21
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan kelainan pada sistem kardiovaskular yang masih menjadi beban kesehatan di masyarakat global karena prevalensinya yang tinggi dan memiliki gejala yang berefek panjang dan merugikan (Ariff F et al., 2011). Data WHO (World Health Organization) 2003 memperkirakan jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia adalah 600 juta orang, dengan 3 juta kematian setiap tahun, 7 dari setiap 10 orang tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat (Rahajeng et al., 2009). Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat (Price et al., 2006), diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi (Rahajeng et al., 2009). Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Departemen Kesehatan Tahun 2007 Hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari jumlah penduduk. Data RISKESDAS juga menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi hipertensi di Aceh adalah 30,2% dan hanya 33% dari jumlah kasus tersebut yang terdiagnosa hipertensi (RISKESDAS, 2007). 1

referat hipertensi primer

Embed Size (px)

DESCRIPTION

medical

Citation preview

Page 1: referat hipertensi primer

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan kelainan pada sistem kardiovaskular yang masih

menjadi beban kesehatan di masyarakat global karena prevalensinya yang tinggi

dan memiliki gejala yang berefek panjang dan merugikan (Ariff F et al., 2011).

Data WHO (World Health Organization) 2003 memperkirakan jumlah penderita

hipertensi di seluruh dunia adalah 600 juta orang, dengan 3 juta kematian setiap

tahun, 7 dari setiap 10 orang tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat

(Rahajeng et al., 2009).

Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di

Amerika Serikat (Price et al., 2006), diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa

menderita hipertensi (Rahajeng et al., 2009). Menurut Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) Departemen Kesehatan Tahun 2007 Hipertensi di Indonesia

mencapai 31,7% dari jumlah penduduk. Data RISKESDAS juga menyebutkan

hipertensi sebagai penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis,

jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua umur di

Indonesia. Prevalensi hipertensi di Aceh adalah 30,2% dan hanya 33% dari

jumlah kasus tersebut yang terdiagnosa hipertensi (RISKESDAS, 2007).

Kira-kira 90-95 % orang yang menderita hipertensi dikatakan menderita

hipertensi primer yang juga dikenal sebagai hipertensi essensial dimana

penyebabnya tidak diketahui (Guyton and Hall, 2008; Beevers et al, 2001). Pada

kebanyakan kasus, hipertensi merupakan interaksi kompleks antara faktor genetik,

lingkungan dan demografi (Bakri dan Lawrences, 2008). Sedangkan lima persen

adalah penyakit hipertensi sekunder akibat penyakit lain seperti kerusakan

parenkim ginjal atau aldosteronisme primer (Brown, 2007). Hipertensi merupakan

penyakit kronis yang pengobatannya seumur hidup dan perlu dilakukan secara

teratur (WHO, 2003).

1

Page 2: referat hipertensi primer

2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi

Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah secara abnormal yang persisten

pada Arteri. Hipertensi merupakan faktor resiko terjadinya kecacatan dan

kematian penyakit kardiovaskular. Hipertensi merupakan faktor resiko terjadinya

stroke, infark miokard, angina pectoris, gagal jantung, dan gagal ginjal. (Siyad

A.R,2011; Busari et al., 2010; Pujiyanto, 2008). Hipertensi bahkan dapat

menyebabkan menyebabkan kematian awal (Siyad A.R, 2011). Hipertensi sering

disebut sebagai “The Silent Killer“ karena tidak memiliki gejala secara umum

sampai komplikasi yang serius berkembang (Siyad A.R, 2011; Pujiyanto 2008).

Hipertensi essensial atau hipertensi primer adalah hipertensi dimana

penyebabnya tidak diketahui yang terjadi pada ± 90-95% kasus hipertensi

(Beevers, 2001). Sedangkan hipertensi sekunder adalah hipertensi yang biasanya

disebabkan oleh penyakit lain. Adanya penyakit penyerta atau menggunakan obat-

obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah. Sekitar 10% penderita hipertensi

mengalami hipertensi tipe ini. (Siyad A.R, 2011; Tagor GM, 2004; Silbernagl et

al, 2006). Penyakit tersering yang menyebabkan hipertensi jenis ini adalah gagal

ginjal (Siyad A.R, 2011; Silbernagl et al., 2006)

2.2 Etiologi Hipertensi Essensial / Primer

Hipertensi Essensial / Primer merupakan hipertensi yang penyebabnya

tidak diketahui. Hipertensi tipe ini, tidak dapat disembuhkan tetapi dapat

dikontrol. Lebih dari 90% orang dari penyakit hipertensi menderita hipertensi tipe

ini. Faktor genetik berperan penting pada hipertensi tipe ini (Siyad A.R, 2011;

Tagor, 2004).

Page 3: referat hipertensi primer

3

2.3 Klasifikasi Hipertensi

The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) (2004)

mengklasifikasikan tekanan darah pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas

menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 seperti

yang tertera pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi untuk remaja berumur 18 tahun atau lebih

menurut JNC 7, 2004:

Sedangkan European Society of Hypertension (ESH) dan European Society

of Cardiology (ESC) tahun 2007 mengklasifikasikan hipertensi seperti tabel yang

tertera dibawah ini (Mancia et al, 2013)

.

Tabel 2.2 Klasifikasi tekanan darah menurut ESH/ESC 2007:

Kategori Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal

Normal

Normal tinggi

Hipertensi

Derajat 1(ringan)

Derajat 2 (sedang)

Derajat 3 (berat)

Isolated systolic hypertension

< 120

120-129

130-139

140-159

160-179

≥ 180

≥ 140

dan

dan/atau

dan/atau

dan/atau

dan/atau

dan/atau

dan

< 80

80-84

85-89

90-99

100-109

≥ 110

< 90

Klasifikasi Tekanan

Darah

Tekanan Darah

Sistolik (mmHg)

Tekanan Darah

Diastolik (mmHg)

Normal < 120 dan < 80

Prehipertensi 120 – 139 atau 80 – 89

Stage 1 Hipertensi 140 – 159 Atau 90 – 99

Stage 2 Hipertensi ≥ 160 Atau ≥ 100

Page 4: referat hipertensi primer

4

2.4 Faktor Resiko terjadinya Hipertensi

Faktor resiko yang relevan terhadap mekanisme terjadinya hipertensi

primer adalah:

a. Genetik

Hipertensi primer bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Kaplan dikutip

dalam Hendraswari, 2008 menyatakan bahwa kemungkinan untuk menderita

hipertensi pada seseorang yang orang tuanya mempunyai riwayat hipertensi

adalah sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan orang lain yang tidak

mempunyai riwayat hipertensi pada orang tuanya. Penderita hipertensi tidak

selamanya diperoleh dari garis keturunan, tetapi seseorang memiliki potensi

untuk mendapat hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi

(Anies, 2006).

b. Umur

Umumnya tekanan darah akan naik dengan bertambahnya umur terutama

setelah umur 40 tahun. Prevalensi hipertensi di Indonesia pada golongan umur

dibawah 40 tahun masih berada dibawah 10%, tetapi di atas umur 50 tahun

angka tersebut terus meningkat mencapai 20 - 30%, sehingga ini sudah menjadi

masalah yang serius untuk diperhatikan (Depkes RI dikutip dalam

Hendraswari, 2008).

c. Jenis Kelamin

Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih

banyak yang menderita hipertensi dibandingkan dengan wanita. Pria diduga

memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah

dibandingkan dengan wanita (Kearney et al, 2005). Namun, setelah memasuki

menopause, prevalensi hipertensi pada wanita tinggi. Bahkan setelah umur 65

tahun, terjadinya hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria

yang diakibatkan oleh faktor hormonal (Pratiwi dikutip dalam Hendraswari,

2008). Hasil SKRT 2004 diketahui bahwa prevalensi hipertensi pada

perempuan 16% dan pada laki-laki yaitu 12%.

d. Obesitas

Obesitas adalah meningkatnya massa tubuh karena jaringan lemak yang

berlebihan sehingga meningkatnya kebutuhan metabolik dan konsumsi oksigen

Page 5: referat hipertensi primer

5

secara menyeluruh, akibatnya curah jantung bertambah (Rasmaliah et al.,

2004).

e. Asupan Garam

Garam membantu menahan air dalam tubuh. The American heart Association

step II diet menganjurkan seseorang rata-rata mengkonsumsi tidak lebih dari

2.400 mg garam per hari. Asupan garam yang berlebihan dapat menyebabkan

peningkatan volume air dan akan meningkatkan volume darah tanpa adanya

penambahan ruang. Peningkatan volume ini mengakibatkan bertambahnya

tekanan di dalam arteri (Budistio dalam Rasmaliah et al., 2004).

f. Stress

Stress adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan

beban atasnya (Hawari dikutip dalam Hendraswari, 2008). Peningkatan darah

akan lebih besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stress

emosional yang tinggi (Pinzon dikutip dalam Hendraswari 2008). Stress atau

ketegangan jiwa dapat merangsang kelenjar Supra renal melepaskan hormon

Adrenaline dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat,

sehingga tekanan darah akan meningkat (Selpi dikutip dalam Hendraswari

2008).

g. Merokok

Merokok terbukti menyebabkan peningkatan denyut nadi yang menyebabkan

peningkatan curah jantung (Cardiac Output) dan tahanan perifer yang

menyebabkan peningkatan tekanan darah (Winniford dalam Hendraswari,

2008)

Faktor - faktor yang meningkatkan tekanan darah, seperti obesitas dan

alkohol yang tinggi dan asupan garam, disebut "faktor hypertensinogenic”. Faktor

hypertensinogenic dapat menyebabkan tekanan darah meningkat di atas kisaran,

sehingga menciptakan 4 kemungkinan utama: (1) pasien yang memiliki

mewarisi tekanan darah dalam kategori optimal (120/80 mmHg); jika 1 atau lebih

faktor hypertensinogenic ditambahkan, tekanan darah akan mungkin meningkat

tapi tetap dalam kisaran normal (135/ 85 mmHg) (Gambar 2.1, 2 kolom pertama);

(2) pasien yang telah mewarisi tekanan darah dalam kategori normal (130/ 85

mmHg); jika 1 atau lebih faktor yang hypertensinogenic ditaambahkan, tekanan

Page 6: referat hipertensi primer

6

darah mungkin akan meningkat ke kisaran normal tinggi

(130-139/85-89 mmHg) atau kategori hipertensi derajat 1 (140-159/90-99 mmHg)

(Gambar 2.1, 2 kolom kedua); (3) pasien yang telah mewarisi tekanan darah

kategori normal tinggi (130-139/85-89 mmHg); jika 1 atau lebih

faktor hypertensinogenic ditambahkan, tekanan darah akan meningkat ke

kisaran hipertensi (>140/>90mmHg) (Gambar 2.1, 2 kolom ketiga); dan (4) pasien

yang telah mewarisi tekanan darah di kisaran hipertensi; penambahan 1 atau lebih

faktor hypertensinogenic akan membuat hipertensi lebih parah, berubah dari tahap

1 sampai tahap 2 atau 3 (Gambar 2.1, kolom keempat sampai keenam).

Gambar 2.1 Efek faktor hypertensiogenic pada tekanan darah

Lebih dari satu dekade pedoman international dalam penatalaksanaan

hipertensi memiliki pengelompokan yang berbeda dalam hal pengelompokan

resiko cardiovaskular, berdasarkan tingkat tekanan darah, faktor risiko

kardiovaskular, kerusakan organ yang asimptomatik dan adanya diabetes,

penyakit kardiovaskular simtomatik atau penyakit ginjal kronis. Gambar 2.3

merangkum pengelompokan dari total resiko kardiovaskular dalam kategori

rendah, sedang, tinggi dan resiko sangat tinggi, yang mengacu pada resiko

Page 7: referat hipertensi primer

7

kematian dalam 10 tahun seperti yang didefinisikan oleh joint 2012 ESC CVD

Prevention Guidelines.

Gambar 2.3 Pengelompokan tekanan darah dari faktor resiko kardiovaskular

2.5 Diagnosis Hipertensi

Evaluasi awal pasien dengan hipertensi harus (i) mengkonfirmasi diagnosis

hipertensi, (ii) mendeteksi penyebab hipertensi sekunder, dan (iii) menilai risiko

kardiovaskular, kerusakan organ dan kondisi klinis secara bersamaan. Ini

termasuk pengukuran tekanan darah, riwayat kesehatan termasuk riwayat penyakit

keluarga, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik lebih

lanjut.

Pada 70-80% kasus hipertensi essensial didapatkan riwayat hipertensi dalam

keluarga, walaupun hal ini belum dapat memastikan diagnosis hipertensi

essensial. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orangtua, maka

dugaan hipertensi essensial lebih besar. Mengenai usia penderita hipertensi

essensial mayoritas timbul pada usia 25-45 tahun, dan hanya 20% yang timbulnya

kenaikan darah di bawah usia 20 tahun dan diatas usia 50 tahun. Bila telah

diketahui adanya riwayat hipertensi sebelumnya, perlu informasi tentang

pengobatan, efektifitas dan efek samping obat (Sidabutar, 1990).

Keterangan obat yang sedang di makan penderita yang mungkin

menimbulkan hipertensi seperti golongan kortikosteroid, golongan monoamine

oxidase inhibitor, dan golongan simpatomimetik. Konsumsi makanan yang

Page 8: referat hipertensi primer

8

banyak mengandung garam juga harus ditanyakan. Pada wanita keterangan

mengenai hipertensi pada kehamilan, riwayat eklamsi, penggunaan pil kontrasepsi

juga ditanyakan. Data riwayat keluarga tentang penyakit ginjal polikistik, kanker

tiroid, feokromositoma, batu ginjal dan hiperparatiroidisme perlu ditanyakan

untuk melengkapi anamnesis (Sidabutar, 1990).

Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran.

Diagnosis baru dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada

kunjungan yang berbeda secara konsisten. Dalam pemeriksaan fisik dilakukan

pengukuran tekanan darah setelah pasien beristirahat 5 menit. Posisi pasien adalah

duduk bersandar dengan kaki di lantai dan lengan setinggi jantung. Ukuran dan

letak manset serta stetoskop harus benar. Ukuran manset standar untuk orang

dewasa adalah panjang 12-13 cm dan lebar 35 cm. Penentuan sistolik dan

diastolik dengan menggunakan Korotkoff fase I dan V. Pengukuran dilakukan dua

kali dengan jeda 1-5 menit. Pengukuran tambahan dilakukan jika hasil kedua

pengukuran sangat berbeda. Konfirmasi pengukuran pada lengan kontralateral

dilakukan pada kunjungan pertama dan jika didapatkan kenaikan tekanan darah

(Yogiantoro, 2006).

Sampai saat ini hipertensi masih merupakan masalah yang kompleks karena

merupakan penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara

faktor-faktor risiko tertentu antara lain diet dan asupan garam, stres, ras, obesitas,

sistem saraf simpatis, keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan

vasokonstriksi serta pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem

renin, angiotensin dan aldosteron (Kaplan, 2002; Oparil et al, 2003). Mekanisme

pengaturan tekanan darah seperti tertera pada gambar di bawah ini

(Sherwood,2001).

Page 9: referat hipertensi primer

9

Hipertensi essensial cenderung terjadi pada kelompok keluarga dan muncul

sebagai sekumpulan penyakit atau sindrom yang berbasis genetik dengan

beberapa abnormalitas biokimia yang diturunkan. Fenotif yang dihasilkan dapat

dimodulasi oleh berbagai macam faktor lingkungan yang kemudian

mempengaruhi derajat kenaikan tekanan darah dan waktu onset hipertensi (Oparil

et al, 2003).

Peranan faktor genetik disini biasanya dijembatani suatu fenotip

(intermediate phenotype) berupa sensitivitas terhadap garam (salt sensitivity).

Dengan demikian individu yang mempunyai riwayat keluarga hipertensi, asupan

tinggi natrium akan menyebabkan retensi natrium dan air yang selanjutnya akan

meningkatkan tekanan darah (Melander et al, 2001; Oparil et al, 2003).

Page 10: referat hipertensi primer

10

Gambar 2.4 Diagnosis pada pasien yang diduga hipertensi

2.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pengobatan hipertensi bertujuan untuk menurunkan

morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi dengan menurunkan tekanan darah

seoptimal mungkin. Dimulainya perubahan gaya hidup dan terapi obat

Page 11: referat hipertensi primer

11

antihipertensi (Gambar 2.5). Sasaran pengobatan juga diindikasikan seperti pada

Gambar 2.3.

Gambar 2.5 Tatalaksana hipertensi berdasarkan pengelompokan tekanan darah dari faktor resiko kardiovaskular

Penanganan Hipertensi menurut JNC 7, 2004:

a. Modifikasi gaya hidup, jika tidak tercapai target tekanan darah

(tekanan darah < 140/90 mmHg atau 130/80 mmHg dengan penyakit diabetes

dan gagal ginjal kronik), maka berikan pengobatan pertama:

Hipertensi dengan indikasi yang memaksa:

- Hipertensi stage 1 (tekanan darah sistolik: 140- 59 mmHg atau tekanan

darah diastolik 90-99 mmHg ) diberikan Thiazide. Pertimbangan lain:

ACE inhibitor, Angiotensin Receptor Blocker (ARB), Beta blocker,

Chalcium Channel Blocker atau kombinasi.

- Hipertensi stage 2 (tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau tekanan

darah diastolik ≥ 100 mmHg) diberikan dua obat kombinasi. Biasanya

diberikan Thiazide dan Ace inhibitor atau ARB atau Beta blocker atau

Channel Blocker.

Hipertensi tanpa indikasi yang memaksa:

Page 12: referat hipertensi primer

12

- Obat-obat anti hipertensi yang lains: Diuretik, ACE inhibitors, ARB, Beta

blocker, Chalsium Channel Blocker jika diperlukan.

b. Jika semua tindakan diatas telah dilakukan, dan tetap tidak mencapai target

penurunan tekanan darah, maka berikan dosis maksimal dan tambahkan pilihan

obat antihipertensi yang lain sampai target penurunan tekanan darah tercapai.

c. Jika target penurunan tekanan darah tetap tidak tercapai, maka pertimbangkan

untuk mengkonsultasikan pasien pada ahli hipertensi.

Gambar 2.1 Skema Penatalaksanaan Hipertensi (JNC 7, 2004)

2.7 Komplikasi

Page 13: referat hipertensi primer

13

Peran modifikasi gaya hidup. Sebuah program modifikasi gaya hidup

adalah langkah utama dalam pencegahan dan pengelolaan hipertensi dan penyakit

kardiovaskular. CHEP (Canadian Hypertension Education Program)

merekomendasikan sejumlah langkah-langkah untuk mengurangi kemungkinan

hipertensi, mengurangi tekanan darah, dan mengurangi risiko komplikasi

kardiovaskular pada orang yang mengalami peningkatan tekanan darah ( lihat di

bawah). Pada pasien dengan diabetes dan tekanan darah > 130/80 mm Hg,

intervensi gaya hidup harus dimulai bersamaan dengan terapi farmakologis. Pada

pasien berisiko rendah dengan stadium 1 hipertensi (140-159/90-99 mmHg),

modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi tunggal.

1. Diet sehat : tinggi dalam buah-buahan dan sayuran, produk susu rendah

lemak, serat makanan larut dan, biji-bijian dan protein dari sumber

tanaman segar; rendah lemak jenuh, kolesterol, dan garam sesuai dengan

Canada’s Guide to Healthy Eating or DASH diet.

2. Aktivitas fisik yang teratur : akumulasi 30-60 menit moderate intensity

latihan dinamis (berjalan, jogging, bersepeda, berenang) 4-7 hari per

minggu, di samping kegiatan sehari-hari

3. Konsumsi alkohol berisiko rendah (< 2 minuman standar / hari dan kurang

dari 14/minggu untuk pria dan kurang dari 9/minggu untuk wanita.

4. Mencapai dan menjaga berat badan ideal ( BMI 18,5-24,9 kg/m2 )

5. Lingkar pinggang yang sehat : < 102 cm untuk pria , < 88 cm untuk wanita

6. Pengurangan asupan sodium ke tingkat yang direkomendasikan oleh

Healthy Canada (Tabel 2.3)

7. Sebuah lingkungan bebas asap rokok

8. Manajemen Stres

Tabel 2.3 Rekomendasi asupan garam oleh CHEP 2013

Page 14: referat hipertensi primer

14

Hipertensi yang diabaikan atau tidak diobati sesegera mungkin dapat

menyebabkan kerusakan organ dalam tubuh, diantaranya adalah:

a. Jantung

Hipertensi dapat menyebabkan CVD (Cardiovaskular Disease) dan

meningkatkan resiko kejadian iskemik seperti angina pectoris dan infark miokard

(Siyad A.R,2011; Busari et al.,2010; Pujiyanto, 2008) Selain itu sebagai

mekanisme kompensasi dari jantung dalam merespon naiknnya tekanan darah

hipertensi dapat menyebabkan LVH (Left Ventricle Hyperthropy). LVH sendiri

merupakan faktor resiko berbahaya akan terjadinya CAD (Cardio Acute Disease),

HF (Heart Failure), dan Aritmia. Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan

salah satu pemicu Heart Failure (Saseen dan Carter, 2005).

b. Otak

Gejala kerusakan pada organ ini yaitu terjadinya TIA (Transient Ischemic

Attack), stroke iskmeik, infark serebral, dan perdarahan otak. Peningkatan tekanan

darah sistolik yang berkepanjangan dapat menyebabkan hipertensi ensefalopati

(Saseen and Carter, 2005; Rilantono et al., 2004). Uji klinis membuktikan, terapi

hipertensi dapat menurunkan resiko stroke kambuhan maupun stroke yang baru

dialami pertama kali (JNC 7, 2004).

c. Ginjal

GFR (Glomerulus Filtration Rate) digunakan untuk mengetahui fungsi

ginjal. Hipertensi menyebabkan GFR (Glomerulus Filtration Rate) menurun lebih

cepat. Hipertensi berhubungan dengan nephrosclerosis, yang mana menyebabkan

peningkatan tekanan intraglomerular (Saseen dan carter, 2005; Tagor GM, 2004).

d. Mata

Hipertensi dapat menyebabkan retinopati hipertensif yang berimplikasi

pada kebutaan. Keparahannya diklasifikasikan menjadi empat, yakni: tingkat 1

yang ditandai dengan menebalnya diameter arteri, yang menyebabkan

vasokonstriksi, tingkat 2 yang ditandai dengan nicking pada arteriovenosus (AV),

yang menyebabkan arterosklerosis, tingkat 3 yang terjadi jika hipertensi tidak

kunjung diobati yang dapat menyebabkan cotton wool exudates dan flame

hemorrhage, terakhir tingkat 4 muncul sebagai akibat dari kasus yang semakin

Page 15: referat hipertensi primer

15

parah, yang ditandai dengan papil edema (Saseen dan Carter, 2005; Tagor GM,

2004).

2.8 Pencegahan

a. Mengurangi Berat badan.

b. Diet garam.

c. Meningkatkan asupan buah-buahan, sayur-sayuran dan potasium.

d. Mengurangi konsumsi alkohol.

e. Dilakukan Pengukuran Tekanan Darah Secara Teratur

(JNC 7, 2004; NICE, 2011).