of 41 /41
Epilepsi A. Definisi Epilepsi adalah suatu serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa kejang. Serangan tersebut disebabkan oleh kelebihan muatan neuron kortikal dan ditandai dengan perubahan aktivitas listrik seperti yang diukur dengan elektro- ensefalogram (EEG). Kejang menyatakan keparahan kontraksi otot polos yang tidak terkendali. B. Patofisiologi Suatu serangan dapat dilacak pada membran sel atau sel disekitarnya yang tidak stabil. Rangsangan yang berlebih menyebar secara lokal (serangan fokal) maupun lebih luas (serangan umum). Terjadinya konduktansi kalium yang tidak normal, cacat pada kanal kalsium sensitif voltase atau defisiensi pada membran adenosine trifosfat (ATPase) yang berkaitan dengan transport ion dapat menghasilkan katidakstabilan membran neuronal dan serangan kejang Aktivitas neuronal normal tergantung pada fungsi normal pemicu rangsangan (yaitu glutamat, aspartat, asetilkolin, norepinefrin, histamin, faktor pelepas kortikotropin, purin, peptida, sitokin, dan hormon steroid) dan penghambat neurotransmitter (yaitu dopamine, asam-γ-

Rekam Medis Mutia

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Rekam Medis Mutia

Epilepsi

A. Definisi

Epilepsi adalah suatu serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa kejang.

Serangan tersebut disebabkan oleh kelebihan muatan neuron kortikal dan ditandai dengan

perubahan aktivitas listrik seperti yang diukur dengan elektro-ensefalogram (EEG). Kejang

menyatakan keparahan kontraksi otot polos yang tidak terkendali.

B. Patofisiologi

Suatu serangan dapat dilacak pada membran sel atau sel disekitarnya yang tidak

stabil. Rangsangan yang berlebih menyebar secara lokal (serangan fokal) maupun

lebih luas (serangan umum).

Terjadinya konduktansi kalium yang tidak normal, cacat pada kanal kalsium sensitif

voltase atau defisiensi pada membran adenosine trifosfat (ATPase) yang berkaitan

dengan transport ion dapat menghasilkan katidakstabilan membran neuronal dan

serangan kejang

Aktivitas neuronal normal tergantung pada fungsi normal pemicu rangsangan (yaitu

glutamat, aspartat, asetilkolin, norepinefrin, histamin, faktor pelepas kortikotropin,

purin, peptida, sitokin, dan hormon steroid) dan penghambat neurotransmitter (yaitu

dopamine, asam-γ-aminobutirat [GABA]), pasokan glukosa, oksigen, Na, K, Cl, Ca,

dan asam amino yang cukup, pH normal, dan fungsi normal reseptor.

Kejang yang lama terpapar glutamat secara terus-menerus, sejumlah besar kejang

tonik-klonik umum (>100). dan episode ganda status epileptikus dapat dikaitkan

dengan kerusakan neuronal.

C. Manifestasi Klinik

1. Gejala

Gejala kejang yang spesifik akan tergantung pada macam kejangnya. Jenis kejang

dapat bervariasi antara pasien, namun cenderung serupa pada satu individu yang sama

Kejang kompleks parsial dapat termasuk gambaran somatosensori atau motor fokal.

Page 2: Rekam Medis Mutia

Kejang kompleks parsial dikaitkan dengan perubahan kesadaran.

Ketiadaaan kejang dapat relatif ringan, dengan periode perubahan kesadaran hanya

sangat singkat (detik).

Kejang tonik klonik umum merupakan episode konvulsi utama dan selalu dikaitkan

dengan kehilangan kesadaran.

2. Tanda-tanda

Interiktal (antara episode kejang), tidak ada tanda epilepsi yang objektif dan khas

3. Pemeriksaan Laboratorium

Hingga saat ini tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk epilepsy. Dalam beberapa

hal khususnya setelah kejang tonik-klonik umum (atau mungkin parsial kompleks),

kadar serum prolaktin dapat naik sesaat. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan

untuk menentukan penyebab kajang yang dapat diobati (yaitu hipoglikemia,

perubahan konsentrasi elektrolit, infeksi) yang bukan serangan epilepsi.

4. Pemeriksaan Diagnostik Lain

- EEG sangat berguna dalam diagnosis berbagai macam kelainan atau gangguan

kejang. EEG mungkin normal pada beberapa pasien yang secara klinis masih

terdiagnosis epilepsi.

- MRI sangat bermanfaat (khususnya dalam pencitraan lobus temporal), tetapi CT

scan tidak membantu kecuali dalam evaluasi awal untuk tumor otak atau

perdarahan selebral

- Kejang parsial mulai pada satu hemisfer otak dan menghasilkan kejang asimetris,

kecuali jika berubah secara sekunder menjadi kejang umum. Kejang parsial

berwujud sebagai perubahan fungsi motor, gejala sensori atau somatosensori atau

gerakan otomatis. Jika tidak mengalami kehilangan kesadaran maka disebut

kejang parsial sederhana. Jika terjadi kehilangan kesadaran dan pasiennya

mengalami gerakan otomatis, pikun, atau penyimpangan perilaku maka disebut

kejang parsial kompleks.

- Kejang abscen biasanya terjadi pada anak muda atau remaja dan menunjukkan

kejang yang tiba-tiba, selaan pada aktivitas yang sedang berlangsung, tidak

berkunang-kunang dan mungkin mengalami mata berputar secara singkat. Kejang

abscen memiliki karakteristik pola spike (gambaran seperti puncak gunung) 2-4

siklus/detik dan EEG gelombang-lambat

- Pada kejang umum, gejala motor adalah bilateral dan terjadi perubahan kesadaran

Page 3: Rekam Medis Mutia

- Kejang tonik-klonik umum dapat didahuliu oleh penanda gejala (yaitu aura).

Kejang tonik-klonik yang didahului oleh aura biasanya kejang parsial yang

berubah menjadi umum secara sekunder. Kejang tonik-klonik dimulai dengan

kontraksi otot yang bersifat tonik pendek diikuti oleh periode kekakuan. Pasien

mungkin kehilangan control sphincter, menggigit lidah, atau menjadi sianosis.

Episode ini diikuti dengan ketidaksadaran dan sering kali pasien terus mengalami

tidur yang mendalam.

- Sentakan mioklonik merupakan konraksi muskuler seperti syok singkat pada

wajah, tubuh dan ekstrimitas. Baik terjadi secara terpisah/tersendiri ataupun

berulang secara cepat.

- Pada kejang atonik, tonus otot hilang secara tiba-tiba yang mungkin digambarkan

sebagai kepala terkulai, lepasnya tungkai dan lengan atau merosot ke tanah.

TERAPI

A. Pendekatan Umum

Dimulai dengan monoterapi, sekitar 50% sampai 70% pasien dapat diobati dengan

satu macam obat antiepilepsi (OAE), tetapi tidak semua bebas kejang.

Lebih dari 60% pasien dengan epilepsy tidak patuh menggunakan obatnya dan hal ini

merupakan alasan utama kegagalan pengobatan

Terapi obat tidak diindikasikan bagi pasien yang hanya mengalami satu kali kejang

atau kejangnya memiliki pengaruh minimal dalam hidupnya. Pada pasien yang

mengalami kejang dua kali atau lebih harus mulai diberikan OAE.

Faktor yang menunjang keberhasilan dalam penghentian penggunaan OAE meliputi :

o Masa bebas kejang 2-4 tahunpengendalian kejang secara paripurna dalam 1

tahun sejak mengalami kejang

o Mula kejang tejadi setelah usia 2 tahun tetapi sebelum berusia 35 tahun

o Dan memiliki EEG normal

Faktor prognosis yang buruk meliputi :

o Riwayat kejang yang terjadi dalam frekuensi tinggi

o Episode status epileptikus yang terus berulang

o Kombinasi beberapa jenis kejang

o Perkembangan ketidaknormalan fungsi kejiwaan

Page 4: Rekam Medis Mutia

Disarankan terdapat periode sekitar 2 tahun bebas kejang untuk jenis epilepsy jenis

rolandik dan abscen

Disarankan terdapat periode masa 4 tahun tanpa kejang bagi kejang parsial sederhana,

parsial kompleks, dan kejang abscen yang terkait dengan kejang tonik-klonik.

MEKANISME AKSI

Mekanisme aksi sebagian besar OAE meliputi efek pada kanal ion (natrium dan

kalsium), penghambatan neurotransmisi (GABA), atau perangsangan neurotransmisi

(glutamate dan aspartat). OAE yang efektif terhadap kejang tonik-klonik umum dan parsial

mungkin dapat mengurangi pengulangan secara terus menerus yang memicu potensial aksi

dengan cara menunda pemulihan kanal natrium sehingga tidak terjadi aktivasi. Obat yang

menurunkan aliran kalsium tipe T kortikotalamik efektif melawan kejang abscen umum.

OBAT-OBATAN

FENITOIN

Indikasi : mengontrol grand mal dan kejang psikomotor; mencegah kejang yang terjadi

setelah operasi saraf; mengontrol grand mal tipe status epileptikus

(pemberian parentral) (A to Z Drug Facts).

Kontraindikasi : hipersensitivitas pada fentoin atau hidantoin lain, sinoatrial block;

sinoatrial block; sinus bradycardia; second- and third-degree atrioventricular

block; Adams-Stokes syndrome (A to Z Drug Facts).

Peringatan : gangguan hati, hamil, menyusui, penghentian obat mendadak, hindari pada

porfilia (IONI).

Mekanisme : berperan pada lapisan korteks motorik dalam menghambat penyebaran

aktivitas kejang. Kemungkinan bekerja dengan meninggkatkan kadar natrium

dari neuron, dengan cara menstabilisasi melawan rangsangan dan juga

menurunkan potensial rangsangan pada sinaps (A to Z Drug facts).

Dosis Anak :

Status epileptikus (IV lambat atau infus) : 15 mg/kg kecepatan maksimal 50 mg/menit

(loading dose)

Anti kejang (oral) : 5-8 mg/kg/hari, dosis tunggal atau terbagi 2 kali sehari.

Pemeliharaan : 100 mg diberikan sesudahnya, interval 6-8 jam. Monitor kadar plasma.

Pengurangan dosis berdasarkan berat badan (IONI).

Pemberian : oral dapat menggangu enternal makanan sekitar 1-2 jam sebelum dan

setelah pemberian fenitoin, banyak minum untuk meningkatkan absorpsi (BNF for children)

Page 5: Rekam Medis Mutia

Efek samping: gangguan saluran cerna, pusing, nyeri kepala, tremor, insomnia, neuropati

perifer, hipertrofi gingival, ataksia, bicara tidak jelas, nistagmus,

pengelihatan kabur, ruam, akne, demam, eritema multiform dan hematologik

(IONI).

Interaksi :

- Analgetik : efek fenitoin kemungkinan diperkuat oleh AINS; fenitoin

- Antibakteri : kadar plasma fenitoin ditingkatkan oleh trimetroprim (juga

meningkatkan efek anti folat)

- Antikoagulan : fenitoin mempercepat metabolism kumarin

- Antidepresan: antagonism efek antikonvulsan oleh SSRI dan golongan trisiklik

(ambang kejang diturunkan)

- Antiepileptik lain : kadar plasma obat kedua sering menurun, jika fenitoin

diberikan bersama dengan karbamazepin, kadar plasma fenitoin juga meningkat

- Antipsikotik : antagonism efek antikonvulsan fenitoin oleh antipsikotik (ambang

kejang diturunkan) (ISO Farmakoterapi).

ASAM FOLAT

Indikasi : vitamin dapat mengobati megaloblastik dan makrositik anemia karena

kekurangan folat (Drug Information Handbook).

Kontraindikasi : pengobatan anemia pernisiosa dan anemia megaloblastik lainnya dimana

vitamin B12 tidak cukup (ISO Farmakoterapi).

Peringatan : jangan diberikan secara tunggal untuk anemia pernisiosa Addison dan

penyakit defisiensi vitamin B12 lainnya karena dapat menimbulkan

degenerasi majemuk dari medulla spinalis. Jangan digunakan untuk penyakit

ganas kecuali anemia megaloblastik karena defisiensi asam folat merupakan

komplikasi penting (IONI).

Mekanisme : folat eksogen dibutuhkan untuk sintesis nucleoprotein dan pemeliharaan

eritropoiesis normal. Asam folat menstimulasi produksi sel darah merah, sel

darah putih dan platelet pada anemia megaloblastik (ISO Farmakoterapi).

Dosis Anak :

Permulaan 5 mg sehari untuk 4 bulan

Pemeliharaan : 5 mg setiap 1-7 hari tergantung penyakit (IONI).

Page 6: Rekam Medis Mutia

Efek samping: perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, iritabilitas, aktivasi berlebih,

depresi mental, anoreksia, mual-mual, distensi abdominal, dan flatulensi

(ISO Farmakoterapi).

Interaksi obat :

- Asam aminosalisilat : penurunan kadar folat serum selama penggunaan konkuren

- Kontrasepsi oral : memperngaruhi metabolism folat dan menyebabkan

kekurangan folat tetapi efeknya ringan dan tidak menyebabkan anemia

- Sulfasalazin : terjadi tanda-tanda defisiensi folat

- Fenitoin : menurunkan kadar folat serum

VALIUM (DIAZEPAM)

Indikasi : pengobatan gangguan kecemasan, meringankan gejala akut alcohol,

mengurangi mengingat memori, pengobatan kejang otot, gangguan konvulsi

dan status epileptikus (A to Z Drug Facts).

Kontraindikasi : depresi pernafasan, insufisiensi pulmoner akut, status fobii/obsesi, psikosis

kronik, porfiria (IONI).

Peringatan : penyakit pernafasan, kelemahan otot, riwayat ketergantungan obat, kelainan

kepribadian yang jelas, hamil dan menyusui (IONI).

Mekanisme : memiliki potensi aksi GABA, menghambat neurotransmitter menghasilkan

peningkatan inhibisi neural dan depresi CNS khususnya pada sistem limbic

dan pembentukan reticular (A to Z Drug Facts).

Dosis :

Sedasi atau relaksasi otot atau kecemasan (IV) : 0,04-0,3 mg/kg/dosis setiap 2-4 jam,

maksimum 0,6 mg/kg hingga 8 jam perwaktu jika dibutuhkan

Status epileptikus 0,1-0,3 mg/kg diberikan setiap 5 mg/menit, dosis diulang setelah

5-10 menit, maksimum 10 mg/dosis (A to Z Drug Facts).

Efek samping: mengantuk, pandangan kabur, bingung, ataksia, amnesia, ketergantungan,

nyeri kepala, vertigo, gangguan salvias dan saluran cerna, ruam, perubahan

libido, retensi urin (IONI).

Interaksi obat :

- Analgesik : efek sedatif meningkat bila ansiolitik dan hipnotik diberikan dengan

analgesik opioid

- Antiepilepsi : diazepam meningkatkan atau menurunkan konsentrasi plasma

fenitoin

Page 7: Rekam Medis Mutia

- Antipsikotik : efek sedatif meningkat bila ansiolitik dan hipnotik

- Antibakteri : rifampisin menurunkan konsentrasi plasma diazepam

- Antidepresan : efek sedatif meningkat bila ansiolitik dan hipnotik diberikan

dengan mirtazapin, antidepresan trisiklik (ISO Farmakoterapi).

CEFTRIAXONE

Indikasi : infeksi bakteri gram positif dan gram negatif untuk infeksi berat seperti

septicemia, pneumonia, dan meningitis (ISO Farmakoterapi).

Kontraindikasi : hipersensitivitas terhadap sefalosporin, porfiria (IONI).

Peringatan : alergi terhadap penisilin, gangguan fungsi ginjal, kehamilan, menyusui

(tetapi boleh digunakan) (IONI).

Mekanisme : menghambat sintesis mukopeptida di dinding sel bakteri (A to Z Drug Facts).

Dosis Anak :

Infeksi (IV) : dosis tungga IV diatas 1 gram dengan hanya infus intravena

Infeksi (oral) : 1 gram/hari untuk infeksi sedang dan meningitis (BNF for children).

Efek samping: diare dan colitis, mual, muntah, sakit kepala, ruam, pruritus, urtikaria,

demam, anafilaksis, eritema, trompositopenia, leukopenia, anemia aplastik,

anemia hemolitik, gangguan tidur, hiperaktivitas, bingung, hipertonia dan

pusing, nervous (IONI).

Interaksi obat :

- Aminoglikosida : meningkatkan resiko nefrotoksisitas

- Tidak cocok : dengan obat-obat anti mikroba (A to Z Drug Facts).

ACETAMINOPHEN

Indikasi : nyeri ringan hingga sedang dan mengobati demam (ISO Farmakoterapi)

Kontraindikasi : pertimbangan standar (A to Z Drug Facts).

Peringatan : berkurangnya fungsi ginjal dan hati, ketergantungan alcohol (IONI).

Mekanisme : menghambat prostaglandin di CNS tetapi kurang aktivitas anti inflamasi di

perifer, mengurangi panas melalui aksi langsung pada panas hipotalamik, dan

regulasi pusat (A to Z Drug Facts).

Dosis Anak :

Demam (oral): 500 mg setiap 4-6 jam, untuk gejala lebih 1 gram 4-6 jam (dosis

maksimal 4 dosis per hari) (BNF for children).

Page 8: Rekam Medis Mutia

Efek samping: ruam kulit, kelainan darah, pankreatitis akut setelah penggunaan jangka

panjang, kerusakan hati setelah over dosis (IONI).

Interaksi obat :

- Resin penukar anion : kolestiramin menurunkan absorpsi paracetamol

- Antikoagulan : penggunaan paracetamol secara rutin dalam waktu yang lama

mungkin meningkatkan kadar wafarin

- Metoklopramid dan domperidon : mempercapat absorpsi (meningkatkan efek )

paracetamol (ISO Farmakoterapi).

PERSIDAL (RISPERIDON)

Indikasi : skizofrenia akut dan kronik (ISO Farmakoterapi).

Kontraindikasi : pertimbangan standar (A to Z Drug Facts).

Peringatan : penyakit kardiovaskular, bila terjadi hipotensi dosis diturunkan, insufisiensi

ginjal dan hati, usia lanjut, parkinsonisme, epilepsy, mengemudi, hami,

menyusui. Oantau untuk tanda-tanda tandive dyskinesia (IONI).

Mekanisme : memiliki efek antipsikotik sepertinya disebabkan oleh dopamine dan

serotonin reseptor bloking di CNS

Dosis Anak :

Skizofrenia (oral) : 1 mg 2x1, dapat ditingkatkan hingga 1-2 mg/hari pada interval 24

jam, rekomendasi pada daerah 4-8 mg/hari dapat diberikan dosis tunggal/hari. Dosis

pemeliharaan 2-8 mg/hari (A to Z Drug Facts).

Efek samping: insomnia, agitasi, ansietas, nyeri kepala, pusing somnolens, lesu, dispesia,

mual, nyeri abdomen, gejala ekstrapiramidal (IONI).

Interaksi Obat :

- Antihipertensi : meningkatkan efek hipotensi beberapa obat antihipertensi

- Karbamazepin : dapat menurunkan kadar plasma risperidon

- Clozapin, paroxetin : dapat meningkatkan kadar pladma risperidon

- Levodopa : efek antagonis levodopa (A to Z Drug Facts).

CEFADROXIL

Indikasi : infeksi bakteri gram positif dan gram negatif untuk infeksi berat seperti

septicemia, pneumonia, dan meningitis (ISO Farmakoterapi).

Kontraindikasi : hipersensitivitas terhadap sefalosporin, porfiria (IONI).

Page 9: Rekam Medis Mutia

Peringatan : alergi terhadap penisilin, gangguan fungsi ginjal, kehamilan, menyusui

(tetapi boleh digunakan) (IONI).

Mekanisme : menghambat sintesis mukopeptida di dinding sel bakteri (A to Z Drug Facts).

Dosis Anak :

Infeksi (oral) : 500 mg dua kali sehari (IONI).

Efek samping: diare dan colitis, mual, muntah, sakit kepala, ruam, pruritus, urtikaria,

demam, anafilaksis, eritema, trompositopenia, leukopenia, anemia aplastik,

anemia hemolitik, gangguan tidur, hiperaktivitas, bingung, hipertonia dan

pusing, nervous (IONI).

Interaksi obat :

- Probenecid : menghambat ekskresi ginjal dari cefadroxil (A to Z Drug Facts).

KLONAZEPAM

Indikasi : epilepsi semua jenis, petit mal, mioklonus, status epileptikus (IONI).

Kontraindikasi : depresi pernafasan, insufisiensi pulmoner akut, porfiria (IONI).

Peringatan : gangguan hati dan ginjal, penyakit pernafasan, usia lanjut, debil, pemutusan

obat mendadak, hamil, menyusui (IONI).

Mekanisme : memiliki potensi aksi GABA, menghambat neurotransmitter menghasilkan

peningkatan inhibisi neural dan depresi CNS khususnya pada sistem limbic

dan pembentukan reticular (A to Z Drug Facts).

Dosis Anak :

Epilepsi (oral) : dosis awal 1 mg di malam hari selama 3 malam, ditingkatkan hingga

2-4 minggu, dosis pemeliharaan 4-8 mg di malam hari (dapat diberikan dalam 3-4

dosis terbagi jika dibutuhkan (BNF for Children).

Efek samping: letih, mengantuk, pusing, hipotoni otot, gangguan koordinasi gerak, agresi,

iritabel dan perubahan mental serta jarang gangguan darah (IONI).

Interaksi obat :

- Analgesik : efek sedatif meningkat bila ansiolitik dan hipnotik diberikan dengan

analgesik opioid

- Antiepilepsi : karbamazepin, fenitoin, pirimidin menurunkan konsentrasi plasma

- Antipsikotik : efek sedatif meningkat bila ansiolitik dan hipnotik

- Antibakteri : rifampisin menurunkan konsentrasi plasma diazepam

- Antidepresan : efek sedatif meningkat bila ansiolitik dan hipnotik diberikan

dengan mirtazapin, antidepresan trisiklik (ISO Farmakoterapi).

Page 10: Rekam Medis Mutia

Rekam medis

Lembar Konsultasi Rawat Inap

Yth. Ts Psikiatri (3 April 2013, 08.00)

Mohon konsul dan tatalaksana OS, Nn. Aria Suci, 16 tahun dengan riwayat kejang

mohon evaluasi apakah ada reaksi konvulsi ?

Dr. Budi W Sp.S

Jawaban dr. Budi, W, Sp.S

- Kejang klonik ± 35 detik

- Setelah dia muntah, menangis (reflek batuk +)

- Saat kejang mulut kaku (diganjal kain)

- Mengompol, sebelum kejang “ada jerks”

- Mylonik jelas pada lengan, tubuh atas

- Saat ini reaksi konvulsi belum dapat disingkirkan

- Tx : psikoterapi individu atau keluarga

- Catatan : putus pacar 2 minggu lalu (hari ke-7)

Formulir Gawat Darurat

Senin (1 April 2013, 13.15)

- Nama : Nn. Aria Suci

- Jenis Kelamin : Perempuan

- Umur : 16 tahun

- Status : K/BK/J/D

Anamnesa : OS suka kejang ± 5 bulan, suka ada reflek gerak seperti kaget, sebelumnya

jatuh dari motor pingsan

Pemeriksaan fisik : TD : 99/62, S/N : /100

Pemeriksaan khusus : CT scan kepala, rujuk psikiatri

Tindakan :

- Konsul dr. Budi W. Sp. S

- RL 20 tpm/mnt

- Fenitoin 3x1 amp diencerkan

- Asam folat 2x1 tab

Page 11: Rekam Medis Mutia

Ringkasan Masuk & Keluar Pasien

- Nomor Reg : 089939

- Nama : Nn. Aria Suci

- Jenis kelamin : Perempuan

- Umur : 16 tahun

- Status : KJS

- Agama : Islam

- Penerimaan melalui : UGD

- Alamat : Kemanggisan Pulo RT/RW 012/003, Palmerah Jak-Pus

- Status perkawinan : Belum menikah

- Tanggal masuk : 1 April 2013

- Pukul : 13:35

- Nama keluarga : Mustofa

- Diagnosis masuk : Epilepsi

Pemeriksaan Dokter Pasien Rawat Inap

- Nomor Reg : 089939

- Nama : Nn. Aria Suci

- Jenis kelamin : Perempuan

- Umur : 16 tahun

- Ruangan : P. Numfor

- Tanggal masuk : 1 April 2013

- Pukul : 13:35

ANAMNESIS

Keluhan utama : kejang

Riwayat penyakit sekarang :

Kejang pertama kali ± 5 bulan SMRS, serangan kejang berlangsung ± 15 menit dan

terjadi ± 2 minggu sekali, kejang seperti kelojotan seluruh tubuh, tanpa didahului

kaku, sebelum kejang pasien tampak bengong selama ± 5 menit, tidak disertai

penurunan kesadaran, sejak ± 5 bulan SMRS, aktivitas pasien terganggu karena

kejang.

Riwayat penyakit terdahulu :

o Riwayat kejang demam : -

Page 12: Rekam Medis Mutia

o Riwayat trauma : ± 5 bulan SMRS pasien mengaku 3 x terjatuh, salah satunya

terdapat benturan di kepala

Riwayat penyakit keluarga :

o Riwayat kejang di keluarga : -

PEMERIKSAAN UMUM

1. Keadaan Umum : TSS Kesadaran : CM

2. Tekanan darah : 80/60 Nadi : 72x/ menit Suhu : 36,5ºC

Rencana pemeriksaan : CT scan kepala

Diagnosa kerja : *Klinis *Etiologis

*Patologis *Topis

Penatalaksana :

o RL 20 tpm

o Fenitoin 3x1 amp

o As. Folat 2x1

Catatan dokter

Tgl 2/4/2013 H+1

T = 90/60 N = 84x/menit S = 36,8 P = 18x/menit

S : tangan dan kaki lemas, pasien tidak kooperatif

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : kaku kuduk (-)

Thorax : L = S 1-2 reg M (-), G (-)

P = SNV +/+, mhi -/-, mhi -/-

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : kejang

F. Luhur : baik Dx Etiologis : susp. epilepsi

Page 13: Rekam Medis Mutia

5 55 5

F. Otonom : baik

P : Inj. fenitoin 3x1 amp diencerkan dengan dextrose 100 ml habiskan dlm 1 jam

Asam Folat 2x1 tab

RL 20 tpm

Catatan dokter

Tgl 3/4/2013 H+2

T = 100/60 N = 80x/menit S = 36,2 P = 18x/menit

S : demam, kejang ↓

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : kejang

F. Luhur : baik Dx Etiologis : susp. epilepsi

F. Otonom : baik

P : RL 20 tpm

Inj. fenitoin 3x1 amp diencerkan

Dextrose 5% 100 ml dalam 1 jam

Inj. Ceftriaxone 2x1 amp

Inj. Valium ½ amp IM

PCT 500 gram 3x1 tab

Asam Folat 2x1 tab

Cek PL

Page 14: Rekam Medis Mutia

5 55 5

Catatan dokter

Tgl 4/4/2013 H+3

T = 100/60 N = 78x/menit S = 37 P = 22x/menit

S : demam saat kejang, demam naik turun

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang

F. Luhur : baik Dx Etiologis : susp. epilepsi

F. Otonom : baik

P : RL 20 tpm

Inj. fenitoin 4 amp dalam dextrose 5% 500cc (8tpm) dienc

Dextrose 5% 100 ml dalam 1 jam

Inj. Ceftriaxone 2x1 amp

Inj. Valium 1 amp IM

PCT 500 gram 3x1 tab

Asam Folat 2x1 tab

ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN

S : ngobrol dengan koas psikolog, cara bicara kekanak-kanakan, agak nyambung

O : ?

A : epilepsy, konvulsi

P : psikoterapi dan family therapy

Catatan dokter

Tgl 5/4/2013 H+4

Page 15: Rekam Medis Mutia

5 55 5

T = 100/60 N = 100x/menit S = 36 P = 20x/menit

S : -

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang + obs konvulsi

F. Luhur : baik Dx Etiologis : epilepsi

F. Otonom : baik

P : RL 20 tpm

Inj. fenitoin 4 amp dalam dextrose 5% 500cc 8 tpm

Dextrose 5% 100 ml dalam 1 jam

Inj. Ceftriaxone 2x1 amp

Inj. Valium ½ amp bila kejang

PCT 500 gram 3x1 tab

Asam Folat 2x1 tab

ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN

S : kekanak-kanakan, manja dan kesal, minta BBnya, lepas kateter infuse, menjawab

seadanya teriak “balikin”

O : ?

A : epilepsy, konvulsi

P : psikoterapi dan family therapy

Catatan dokter

Tgl 6/4/2013 H+5

T = N = S = P =

Page 16: Rekam Medis Mutia

5 55 5

5 55 5

S : nafsu makan turun, susah tidur, dan lemas

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Thorax : Cor/SI.II reg, G-, M-

Pul/SN, ves, wh -/-, rh -/-

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang + obs konvulsi

F. Luhur : baik Dx Etiologis : epilepsi

F. Otonom : baik

P : fenitoin 100 mg 3x1 caps

Cefadroxil 2x500 mg

PCT 500 gram 3x1 tab

Asam Folat 2x1 tab

Catatan dokter

Tgl 7/4/2013 H+6

T = 100/70 N = 82x/menit S = 36 P = 22x/menit

S : kejang demam sore jam 6

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

Page 17: Rekam Medis Mutia

5 55 5

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang + obs konvulsi

F. Luhur : baik Dx Etiologis : epilepsi

F. Otonom : baik

P : fenitoin 100 mg 3x1 caps

Cefadroxil 2x500 mg

PCT 500 gram 3x1 tab

Asam Folat 2x1 tab

Catatan dokter

Tgl 8/4/2013 H+7

T = 100/70 N = 82x/menit S = 36 P = 18x/menit

S : susah makan

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang + obs konvulsi

F. Luhur : baik Dx Etiologis : epilepsi

F. Otonom : baik

P : fenitoin 100 mg 3x1 caps

Asam Folat 2x1 tab

Klonazepam 2x2 mg

Catatan dokter

Tgl 9/4/2013 H+8

Page 18: Rekam Medis Mutia

5 55 5

T = 100/70 N = 88x/menit S = 36 P = 18x/menit

S : susah makan, suka kaget kalau bangun, BAB susah

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang + obs konvulsi

F. Luhur : baik Dx Etiologis : sups. epilepsi

F. Otonom : baik

P : fenitoin 100 mg 3x1 caps

Asam Folat 2x1 tab

Klonazepam 2x2 mg

Persidal 2 mg ¼-0-½

ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN

S : duduk tenang, bicara kekanak-kanakan

O : ?

A : OS kurang konvulsi

P : pestisidal ¼-0-½

Catatan dokter

Tgl 10/4/2013 H+8

T = 100/70 N = 88x/menit S = 36 P = 18x/menit

S : susah makan, suka kaget kalau bangun, BAB susah

O : KU/K TSS/CM

Kepala : normacephali

Mata : Ca -/-, Si -/-, RCL +/+, RCTL +/+

Page 19: Rekam Medis Mutia

5 55 5

Leher : dbn

Thorax : dbn

Abdomen : dbn

Ekstremitas : agak hangat udem

GCS : M6V5E4 R. Fisiologis

TIK ↑ = (-) R. Patologis

L.N.K = (-) F. Motorik

TRM = (-) F. Sensorik

F. Koordinas : baik Dx Klinik : riwayat kejang + obs konvulsi

F. Luhur : baik Dx Etiologis : sups. epilepsi

F. Otonom : baik

P : fenitoin 100 mg 3x1 caps

Asam Folat 2x1 tab

Klonazepam 2x2 mg

Persidal 2 mg ¼-0-½

ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN

S : duduk tenang, bicara kekanak-kanakan

O : ?

A : OS kurang konvulsi

P : pestisidal ¼-0-½

Hasil Laboratorium

No Lab : 14 U

Pasien : Nn. Arya Suci

Tgl : 1 April 2013 jam 19:00:25

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN RUJUKAN

PEMERIKSAAN GULA

Glucotest 93 (Normal) mg% 80-125

PEMERIKSAAN KIMIA DARAH

SGOT 30 u/i P : <35 W : <31

SGPT 27 u/i P : <41 W : <31

Ureum *16 mg/dl 17-43

Kreatinin 0,7 mg/dl P : 0,9-1,3 W : 0,6-1

Page 20: Rekam Medis Mutia

Na 146 mmol/L 134-146

K+ *3,6 mmol/L 3,4-4,5

Cl 97 mmol/L 96-108

PAKET

Leukosit 7400 ui 5000-10000

Eritrosit 4,74 juta/mm3 W : 3,6-5,2

Hemoglobin 14,0 g/dL W : 12-16 P : 14-18

Hematokrit 43 % W : 38-46 P : 43-51

Trombosit 289000 ribu/mm3 150-400

Hasil Laboratorium

No Lab : B4RC

Pasien : Nn. Arya Suci

Tgl : 3 April 2013 jam 14:34:30

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN RUJUKAN

PAKET

Leukosit *10400 ui 5000-10000

Eritrosit 4,99 juta/mm3 W : 3,6-5,2

Hemoglobin 14,9 g/dL W : 12-16 P : 14-18

Hematokrit 45 % W : 38-46 P : 43-51

Trombosit 224000 ribu/mm3 150-400

LED / laju endapan darah 8 mg/L W : <20 P : <10

SUBDEP RADIOLOGI

Nomor Reg : 089939 Tanggal : 1 April 2013

Nama : Nn. Aria Suci Umur : 16 tahun

Alamat : P. Numfor Pemeriksaan : CT Scan kepala

Ts, YTh,

CT Scan Kepala tanpa kontras dengan irisan aksial sejajar OM sampai ke vertex

interval 10 mm, hasil sebagai berikut

- Kedua hemisferium cerebri baik, gyri dan sulci baik

- Sistem Cysterna dan ventrikel baik

Page 21: Rekam Medis Mutia

- Cerebellum dan struktur infra tentorial baik

- Tulang-tulang baik

- KESAN : CT SCAN KEPALA NORMAL

RS. Pelni Neurology Div

Dr. Anggiat Siregar Sp.S tanggal 10/10/12

Rekaman EEG dilakukan tanpa menggunakan obat pramedikasi. Gambaran EEG

dengan latar belakang gelombang 10-11 spd, bercampur gelombang 5-6 spd, bereaksi dengan

buka dan tutup mata, amplitudo sedang tampak adanya gelombang tajam disertai gelombang

lambat di daerah temporoparietal sinistra dan temporoparietal dekstra. Pada pemeriksaan

dengan Photic stimulation juga tampak gelombang tajam disertai gelombang lambat di daerah

temporopariental sinistra dan temporopariental dekstra.

KESAN : Gambaran EEG saat ini tampak adanya gelombang tajam dan lambat (“Spike” dan

“wave”) di temporopariental bilateral dan perlambatan umum.

Form Pengkajian Keperawatan

PEMERIKSAAN FISIK

Keluhan saat ini : lemas

TD : 80/60 mmHg Nadi : 72x/menit Suhu : 36 Nafas : 20x/menit

o Kesadaran : CM terjadi kejang

o GCS (GLASCOW Coma Scale ) total 15

o Pupil : isokor

Pernafasan

o Batuk : tidak

o Jalan nafas : bersih

o Sesak : tidak

o Frekuensi dan jenis : teratur

o Suara nafas : vesikuler

o Alat bantu nafas : tidak

Kardiovaskuler

o Perabaan nadi : kuat

o Irama : teratur

Page 22: Rekam Medis Mutia

o Akral : hangat

o Warna kulit : kemerahan

o Pengisian kapiler : < 3 detik

o Edema : tidak

o Bunyi jantung : BJ I

Pencernaan

o Mual / muntah : tidak

o Distensi abdomen : supel

o Nyeri tekan : tidak

o Bising usus : ya

Sistem integument / musculoskeletal

o Keadaan kulit : baik

o Kesulitan gerak : tidak

o Fraktur : tidak

o Kelumpuhan : tidak

o Kekakuan : tidak

Kebiasaan

o BAK : 4x/hari BAB : 1x/hari

o Minum : 6 gelas/hari makan : 3x/hari

o Tidur : 8jam/hari sukar tidur : tidak

o Mandi : 2x/hari sikat gigi : 2x/hari

Data penunjang

o Lab : DL, OT/PT, UR, CR, elektrolit

o Radiologi : thorax dan CT scan kepala

Catatan Keperawatan

Tgl 1/4/2013

T = 99/62 N = 100x/menit S = 36 P = 22x/menit

- RL 20 tpm

- Lab : DL,OT, PT, UC, elek GDJ

14:25 Inj. Ceftriaxone 50 mg IM

Konsul dr. Budi Sp.S

Page 23: Rekam Medis Mutia

EEG terlampir

14:30 Sksolid ½ am

Scanning kepala (hasil : -)

Thorax (hasil : -)

EEG terlampir

P/B OS kiriman dari UGD datang pukul 16:40

d/dx : epilepsy

Co. dr. Budi Sp.S

RL 20 tpm

Inj. Fenitoin 3x1 amp dalam 20 cc

Asam Folat 2x1 tab

CT scan kepala hasil + belum dibacakan

Ceftriaxone 50 mg IM

Cek lab DL hasil +

K/U OS lemah Kes : CM Kel : lemas + teriak-teriak terus

DS 20.00 aplusan dengan DM

Visit dari dr. Rony SP.S

Th/teruskan

DM 20 .00 Aplusan dengan DS K/U OS lemah, Kes : CM, Kel: teriak-teriak, lemas +

Inf RL 20 tpm lancar

22.00 istirahat malam cukup

01.00 memberikan inj fenitoin 1 amp

04.00 Obs TTV

05.00 ma/mi + obat

08 .00 aplusan dengan DP

Tgl 2/4/2013

DP 08.00 diterima aplusan dari DM

Inf RL 20 tpm lancar

10.00 memberi snack

Gelisah + teriak-teriak +

11.00 Obs TTV

12.00 memberi ma/mi dan obat oral

14.30 aplusan dengan DS

Page 24: Rekam Medis Mutia

DS 14.30 menerima aplusan dengan DP K/U OS lemah, kes : CM, kel : teriak-teriak,

lemas, terpasang inf RL 20 tpm lancar

16.00 obs TTV

17.00 memberikan inj fenitoin 20 cc Dextrosa 5% 100 ml/1 jam

17.20 memberikan ma/mi + obat

19.00 memberikan inj. Ceftriaxone 1 gr

20.00 aplusan dengan DM

DM 20.00 menerima aplusan dengan DS DP K/U OS lemah, kes : CM, kel : teriak-teriak,

Lemas, terpasang inf RL 20 tpm lancar

22.00 OS istirahat malam

24.00 OS tenang +

01.00 inj fenitoin 1 amp dicampur dextrose 5% 100 cc dalam 1 jam

02.00 OS demam diberi PCT 1 tab

03.00 infus bengkak + pasang kembali –

04.00 Obs TTV

06.00 ma/mi pagi

07.00 obat oral pagi

08.00 aplusan dgn DP

Tgl 3/4/2013

DP 08.00 diterima aplusan dari DM

09.00 perawatan infus

OS kejang +

10.00 konsul dr. eunice

11.00 Obs TTV

12.00 memberi ma/mi dan obat oral

Kejang +

Lapor dr. Budi oduis fenitoin 1 amp dalam 500 cc 8tts/mnt

Bila masih kejang diberikan diazepam ½ amp

14.30 aplusan dgn DS

DS 14.30 menerima aplusan dengan DP K/U OS lemah, kes : CM, kel : lemas +, kejang

+ kadang-kadang, terpasang inf Dextrose 5% + 4 amp fenitoin 8tts/mnt

15.00 obs TTV

16.00 memberikan inj. Ceftriaxone 1 gr

Page 25: Rekam Medis Mutia

17.00 ma/mi + obat

20.00 aplusan dengan DM

DM 20.00 menerima aplusan dengan DS DP K/U OS lemah, kes : CM, kel : lemas +

Kejang -, inf Dextrose 5% + 4 amp fenitoin 8 tpm lancar

OS mengeluh panas + S: 38 extra PCT 1 tab

22.00 OS istirahat malam cukup

04.00 Obs TTV

Inj ceftriaxone 1 gram

05.00 ma/mi pagi

08.00 aplusan dgn DP

Tgl 4/4/2013

DP 08.00 aplusan dari DM K/U OS lemah, kes : CM, kel : kejang –

inf Dextrose 5% + 4 amp fenitoin 8tts/mnt lancar

08.30 perawatan infuse, visit dr. Robert Sp.S terapi teruskan

09.00 memberikan snack B.K hijau

10.00 inj ceftriaxone, keperluan OS dibantu

11.00 Obs TTV tercatat

12.00 memberikan ma/mi obat peroral

14.30 aplusan dgn DS terapi diteruskan

DS 14.30 menerima aplusan dengan DP K/U OS lemah, kes : CM, kel : teriak +, inf RL

20 tpm lancar

16.00 memberikan inj. Ceftriaxone 1 gr IV

Inj fenitoin 4 amp dalam Dextrose 5% 500 cc 8 tpm

17.00 obs TTV

18.00 ma/mi sore

19.00 obat oral sore

20.00 aplusan dengan DM

RESEP

Tanggal 5 April 2013 No. 062516

R/ inj fenitoin amp No. IV

Dextrose 5% 500 cc kalf No. I

Page 26: Rekam Medis Mutia

Spuit 3 cc No. IV

Inj valium amp No. I

Inj ceftriaxone 1 gram tb No. II

Spuit 10 cc No. II

Aquabidest 25 cc No. II

RL kalf No. III

Verflon No. 226 No. I

∫ i.m.m

R/ PCT 500 gram No. X

∫ 3ddI tab

R/ Asam folat No. VI

∫ 2ddI tab

Pro : Aria Suci

Umur : 16 tahun

Visit Book

Tan

ggl 2

Apr

il 2

013

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

P/B cek lab lengkap, hasil - ,

CT scan kepala, dibacakan -

Jam 11.00 telpon dr. budi

Sp.S

Bila OS kejang valium ½

amp dlm Dextrose 5% 100

ml dalam 1 jam

visit dr. Budi Sp.S

-Inj ceftriaxone 2x1 gram

-PCT ex 500 gram 3x1 tab

Inj fenitoin

Dalam 5 cc – 2 menit

3x1 amp 2

Asam folat 2x1 tab 5

Inf RL 20 tpm

TD : 100/70 S/N : 36,4/80

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

visit dr. Budi Sp.S

cek DL hasil lapor dr. Budi

pasang inf, cd psikiatri dr.

Eurice sp.Kj

a/p psikoterapi idv family

bila kejang

jam 12.00 telp dr. budi Sp.S

Inj fenitoin/drip

Dextrose 5% 100 ml dlm 1 jam

3x1 amp 2

Inj ceftriaxone 2x1 gram

Inj valium ½ amp IM

PCT 500 gram 3x1 tab 9

Page 27: Rekam Medis Mutia

T

a

n

g

g

l

3

A

p

r

i

l

2

0

1

3

fenitoin 4 amp/drip 500 cc

Dex 5% 8 tpm

bila OS masih kejang ½

amp valium IV

Asam folat 2x1 tab 3

Inf RL 20 tpm

TD : 100/60 S/N : 37/89

Tan

ggl 4

Apr

il 2

013

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Raber dr. Eurice sp.Kj

Ro thorax hasil bacaan –

Visit dr. Robert Sp.S

8 tpm th/

teruskan

Visit dr. Pramudia

a/p th/ teruskan

Visit dr. Eunice

a/p th/ teruskan

Inj fenitoin/drip 4 amp dlm

D5% 500 cc

-

Inj valium ½ amp 2

Inj. Ceftriaxone 2x1 gram 1

PCT 500 gram 3x1 tab 4

Asam folat 2x1 tab 1

Inf RL 20 tpm

TD : 100/60 S/N : 37/78

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Raber dr. Eurice sp.Kj

Raber dr. Eunice

Visit dr. Irrianto

8 tpm

Bila kejang

Inj stop

Inj fenitoin/drip 4 amp dlm

D5% 500 cc

-

Inj valium (IM) ½ amp 2

Inj. Ceftriaxone 2x1 gram -

PCT 500 gram 3x1 tab -

Page 28: Rekam Medis Mutia

T

a

n

g

g

l

5

A

p

r

i

l

2

0

1

3

Fenitoin tab 100 mg 3x1

Cefadroxil 3x500 mg

Visit dr. Eunice

lanjutkan

Asam folat 2x1 tab -

Inf RL 20 tpm

TD : 100/60 S/N : 36/100

Tan

ggl 6

Apr

il 2

013

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Visit dr. Roni Sp.S

Th/ teruskan

R/ CT scan kepalafenitoin 3x1 caps 14

Cefadroxil 2x500 mg 14

PCT 500 gram 3x1 tab -

Asam folat 2x1 tab -

TD : 80/60 S/N : 36/100

Tan

ggl 7

Apr

il 2

013

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Visit dr. Roni Sp.S

Th/ teruskan

Stop

Stop

Fenitoin 100 mg 3x1 caps 8

Cefadroxil 2x500 mg 9

PCT 500 gram 3x1 tab -

Asam folat 2x1 tab -

TD : 100/90 S/N : 36/82

Tan

ggl 8

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Visit dr. budi

Riclona/clonazepam 2x1

Fenitoin 100 mg 3x1 caps 5

Page 29: Rekam Medis Mutia

A

p

r

i

l

2

0

1

3

Visit dr. Eunice

a/r Persidal 2 mg ¼-0-½ Asam folat 2x1 tab 13

TD : 80/60 S/N : 36/100

Tan

ggl 9

Apr

il 2

013

Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Visit dr. Robert Sp.S

Th/ teruskan

Fenitoin 100 mg 3x1 caps 4

Riklona / clonazepam 2x1 mg 6

Persidal 2 mg ¼-0-½ 9 ¼

Asam folat 2x1 tab 10

Tan

ggl 1

0 A

pril

201

3 Nn. Aria Suci

Epilepsy

PC KJS Bed

3

Visit dr. Budi Sp.S

Neuro selesai

B/p Visit Pramudia

B/p

Kontrol hari rabu

Fenitoin 100 mg 3x1 caps 1

Riklona / clonazepam 2x1 mg 3

Persidal 2 mg ¼-0-½ 8

Asam folat 2x1 tab