25
SPOROTRIKOSIS Elliza, S.Ked Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNSRI/RSMH PALEMBANG 2011 PENDAHULUAN Sporotrikosis adalah infeksi jamur akut atau kronik yang disebabkan oleh Sporothrix schenckii. 1 Manifestasi awal mungkin satu nodul kecil yang dapat sembuh dan menghilang sebelum timbul lesi lainnya. Dalam perjalanan beberapa minggu nodul umumnya berkembang sepanjang aliran limfatik. Lesi ini pada awalnya kecil, merah kehitaman, tanpa rasa sakit, dan berbatas tegas. Saat itu kulit di atas yang menjadi penyokongnya mungkin terjadi ulkus. 2 Tanda-tanda infeksi termasuk nodul subkutan supuratif yang berkembang secara proksimal sepanjang aliran limfatik (limfokutaneus sporotrikosis). Infeksi paru primer (sporotrikosis pulmonal) atau inokulasi langsung ke dalam tendon atau otot jarang timbul. Sporotrikosis osteoartikular muncul dari inokulasi langsung atau persemaian hematogen. Penyebaran infeksi yang muncul dengan penyebaran lesi kutan dan keterlibatan beberapa organ dalam jarang terjadi, hal ini seringnya pada pasien dengan AIDS. 3 1

refrat sporotrikosis

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: refrat sporotrikosis

SPOROTRIKOSIS

Elliza, S.Ked

Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

FK UNSRI/RSMH PALEMBANG

2011

PENDAHULUAN

Sporotrikosis adalah infeksi jamur akut atau kronik yang disebabkan oleh

Sporothrix schenckii.1 Manifestasi awal mungkin satu nodul kecil yang dapat

sembuh dan menghilang sebelum timbul lesi lainnya. Dalam perjalanan beberapa

minggu nodul umumnya berkembang sepanjang aliran limfatik. Lesi ini pada

awalnya kecil, merah kehitaman, tanpa rasa sakit, dan berbatas tegas. Saat itu kulit

di atas yang menjadi penyokongnya mungkin terjadi ulkus.2

Tanda-tanda infeksi termasuk nodul subkutan supuratif yang berkembang

secara proksimal sepanjang aliran limfatik (limfokutaneus sporotrikosis). Infeksi

paru primer (sporotrikosis pulmonal) atau inokulasi langsung ke dalam tendon

atau otot jarang timbul. Sporotrikosis osteoartikular muncul dari inokulasi

langsung atau persemaian hematogen. Penyebaran infeksi yang muncul dengan

penyebaran lesi kutan dan keterlibatan beberapa organ dalam jarang terjadi, hal ini

seringnya pada pasien dengan AIDS.3

Tidak ada batasan geografis terhadap kejadian dari sporotrikosis. Siapapun

dapat terinfeksi penyakit ini, tapi orang yang bekerja dengan tanaman berduri,

lumut sphagnum, atau jerami yang terkontaminasi dengan jamur ini memiliki

resiko tinggi. Karena itu infeksi lebih sering terjadi diantara tukang kebun yang

bekerja dengan mawar, lumut, jerami dan tanah.2,3 Sporotrikosis berkembang

lambat – gejala pertama muncul dalam 1-12 minggu (rata-rata 3 minggu) setelah

pemaparan pertama oleh jamur. Sporotrikosis terutama mempengaruhi kulit dan

daerah dekat pembuluh limfatik.3 Tujuan telaah ilmiah ini adalah untuk

mengetahui dengan lebih jelas etiologi, gambaran klinis, dan diagnosis

sporotrikosis sehingga penatalaksanaan dapat lebih tepat.

1

Page 2: refrat sporotrikosis

DEFINISI

Sporotrikosis adalah infeksi jamur akut atau kronik yang disebabkan oleh

Sporothrix schenckii.1 Sporotrikosis merupakan infeksi jamur subkutan atau

sistemik yang disebabkan oleh jamur dimorfik Sporothrix schenckii.4 Infeksi ini

ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan jaringan subkutis di

atas sering melunak dan pecah membentuk ulkus yang indolen.5

ETIOLOGI

Sporotrikosis disebabkan oleh spesies tunggal, jamur dimorfik S.

schenckii. Penyakit ini terjadi di negara dua iklim dan daerah tropis. Dalam

kebanyakan kasus sporotrikosis kutan, jamur masuk ke dalam kulit atau membran

mukosa oleh trauma, seperti pada luka tusuk kecil yang disebabkan oleh duri atau

serpihan-serpihan, atau mungkin gigitan serangga. Sporotrikosis sistemik jarang

terjadi, dan pintu masuk dianggap paru-paru. Masa inkubasi bervariasi, tetapi

umumnya 8-30 hari.1

Penyebab penyakit ini adalah Sporothrix schenckii yang dapat hidup di

tanah, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sayuran yang telah membusuk. Spora jamur

masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka pada kulit dan sangat jarang melalui

inhalasi. Keadaan imunitas seseorang sangat berperan dalam mendapatkan infeksi

sporotrikosis. Penyakit ini dapat mengenai organ lain, seperti paru, tulang, sendi,

selaput lendir dan susunan saraf pusat.3

Sporothrix schenckii merupakan sebuah jamur dimorfik yang tumbuh

dalam bentuk ragi pada suhu 370C dan dalam bentuk miselium pada suhu ruangan.

Penyakit kulit yang biasanya muncul adalah dermatitis granulomatos palisading

yang dikelilingi abses supuratif stelata. Organisme muncul sebagai ragi cigar-

shaped dalam jaringan, tetapi kasus ini jarang terjadi di Amerika Utara. Pada

kasus sporotrikosis di Asia, organisme sering lebih banyak. Asteroid dan elemen

miselium lazim di daerah sporotrikosis limfangitik.2

Sporothrix schenckii

2

Page 3: refrat sporotrikosis

Klasifikasi Kingdom: Fungi

Division: Ascomycota

Class: Euascomycetes

Order: Ophiostomatales

Family: Ophiostomataceae

Genus: Sporothrix

Species: S. schenckii

Sporothrix schenckii adalah jamur yang sering ditemukan di semak-

semak bunga mawar, barberi, lumut sfagnum dan jerami. Ia tampak sebagai sel-

sel bertunas yang gram-positif, berbentuk bulat kecil sampai berbentuk cerutu dan

merupakan jamur dimorfik. Pada biakan dalam suhu kamar dengan agar

Sabouraud, dalam 3-5 hari terbentuk koloni-koloni berwarna cokelat sampai

hitam, melipat, menyerupai kulit (pembentukan pigmen dari berbagai strain

S.schenckii bervariasi). Konidia sederhana berbentuk ovoid terdapat berkelompok

pada ujung konidiofor yang ramping dan panjang (menyerupai bunga aster).

Biakan pada suhu 37◦C akan menghasilkan sel-sel bertunas berbentuk sferis

sampai ovoid. Koloni-koloni mudanya kadang berwarna putih pada suhu 25◦C

atau ketika diinkubasi pada suhu 37°C untuk menghasilkan fase ragi sebagai salah

satu bentuk dimorfiknya. Sedangkan koloni-koloni yang lebih tua akan menjadi

berwarna hitam untuk memproduksi konidia hitam yang nantinya akan muncul

langsung dari hifa sebagai fase keduanya. Demikanlah proses tersebut terus

berjalan hingga terbentuk lagi generasi berikutnya.6

Sporothrix schenckii juga dijuluki sebagai rose picker’s disease. Karena

ternyata Sporothrix schenckii adalah jamur yang sering ditemukan di semak-

semak bunga mawar, barberi, lumut sfagnum dan jerami. Dan pada bunga mawar,

biasanya dia hidup pada durinya, dan jamur ini dapat masuk ke dalam tubuh

manusia apabila manusia tertusuk oleh durinya sehingga yang sering terkena

adalah petani, tukang kebun dan holtikulturis. Sporothrix schenckii tersebar luas

3

Page 4: refrat sporotrikosis

di alam pada tumbuh-tumbuhan (khususnya sfagnum di AS), duri, sisa-sisa kayu ;

dalam tanah ; dan pada hewan yang terinfeksi.6

Sporothrix schenckii adalah suatu jamur dimorfik yang hidup pada

tumbuh-tumbuhan atau kayu. Dimorfik adalah suatu bentuk perkembangbiakan

dari jamur, dimana terjadi dua fase sekaligus (generatif ataupun vegetatif).

Gambar 1. Konidia Sederhana

Gambar 2. Sel-sel Bertunas

Gambar 3. Koloni Putih

4

Pertama-tama konidia sederhana berbentuk ovoid

terdapat berkelompok pada ujung konidiofor yang

ramping dan panjang (menyerupai bunga aster).

Pada suhu 37◦C akan menghasilkan sel-sel

bertunas berbentuk sferis sampai ovoid.

Koloni-koloni mudanya kadang berwarna putih pada

suhu 25° C atau ketika diinkubasi pada suhu 37°C

untuk menghasilkan fase ragi sebagai bentuk

dimorfiknya. Bentuk ragi dalam jaringan dapat

diwarnai dengan metenamin Gomori dan pewarna

jamur lainnya (walau seringkali tidak terlihat).

Page 5: refrat sporotrikosis

Gambar 4. Konidia Hitam

EPIDEMIOLOGI

Kurang dari 20 kasus sporotrikosis didiagnosis di Inggris dan telah

dipublikasikan. Penyakit ini umumnya terjadi di Perancis antara tahun 1905 -

1920, dan kadang-kadang kasus lain dilaporkan dari negara Eropa lainnya.

Sporotrikosis terjadi secara sporadis di Amerika Utara, Selatan dan Tengah,

Mesir, Jepang dan Australia dan memiliki secara khusus cenderung terjadi di

daerah pertambangan Afrika Selatan. Angka kejadian dan kemungkinan distribusi

geografis tergantung pada iklim.1

           Tampaknya tidak ada batasan geografis terhadap kejadian dari

sporotrikosis. Paling sering invasi utama dilihat sebagai suatu penyakit akibat

kerja di kebun, toko bunga, dan buruh berikut luka oleh duri, jerami atau lumut

sphagnum. Patogen umumnya hidup sebagai saprofit pada rumput, semak, dan

tanaman lainnya. Anyelir, mawar semak-semak, semak barberry, dan lumut

sphagnum merupakan sumber umum. Infeksi mungkin juga dicatat setelah

sengatan serangga. Kelembaban tinggi dan suhu tinggi mendukung infeksi.

Epidemi sporotrikosis diantara penambang berlian di Afrika Selatan berasal dari

inokulasi organisme melalui gosokan balok kayu pada tambang. Secara

eksperimen, telah diproduksi di banyak laboratorium hewan, dan kasus spontan

telah diamati pada kuda, anjing, kucing, dan tikus. Pada kucing, sporotrikosis

umumnya menghasilkan perluasan penyakit. Organisme ini dapat ditemukan di

cakar, dan tertular ke manusia melalui goresan kucing. Wabah terkait dengan

eksposur kucing telah didokumentasikan.2

5

Sedangkan koloni-koloni yang lebih tua akan menjadi

berwarna hitam untuk memproduksi konidia hitam

yang nantinya akan muncul langsung dari hifa.

Demikanlah proses tersebut terus berjalan hingga

terbentuk lagi generasi berikutnya.6

Page 6: refrat sporotrikosis

Sporothrix schenckii dapat dijumpai di seluruh dunia. Infeksi muncul pada

negara yang memiliki 2 musim dan beriklim tropis. Bisa dijumpai di utara,

selatan, tengah Amerika termasuk bagian selatan USA dan Meksiko. Negara yang

lain seperti Afrika, Eropa, Jepang dan Australia. Negara-negara yang memiliki

angka infeksi yang tinggi seperti : Meksiko, Brazil dan Afrika Selatan.

Bagaimanapun, kadang-kadang daerah yang hiperendemis memiliki kasus yang

luas, di USA infeksi paling banyak terjadi di bagian tengah lembah sungai. Infeksi

sekarang ini jarang dijumpai di Eropa. Di alam, jamur tumbuh di daun sayur-

sayuran busuk, kayu-kayu busuk, gigi tikus, paruh burung. Meskipun biasanya

kasus ini menyebabkan infeksi yang sporadis, sporotrikosis mengenai kelompok

pekerja yang terpapar langsung dengan organisme, tukang kebun, pekerja hutan

dan orang yang suka berekreasi dengan bersentuhan langsung dengan tumbuh-

tumbuhan tersebut. Organisme ini biasanya masuk ke kulit melalui trauma luka.4,7

Semua kelompok usia dapat terkena, namun lebih sering pada usia dewasa.

Sporotrikosis lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Beberapa pekerjaan yang rentan terhadap infeksi ini antara lain: pekerja di kebun,

petani, pekerja bunga, buruh, pekerja pertanian, pekerja kehutanan, produsen

kertas, penambang emas, pekerja laboratorium, di Uruguay, 80% kasus terjadi

setelah sebuah goresan oleh armadillo. Adapun faktor risikonya untuk

sporotrikosis kutan adalah penyakit diabetes mellitus dan alkoholism, sedangkan

untuk penyakit diseminata adalah infeksi HIV, penyakit hematologi dan

limfoproliferasi, dan terapi imunosupresif.8

Enam kasus sporotrikosis dicatat di Delhi (daerah non-endemik) pada

pendatang dari Uttarakhand selama satu tahun (2008-2009). Sporotrichosis

merupakan penyakit endemik di Uttarakhand, negara utara-barat di wilayah sub-

Himalaya.9 Sedangkan di RSUP H. Adam Malik pertahunnya dijumpai hanya 1-2

kasus. Tetapi pada paska Tsunami ditemukan sampai dengan 7 kasus

sporotrikosis. 10

6

Page 7: refrat sporotrikosis

PATOGENESIS

            Sporothrix schenckii dijumpai di tanah, kayu dan tumbuh-tumbuhan.

Jamur ini terutama tumbuh baik di tanah yang kaya akan bahan organik. Pada

lingkungan yang hangat dengan kelembaban tinggi, jamur juga dapat tumbuh

pada tumbuhan dan pohon bark. Kebanyakan kasus Sporotrikosis didapat dari

lingkungan, sebagai akibat dari kontak antara kulit yang luka dengan spora jamur.

Luka penetrasi dari tumbuhan mati dan bahan lain seperti serpihan kayu, lumut

sphagnum, duri atau rumput kering sering menjadi infeksi. Gigitan, garukan,

cakaran dan sengatan dari beragam binatang, burung dan serangga dapat juga

menginokulasikan organisme ke dalam luka melalui spora yang terbawa di

permukaan tubuh. Jarang, inhalasi menyebabkan penyakit dalam bentuk

pulmonal.3

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Spora

masuk melalui luka. Mula-mula timbul papula atau nodula subkutan, disusul

pembengkakan proksimal dari lesi (sesuai aliran getah bening). Papula atau

nodula tersebut kemudian pecah membentuk ulkus granulomatosa disertai

peradangan pembuluh limfe yang menyebar mengikuti aliran pembuluh limfe.1,3

GAMBARAN KLINIS

            Secara klinis sporotrikosis dibagi menjadi 2 jenis yaitu Subkutan

Sporotrikosis dan Sistemik Sporotrikosis (Disseminated Sporotrichosis).

Subkutan sporotrikosis jauh lebih sering terjadi dan digolongkan menjadi dua

bentuk yaitu Lymphangitic dan Fixed Infection.4 Berikut ini gambaran klinisnya:

A. Subkutan Sporotrikosis

1. Tipe limfokutan (Lymphangitic Sporotrichosis)

Bentuk ini paling sering dijumpai. Bentuk klasik dimulai dengan

papula merah muda dan tidak sakit, pustula dan nodus yang kemudian

mengalami ulserasi dengan dasar nekrosis di daerah inokulasi, disebut

sebagai Sporotrikosis chancre. Infeksi kemudian meluas mengikuti aliran

getah bening secara asenden dan membentuk satu rantai nodus subkutan

yang keras seperti tali dalam waktu beberapa minggu. 3,4,8

7

Page 8: refrat sporotrikosis

Pada tipe ini infeksi terbatas pada kulit, pembuluh getah bening

dan jaringan subkutan. Bila terjadi penurunan imunitas akan terjadi infeksi

sistemik. Infeksi primer terjadi pada daerah ekstremitas dan letaknya

unilateral. Bila inokulasi primer terjadi pada daerah wajah, akan terbentuk

nodus satelit akibat penyebaran melalui pembukuh getah bening yang

arahnya berbeda-beda. Lesi ini selalu melibatkan ekstremitas, khususnya

tangan dan lengan.3,4,8

2. Fixed cutaneous (plaque) sporotrichosis

Terjadi pada 15% kasus. Biasanya terlihat pada area geofrafis

dimana sporotrikosis endemis dan orang mempunyai derajat imunitas yang

tinggi. Infeksi hanya terbatas pada daerah inokulasi dan tidak melibatkan

pembuluh getah bening. Gambaran klinis sangat bervariasi, antara lain

dapat berupa krusta tebal yang menutupi ulkus, erosi, pioderma, papula

yang mengalami infiltrasi dan plak menyerupai sarkoid, plak verukosa,

plak psoriasis dan selulitis muka. Sering dijumpai lesi satelit kecil-kecil.

Daerah yang paling sering terkena infeksi adalah muka, leher dan

badan.3,4,8

Gambar 5. Sporotrikosis: tipe limfangitik akut X, 78 tahun,

berkebun dengan nodul tender pada tangan dan lengan selama 4

minggu. Nodul eritematosa searah linier dengan saluran limfatik

pada dorsum tangan dan lengan bawah S. schenckii diisolasi pada

kultur dari spesimen biopsi lesi

8

Page 9: refrat sporotrikosis

Gambar 6: Sporotrikosis tipe limfangitis kronis. Sebuah

papul eritematosa di lokasi inokulasi pada jari telunjuk

dengan susunan linear kulit eritem dan nodul subkutan

memperluas ke proksimal pada pembuluh limfatik dorsum

tangan dan lengan.

B. Sporotrikosis Diseminata

Bentuk ini jarang dijumpai dan dapat mengenai tulang, sendi, mukosa

(mulut, hidung, mata), susunan saraf pusat (meningen), ginjal, hati, usus

dan genitalia. Pada beberapa kasus Sporothrix schenckii menyebar dari lesi

kutan, sementara peyebaran yag lain muncul tanpa tanda-tanda kutan. Lesi

di kulit dapat berupa krusta bernodul, ulkus yang mungkin konfluen dan

menyebar. Distribusi lesi tersebar, biasanya mengenai sebagian telapak

tangan dan telapak kaki.3,4,8

GAMBARAN HISTOPATOLOGI

            Dari granuloma yang terinfeksi, pada dinding lesi ditemukan sel

polimorfonuklear, eosinofil dan makrofag. Pada bagian perifer ditemukan banyak

sel epiteloid dan sel raksasa langerhan. Edema epidermis dengan tanda radang

kronik. Jamur jika terlihat, biasanya berukuran keci (3-5 µm), berbentuk seperti

cerutu (cigar-shaped) atau ragi oval, dikelilingi oleh pinggiran, eosinofilik tebal

memancarkan membentuk tubuh asteroid yang khas.3,4

9

Page 10: refrat sporotrikosis

 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Kultur

Sediaan diambil dari lesi atau bahan eksudat dengan kuret atau biopsi dan

dibiakkan dalam agar saburoud. Cara ini bermakna untuk menegakkan

diagnosis. Pada agar sabouraud, koloni-koloni tampak khas dengan

pengelompokkan konidia. Jamur ini berubah menjadi morfologi ragi selama

inkubasi pada suhu 37◦C. 3,6

Tes preparat langsung : ditemukan granula sulfur.3

Pemeriksaan  KOH 10% : tampak hifa bercabang dan bersepta.3

Pemeriksaan histopatologik

Organisme jarang ditemukan pada jaringan sehingga cara ini sulit digunakan

untuk membuat diagnosis.

Tes imunoflorosensi langsung

Dengan cara ini cepat terdiagnosis sporotrikosis karena tes ini sensitif dan

spesifik.

Tes sporotrikin

Kegunaan tes ini hanya bernilai untuk memastikan adanya pajanan terhadap

jamur.

Tes darah rutin.

Tes serologis.

Aglutinasi suspensi sel ragi atau partikel-partikel lateks yang diliputi oleh

antigen timbul dalam titer tinggi pada serum penderita yang terinfeksi, tetapi

hal ini tidak diagnostik.6

DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik yang khas dan pemeriksaan

penunjang terutama kultur jamur.3

10

Page 11: refrat sporotrikosis

DIAGNOSIS BANDING

Skrofuloderma

Nodul-nodul tapi tanpa tanda radang, dan tidak mengikuti jalannya aliran

limf dan uji tuberkulin (+).

Ulkus tropikum

Ulkus menggaung, soliter, eksudasi, granula sulfur (-). Pada pemeriksaan

preparat langsung dijumpai Borrelia vincenti.

Sifilis stadium II

Papula-papula eritematosa dengan pembesaran kelenjar limf generalisata.

Leishmaniasis

Pioderma3

PENATALAKSANAAN

Pengobatan sporotrikosis tergantung pada berat dan lokasi penyakit.

Sporotrikosis diobati dengan obat-obat anti jamur termasuk itrakonazol,

ketokonazol, amfoterisin B dan flusitosin. Kalium dan natrium yodida juga

digunakan untuk bentuk kutaneus dan limfokutaneus.3

Dua bentuk sporotrikosis tersebut hampir selalu berhasil dengan terapi

tersebut. Sedangkan tipe yang diseminta lebih susah untuk diobati dan

memerlukan penatalaksanaan jangka panjang. Pengangkatan jaringan mati dan

pembedahan juga diperlukan jika sendi juga ikut terlibat. Penatalaksanaan seumur

hidup diperlukan bagi orang-orang dengan infeksi AIDS untuk mencegah

kekambuhan. Bentuk yang menyerang paru-paru sulit untuk diterapi atau diobati

dan sehubungan dengan obat, tindakan pembedahan dapat dicoba. Terapi topikal

tidak efektif.3,11

Kalium Yodida

Untuk bentuk kutan, kalium iodida dalam dosis 2 sampai 6 g/hari

tetap efektif dan pilihan terapi yang murah, dan mungkin efektif dalam

kasus-kasus di mana terapi itraconazole gagal. Terapi iodida biasanya

membutuhkan 6 sampai 12 minggu pengobatan. Umumnya, permulaan

terbaik dengan lima tetes dari larutan jenuh dalam grapefruit atau jus jeruk

11

Page 12: refrat sporotrikosis

tiga kali sehari setelah makan. Juga dapat dimasukkan ke susu, tapi rasa

kuat jus jeruk lebih baik disamarkan. Dosis harus ditingkatkan bertahap

hingga 30-50 tetes yang digunakan tiga kali sehari .Obat ini tidak cocok

untuk wanita hamil.

Efek samping dari terapi iodida termasuk mual, muntah,

pembengkakan kelenjar parotis, ruam acneiform, coryza, bersin,

pembengkakan pada kelopak mata, hipotiroidisme, meningkat lakrimasi

dan air liur, suar dari psoriasis, dan kadang-kadang depresi. Sebagian

besar efek samping dapat dikontrol dengan menghentikan obat selama

beberapa hari dan penurunan dosis. Aplikasi kompres panas lokal, paket

panas, atau bantal pemanas dua kali sehari telah dianjurkan sebagai

tambahan yang berguna, sebab S.scltenckzi intoleransi terhadap suhu di

atas 38,5 'C (101' F).2

Ketokonazol

Dosis 100-200 mg/hari selama 1 bulan berhasil baik.3

Itrakonazol dan Flukonazol

Merupakan obat anti jamur. Itrakonazol merupakan pilihan terbaru anti

jamur dan secara signifikan lebih efektif dibanding flukonazol. Itrakonazol

umumnya aman dan ditoleransi dengan baik, dan tingkat relaps rendah.

Flukonazol biasanya diberikan pada pasien yang tidak bisa menoleransi.

Dosis itrakonazol 100-200 mg/hari selama 1 bulan. Dosis flukonazol 150

mg/hari selama 2 bulan.1,2,3,4,11

Terbinafin

Terbinafin bisa menjadi alternatif terapi lain untuk mengobati penyakit ini.

dosis 250 mg/hari. Agen anti jamur alilamin fungisidal. Dianggap sebagai

agen lini ke-3 melawan sporotrikosis.1,3,4,11

Amfoterisin B

Pengobatan anti jamur ini diberikan secara intravena. Kebanyakan pasien,

bagaimanapun, tidak dapat mentoleransi amfoterisin B sehubungan dengan

efek samping potensial seperti demam, mual dan muntah. Pada kasus

12

Page 13: refrat sporotrikosis

sporotrikosis meningitis, pasien dapat diberikan kombinasi amfoterisin B

dan 5-florositosin. Dosis amfoterisin B 0,5 mg/kg/hari.2,3

Pembedahan

Pada kasus infeksi tulang dan nodul kavitas di paru, pembedahan mungkin

perlu.3

PROGNOSIS

Umumnya baik

Respon baik terhadap terapi, namun dapat terjadi kekambuhan setelah

selesai terapi.

Menunjukkan sedikit kecenderungan untuk sembuh secara spontan.

Disseminated infection pada orang yang terinfeksi HIV akan merespon

buruk terhadap semua bentuk terapi.8

KOMPLIKASI

Sporotrikosis dapat berkembang menjadi penyakit lain, diantaranya selulitis,

sarkoidosis dan tuberkulosis.3

PENCEGAHAN DAN EDUKASI PASIEN

            Pasien harus dinasehati untuk mengambil langkah pencegahan

sporotrikosis. Pencegahan termasuk : memakai sarung tangan, sepatu boot dan

pakaian yang melindungi tangan dan kaki dari material yang dapat menggaruk

atau melukai permukaan kulit.3

            Yang utama dari kasus sporotrikosis ini muncul ketika jamur masuk

melalui kulit yang terpotong atau kulit luka pada saat berhubungan langsung

dengan tanaman yang mengandung spora jamur. Sarung tangan juga digunakan

bila berhubungan dengan hewan, biasanya kucing. Setelah sarung tangan dilepas,

tangan harus dicuci dengan bersih dengan menggunakan bahan-bahan desinfeksi

seperti klorheksidin, povidon iodine atau bahan-bahan yang mengandung anti

fungal. Kontak langsung dengan lumut sphagnum juga harus dihindari serta

material yang bisa menjadi tempat hidup sporotrikosis.

13

Page 14: refrat sporotrikosis

KESIMPULAN

Sporotrikosis adalah infeksi jamur akut atau kronik, mengenai subkutan

atau sistemik yang disebabkan oleh jamur dimorfik Sporothrix schenckii.1,4

Sporothrix schenckii merupakan sebuah jamur dimorfik yang tumbuh

dalam bentuk ragi pada suhu 370C dan dalam bentuk miselium pada suhu

ruangan. Masa inkubasi bervariasi, tetapi umumnya 8-30 hari.

Sporotrikosis terjadi secara sporadis di seluruh dunia. Kurang dari 20

kasus sporotrikosis didiagnosis di Inggris dan telah dipublikasikan. Enam

kasus sporotrikosis dicatat di Delhi (daerah non-endemik) pada pendatang

dari Uttarakhand selama satu tahun (2008-2009). Sporotrikosis merupakan

penyakit endemik di Uttarakhand, negara utara-barat di wilayah sub-

Himalaya.9 Sedangkan di RSUP H. Adam Malik pertahunnya dijumpai

hanya 1-2 kasus. Tetapi pada paska Tsunami ditemukan sampai dengan 7

kasus sporotrikosis.10

Secara klinis sporotrikosis dibagi menjadi 2 jenis yaitu Subkutan

Sporotrikosis dan Sistemik Sporotrikosis (Disseminated Sporotrichosis).

Subkutan sporotrikosis jauh lebih sering terjadi dan digolongkan menjadi

dua bentuk yaitu Lymphangitic dan Fixed Infection. Tipe limfokutan

(Lymphangitic Sporotrichosis) dimulai dengan papula merah muda dan

tidak sakit, pustula dan nodus yang kemudian mengalami ulserasi dengan

dasar nekrosis di daerah inokulasi, disebut sebagai Sporotrikosis chancre.

Pada fixed cutaneous (plaque) sporotrichosis gambaran klinis sangat

bervariasi, antara lain dapat berupa krusta tebal yang menutupi ulkus,

erosi, pioderma, papula yang mengalami infiltrasi dan plak menyerupai

sarkoid, plak verukosa, plak psoriasis dan selulitis muka. Sering dijumpai

lesi satelit kecil-kecil. Sedangkan pada sporotrikosis diseminata dapat

mengenai tulang, sendi, mukosa (mulut, hidung, mata), susunan saraf

pusat (meningen), ginjal, hati, usus dan genitalia.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik yang khas dan

pemeriksaan penunjang terutama kultur jamur.

14

Page 15: refrat sporotrikosis

Sporotrikosis diobati dengan obat-obat anti jamur termasuk itrakonazol,

ketokonazol, amfoterisin B dan flusitosin. Kalium dan natrium yodida juga

digunakan untuk bentuk kutaneus dan limfokutaneus. Dua bentuk

sporotrikosis tersebut hampir selalu berhasil dengan terapi tersebut.

Sedangkan tipe yang diseminta lebih susah untuk diobati dan memerlukan

penatalaksanaan jangka panjang. Pengangkatan jaringan mati dan

pembedahan juga diperlukan jika sendi juga ikut terlibat.

15

Page 16: refrat sporotrikosis

DAFTAR PUSTAKA

1. RJ Hay, MK Moore. Mycology. In: Tony B, Stephen B, Neil C, Christopher, editor. Rook’s textbook of dermatology. 7 th Ed. Massachusetts: Blackwell Publishing; 2004. p.31.76-8

2. James WD, Timothy GB, and Dirk ME. Diseases Resulting from Fungi and Yeasts. In: Andrew’s Disease of The Skin clinical Dermatology. Canada : Sauders Elsevier ; 2006. p.321-3

3. Weller R, John H, John S, Mark Dahl. Clinical Dermatology. 4 th Ed.

Massachusetts: Blackwell Publishing; 2008. p.249

4. Roderick HJ. Fungal Disease. In: Klause W, Lowell AG, Stephen IK,

Barbara AG, Amy SP, David JS, editor. Fitzpatrick’s Dermatology in

General Medicine.7 th Ed. New York: Mc Graw Hill Medical. 2008.

p.1831-2

5. Budimulja U. Mikosis. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke 5. Jakarta: FK UI; 2007. p.90-1

6. Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikologi kedokteran. Dalam: Mikrobiologi kedokteran. Jakarta: EGC, 1996; p. 608-42.

7. Jenny OS, Boni EE. Fungal Dseases. In: Bolognia JL, Joseph L J,Ronald

P. Rapini. Dermatology. 2 th Edi. USA: Mosby Elsevier ; 2008. p.744-6

8. Woolf K, Jhonson RA. Sporotrichosis. In: Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 6th Ed. New York: Mc Graw Hill Medical. 2008. p.1831-2

9. Capoor MR, Ramesh V, Khanna G, Singh A, Aggarwal P. Trop Doct

vol.40 number 1. [serial online]. 2011. [cited 2011 Januari] ; [8 screen].

available from URL: HYPERLINK

http://td.rsmjournals.com/cgi/content/abstract/41/1/46

10. Nasution MA.Mikologi dan Mikologi Kedokteran Beberapa Pandangan Dermatologis. Proceedings of Rapat Terbuka Universitas Sumatera Utara Gelanggang Mahasiswa Kampus USU; 2005 Mei 26; Medan; 2005.p.1-18

11. Schechtman RC . InstitutionInstituto de Dermatologia Prof Rubem David Azulay (IDPRDA) vol.8 number 5. [serial online]. 2010. [cited 2010 September] ; [8 screen]. available from URL: HYPERLINK http://www.unboundmedicine.com/medline/ebm/record/21137636/full_citation/Sporotrichosis:_Part_II

16

Page 17: refrat sporotrikosis

DISKUSI

Tanya:

Bagaimana sporotrikosis dapat berkomplikasi menjadi penyakit tuberkulosis?

(Aryuningtyas JP)

Jawab:

Pada beberapa kasus sporotrikosis, Sporothrix schenckii dapat menyebar dari lesi

kutan dan mengenai tulang, sendi, mukosa (mulut, hidung, mata), susunan saraf

pusat (meningen), ginjal, hati, usus dan genitalia. Keadaan ini disebut dengan

Disseminated sporotrichosis. Disseminated sporotrichosis lebih banyak terjadi

pada orang dengan penyakit penyerta lainnya seperti alkoholisme, diabetes,

kanker atau imunosupresif. Keadaan ini dapat menimbulkan superinfeksi (infeksi

sekunder) karena sistem kekebalan tubuh yang menurun sehingga sporotrikosis

dapat berkomplikasi menjadi penyakit tuberkulosis . Sporotrikosis pulmoner juga

sangat jarang terjadi. Penyakit ini biasa ditemukan pada orang dengan penyakit

paru yang telah ada sebelumnya atau peminum alohol. Sporotrikosisb pulmoner

dapat menjadi kronik dan berakibat fatal, selain itu respon terhadap

pengobatannya tidak begitu baik .

17