Rekonsiliasi Fakta dengan

Embed Size (px)

Citation preview

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    1/11

    Rekonsiliasi Fakta dengan Fiksi

    Posted on 29 September, 2007 by sukab

    oleh : Savitri Scherer

    Meminjam judul puisi Ranggawarsita dari abad ke-19, yakni Kalatidha,

    Seno, penulis abad ke-21, merangkum cerita yang berkisar tentangperistiwa kekerasan di Indonesia pada sekitar tahun 1965.

    Dituturkan melalui pandangan bocah laki-laki berusia tujuh tahunyang mempunyai kebolehan masuk-keluar dunia bayangan yang berkabut.

    Kebolehannya mengikuti usianya yang menjadi dewasa, hingga dunia

    tersebut terkadang bercahaya gemilang, ataupun merupakan samudra

    dari titik-titik kristal yang berkilauan.

    Bocah pengamat pasif, dari suatu kejadian ketika rumah tetanggadiserang penduduk setempat dan dibakar. Bocah itu sempat melihat

    satu dari gadis kembar penghuni rumah lolos dari pengepungan,

    sedangkan kembarannya tewas.

    Aku tidak mengerti, tetapi kuketahui betapa nasib keduanya sangat

    berbeda. Yang satu menjelma bayangan yang kadang tampak danterkadang hilang, yang lain masih berkeliaran di muka bumi dengan

    diri yang kadang hilang kadang kembali (hlm 46). Suatu kekayaan

    imajinasi penulis yang berpotensi untuk dikembangkan ke sana kemari.

    Korban dari sistem

    Seno memakai kesempatan ini untuk menyinggung berbagai segi

    spiritual dari dunia istimewa yang diakrabi bocah tadi dengan meramu

    unsur-unsur budaya spiritual Jawa yang memasuki dunia nyata, danberbagai dunia kehidupan yang dijatahkan kepada si gadis yang lolos,

    tetapi terguncang jiwanya.

    Ditambah selingan dari dunia Johnny Malin Kundang, pasien di rumah

    sakit jiwa tempat mereka berdua dirawat dan ditambah lagi dunia yang

    penuh perkibulan dari pengusaha serong (bocah ketika dewasa?).

    Penyiksaan yang sempat di terima gadis, korban politik waktu itu,

    dan penyiksaan dalam cara merawat-menatar, baik di rumah sakit

    maupun di kantor polisi dan di penjara untuk semua narapidana,digambarkan untuk menunjukkan situasi yang sejajar bagi semua warga

    yang telah kehilangan hak untuk hadir dalam peradaban manusia.

    http://duniasukab.com/2007/09/29/rekonsiliasi-fakta-dengan-fiksi/http://duniasukab.com/2007/09/29/rekonsiliasi-fakta-dengan-fiksi/http://duniasukab.com/2007/09/29/rekonsiliasi-fakta-dengan-fiksi/
  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    2/11

    Peradaban yang aturan dan kodenya dibuat oleh setiap penguasa

    zamannya, Neraka dunia ini, penjara dan rumah sakit jiwa sudahdijabarkan ahli filsafat Perancis Foucault (M Foucalt, Naissance de

    la clinique, Paris, PUF, 1963 dan Surveiller et punir, Paris,

    Gallimard, 1975)

    Dalam Kalatidha, gadis simbol yang mewakili korban dari suatu

    sistem, tanpa rasa dan pikiran. Pengarangnya kemudian mengembangkantubuh si gadis menjadi sosok yang dititisi arwah kembarannya dan

    membuat gadis tadi menjadi jawara wanita yang mengacu pada garapan

    Seno yang terdahulu, Perempuan Preman di Melawai (Dunia Sukab, 2001,hlm 145-155).

    Jawara dalam Kalatidha, setelah diisi arwah kembarannya,

    menghancurkan semua deretan sosok yang pernah menyiksanya, kecualiJohnny yang sempat berambisi untuk menjadi pemain sepak bola. Dia

    hanya menendang-nendang si gadis, tanpa memperkosanya.

    Dalam adegan lain, yang sempat dialami bocah, ia dan kakeknya

    mengalami suatu peristiwa spiritual yang canggih digambarkan Seno

    dalam bab 12 berjudul: Perburuan (hlm 93-97).

    Bagian ini dirancang seolah menjadi pembuka jalan atas suatupertanyaan si pengarang: apakah pembalasan selalu lebih kejam? yang

    dirangkumnya di bab 13. Misteri ini dijawabnya sendiri dengan

    merangkum bab 19: Sang Mata di Tepi Pantai (hlm 163-171). Jawara

    preman Melawai itu menyelamatkan dua bocah yang sedang bermain di

    laut (hlm 171). Hanya saja samudra tadi dengan kekuasaannya selalumencoba menelan bocah-bocah lain yang bermain di situ yang tidak

    menggubris pengalaman dua bocah yang sempat terselamatkan.

    Seno mencoba mengutarakan harapan bahwa ada kemungkinan gadis yang

    dititisi kembarannya berubah menjadi jawara penyelamat. Walaupun sipengarang ataupun pembacanya tahu bila pergantian peranan dari

    jawara preman (pembalas dendam) menjadi jawara Sri Asih (sosok

    garapan RA Kosasih) tidak otomatis menyelamatkan seluruh bocah didunia dari bahaya.

    Berpikir positif

    Seno sebagai pengarang, yang telah merancang-rancang dunia

    bayangannya yang kejam, berdarah-darah di mana hutan bambu digusur

    menjadi pasar toserba raksasa, tetap membawa suatu harapan positifterhadap semua kemungkinan yang terburuk dari peradaban.

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    3/11

    Ia percaya ada warga dunia yang peduli dan berkapasitas memperbaiki

    nilai kemanusiaan kita semua. Pandangan positif ini dibutuhkan bagipembaca untuk memperbaiki lingkungannya. Bahwa manusia berkapasitas

    mempunyai welas asih, suatu unsur terpenting dalam sejarah peradaban

    dunia.

    Seno mengakhiri ceritanya begini, Miliaran sosok kristal yang

    mengalir membentuk suatu arus menyilaukan ke balik sebuah lembah

    yang penuh dengan cahaya di baliknya. (hlm 226). Ada cahaya di

    balik cahaya. Pilihan Seno untuk berpihak pada cahaya didukung oleh

    fakta, tanpa matahari seluruh ekosistem jagat kita akan bubar.

    Sebagai pengarang yang menggarap suatu insiden dalam sejarah

    Indonesia yang kontroversial, di mana dia terlalu muda ketika

    peristiwa 1965 terjadi (dilahirkan 1958), usahanya membawa nilaikhusus bagi pembaca Indonesia untuk memikirkan prioritas apa saja

    yang harus didahulukan dalam memajukan kesejahteraan kehidupanbersama di tengah dunia yang selalu rancu. Keganasan di Rwanda, ataudi Kamboja di bawah Pol Pot, di Irak dan Palestina tidak perlu

    terjadi. Semua terletak pada itikad manusianya sendiri.

    Punya rasa sendiri

    Rahasia hidup memang membawa pesona khusus. Hal ini digarap Seno

    dengan dua cara. Pertama, secara faktual dengan memasukkan berbagai

    dokumen arsip dari periode yang dia bayangkan, yaitu guntingan-

    guntingan surat kabar. Ini untuk mengingatkan publik pemikiran apa-

    apa saja sebetulnya dilontarkan di periode itu yang memicu kejadian.

    Cara kedua adalah membandingkan kejadian yang sempat mewujud disekitar tokoh fiksi karangannya itu dengan, misalnya, isi kepala

    pasien Johnny Malin Kundang. Semakin gombal bayangan dunia Johnny,

    yang menyangkut peranannya sendiri dalam suatu insiden, semakinrancu pula ramuan di kepalanya antara si pelaku, si pengamat, atau

    korban yang dipaksakan bertanggung jawab.

    Yang masih bisa diandalkan sebagai fakta di dalam kepala Johnny

    hanya sisa-sisa ingatannya yang berbentuk rasa dari sederetan

    makanan, seperti tempe mendoan atau botok teri (hlm 86-90).

    Gamblangnya, peristiwa yang sudah lewat itu masing-masing mempunyai

    rasanya sendiri. Tidak semua hambar dan tidak selalu harus sesuai

    dengan kenyataan perasaan sensasi pada waktu kejadian. Rasa padawaktu kejadian dan rasa dari ingatan mengenai kejadian itu tidak

    mungkin sama.

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    4/11

    Melalui sisipan Johnny ini, Seno seolah ingin membawa pembacanya

    menerima segala kontradiksi kehidupan sebagai urusan yang tidak akanselesai diuraikan. Fakta atau kebenaran tidak dapat diramu melulu

    melalui ingatan, apakah itu ingatan seorang gila, seorang korban

    perkosaan, ataupun seorang pengarang.

    Setiap zaman edan dalam setiap era sejarah menghasilkan segepok

    orang-orang gilanya sendiri yang dengan logika masing-masing,meluruskan versi sejarah kehadiran mereka. Sebaliknya, pelurusan

    tersebut bukanlah suatu proses acak yang diramu hanya bedasarkan

    makian yang menyebut berbagai macam makanan Jawa; walau sudahseluruh makanan diucapkan.

    Dengan Kalatidha, Seno menawarkan gaya penulisan untuk mengungkapkan

    bagaimana menyelaraskan sebagian dari bunyi-bunyi sumbang ke dalamrangkuman dunia tanpa melupakan betapa hidup ini sesungguhnya kocak,

    acak dan edan.

    Keputusan itu yang diambil Johnny, Aku bukan pembunuh. Aku hanya

    membebaskan jiwa yang terikat kepada tubuh dan otak yang

    mengharukan, yang diperas seperti apa pun untuk berpikir tidak akanpernah mampu mengenal dunia dalam arti yang sebenar-benarnya. Gulai

    Otak. Bedakah rasanya otak pintar dan otak bodoh jika di goreng

    dalam bungkus telor? (hlm 90).

    (Savitri Scherer, Jurnalis Bermukim di Paris)

    sumber : harian Kompas, Senin, 20 Agustus 2007

    rubrik : Pustakaloka; resensijudul buku : Kalatidha

    Penulis buku : Seno Gumira Ajidarma

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    5/11

    Ideologi Komik dan Komik Ideologis

    SENO GUMIRA AJIDARMA

    Komik adalah suatu bentuk komunikasi. Cara berkomunikasi yang

    memainkan gambar dan kata-kata ini tergolong muda.

    Dengan patokan tahun 1896 yang diresmikan panel internasional para

    pakar di Lucca, Italia, tahun 1989, melalui karya Richard Felton

    Outcault, The Yellow Kid, yang karakteristiknya dianggap definitifpada 1896 tersebut, usianya baru seratus tahun lebih.

    Banyak debat tentu tentang kapan lahirnya komik (orang Indonesia suka

    ngandelin relief Borobudur sebagai komik juga), tetapi orang sepertiMaurice Horn dalam 100 Years of American Newspaper Comics (1996)

    memberi argumen: The Yellow Kid menandai lahirnya naratif yang

    disampaikan melalui sekuen gambar, keberlanjutan watak, inklusi dialogatau teks dalam bingkai gambar, selain pendekatan bercerita dinamis

    yang akan memikat mata untuk mengikuti dari panil satu ke panil

    berikutnya.

    Ideologi komik

    Adalah pengertian terakhir, mengenai pendekatan bercerita itu, yang

    memisahkan komik secara meyakinkan dari sebagian besar naratif

    bergambar abad-abad silam. Komik itu lebih dari sekadar keberuntutangambar, sama seperti film bukan sekadar keberuntutan foto-foto.

    Argumen semacam ini memang sangat Amerika-sentris, tetapi begitulahklaim yang ada: Karena dari Amerika Serikat itulah istilah komikberasal, yakni dari buku komik (comic books), yang merupakan bundel

    potongan komik (comic strip) harian dalam lembaran the funnies atau

    yang lucu-lucu, karena comic memang maksudnya lucu. Dengan argumen

    ini, bahkan yang selama ini dianggap bapak komik seperti RodolpheTopffer dari Swiss dengan cerita-gambarnya pada tahun 1830-an dan

    1840-an pun tergusur.

    Dengan kata lain, komik dipersoalkan dan akhirnya dikukuhkan sebagai

    bahasa. Dalam konteks Amerika Serikat, pionir seperti Will Eisner

    (1917-2005) telah melakukan eksplorasi kebahasaan ini sepanjangkariernya. Karya awalnya pada tahun 1940-an, potongan komik The Spirit

    penuh inovasi artistik, yang sebetulnya boleh dianggap sebagai inovasi

    kebahasaan, tempat penemuan demi penemuan cara menyampaikan gagasan

    pada gilirannya tersusun sebagai konstruksi dan gudang perbendaharaanbahasa komik.

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    6/11

    Ketika Eisner kemudian bergabung dengan militer dan bergulat dengan

    komik pengajaran (instructional comics), tantangan kepiawaianberbahasa agaknya berhasil ia taklukkan sehingga ketika pengabdiannya

    selesai dan kembali ke dunia kreatif pada tahun 1978 dilahirkannya

    karya yang untuk pertama kali berlabel novel grafis (graphic novel)

    dalam A Contract With God. Seperti diketahui, setelah itu dunia komiksemakin terkukuhkan kemandirian identitasnya sebagai seni maupun bahasa.

    Komik ideologis

    Karya terakhir Will Eisner, The Plot: The Secret Story of TheProtocols of The Elders of Zion (2005), diberi pengantar oleh Umberto

    Eco, yang menegaskan bahwa ini bukan buku komik (baca: lucu),

    melainkan tragik (menyedihkan) , karena komik ini memang membongkar

    konspirasi vulgar pemburukan nama Yahudi, yang celakanya berhasilmembentuk citra buruk Yahudi di mata siapa pun yang jauh dari kritis.

    Dalam pengantarnya sendiri, Eisner berkata: Inilah saat saya

    meninggalkan cara bercerita grafis yang murni, dan berusaha

    memanfaatkan media penuh daya ini untuk menyampaikan kepedulian

    personal saya. Artinya, kita melihat pengakuan atas suatu kepentinganyang politis sifatnya, dalam hal ini menunjuk hidung konspirasi Eropa

    sejak abad ke-19 dalam mengesahkan keburukan Yahudi.

    Dalam konteks pertumbuhan bahasa komik, bolehkah kita katakan inovasi

    berhenti dan eksploitasi dimulai? Dalam kalimat kredo puisi Sutardji

    Calzoum Bachri, kini kata tak lagi bermain-main sebagai dirinya

    sendiri, melainkan menjadi budak pengertian, meski dalam hal Eisner,dan seluruh perbincangan ini, harus kita beri konotasi produktif:

    Adalah kemapanan (tata) bahasa komik tersebut yang pada akhirnya

    memungkinkannya berfungsi sebagai penyampai gagasan dengan misistrategis. Apalagi jika bukan suatu pertempuran semesta.

    Kemungkinan komik yang seperti itu juga telah dimanfaatkan komik 9/11:

    Kegagalan Amerika Melindungi Warganya (Sid Jacobson & Ernie Colon,

    2006; terjemahan Indonesia terbit 2007) yang bersumber dari buku The9/11 Commission Report: Final Report of The National Commission on

    Terrorist Attacks Upon The United States, yang bukan saja tebalnya 600

    halaman, tetapi juga dalam kelengkapannya berarti segenap rincian

    tersampaikan berikut segala kerumitannya.

    Kesan semula, mungkin akan dikira komik ini bagian dari perang

    ideologi mutakhir tempat hegemoni Amerika Serikat mengalami resistensiterorisme. Posisi kesetimbangan itu belum berubah, bahwa karena ada

    yang hegemonik maka ada yang harus melawan, tetapi dalam kenyataannya

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    7/11

    komik Amerika Serikat ini menjadi kritik dan pembongkaran terbuka atas

    mitos Amerika Serikat itu sendiri sebagai negara adidaya.

    Negara dengan persenjataan militer terkuat di muka bumi ternyata

    pertahanannya sangat lemah terhadap bentuk perang baru yang

    dilancarkan Al Qaeda, bukan karena teknologi yang kurang canggih,melainkan kesalahan dan kelengahan manusia, yang terbukti berakibat

    fatal. Indikasi ke arah penabrakan pesawat ke Menara Kembar itusebetulnya sudah terendus berdasarkan data intelijen, tetapi tidak

    seorang pun berpikir akan mungkin dilakukan. Tidak salah jika

    dikatakan, peristiwa 9/11 itu mengatasi imajinasi.

    Komik ini berhasil menerjemahkan secara efisien segenap laporan komisi

    yang rinci, lengkap, dan rumit, menjadi cerita bergambar yang mudah

    dibaca; yang tentu saja merupakan tujuannya. Perbincangan ini tidakakan menyiasati kebijakan politiknya, tetapi mengingatkan betapa

    kemapanan bahasa komikdalam hal ini komik Amerika Serikattelahmenjadikannya media yang sungguh efektif dalam berbagai perjuanganideologis di seluruh dunia. Setidaknya dua komik ini, The Plot dan

    9/11, menjadi bukti bahwa pemanfaatannnya berfungsi: Siapa pun yang

    membacanya sulit membantah bahwa segala kejahatan serta keburukanbangsa Yahudi maupun kedahsyatan Amerika dalam pertahanan militer

    maupun sipil ternyata hanya mitos.

    Dalam hal Yahudi, tertunjukkan dokumen Dialogue in Hell (Maurice Joly,

    1864) yang merupakan dialog imajiner antara Machiavelli dan

    Montesquieu, yang dipindahkan dengan sangat kentara untuk menjadi

    dokumen Zionisme oleh Mathieu Golovinski pada 1898 dandipublikasikan pertama kali untuk kepentingan aristokrasi Rusia pada

    1905. Kelak, rezim Nazi di bawah Hitler dengan senang hati memercayai,

    menerjemahkan, dan menyebarluaskannya sebagai kebenaran.

    Dalam hal Amerika Serikat, terdapat contoh sederhana: Seluruh sistem

    evakuasi gedung WTC itu ternyata tak berfungsi. Jadi, tanpa ditabrakpesawat pun, kedua gedung itu sudah bersituasi rawan. Tersiratnya

    aspek penyadaran pertahanan sipil, bukannya militerdalam pengertian

    menyerang pikiran terorisme itu sendiri, yang akan membatalkan segala

    serangan, sayang sekali tertelan berbagai aspek militer dan intelijen.

    Menarik disadari kontramitos ini tercapai oleh kemapanan bahasa, yangdalam dirinya adalah produk suatu mitos pula. Ini berarti yang bermain

    di sini adalah perjuangan konotasi, karena bahasa memang tidak lagi

    menjadi dirinya sendiri. Bahasa telah menjadi pesuruh ideologi yang

    menerjemahkan dirinya sebagai konotasi, sehingga mitos kemapananbahasa komik berhasil termanfaatkan sebagai kontramitos. Perbedaan

    mitos dan kontramitos hanyalah perbedaan konotasidan konotasi adalah

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    8/11

    representasi kepentingan ideologis. Ini berarti koran (dan teks apa

    pun) harus dibaca dengan hati-hati!

    Seno Gumira Ajidarma Wartawan

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    9/11

    Masalah Ideologi dalam Komik Tintin

    Seno Gumira Ajidarma

    Memasuki tahun 2009, artinya 80 tahun sejak terbitnya Tintin di Tanah Soviet, wacana mutakhir

    tentang komik Tintin muncul dalam edisi akhir tahun 2008 mingguan analisis The Economist.Konteks pemuatan artikel itu adalah masuknya nama Steven Spielberg dan Peter Jackson sebagai

    calon sutradara trilogi film Tintin, yang menggunakan teknologi digital untuk menciptakan karyahibrida antara animasi dan adegan hidup. Pada tahun 1983 disebutkan, Spielberg telah mendapat

    opsi untuk membuat film Tintin, tetapi beberapa hari sebelum bertemu Georges Remi,

    penggubah Tintin ini meninggal. Tersebutlah komentar Spielberg yang terasa sebagai ancaman

    bagi para pemuja Tintin karena memandang Tintin sebagai Indiana Jones untuk kanak-kanak.

    Menurut janda Remi yang sudah menikah kembali, Remi telah berpesan agar peluang diberikan

    kepada Spielberg dan Remi berkata, Tintin yang ini tak diragukan akan jadi berbeda, tetapi akanmenjadi Tintin yang bagus. Keterbukaan Georges Remi, yang dari pembalikan inisial namanya

    (GR menjadi RG) lebih dikenal sebagai Herge, dianggap mengejutkan, mengingat sejumlahfaktor sosial historis yang telah menjadikan Tintin sangat Eropa dan tidak terlalu populer diwilayah budaya Anglo-Saxon.

    Fanny, janda Remi yang telah menjadi Nyonya Rodwell, mengakui risiko penggarapan Tintin

    oleh Hollywood itu, seperti telah diumumkan Universal Pictures pada September 2008 karena

    karya Herge, Sangat Eropa. Lebih bernuansa daripada potongan komik (comic-strip) Amerika.

    Menurut Fanny lagi, gaya Amerika dalam bercerita mengancam kepekaan Eropa. NaratifAmerika disebutnya sangat dinamik, tetapi lebih mengandung kekerasan dan kecepatannya jauh

    lebih agresif.

    Lebih dari sekadar masalah artikulasi dalam gaya bercerita, perbedaan komik Tintin dengankomik Amerika sebenarnya jauh lebih ideologis jika kita cermati faktor-faktor sosial historisnya

    yang juga diungkap The Economist seperti berikut:

    Pada 1949 muncul undang- undang komik di Perancis yang dengan maksud melindungi kanak-

    kanak dan remaja telah membentuk komisi yang akan mengawasi penafsiran positif terhadapundang-undang tersebut, dengan ancaman hukuman setahun penjara bagi pelanggarnya. Regulasi

    ini mungkin bukan penyebab keistimewaan Tintin, tetapi jelas membentuk karakter ala pramuka

    yang kelewat matang, persis seperti karakter Tintin. Isinya bermaksud mendorong suatu moralkepahlawanan yang menghindari kekerasan, melarang penampilan kemalasan dan berbohong

    sebagai hal yang menarik, harus bersikap adil, berani, dan jelas tanpa seks.

    Undang-undang yang pada 1950 ditambahi larangan atas prasangka etnik ini dianggap

    mempunyai akar ideologis yang tersusun dari ketersekutuan aneh pendukung komunis, Katolik

    konservatif, dan para kartunis pengangguran, yang menentukan bahwa dalam bacaan kanak-

    kanak Perancis mestilah terdapat nilai-nilai nasional. Menurut Pascal Ory, sejarawan dariUniversitas Sorbonne penulis Mickey Go Home: The de-Americanisation of The Cartoon Strip,

    tujuan utama undang-undang yang masih bertahan sampai hari ini tersebut adalah untuk

    membendung komik Amerika.

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    10/11

    Herge yang bermasalah

    Komik Tintin merupakan fenomena Eropa pasca-Perang Dunia II, tetapi seri pertamanya, Tintin

    di Tanah Soviet, sudah terbit 1929 di Le Petit Vingtieme, halaman suplemen kanak-kanak

    mingguan Vingtieme Sicle di Belgia, yang secara politis mendukung monarki, misionaris Belgia

    di Kongo, maupun Mussolini, serta membenci kaum ateis Bolshevik dan kapitalisme Yahudi-Amerika. Lingkungan yang tidak memberi harapan inilah yang merupakan atmosfer kelahiran

    Tintin sehingga reputasi Herge yang menjulang penuh dengan cacat etis.

    Melalui Tintin: The Complete Companion (2001), Michael Farr mencatat bagaimana terdapat

    prasangka ideologis kepada kaum Bolshevik dalam Tintin di Tanah Soviet, prasangka rasisdalam Tintin di Kongo (1930), maupun sikap anti-Semitisme dalam Bintang Jatuh (pada 1942 di

    koran Le Soir yang merupakan alat propaganda Nazi). Dalam catatan Phillippe Goddin, penulis

    biografi Herge yang terbit 2007, disebutkan bahwa pada 1940 pun sebetulnya sudah muncul

    surat kaleng yang mengecamnya karena memikat kanak-kanak Belgia dengan propagandaJerman. Beberapa bulan kemudian Herge bahkan berpolemik mengenai masalah yang sama

    dengan Philippe Gerard dan membela diri dengan argumen netralitas bahwa ia tidak pro-Nazidan tidak juga pro-Inggris.

    Dalam Tintin and The Secret of Literature (2006), setelah banyak lagi cacat etis Herge disebut-

    sebut, Tom McCarthy mencatat kalimat lain Herge dalam pembelaan dirinya ketika harus

    menjawab pertanyaan Numa Sadoul dalam Entretiens, Kalau masinis membawa kereta api

    dianggap semua orang sebagai normal, kenapa wartawan (yang menjalankan tugasnya) dicap

    pengkhianat? Menurut McCarthy, tentu saja ini merupakan pembelaan diri yang naif karenamasinis atau tukang roti (dalam masa pendudukan Nazi) tidak secara aktif membantu penguasaan

    pikiran dan mengobarkan kebencian ras. Tekanan atas dosa ideologis ini menjadi resmi ketika

    Herge dimasukkan ke dalam daftar inciviles atau bekas kolaborator yang dijauhkan dari

    kehidupan publik sehingga menjadi persona non grata di negerinya sendiri.

    Usaha Herge kemudian, selain melakukan berbagai koreksi pada cetak ulang, bahkan tak

    pernah menyetujui penerbitan kembali Tintin di Tanah Soviet, dalam serial Tintin selanjutnya iamenegaskan netralitasnya tersebut. Dalam Tintin dan Picaros (1976), di antara konflik Borduria

    yang didukung komunis dan International Banana Company yang didukung Amerika, Tintin

    secara politis tidak berpihak. Diusahakannya revolusi berlangsung tanpa pertumpahan darah,tidak ada pergantian penguasa, dan tidak ada pula promosi demokrasi.

    The Economist menyebutkan bahwa fokus kepada masalah hukuman mati adalah suatu

    pendekatan Eropa agar Tintin tetap menjadi orang yang kepercayaannya baik seperti sebutanHerge kepada dirinya sendiri. Terdapat hubungan antara Herge sebagai manusia yang

    mengecewakan dan Tintin, tokoh kreasinya yang memerangi para despot dengan bernyali; yangbersumber dari rasionalisasi ketakberdayaan sebagai suatu keasyikan Eropa. Sejarawan in-house

    (apa pula ini?) Herge Studios, Charles Dierick, bahkan menghubungkan kebocahan Tintin

    dengan posisi Belgia sebagai negara kecil yang juga harus pandai-pandai membatasi

    keberaniannya.

  • 8/2/2019 Rekonsiliasi Fakta dengan

    11/11

    Peta bumi politik dalam Perang Dunia II berpengaruh besar kepada Tintin karena naluri politis

    seperti yang juga terdapat pada sebagian besar Benua Eropa. Sangat penting untuk diperhatikanbahwa dunia Anglo-Saxon memiliki kenangan yang berbeda atas perang yang sama, sebagai

    suatu peristiwa tragis yang tidak mempermalukan maupun mengingatkan atas ketakberdayaan.

    Jika pembaca atau penonton Anglo-Saxon mengharapkan dari tokoh fiksi mereka sesuatu yang

    lebih, yang bisa mengubah keadaan dan mengalahkan musuh jahat secara total, hal itu tak dapatdiberikan Tintin. Namun, justru karena itulah, menurut The Economist, Tintin menjadi pahlawan

    yang sangat Eropa.

    Masihkah Tintin mendidik?

    Dalam konteks Indonesia, menurut saya, analisis di atas berguna, terutama karena informasinya

    atas sejumlah perkara:

    Pertama bahwa Eropa dan Amerika Serikat yang sering disatukan dengan sembarangan sebagai

    Barat saja, ternyata sungguh-sungguh berbeda; bahkan secara politis tampak betapa Anglo-

    Saxon seolah bukan bagian dari Eropa. Sementara posisi Tintin yang dilahirkan di Belgia, tetapimenyesuaikan diri terhadap regulasi bacaan kanak-kanak Perancis, kiranya paralel dengan

    kegagahberanian Tintin yang selalu dibatasi kebijakan kelewat matang ala pramuka tersebut.

    Kedua, mengingat mitos komik Tintin bagi para orangtua murid sebagai satu-satunya komik

    yang boleh dibaca bagi putra-putrinya, maka catatan di atas mengingatkan betapa tiada bacaankanak-kanak yang steril dari pembebanan makna ideologis. Seperti bisa dilacak, Tintin sempat

    terlihat bersikap rasis terhadap bangsa Afrika, anti-Semitis, serta melecehkan kaum Bolshevik

    karena berada dalam atmosfer ideologi Nazi; sementara ketika memilih bersikap netral dalam

    representasi konflik kiri dan kanan pada masa pasca-Perang Dunia II, ternyata netralitasnya

    berada dalam pilihan politis dan ideologis suatu posisi ketakberdayaan.

    Ketiga, bahwa komik mana pun, yang paling kanak-kanak dan paling mendidik sekalipun,

    akan selalu merupakan representasi ideologi kelompok tertentu, yang tidak perlu ditakuti karenakanak-kanak tak mungkin tumbuh tanpa ideologi sama sekali. Ideologi sebagai caramemandang dunia sangat beragam dan kanak-kanak sejak lahir langsung terjerat pluralitas teks

    dalam wacana sebagai himpunan gagasan dan praksis sosial budaya, yang tanpa terelakkan akanmembentuknya sebagai subyek sosial di dalambukan di luardunia. Juga ketika penerbit

    Indonesia melakukan saringan ideologis dalam proses penerjemahannya, penafsiran Indonesia

    atas sumbernya adalah bukti betapa teks mana pun mustahil menjadi suci hama.

    Justru mengerikan jika kanak-kanak dicetak sebagai proyek ideologis kelompok tertentu, dengan

    mengarahkannya agar selalu tertutup dari kekayaan budaya di dalam duniakarena dari sanalah

    akan lahir monster picik yang membahayakan umat manusia.

    Seno Gumira Ajidarma Wartawan

    Artikel terkait:Ideologi Komik dan Komik Ideologis (KOMPAS 30-11-2007)

    http://sukab.wordpress.com/2007/09/30/ideologi-komik-dan-komik-ideologis/http://sukab.wordpress.com/2007/09/30/ideologi-komik-dan-komik-ideologis/http://sukab.wordpress.com/2007/09/30/ideologi-komik-dan-komik-ideologis/http://sukab.wordpress.com/2007/09/30/ideologi-komik-dan-komik-ideologis/