Click here to load reader

REFRAT KORTIKOSTEROID TOPIKAL

  • View
    63

  • Download
    29

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kedokteran

Text of REFRAT KORTIKOSTEROID TOPIKAL

KORTIKOSTEROID TOPIKALFilissa Thilfani Haryono, S.KedBagian/Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan KelaminFakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah Sakit Dr. Mohammad HoesinPalembang

I. PENDAHULUANKortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian korteks kelenjar adrenal akibat peran hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin II. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, seperti stres, sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein dan kadar elektrolit darah.1 Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok besar berdasarkan atas aktivitas biologis, yakni glukokortikoid dan mineralokortikoid. Golongan glukokortikoid berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Golongan mineralokortikoid berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal.2Penelitian mengenai kortikosteroid tahun 1929 menghasilkan obat baru, yaitu kortison yang digunakan pada tahun 1935.3 Pada tahun 1952, kortikosteroid sintetik mulai digunakan sebagai terapi. Pada tahun 1952, Sulzberger dan Wittern berhasil mengobati pasien erupsi eksematous dengan hidrokortison topikal. Sejak saat itu, dalam 40 tahun terakhir, penelitian terus dilakukan untuk mengeksplorasi potensi, konsentrasi, bentuk sediaan, dan bahan aktif kortikosteroid untuk meminimalisasi efek jangka panjang penggunaan terapi ini.4Dalam bidang dermatologi, kortikosteroid terdiri atas 2 jenis, yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. Pemilihan koretikosteroid topikal berdasarkan derajat berat penyakit yang berbeda, lokasi aplikasi pada tubuh, area yang terlibat dan umur penderita.3 Saat ini, kortikosteroid memiliki beragam jenis terapi, antara lain terapi oral, intramuskular, intravena, dan topikal. Kortikosteroid topikal adalah terapi yang paling sering digunakan untuk penatalaksanaan pada pasien kulit dan kelamin.5 Refrat ini bertujuan untuk membahas apa saja kegunaan kortikosteroid topikal, agar dapat diaplikasikan dalam penatalaksaan penyakit kulit dan kelamin dengan tepat.

II. PEMBAHASANStruktur MolekulKortikosteroid memiliki sebuah struktur dasar yang terdiri atas 17 atom karbon dengan tiga cincin heksana dan satu cincin pentana (Gambar 1).7 Modifikasi dari kortisol dengan penambahan atau perubahan gugus fungsi pada posisi tertentu akan menghasilkan beragam potensi dan efek samping. Penambahan sebuah molekul fluorin pada posisi C6 dan/atau C9 meningkatkan potensi steroid, tetapi diikuti juga dengan peningkatan aktivitas mineralokortikoid.6,7

Gambar 1. Struktur Dasar Molekul7

KlasifikasiKortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok besar berdasarkan atas aktivitas biologis, yakni glukokortikoid dan mineralokortikoid. Golongan glukokortikoid berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. Golongan mineralokortikoid berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal.Dalam bidang dermatologi, kortikosteroid terdiri atas 2 jenis, yaitu kortikosteroid sistemik dan kortikosteroid topikal. Pemilihan koretikosteroid topikal berdasarkan derajat berat penyakit yang berbeda, lokasi aplikasi pada tubuh, area yang terlibat dan umur penderita.3Secara umum berdasarkan potensinya, kortikosteroid dibagi menjadi 4, yaitu : potensi sangat kuat, potensi kuat, potensi sedang dan potensi lemah.8,9

Tabel 1. Klasifikasi Kortikosteroid Topikal secara UmumKelas PotensiPotensi Relatif (dibandingkan dengan hidrokortison)Steroid

Potensi sangat kuat600Clobetasol propionate 0,05% : Dermo

Potensi kuat100-175Betamethasone valerate 0,1% : BetaBetamethasone dipropionate 0,05%: DiprosoneDiflucortolone valerate 0,05% : NerisoneHydrocortisone 17-butyrate : LocoidMethylprednisolone aceponate : AdvantanMometasone furoate 0,1%: Elocon, m-Mometasone

Potensi sedang2-25Clobetasone butyrate 0,1% : EumovateTriamcinolone acetonide 0,1% : Aristocort

Potensi lemah1Hydrocortisone 0.5-2.5%

Selain itu, ada juga yang membagi kortikosteroid topikal menjadi 7 golongan, yaitu superpotent, potent, poten upper mid-strength, mid-strength, lower mid-strength, mild strength, dan least potent (tabel 2).5,6,7

Tabel 2. Kategori potensi kortikosteroid5,6,7Kelas I (super potent) Clobetasol propionate 0,05% Betamethason dipropionate 0,05% Diflorasone diacetate 0,05% Halobetasol propionate 0,05%Kelas V (lower mid-strength) Flurandrenolide 0,05% Fluticasone propionate 0,05% Betamethasone dipropionate 0,05% Triamcinolone acetonide 0,1% Hydrocortison butyrate 0,1% Fluocinolone acetonide 0,025% Betamethasone valerate 0,1% Hydrocortisone valerate 0,2%

Kelas II (potent) Amcinonide 0,1% Betamethasone dipropionate 0,05% Mometasone furoate 0,1% Diflorasone diacetate 0,05% Halcinonide 0,1% Fluocinonide 0,05% Desoximethasone 0,25%Kelas VI (mild strenght) Alclometasone dipropionate 0,05% Triamcinolone acetonide 0,1% Desonide 0,05% Fluocinolone acetonide 0,01% Betamethasone valerate 0,1%

Kelas III (potent upper mid-strength) Triamcinolone acetonide 0,1% Fluticasone propionate 0,005% Amcinonide 0,1% Betamethasone dipropionate 0,05% Diflorasone diacetate 0,05% Halcinonide 0,1% Fluocinonide 0,05%Kelas VII (least potent) Topikal dengan hydrocortisone Dexamethason, flumethason Prednisolon dan metilprednisolon

Kelas IV (mid-strength) Flurandrenolide 0,05% Mometasone furoate 0,1% Triamcinolone acetonide 0,1% Betamethasone valerate 0,12% Fluocinolone acetonide 0,025% Hydrocortisone valerate 0,2%

Mekanisme KerjaKortikosteroid memiliki efek spesifik dan nonspesifik yang berhubungan dengan mekanisme yang berbeda, termasuk efek antiinflamasi, efek imunosupresi, efek antiproliferatif, dan efek vasokonstiksi. Efek kortikosteroid pada sel kebanyakan dimediasi oleh ikatan kortikosteroid pada reseptor di sitosol, diikuti dengan translokasi kompleks pada daerah nukleus DNA yang dikenal dengan corticosteroid responsive element, dimana bisa menstimulasi atau menghambat transkripsi gen yang berdampingan, dengan demikian dapat meregulasi proses inflamasi. 5,6,7

1. Efek AntiinflamasiKortikosteroid memiliki efek antiinflamasi dengan menghambat pelepasan fosfolipase A2, yaitu enzim yang berperan dalam pembentukan prostaglandin, leukotrien, dan derivat asam arakhidonat. Kortikosteroid juga menghambat faktor transkripsi seperti activator protein 1 dan nuclear factor B yang berperan dalam aktivasi gen proinflamasi. Gen tersebut diregulasi kortikosteroid, hal itu berperan dalam resolusi inflamasi meliputi lipocortin dan p11/calpactin binding protein yang keduanya melepaskan asam arakhidonat dari fosfolipid. Kortikosteroid juga mengurangi pelepasan interleukin 1 (IL-1). Kortikosteroid menghambat fagositosis dan stabilisasi membran lisosom dari sel fagositik.5,6,7

2. Efek ImunosupresiKortikosteroid memiliki efek imunosupresi yaitu dengan menekan produksi dan efek dari faktor humoral meliputi respon inflamasi, menghambat migrasi leukosit ke tempat inflamasi, dan menghalangi fungsi sel endotel, granulosit, sel mast, dan fibroblast. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kortikosteroid dapat menyebabkan berkurangnya sel mast pada kulit serta penghambatan kemotaksis lokal netrofil dan menurunkan jumlah sel langerhans. Kortikosteroid pun dapat menurunkan proliferasi sel T dan meningkatkan apoptosis sel T.5,6,7

3. Efek AntiproliferasiKortikosteroid memiliki efek antiproliferasi dengan menghambat sintesis DNA dan mitosis. Aktivitas fibroblas dan pembentukan kolagen juga dihambat topikal kortikosteroid. Topikal kortikosteroid juga menstabilisasikan membran lisosom, sehingga enzim perusak jaringan tidak dikeluarkan.5,6,7

4. Efek VasokonstriksiMekanisme kortikosteroid topikal menyebabkan vasokonstriksi sampai saat ini masih belum jelas. Akan tetapi, mekanisme ini mungkin berhubungan dengan penghambatan vasodilator natural seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin. Kortikosteroid topikal menyebabkan kapiler pada dermis superfisial menjadi kontriksi sehingga eritema berkurang.5,6,7

Indikasi dan KontraindikasiKortikosteroid topikal direkomendasikan sebagai antiinflamsi pada penyakit kulit inflamasi, tetapi kortikosteroid topikal juga dapat digunakan sebagai antimitotik. Respon dari berbagai jenis penyakit terhadap topikal kortikosteroid bervariasi. Dalam hal ini, berbagai penyakit tersebut dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu respon tinggi, respon sedang dan respon rendah.7

Tabel 3. Kategori respon penyakit kulit terhadap kortikosteroid topikal.7Respon tinggiRespon sedangRespon rendah

Psoriasis intertriginosa Dermatitis atopik pada anak Dermatitis seboroik Intertriginosa Psoriasis Dermatitis atopik pada dewasa Dermatitis numularis Dermatitis iritan primer Papular urtikaria Parapsoriasis Liken simpleks kronis Psoriasis palmo-plantar Psoriasis pada kuku Dermatitis dishidrosis Lupus erytematosus Pemfigus Liken planus Granuloma annulare Nekrobiosis lipoidica diabeticorum Sarcoidosis Dermatitis kontak alergi, fase akut Gigitan serangga

Kontraindikasi dibagi menjadi dua, yaitu kontraindikasi absolut dan relatif. Kontraindikasi absolut antara lain pada pasien hipersensitivitas terhadap kortikosteroid topikal dan hipersensitivitas pada bahan vehikulum. Kontraindikasi relatif antara lain pada pasien infeksi bakteri, virus, jamur dan pasien dengan akne dan ulkus. Penggunaan kortikosteroid topikal diperbolehkan pada kehamilan dengan catatan apabila manfaat penggunaannya lebih besar dibandingkan kemungkinan resiko yang terjadi pada janin. Pada ibu menyusui penggunaan kortikosteroid topikal diperbolehkan pada lokasi lesi

Search related