Referat Toksoplasmosis Kongenital

  • View
    25

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

toksoplasmosis kongenital

Text of Referat Toksoplasmosis Kongenital

Laboratorium / SMF Kedokteran Ilmu Kesehatan AnakReferatProgram Pendidikan Dokter Universitas MulawarmanRSUD A.W.Sjahranie Samarinda

Toksoplasmosis Kongenital

Disusun oleh:Desy Merindasari1410029008

Pembimbing:dr.William S. Tjeng, Sp.A

Dipresentasikan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan KlinikLaboratorium/SMF Kedokteran Ilmu Kesehatan AnakFK UNMULSamarindaMaret 2015

KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan atas rahmat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah kelompok penulis dapat menyelesaikan referat mengenai Toksoplasmosis Kongenital ini dengan baik dan tepat waktu. Referet ini merupakan hasil dari belajar mandiri selama berada di Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.Dalam pembuatan laporan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:1. Dr.Emil Bachtiar Moerad, Sp.P selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.2. dr. Sukartini, Sp.A selaku Ketua Program Pendidikan Profesi Pendidikan Dokter Umum.3. dr. William S. Tjeng, Sp.A selaku dosen pembimbing stase Neurologi di Laboratorium IKA.4. Orang tua serta teman-teman yang telah mendukung dan membantu terselesaikannya laporan ini.Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak maka penulis menyadari bahwa journal reading ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, penulis berharap pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun kepada penulis. Sebagai penutup penulis hanya bisa berdoa semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi setiap pembaca.Samarinda 18 Maret 2015

Desy Merindasari

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1DAFTAR ISI2

BAB I Pendahuluan 3

BAB II PEMBAHASAN HEMANGIOBLASTOMA22.1 Definisi3 2.2 Etiologi32.3 Morfologi42.4 Siklus Hidup62.5 Epidemiologi72.6 Patogenesis 72.7 Manifestasi KLinis92.8 Diagnosis92.9 Diagnosis Banding122.10 Pencegahan122.11 Terapi132.12 Prognosis14

BAB III PENUTUP15Kesimpulan 15

DAFTAR PUSTAKA16

BAB IPENDAHULUAN

Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan golongan Protozoa yang bersifat parasit obligat intraseluler. Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Splendore pada tahun 1908 pada limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus gundii di Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil (Gandahusada, 2003). Di Indonesia, toksoplasmosis mulai diteliti oleh Durfee sejak tahun 1971 dan 1972 yang dilaporkan pada tahun 1976 (Chahaya, 2003)Diperkirakan 30-60% penduduk dunia terinfeksi oleh Toxoplasma gondii (Hendri, 2008). Menurut Rasmaliah (2003), infeksi ini tersebar di seluruh dunia, dimana manusia berperan sebagai hospes perantara, kucing dan famili Felidae lainnya merupakan hospes definitif. Angka kejadian toksoplasmosis di Indonesia ditunjukkan dengan adanya zat anti T. gondii, pada manusia adalah 2-63%, pada kucing 35-73%, babi 11-36%, kambing 11-61%, anjing 75% dan pada ternak lain kurang dari 10% (Gandahusada, 2003). Infeksi penyakit ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Di Indonesia faktor-faktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi lingkungan dan banyaknya sumber penularan terutama kucing dan famili Felidae (Hiswani, 2005).Ibu hamil yang menderita toksoplasmosis 25% berisiko akan menularkan ke janinnya. Penularan toksoplasmosis kongenital terjadi apabila infeksi pada saat gestasi dan menyebabkan abortus pada trimester pertama kehamilan. Resiko penularan terhadap janin pada trimester pertama adalah 15%, 25% pada trimester kedua dan 65% pada trimester ketiga. Namun derajat infeksi terhadap janin paling besar adalah bila infeksi terjadi pada trimester pertama. Sekitar 75% kasus yang terinfeksi tidak memperlihatkan gejala saat persalinan namun 25-50% bayi yang dilahirkan akan mengalami hidrosefalus, korioretinitis, mikrosefali, mikroptalmia, hepatosplenomegali, kalsifikasi serebral, adepati, konvulsi dan perkembangan mental terganggu (Behman et al., 2000).

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 DefinisiToksoplasmosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan penyakit parasit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia (Hiswani, 2005). Parasit ini merupakan golongan Protozoa yang bersifat parasit obligat intraseseluler. Toksoplasmosis menjadi sangat penting karena infeksi yang terjadi pada saat kehamilan dapat menyebabkan abortus spontan atau kelahiran anak yang dalam kondisi abnormal atau disebut sebagai kelainan kongenital seperti hidrosefalus, mikrosefalus, iridosiklisis dan retardasi mental (Behman et al., 2000).

2.2 EtiologiToksoplasmosis disebabkan oleh Toksoplasma gondii adalah parasit intraseluler yang menginfeksi burung dan mamalia. T. gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit) (Hiswani, 2005). Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi. Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospes perantara seperti burung dan mamalia termasuk manusia dan kucing sebagai hospes definitif. Takizoit ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh. Takizoit juga dapat memasuki tiap sel yang berinti. Kista dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk dinding. Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil hanya berisi beberapa bradizoit dan ada yang berukuran 200 mikron berisi kira-kira 3000 bradizoit. Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot bergaris. Di otak bentuk kista lonjong atau bulat, tetapi di dalam otot bentuk kista mengikuti bentuk sel otot (Gandahusada, 2003). Ookista berbentuk lonjong, berukuran 11-14 x 9-11 mikron. Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas. Pada perkembangan selanjutnya ke dua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang berukuran 8 x 2 mikron dan sebuah benda residu. Toxoplasma gondii dalam klasifikasi termasuk kelas Sporozoasida, berkembang biak secara seksual dan aseksual yang terjadi secara bergantian(Gandahusada, 2003).

2.3 Morfologi Bentuk takizoit Bentuk ini menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi. Tidak mempunyai kinetoplas dan sentrosom serta tidak berpigmen. Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospesperantara seperti burung dan mamalia termasuk manusia dan kucing sebagal hospes definitif. Takizoit ditemuKan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh.Takizoit dapat memasuki tiap sel yang berinti (Gandahusada, 2003).

2.2 Bentuk takizoid Toxoplasma gondii Bentuk Kista (Bradizoit )Bentuk ini dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk dinding. Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil hanya berisi beberapa bradizoit dan ada yang berukuran 200 mikron berisi kira-kira 3000 bradizoit. Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama diotak, otot jantung, dan otot bergris (Gandahusada, 2003).

Gambar 2.3 Bentuk kista Toxoplasma gondii Bentuk Ookista Berbentuk lonjong, berukuran 11-14 x 9-11 mikron. Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas.Pada perkembangan selanjutnya ke dua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang berukuran 8 x2 mikron dan sebuah benda residu (Gandahusada, 2003).

Gambar 2.4 Bentuk ookista Toxoplasma gondii

2.4 Siklus HidupDalam siklus hidupnya diperantarai oleh sel inang ke intraselular inang dan kemudian melakukan multiplikasi dan parasit ini mempunyai siklus hidup yang bersifat obligat dengan fase seksual dan aseksual. Siklus seksual terjadi pada tubuh kucing dan siklus aseksual terjadi pada berbagai inang antara yang sangat bervariasi. Misalnya pada Kucing dan hewan sejenisnya merupakan hospes definitif dari T. gondii .Di dalam usus kecil kucing sporozoit menembus sel epitel dan tumbuh menjadi trofozoit. Inti trofozoit membelah menjadi banyak sehingga terbentuk skizon. Skizon matang pecah dan menghasilkan banyak merozoit (skizogoni). Daur aseksual ini dipadatkan dengan daur seksual (Behman et al., 2000).Merozoit masuk ke dalam sel epitel dan membentuk makrogametosit dan mikrogametosit yang menjadi makrogamet dan mikrogamet (gametogoni). Setelah terjadi pembuahan terbentuk ookista, yang akan dikeluarkan bersama tinja kucing. Di luar tubuh kucing, ookista tersebut akan berkembang membentuk dua sporokista yang masing-masing berisi empat sporozoit(sporogoni) Bila ookista tertelan oleh mamaliaseperti domba, babi, sapi dan tikus serta ayam atau burung, maka di dalam tubuh hospes perantara akan terjadi daur aseksual yang menghasilkan takizoit. Takizoit akan membelah, kecepatan membelah takizoit ini berkurang secara berangsur kemudian terbentuk kista yang mengandung bradizoit. Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada infeksi menahun (infeksi laten) (Behman et al., 2000).Sumber penularannya adalah kotoran hewan berbulu, terutama kucing. Cara penularannya pada manusia melalui: Makanan dan sayuran/buah-buahan yang tercemar kotoran hewan berbulu (kucing). Makan daging setengah matang dari binatang yang terinfeksi. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi toksoplasma. Secara kongenital (bawaan) dari ibu ke bayinya apabila ibu hamil terinfeksi pada bulan-bulan pertama kehamilannya (Behman et al., 2000)

2.5 EpidemiologiDi Indonesia prevalensi zat