membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa

    hidung. Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan,

    mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus-menerus (persisten) sepanjang

    tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi

     jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung menebal. Dengan

    masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari:

    1. Respon primer

    Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat non spesifik dan

    dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi

    berlanjut menjadi respon sekunder.

    2. Respon sekunder

    Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem

    imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi

    pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada, atau memang sudah ada defek dari

    sistem imunologik, maka reaksi berlanjut menjadi respon tersier.

    3. Respon tersier

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    14/19

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    15/19

    genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi, respon terhadap

    pengobatan, kondisi lingkungan dan pekerjaan. Rinitis alergi dapat ditegakkan

    berdasarkan anamnesis, bila terdapat 2 atau lebih gejala seperti bersin-bersin lebih 5 kali

    setiap serangan, hidung dan mata gatal, ingus encer lebih dari satu jam, hidung tersumbat,

    dan mata merah serta berair maka dinyatakan positif (Rusmono, Kasakayan, 1990).

    2. Pemeriksaan Fisik

    Pada muka biasanya didapatkan garis  Dennie-Morgan dan allergic shinner , yaitu

    bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat obstruksi

    hidung (Irawati, 2002). Selain itu, dapat ditemukan juga allergic crease yaitu berupa

    garis melintang pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Garis ini timbul akibat hidung

    yang sering digosok-gosok oleh punggung tangan (allergic salute). Pada pemeriksaan

    rinoskopi ditemukan mukosa hidung basah, berwarna pucat atau livid dengan konka

    edema dan sekret yang encer dan banyak. Perlu juga dilihat adanya kelainan septum atau

    polip hidung yang dapat memperberat gejala hidung tersumbat. Selain itu, dapat pula

    ditemukan konjungtivis bilateral atau penyakit yang berhubungan lainnya seperti sinusitisdan otitis media (Irawati, 2002).

    3. Pemeriksaan Penunjang

    a. In vitro

    Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula

    pemeriksaan IgE total ( prist-paper radio imunosorbent test ) sering kali menunjukkan

    nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit,

    misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Lebih

    bermakna adalah dengan RAST ( Radio Immuno Sorbent Test ) atau ELISA ( Enzyme

     Linked Immuno Sorbent Assay Test ). Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak 

    dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap.Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi

    inhalan. Jika basofil (5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika

    ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri (Irawati, 2002).

    b. In vivo

    Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan

    atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration /SET). SET

    dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai

    konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab

     juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui (Sumarman,

    2000). Untuk alergi makanan, uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat

    diandalkan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi dan provokasi

    (“Challenge Test ”). Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu

    lima hari. Karena itu pada Challenge Test , makanan yang dicurigai diberikan pada

    pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    16/19

    eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu

    ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan (Irawati, 2002).

    Diagnosis banding dari rhinitis alergika yang harus diperhatikan, adalah :

    a. Rhinitis Vasomotor : suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi,

    alergi, eosinofilia, perubahan hormonal dan pajanan obat.

    b. Rhinitis Medikamentosa : suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal

    vasomotor yang diakibatkan oleh pemakaian vasokonstriktor topical dalam waktu lama

    dan berlebihan sehingga menyebabkan sumbatan hidung yangmenetap.

    c. Rhinitis Simpleks : penyakit yang diakibatkan oleh virus. Biasanya adalah rhinovirus. Sangat

    menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan atau menurunnya daya

    tahantubuh.

    d. Rhinitis Hipertrofi :Hipertrofi chonca karena proses inflamasi kronis yang disebabkan

    oleh bakteri primer atau sekunder.

    e. Rhinitis Atrofi : Infeksi hidung kronik yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosadantulangchonca.

    3.7 Penatalaksanaan dan Pencegahan Rhinitis Alergi

    • Medikamentosa

    Antihistamin antagonis H-1 sebagai inti pertama pengobatan rhinitis alergi dalam

    kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Dibagi menjadi

    2 golongan, generasi-1 (klasik) dan generasi-2 (non-sedatif). Generasi H-1 bersifat

    hipofilik sehingga dapat menembus sawar darah otak dan plasenta serta mempunyai

    efek kolinergik.

    Dekongestan dipakai hanya untuk menghindari terjadinya rhinitis medikamentosa.Preparat kortikosteroid intranasal dipilih bila gejala trauma sumbatan hidung tidak 

    kunjung membaik setelah diberi antihistamin. Antikolinergik topikal adalah

    ipratropium bromida, bermanfaat untuk mengatasi rinore karena aktifitas inhibisi

    reserptor kolinergik permukaan selefektor.

    • Dekongestan

    Obat ini golongan simpatomimetik yang beraksi pada reseptoralfa-adregenik pada

    mukosa hidung untuk menyebabkan vasokonstriksi, menciutkan mukosa yang

    membengkak dan memperbaiki pernafasan, contohnya pseudofedrin,efedrin sulfat

    dan fenilpropanolamin. Penggunaan agen topikal yang lama dapat menyebabkan

    rhinitis medikamentosa, dimana hidung kembali tersumbat akibat vasodilatasi perifer.

    Dekongestan oral secara umum tidak dianjurkan karena efek klinisnya masih

    meragukan dan memiliki banyak efek samping. Dari keempat obatdekongestan yang

    banyak dipakai, fenilopropanolamin dan efedrin memiliki indeksterapi yang sempit.

    Keduanya dapat menyebabkan hipertensi pada dosis mendekati terapetiknya.

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    17/19

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    18/19

    berkurangnya pelepasan mediator dari sel yang tersensitisasi, dan berkurangnya

    sensitivitas jaringan terhadap alergen. Namun, imunoterapi terbilang mahal dan butuh

    waktu lama, membutuhkan komitmen yang besar dari pasien.

    Pencegahan

    Cara terbaik untuk mencegah timbulnya alergi adalah dengan menghindari alergen, yaitu dengan:

    • Pencegahan melalui edukasi

    • Mencegah terjadinya tahap sensitasi

    • Mencegah gejala timbul dengan cara terapi medikamentosa

    • Menghindari kontak dengan alergen

    • Menggunakan sarung tangan dan masker

    • Mersihkan debu dengan lap basah, minimal 29 kali dalam 1 minggu

    3.8 Komplikasi Rhinitis Alergi

    Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah:

    a. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands, akumulasi sel-sel

    inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil dan limfosit T CD4+), hiperplasia epitel,

    hiperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa.

    b. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.

    c. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadiakibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan ostia

    sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut akan

    menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob dan akan menyebabkan rusaknya

    fungsi barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa oleh mediator protein basa yang dilepas

    sel eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah (Durham, 2006).

    3.9 Prognosis Rhinitis Alergi

    Banyak gejala rinitis alergi dapat dengan mudah diobati. Pada beberapa kasus (khususnya pada

    anak-anak), orang mungkin memperoleh alergi seiring dengan sistem imun yang menjadi kurangsensitif pada alergen. Efek sistemik, termasuk lelah, mengantuk, dan lesu, dapat muncul

    dari respon peradangan. Gejala-gejala ini sering menambah perburukan kualitas hidup.

  • 8/18/2019 Respi skenario 1.pdf

    19/19

    LI 4. Memahami dan Menjelaskan Pernapasan dalam Islam

    Sesungguhnya Allah Mencintai Orang yang Bersin

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

    bersabda,

    “Sesungguhnya Allah menyukai bersin.” (HR Bukhari) Bersin merupakan sesuatu yang disukai

    karena bersin dapat menyehatkan badan dan menghilangkan keinginan untuk selalu

    mengenyangkan perut, serta dapat membuat semangat untuk beribadah.

    Ketika Bersin Hendaknya:

    - Merendahkan suara.

    - Menutup mulut dan wajah.

    - Tidak memalingkan leher.

    - Mengeraskan bacaan hamdalah, walaupun dalam keadaan shalat.

    Macam-Macam Bacaan yang Dapat Kita Amalkan Ketika Bersin

    Alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah).

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam).

    Alhamdulillah ‘ala kulli haal (segala puji bai Allah dalam setiap keadaan)

    Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi, mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu

    Rabbuna wa yardhaa” (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi penuh berkah dan

    diberkahi, sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami).