Click here to load reader

Refereat Lensa Kontak Azul

  • View
    424

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Refereat Lensa Kontak Azul

BAB I PENDAHULUAN

Lensa kontak merupakan suatu alat yang digunakan untuk perbaikan masalah refraksi, kosmetik dan untuk tujuan terapeutik,sebagai media refraksi yang buatan pada permukaan anterior mata manusia.1 Lensa kontak telah berubah secara dramatis sejak konsep dasar yang pertama kalinya dideskripsikan oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16 dan oleh Ren Descartes pada abad ke-17. 1 Pada tahun 1888, Adolf Fick seorang ophthalmologist German, adalah yang pertama berhasil menyesuaikan lensa kontak yang terbuat dari kaca ditiup.Soft contact lens pertama kali diciptakan oleh seorang ahli kimia Czech, Otto Wichterle dan Drahoslav Lim yang menerbit penelitian berjudul Hydrophilic gels for biological use dalam jurnal Nature pada tahun 1959.Penelitian ini telah menjadi pemicu kepada penciptaan kontak lensa lunak yang pertama iaitu soft(hydrogel)lenses dibeberapa Negara pada tahun 1960.2,3 Pada tahun 2004, diperkirakan bahwa 125 juta orang (2%) menggunakan lensa kontak di seluruh dunia.2 Sekitar 35 juta orang di Amerika Syarikat memakai lensa kontak, iaitu 20% untuk tujuan koreksi refraksi.1 Lensa kontak digunakan untuk memperbaiki visual dan kegunaan kosmetik sebagai alternatif untuk kacamata.Sekitar 85% orang menggunakan lensa kontak karena

kenyamanan yang bagus. Lensa kontak mirip seperti kornea mata, lapisan luar yang transparan pada mata. Lensa kontak terbuat dari hidrofilik, plastik yang menyerap cairan.1

1

Banyak alasan mengapa orang orang beralih dari penggunaan kacamata ke penggunaan lensa kontak salah satunya lensa kotak mengikuti pergerakan bola mata dan tidak mengurangi lapangan pandangan mata.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Lensa kontak adalah lensa yang menempel pada mata atau selaput bening yang dipergunakan seseorang dengan gangguan penglihatan untuk memperbaiki

penglihatannya. Pada mata tidak dipergunakan kaca mata akan tetapi lensa yang diatur kelengkungannya sehingga dapat menempel pada selaput bening atau pada permukaan anterior mata manusia.1

1.0 Gambar Lensa Kontak Lunak

Fungsi Lensa Kontak Seperti yang disebutkan diatas lensa kontak berfungsi sebagai alat bantu penglihatan, selain itu lensa kontak jenis hard contact lens dapat membentuk ulang (reforming) kontur permukaan kornea. Reforming ini dapat mengatasi myopia ringan dan astigmatisme irregular yang disebabkan oleh kontur kornea yang tidak rata.

3

2.2 Epidemiologi Pada tahun 2004, diperkirakan bahwa 125 juta orang (2%) menggunakan lensa kontak di seluruh dunia.2 Sekitar 35 juta orang di Amerika Serikat memakai lensa kontak, iaitu 20% untuk tujuan koreksi refraksi.1 Penggunaan Lensa kontak lunak telah mencapai angka 100 persen di Negara seperti Australia, Canada, Denmark, Iceland, Lithuania, Norway, Romania, dan Taiwan.7 Berdasarkan Contact Lens Council. "Statistics on Contact Lens Wear in the U.S." 7 November 2004 64% wanita menggunakan lensa kontak lunak dan 70% wanita menggunakan lensa kontak rigid/kaku. Sedangkan pria 36% menggunakan lensa kontak lunak dan 30% menggunakan lensa kontak rigid/kaku. Tabel 2.2 Jumlah pengguna lensa kontak berdasarkan jenis kelamin Jenis Kelamin

Jenis lensa Kontak Lensa kontak lunak Lensa kontak kaku/rigid 64% 70%

Wanita

Pria

36% 30%

Pengguna lensa kontak lunak paling banyak berusia antara 18 dan 39 tahum. Sedangkan untuk lensa kontak kaku/rigid pengguna terbanyak antara usia lebiih dari 40 tahun.

4

Tabel 2.3 Jumlah pengguna lensa kontak berdasarkan usia Usia 17 tahun ke bawah Usia 18-25 Usia 26-39 Usia 40 tahun ke atas

Jenis lensa Kontak Pengguna lensa lunak Pengguna lensa kontak 3% 10% 26% 61% kontak 10% 23% 45% 22%

kaku/rigid

2.3 Klasifikasi Lensa Kontak

Dari segi repleacement-nya, lensa kontak dibagi ke dalam beberapa jenis, sesuai rekomendasi dari pabrikannya.

1. Disposable, alias bisa dibuang usai dipakai. 2. Frequent replacement. Harus diganti setiap 3-6 bulan. 3. Permanen. Dapat dipakai selama setahun atau lebih.

5

. Dari segi pemakaiannya, lensa kontak dibagi dua: - Daily wear (pemakaian siang hari dan tak bisa dipakai tidur). - Overnight wear (bisa dipakai saat tidur). Lensa kontak terdiri dari berbagai bentuk antara lain lensa kontak lembut, lensa kontak keras dan lensa kontak gas permeable. Lensa kontak lembut terbuat dari pada bahan yang lebih lembut. Lensa ini terbuat dari hidroksi etil meta krilat (HEMA), EDMA, PVP, bersifat sangat lentur yang memberikan lebih sedikit keluhan pada pemakaiannya karena mudah mengikuti bentuk permukaan kornea. Lensa kontak lembut dipakai untuk pengobatan seperti cedera mata akibat bahan kimia dan pada selaput bening yang cacat karena sifatnya yang lentur, mengandung banyak air, baik untuk astigmat irregular, edema kornea atau keratitis bulosa, erosi rekuren, trauma kimia, dan perforasi kecil kornea. Lensa kontak lembut dapat mengakibatkan penglihatan tidak sempurna seperti lensa kontak keras, ongkos yang lebih besar akibat penyimpanannya yang steril dan pada lensa lembut dapat tertimbun lemak 14 2.3.1 Jenis Soft contact lens Daily wear (DW) Lensa kontak ini digunakan pada hari siang dan dikeluarkan,dibersihkan dan didisinfeksi.Lensa kontak untuk jangka waktu yang lama iaitu Extended wear (EW) merupakan design lensa kontak untuk pemakaian siang dan malam selama 1 hingga 7 hari, merupakan waktu yang maximum pemakaian lensa kontak yang dipersetujui oleh FDA( Food and Drug Administration). Lensa kontak ini harus dikeluarkan,dibersihkan dan didisinfeksi selepas > 1 hari atau < 7 hari pemakaian. Pada tahun 2001, FDA telah mempersetujui lensa kontak yang diperbuat daripada silicon hidrogel untuk penggunaan berterusan selama 30 hari siang dan malam.1

6

Lensa kontak lunak yang DW dan EW diperbuat daripada material dasar yang sama dan mempunyai nilai permeabilitas oksigen yang sama (Dk). Walaupun nilai (Dk) adalah cukup untuk DW, tetapi ia adalah 1/3 daripada nilai yang diperlukan untuk EW. EW mengalami hipoksia dan hidrasi dan kebersihan yang kurang pada lensa kontak lunak semasa tidur akan meningkatkan resiko untuk infeksi dan reaksi inflamasi pada jaringan disebabkan oleh penggunaan lensa kontak untuk jangka waktu yang lama dan berterusan. Contohnya, terjadi, keratitis mikrobial adalah 10-15 kali lebih sering pada lensa EW daripada DW. 1

Disposable Contact Lenses Penggunaan lensa kontak lunak yang sekali pakai telah berkembang sejak dipasarkan pada tahun 1986. Bahan dasar pembuatannya adalah sama seperti DW dan EW lensa kontak lunak. 1

Colored Lenses Lensa kontak lunak mempunyai warna yang sedikit supaya visual dapat

dipertingkatkan.Lensa kontak lunak yang berwarna gelap adalah untuk tujuan kosmetik untuk orang yang mempunyai warna iris yang lembut dan opak untuk orang dengan iris yang gelap. Lensa kontak lunak seperti ini mempunyai area sentral sekitar 4mm untuk tujuan penglihatan dan area jelas pada annular periferal sekitar 1mm yang bertempat pada sclera.1

7

1.1 Gambar Lensa Kontak Berwarna

8

Lensa kontak keras terbuat dari bahan polimetilmetakrilat (PMMA) dengan bentuk yang disesuaikan kelengkungannya dengan permukaan selaput bening mata. Ukuran atau penampang lensa ini lebih kecil dari pada penampang selaput bening untuk memudahkan zat asam masuk ke dalam selaput bening yang ditutupnya. Lensa ini memenuhi seluruh syarat lensa kontak akan tetapi dengan daya tembus gas terutama oksigen yang buruk. Lensa kontak gas permeable terbuat dari akrilat dan silicon yang mempunyai daya serap gas terbaik 14

Tabel 2.1 Keuntungan dan kerugian dari masing-masing jenis lensa kontak Bentuk Lensa Lensa kontak keras Tajam Keuntungan penglihatan Kerugian yang Tidak dapat dipakai lebih dari 12 jam karena zat asam tidak dapat melaluinya

lebih baik dari pada lensa kontak lembut

Astigmat ringan akan dapat Pada pemulaan pemakaian hilang selaput akibat permukaan yang akan sangat terasa

bening ditutup

mengganggu merasa nyaman

melengkung

oleh Untuk

lensa kontak keras Lensa kontak keras bersifat netral dan

memerlukan waktu sampai beberapa minggu mengakibatkan

tidak Dapat alergi

menimbulkanreaksi terhadap jaringan mata Lensa kontak lembut Pemakainya akan

penurunan kerentanan selaput bening

dapat Astigmat atau silinder tidak dapat diimbangi lensa kontak9

menyesuaikan diri akibat

tidak begitu terasa pada permulaan pemakaiannya Lensa kontak lembut ada

lembut, karena ia mengikuti permukaan selaput bening yang lonjong

yang dapat dipergunakan Lensa kontak lembut akan lebiih dari 12 jam akibat lensa kontak lembut dapat dilalui zat asam emberikan penglihatan tidak setajam penglihatan dengan lensa kontak keras karena ia banyak mengandung air dan mudah dilalui zat asam Lensa kontak lembut mudah terinfeksi dan kotor sehingga perlu sering dibersihkan Pelarut lensa kontak lembut dapat merupakan bahan yang merangsang mata sehingga menimbulkan reaksi alergi Infeksi selaput bening bagi pemakai lensa kontak dapat berakibat kebutaan Lensa kontak lembut pakai lama(extended) memperbesar resiko infeksi Pseudomonas untuk timbulnya

pseudomonas. merupakan

kuman yang berbahaya dan10

dapat berkembang biak pada lensa kontak dan pelarut

Lensa kontak memiliki keuntungan bagi para pemakainya yaitu wajah terlihat wajah asli, kaca mata berat terhindar, lapang penglihatan akan lebih baik, dapat dipakai saat berolahraga kecuali renang, dan kaca mata akan berkabut bila terjadi perubahan suhu, dan hal ini tidak akan terjadi pada lensa kontak lembut 14.

2.4 Indikasi penggunaan lensa kontak Seseorang yang memakai lensa kontak sebaiknya seseorang yang sukar memakai kaca mata dan seseorang yang mendapat kesukaran dengan ukuran lensa kaca mata yang berbeda sehingga mengeluh pusing 14 Menurut Khurana (2007),indikasi-indikasi pengguna lensa kontak adalah sebagai berikut:5 1) Indikasi Optik meliputi anisometropia,unilateral afakia, myopia tinggi, keratokonus dan astigmatisma irregular. Secara optik boleh digunakan oleh semua patient yang mempunyai masalah refraksi untuk tujuan kosmetik.5,11 2) Indikasi terapeutik, yang meliputi:11,5 a) Penyakit pada kornea, contohnya ulkus kornea non-healing, keratopathi bullousa, keratitis filamentari, dan sindrom erosi kornea yang rekuren. b) Penyakit pada iris mata, contohnya aniridia, koloboma, albino untuk menghindari kesilauan cahaya. c) Pada pasien glukoma, lensa kontak digunakan sebagai alat pengantar obat. d) Pada pasien ambliopia, lensa kontak opak digunakan untuk oklusi. e) Bandage soft contact lenses digunakan untuk keratoplasti dan perforasi mikrokornea.

11

3)Sebagai verban lensa kontak lunak digunakan selepas operasi keratoplasti dan dalam perforasi mikrokorneal.5

4)Indikasi preventif, digunakan untuk prevensi simblefaron dan restorasi forniks pada penderita luka bakar akibat zat kimia, keratitis, dan trichiasis.

5)Indikasi diagnostik, termasuk selama menggunakan gonioskopi, elektroretinografi, pemeriksaan fundus pada astigmatisma irreguler, fundus fotografi, dan pemeriksaan goldmanns 3 bayangan.

6)Indikasi operasi, lensa kontak digunakan selama operasi goniotomi untuk glukoma kongenital, vitrektomi, fotokoagulasi endokular.

7)Indikasi kosmetik, termasuk skar pada kornea mata yang menyilaukan mata (lensa kontak warna), ptosis( lensa kontak haptic), lensa sklera kosmetik pada phthisis bulbi.

8)Indikasi occupational, termasuk olahragawan, pilot, dan aktor5

2.5 Kontra Indikasi Seseorang yang tidak dianjurkan memakai lensa kontak yaitu lansia dimana gerakan sudah kaku, pada mata yang meradang, masih belum dewasa dan ingin mengerjakan sesuatu dengan tergesa-gesa, seseorang yang mempunyai kebiasaan menggosok mata, seseorang yang tidak mengerti artinya steril, seseorang yang memiliki reumatik pada tangan karena akan sulit saat memakai lensa kontak dan seseorang dengan bakat alergi 14

12

Penggunaan lensa kontak dikontraindikasikan pada orang yang memiliki gangguan mental dan tidak ada gairah hidup, blepharitis kronik dan styes rekuren, konjungtivitis kronis, dryeye syndrome, distrofi dan degenarasi kornea mata, penyakit yang rekuren seperti episkleritis, skleritis, dan iridocyclitis.5

2.6 Keunggulan lensa kontak Keunggulan lensa kontak daripada kacamata: i. Kornea yang irregular pada astigmatisma yang tidak boleh dikoreksi dengan kacamata boleh dikoreksi dengan lensa kontak. ii. iii. Lensa kontak memberi lapangan pandang yang normal. Penyimpangan terkait dengan kacamata (seperti penyimpangan perifer dan distorsi prismatik) dapat dihilangkan. iv. Kosmetik: Lebih cenderung pada wanita karena tujuan kosmetik supaya tidak perlu memakai kacamata tebal dengan index fraksi yang tinggi.5

2.7 Teknik Penggunaan Lensa Kontak Yang Aman Rekomendasi bagi para pengguna lensa kontak terkait hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan di hindari agar pemakaiannya menjadi bersih dan aman dari American Optometric Association antara lain: 13 a) Temui dokter ahli mata untuk mendapatkan lensa kontak yang sesuai dan layak. b) Selalu cuci tangan sebelum menyentuh lensa kontak. c) Bersihkan lensa kontak secara rutin. Usap lensa kontak dengan jari dan bilas dengan cairan pembersih sebelum menyimpan lensa kontak dalam wadah yang sudah diisi cairan pembersih.

13

d) Simpan wadah lensa kontak di tempat yang lembab dan terlindung dari sengatan sinar matahari langsung. Ganti wadah penyimpan setiap tiga bulan sekali. e) Untuk menyimpan lensa kontak, gunakan cairan yang masih baru. Jangan menggunakan cairan yang sudah dipakai walaupun masih terlihat bening. Cairan pembersih dan penyimpan lensa kontak harus diganti setiap hari meskipun lensa kontaknya sendiri tidak dipakai setiap hari. f) Selalu patuhi jadwal penggantian lensa kontak sesuai resep dokter. g) Lepaskan lensa kontak sebelum berenang atau berendam air panas h) Lepaskan lensa kontak pada saat tidur dimalam hari, untuk menjamin tersedianya oksigen yang cukup bagi kornea mata. i) Jangan langsung melepas lensa kontak jika tanpa sengaja tertidur dengan masih memakai lensa kontak, karena dapat melukai permukaan kornea mata. Basahilah mata terlebih dahulu dengan tetes mata khusus (lubricant), kedip-kedipkan mata, kemudian lepas lensa kontak. j) Jangan melebihi waktu peace making yang telah ditentukan oleh ahli lensa kontak.

k) Untuk keadaan darurat, bawalah selalu kacamata pada saat bepergian, jika harus melepaskan lensa kontak. l) Segera hentikan pemakaian lensa kontak jika mengalami gejala iritasi pada mata, dan berkonsultasilah ke dokter mata atau ahli lensa kontak. m) Temui dokter mata secara rutin untuk melakukan pemeriksaan ulang.

Lensa Kontak harus selalu dalam keadaan bersih untuk mencegah terjadinya komplikasi pada mata. Yang paling umum terjadi pada lensa kontak adalah terjadinya deposit protein dan lipid. Sel-sel mati pada permukaan mata kita, bercampur dengan kotoran mata, debu, polusi udara, keringat atau pun make up mata, dapat menempel pada lensa kontak. Jika kotoran ini

14

tidak dapat dibersihkan dengan sempurna, maka akan mengurangi kenyamanan pemakaian lensa kontak, tajam penglihatan maupun lama waktu pemakaian. Lensa kontak yang kotor juga dapat menyebabkan infeksi pada mata.12,16

Ketika memakai atau membersihkan kontak: 1)Jangan pernah menaruh lensa kontak dalam mulut atau membasahi mereka dengan air liur, yang penuh dengan bakteri dan potensi sumber infeksi. 2)Jangan menggunakan air keran atau larutan saline buatan sendiri. Penyalahgunaan solusi telah dikaitkan dengan suatu kondisi yang berpotensi menyilaukan di antara pemakai soft lens. 3)Jangan gunakan kontak yang tidak diresepkan oleh seorang dokter mata. Memakai lensa kontak bukan merupakan pilihan bagi semua orang; berkonsultasi dengan dokter mata untuk melihat apakah lensa kontak adalah pilihan yang tepat untuk koreksi penglihatan. 4)Simpanlah lensa kontak dalam tempat lensa kontak dalam larutan perendam. 5)Buanglah larutan yang merendam lensa kontak setiap kali digunakan. 6)Gunakan larutan perendam yang baru dituang dari botol setiap kali merendam lensa kontak. Larutan perendam yang tidak dibuang dan dipakai berulang kali, merupakan media sangat potensial untuk tumbuhnya bakteri, hal ini dapat menyebabkan infeksi pada mata. 7)Cucilah tempat lensa kontak dengan air panas dan biarkan kering dengan menaruhnya terbalik di atas handuk/ tissue. 8)Untuk menjamin kebersihan, gantilah tempat lensa kontak Anda setiap 2 bulan sekali dengan yang baru.

15

2.8 Cara Pengunaan Soft Contact Lens Dalam pasaran hari ini, terdapat berbagai solusio lensa kontak. Pada awalnya, diperkenalkan dua jenis solusio, iaitu satu untuk Wetting untuk promosi air mata pada permukaan PMMA dan yang lain adalah Soaking untuk setoran lensa kontak dalam bekasnya. Tetapi penelitian yang lebih mendalam telah berhasil menciptakan solusio lensa kontak seharian yang mempunyai aksi dual atau triple atau dikenal sebagai solusio multipurpose untuk menyenangkan penggunaan solusio lensa kontak.6 Alasan untuk menggunakan solusio lensa kontak adalah untuk: Untuk mempertahankan karakteristik optik dan fisika lensa kontak(cth; solusio setoran untuk lensa hidrogel. Untuk mengurangkan resiko infeksi(cth; penyetoran lensa kontak semalaman dalam solusio yang mendisinfeksikan lensa kontak) Solusio lensa kontak seharusnya: Steril Tidak berwarna Non-toksik atau iritasi pada mata

16

1.2 Gambar Pemakaian Lensa Kontak Lunak

2.9 PERAWATAN RUTIN HARIAN LENSA KONTAK LUNAK Mencuci tangan dengan bersih dan lap dengan doek yang bersih Mengeluarkan lensa kontak lunak dari bekasnya Memakai lensa kontak lunak pada mata Sebelum mengeluarkan lensa kontak lunak, seharunya cuci tangan dengan bersih dan keringkan Jika tidak, maka solusio pembersih surfaktan atau solusio multipurpose digunakan, dan lensa digesek diantara kedua jari secara perlahan-lahan untuk mengeluarkan debris. Bilas lensa dengan larutan steril dan periksa lensa kontaknya. Jika lensa tidak bersih dan masih ada debris ulangi langkah diatas. Kemudian tempatkan lensa kontak dalam bekas yang mengandung solusio lensa kontak yang boleh mendisinfeksikannya.6

17

1.3 Gambar Tempat Letak Lensa Kontak Lunak

2.10 Dampak negatif pemakaian lensa kontak

Seperti yang telah kita ketahui lensa kontak tebuat dari bahan plastik yang mengandung air penggunaan lensa kontak dalam waktu lama akan menyebabkan mata perih kerana lensa kontak akan menyerap air yang ada di permukaan mata. Hipoksia atau bisa diilustrasikan sebagai keadaan berkurangnya pasokan oksigen ke tubuh merupakan hal yang mendasar di alami saat memakai lensa kontak. Indikasi utamanya adalah menurunnya kemampuan penglihatan pada saat-saat tertentu, mata merah, sensasi rasa panas dan perih. Hal ini bisa terjadi karena :12,16

Oksigen yang harusnya dapat masuk langsung ke mata di halangi oleh alat bantu berupa lensa kontak

Lensa kontak adalah bahan semipermiabel dimana akan menyerap cairan disekitarnya untuk menjaga keseimbangan tingkat kebasahan/kelembaban lensa kontak. Sehingga air mata yang seyogyanya dibutuhkan oleh organ mata bagian luar akan berkurang secara kuantitas dan kualitas dikarenakan terserap oleh lensa kontak

18

Deposit atau endapan yang hinggap di lensa kontak akan menyebabkan deformasi atau perubahan bentuk fisik sehingga diperkirakan zona penutupan area dan tekanan yang diberikan pada organ mata akan bertambah. Tidak jarang beberapa pengguna akan mengalami kondisi mata kering dan saat dilepaskan rasanya sakit atau bahkan menimbulkan bunyi.

Penggunaan lensa kontak setiap hari dan kurang hati hati bisa mengakibatkan corneal Ulcers yaitu suatu keadaan terdapatnya luka pada korena mata. Apabila hal ini terus dibiarkan akan menyebabkan kebutaan.

2.11 Komplikasi Bentuk- Bentuk Risiko Gangguan Kesehatan Mata Akibat Lensa Kontak Resiko gangguan kesehatan mata akibat penggunaan lensa kontak memiliki arti adanya kelemahan prediksi tentang kejadian gangguan mata, dikarenakan konsekuensi situasi perencanaan dalam menggunakan dan merawat lensa kontak yang tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku. Resiko dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu internal risk dan external risk . Internal risk merupakan resiko yang berasal dari dalam misalnya pengetahuan dan motivasi seseorang terkait penggunaan dan perawatan lensa kontak. Sedangkan external risk berasal dari faktor luar misalnya fasilitas informasi tentang lensa kontak dan kondisi social budaya dari pengguna lensa kontak.

19

Berikut komplikasi berdasarkan anatomi mata: a.Kelopak mata 1)Ptosis ini timbul akibat adanya massa pada lensa, skar, jaringan fibrosa di kelopak mata. Lensa kontak yang menempel pada kornea mata juga akan membentuk skar dan kontraksi pada jaringan kelopak mata yang mengakibatkan retraksi pada kelopak mata. Ptosis juga dapat timbul akibat dari giant papillary conjunctivitis yang berat. 2)Alergi kontak merupakan reaksi hipersensitivitas dermatitis kontak akibat dari zat-zat kimia host yang didapati dari larutan lensa kontak. Manifestasi klinisnya adalah rasa gatal yang diikuti dengan adanya injeksi, rasa terbakar, merah, berair, secret mukoid, dan chemosis. Sebagai tambahan kelopak mata bisa edema dan eritema. 3)Giant papilae pada palpebra Untuk lensa RGP, Giant papilae conjunctivitis mudah berpindah dari kornea ke forniks atas. Jika tidak dapat dideteksi, maka lensa akan mengikis forniks melewati konjungtiva dan membawanya ke dalam jaringan yang lembut di kelopak mata, dan akan menimbulkan gejala yang relatif asimptomatik. Akibatnya, jaringan yang disekitar lensa kontak akan mengalami iritasi dan inflamasi, dan menimbulkan abses yang steril. Lensa yang dianggap sebagai benda asing akan terbentuk jaringan granulasi disekitar lensa, dan membungkusnya seperti bentuk kista. Apabila terdapat giant papillae pada palpebra superior,maka akan terjadi gejala seperti rasa gatal dan pengeluaran sekret mukoid.

20

b.Konjungtiva 1) Giant papillary conjunctivitis (GPC) rata-rata 1-3% pengguna lensa kontak akan mendapatkan simptom GPC yang kompleks, terdiri dari injeksi konjungtiva, sekret mukoid, gatal, debris pada tear film, lapisan lensa, pandangan kabur, dan pergerakan lensa yang berlebihan. GPC adalah komplikasi yang tersering timbul akibat penggunaan soft lens. Ini timbul akibat salah satu dari 3 faktor yaitu peningkatan frekuensi pemakaian lensa, penurunan lama pemakaian lensa kontak, perubahan larutan pembersih yang kuat. Pengguna harus mengurangkan jangka waktu pemakaian dan mengunakan Mast-Cell Stabilizer (cth, natrium kromolin 4x/hari).8 2)Contact lens-induced superior limbic keratoconjunctivits (CL-ISLK) merupakan suatu reaksi imun pada konjungtiva perifer. Manifestasi klinisnya adalah penebalan konjungtiva, eritema, dan timbul berbagai warna pada konjungtiva bulbaris superior. Sel epitelium keratinisasi akan berisi banyak sel-sel goblet yang diinvasi oleh neutrofil. Akibatnya akan terasa seperti ada benda asing, fotofobia, berair, rasa terbakar, gatal, dan penurunan akuitas visual. c)Epitelium kornea 1)Kerusakan epitel yang mekanik. Lensa kontak merupakan banda asing yang akan menggosok kornea dan menekan epitel kornea setiap mengedipkan mata sepanjang hari dan menimbulkan abrasi kornea. Jika tidak dikenali dan diobati akan mengakibatkan stres pada epitel yang kronis. Kerusakan epitel akan

21

memudahkan bakteri menempel pada kornea dan mengakibatkan infeksi stroma, serta menstimulus sub-epitel fibrosa tanpa adanya infeksi. 2)Chemical epithelial defect. Berbagai larutan kimia lensa kontak akan menimbulkan kerusakan epitel ditandai dengan adanya erosi. Larutan pembersih surfaktan biasanya akan menyebabkan nyeri, merah, fotopobia, dan berair, segera setelah dibersihkannya lensa. Gejala ini akan hilang dalam 1-2 hari. Jika hidroksi peroksida diteteskan ke mata, maka akan timbul gelembung-gelembung gas pada intra-epitel dan sub-epitel. Gelembung ini terlihat dan menyebabkan hilangnya penglihatan secara signifikan yang bersifat temporer, dan hidroksi peroksida juga menyebabkan perubahan refraksi permanen dan larutan desinfeksi kimia dapat merusak epitel yang tidak terlihat dan bersifat intermiten. 3)Hypoxia. Kebutuhan oksigen di kornea mata dipengaruhi karena lapisan lensa kontak mengurangi jumlah oksigen yang masuk. Hipoksia yang ringan mengakibatkan edema epitel dan penglihatan kabur yang temporer, sedangkan hipoksia berat akan terjadi kematian sel-sel epitel dan deskuamasi. Pengguna tidak merasa nyaman, penurunan penglihatan temporer, dan fotopobia. Salah satu tanda hipoksia kornea kronis adalah adanya neovaskularisasi superfisial terutama sepanjang limbus superior. Epitel kornea yang lebih tipis dibandingkan lensa kontak menyebabkan hipoksia yang kronis dan menurunkan aktivitas mitosis. Pembentukan sel-sel epitel menurun, ukurannya membesar, dan memudahkan menempelnya Pseudomonas aeruginosa pada permukaan sel epitel.11,12,16

22

4)Reaksi imun superfisial. Variasi larutan lensa kontak dapat menimbulkan toksik superfisial atau reaksi imun. Ditandai dengan adanya keratophati, injeksi konjungtiva, berair, gatal, dan chemosis. d)Stroma kornea 1)Infiltrat steril./keratitis steril Penggunaan lensa kontak akan menginduksi terjadinya keratitis steril, dengan onset adanya multipel infiltrat stromal yang kecil pada stroma anterior atau leukosit polimorfonuklear di sub-epitel dan sel mononuklear di perifer kornea secara tiba-tiba. Berdiameter 0,1-2 mm, tunggal atau berkelompok, dengan bentuk bulat, oval, dan menempel pada sel epitel yang menyebabkan kerusakan epitel. yang biasanya nonstaining Infiltrat ini berdifferensiasi dari keratitis mikrobial. Manifestasi klinisnya adalah nyeri ringan, inflamasi pada anterior chamber yang minim, kerusakan epitel, kemudian terbentuk ulkus. Pemakai lensa kontak harus

mempertimbangkan untuk berhenti memakai lensa kontak untuk sementara (jika berat) atau mengurangkan pemakaian (jika sederhana).8

2.Infeksi kornea (keratitis). Disebabkan oleh bakteri, jamur, protozoa (acanthamoeba keratitis). Infeksi bakteri biasanya timbul di kelopak mata dan kelenjar air mata. Penggunaan lensa kontak mengganggu pertukaran air mata, sehingga air mata terkumpul di kornea mata. Selain itu, ketebalan epitel menurun, pergantian sel menurun dan terjadi deskuamasi, sehingga meningkatkan risiko infeksi bakteri pada sel epitel. Gejala awal tidak begitu kelihatan, tetapi gejala yang mungkin ada seperti berair dan sedikit sulit mengedipkan mata. Bakteri yang sering menimbulkan infeksi kornea mata adalah P. aeruginosa, Staphylococcus

23

aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Infeksi ini biasanya berasal dari larutan lensa kontak yang terkontaminasi. Infeksi bakteri yang akut biasanya terjadi dalam waktu 24 jam dengan simptom nyeri, fotopobia, berair, sekret purulen, dan penurunan penglihatan. Awalnya infiltrat stroma berwarna putih kekuningan yang berkembang di bawah sel epitel yang rusak diikuti adanya reaksi di anterior chamber dan injeksi konjungtiva. Setelah itu, berkembang menjadi edema epitel kemudian menjadi nekrosis. Dilaporkan di United State dan Netherland, bahwa infeksi kornea mata memiliki risiko yang paling sering ditimbulkan akibat penggunaan lensa kontak dalam 2 dekade terakhir ini.

Acanthamoeba keratitis merupakan infeksi yang sulit untuk diterapi. Sumber infeksi ini berasal dari larutan lensa kontak, dimana tempat larutan tersebut telah terkontaminasi oleh acanthamoeba. Manifestasi klinis awal yang timbul adalah adanya sensasi benda asing, penglihatan kabur yang ringan, dan merah. Kemudian diikuti rasa nyeri yang progresif, injeksi konjungtiva, epitelnya kasar, dan pada pemeriksaan dengan senter terlihat adanya penebalan saraf-saraf kornea mata. Infeksi ini bersifat progresif, berat, dan bentuk infiltratnya seperti cincin di sentral. Keratitis Acanthamoeba awalnya merupakan masalah yang terkait dengan lensa kontak dapat digunakan kembali re-usable dibersihkan dengan prosedur desinfeksi yang tidak benar . Protozoa yang bebas dijumpai dalam air kran atau kolam renang. Protozoa ini hidup dengan mencernakan nakteria lain yang terdapat dalam bentuk trofozoit dan kista dorman yang akan menjadi resistan terhadap bahan kimia yang akan menyebabkan keratitis akantamoeba pada mata.9,10

24

3)Mata merah akut (tight lens syndrome). Terjadi apabila lensa kontak menjadi ketat, dan non-mobil dan diikuti dengan edema kornea dan reaksi kornea. Lensa kontak harus dikeluarkan dengan topical sikloplegik jika terjadi reaksi kornea yang berat, dan mengantikan lensa dengan flatter lens apabila pasien telah sembuh.8

Lensa kontak dapat menebalkan mata dan sebagai tanda adanya inflamasi stroma difus dan reaksi pada anterior chamber. Manifestasi klinisnya adalah rasa nyeri, fotopobia, injeksi, dan berair baik akut maupun kronik. 4)Kikisan kornea mata (corneal warpage). Selama menggunakan lensa kontak akan terjadi perubahan kontur kornea. Corneal warpage menyebabkan astigmatisma irreguler, dan ini dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata. 5)Contact lens-induced keratoconus. Hubungan antara keratokonus dengan lensa kontak masih kontroversi. Persentasi yang tinggi (20-30%) penderita keratokonus didiagnosis akibat dari penggunaan lensa kontak, tetapi bagaimanapun tidak ada penyebab yang berhubungan langsung dengan penyakit tersebut. e)Endotel kornea mata Penggunaan lensa kontak juga berhubungan dengan endotel kornea mata. Pengguna memiliki variasi ukuran sel endotel (polymegethism) dan peningkatan frekuensi sel non-heksagonal (polymorphism) lebih tinggi daripada yang menggunakan lensa kontak 17.

25

f).Komplikasi lain 1) Toxic keratopathy Terjadi erosi punctum epithelial yang diffus bersamaan dengan infiltrate subepithelial,disebabkan oleh tercemarnya mata dengan enzim atau disinfektan.8 2) Preservative keratopathy Pencemaran mata dengan pengawet (cth,thiomersal) boleh menyebabkan terjadinya erosi pada epithelial punctum dan infiltrate subepithelial.7 3) Tear film disturbance Respons kelip mata yang jelek atau lensa yang tidak akurat menyebabkan staining pada puntate pada arah jam 3 dan 9 bersamaan dengan hyperemia intrapalpebra. Pasien harus menggunakan air mata buatan untuk penyembuhan.8

2.12 Faktor resiko terjadinya komplikasi Dapat disimpulkan dari penjabaran faktor resiko gangguan mata diatas, jika dikaitkan dengan penggunaan dan perawatan lensa kontak, maka dapat diringkas sebagai berikut: 1)Pengetahuan Pengetahuan mengenai perawatan lensa kontak akan membentuk perilaku seseorang dalam menggunakan dan merawat lensa kontak yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mata. 2)Motivasi Motivasi menjadi hal penting untuk menghasilkan keinginan pada diri seseorang yang mempengaruhi perilaku dalam merawat lensa kontak. Motivasi dapat mendukung seseorang

26

untuk melakukan perawatan lensa kontak sesuai prosedur. Motivasi juga mempengaruhi seseorang untuk selalu menjaga kesehatan mata. 2.13 CONTACT LENS FITTING TEST 18 Berikut akan dijabarkan prinsip prinsip dalam pengukuran ukuran lensa kontak atau yang dikenal dengan nama contact lens fitting test. 2.13.1 Prnsip Fitting lensa kontak Pilih lensa kontak yang paling kecil diameternya dan paling tipis karena ini dapat meminimalkan rangsangan alergi dan dapat meningkatkan transmisi oksigen(terutama pada lensa RGP-Rigid gas permeable) Jika pasien Hipermetropi maka dipilih lensa yang diameternya kecil dan yang paling fit stepper(yang paling jauh) karena kornea nya kecil Jika pasien Miopia maka dipilih lensa yang diameternya besar dan paling Fit flatter(paling dekat) karena korneanya lebih besar atau sumbu lebih panjang Berikut urutan atau tahapan prosedur contact lens fitting test:

2.13.2 Fittion keratometrry (FIT ON K) &Mengukur Base curvature Contoh: Hasil dari Keratometry reading (K reading) adalah: 42.00 D x 44.00 D( jika yang dipakai adalah satuan dioptri) maka BC lensa kontaknya menjadi: 42.00 D( 8.03 mm) diambil ukuran yang paling dekat atau angka yang paling kecil yaitu 42.00 D,begitulah cara mengukur BC Nilai diambil dari nilai pengukuran Base curvature(BC) dari hasil keratometry yang paling flat(dekat)

27

2.13.3 Fittimg steeper /Flatter than K Fitting steeper than K adalah dimana BC dari lensa kontak poserior radiusnya paling jauh dari permukaaan korna Contoh: Bila dipilih fit steeper than K maka hasil BC dari contoh pertama diatas menjadi: 42.00 D + 1.00 D= 43.00 D( 7.84 mm) Ini digunakan pada pasien Hipermetrop

Sedangkan Fit Flatter Thank K apabila BC lensa kontak posterior radiusnya paling dekat ke permukaan kornea Contoh: dari hasil BC dar i contoh pertama diatas menjadi: 42.00 D-1.00 D= 41.00 D (8.23 mm) Ini digunakan pada pasien miopi

Khusus soft lens atau lensa kontak lunak hanya dipakai yang fit flatter than K ,karena kebanyakn soft lens digunakan untuk pendrita miopia

Khusus untuk lensa RGP dipakai fit steeper than K pada astigmat dan hipermetropi

2.13.4 Prosedur fitting lensa kontak Seleksi pasien dari mulai indikasi pasien ,kontra ondikasi,pemerikssaan mata dan riwayat penyakit dahulu pasien Seleksi lensa dengan mengukur BC,ukuran dioptri,dan diameter lensa Mengukur parameter lain yaitu ketebalan lensa (center thickness),kurvatura lensa(sekunder dan perifer),Opticzone,Nilai Dk dan Back optic zone radius(BOZR)

28

2.13.5 Prosedur Keratometry Sblumnya sudah dibahas bahwa prinsip penentuan BC dari keratometry adalah diplih yang paling flat,tetapi berikut penjelassan detail tentang meridian utama korne: Ada dua meridian utama kornea yaitu K &k 1. K(flat K) adalah meridian utama kornea dengan kelengkapanya yang paling flat,paing dekat diman radiusnya paling panjang atau besar 2. k (steep) adalah meridian utama kornea yang paling steep,yang paling jauhmyang paling kecil dan paling pendek radiusnya Bila lensa kontak ukuranya FIT ON K mak BC nya adalah sama dengan Flattes K reading Bila lensa kontaknya Fit stepper than K maka BC nya adalah lebih kecil dari Flattes K BiLa lensa kontaknya Ft flatter thank K maka BC nya lebih kecil daripada Flattes K Hasil keratometri dapat menentukan Berapa astigmat kornea/cilindris dengan cara: K-k (lihat tabel 1)

Besar astigmat kornea 0.1 mm atau lebih kecil 0.1 mm atau 0.15 mm

Besar BC BC= flat K BC = 0.05 mm Iebih steep daripada flat K

0.20 - 0.35 mm

BC = 0.10 mm lebih steep dari flat K

29

0.35 - 0.45 mm

BC = 0.15 mm Iebih steep daripada flat K

0.45 - 0.50 mm

BC = 0.20 mm Iebih steep daripada flat K

Contoh: Bila hasil keratometri dalam mm maka: Misal: 7.84 (K) /7.62 (k) @90 Maka bila Flat K berati BC menjadi 7.84.untuk astigmatnya 7.84-7.62( K-k) Sehingga 7.74 mm Ketika dicocokkan dengan lensa kontak yang dicoba ke pasien( trial lens contact lens) didapatkan ukuranya yaitu BC = 7.7 mm sehingga ini berati BC nya adalah FIT ON K(BC sama dengan flattes K reading)

Jika hasil Keratometri didapatkan dalam dioptri maka BC ditentukan dengan cara: Pilih diameter lensa kontak,pastikan optic zone menutupi pupil.contoh: o Diameter 9.2 mm pada hasil keratometri didaptkan 42.75 D/45.00 D @90 o Dari Flat K didaptkan 42.75(7.9 mm) o Untuk astigmat konea menjadi: 45-42.75 = 2.25 D o Berdasarkan tabel 2

30

astigmat 0.0-0.5 D 0.75-1.25 1.5-2.00 2.25-2.75 3.00-3.5

Diameter 9.2 0.50 D flatter 0.25 D flatter Flat k 0.25 D stepper 0.5 D stepper

Untuk astigmat kornea bila 2.25 D maka BC mya adalah 0.25 Dstepper than K(dari tabel) sehingga BC nya adalah : 42.75 +0.25 D= 43.00 D (pada stepper ditambah)

2.13.6 Menetukan power/dioptri lensa Ada dua cara yaitu dengan menggunakan refraksi kacamata dan over refraksi Jika ditemukan silinder maka silinder di drop Contoh: Hasil refraksi adalah S:-2.00 C.150x1806 maka power lensa adalah S. -2.00 D Jika over refraksi maka pasien akan memakai lensa coba kemudian dialukan perbaikan refraksi hingga mencapai hasil terbaik Jika pada over refraksi,maka diperlukan tambahan,contoh: S: -4.00 D dan dipakai lensa coba S-6.00 D Maka total lensanya adalah -400 + -6.00 = -10 .00 D

2.13.7 Mengitung kompensasi BC dengan Power Jika FIT ON K maka tak perlu konversi ke power karena menurut tabel dan rumus adalah sama BC nya

31

Jika fit steppert than K maka harus tambah power yang dimaksud disisni adalah ditambah dengan prinnsip SAM(Stepper add min) yaitu harus ditambah 0.25 D

Contoh: Jika didaptkan power lensa s: -3.00 D maka BC nya sesuai ketentuan diambil yang Flat K misal 41.5 D/42.00 D Maka jika fit stepper than K itu bila 42.00 D maka kompensasinya adalah: 42.00 D-41.50 D =0.50 D Brarti penambahan powernya adalah 2x0.25 D= 0.50 D Sehingga power lensa kacamatanya jika mau dikonversikan ke lensa kontak harus menjadi: S -3.00 + 0.5 D= 3.5 D

Bila fit flatter than K ,maka power lensa dikurang 0.25 D

Contoh; power lensa S-3.00 D BC flat K = 41.5 D/41.00 D Kompensasinya: 41.5-41.00 = 0.50 D Berarti penambahan powernya menjadi 2x0.25 D= 0.50 D Sehingga power lensanya S -3.00 - 0.5 D =2.5 D

32

BAB III KESIMPULAN

contact lens digunakan untuk memperbaiki visual dan kegunaan kosmetik sebagai alternatif untuk kacamata.Sekitar 85% menggunakan contact lens karena kenyamanan yang baik. Lensa kontak mirip seperti kornea, lapisan luar yang transparan pada mata. Lensa lunak terbuat dari hidrofilik,plastik yang menyerap cairan.Jika bahan-bahan ini menyerap air, lensa akan menjadi kenyal dan lembut. Kadar air dapat bervariasi dari 37% menjadi 80%.3

Pengunaan utama lensa kontak adalah untuk koreksi myopia, tetapi lensa kontak juga dapat digunakan untuk koreksi hiperopia,astigmatism,presbiopia, dan afakia.1 Lensa kontak dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Lensa kontak dapat dibagi berdasarkan materi, fungsi,jadwal pemakaian (berapa lama lensa dapat dipakai sebelum mengeluarkannya), dan jadwal penggantian (berapa lama sebelum lensa perlu dibuang) yaitu Daily wear(DW),Extended Wear(EW) dan Disposable lens.2 Lensa kontak lunak yang DW dan EW dibuat dari material dasar yang sama dan mempunyai nilai permeabilitas oksigen yang sama (Dk). Nilai (Dk) untuk DW adalah 1/3 daripada nilai yang diperlukan untuk EW.1 Pada awalnya, diperkenalkan dua jenis solusio, yaitu Wetting untuk meningkatkan air mata pada permukaan PMMA dan Soaking untuk tempat penyimpanan lensa kontak lunak. Saat ini, penelitian yang lebih mendalam telah tercipta solusio lensa kontak yang dapat digunakan sebagai multifungsi dikenal sebagai multipurpose solution untuk mempermudah penggunaan solusio lensa kontak lunak.6

33

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Yanuff & Duker.2004. Ophthalmology 3rd edition, MOSBY Elsevier, pg 71-72 2004 Annual Report, Contact Lens Spectrum's annual report of major corporate and product developments and events in the contact lens industry in 2004, as well as predictions for 2005 By Joseph T. Barr, OD, MS, FAAO, on 22

http://www.clspectrum.com/articleviewer.aspx?articleid=12733 december 2012] 3.

[Accessed

The Effect of Octylglucoside and SodiumCholate in Staphylococcus epidermidis and Pseudomonas aeruginosa Adhesion to Soft Contact Lenses, LVIA SANTOS, MSc, DIANA RODRIGUES, BSc, MADALENA LIRA, MSc,ROSARIO OLIVEIRA, PhD, M. ELISABETE C. D. REAL OLIVEIRA, PhD,EVA YEBRA-PIMENTEL VILAR, PhD, and JOANA AZEREDO, PhD, http://repositorium.sdum.uminho.pt/bitstream/1822/6663/1/Santos_OVS%5B1%5D.pdf [Accessed on 22th december 2012] pg 1-6

4.

University of Illinois College of Medicine at Chicago,Department of Ophthalmology and Visual Sciences, Soft Contact Lenses,

http://www.uic.edu/com/eye/LearningAboutVision/EyeFacts/SoftContactLenses.shtml [Accessed on 22 december 2012] 5. A K Khurana .2007.Comprehensive Ophthalmology 4th Edition.New delhi:new age limite 6. 7. Ophthalmic Drugs Therapeutic and Diagnostic uses, 5th Edition,2007, pg 162-168. International Contact Lens Prescribing in 2010, By Philip B. Morgan, PhD, MCOptom, FAAO, FBCLA; Craig A. Woods, PhD, MCOptom, DipCLP, FAAO; Ioannis G. Tranoudis, http://www.clspectrum.com/articleviewer.aspx?articleid=105084 [Accessed on 23th december 2012]34

8.

Oxford American Handbook of ophthalmology, James C.T-Sai,Ala-Stair K.O Denniston, Pg 215-216.

9.

Comparison of Hydrogen Peroxide Contact Lens Disinfection Systems and Solutions against Acanthamoeba polyphaga,Reanne Hughes and Simon Kilvington Department of Microbiology and Immunology, University of Leicester, Leicester LE1 9HN, United Kingdom. http://aac.asm.org/content/45/7/2038.full [Accessed on 24th december 2012]

10. Ophthalmic Pathology-An Illustrated Guide for clinicians, KWeng Sehu, pg70 11. Anderson, D.M., 2007. Dorlands Illustrated Medical Dictionary. 31 St ed. Philadelphia: Saunders. 12. Guyton, C. Arthur., John E Hall. 2008. Fisiologi Kedokteran. Ed 11. Jakarta : EGC 13. Contact Lens & Cornea Section | American Optometric Association.available at: www.aoa.org[accesses on 25th of december 2012)

14. Ilyas Sidarta.2009.Ilmu penyakit mata.Ed 3.Jakarta:Fakultas kedokteran indonesia 15. Contact Lens Council. Statistics on Contact Lens Wear in the U.S. 7 Nov. 2004 available at http://www.contactlenscouncil.com/pcon-stats.htm(accessed on 25th of decmber 2012) 16. Silbernagl, stefan., Florian Lang. 2000. Color Atlas of Pathophysiology. New York : Thime Stuttgart 17. Ventocilla M et al.2010.Specialty of contact lens.Medscape journal of medicine.Available at www.patient.co.uk[Accesed on 25th december 2012) 18. Wahyuni I,Saleh T.2007.Jurnal opthalmologi Indonesia Vol 5 no 3:Fitting lensa kontak RGP.Fakultas kedokteran Universitas Airlangga,surabaya.Available on 26 at th

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/06.Ok-TinjPus03-dr.indri.pdf{accesed december 2012)

35

36