24
PENDAHULUAN Kematian perinatal merupakan salah satu tolak ukur yang peka untuk menilai derajat kesehatan masyarakat karena melalui angka kematian perinatal kita dapat menilai tingkat pelayanan obstetri pada suatu rumah sakit atau suatu negara. Berdasarkan data dari rumah sakit besar serta penilaian secara kasar, didapatkan bahwa angka kematian perinatal di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya. Dengan pemantauan yang lebih dini, ≥ 70% kematian akibat pertumbuhan janin terhambat dapat dicegah bila kelainan ini dikenal sebelum kehamilan 34 minggu, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kematian perinatal. Dengan melakukan pemeriksaan pengawasan wanita hamil secara teratur dapat mengenali secara lebih dini adanya gangguan pertumbuhan janin intrauterine serta merujuk ke pusat yang lebih tinggi dalam upaya menurunkan angka kematian perinatal akibat gangguan pertumbuhan janin intrauterine (Sastrawinata US, 2009). Berdasarkan pengamatan World Health Organization (WHO), angka kematian ibu diperkirakan sebesar 500.000 jiwa dan angka kematian bayi sebesar 10.000.000 jiwa setiap tahunnya. Kejadian kematian ibu dan bayi sebagian besar terdapat di Negara berkembang yaitu sekitar 98% sampai 99% maka kemungkinan kematian ibu dan bayi di Negara berkembang 100 kali lebih tinggi dibanding dengan Negara maju (Manuaba IG, 1998). 1

Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

Embed Size (px)

DESCRIPTION

referat

Citation preview

Page 1: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

PENDAHULUAN

Kematian perinatal merupakan salah satu tolak ukur yang peka untuk menilai derajat

kesehatan masyarakat karena melalui angka kematian perinatal kita dapat menilai tingkat

pelayanan obstetri pada suatu rumah sakit atau suatu negara. Berdasarkan data dari rumah

sakit besar serta penilaian secara kasar, didapatkan bahwa angka kematian perinatal di

Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya. Dengan pemantauan

yang lebih dini, ≥ 70% kematian akibat pertumbuhan janin terhambat dapat dicegah bila

kelainan ini dikenal sebelum kehamilan 34 minggu, sehingga diharapkan dapat menurunkan

angka kematian perinatal. Dengan melakukan pemeriksaan pengawasan wanita hamil secara

teratur dapat mengenali secara lebih dini adanya gangguan pertumbuhan janin intrauterine

serta merujuk ke pusat yang lebih tinggi dalam upaya menurunkan angka kematian perinatal

akibat gangguan pertumbuhan janin intrauterine (Sastrawinata US, 2009).

Berdasarkan pengamatan World Health Organization (WHO), angka kematian ibu

diperkirakan sebesar 500.000 jiwa dan angka kematian bayi sebesar 10.000.000 jiwa setiap

tahunnya. Kejadian kematian ibu dan bayi sebagian besar terdapat di Negara berkembang

yaitu sekitar 98% sampai 99% maka kemungkinan kematian ibu dan bayi di Negara

berkembang 100 kali lebih tinggi dibanding dengan Negara maju (Manuaba IG, 1998).

Segala usaha dan upaya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia

telah banyak dilakukan. Sejak tahun 1997 ke 2007, AKI telah menurun sebanyak 38%. Pada

tahun 2003 AKI di Indonesia menjadi 228/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan target MDGs

pada tahun 2015, AKI diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Meskipun AKI

mengalami penurunan tapu belum signifikan dan jauh dari harapan. AKI di Indonesia masih

relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara ASEAN. (Stalker, Peter, 2008).

Bank dunia, WHO, UNFPA dan beberapa organisasi donor dunia menyelenggarakan

konferensi “Safe Matherhood” di Nairobi, Kenya dengan tujuan mendorong gerakan dunia

untuk memperhatikan kesejahteraan ibu sehingga angka kematian maternal dan perinatal

dapat diturunkan (Manuaba IG, 1998).

1

Page 2: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

PARTOGRAF

SEJARAH PERKEMBANGAN

Friedman menemukan hubungan antara serviks dan turunnya kepala janin (bagian terendah)

berkaitan dengan waktu persalinan yang dikenal dengan ”Kurva Friedman”. Seiring dengan

perkembangan pengetahuan ditemukan perbedaan antara primigravida dan multigravida pada

fase aktif maupun fase latennya. Oleh karena itu badan pekerja WHO mencetuskan gagasan

modifikasi kurva friedman menjadi “Partograf WHO”.

DEFINISI

Partograf merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau keadaan ibu dan janin dari

yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu (WHO, 1994). Partograf adalah

catatan grafik mengenai kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk

menentukan adanya persalinan abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan kebidanan

jauh sebelum persalinan menjadi macet (Rangkuti Z, 2011). Partograf terdiri dari grafik

penilaian persalinan dan dianggap sebagai sumber informasi yang sangat baik untuk

menganalisis dilatasi serviks uteri dan presentasi kepala janin dalam kaitannya dengan waktu

persalinan (Fauveau V, de Bernis L, 2006).

Tujuan utama penggunaan partograf adalah untuk;

1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks

melalui pemeriksaan dalam.

2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian juga

dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.

3. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik

kemajuan proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan

laboratorium, membuat keputusan klinik, dan asuhan atau tindakan yang diberikan

dimana semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin

dan bayi baru lahir (Depkes RI, 2007)

Dengan demikian, juga dapat dilaksanakan deteksi secara dini, setiap kemungkinan terjadinya

partus lama dan partus macet yang di gunakan selama fase aktif persalinan (depkes RI, 2004).

Jika digunakan secara tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong persalinan

untuk mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, asuhan yang diberikan selama

2

Page 3: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

persalinan dan kelahiran, serta menggunakan informasi yang tercatat, sehingga secara dini

mengidentifikasi adanya penyulit persalinan, dan membuat keputusan klinik yang sesuai dan

tepat waktu. Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan ibu dan janin telah

mendapatkan asuhan persalinan secara aman dan tepat waktu. Selain itu, dapat mencegah

terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka (Keman K, 2010).

Partograf sebagai alat untuk memantau kemajuan persalinan, berfungsi untuk

mencegah terjadinya partus lama dan partus macet. Partograf diperlukan guna mencegah

terjadinya komplikasi persalinan dan kematian ibu akibat partus lama. Pengetahuan partograf

harus dimiliki setiap tenaga penolong kesehatan, termasuk dokter. Sebanyak 9,4 persen

kematian ibu adalah karena partus lama, yang jika tidak ditangani dengan baik dan adekuat,

akan berlanjut menjadi partus macet. Banyak fungsi dari penggunaan partograf, salah satunya

adalah akan mencegah partus lama dan partus macet (Sastrawinata US, 2009).

PENGGUNAAN PARTOGRAF

World Health Organization (WHO) telah memodifikasi partograf agar lebih sederhana dan

lebih mudah digunakan. Partograf WHO menetapkan dasar sebagai berikut :

1. Fase aktif mulai pembukaan 3 cm

2. Fase laten lamanya 8 jam

3. Pada fase aktif pembukaan untuk primi dan multi sama tidak boleh kurang dari

1cm/jam

4. Pemeriksaam dalam hanya dilakukan dengan interval waktu 4 jam

5. Keterlambatan persalinan selama 4 jam, memerlukan intervensi medis, dengan

mempertimbangkan indikasi dan KU ibu maupun janin. (Prawirohardjo, 2002)

Partograf harus digunakan untuk;

1. Semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sampai dengan kelahiran bayi,

sebagai elemen penting asuhan persalinan normal.

2. Semua tempat pelayanan persalinan (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah

sakit, dan lain-lain)

3. Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan

dan kelahiran (Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Bidan, Dokter Umum, Residen, dan

Mahasiswa Kedokteran).

3

Page 4: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

HALAMAN DEPAN PARTOGRAF

Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi yang dimulai pada fase aktif

persalinan; dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama

fase aktif persalinan, termasuk;

a. Informasi tentang Ibu :

1. Nama, Umur;

2. Gravida, Para, Abortus (keguguran);

3. Nomor catatan medik/nomor Puskesmas;

4. Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah: tanggal dan waktu penolong

persalinan mulai merawat ibu).

b. Waktu pecahnya selaput ketuban

c. Kondisi Janin :

1. DJJ (Denyut Jantung Janin)

2. Warna dan adanya air ketuban

3. Penyusupan (molase) kepala janin

d. Kemajuan Persalinan:

1. Pembukaan serviks

2. Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin

3. Garis waspada dan garis bertindak

e. Jam dan Waktu

1. Waktu mulainya fase aktif persalinan

2. Waktu actual saat pemeriksaan atau penilaian

f. Kontraksi Uterus

1. Frakuensi dan lamanya

g. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:

1. Oksitosin

2. Obat-obatan lainnya dan ciran I.V yang diberikan.

h. Kondisi Ibu:

1. Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh;

2. Urin (volume, aseton, atau protein).

i. Asuhan, pengamatan, dan Keputusan Klinik lainnya (dicatat dalam kolom tersedia di

sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan) (Keman K, 2010).

4

Page 5: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

CARA PENGISIAN HALAMAN DEPAN PARTOGRAF

5

Page 6: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

1. Informasi Tentang Ibu

Lengkapi bagian awal atas partograf secara teliti pada saat memulai asuhan persalinan.

Waktu kedatangan (tertulis sebagai: “jam” pada partograf) dan perhatikan kemungkinan

ibu datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban (Keman K,

2010).

2. Kesehatan dan Kenyamanan Janin

Kolom, lajur, dan skala angka pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung

janin (DJJ), air ketuban, dan penyusupan tulang kepala janin.

a. Denyut Jantung Janin

Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian Pemeriksaan Fisik,

nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda-

tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian ini, menunjukkan waktu 30 menit. Skala

angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi

tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian

hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis yang tidak terputus.

Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka 180 dan 100.

Akan tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160.

Catat tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari

kedua sisi partograf (Keman K, 2010).

b. Warna dan Adanya Air Ketuban

Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dan nilai warna air ketuban jika

selaput ketuban pecah. Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur

DJJ. Gunakan lambing-lambang berikut.

U : Ketuban utuh (Belum Pecah)

J : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

M : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium

D : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah

K : Ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (Kering)

Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan gawat janin. Jika terdapat

meconium, pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat janin

(denyut jantung janin <100 atau >180 kali per menit), ibu segera dirujuk ke fasilitas

kesehatan yang sesuai. Akan tetapi, jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu

6

Page 7: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

ke tempat yang memiliki asuhan kegawatdaruratan obstetric dan bayi baru lahir

(Keman K, 2010).

c. Molase

Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat

menyesuaikan diri dengan bagian kepas panggul ibu. Tulang kepala yang saling

menyusup atau tumpang tindih, menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang

panggul (Cephalo Pelvic Disproportion - CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan

benar-benar terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan.

Apabila ada dugaan disproporsi tulang panggul, penting sekali untuk tetap memantau

kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang

sesuai dan rujuk ibu dengan tanda-tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas

kesehatan yang memadai.

Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, bilai penyusupan kepala janin. Catat

temuan di kotak yang sesuai di bawah jalur air ketuban. Gunakan lambang-lambang

berikut;

0 : Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi.

1 : Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

2 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpah tindih, tapi masih dapat dipisahkan

3 : Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan

(Keman K, 2010)

3. Kemajuan persalinan

Kolom dan lajur kedua partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0 -

10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks. Tiap angka

mempunyai lajur dan kotak yang lain pada jalur diatasnya, menunjukkan penambahan

dilatasi sebesar 1 cm skala angka 1-5 juga menunjukkan seberapa jauh penurunan janin.

Tiap kotak di bagian ini menyatakan waktu 30 menit (Keman K, 2010).

a. Pembukaan Serviks

Nilai dan catat pembukaan serviks tiap 4 jam (lebih sering dilakukan jika ada tanda-

tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil

temuan setiap pemeriksaan. Tanda “X” harus ditulis di garis waktu yang sesuai

dengan jalur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan-temuan dari

pemeriksaan dalan yang dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis

waspada. Hubungkan tanda “X” dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh (Keman

K, 2010).

7

Page 8: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

b. Penurunan Bagian Terendah atau Presentasi Janin

Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada

tanda-tanda penylulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah atau presentasi janin.

Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks umumnya diikuti dengan

turunnya bagian terbawah atau presentasi janin. Namun, kadangkala, turunnya janin

diukur seberapa jauh dari tepi simfisis pubis. Dibagi menjadi 5 kategori dengan

symbol 5/5 sampai 0/5. Simbol 5/5 menyatakan bahwa bagian kepala janin belum

memasuki tepi atas simfisis pubis, sedangkan simbol 0/5 menyatakan bahwa bagian

kepala janin sudah tidak dapat dipalpasi di atas simfisis pubis. Kata-kata “turunnya

kepala” dan garis terputus dari 0-5, tertera di sisi yang sama dengan angka pembukaan

serviks. Berikan tanda (o) pada garis waktu yang sesuai. Sebagai contoh, jika kepala

bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda (o) di nomor 4. Hubungkan tanda (o) dari setiap

pemeriksaan dengan garis terputus (Keman K, 2010).

c. Garis Waspada dan Garis Bertindak

Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 dan berakhir pada titik dimana

pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1cm per jam. Pencatatan

selama fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks

mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam),

maka harus dipertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan,

misalnya; amniotomi, infus oksitosin atau persiapan rujukan (ke RS atau Puskesmas)

yang mampu menangani penyulit kegawatdaruratan obstetric. Garis bertindak tertera

sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 jalur ke sisi kanan, jika

pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka tindakan untuk

menyelesaikan persalinan harus dilakukan (Keman K, 2010).

4. Jam dan Waktu

a. Waktu Mulainya Fase Aktif persalinan

Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunannya) tertera kotak-

kotak diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya

fase aktif persalinan.

b. Waktu Aktual Saat Pemeriksaan Dilakukan

Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk

mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam

penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di

8

Page 9: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

atasnya atau lajur kontraksi di bawahnya. Kemudian catatkan waktu aktual

pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai (Keman K, 2010).

5. Kontraksi Uterus

Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima jalur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10

menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap

30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam

satuan detik.

Nyatakan jumlah kontaksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan mengisi angka pada

kotak yang sesuai. Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali

10 menit, maka lakukan pengisian pada 3 kotak kontraksi (Keman K, 2010).

6. Obat-Obatan Dan Cairan Yang Diberikan

Dibawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat

oksitosin, obat-obat lainnya dan cairan IV.

1. Oksitosin

Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah

unit oksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per

menit.

2. Obat-obatan lain dan cairan IV

Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang

sesuai dengan kolom waktunya (Keman K, 2010).

7. Kondisi Ibu

Bagian terbawah lajur dan kolom pada halaman depan partograf, terdapat kotak atau

ruang untuk mencatat kondisi kesehatan dan kenyamanan ibu selama persalinan.

a. Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh

Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah

ibu.

1. Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan (lebih sering

jika diduga adanya penyulit). Beri tanda titik (.) pada kolom waktu yang sesuai.

2. Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih

sering jika diduga adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom

waktu yang sesuai.

3. Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika teIjadi peningkatan

mendadak atau diduga adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh

pada kotak yang sesuai (Keman K, 2010).

9

Page 10: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

b. Volume urin, protein dan aseton

Ukur dan catat jumlahjproduksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu

berkernih). Jika memungkinkan, setiap kali ibu berkernih, lakukan pemeriksaan

aseton dan protein dalam urin (Keman K, 2010).

8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya

Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom

partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga

tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan

Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinis mencakup:

a. Jumlah cairan per oral yang diberikan

b. Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur

c. Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obsgin, bidan, dokter umum)

d. Persiapan sebelum melakukan rujukan

e. Upaya Rujukan (Keman K, 2010)

HALAMAN BELAKANG PARTOGRAF

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama

proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala

I hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai

Catatan Persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas

terutama selama persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah

terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik terutama pada pemantauan kala IV

(mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan). Selain itu, catatan persalinan (yang sudah

diisi dengan lengkap dan tepat) dapat pula digunakan untuk menilai/memantau sejauh mana

telah dilakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang dan bersih aman (Keman K, 2010).

10

Page 11: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

11

Page 12: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut:

a. Data dasar

b. Kala I

c. Kala II

d. Kala III

e. Bayi baru lahir

f. Kala IV (Keman K, 2010)

Cara Pengisian Lembar Belakang Partograf :

Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan, lembar

belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara pengisian

catatan persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci disampaikan menurut

unsur-unsurnya sebagai berikut;

1. Data dasar

Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat persalinan,

catatan, alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat merujuk. Isi data pada

masing-masing tempat yang telah disediakan, atau dengan cara memberi tanda pada kotak

di samping jawaban yang sesuai (Keman K, 2010).

2. Kala I

Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis waspada,

masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil penatalaksanaan tersebut

(Keman K, 2010).

3. Kala II

Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu,

masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya (Keman K, 2010).

4. Kala III

Kala III terdiri dari lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali,

pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit, laserasi, atonia

uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya, isi jawaban

pada tempat yang disediakan dan beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai

(Keman K, 2010).

5. Bayi baru lahir

12

Page 13: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat dan panjang badan, jenis kelamin,

penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan

terpilih dan hasilnya. Isi jawaban pada tempat yang disediakan serta beri tanda ada kotak

di samping jawaban yang sesuai (Keman K, 2010).

6. Kala IV

Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus,

kandung kemih dan perdarahan. Pemantauan pada kala IV ini sangat penting terutama

untuk menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pascapersalinan. Pengisian

pemantauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama setelah melahirkan,

dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya. Isi setiap kolom sesuai dengan hasil

pemeriksaan dan Jawab pertanyaan mengenai masalah kala IV pada tempat yang telah

disediakan (Keman K, 2010).

GRAVIDOGRAM

DEFINISI

Suatu rekam grafik (normogram) untuk menilai pertumbuhan janin secara klinis sederhana

untuk mengenali gangguan pertumbuhan janin intrauterine (Protap UNPAD, 2005).

Gravidogram ketika pertama kali diperkenalkan di Rumah Sakit Danderyds pada 1972 dapat

menurunkan kurang lebih 50% mortalitas antepartum, intrapartum, dan neonatal (Westin

Björn, 2011).

TUJUAN :

1. Dengan gravidogram kita dapat memantau pertumbuhan janin dengan mengukur tinggi

fundus uteri dari simfisis pubis (cm). Apakah tinggi fundus uteri tersebut sesuai dengan

umur kehamilan. Dengan demikian dapat membantu apakah janin tersebut mengalami

keterlambatan dalam pertumbuhan.

2. Dengan gravidogram kita dapat mengetahui status kesehatan ibu selama hamil. Dengan

melihat tensi apakah lebih dari normal (preeklamsi). Apakah gizinya cukup dengan

melihat petambahan berat badan.

3. Dengan gravidogram kita dapat mengetahui adanya kehamilan ganda (gemeli),

hidramion. Dimana tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan kehamilan.

4. Kesejahteraan janin dapat dipantau dengan hal yang disebut diatas dan dari bunyi jantung

janin.

13

Page 14: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

Program nasional menganjurkan penggunaan gravidogram untuk memberikan interpretasi

pertumbuhan janin dari pengukuran tinggi fundus uteri yang diukur dengan menggunakan

pita ukur standar. Dengan memantau grafik kehamilan (gravidogram) sesuai petunjuk yang

tertera di buku KIA maka dapat diketahui bila tinggi puncak rahim berada di luar garis hijau.

Bila hal itu terjadi, maka harus segera dirujuk ke dokter ahli terdekat untuk dilakukan

evaluasi lebih lanjut sehingga dapat mencegah lebih awal adanya kelainan akibat

pertumbuhan janin sebelum kehamilan 34 minggu (Sastrawinata US, 2009).

MANFAAT

1. Dengan pencatatan unsur-unsur dalam gravidogram ini, dapat dimonitor perkembangan

janin dalam kandungan, pertambahan berat badan apakah sesuai dengan standart rata-rata

atau kurang dari 10 persentil (bayi KMK), lebih 10 persentil (bayi BMK).

2. Untuk ibu, faktor-faktor fisik dan laboratorium bisa diperiksa sehingga dapat diketahui

bila ada faktor resiko atau perkembangan kehamilan kearah patologik.

PERSIAPAN :

Form status antenatal ibu yang memuat pemeriksaan :

a. Karakteristik pasien

b. Tinggi fundus uteri

c. Lingkaran perut

d. Presentasi janin

e. BJA (Bunyi Jantung Anak)

f. Pemeriksaan penunjang : laboratorium, USG, kardiotokograf

Penggunaan dan penilaian :

1. Identitas : Nama , alamat, No. CM, HPHT, TTP

2. Lembar gravidogram harus tersedia

3. Pengisian dilakukan setiap pasien datang untuk PNC

4. Hari pertama haid terakhir (HPHT) harus jelas

5. Pengukuran tinggi fundus uteri dilakukan setelah kandung kencing dikosongkan

Ukuran tinggi fundus uteri diukur dari pinggir atas simfisis sampai puncak fundus

uteri (dlm cm) (S-F)

6. Tekanan darah ibu

7. Berat badan ibu ditimbang dan dinilai apakah sesuai ;

14

Page 15: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

a. Trimester I kenaikan sekitar 1 kg

b. Trimester II kenaikan sekitar 5 kg

c. Trimester III kenaikan sekitar 5,5 kg

8. Lingkar Perut, diukur melalui pusat (dlm cm)

9. Letak anak ; sudah masuk PAP atau belum, PuKa/PuKi

10. Presenting part, bagian terendah anak kepala/bokong, lintang

11. Nilai ada tidaknya gangguan pertumbuhan janin secara klinis dengan melihat tinggi

(S-F) yang sesuai usia kehamilannya pada grafik.

Catatan : Bila Tinggi Fundus uteri tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, kemungkinan;

a. Apabila tinggi fundus uteri dibanding umur kehamilan < 10 persentil maka janin

KMK

b. Apabila tinggi fundus uteri dibanding umur kehamilan > 10 persentil maka janin

BMK

Harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diantaranya :

1. Tanya Ulang HPHT

2. USG (Protap Unpad, 2005)

15

Page 16: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

Belizan et al melaporkan bahwa meramalkan berat badan janin melalui pengukuran

tinggi fundus uteri mempunyai sensitifitas sampai 86% (untuk berat badan lebih kecil dari

normal) dan untuk berat badan normal spesifitasnya sampai 90%. Hal ini didukung Ogunranti

yang dalam penelitiannya menemukan bahwa pengukuran tinggi fundus uteri dalam

sentimeter yang dicantumkan dalam gravidogram dapat meramalkan kejadian bayi-bayi

‘small for date’ dan ‘large for date’. Quaranta et al, melakukan penelitian prediksi berat

badan lahir rendah dengan pengukuran jarak simfisis-fundus, didapatkan sensitifitas 17%

pada kehamilan 20-30 minggu (Sastrawinata US, 2009).

16

Page 17: Refrat Gravidogram Dan Partogram Dalam Memantau Kehamilan Dan Persalinan Risti

DAFTAR PUSTAKA

Biro Pusat Statistik. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Jakarta: Biro

Pusat Statistik; 2003

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) Indonesia Tahun 2007. Jakarta : Badan Litbang Kesehatan. 2008.

Fauveau V, de Bernis L. “Good obstetrics revisited”: Too many evidence-based practices and

devices are not used. Int J Gynecol Obstet 2006;94:179-84.

Keman Kusnarman. Partograf. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirhardjo. Jakarta. PT. Bina

Pustaka Sarwono Prawihardjo. 2010

Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi. 2005. Bandung: RSHS.

Rangkuti Z. Penilaian Penggunaan Partograf APN Oleh Bidan di Puskesmas PONED Kota

Medan. 2011

Sastrawinata US. Pengetahuan dan Sikap Bidan di Rumah Sakit Immanuel Mengenai

Gravidogram Menurut JICA. JKM. Vol.8 No.1. 2008: 52 – 58

Stalker, Peter. Laporan MDGs 2008 : Kita Suarakan MDGs Demi Pencapaiannya di

Indonesia. Jakarta : Bappenas. 2008.

Suzeta P H. Rancang bangun percepatan penurunan angka kematian ibu untuk mencapai

sasaran millennium development goals. Jakarta , mei 2007, 40 – 66.

Westin Björn. Gravidogram And Fetal Growth. Acta Obstetricia et Gynecologica

Scandinavica. Vol 56. 2011

17