of 21 /21
BAB I PENDAHULUAN Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan adanya infeksi oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit Toxoplasma gondii merupakan golongan protozoa yang bersifat parasit obligat intraseluler. Toksoplasmosis Okuler adalah kondisi medis yang ditandai dengan infeksi parasit yaitu Toxoplasma gondii pada seseorang. Diperkirakan 30-60% penduduk dunia terinfeksi oleh Toxoplasma gondii. Menurut Rasmaliah (2003), infeksi ini tersebar di seluruh dunia, dimana manusia berperan sebagai hospes perantara, kucing dan famili Felidae. lainnya merupakan hospes definitif. Angka kejadian toksoplasmosis di Indonesia ditunjukkan dengan adanya zat anti T. gondii, pada manusia adalah 2-63%, pada kucing 35-73%, babi 11-36%, kambing 11-61%, anjing 75% dan pada ternak lain kurang dari 10% (Gandahusada, 2003). Menurut Ma’ruf dan Soemantri (2003), angka kejadian infeksi toksoplasmosis di Sumatera Utara mencapai 69,86%. Infeksi penyakit ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Di Indonesia faktor-faktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi lingkungan dan banyaknya sumber penularan terutama kucing dan famili Felidae. Dalam referat ini akan dijabarkan tentang infeksi parasit Toxoplasma gondii yang merupakan infeksi pada sistemik dan infeksi pada mata secara khusus (toksoplasmosis okuler). 1

REFRAT TOXO

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: REFRAT TOXO

BAB I

PENDAHULUAN

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan adanya infeksi oleh parasit Toxoplasma

gondii. Parasit Toxoplasma gondii merupakan golongan protozoa yang bersifat parasit

obligat intraseluler. Toksoplasmosis Okuler adalah kondisi medis yang ditandai dengan

infeksi parasit yaitu Toxoplasma gondii pada seseorang.

Diperkirakan 30-60% penduduk dunia terinfeksi oleh Toxoplasma gondii. Menurut

Rasmaliah (2003), infeksi ini tersebar di seluruh dunia, dimana manusia berperan sebagai

hospes perantara, kucing dan famili Felidae. lainnya merupakan hospes definitif. Angka

kejadian toksoplasmosis di Indonesia ditunjukkan dengan adanya zat anti T. gondii, pada

manusia adalah 2-63%, pada kucing 35-73%, babi 11-36%, kambing 11-61%, anjing 75% dan

pada ternak lain kurang dari 10% (Gandahusada, 2003). Menurut Ma’ruf dan Soemantri

(2003), angka kejadian infeksi toksoplasmosis di Sumatera Utara mencapai 69,86%. Infeksi

penyakit ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada masyarakat yang

mempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Di Indonesia faktor-

faktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi lingkungan dan banyaknya sumber

penularan terutama kucing dan famili Felidae.

Dalam referat ini akan dijabarkan tentang infeksi parasit Toxoplasma gondii yang

merupakan infeksi pada sistemik dan infeksi pada mata secara khusus (toksoplasmosis

okuler).

1

Page 2: REFRAT TOXO

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Toksoplasmosis okuler merupakan infeksi parasit Toxoplasma gondii yang menginvasi mata

penderita. Infeksi ini dikenal dengan nama Toksoplasmosis retino koroiditis yang merupakan

bagian dari uveitis posterior. 1,2

Uvea merupakan lapis vaskular mata yang terdiri dari iris, korpus siliaris dan koroid. Uveitis

ialah peradangan (inflamasi) pada uvea.

Uveitis atau peradangan uvea secara anatomi terbagi atas:

Uveitis anterior

o Iritis

Merupakan bentuk uveitis yang paling umum. Mempengaruhi kinerja iris dan

seringkali dihubungkan dengan kelainan-kelainan autoimun seperti

rheumatoid arthritis. Iritis mungkin berkembang tiba-tiba dan mungkin

berlangsung sampai 8 minggu, bahkan dengan perawatan.

o Iridoksiklitis

Inflamasi pada iridosiklitis terjadi pad iris dan pars plicata.

o Siklitis Anterior

Uveitis intermedia

o Siklitis posterior

o Hialitis

o Koroiditis

Peradangan pada lapisan di bawah retina. Kemungkinan juga disebabkan oleh

suatu infeksi seperti tubrkolosis.

o Korioretinitis

o Pars Planitis

Uveitis posterior

o Koroiditis Fokal, multifocal, atau difus

o Korioretinitis

o Retinokoroiditis

2

Page 3: REFRAT TOXO

o Retinitis

Infeksi terjadi pada retina. Mempengaruhi belakang mata. Perkembangan

secara cepat sehingga mempersulit perawatan. Biasanya disebabkan oleh

virus shingles atau herpes dan infeksi bakteri seperti syphilis atau

toxoplasmosis.

o Neuroretinitis

Panuveitis

Infeksi pada panuveitis terjadi pada seluruh bagian uvea. 1,3

Uveitis secara etiologi terbagi atas eksogen dan endogen.

Uveitis eksogen

Uveitis terjadi karena trauma, invasi mikroorganisme atau agen lain dari luar tubuh,

karena trauma, operasi intraokuler, ataupun iatrogenik.

Uveitis endogen

o Uveitis terjadi karena mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh

Berhubungan dengan penyakit sistemik, contoh: ankylosing

spondylitis

Infeksi

yaitu infeksi bakteri (tuberkulosis), jamur (kandidiasis), virus (herpes

zoster), protozoa (toksoplasmosis), atau roundworm toksokariasis)

o Uveitis spesifik idiopatik

yaitu uveitis yang tidak berhubungan dengan penyakit sistemik, tetapi

memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari bentuk lain

(sindrom uveitis Fuch)

o Uveitis non-spesifik idiopatik

yaitu uveitis yang tidak termasuk ke dalam kelompok di atas. 1,3

3

Page 4: REFRAT TOXO

Uveitis secara patologis terbagi atas uveitis non-granulomatosa dan granulomatosa.

Uveitis non-granulomatosa

o Infiltrasi dominan limfosit pada koroid.

o Umumnya tidak ditemukan organism pathogen dan berespon baik terhadap

terapi kortikosteroid sehingga diduga peradangan ini merupakan fenomena

hipersensitivitas.

Uveitis granulomatosa

o Koroid dominan sel epiteloid dan sel-sel raksasa multinukleus.

o Umumnya mengikuti invasi mikroba aktif ke jaringan oleh organism

penyebab. 1,3

Uveitis secara klinis terbagi atas akut, rekuren dan kronis

a) Uveitis akut

Karakteristik Episodenya: onset simptomatik yang tiba-tiba, durasi ≤3 bulan.

b) Uveitis rekuren

Episodenya berulang, dengan periode inaktivasi tanpa terapi ≥ 3 bulan.

c) Uveitis kronis

Uveitis berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun,seringkali onset tidak jelas

dan bersifat asimtomatik, dengan relaps < 3 bulan setelah terapi deihentikan. 1,3

Faktor Risiko terjadinya uveitis diantaranya:

a. Toksoplasmosis pada hewan peliharaan

b. Riwayat penyakit autoimun

c. Perokok

Berdasarkan penelitian dari University California San Francisco menyatakan bahwa di

dalam rokok ditemukan senyawa-senyawa tertentu yang ditemukan dalam bagian air

yang larut dalam asap rokok meliputi oksigen radikal bebas, yang dapat

menyebabkan peradangan pembuluh darah. Mengingan bahwa uveitis adalah hasil

dari kekebalan disregulasi, maka masuk akal bahwa rokok dapat berkontribusi pada

patogenesis uveitis.

4

Page 5: REFRAT TOXO

Koroiditis adalah peradangan lapisan koroid bola mata yang ada dalam beberapa macam

bentuk atau jenis, diantaranya:

a. Koroiditis anterior yang merupakan radang koroid perifer.

b. Koroiditis areolar merupakan oroiditis yang bermula di daerah makula lutea dan

menyebar ke perifer.

c. Koroiditis difusa yang disebut juga sebagai koroiditis diseminata ditandai dengan adanya

bercak peradangan koroid yang tersebar di seluruh fundus okuli.

d. Koroiditis eksudatif merupakan koroiditis yang disertai dengan bercak-bercak eksudatif.

e. Koroiditis juksta papil. 1

Toksoplasma retino koroiditis (Toksoplasmosis Okuler)

Toksoplasmosis Okuler adalah kondisi medis yang ditandai dengan infeksi parasit yaitu

Toxoplasma gondii pada seseorang. Toksoplasmosis Okuler adalah salah satu penyebab

paling sering dari terjadinya uveitis posterior, yang merupakan peradangan pada bagian

belakang bola mata. Seringnya, seseorang tidak menyadari bahwa bahwa mereka terkena

Toksoplasmosis Okuler karena gejalanya tidak spesifik, seperti gejala flu biasa. Pada orang

sehat, kondisi ini dapat disembuhkan. Akan tetapi, pada ibu hamil yang sistem kekebalan

tubuhnya melemah, Toksoplasmosis Okuler dapat menyebabkan komplikasi, yang dapat

berakibat cacat lahir kongenital atau bahkan komplikasi yang mengancam jiwa. Secara

umum, terdapat dua tipe dari penyakit ini yang mengenai mata, Toksoplasmosis Okuler

kongenital dan didapat. Toksoplasmosis Okuler kongenital merupakan tipe Toksoplasmosis

Okuler yang paling sering dan biasanya disebabkan karena infeksi pada ibu sewaktu hamil.

Tergantung dari trimester kehamilan, hal ini dapat menyebabkan efek sistemik yang banyak

pada bayi baru lahir, seperti jaringan parut pada retina kedua bola mata. Di sisi lain,

Toksoplasmosis Okuler didapat disebabkan karena paparan kucing yang terinfeksi, menelan

daging mentah yang terkontaminasi atau transfusi darah. Hal ini sering terlihat pada

pemeriksaan mata rutin sebagai jaringan parut pada retina mata yang terkena. Individu yang

terkena direkomendasikan untuk segera mencari nasihat dan penanganan medis.

Toxoplasma jarang sekali meninvasi korpus vitreum karena sifatnya yang merupakan parasit

intraseluler. Retina merupakan bagian yang paling sering terinfeksi dan mengalami

kerusakan terparah. Pengetahuan mengenai sifat organisme maupun siklus hidupnya dapat

5

Page 6: REFRAT TOXO

membantu menjelaskan perjalanan penyakit dan memudahkan seorang dokter untuk

menegakkan diagnosis. 1

Etiologi: Toxoplasma Gondii

Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler pada monosit dan sel-sel endothelial pada

berbagai organ tubuh. Toxoplasma berbentuk bulat atau oval yang ditemukan dalam jumlah

besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, paru-paru,

otak, ginjal, otot, jantung dan otot lainnya. Toxoplasma gondii pada tahun 1908 ertama kali

ditemukan pada binatang mengerat yaitu Ctenodactylus gundi di laboratorium di Tunisia

dan pada seekor kelinci di Brazil oeh Nicole dan Splendore. Pada tahun 1937 ditemukan

pada neonatus dengan ensefalitis. Pada tahun 1970 baru diketemukan daur hidup dari

parasit ini setelah diketahui fase seksualnya ada pada kucing. 2

Hospes definitif dari Toxoplasma gondii adalah kucing dan binatang sejenisnya dalam famili

Felidae. Hospes perantaranya adalah manusia, mamalia dan burung. Parasit ini dapat

menyebabkan toksoplasmosis kongenital dan toksoplasmosis akuisita.

Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan ookista.

Trofozoit yang membelah secara aktif disebut dengan takizoit. Takizoid ditemukan pada saat

infeksi akut dan dapat memasuki setiap sel yang berinti. Takizoit berukuran 4-8 mikron,

berinti dan berbentuk sabit dengan satu ujung runcing dan ujung lainnya membulat. Pada

manusia, takizoit adalah parassit intraseluar obligat. Takizoit berkembang biak dalam sel

secara endiogeni dan ketika sel penuh dengan takizoit sel akan pecah dan takizoit memasuki

sel disekitar sel yang pecah tersebut atau difagositosis oleh makrofag. Kista jaringan

dibentuk dalam sel hispes bila takizoit membelah dan membentuk dinding. Ukuran kista

berbeda-beda, dari yang kecil dan hanya mengandung beberapa organisme hingga

berukuran 200 mikron yang berisi 3000 organisme. Kista jaringan dapat itemukan dalm

hospes seumur hidup terutama di otak, otot jantung dan otot lurik. Di otak kista berbetuk

bulat sedang di otot bentuknya mengikuti otot. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing

dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Ookista menghasilkan 2 sporokista yang

masing-masing mengandung 4 sporozoit. 2

6

Page 7: REFRAT TOXO

Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau

gametogeni dan sporogoni yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces

kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan

mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti

manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan

dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. 2

Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat

yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium

seksual di dalam usus halus kucing tersebut. Toxoplasmosis gondii yang tertelan melalui

makanan akan menembus epitel usus dan difagositosis oleh makrofag atau masuk ke dalam

limfosit akibatnya terjadi penyebaran limfogen. Toxoplasmosis gondii akan menyerang

seluruh sel berinti, membelah diri dan menimbulkan lisis, sel tersebut destruksi akan

berhenti bila tubuh telah membentuk antibodi. 2

Jenis infeksi Toxoplasma gondii

a) Toksoplasmosis akuisita

Infeksi pada orang dewasa biasanya tidak diketahui karena jarang menimbilkan

gejala. Apabila seorang ibu hamil dengan infeksi primer, maka anak yang

dilahirkannya akan menderita toksoplasmosis kongenital. Manifestasi klinis yang

paling sering ditemukan pada toksoplasmosis akuisita akut adalah limfadenopati baik

servikal, supraklavikular, axial, ingunal maupun oksipital. Selain itu pasien mengeluh

adanya rasa lelah, demam, neyri otot dab sakit kepala. Gejala-gejala awal ini mirip

dengan mononukleosis infeksiosa. Terkadang dapat ditemukan adanya eksantem.

Retinokoroiditis pada masa pubertas dan dewasa diduga sebagai kelanjutan dari

infeksi kongenital yang merupakan reaktivasi dari infeksi laten. Toksoplasma juga

menyebabkan infeksi oportunistik yang disebabkan imunosupresif yang

berhubungan dengan transplantasi organ dan pengobatan keganasan. Enchepalitis

pada pasien dengan AIDS dan toksoplasma terjadi apabila CD4 kurang dari 100

sel/mm3. Selain itu pada pasien AIDS dan toksoplasma, dapat timbul korioretinitis

dan toksoplasmosis paru yang bermanifestasi sebagai pneumonia, konsolidasi dan

efusi pleura. 2,3

7

Page 8: REFRAT TOXO

b) Toksoplasmosis kongenital

Gambaran toksoplasmosis kongenital dapat bermacam-macam seperti prematuritas,

retardasi pertumbuhan intrauterin, post-maturitas, retinokoroiditis, strabismus,

kebutaan, retatrdasi psikomotorik, mirosefalus atau hidrosefalus, kejang, hipotonus,

ikterus, anemia dan hepatosplenomegali. Namun pada infeksi toksoplasmosis,

semakin muda usia janin, saat terjadinya infeksi, semakin kecil presentasi janin

tersebut terinfeksi. 2,3

Manifestasi Klinis

Infeksi Toxoplasma gondii secara umum ditandai dengan gejala sistemik seperti demam,

malaise, nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening (toxoplasmosis limfonodosa

acuta). Gejala mirip dengan mononukleosis infeksiosa. 2

Pada infeksi akut Toxoplasma gondii di retina ditemukan peradangan fokal dengan edema

dan infiltrasi leukosit yang dapat menyebabkan kerusakan total pada proses penyembuhan

menjadi parut atau sikatriks dengan atrofi dari retina dan koroid disertai dengan

pigmentasi.1

Gambaran klinik toksoplasmosis okuler antara lain :

Gejala subyektif berupa :

1. Penurunan tajam penglihatan.

a. Lesi retinitis atau retinokoroiditis di daerah sentral retina yang disebut

makula atau daerah antara makula dan N. optikus yang disebut

papilomuskular/bundle.

b. Terkenanya nervus optikus.

c. Kekeruhan vitreus yang tebal. Edema retina

2. Biasa tidak ditemukan rasa sakit, kecuali bila sudah timbul gejala lain yang menyertai

yaitu iridosiklitis atau uveitis anterior yang juga disertai rasa silau. Pada keadaan

ini ,mata menjadi merah.

3. “Floaters” atau melihat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak oleh adanya sel-sel

dalam korpus vitreus.

8

Page 9: REFRAT TOXO

4. Fotopsia, melihat kilatan-kilatan cahaya yang menunjukkan adanya tarikan-tarikan

terhadap retina oleh vitreus.

Gejala obyektif berupa :

1. Mata tampak tenang. Pada anak-anak sering ditemukannya strabismus. Ini terjadi

bila lesi toksoplasmosis kongenital terletak di daerah makula yang diperlukan untuk

penglihatan tajam dan dalam keadaan normal berkembang sejak lahir sampai usia 6

tahun. Akibat adanya lesi, mata tidak dapat berfiksasi sehingga kedudukan bola mata

ini berubah ke arah luar.

2. Pada pemeriksaan oftalmoskop tampak gambaran sebagai berikut :

a. Retinitis atau retinikoroiditis yang nekrotik. Lesi berupa fokus putih

kekuningan yang soliter atau multipel, yang terletak terutama di polus

posterior, tetapi dapat juga di bagian perifer retina.

b. Papilitis atau edema papil. Kelainan vitreus atau vitritis

Pada vitritis yang ringan akan tampak sel-sel. Sering sekali vitritis

begitu berat, sehingga visualisasi fundus okuli terganggu.

c. Uveitis anterior atau iridosiklitis, dan skleritis

Gejala ini dapat mengikuti kelainan pada segmen posterior mata yang

mengalami serangan berulang yang berat. 1,4,5

Patofisiologi

Setelah invasi di usus, parasit memasuki sel berinti atau difagositosis atau berkembangbiak

di dalam sel. Perkembangbiakan dalam sel menyebabkan pecahnya sel dan parasit dapat

menginvasi dan menyerang sel-sel lain. Dengan adanya parasit dalam makrofag dan limfosit,

maka penyebaran parasit toksoplasma terjadi secara limfogen dan hematogen ke seluruh

tubuh. Parasitemia dapat terjadi selama beberapa minggu. Semua sel dalam tubuh hospes

dapat diinfeksi oleh parasit toksoplasma namun tidak dengan sel darah merah yang tidak

berinti. 2

Kista jaringan terbentuk apabila sudah ada kekebalan dan dapat ditemukan di berbagai

organ dan jaringan. Kerusaan pada jaringan tubuh bergantung pada usia dimana usia bayi

9

Page 10: REFRAT TOXO

kerusakan yang didapatkan lebih berat dibandingkan orang dewasa, virulensi, jumlah parasit

dan organ yang diserang.

Diagnosis

Menegakkan diagnosis tokoplasmosis sulit dilakukan karena gejala klinisnya yang tidak

selalu jelas, dan bahkan banyak yang tidak menimbulkan gejala. Beberapa metode

pemeriksaan telah dikembangkan untuk mendiagnosa toksoplasmosis tetapi hasilnya masih

kurang memuaskan disamping biayanya masih sangat mahal. Sampai saat ini penyaringan

serum toksoplasmosis prenatal masih belum dapat dilakukan karena kesulitan teknik dalam

menginterpretasikan hasilnya. 2

Salah satu cara menegakkan diagnosis toksoplasmosis adalah dengan cara isolasi parasit

yang diambil dari darah, cairan serebrospinal atau biopsi yang kemudian diinokulasikan ke

dalam peritoneum tikus, hamster atau kelinci yang bebas dari infeksi toksoplasma. Diagnosis

prenatal dapat dilakukan dengan Chorionic Villus Sampling ( CVS ), kordosintesis,

amniosintesis yang kemudian dari hasil sampling tersebut dilakukan inokulasi pada

peritoneum tikus mencit untuk menemukan toksoplasma. Metode isolasi ini sekarang sudah

jarang dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama dan kebanyakan laboratorium

rumah-sakit tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Pada pemeriksaan secara makroskopis, plasenta yang terinfeksi biasanya membesar dan

memperlihatkan lesi yang mirip dengan gambaran khas dari eritroblastosis fetalis. Villi akan

membesar, oedematus dan sering immatur pada umur kehamilan. Secara histopatologis

yang ditemukan tergantung pada stadium parasit dan respon imun dari penderita.

Gambaran yang ditemukan dapat berupa gambaran normal sampai pada gambaran

hiperplasia folikel, dimana ditemukan peningkatan limfoblas retikuler ( sel imunoblas

besar ), sering didapatkan normoblas pada pembuluh darah, infiltrat sel radang subakut

yang bersifat fokal maupun difus, small clumps histiosit yang dapat ditemukan pada daerah

tepi dari sel-sel yang terinfeksi, menunjukkan gambaran agregasi, gambaran folikel yang

khas yang berhubungan dengan kenaikan titer serologi. Pada beberapa kasus dapat

ditemukan gambaran proliferatif dan nekrotik dari peradangan villi. Kadang-kadang

peradangan villi ditemukan dengan adanya limfosit, sel plasma, dan fibrosis.

10

Page 11: REFRAT TOXO

Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran organisme dalam sel. Organisme sulit

ditemukan pada plasenta, tetapi bila ditemukan biasanya terdapat dalam bentuk kista di

korion atau jaringan subkorion. Identifikasi sering sulit, sebab sinsitium yang mengalami

degenerasi sering mirip dengan kista.

Pada neonatus dapat ditemukan gambaran seperti pada hepatitis, berupa gambaran

nekrosis sel hati, Giants cell, hematopoesis ekstranoduler, nekrosis adrenal. Pada susunan

syaraf pusat dapat ditemukan nodul mikroglial dengan takizoit, ulkus ependymal, radang

soliter akuaduktus dan atau ventrikel.

Pemeriksaan serologi saat ini merupakan metode yang sering digunakan. Meskipun

demikian pemeriksaan serologi untuk toksoplasma cenderung mengalami kesulitan dalam

pelaksanaannya. Beberapa metode pemeriksaan yang pernah dilakukan antara lain Sabin-

Feldman dye test, indirect fluorescent assays (IFA), indirect hemagglutination assays (IHA),

dan complement fixation test (CFT). Cara pemeriksaan yang baru dan saat ini sering

digunakan adalah dengan enzyme-linnked immunosorbent assay (ELISA). Kebanyakan

laboratorium saat ini sudah tidak menggunakan Sabin-Feldman dye test. Pemeriksaan –

pemeriksaan yang sering digunakan adalah dengan mengukur jumlah IgG , IgM atau

keduanya. Ig M dapat terdeteksi lebih kurang 1 minggu setelah infeksi akut dan menetap

selama beberapa minggu atau bulan. IgG biasanya tidak muncul sampai beberapa minggu

setelah peningkatan IgM tetapi dalam titer rendah dapat menetap sampai beberapa tahun. 2

Secara optimal, antibodi IgG terhadap toksoplasmosis dapat diperiksa sebelum konsepsi,

dimana adanya IgG yang spesifik untuk toksoplasma memberikan petunjuk adanya

perlindungan terhadap infeksi yang lampau. Pada wanita hamil yang belum diketahui status

serologinya, adanya titer IgG toksoplasma yang tinggi sebaiknya diperiksa titer IgM spesifik

toksoplasma. Adanya IgM menunjukkan adanya infeksi yang baru saja terjadi, terutama

dalam keadaan titer yang tinggi. Tetapi harus diingat bahwa IgM dapat terdeteksi selama

lebih dari 4 bulan bila menggunakan fluorescent antibody test , dan dapat lebih dari 8 bulan

bila menggunakan ELISA.

Diagnosis prenatal dari toksoplasmosis kongenital dapat juga dilakukan dengan

kordosintesis dan amniosintesis dengan tes serologi untuk IgG dan IgM pada darah fetus.

11

Page 12: REFRAT TOXO

Adanya IgM menunjukkan adanya infeksi karena IgM tidak dapat melewati barier plasenta

sedangkan IgG dapat berasal dari ibu. Meskipun demikian antibodi IgM spesifik mungkin

tidak dapat ditemukan karena kemungkinan terbentuknya antibodi dapat terlambat pada

janin dan bayi.Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan IgG avidity untuk melihat

kronisitas infeksi, dimana semakin tinggi kadar afinitas semakin lama infeksi telah terjadi.

Pedoman yang dapat digunakan dalam menilai hasil serologi :

1. Infeksi primer akut dapat dicurigai bila

a. Terdapat serokonversi IgG atau peningkatan IgG 2-4 kali lipat dengan interval

2-3 minggu.

b. Terdapatnya IgA dan IgM positif menunjukkan infeksi 1-3 minggu yang lalu.

c. IgG avidity yang rendah.

d. Hasil Sabin-Feldman / IFA > 300 IU/ml atau 1 : 1000. IgM-IFA 1 : 80 atau IgM-

ELISA 2.600 IU/ml

2. IgG yang rendah dan stabil tanpa disertai IgM diperkirakan merupakan infeksi

lampau.

a. Ada 5 % penderita dengan IgM persisten yang bertahun-tahun akan positif.

b. Satu kali pemeriksaan dengan IgG dan IgM positif tidak dapat dipastikan

sebagai infeksi akut dan harus dilakukan pemeriksaan ulang atau

pemeriksaan lain. 2

Komplikasi

Toksoplasmosis Okuler dapat menyebabkan komplikasi sebagai berikut:

Kehilangan penglihatan

Kerusakan otak

Menyebabkan kematian dini

Resiko yang lebih tinggi untuk tuli

Penatalaksanaan

Obat yang dipakai sampai saat ini hanya untuk memberantas stadium takizoid dari parasit

Toxoplasma gondii dan tidak dapat digunakan untu stadium kista. Sehingga obat-obatan

12

Page 13: REFRAT TOXO

yang digunakan hanya untuk mengatasi stadium awal atau akut dari infeksi parasit

toksoplasma dan tidak untuk stadium menahun atau kronis.

Beberapa macam obat yang digunakan adalah:

1. Pirimetamin dan Sulfonamid

Kedua obat ini bekerja secara sinergistik dan digunakan dalam bentuk kombinasi.

Pirimetamin menekan hemopoiesis dan menyebabkan trombositopenia dan

leukopenia. Sedangkan sulfonamid menyebabkan terjadinya trombositopenia dan

hematuria. Untuk mencegah efek ini, diberikan asam folinat atau ragi. Pirimetamin

bersifat teratogenik sehingga dikontraindikasikan dengan ibu hamil

2. Makrolid:

o Spiramisin

Merupakan makrolid yang tidak menembus plasenta. Digunakan untuk ibu

hamil dengan infeksi primer untuk mencegah transmisi parasit kedalam

tubuh janin. Bila janin telah terinfeksi, diberikan kombinasi pirimetamin,

sulfonamid dan asam folinat setelah kehamilan mencapai minggu ke 12 atau

18.

o Klindamisin

Terbukti efektif untuk pengobatan toksoplasmosis, namun efek samping

kurang disukai. Yaitu kolitis pseudomembranosa, kolitis ulserativa, sehingga

tidak dianjurkan untuk pengobatan bayi dan ibu hamil.

o Klaritromisin dan Azitromisin

Merupakan obat golongan makrolid lain yang dapat diberikan pada pasien

dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii. Diberikan pada pasien yang

terinfeksi AIDS serta ensefalitis toksoplasmik dan dikombinasi dengan

pirimetamin.

3. Golongan Hidroksinaftokuinon

Atovakuone merupakan obat baru yang dikombinasikan dengan sulfadiazin atau

obat lain yang aktif terhadap Toxoplasma gondii, dan dalam penelitian dapat

membunuh stadium kista jaringan pada mencit.

13

Page 14: REFRAT TOXO

Untuk peradangan pada mata, dapat diberikan kortikosteroid untuk mengurangi terjadinya

inflamasi. Namun kortikosteroid tidak dapat diberikan sebagai obat tunggal. 2

Pencegahan

Hindari kontak langsung dengan kucing liar karena mereka dapat membawa parasit

toxoplasma

Hindari memakan makanan mentah atau belum matang

Hindari meminum susu dan produk susu yang belum dipasteurisasi

Hindari paparan terhadap kotoran kucing

Mempraktekkan kebersihan pribadi yang baik. 2

Prognosis

Toksoplasmosis akut biasanya tidak fatal. Gejala klinis dapat dihilangkan dengan

pengobatan yang adekuat. Namun bila parasit menginvasi jaringan dalam fase kista jaringan,

maka parasit tidak dapat dibasmi dan dapat menyebabkan eksaserbasi akut. Toksoplasmosis

kongenital pada neonatal, bila toksoplasmosis berat biasanya meninggal. Bila tidak, akan

tetap hidup dengan infeksi menahun dan gejala sisa yang sewaktu-waktu dapat mengalami

eksaserbasi akut. Pengobatan spesifik hanya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan

bukan untuk menghilangkan gejala sisa. Ibu dengan toksoplasmosis dan telah melahirkan

anak dengan toksoplasmosis kongenital, untuk selanjutnya akan melahrikan anak yang

normal karena sudah memiliki zat anti. 2

14

Page 15: REFRAT TOXO

Daftar Pustaka

1. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.

2. Sutanto I, Ismid IS, Sjariffudin PK, Sungkar S. Buku ajar parasitologi kedokteran. Edisi ke-

4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.

3. Zierhut M,Deuter C,Murray PI. Clasiffication of uveitis – current guidelines. 2007.

Diunduh dari: http://www.touchophthalmology.com/system/files/private/articles/367/

pdf/zierhut.pdf.

4. Kadarisman, Rumita S. Gambaran klinik toksoplasmosis kongenital. Dalam: Kumpulan

makalah simposium toksoplasmosis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1990.

5. Morosidi SA, Paliyama MF. Ilmu penyakit mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Ukrida;

2011.

15