29
REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA SPONDILITIS TUBERKULOSA BAB I PENDAHULUAN Tuberkulosis dikenal sejak 1000 tahun sebelum Masehi seperti yang tertulis dalam kepustakaan Sanskrit kuno. Nama “tuberculosis” berasal dari kata tuberculum yang berarti benjolan kecil yang merupakan gambaran patologik khas pada penyakit ini. Tuberculosis masih merupakan masalah kesehatan di Negara maju maupun berkembang, termasuk di Indonesia baik dari segi morbiditas maupun mortalitas, berbagai upaya penanggulangan TB secara nasional sudah lama di upayakan, tetapi upaya tersebut belum menampakkan hasil yang memuaskan, Indonesia menempati urutan ke lima di bawah cina, india, afrika selatan, dan nigeria sebagai negara dengan penderita TB terbesar. Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa selalu merupakan infeksi sekunder dari fokus di tempat lain dalam tubuh. Tulang belakang lebih sering terkena dibandingkan dengan sendi tunggal lainnya, kemudian sendi panggul, lutut, dan tulang-tulang kaki, tulang-tulang lengan, dan jarang mengenai tangan. Sarang primernya biasanya adalah di dalam paru. Percival Pott (1793) adalah penulis pertama tentang penyakit ini dan menyatakan bahwa terdapat hubungan 1

Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

  • Upload
    lewien

  • View
    83

  • Download
    7

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

REHABILITASI MEDIK PADA PENDERITA

SPONDILITIS TUBERKULOSA

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis dikenal sejak 1000 tahun sebelum Masehi seperti yang tertulis dalam

kepustakaan Sanskrit kuno. Nama “tuberculosis” berasal dari kata tuberculum yang berarti

benjolan kecil yang merupakan gambaran patologik khas pada penyakit ini.

Tuberculosis masih merupakan masalah kesehatan di Negara maju maupun berkembang,

termasuk di Indonesia baik dari segi morbiditas maupun mortalitas, berbagai upaya

penanggulangan TB secara nasional sudah lama di upayakan, tetapi upaya tersebut belum

menampakkan hasil yang memuaskan, Indonesia menempati urutan ke lima di bawah cina, india,

afrika selatan, dan nigeria sebagai negara dengan penderita TB terbesar.

Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa selalu

merupakan infeksi sekunder dari fokus di tempat lain dalam tubuh. Tulang belakang lebih sering

terkena dibandingkan dengan sendi tunggal lainnya, kemudian sendi panggul, lutut, dan tulang-

tulang kaki, tulang-tulang lengan, dan jarang mengenai tangan. Sarang primernya biasanya

adalah di dalam paru. Percival Pott (1793) adalah penulis pertama tentang penyakit ini dan

menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulang belakang

yang terjadi, sehingga penyakit ini disebut juga penyakit Pott . Etiologinya baru menjadi jelas

setelah dalam tahun 1882 Robert Koch menemukan basil mikobakterium tuberkulosis. Penyakit

ini juga dinamai Morbus Potti .

Spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronis

destruktif. Basil ini sampai di dalam tulang belakang melalui penyebaran hematogen dan

menyerang satu atau lebih korpus vertebra yang mengakibatkan destruksi tulang dan menyebar

ke semua jaringan artikulasi. Lokalisasi paling sering ditemukan pada regio torakolumbal dan

jarang sekali pada regio servikal. Beberapa kasus spondilitis TB memberikan prognosis yang

baik apabila diagnosis ditegakkan lebih dini, apabila tidak ada perbaikan, timbul komplikasi

berupa gangguan neurologis, paraplegia atau tetraplegia, program Rehabilitasi medis secara dini

1

Page 2: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

dapat membantu mencegah komplikasi akibat imobilisasi lama, tetraplegia, atau paraplegia, dan

mempertahankan serta memperbaiki fungsi semaksimal mungkin.

Terapi konservatif yang diberikan pada pasien tuberkulosa tulang belakang sebenarnya

memberikan hasil yang baik, namun pada kasus – kasus tertentu diperlukan tindakan operatif

serta tindakan rehabilitasi yang harus dilakukan dengan baik sebelum ataupun setelah penderita

menjalani tindakan operatif.

2

Page 3: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

BAB II

SPONDILITIS TUBERKULOSA

A. DefinisiInfeksi tuberkulosa ekstra pulmonal yang mengenai satu atau lebih tulang belakang

disebut spondilitis tuberkulosa atau pott’s disease.

B. EpidemiologiSaat ini di seluruh dunia telah terdapat 9 juta kasus terinfeksi tuberkulosis dan 3

juta kasus meninggal setiap tahunnya. Umumnya menyerang golongan usia produktif

dan golongan sosial ekonomi tidak mampu (miskin), sehingga berdampak pada

pemberdayaan sumber daya manusia yang pada akhirnya akan menghambat

pertumbuhan ekonomi negara .

Di negara yang sedang berkembang, spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit

yang sering dijumpai pada anak-anak maupun orang dewasa. Di Inggris, penyakit ini

biasanya menyerang usia pertengahan dan sering dijumpai pada populasi imigran .

Spondilitis tuberkulosa merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi

yang terjadi. Di amerika utara, eropa, dan Saudi Arabia, penyakit ini terutama

menyerang dewasa, di asia dan afrika presentase terbesar pada anak-anak. Spondilitis

tuberkulosa terutama ditemukan pada kelompok umur 2 – 10 tahun dengan

perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan .

Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra T8 – L3, dan paling jarang

pada vertebra C1-2. Biasanya mengenai korpus vertebra dan jarang menyerang arkus

vertebra .

C. EtiologiSpondilitis tuberkulosa merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain

di tubuh, 90 – 95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe

human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5 – 10% oleh mikobakterium tuberkulosis atipik.

3

Page 4: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

D. Anatomi tulang belakangSuatu kolumna vertebra yang normal terdiri dari 33 tulang vertebra yang

dipisahkan oleh diskus intervertebralis. Seluruh kolumna vertebralis pada garis vertikal,

membentuk 4 kurva fisiologis. Keempat kurva tersebut dinamakan lordosis cervikal dan

lumbal dengan konveksitas ke anterior dan kifosis torakal dan kifosis sacral dengan

konveksitas ke posterior

Gbr 1. Kollumna vertebralis pada orang dewasa

Sebuah tulang vertebra terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior atau corpus

vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus vertebrae. Arcus vertebrae

dibentuk oleh dua "kaki" atau pediculus dan dua lamina, serta didukung oleh penonjolan

atau procesus yakni procesus articularis, procesus transversus, dan procesus spinosus.

Procesus tersebut membentuk lubang yang disebut foramen vertebrale. Ketika tulang-

tulang vertebra disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat medulla

spinalis. Di antara dua tulang belakang dapat ditemui celah yang disebut discus

intervertebrale.

4

Page 5: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

Gbr. 2. Anatomi vertebra

Tulang belakang manusia mempunyai fungsi untuk mempertahankan posisi tegak

dari tubuh, menyangga berat badan dan pergerakan tubuh. Fungsi ini didukung oleh

struktur jaringan disekitar tulang belakang. Struktur jaringan ini meliputi diskus

intervertebralis, ligamentum, otot, kulit, dan sistem saraf.

E. PatofisiologiPenyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Berdasarkan tempat

berawalnya infeksi, spondilitis korpus vertebra dibagi menjadi 3 bentuk

- Bentuk sentral, dimana destruksi awal terletak di sentral korpus vertebra. Bentuk

ini sering ditemukan pada anak.

5

Page 6: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

- Bentuk paradiskus, destruksi awal terletak di bagian korpus vertebra yang

bersebelahan dengan diskus intervertebral. Bentuk ini sering ditemukan pada

orang dewasa.

- Bentuk anterior, dengan lokus awal di korpus vertebra anterior, merupakan

penjalaran per kontinuitatum dari vertebra di atasnya.

6

Page 7: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan

perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifisis, diskus

intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan di bagian depan ini akan

menyebabkan terjadinya kifosis.

Selanjutnya eksudat yang terdiri dari serum, leukosit, kaseosa, tulang yang fibrosis

serta basil tuberkulosis menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal anterior.

Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang

garis ligamen yang lemah.

Pada daerah servikal, eksudat berkumpul di belakang fasia paravertebralis dan

menyebar ke lateral di belakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat

mengalami protrusi ke depan dan menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses

faringeal. Abses dapat berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea, esofagus atau

kavum pleura.

Abses pada daerah vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks

setempat menempati daerah paravertebral, berbentuk massa yang menonjol dan fusiform.

Abses pada daerah ini dapat menekan medula spinalis sehingga timbul paraplegia.

Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti muskulus psoas dan

muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian medial paha. Eksudat juga dapat

menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dapat mengikuti pembuluh darah femoralis

pada trigonum skarpei atau regio glutea.

Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium, yaitu :

1. Stadium implantasiSetelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh penderita

menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama

6 – 8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada

anak-anak umumnya pada daerah sentral vertebra.

2. Stadium destruksi awalSetelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra

serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3 – 6

minggu.

7

Page 8: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

3. Stadium destruksi lanjutPada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra, dan

terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin),

yang terjadi 2 – 3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat

terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini

terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat

kerusakan korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus.

4. Stadium gangguan neurologisGangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi,

tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini

ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra

torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan

neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini.

Bila terjadi gangguan neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan

paraplegia, yaitu :

Derajat 1 : Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah

melakukan aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum

terjadi gangguan saraf sensoris.

Derajat 2 : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tetapi penderita

masih dapat melakukan pekerjaannya

Derajat 3 : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang

membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anestesia.

Derajat 4 : Terdapat gangguan saraf sensoris dan motoris disertai

gangguan defekasi dan miksi.

Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau

lambat tergantung dari keadaan penyakitnya.

Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan

ekstradural dari abses paravertebral atau akibat kerusakan langsung sumsum

tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang

sudah tidak aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada kanalis spinalis atau

oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan granulasi

8

Page 9: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

tuberkulosa. Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi

destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler vertebra.

Derajat 1 – 3 disebut sebagai paraparesis dan derajat 4 disebut sebagai

paraplegia.

5. Stadium deformitas residualStadium ini terjadi kurang lebih 3 – 5 tahun setelah timbulnya stadium

implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen oleh karena kerusakan vertebra

yang masif di sebelah depan.

F. Gambaran klinis Secara klinis gejala spondilitis tuberkulosa hampir sama dengan gejala

tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat

badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta

nyeri punggung. Nyeri yang meningkat saat malam hari makin lama makin berat

terutama pada pergerakan. Pada anak-anak sering disertai dengan berteriak sewaktu

tidur nyenyak pada malam hari (night cries).

Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang

kepala, gangguan menelan, dan gangguan pernafasan akibat adanya abses retrofaring.

Kadangkala penderita datang dengan gejala abses pada daerah paravertebral, abdominal,

inguinal, poplitea, atau bokong, adanya sinus pada daerah paravertebral atau penderita

datang dengan gejala – gejala paraparesis, paraplegia, gangguan pergerakan tulang

belakang akibat spasme atau gibus.

Keluhan dan tanda-tanda kompresi pada medula spinalis terjadi pada kira-kira

20% kasus. Onset dapat timbul bertahap seiring dengan terkumpulnya pus, massa

kaseosa, atau jaringan granulasi, tetapi dapat juga timbul secara tiba-tiba bila terjadi

kolaps korpus vertebra dan menimbulkan kifosis.

Gejala awal paraplegia dimulai dengan keluhan kaki terasa kaku atau lemah,

atau penurunan koordinasi tungkai. Proses ini dimulai dengan penurunan daya kontraksi

otot tungkai dan peningkatan tonusnya. Kemudian terjadi spasme otot fleksor dan

akhirnya kontraktur. Pada permulaan, paraplegia terjadi karena udem sekitar abses

paraspinal tetapi akhirnya karena kompresi. Karena tekanan timbul terutama dari depan,

9

Page 10: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

maka gangguan pada paraplegi ini kebanyakan terbatas pada traktus motorik. Paraplegia

kebanyakan ditemukan di daerah torakal dan bukan lumbal. Gangguan sensorik pada

stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang juga ikut terlibat.

Tanda-tanda lokal yang dapat diperiksa pada tahap aktif adalah :

1. Inspeksi. Suatu tanda khas pada vertebra torakal adalah gibus yang menyudut, paling

jelas dilihat dari lateral. Pada kasus lanjut, pasien menjadi kifosis. Pada tulang belakang

lumbal, gibus hampir tidak kelihatan tetapi mungkin terlihat jelas abses di pinggang atau

lipat paha. Kalau vertebra servikal terpengaruh, leher dapat menjadi kaku.

2. Palpasi. Jari – jari dapat mendeteksi gibus, walaupun ringan, yaitu dengan tangan

menyusuri prosesus spinosus. Abses berfluktuasi dan kulit di atasnya hanya sedikit

hangat.

3. Pergerakan. Pergerakan yang berkurang tak dapat dideteksi di daerah toraks tetapi

mudah diamati pada daerah lumbal. Punggung harus diperhatikan dengan teliti sementara

gerakan dinilai. Biasanya seluruh gerakan terbatas dan usaha itu menimbulkan spasme

otot. Uji uang logam dapat menilai, seorang anak dengan spasme lumbal, bila mengambil

uang dari lantai cenderung membengkokkan pinggul dan lutut bukannya

membungkukkan tulang belakang. Kaki juga harus diperiksa untuk menemukan defisit

neurologik, yang mungkin masih sangat sedikit.

Pada tahap penyembuhan, rasa sakit menghilang dan pasien sehat lagi, meskipun ia

mungkin menderita deformitas permanen dan risiko berulangnya infeksi.

G. Pemeriksaan Laboratorium a. Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis.

b. Uji Mantoux positif

c. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikobakterium

d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.

e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel.

10

Page 11: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

H. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru.

Foto polos vertebra, ditemukan osteoporosis, osteolitik, dan destruksi korpus

vertebra, disertai penyempitan diskus intervertebralis yang berada di antara korpus

tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya massa abses paravertebral.

Pada foto AP, abses paravertebral di daerah servikal berbentuk sarang burung

(bird’s nest), di daerah torakal berbentuk bulbus dan pada daerah lumbal abses

terlihat berbentuk fusiform Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang

hebat sehingga timbul kifosis.

Pemeriksaan foto dengan zat kontras. Pemeriksaan mielografi dilakukan bila

terdapat gejala penekanan sumsum tulang.

Pemeriksaan CT scan atau CT dengan mielografi.

Pemeriksaan MRI.

I. DiagnosisDiagnosis spondilitis tuberkulosa dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis

dan pemeriksaan radiologis. Untuk melengkapi pemeriksaan, maka dibuat suatu standar

pemeriksaan pada penderita tuberkulosis tulang dan sendi, yaitu :

a. Pemeriksaan klinis dan neurologis yang lengkap.

b. Foto tulang belakang posisi AP dan lateral.

c. Foto polos toraks posisi PA.

d. Uji Mantoux.

e. Biakan sputum dan pus untuk menemukan basil tuberkulosa.

Diagnosis TB pada anak sering sulit dilakukan. Berdasarkanan amnesis didapatkan

keluhan yang bersifat umum dan spesifik. Keluhan umum adalah, demam lama yang

tidak diketahui penyebabnya berat badan yang tidak naik dalam jangka waktu tertentu,

anoreksia, lesu dsb. Gejala khusus dapat berupa gibbus pada vertebra atau plikten di

konjungtiva mata.

Adanya demam pada TB merupakan gejala sistemik atau umum yang sering

dijumpai yaitu 60-90 % kasus. Demam biasanya tidak terlalu tinggi, naik-turun dan

berlangsung cukup lama. Untuk mencurigai anak yang demam lama dan tidak tinggi

11

Page 12: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

sebagai gejala TB, maka harus dapat menyingkirkan penyebab demam yang lain. Tanda

yang lain adalah penurunan berat badan. Penurunan berat badan ini perlu dicurigai

sebagai gejala TB apabila dengan tatalaksana gizi yang cukup belum ada perbaikan. Perlu

di ketahui, gejala sistemik atau gejala umum tersebut tidak khas karena dapat terjadi pada

infeksi yang lain. Keluhan batuk merupakan gejala utama TB pada dewasa bukan

merupakan gejala yang menonjol pada TB anak. Hal ini disebabkan karena pada TB anak

prosesnya adalah pada parenkim paru yang tidak mempunyai reseptor batuk.

sebagaimana diketahui batuk akan timbul apabila ada rangsangan pada reseptor batuk.

Meskipun demikian pada TB anak dapat terjadi batuk apabila pembesaran kelenjar yang

terjadi sudah menekan bronkus. Penekanan ini merupakan rangsangan pada reseptor

batuk di bronkus yang menyebabkan timbulnya rangsangan batuk.

Gejala khusus yang mungkin timbul pada TB anak adalah gibbus, konjungtivitis

pliktenularis, dan skofuloderma. Pada keadaan diatas harus dibuktikan TB sebagai

penyebabnya.

Diagnosis TB ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan Neurologis

dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang paling sering dilakukan dan

mempunyai nilai diagnostik tinggi adalah uji tuberculin, uji tuberkulin dilakukan dengan

menggunakan bahan PPD (purified protein derivative), yang merupakan ekstrak gliserin

basil TB. uji tuberkulin ini disebut juga sebagai tes Mantoux, sesuai dengan nama

penemunya seorang dokter dari perancis Charles Mantoux(1907). Tes Mantoux dilakukan

dengan menyuntikkan intradermal pada permukaan volar lengan bawah pasien dengan

dosis standar 5 Tuberkulin unit (0,1ml) dan hasilnya dibaca setelah 48-72 jam.

pembacaan dilakukan dengan mengukur diameter indurasi yang terjadi.

Pemeriksan penunjang lainnya pemeriksaan x Foto rontgen thoraks. Pada anak-

anak pemeriksaan ini memang tidak khas, dicurigai TB bila didapatkan pembesaran

kelenjar hilus, paratrakheal, atelektasis, efusi pleura dan gambaran milier, bila didapatkan

deformitas pada vertebra maka perlu dilakukan foto polos tulang belakang segmen yang

bersangkutan dengan posisi AP dan lateral.

Diagnosis pasti TB adalah dengan ditemukannya M. Tuberculosis pada

sputum/biakan sputum, pada TB dewasa pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan tetapi

pada anak sulit, karena belum tentu pada anak didapatkan gejala batuk baik dengan

12

Page 13: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

sputum maupun tidak. Oleh karena sulitnya menegakkan diagnosis TB pada anak maka

para pakar kesehatan anak membuat suatu kesepakatan untuk memudahkan penanganan

TB anak secara meluas terutama sangat berguna di daerah perifer dengan fasilitas

kesehatan yang kurang canggih. Untuk itu dibuatlah suatu sistem penilaian / skoring TB

sebagai berikut

Catatan: Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter Jika dijumpai skrofuloderma langsung didiagnosis TB Berat badan dinilai saat datang Demam dan batuk tidak ada respons terhadap terapi sesuai baku Foto rontgen bukan alat diagnosis utama pada TB anak

13

Page 14: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus dievaluasi dengan system skorinh TB anak Didiagnosis TB jika jumlah skor ≥6 (skor maksimal 14). Cut off point ini masih bersifat

tentatif/ sementara, nilai definitive menunggu hasil penelitian yang sedang dikerjakan.

Pada tabel diatas nampak bahwa pembobotan tertinggi adalah pada hasil uji tuberkulin

dan adanya kontak dengan penderita TB dengan BTA (+). Uji tuberkulin mempunyai

sensitivitas dan spesifitas tinggi sehingga dapat digunakan sebagai uji pasti dan menunjang

diagnosis. Demikian juga dengan riwayat kontak dengan penderita TB dewasa dengan BTA

(+). Adanya kontak dengan BTA positif dapat menjadi sumber penularan yang berbahaya

karena berdasarkan penelitian 65 % akan menularkan pada orang disekitarnya.

Penurunan berat badan merupakan gejala umum yang sering diiumpai pada TB anak.

Umumnya penderita TB anak mempunyai berat badan dibawah garis merah atau bahkan gizi

buruk. Dengan alas an tersebut maka kriteria penurunan berat badan dalam hal ini dalam

waktu dua bulan berturut-turut adalah penting untuk di perhatikan. Demam merupakan

suatu tanda umum adanya suatu infeksi, yang dimaksud disini adalah demam yang tidak

diketahui penyebabnya dan bukan karena akibat penyakit malaria atau tifoid.

Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu ( batuk kronik) merupakan salah satu gejala

umum TB anak. Yang perlu diperhatikan adalah batuk kronik juga merupakan gejala utama

asma yang biasanya bersifat berulang dan adanya kronisitas.

Pembesaran kelenjar limfe didaerah leher, aksila dan lnguinal dapat menjadi tanda

adanya TB pada anak. Umumnya pembesaran kelenjar bersifat multipel, tidak nyeri,

perabaan kenyal" warna sama dengan kulit sekitarnya' Pembesaran kelenjar ini harus

dibedakan dengan pembesaran kelenjar akibat infetsi kuman banal, yang pada umumnya

bersifat soliter, nyeri, warna lebih merah daripada kulit sekitamya. Yang perlu diperhatikan

adalah apabila pembesaran kelenjar tersebut berubah menjadi skrofuloderma maka keadan

ini merupakan tanda yang spesifik untuk TB, sehingga pasien harus dirujuk kesarana

kesehatan yang lebih tinggi (RS) untuk mendapatkan penanganan.

Pembengkakan tulang /sendi merupakan tanda TB anak yang harus dibedakan dengan

pembengkakan sendi akibat lain demikian juga bila ada keluhan berjalan Pincang. Foto

rontgen dada dengan adanya gambaran infiltrat , pembesaran kelenjar getah bening pada

hilus kurang khas untuk TB pada anak kecuali didapatkan gambaran milier.

14

Page 15: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

J. Diagnosis Banding

Diagnosis banding spondilitis tuberkulosa adalah fraktur kompresi traumatik atau

akibat tumor. Tumor yang sering di vertebra adalah tumor metastatik dan granuloma

eosinofilik.

Diagnosis banding spondilitis tuberkulosa.

osteitis piogen lebih cepat timbul demam

poliomielitis paresis/paralisis tungkai, skoliosis dan bukan kifosis

skoliosis idiopatik tanpa gibus dan tanpa paralisis

penyakit paru dengan

(bekas) empiema

tulang belakang bebas penyakit

metastasis tulang belakang tidak mengenai diskus, adakah karsinoma prostat

kifosis senilis kifosis tidak lokal, osteoporosis seluruh kerangka

Diagnosis banding yang lain adalah infeksi kronik non tuberkulosis antara lain

infeksi jamur seperti blastomikosis dan setiap proses yang mengakibatkan kifosis dengan

atau tanpa skoliosis.

15

Page 16: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

K. Komplikasi NeurologiInsiden terjadinya komplikasi neurologi 10% - 30%. Komplikasi yang paling ditakuti

adalah paraplegia yang terjadi oleh karena spondilitis tuberkulosa daerah torakal, dan

tetraplegi karena spondilitis tuberkulosa daerah servikal (sangat jarang terjadi).

Paraplegia diklasifikasikan dalam 2 kelompok:

a. Paraplegia yang mulainya dini, terjadi dalam 2 tahun pertama penyakit. Paraplegia

terjadi oleh karena inflamasi udem jaringan granulasi abses kaseosa (pengkijuan) atau

iskemi medula spinalis (jarang).

b. Paraplegia yang mulainya lambat, terjadi >2 tahun setelah infeksi vertebra.

Komplikasi neurologi akibat kambuhnya penyakit atau tekanan mekanik pada medula

spinalis. Kompresi akibat jaringan kaseosa tuberkulosa, puing-puing tuberkular, sekuestra

dari korpus vertebra dan diskus, internal gibus, stenosis kanal vertebra atau deformitas

berat.

Tanda paling awal dari kompresi medula spinalis berupa klonus diikuti tanda

babinski positif, perubahan refleks, refleks meningkat dan gangguan sensorik dan

motorik.

L. Penatalaksanaan Pengobatan terdiri dari :

A. Terapi konservatif, berupa :

a) Tirah baring (bed rest)

b) Memperbaiki keadaan umum penderita

c) Pemasangan brace, baik yang dioperasi ataupun yang tidak dioperasi.

d) Pemberian obat antituberkulosa.

Obat-obatan yang diberikan terdiri dari :

* INH, dosis 10 - 20 mg/kg BB/hari

* Rifampicin, dosis 10 – 20 mg/kg BB/hari.

* Pirazinamid, dosis 25 – 35 mg/kg BB/hari

* Ethambutol, dosis 20 mg/kg BB/hari

16

Page 17: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

B. Penatalaksanaan Rehabilitasi Medik

Prinsip dari penanganan rehabilitasi medik adalah mengatasi impairment yang

terjadi dan mencegah dan merehabilitasi disabititas serta handicap yang terjadi akibat

proses penyakit yang mendasarinya. Dalam pelaksanaannya ikut dipertimbangkan

aspek-aspek fisik, kemampuan fungsional dan psikososial penderita. Oleh karena itu

pendekatannya dilakukan secara multidisipliner dengan melibatkan beberapa bidang

keahlian yang tercakup dalam bidang rehabilitasi yaitu : dokter rehabilitasi medik,

fisioterapis, terapis okupasi, ortosis-prostesis, psikolog, ahli terapi wicara dan pekerja

sosial medik.

1. Fisioterapi

Pencegahan komplikasi akibat immobilisasi / deconditioning.

Untuk mencegah timbulnya ulkus dekubitus akibat imobilisasinya dengan :

proper bed positioning, mengatur posisi yang tepat untuk mencegah friksi dan

tekanan berkelamaan pada bagian tubuh yang beresiko untuk terjadi ulkus

dekubitus.

Alih baring tiap 2 jam

Perawatan higiene kulit.

Latihan Lingkup Gerak Scndi ( Range of Motion / ROM)

Latihan diberikan untuk mempertahankan ROM yang normal / mendekati

normal. Mencegah kontraktur, mempertahankan panjang otot dan mernperlancar

aliran darah pada anggota gerak.

Latihan penguatan otot (strengthening exercise)

Diberikan sebagai upaya mempertahankan kekuatan otot-otot trunkus dan

ekstremitas sehingga dapat menyokong tubuh dengan baik terutama saat

berambulasi.

17

Page 18: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

Latihan fisioterapi rongga dada

- Bila diperlukan : Postural drainage dan latihan batuk efektif

- latihan ekspansi rongga dada

- Infrared, sebagai pemanasan untuk relaksasi

2. Okupasi Terapi

Pada prinsipnya jenis terapi sama dengan fisioterapi, tetapi pada okupasi terapi

latihan diberikan dalam bentuk kegiatan yang mengandung unsur edukasi dan

rekreasi, sehingga anak tidak bosan atau jenuh, juga dapat meningkatkan kemampuan

dalam perawatan diri serta,meningkatkan ADL (activity daily living).

3. Orthosis-Prostesis

Mengukur dan membuat alat bantu (orthose) yang digunakan baik sebagai alat

imobilisasi untuk mencegah resiko kerusakan pada sisitim saraf tutang belakang,

maupun sebagai alat yang digunakan untuk menyokong tubuh saat beraktifias.

seperti:

- Brace : taylor brace, TLSO ( thoracolumbal spinal orthose)

- Alat Bantu jalan : walker, crutch, wheel chair

- Spinal korset.

C. Terapi operatif.Walaupun pengobatan dengan OAT merupakan pengobatan utama bagi penderita

spondilitis tuberkulosa, namun tidakan operatif masih memegang peranan penting dalam

beberapa hal, yaitu bila terdapat abses dingin, lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis. Untuk

menghindari komplikasi timbulnya tuberkulosis milier sesudah atau selama pembedahan,

masa prabedah perlu diberikan antituberkulosis selama satu sampai dua minggu.

18

Page 19: Rehabilitasi Medik Pada Penderita (2)

Indikasi operasi :

1. Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegi atau malah semakin

berat.

2. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka sekaligus

debridement serta bone graft.

3. Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi, maupun pemeriksaan

CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medula spinalis.

M. PROGNOSA

Umumnya penyakit spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit yang menahun

dan jika dapat sembuh spontan akan memberikan cacat pembengkokan pada tulang

punggung, prognosisnya bergantung pada umur, kesehatan umum pasien, berat dan

lamanya defisit neurologi, dan cepatnya dilakukan terapi.

19