Click here to load reader

Referat Glaukoma Sudut Terbuka

  • View
    59

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

referat glaukoma

Text of Referat Glaukoma Sudut Terbuka

REFERATGLAUKOMA SUDUT TERBUKA

Dibimbing oleh:Dr. Agah Gadjali, Sp. MDr. Gartati Ismail, Sp. MDr. Hermansyah, Sp. MDr. Mustafa, Sp. MDr. Henry A.W, Sp. M

Disusun oleh:Priscila Stevanni 2013-061-066Pricilia Nicholas 2013-061-070

Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya IndonesiaKepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit MataRumah Sakit Bhayangkara Tk. I Raden Said Sukanto, JakartaFebruari-Maret 2014

KATA PENGANTAR

Pertama-tama, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan referat ini tepat pada waktunya.Penulis berharap dengan membaca referat ini, pembaca dapat mengerti lebih lanjut mengenai glaukoma sudut terbuka. Referat ini dibuat dengan meminjam ilmu dari para peneliti yang telah berdedikasi tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan. Penulis juga menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, masukan dan kritikan yang bersifat membangun dari pembaca sangat kami harapkan agar dapat dijadikan pertimbangan dan pembelajaran dalam penulisan referat selanjutnya.Penulis juga ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat kata-kata dalam tulisan kami yang kurang berkenan di hati pembaca. Semoga referat ini dapat berguna dan bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Jakarta, 04 Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR2DAFTAR ISI3BAB I PENDAHULUAN4BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Anatomi dan fisiologi 62.2 Tekanan Intraokuler pada Glaukoma Primer Sudut Terbuka62.3 Klasifikasi72.4 Faktor Risiko82.5 Patofisiologi82.6 Diagnosis92.7 Manifestasi Klinis142.8 Tata Laksana15BAB III PENUTUP 19DAFTAR PUSTAKA20

BAB IPENDAHULUANGlaukoma ialah neuropati optik kronis didapat yang ditandai dengan pencekungan diskus optikus, hilangnya lapang pandang dan biasanya berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokular.1 Pada glaukoma akan terdapat melemahnya fungsi mata dengan terjadinya cacat lapang pandang dan kerusakan anatomi berupa ekskavasi (penggaungan) serta degenerasi papil saraf optik yang dapat berakhir dengan kebutaan.2

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbesar di dunia berdasarkan World Health Organization.3,4 Di seluruh dunia, sekitar 60 juta orang di menderita glaukoma.1,5-7 Sebuah survei data berdasarkan populasi juga menyatakan bahwa satu dari 40 orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma.5,6 Glaukoma primer dapat dibedakan menjadi glaukoma primer sudut terbuka dan glaukoma primer sudut tertutup. Di Amerika pada tahun 2004, sekitar 2,2 juta orang menderita glaukoma primer sudut terbuka dimana setengah dari jumlah kasus tersebut tidak terdiagnosis. Jumlah ini juga diperkirakan akan meningkat menjadi 3,36 juta orang pada tahun 2020.3

Glaukoma primer sudut terbuka merupakan jenis glaukoma yang paling sering terjadi dan mempunyai prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan glaukoma primer sudut tertutup. Pada orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun, prevalensi glaukoma primer sudut terbuka adalah sebesar 1,86%.7 Selain itu, glaukoma primer sudut terbuka juga menyebabkan terjadinya kebutaan bilateral pada 4,4 juta orang di dunia.3 Prevalensi glaukoma primer sudut terbuka juga diperkirakan sangat tinggi pada orang Cina, sedang pada orang Jepang, dan lebih rendah pada orang Eropa dan India.7 Di Indonesia, prevalensi glaukoma berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 adalah sebesar 0,5%.8

Glaukoma primer sudut terbuka merupakan penyakit kronik progresif yang biasanya ditandai dengan kerusakan saraf optik, defek lapisan serat saraf retina, dan hilangnya lapang pandang. Glaukoma sudut terbuka ini biasanya terjadi pada orang dewasa dan dapat menyebabkan hilangnya lapang pandang bilateral namun tidak simetris dimana pada tahap awal tidak disertai gejala apapun. Oleh karena tidak disertai gejala, glaukoma primer sudut terbuka ini biasanya tidak terdeteksi sampai kehilangan lapang pandang yang luas telah terjadi.2 Jika tidak didiagnosa dan ditangani sedini mungkin, maka keadaan ini akan berlanjut menjadi kebutaan.

Tatalaksana glaukoma primer sudut terbuka dapat berupa terapi medikamentosa dan surgikal. Terapi medikamentosa yang diberikan bertujuan untuk mengurangi tekanan intraokular. Namun apabila respon terhadap terapi medikamentosa tersebut sudah tidak baik lagi dan ada indikasi lainnya, maka terapi surgikal perlu dilakukan.

Oleh karena tidak adanya gejala yang signifikan pada glaukoma primer sudut terbuka ini kecuali jika sudah sampai tahap yang lanjut, maka penegakan diagnosis sedini mungkin sebaiknya dilakukan agar dapat mencegah kebutaan dan komplikasi lainnya yang tidak diinginkan. Dengan demikian, glaukoma primer sudut terbuka menjadi penting untuk dibahas karena semakin dini diagnosis ditegakkan, maka penatalaksaan pun dapat diberikan sedini mungkin dan akhirnya komplikasi pun dapat dicegah. Oleh karena itulah, tulisan ini bertujuan untuk membahas secara lengkap mengenai glaukoma primer sudut terbuka mulai dari definisi, epidemiologi, faktor risiko, tatalaksana dan berbagai macam hal lainnya agar pengetahuan mengenai glaukoma primer sudut terbuka menjadi lebih berkembang dan pada akhirnya dapat menegakkan diagnosis sedini mungkin.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1Anatomi dan FisiologiFisiologi Akuos HumorAkuos terdiri dari cairan jernih yang mengisi bilik mata depan dan bilik mata belakang. Volumenya adalah sekitar 250 l dan kecepatan produksinya adalah 2,5 l/menit, dimana kecepatan produksi ini dapat bervariasi berdasarkan variasi diurnal yaitu biasanya tekanan bola mata tinggi pada pagi hari.1,2 Komposisi akuos sama dengan komposisi plasma kecuali lebih tingginya konsentrasi askorbat, piruvat, dan laktat, sedangkan konsentrasi protein, urea, dan glukosa lebih rendah dari plasma. Tekanan osmotiknya pun sedikit lebih tinggi dari plasma darah.1

Akuos humor diproduksi oleh badan siliar. Setelah diproduksi, akuos memasuki bilik mata belakang kemudian melewati celah iris dan lensa menuju bilik mata depan dan akhirnya memasuki trabekular pada sudut bilik mata depan. Selama aliran ini terjadi pertukaran komponen dengan pembuluh darah pada iris.1

Gambar 2.1.1 Anatomi Sudut Bilik Mata Depan(diambil dari : Vaughan & Asburys General Ophthalmology 17th Edition. 2007)

Aliran Keluar dari AkuosTrabekula terdiri dari jaringan kolagen dan elastin yang dilapisi oleh sel trabekular yang membentuk filter dimana semakin menuju kanalis schlemm maka akan semakin kecil ukurannya. Ada dua jalur aliran keluar akuos. Pertama, akuos keluar melalui jalur trabekula. Jalur ini merupakan jalur utama dimana 90% aliran keluar akuos melalui jalur ini melalui kanalis schlemm dan berlanjut ke sistem vena. Jalur kedua adalah jalur uveoscleral. Pada jalur ini, akuos melewati celah antara otot siliaris menuju ke rongga suprakoroid kemudian menuju ke vena yang terdapat pada badan siliaris, koroid dan sklera.1

2.2Tekanan Intraokular pada Glaukoma Primer Sudut TerbukaPeningkatan tekanan intraokular pada glaukoma dapat disebabkan adanya produksi akuos humor yang berlebihan oleh badan siliar dan berkurangnya pengeluaran akuos humor di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil.1,9 Kebanyakan orang dengan glaukoma primer sudut terbuka mempunyai tekanan intraokular yang tinggi. Meskipun begitu, pada glaukoma sudut terbuka dapat juga ditemukan tekanan intraokular yang normal disebut normal tension glaucoma atau dapat juga disebut low tension glaucoma. Selain itu, pada beberapa orang juga dapat ditemukan adanya peningkatan tekanan intraokular namun tidak didapatkan bukti adanya kerusakan nervus optikus atau gangguan fungsi visual. Keadaan seperti ini disebut sebagai keadaan hipertensi okular.3

2.3 Klasifikasi Glaukoma sudut terbuka dapat diklasifikasikan menjadi: 3 Glaukoma primer sudut terbukaGlaukoma primer sudut terbuka adalah glaukoma yang terjadi secara primer dan bukan karena kondisi lain yang menyertai. Glaukoma sekunder sudut terbukaGlaukoma sekunder sudut terbuka adalah glaukoma yang terjadi sekunder karena adanya zat yang secara mekanis menghambat aliran keluar cairan akuos melalui jalinan trabekula. Zat tersebut misalnya pigmen, material eksfoliasi dan sel darah merah. Selain itu, glaukoma sekunder sudut terbuka juga dapat merupakan hasil dari perubahan struktur dan fungsi jalinan trabekula karena adanya trauma, inflamasi dan iskemia.

2.4Faktor RisikoFaktor risiko terjadinya glaukoma31. UsiaPrevalensi glaukoma terjadi empat sampai sepuluh kali lebih tinggi pada usia lebih tua.2. SukuOrang Afrika-Amerika, perkembangan penyakit ini terjadi lebih dahulu, tidak berespon terlalu baik terhadap terapi, lebih membutuhkan terapi surgikal, dan mempunyai prevalensi kebutaan lebih tinggi dibandingkan ras kaukasia.3. Riwayat keluargaStudi menyatakan bahwa 13-25% pasien dengan glaukoma mempunyai riwayat keluarga menderita glaukoma. Pada keluarga dengan glaukoma primer sudut terbuka, prevalensinya 3-6 kali dibandingkan dengan populasi pada umumnya dan insiden terjadinya penyakit ini pada keluarga tingkat pertama adalah 3-5 kali dibandingkan dengan populasi pada umumnya.

2.5Patofisiologi Glaukoma sudut terbuka tidak selalu diikuti dengan peningkatan tekanan intraokular, karena glaukoma primer sudut terbuka dapat terjadi ketika tekanan intraokular dalam batasan normal. Namun, tekanan intraokular yang tinggi dapat menjadi faktor risiko penting dalam progresivitas glaukoma. Peningkatan tekanan intraokular yang terjadi pada glaukoma primer sudut terbuka biasanya terjadi karena penurunan aliran keluar cairan akuos melalui trabekula. Penurunan aliran keluar ini diduga disebabkan oleh adanya resistensi pada jalinan trabekula. Beberapa teori seperti obstruksi jalinan trabekula oleh akumulasi material, hilangnya sel endotel trabekula, menurunnya kepadatan lubang dan ukuran dinding sel endotel kanal schlemm, hilangnya

Search related