Referat Sinusitis Odontogen

  • View
    26

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sinusitis odontogen gigi

Text of Referat Sinusitis Odontogen

HALAMAN PENGESAHAN

Nama: Nicolai Christiano, Viryandi Anwar, Stephanie WirjomartaniFakultas : KedokteranUniversitas : Universitas TarumanagaraTingkat: Program Pendidikan Profesi DokterBidang pendidikan: Ilmu Penyakit GigiPeriode Kepaniteraan Klinik: 9 Maret 2015 11 April 2015Judul Referat: Sinusitis OdontogenDiajukan : April 2015Pembimbing: drg. Setyo Hastuti & drg. Nurhayati Windarti

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL:

Pembimbing,

drg. Setyo Hastutidrg. Nurhayati Windarti

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan rahmat-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan referat mengenai Sinusitis Odontogen guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menempuh Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.

Pada kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan referat ini, yaitu :1. drg. Setyo Hastuti selaku pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.2. drg. Nurhayati Windarti selaku pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Gigi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.3. Semua pihak yang telah membantu meluangkan waktu, tenaga dan pikiran, baik secara langsung maupun tidak langsung selama proses penyusunan makalah iniPenulis menyadari penulisan referat ini masih jauh dari sempurna, karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis. Penulis juga memohon maaf yang sebesar besarnya apabila banyak terdapat kesalahan maupun kekurangan dalam referat ini. Penulis berharap semoga referat ini dapat bermanfaat khususnya bagi Penulis sendiri dan kepada Pembaca pada umumnya.

Jakarta, April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI. ....3

BAB IPENDAHULUAN4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ..............5A. Anatomi Sinus Paranasal ..5B. Definisi ......8C. Etiologi ..10D. Epidemiologi ....12E. Patofisiologi .12F. Gejala Klinis .....15G. Diagnosis ..17H. Tatalaksana ...25I. Komplikasi ...............29J. Prognosis.. 30

BAB III PENUTUP...31

DAFTAR PUSTAKA ..32

BAB IPENDAHULUAN

Sinusitis adalah peradangan pada satu atau lebih mukosa sinus paranasal.1 Penyakit sinusitis selalu dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks ostiomeatal (KOM) oleh infeksi, obstruksi mekanis atau alergi, dan oleh karena penyebaran infeksi gigi.2Sinus maksilaris, yang secara anatomi berada di pertengahan antara hidung dan rongga mulut merupakan lokasi yang rentan terinvasi organisme patogen lewat ostium sinus maupun lewat rongga mulut. Sinusitis dentogen dapat mencapai 10% hingga 12% dari seluruh kasus sinusitis maksilaris. 1Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronik. Dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris tenpat akar gigi rahang atas, sehingga rongga sinus maksila hanya dipisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi, bahkan kadang-kadang tanpa tulang pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal mudah menyebar secara langsung ke sinus atau melalui pembuluh darah dan limfe. 1Curiga adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila kronik yang mengenai satu sisi dengan ingus purulen dan napas berbau busuk. Untuk mengobati sinusitisnya, gigi yang terinfeksi harus dicabut atau dirawat, dan pemberian antibiotik yang mencakup bakteri anaerob. Seringkali perlu dilakukan irigasi sinus maksila. 2,3

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI SINUS PARANASALSinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulag-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. 1,5Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun.1

SINUS MAKSILASinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa.1,2,5,8Sinus maksila berbentuk piramid. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prossesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.1

Dari segi klinik yang perlu diperhatikan adalah:a. Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis.b. Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.c. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase hanya tergantung dari gerak silia, lagipula drenase juga harus melalui infundibulum yang sempit.d. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalang drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.1,5

Gambar 1: Anatomi sinus paranasal (potongan koronal)

Kompleks Osteo-Meatal (KOM)Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus media, ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan komples osteo-meatal (KOM) yang terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus fontalis, bula etmoid, dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila. 1,2,5,8

Gambar 2: Kompleks osteomeatal

Sistem mukosiliarSeperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut lendir di atasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya. 1,2

Fungsi sinus paranasal :Sampai saat ini belum ada penyesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal. Tetapi beberapa teori mengemukakan fungsinya sebagai berikut : 1,21. Sebagai pengatur kondisi udara2. Sebagai penahan suhu3. Membantu keseimbangan kepala4. Membantu resonansi suara5. Peredam perubahan tekanan udara6. Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung

2.2 DEFINISISinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid.1,2,3Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusuitis sfenoid lebih jarang. Sinus maksila disebut juga antrum High more, merupakan sinus yang sering terinfeksi, oleh karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret atau drainase dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius , disekitar hiatus semilunaris yang sempit, sehingga mudah tersumbat.1,5Sinusitis maksilaris dapat terjadi akut, berulang atau kronis. Sinusitis maksilaris akut berlangsung tidak lebih dari tiga minggu. Sinusitis akut dapat sembuh sempurna jika diterapi dengan baik, tanpa adanya residu kerusakan jaringan mukosa. Sinusitis berulang terjadi lebih sering tapi tidak terjadi kerusakan signifikan pada membran mukosa. Sinusitis kronis berlangsung selama 3 bulan atau lebih dengan gejala yang terjadi selama lebih dari dua puluh hari.1,2,4

Gambar 3: Penyebaran infeksi pada sinusitis dentogen

Hubungan anatomi antara gigi dan antrum Highmore: 5a. Sinus maksilaris dewasa merupakan suatu rongga berisi udara yang dibatasi oleh bagian alveolar sinus maksilaris, lantai orbital, dinding lateral hidung dan dinding lateral os maksila.b. Pada sesetengah individu, pneumatisasi dan perluasan dapat terjadi sedemikian rupa sehingga hanya sinus mukoperiosteum (membran Schneidarian) yang tersisa.c. Bisa juga terjadi ekspansi terus sehingga hanya meninggalkan tulang alveolar antara sinus dan rongga mulut.d. Otot levator labial dan orbicularis oculi di dinding lateral dari maksila dapat langsung menyebabkan penyebaran infeksi. Dinding lateral ini lemah dan mudah ditembus dari lantai sinus. Akibatnya, infeksi odontogenik umumnya terjadi bersamaan dengan infeksi jaringan lunak vestibular/fasia.

2.3 ETIOLOGI

Penyebab tersering adalah ekstraksi gigi molar, biasanya molar pertama, dimana sepotong kecil tulang di antara akar gigi molar dan sinus maksilaris ikut terangkat. Nathaniel Highmore yang mengemukakan tentang membran tulang tipis yang memisahkan gigi geligi dari s