Click here to load reader

Referat Gangguan Afektif Bipolar

  • View
    95

  • Download
    14

Embed Size (px)

Text of Referat Gangguan Afektif Bipolar

KATA PENGANTARPuji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kelimpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Gangguan Afektif Bipolar. Referat ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dalam kepanitraan Ilmu Kedokteran Kejiwaan.Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Lydia Esther Nurcahaya, SpKJ sebagai dosen pembimbing utama. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Susi Wijayanti, SpKJ dan dr. Meutia Laksminingrum, SpKJ. Penulis sangat menyadari dalam penyusunan dan penulisan referat ini ada banyak sekali kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan dan memperluas wawasan penulis.Sekian saja kata pengantar dari penulis, semoga referat ini dapat memberi tambahan ilmu bagi penulis khususnya dan dapat memberikan manfaat bagi yang membaca referat ini.

Jakarta, 24 April 2013

Penulis

BAB IPENDAHULUAN1. Latar BelakangGangguan mood bipolar sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Bipolaritas artinya pergantian antara episode manic (hipomanik) dengan depresi. Istilah gangguan bipolar sebenarnya kurang tepat karena ia tidak selalu merupakan dua emosi yang berlawanan dari suatu kontinuum. Kadang merupakan dua emosi yang berlawanan dari suatu kontinuum. Kadang-kadang pasien bisa memperlihatkan dua demensi emosi yang muncul bersamaan, pada derajat berat tertentu. Keadaan ini disebut dengan episode campuran. Sekitar 40% pasien dengan gangguan bipolar memperlihatkan dua campuran emosi. Keadaan campuran yaitu suatu kondisi dengan dua emosi tersebut dapat muncul bersamaan atau pergantian emosi tersebut (mania dan depresif) sangat cepat sehingga disebut juga manic disforik.Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manic, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup. Angka morbiditas dan mortalitasnya cukup tinggi. Tingginya angka mortalitas disebabkan aleh seringnya terjadi komorbiditas antara gangguan bipolar dengan penyakit fisik, misalnya, dengan diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan kanker. Komorbiditas dapat pula terjadi dengan penyakit psikiatrik lainnya misalnya, dengan ketergangtungan zat dan alcohol yang juga yang juga turut berkontribusi dalam meningkatkan mortalitas. Selain itu, tingginya mortalitas juga dapat disebabkan oleh bunuh diri. Sekitar 25% penderita gangguan bipolar pernah melakukan percobaan bunuh diri, paling sedikit satu kali dalam kehidupannya. Oleh karena itu, penderita gangguan bipolar harus diobati dengan segera.Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa berat yang prevalensinya cukup tinggi yaitu 1%-2%. Etiologinya adalah multifaktor. Gangguan bipolar menjadi beban pribadi, keluarga, dan sosial. Sebagian besar penderita mengalami sindrom gangguan bipolar secara kronik. Kronisitasnya simtom tersebut menyebabkan terjadinya komorbiditas yang akhirnya dapat menyebabkan gangguan fungsi dan kematian premature.Pada gangguan bipolar I, prevalensinya pada laki-laki dan perempuan adalah sama sedangkan pada gangguan bipolar II, prevalensinya pada wanita lebih tinggi bila dibandingkan dengan laki-laki.Pasien yang depresi merasa hilangnya energi, perasaan bersalah, mudah tersinggung, hilangnya nafsu makan, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Sedangkan pasien yang manic menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa, gagasan yang meloncat-loncat, peninggian harga diri, emosi yang labil,hiperaktivitas,dll.Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi tetapi peningkatan kadar serotonin dalam celah sinaps neuron, pada sistem limbik, yang berdampak terhadap dopamine receptor supersensitivity dapat mencetuskan manik.2. EpidemiologiPenyakit ini mengenai sekitar 1% hingga 1,5% dari total populasi dan mungkin sekitar 2% jika gejala-gejala bipolar II diikutsertakan. Prevalensi penyakit ini cenderung untuk meningkat dari tahun ke tahun. Wanita dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk terkena penyakit yang sering kali menimbulkan disabilitas ini, tetapi faktor hormonal dapat berpengaruh pada perbedaan jenis kelamin dalam perjalanan klinis penyakit (seperti angka yang lebih tinggi untuk cycling secara sangat cepat pada wanita). Kelainannya seringkali muncul pada saat masa remaja atau dewasa awal (dengan rata-rata usia 25 hingga 35 tahun) dan berpengaruh terhadap penderita sepanjang sisa hidupnya. Walaupun sebelumnya dianggap sebagai gangguan pada orang dewasa, sekarang didapati bahwa anak kecil juga ternyata dapat menderita dari gangguan bipolar ini. Semakin awal onsetnya, semakin besar pula kemungkinan dari timbulnya gejala psikotik dan semakin jelas terlihat pula hubungan genetiknya.Morbiditas dan mortalitas yang signifikan yang berhubungan dengan gangguan bipolar inilah yang menjadikan penyakit ini sebagai problema mayor kesehatan publik. Insidens yang tercatat kemungkinan kurang dari insidens yang terjadi sebenarnya karena pelaporan yang kurang dan kurangnya pengenalan akan episode manik dan hipomanik. Prevalensi bipolar II dan siklotimia adalah rendah karena kebanyakan penelitian hanya mengikut sertakan gangguan bipolar I saja. Meskipun ketika pola bipolar II diikut sertakan, kesulitan untuk menetapkan riwayat dari episode hipomanik mengacu pada diagnosis yang kurang. Menetapkan diagnosis siklotimia malah lebih sulit lagi.Gangguan bipolar secara signifikan mempengaruhi ekonomi. Ia dapat menghasilkan gangguan dan disabilitas fungsional dan membebani perusahaan-perusahaan di USA sebanyak 14,1 juta dolar pertahunnya, menurut NIH. Menurut NAMI penyakit ini menempati urutan ke-6 dari penyebab utama penyakit yang menimbulkan disabilitas diseluruh dunia dan merupakan diagnosis kesehatan jiwa yang paling mahal, baik untuk pasien dan penyedia asuransi.

BAB IIISI1. DefinisiGangguan bipolar merupakan kategori diagnostik yang menggambarkan sebuah kelas dari gangguan mood, dimana seseorang mengalami kondisi atau episode dari depresi dan/atau manik, hipomanik, dan/atau kondisi campuran. Jika dibiarkan tanpa terapi, akan menghasilakan kondisi psikiatrik dengan disabilitas berat. Perbedaan antara gangguan bipolar dan unipolar (juga dikenal dengan major depression) adalah bahwa gangguan bipolar melibatkan kondisi mood yang energetik atau teraktivasi sebagai tambahan dari kondisi mood yang depresi.Durasi dan intensitas dari kondisi mood bervariasi secara luas diantara orang-orang dengan penyakit tersebut. Fluktuasi dari satu kondisi mood ke kondisi lainnya disebut dengan cycling atau mood swings. Mood swing menyebabkan kelainan tidak hanya pada mood seseorang, tetapi juga pada level energi, pola tidur, level aktivitas, ritme social dan kemampuan berpikir seseorang. Banyak orang yang mengalami disabilitas untuk beberapa waktu lamanya dan ketika hal tersebut terjadi mereka mengalami gangguan fungsi yang berat. Gejala dari gangguan bipolar biasanya tetap sama dari satu episode ke episode lainnya pada seorang pasien, tetapi gejalanya dapat bertambah buruk atau malah membaik. Gejala dari manik mencakup euphoria, peningkatan kepercayaan diri, bicara cepat, pikiran yang berlomba-lomba, iratabilitas yang berlebihan, peningkatan energi dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Gejala dari depresi mencakup kesedihan, hilangnya minat pada aktifitas sehari-hari, cepat lelah dan adanya pikiran-pikiran tentang kematian. Gejala psikotik seperti halusinasi dan waham juga dapat muncul.Untuk hipomanik, gejalanya biasanya lebih tidak destruktif seperti mania dan orang-orang dengan hipomanik biasanya mengalami lebih sedikit gejala daripada mereka yang mengalami manik secara komplit. Durasinya juga lebih pendek dari pada mania. Hal ini seringkali menjadi keadaan yang artistik dari kelainan ini, karena terdapat flight of ideas, pemikiran yang brilliant dan peningkatan energi. Sementara siklotimik menyerupai gejala bipolar campuran, hanya saja destruktifitasnya tidaklah seperti manik atau depresif dan perjalanan penyakitnya kronis.Gangguan bipolar seringkali disalah-diagnosa karena orang yang sedang manik cenderung untuk tidak mencari pengobatan. Ketika terapi dicari saat episode depresif, kondisi ini dapat disalah tafsirkan sebagai gangguan depresi mayor. Diagnosis dari gangguan bipolar melibatkan sebuah evaluasi tentang kesehatan jiwa. Evaluasi ini mencakup riwayat lengkap dari gejala, termasuk onset, durasi dan keparahannya. Penegakan diagnosis juga mencakup pengekslusian penyebab lain yang dapat menyerupai gejala gangguan bipolar seperti penggunaan zat terlarang atau kelainan tiroid.2. Etiologi Penyebab gangguan bipolar multifaktor. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.4Faktor GenetikPenelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebagai contoh, sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada sanak saudara derajat pertama. Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien Gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu Gangguan mood, paling sering Gangguan depresif berat. Jika satu orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu Gangguan mood. Jika kedua orangtua menderita Gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita Gangguan mood.3Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara Gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22-q23, dan 21q22. Yang