refrat kejang

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of refrat kejang

BAB I

BAB IPENDAHULUAN

Kejang demam atau yang juga di kenal dengan febrile convulsions biasanya terjadi pada anak-anak dan disebabkan oleh demam.(febrile diambil dari bahasa latin febris,yang berarti demam).Kejang tipe ini merupakan tipe yang paling sering terjadi,munculnya tiba-tiba,dengan sedikit atau tanpa peringatan.Kebanyakan kejang berakhir dalam beberapa menit dan berhenti dengan sendirinya.

Kejang demam biasanya trjadi karena perkembangan otak anak yang sensitive terhadap demam.Kejang ini paling sering terjadi pada temperatur tubuh tinggi(lebih tingi dari 102oF tapi bisa juga terjadi pada demam dengan suhu yang lebih rendah.Kenaikan temperature tubuh yang tiba-tiba tampaknya lebih penting daripada nilai temperatur.Kejang dapat terjadi dengan onset awal dari demam sebelum pengasuh anak sadar anak tersebut sakit.1 Kejang Demam jarang berkembang menjadi epilepsy dan biasanya secara spontan hilang tanpa pengobatan khusus.Kejang demam merupakan kejang yang paling sering selama anak-anak dengan prognosa baik.Bagaimanapun juga kejang demam mungkin menandakan suatu penyakit infeksi akut seperti sepsis atau meningitis bacterial oleh karena itu setiap anak harus diperiksa secara cermat dan tepat untuk mengetahi penyebab dari demam tersebut.2BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 DEFINISI

Kejang demam bisa didefinisikan sebagai suatu Kejang yang terjadi selama demam diluar dari infeksi atau inflamasi intra cranial yang terjadi pada anak yang berumur antara 6 bulan sampai 5 tahun yang tidak pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya.Kejang demam dikatakan simple(Sederhana) jika kejang berlangsung singkat( 15 menit) bisanya dapat disertai apnea.Meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet sehingga dapat terjadi juga hipoksemia,hiperkapnia,asidosis laktat disebabkan metabolisme anaerob,hpotensi dan denyut jantung tidak teratur,meningkatnya suhu tubuh juga dapat terjadi.Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah ganguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga timbul edema otak yang mengakibatkan rusaknya sel neuron otak.Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi.82.6 MANIFESTASI KLINIS

Kejang demam bisa saja ringan,hanya bola mata anak mendelik atau kekakuan lengan dan tungkai.Sering juga demam memicu serangan meyeluruh yang meliputi seluruh tubuh.Kejang demam bisa bermula dengan kontraksi otot yang tiba-tiba dan terus-menerus pada kedua sisi dari tubuh anakbiasanya otot wajah,badan,lengan dan kaki.Juga sering timbul Tangisan yang tidak terkendali atau rintihan yang timbul karena pemaksaan kontraksi otot.Kontaksi berlanjut untuk beberapa detik atau puluhan detik.Anak akan jatuh jika berdiri dan mungkin saja mengompol,bisa juga muntah atau mengigit lidahnya sendiri.Anak bisa tidak bernafas dan mungkin mulai membiru.akhirnya,kontraksi yang terus menerus berhenti dan di ikuti dengan relaksasi yang singkat lalu tubuh anak mulai tersentak ritmis.anak tidak akan respon dengan teriakan orangtua.Kejang demam berbeda dari tremor atau disorientasi walaupun dengan demam.Pergerakanya sama dengan kejang tipe grand mall.9(simplex2)Gejalanya berupa: Demam(terutama demam tingi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba)

Kejang Tonik-klonik Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak yang mengalami kejang demam)

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selam 10-20 detik)

Gerakan klonik(kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama,biasanya berlangsung selama 1-2 menit) Lidah atau pipinya tergigit

Gigi atau rahangnya terkatup rapat

Inkontinensia(mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadaran)

Ganguan pernafasan

Apneu(henti nafas)

Kulit kebiruanSetelah mengalami kejang,biasanya:

Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau lebih Terjadi amnesia(tidak ingat apa yang telah terjadi)

Sakit kepala

Mengantuk

Linglung(sementara dan sifatnya ringan)

Jika kejangnya tunggal berlangsung kurang dari 5 menit maka kecil kemungkinan terjadinya cedera otak atau kejang menahun.72.6 PEMERIKSAAN PENUNJANGPemeriksaan penunjang dilakukan untuk membantu mengetahui penyebab timbulya kejang. Ada beberapa pemeriksaan yang jarang dipakai diperlukan pada penanganan pasien kejang. Juga faktor biaya atau tindakan untuk melakukan pemeriksaan untuk setiap pasien. Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien maka ditentukan pemeriksaan penunjang yang sesuai.1.Pemeriksaan Laboratorium Hitung jenis eritrosit dan leukositHitung jenis leukosit dan diftel digunakan jika diperkirakan penyebabnya infeksi. Harus dicatat bahwa 33% pasien dengan kejang memiliki hitungan jenis leukosit yang abnormal. jika tidak ada infeksi maka bisa dikesampingkan. Banyak penulis yakin pemeriksaan ini tidak membantu dalam penanganan pasien kejang. Kadar hemoglobin secara tidak langsung mengambarkan kapasitas pengangkutan oksigen dalam darah. Elektrolit DarahElektrolit serum merupakan pemeriksaan yang penting saat mengevaluasi Pasien kejang. Perbaikan abnormal metabolisme berhasil pada kira-kira 9% pasien kejang. Hiponatremi dan hipernatremi dapat menyebabkan kejang, keduanya mudah diperbaiki. Elektrolit sangat penting pada pasien yang baru pertama kali mengalami kejang. Glukosa DarahKadar glukosa darah diindikasikan untuk semua pasien kejang demam. Strip test glukosa darah dapat digunakan sebagai alat pemeriksaan untuk mengetahui hipoglikemi sebagai penyebab kejang. Hipoglikemi mudah ditangani dengan megunakan solusio glukosa secara intravena. Kalsium dan MagnesiumKadar kalsium dan magnesium dipakai pada pasien dengan spasme otot atau gugup.Magnesium merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien malnutrisi. Analisa Gas DarahPerubahan kadar asam-basa dapat terjadi sangat cepat setelah sekali kejang demam grand mall.PH darah bisa turun sampai 7.05.Asidosis laktat yang terjadi setelah sekali kejang demam grand mal biasanya teratasi secara spontan dalam 40 sampai 60 menit setelah kejang berhenti.Jika analisa gas darah diluar batas normal dengan nilai yang sangat signifikan setelah kejang.Maka dianjurkan untuk pemeriksaan ulang dalam 40 sampai 60 menit untuk menemukan adanya kelainan asam-basa persistan yang bisa menyebabkan kejang(keracunan theofilin,pemecahan isoniazid).102.Pemeriksaan Radiologi

CT-Scan kepala

CT-Scan kepala harus dipertimbangkan pada anak dengan kejang demam kompleks,khususnya bila perbaikan berdasarkan fungsi neurologis memanjang dan anak dengan riwayat abnormalitas perkembangan neurologis yang tak terdiagnosa sebelumnya.3 Foto KepalaKurang bernilai,lebih banyak informasi yang didapatkan dari CT-Scan.10 Magnetic Resonance Imaging(MRI)MRI tidak diindikasikan pada pasien kejang demam.11 Elektrokardiogram(EKG)EKG 12 lead berguna pada pasien yang diperkirakan kejang karena hipoksia,hipotensi,disritmia.103.Pemeriksaan Khusus Punksi LumbalPunksi Lumbal bukan tindakan yang rutin dilakukan pada anak dengan demam dan kejang demam, hanya diindikasikan jika dicurigai adanya meningitis. faktor resiko untuk meningitis pada pasien jika didapati kejang dan demam dengan: Pemeriksaan neurologis abnormal khususnya ada tanda rangsang meningeal Kejang fokal,pemeriksaan fisik ditemukan ruam atau petechie,sianosis,hipotensi,medengkur dll Dalam pengawasan dokter demam lebih dari 48 jam Kejang yang terus berlangsung saat tiba di rumah sakit

Dengan mengkombinasikan semua tanda diatas sangat membatu mengidentifikasi anak dengan faktor resiko meningitis.

Punksi lumbal juga direkomendasikan pada bayi dibawah 12 bulan dengan kejang dan demam karena tanda rangsang meningeal mungkin minimal atau tidak ada pada kelompok ini.Punksi lumbal juga dipertimbangkan pada anak umur 12-18 bulan.Tanda dan gejala meningitis mungkin juga tertutupi pada anak dengan kejang demam yang memakai antibiotic,oleh karena itu Lumba punksi diperlukan untuk beberapa kasus tertentu.12 Elektroensephalografi(EEG)

EEG kurang bernilai untuk pemeriksaan kejang demam sederhana pada anak.Kelainan yang tidak spesifik,seperti gambaran ritmis yang lambat dan tidak terorganisir umum didapati,khususnya pada 24-48 jam setelah serangan,dan tidak memiliki arti yang bermakna.Pada beberapa anak dengan kejang demam kompleks,EEG interictus sering menunjukan perlambatan fokal yang bersifat akut tapi selalu kembali normal dalam seminggu.32.8 DIAGNOSA

Diagnosa ditegakkan berdasarkan adanya kejang pada seorang anak yang mengalami demam dan sebelumnya tidak ada riwayat epilepsi.Suhu tubuh yang diukur dengan cara memasukan termometer ke dalam lubang dubur,menunjukan angka lebih besar dari 38,9oC.5

Dengan Anamnesa dan pemeriksaan fisik sering dapat mengidentifikasi sumber infeksi.hal ini penting untuk memeriksa anak secara hati-hati terhadap adanya infeksi intrakranial.ini memerlukan punksi lumbal dan pemeriksaan cairan serebrospinal khususnya pada kasus dimana anak sudah sakit dan demam lebih dari beberapa jam sebelum terjadinya demam atau jika anak sudah mendapat terapi antibakteri untuk infeksi yang diketahui penyebabnya seperti otitis media.Pemeriksaan elektrolit dan glukosa bisa dilakuan terutama jika ada diare dan muntah atau jika peningkatan temperatur tidak begitu tinggi dan penyebab demam tidak jelas.3

Pada pemeriksaan fisik nilai vital sigh yaitu temperatur demam,adanya takikardi atau hipotensi (kemungkinan sepsis),takipneu(kemungkinan infeksi saluran nafas) juga linkar kepala.jika ditemukan hemoragi pada retina dan adanya peningkatan tekanan intrakranial seperti penonjolan tulang frontal bisa sebagai tanda dari trauma kepala atau penganiayan pada anak.Jika tanda kernig dan brudzinski positif maka ada kemungkinan untuk menigitis. Pada pemeriksaan neurologi ,perhatikan status kesadaran dan abnormalitas fokal dari kekuatan motorik, dan suara.132.9 DIAGNOSA BANDING Infeksi:a.Infeksi CNS,termasuk yang disebabkan oleh bakteri,virus,jamur dan mycobacterium.lumbal Punksi diperlukan untuk membedakanya.b.Post infeksi Ensephalitisc.Abses otak dengan demam,kejang dan temuan pada Cairan Serebrospinald.Imunisasi khususnya DPT Intoksikasi

a.Pemecahan hidrokarbon pada pneumonitis aspirasi ,demam dan kejangb.Overdosis Salisilat Masalah dalam tubuh.Serangan sesak nafas bisa terjadi selama demam.142.10 PENATALAKSANAAN

Pada penanggulangan kejang demam harus disadari bahwa kebanyakan kejang demam berakhir secara spontan dalam beberapa menit dan dan pada serangan singkat tidak menyebabkan kerusakan otak.Yang penting adalah jalan nafas harus bebas,dan lebih baik dengan penatalaksanaan pemakaian oksigen jika segera tersedia.Pengunaan ventilator tidak dibutuhkan untuk serangan singkat.3

Pengobatan medikamentosa saat kejang dapat dilihat pada bagan tata laksana penghentian kejang di bawah ini15: Kejang Diazepam rektal 0,5mg/KgBB atau Pastikan airway bebas,badan BB < 10 Kg = 5 mg Posisi miring untuk mencegah aspirasi BB > 10 Kg = 10 mg vital sigh,diazepam rectal (5 menit) Kejang(+) Diazepam Rektal (5 menit)10-20 menit Dirumah Sakit Pencarian Akses Vena

Laboratorium:Darah Tepi,gula Darah,Natrium,Kalsium,Magnesium,Ureum,Kreainin

Diazepam IV 0,3-0.5 mg/KgBB Kecepatan 0,5-1 mg/menit (3-5 menit) Hati-hati Depresi Pernafasan

Kejang(-) Kejang(+)-Bila disebabkan ensefalitis Fenitoin bolus IV 10-20 mg/KgBB atau meningitis,terapi rum- kecepatan 0,5-1 mg/kgBB/menit atan perlu dilanjutkan den- gan phenobarbital 8-10 mg/

KgBB/hari selama 2 hari ke-

Mudian dilanjutkan dengan Kejang(-) 4-5 mg/KgBB/hari sampai Rumatan fenitoin IV resiko untuk kejang berulang 5-7 mg/KgBB/hari tidak ada. 12 jam kemudian-Bila Epilepsi,lanjutkan OAE

dengan menaikan dosis.

Status konvulsi Kejang(+)

Transfer ke ruang perawatan intensif

Phenobarbital 5-15 mg/KgBB/hari Bolus IV dilanjutkan dengan dosis 1-6 mg/KgBB drip

Atau midazolam 0,2 mg/Kg dilanjutkan dengan 0,1-0,4 mg/kg/jam

Gambar 1.Algoritman Tata laksana kejang15Tujuan utama penatalaksanaa jangka panjang untuk kejang demam adalah mencegah berulangya kejang.Pilihan pengobatan antara lain:Profilaksis jangka panjang dengan phenobarbital atau varpoat dan profilaksis intermitten denga diazepam dan benzo-diazepim lainya.12Saat ini lebih diutamakan pengobatan profilaksis intermiten pada saat demam berupa:1.Antipiretik

Tujuan utama pengobatan kejang demam adalah mencegah demam meningkat.Berikan Parasetamol 10-15 mg/KgBB/hari selama 4-6 jam atau ibuprofen 5-10 mg/KgBB/hari tiap 4-6 jam.

Pengontrolan temperatur saat demam sedikitnya membantu mencegah jejang demam pada anak yang pernah kejang demam sebelumnya dan mempunyai resiko.Bagaimanapun juga cara ini tidak begitu efektif dan anak tetap mempunyai kemungkinan untuk kejang meskipun dengan pengunaan obat antipiretk yang tepat.20

2.Antikejang

Beri diazepam oral 0,3 mg/KgBB/dosis tiap 8 jam saat demam atau diazepam rektal 0,5 mg/KgBB/hari tiap 12 jam saat demam.Efek samping diazepam oral adalah letargi,mengantuk dan ataksia.15

Pengunaan diazepam oral (0,3 mg/kg) diberikan pada saat demam menunjukan berkurangnya resiko kejang demam berulang.Bagaimanapun juga ada kemungkinan anak akan mengalami kejang berulang sebelum orang tua sadar si anak demam.3

Baru-baru ini diazepam rektal telah disetujui untuk pengunaan pada anak dengan kejang berulang atau mungkin digunakan orang tua sebagai tahap awal,pengobatan darurat pada kejang demam yang berulang dan lama.Walaupun efek depresi pernafasan dari diazepam rektal pada dosis yang direkomendasikan rendah,Pengunaan diazepam rektal terbatas pada anak dengan riwayat kejang demam yang lama dan disarankan orang tua dilatih untuk resustasi jantung-paru.3 3.Pengobatan Jangka Panjang

Pengobatan jangka panjang selama 1 tahun dapat dipertimbangkan pada kejang demam kompleks dengan faktor resiko.Obat yang digunakan adalah fenobarbital 3-5 mg/KgBB/hari atau asam valproat 15-40 mg/KgBB/hari.15

Karena hanya sepertiga dari anak yang pertama kali mengalami kejang demam akan mengalami kejang akan mengalaminya untuk kedua kalinya,maka kelompok anak dengan kejang yang sekali,pendek dan general tidak perlu diobati.Tidak ada bukti yang menunjukan kejang demam yang kedua atau ketiga walaupun lama menyebabkan epilepsi dan kerusakan otak.

Profilaksis antikonvulsan direkomendasikan jika anak selain kejang demam jika memiliki faktor resiko yaitu:

1.Bayi dengan neurologis abnormal pada pemeriksaan atau perlambatan pertumbuhan harus dipertimbangkan untuk pengunaan terapi prifilaksis antikonvulsi.2.Jika kejang demam untuk pertama kali merupakan bentuk kompleks(multipel,lama atau fokal) tapi anak cepat membaik dan tidak ada kelainan,pengobatan tidak diindkasikan jika tidak ada riwayat bukan kejang demam pada keluarga.

3.Pada riwayat kejang demam dalam keluarga atau diketahui adanya riwayat epilepsi dalam keluarga merupakan kontraindikasi relatif untuk terapi.4.Anak dengan kejang demam yang sering dan lama harus diobati.Pilihanya adalah phenobarbital profilaksis atau prosedur dengan diazepam o,33mg/kg,setiap 8 jam selama demam.16

Phenitoin dan karbamazepin tidak efektif untuk profilaksis pada kejang demam.Menurunkan demam dengan kompres dan antipiretik juga pengunaan antibiotik untuk penyakit yang disebabkan bakteri bisa dilakukan tapi tidak terbukti mencegah kejang demam.172.11 KOMPLIKASIKomplikasi dari kejang antara lain:

Cidera karena terjatuh atau terbentur

Mengigit diri sendiri

Menghirup cairan ke paru-paru (pneumonia) Cidera karena kejang yang lama dan sulit

Efek samping dari medikamentosa yang digunakan untuk mengobati dan mencegah kejang(jika diresepkan)

Komplikasi jika ada infeksi serius,seperti meningitis ,disebabkan oleh demam Kejang yang tidak berhubungan dengan kejang.9Kemungkinan komplikasi hemiparesis dapat terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama yaitu yang berlangsung lebih dari setengah jam,baik yang bersifat umum atau fokal.Apabila kejang demam diikuti dengan terulangya kejang tanpa demam,retardasi mental dapat terjadi dengan kemungkinan 5 kali lebih besar.82.12 PROGNOSIS

Pada saat kejang demam untuk pertama kali merupakan peristiwa yang sangat menakutkan bagi orang tua.Kebanyakan orang tua takut anak mereka akan meninggal atau mengalami kerusakan otak.Untungnya,kejang demam sederhana tidak berbahaya.tidak ada keterangan bahwa kejang demam dapat menyebabkan kematian,kerusakan otak,epilepsy,retardasi mental ,penurunan IQ atau kesulitan belajar.17Dengan penanggulangan cepat dan tepat,prognosisnya baik dan tidak menyebakan kematian.Kemungkinan bangkitan kejang sekitar 25-50% pada umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.Pada anak berumur kurang dari 13 bulan , terulangnya kejang pada anak perempuan 50% dan anak laki-laki 33%.Pada anak berumur 14 bulan-3 tahun dengan riwayat ada kejang,kemungkinan bangkitan 50% sedangkan tanpa riwayat keluarga kejang 25%.8Faktor resiko berulangnya kejang demam dipengaruhi:1. Dibawah 18 tahun2. Durasi demam(Pendeknya durasi demam sebelum kejang sebanding dengan resiko kejang berulang)3. Riwayat epilepsi pada keluarga(tidak pasti)4. Riwayat kejang demam dalam keluarga

5. Tingginya demam(makin rendah demam yang di ikuti kejang,makin tinggi resiko berulangnya kejang).182.12 PENCEGAHAN Biasanya kejang demam terjadi pada hari pertama demam.Sering sekali kejang demam terjadi sebelumorang tua sadar bahwa si anak sakit.Pemberian asetaminofen(Tylenol,dll) atau ibuprofen(advil,mortin,dll) pada anak merupakan indikasi pertama. Sering sekali kejang demam terjadi pada hari pertama si anak sakit.kadang-kadang kejang demam terjadi sebelum orang tua sadar anak mereka sakit.Pemberian asetaminophen(tylenol dll) atau ibuproven(Advil,Mortin dll) merupakan indikasi pertama jika anak demam,tapi bukan menncegah kejang.Orang tua juga harus memberi anak banyak minum dan tidak meyelimuti anak dengan selimut tebal selama demam.

Kadang digunakan obat untuk mencegah kejang seperti anti konvulsi Phenobarbital,asam valproat(Depakene) dan sodium divalproet(Depakote) dapat mencegah kejang demam jika berikan setiap hari.Diazepam oral atau rektal(Valium,Diastat) juga dapat mengurangi resiko kejang demam jika digunakan disaat demam.Tapi semua obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang serius bagi anak.Dokter jarang meresepkan obat-obat tersebut untuk pencegahan kejang demam karena sebaian besar kejang demam tidak berbahaya dan tidak ada ganguan pertumbuhan.6BAB IIIILUSTRASI KASUSPRESENTASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama:An.ZUmur:2 tahun 3 bulan

Jenis Kelamin: Perempuan

Agama:Islam

Alamat:Ie MasenNo.CM / Reg.:112160/ 0006121Tanggal Masuk:30 Juli 2006

Tanggal Pemeriksaan:30 Juli 2006

Tanggal Keluar:2 Agustus 2006

II, IDENTITAS KELUARGA

AYAH

Nama :Tn.AUmur:32 tahun

Agama: Islam

Pendidikan:S1Pekerjaan:SwastaAlamat :Ie MasenIBU

Nama :Ny.F

Umur:30 tahun

Agama: Islam

Pendidikan:S1Pekerjaan:PNSAlamat :Ie MasenIII. ANAMNESA

Alloanamnesa: Ibu dan Ayah Pasien

A. Keluhan Utama

Kejang

B. Keluhan Tambahan

Demam C. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang diantar oleh keluarganya dengan keluhan kejang 2 jam SMRS,lama kejang 5 menit dan hanya sekali.Kejang pada seluruh bagian tubuh,bola mata mendelik,sehabis kejang os sadar.Pasien baru pertama kali merasakan hal seperti ini.Pasien demam sejak tadi sore( 6 jam SMRS) dan makin meningkat setelah magrib.Saat kejang pasien ditengkurapkan dan disiram air es dan kemudian os sadar.Sehabis kejang os muntah.Batuk(+) sejak kemarin,suara serak sejak sakit & malas makan.pilek(-),mencret(-),D. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalami sakit seperti ini.E. Riwayat Penyakit Keluarga

Dalam keluarga pasien tidak ada yang pernah menderita penyakit seperti ini. Riwayat kejang dalam keluarga disangkal.

F. Riwayat Pemakaian Obat

Ibu pasien tidak memberikan obat apa-apa sejak os sakit.G. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Ibu pasien dalam keadaan sehat selama hamil. Persalinan ditolong bidan Pasien lahir spontan dengan kehamilan cukup bulan, segera menangis.H. Riwayat ImunisasiPasien mendapat imunisasiUsia 0 Bulan :BCG Hepatitis B-1,Polio-0Usia 1 Bulan : Hepatitis B-2

Usia 2 Bulan : Polio-1,DPT-1Usia 4 Bulan : Polio-2,DPT-2

Usia 6 Bulan : Hepatitis B-3,Polio-3,DPT-3

Usia 9 Bulan : CampakI. Riwayat Pemberian Makanan :

Usia 0 4 bln: ASI

Usia 4 8 bln: ASI + PASI + Nasi Tim

Usia 8 12 bln: ASI + Nasi Biasa (pisang)

Usia 12 27 bln: PASI + Nasi Biasa J. Riwayat Perkembangan & Pertumbuhan :

Usia 0 4 bln: Mengikuti objek dengan mata

Usia 4 8 bln: Tengkurap, merangkak

Usia 8 12 bln: Masih merangkak, belajar bicara

Usia 12 18 bln: Mulai berjalan, Mengeksplorasi rumah

Usia 18 - 27 bln : Belajar Makan sendiri,belajar melompat,mengerti kata-

Yang ditujukan kepadanya

IV. PEMERIKSAAN FISIK

1. STATUS PRESENT

Keadaan Umum: SedangKesadaran : Compos Mentis|

Heart Rate: 130 x/menit

Respiratory Rate: 30 x/menit

Temperatur: 38,9OC

Berat Badan Sekarang: 9 Kg

Berat Badan Ideal: 2n + 8 = 2 (2,3) + 8 = 12,6 KgStatus Gizi: BBS x 100% = 9,0 x 100% = 71% (gizi kurang)

BBI

12,6Kebutuhan cairan: BBS x 100 cc / hari = 9 Kg x 100 cc/hari

= 900 cc/ hari

Kebutuhan Kalori: BBS x 100 kal / hari = 9 Kg x 100 kal/hari

= 900 kal / hari

Kebutuhan Protein: (3 4) x BBS = (3 4) x 9 = 27 36 gr / hari

2. STATUS GENERAL

KULIT

Warna: Sawo MatangTurgor: kembali cepat

Icterus: (-)

Anemi: (-)

Sianosis: (-)

Udema: (-)

A. KEPALA

Bentuk

: Kesan Normocephali

Rambut

: Berwarna hitam, sukar dicabut Mata

: Cekung (-), pupil isokor, reflek cahaya (+)

Konjungtiva.anemis (-/-), sklera ikterik (-)

Telinga

: Serumen (-)

Hidung

: Simetris, Sekret (-) , NCH (-) Mulut

Bibir

: Pucat (-), sianosis (-)

Gigi geligi

: Karies (-)

Lidah

: Beslag (-), tremor (-)

Mukosa

: Basah (+)

Tonsil

: Hiperemis (+) Faring

: Hiperemis (+)

B. LEHER

Bentuk

: Kesan simetris

Kelenjar Getah Bening: Kesan simetris, Pembesaran KGB (-)

Tekanan Vena Jugularis: Tidak meningkatC. THORAK

Bentuk dan Gerak

: Kesan simetris

Tipe Pernafasan

: Abdomino-Thorakal

Retraksi

: Suprasternalis (-)

Intercostalis (-)

Epigastrik (-)

D. PARU-PARU

DEPAN

KANAN

KIRI

Palpasi

Fremitus (N)

Fremitus (N)

Perkusi

Sonor

Sonor

Auskultasi

Vesikuler (N)

Vesikuler (N)

Ronkhi (-) Ronkhi (-)

Wheezing (-)

Wheezing (-)

BELAKANG

KANAN

KIRI

Palpasi

Fremitus (N)

Fremitus (N)

Perkusi

Sonor

Sonor

Auskultasi

Vesikuler (N)

Vesikuler (N)

Ronkhi (-) Ronkhi (-)

Wheezing (-)

Wheezing (-)

E. JANTUNG

Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi: Ictus cordis teraba pada ICR IV, 1 cm medial linea mid clavicula sinistra

Perkusi: Batas-batas jantung

Atas: ICR II sinistra

Kiri : 1 cm linea midclavicula sinistra

Kanan : linea parasternalis dekstra

Auskultasi: BJ I > BJ II, Reguler, bising (-)

F. ABDOMEN

Inspeksi: Kesan simetris

Palpasi: Distensi abdomen (-), Nyeri tekan (-), Lien dan hepar tidak teraba.

Perkusi: Tympani usus (+), pekak hati (-), asites (-)

Auskultasi: peristaltik usus (N)

G. GENETALIA

: Perempuan, kelainan kongenital (-).

H. ANUS

: (+), Tidak ada kelainan.

I. EKSTREMITAS

EKSTREMITASSUPERIORINFERIOR

KananKiriKananKiri

Sianotik----

Edema----

Ikterik----

GerakanAktifAktifAktifAktif

Tonus ototNormotonusNormotonusNormotonusNormotonus

SensibilitasNNNN

Atrofi Otot----

Tonus----

Reflek Fisiologis NNNN

Reflek Patologis ----

J.Tanda Rangsang Meningeal

Kaku Kuduk : (-) Brudzinski I : (-) Brudzinski II : (-) Kernig : (-)V. LABORATORIUM (Tanggal 31 Juli 2006)

Hematologi

Hemoglobin

: 11 gr/dl

Leukosit

: 6 000/ul

LED

: 10 mm/jam

Diftel

Eosinofil

: 0 %

Basofil

: 0 %

Netrofil batang: 2 %

Netrofil segmen: 65 %

Limfosit

: 30 %

Monosit

: 3 %

Urine Rutin

Warna

: Kuning jernih

Kekeruhan

: (-)

Protein

: (-)

Reduksi

: (-)

Feses Rutin

Warna

: Kuning

Konsistensi

: Lunak

Lendir

: (-)

Darah

: (-)

Parasit

: (-)

Telur Cacing

: (-)

Uji Sensitifitas

DDR

: (-)

Widal

: (-)

Test Torniquet

: (-)

VI. RESUME

A. Identitas Pasien

Pasien adalah seorang anak perempuan , 2 tahun 3 bulan, ayah tamatan SI pekerjaan swasta,Ibu tamatan S1 pekerjaan PNSAnamnesis

Keluhan Utama: KejangKeluhan tambahan : DemamRiwayat Penyakit Sekarang :Pasien datang diantar oleh keluarganya dengan keluhan kejang 2 jam SMRS,lama kejang 5 menit dan hanya sekali.Kejang pada seluruh bagian tubuh,bola mata mendelik,sehabis kejang os sadar.Pasien baru pertama kali merasakan hal seperti ini.Pasien demam sejak tadi sore( 6 jam SMRS) dan makin meningkat setelah magrib.Saat kejang pasien ditengkurapkan dan disiram air es dan kemudian os sadar.Sehabis kejang os muntah.Batuk(+) sejak kemarin,suara serak sejak sakit & malas makan.pilek(-),mencret(-), Riwayat Penyakit DahuluPasien belum pernah mengalami sakit seperti ini. Riwayat Penyakit Keluarga

Dalam keluarga pasien tidak ada yang pernah menderita penyakit seperti ini. Riwayat kejang dalam keluarga disangkal.

Riwayat Pemakaian Obat

Ibu pasien tidak memberikan apa-apa sejak os sakit B. Pemeriksaan Fisik

Status Present

Keadaan umum: SedangKesadaran : Compos Mentis

Heart Rate: 130 x/menit

Respiratory Rate: 38 x/ menit

Temperatur: 38,90C

Berat badan sekarang: 9 KgBerat Badan ideal: 12,6 KgStatus Gizi: 71% (gizi Baik)

Kebutuhan cairan: 900 cc/hari

Kebutuhan kalori: 900 kal/ hari

Kebutuhan protein: 27 - 36 gr /hari

Status General

Kulit: Dalam Batas Normal (dbn)

Kepala: (dbn)

Mata: Konjungtiva anemis (-/-)Hidung: Sekret (-) serous, NCH (-)Mulut : Bibir sianosis (-)Leher : (dbn)

Thorak: simetris, retraksi (-) Inspeksi

- Statis: simetris

-Dinamis: Simetris, retraksi (-) -Bentuk dada : Normal

-Pernapasan : Thorako Abdominal

Paru-paru

KANAN

KIRI

Palpasi

Fremitus (N)

Fremitus (N)

Perkusi

Sonor

Sonor

Auskultasi

Vesikuler (N)

Vesikuler (N)

Ronkhi (-) Ronkhi (-)

Wheezing (-)

Wheezing (-)Abdomen

: dbn

Hepar

: Tidak Teraba

Lien

: Tidak Teraba

Ekstremitas: dbn

C. Laboratorium

Hemoglobin

: 11 gr/dl

Leukosit

: 6.000/ul

LED

: 10 mm/jam

Diftel

: 0/0/2/65/30/3

Feses rutin

: dbn

Urine rutin

: dbn

Pemeriksaan lain :

DDR

: (-)

Widal

: (-)

Test Torniquet

: (-)

VII. DIAGNOSIS BANDING

1. Kejang Demam Simplex ec.Tonsilofaringitis + Gizi Kurang2. Meningitis + Gizi Kurang3. Ensefalitis + Gizi KurangVIII. DIAGNOSA SEMENTARA

Kejang Demam Simplex ec.Tonsilofaringitis + Gizi KurangIX. USUL PEMERIKSAAN

1. Ig G dan Ig M anti dengue

2. Pemeriksaan elektrolit

3. Pemeriksaan kadar gula darah

X. PENATALAKSANAAN

1. Suportif

Bed rest

Kompres HangatDiet MB 900 kal/hari + protein 27-36 gr/hari2. Medikamentosa

IVFD RL 25 gtt/menit mikro

Injeksi Ampicillin 300 mg / 8 jam/ iv

Injeksi Gentamicin 22,5 mg / 12 jam / iv

Pulv Diazepam 0,9 mg/8 jam (Selama masih demam)Paracetamol 3 x cth 1

XI. PROGNOSA

Quo ad Vitam : Dubia ad bonam

Quo ad sanam : Dubia ad bonam

XII. KEADAAN PULANG

Pasien pulang atas anjuran dokter tanggal 2 agustus 2006,hari rawatan ke 3 dengan keadaan sudah membaikKeadaan umum: Baik

Kesadaran

: CM

HR

: 130 x/i

RR

: 36 x/i

T

: 35,2 oC

XIII. OBAT KETIKA PULANG

Amoxicillin syr 3x cth 1XIV. ANJURAN KETIKA PULANG

Istirahat yang cukup Makanan bergizi(Diet MB 900 kal/hari + protein 27-36 gr/hari) Sediakan obat penurun panas dan diazepam rektal di rumah. Bila anak demam beri obat penurun panas sesuai dosis,kompres hangat dan beri banyak minum air,bila anak kejang segera berikan diazepam rektal lalu periksakan ke dokter.FOLLOW UP PASIEN

TGLVITAL SIGNKELUHANPEMERIKSAAN FISIK & PENUNJANGTERAPI

31/07/06Hari 1KU : BaikKes : CM

HR : 138 x/i

RR : 32 x/iT : 37,6O C

BB : 9 Kg- Demam(+)-Susah MakanMata : Conj.Pucat (-/-), Sclera Icterik (-/-)

Hidung : NCH (-), Sekret (-) serousMulut : Bibir sianosis (-)

Faring Hiperemis (+) Tonsil Hiperemis(+)Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorak : simetris, retraksi (-) Pulmo : Ves (+), Rh (-/-), WH (-/-)Cor : Bj I > BJ II, Reg, Bising (-)

Abd : Distensi (-), NT (-), Peristaltik (N), Pbesaran hepar (-), pbesaran lien (-)

Extr : Sup : edema (-/-), Sianosis (-/-)

Inf : edema (-/-), Sianosis (-/-)TRM : (-)- Bed rest

- IVFD RL 25 tts / menit(mikro)

- Inj.Ampicillin 300mg/8jam iv- Inj.Gentamicin 22,5mg/12jam iv

- Paracetamol syr 3 dd cth 1

- Diazepam pulv 0,9 mg/8 jam

01/08/06Hari 2KU: BaikKes :CM

HR : 100 x/iRR : 32 x/iT : 36,8 O C Susah MakanMata : Conj.Pucat (-/-), Sclera Icterik (-/-)

Hidung : NCH (-), Sekret (-) serousMulut : Bibir sianosis (-)

Faring Hiperemis(+)

Tonsil Hiperemis(+)

Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorak : simetris, retraksi (-) suprasternalPulmo : Ves (+), Rh (-/-)basah, WH (-/-)

Cor : Bj I > BJ II, Reg, Bising (-)

Abd : Distensi (-), NT (-), Peristaltik (N), Pbesaran hepar (-), pbesaran lien (-)

Extr : Sup : edema (-/-), Sianosis (-/-)

Inf : edema (-/-), Sianosis (-/-)TRM(-)

Hasil Lab RSUZA (1Agustus 2006)

Hb : 11 gr/dlHt : 32 %

Leukosit : 8,5 x 103/ul

LED : Tidak cukup darahTrombosit: 150 x103 /ul

Diftel : 0/0/3/75/19/3

Feses rutin: dbnUrine rutin: dbn

Pemeriksaan lain :

DDR : (-)

Widal : (-)

Test Torniquet : (-)

- Bed rest

- IVFD RL 25 tts / menit(mikro)

- Inj.Ampicillin 300mg/8jam iv- Inj.Gentamicin 22,5mg/12jam iv

- Paracetamol syr 3 dd cth 1

2/08/06hari 3KU: BaikKes :CM

HR : 130 x/iRR : 36 x/iT : 35,2 O CBatuk pada saat bangun tidurMata : Conj.Pucat (-/-), Sclera Icterik (-/-)

Hidung : NCH (-), Sekret (-) serousMulut : Bibir sianosis (-)

Faring Hiperemis(-)

Tonsil Hiperemis(-)

Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorak : simetris, retraksi (-) suprasternalPulmo : Ves (+), Rh (-/-)basah, WH (-/-)

Cor : Bj I > BJ II, Reg, Bising (-)

Abd : Distensi (-), NT (-), Peristaltik (N), Pbesaran hepar (-), pbesaran lien (-)

Extr : Sup : edema (-/-), Sianosis (-/-)

Inf : edema (-/-), Sianosis (-/-)

- Bed rest

- IVFD RL 25 tts / menit(mikro)

- Inj.Ampicillin 300mg/8jam iv- Inj.Gentamicin 22,5mg/12jam iv

- Paracetamol syr 3 dd cth 1

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous.Seizures and fever(2005).dalam: http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=58638&page=12. Behrman,RE.Kliegman,RM.Jenson,H.Nelson Textbook of pediatrics,17th,Saunders,pennsylvania.2004:chapter 5843. Ryan,stevev G.Febrile Seizure.Dalam:Rudolph,C.D,et al.Rudolph Pediatrics,21th,McGraw-Hill,USA,2002:chapter 25.10.44. Lumbangtobing,SM.Kejang Demam(Febrile Convulsion),Balai pustaka FKUI,Jakarta.2004:hal 3-55. Anonymous,.Kejang Demam(2004).dalam:http://www.medicastore.com/cybermed/detail_pyk.php?idktg=19&iddtl=4006. Anonymous.Febrile Seizure(2006).dalam: http://www.mayoclinic.com/health/febrile-seizure/DS00346/DSECTION=37. Chayim Newmark,Febrile Seizure(2002).dalam: http://www.shands.org/health/information/article/003200.htm8. Hasan,Rusepno Dr,Alatas husein Dr,Ilmu Kesehatan Anak vol.2,FKU,Jakarta,2002:hal.847-8489. Goldenring,John,Febrile Seizure(2005)dalam:http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000980.htm10. Hamilton,GC.Sanders,AB.Trott,AT.Emergency Medicine an approach to clinical problem-solving,2nd,Saunders,Pennsylvania.2003:Chapter 3311. Baumann,Robert,MD,Febrile Seizures(2005) dalam:http://www.emedicine.com/neuro/topic134.htm12. Singhi,D Pratibha,Srinivas,M.Febrile seizures(2001) dalam: http://www.indianpediatrics.net/july2001/current.htm13. William,M et al.The 5 Minute pediatric Consult,3rd,Lippincott Williams&Wilkin,Philadelphia,200314. Barkin,RM et al.Emergency Pediatric a guide to ambulatory care,6th,Mosby,Pennsylvania.2003:chapter 8115. Pusponegoro,Hardiano D.Standar Pelayanan Medis:Kesehatan Anak.Badan Penerbit IDAI,Jakarta.200416. Fenichel,Gerald M.Clinical Pediatric Neurology a sigh and Symtoms approach,4th,Saunders,Philadelphia,200117. Hay,Willim et al.Current Pediatric Diagnosis&Treatment,16th,McGraw-hill Copanies,inc.USA.2003

18. Annonymous.Febrile Seizures(2006).dalam:http://www.drkoop.com/ency/93/000980_1.html19. Millar,JS,md.Evaluation and Treatment of the Child with Febrile Seizure(2006).dalam: http://www.aafp.org/afp/20060515/1765ph.html20. Cargan,Abba L.Febrile seizure.Dalam :Burg,Fredric et al.Gellis&Kagans Current Pediatric Therapy,17th,Saunder,Philadelphia.2002

KEJANG (+)

PAGE 32