Referat Fraktur Femur

  • View
    269

  • Download
    10

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Referat Fraktur Femur

Text of Referat Fraktur Femur

Referat

FRAKTUR FEMUR

Disusun oleh:Taufik Sofistiawan, S.Ked.1108152062

Pembimbing:Chairuddin Lubis, S.Ked., dr., Sp.OT.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAHPROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTERFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAUPEKANBARU2015KATA PENGANTARPuji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul Fraktur Femur.Referat ini disusun sebagai sarana untuk memahami Fraktur Femur, meningkatkan kemampuan menulis ilmiah di bidang kedokteran khususnya di Bagian Ilmu Bedah dan memenuhi salah satu persyaratan kelulusan Kepaniteraan Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau - Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Provinsi Riau.Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Chairuddin Lubis, S.Ked., dr., Sp.OT selaku pembimbing serta pihak yang telah membantu penulis dalam mengumpulkan bahan sumber tulisan ini.Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh sebab itu kritik dan saran sangat diharapkan penulis dari dokter pembimbing serta rekan-rekan Dokter Muda demi kesempurnaan referat ini. Semoga referat ini membawa manfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, April 2015 Penulis

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri berdampak pada peningkatan mobilitas masyarakat. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kejadian kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu-lintas merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke. Setiap tahun sekitar 60 juta penduduk Amerika Serikat mengalami trauma dan 50% diantaranya memerlukan tindakan medis, dimana 3,6 juta (12 %) diantaranya membutuhkan perawatan di Rumah Sakit. Diantara pasien fraktur tersebut terdapat 300 ribu orang menderita kecacatan yang bersifat menetap sebesar 1% sedangkan 30% mengalami kecacatan sementara. 1Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Femur merupakan tulang terkeras dan terpanjang pada tubuh, oleh karena itu butuh kekuatan benturan yang besar untuk menyebabkan fraktur pada femur. Insiden fraktur femur sebesar 1-2 kejadian pada per 10.000 jiwa penduduk setiap tahunnya. Kebanyakan penderita berusia produktif antara 25 65 tahun, laki-laki lebih banyak menderita terutama pada usia 30 tahun. Penyebab fraktur sangat bervariasi, baik akibat kecelakaan ketika mengendarai mobil, sepeda motor, dan kecelakaan ketika rekreasi.1,2Fraktur femur dapat menyebabkan pasien jatuh ke dalam syok. Oleh karena itu insidensi fraktrur femus harus segera ditangani sebagai suatu kegawat daruratan. Berdasarkan latar belakang diatas dan melihat besarnya komplikasi yang ditimbulkan fraktur femur, maka penulis tertarik untuk membuat suatu literatur khusus yang membahas mengenai Fraktur Femur ini.1.2Batasan MasalahReferat ini membahas tentang anatomi femur, definisi, etiologi, klasifikasi dan manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan fraktur femur dan komplikasi.1.3Tujuan Penulisan1. Memahami anatomi femur, definisi, etiologi, klasifikasi dan manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan fraktur femur dan komplikasi.2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan karya ilmiah dibidang ilmu kedokteran.3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau.1.4 Metode PenulisanMetode penulisan referat ini adalah menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu kepada beberapa literatur.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi femur3Femur merupakan tulang terpanjang dan terkeras yang ada pada tubuh dan dikelompokkan ke dalam ekstremitas bagian bawah. Di sebelah atas, femur bersendi dengan acetabulum untuk membentuk articulatio coxae dan di bawah dengan tibia dan patella untuk membentuk articulatio genus. Ujung atas femur memiliki caput, collum, trochanter major, dan trochanter minor.

Gambar 2.1 Anatomi Femur

Caput membentuk dua pertiga dari bulatan dan bersendi dengan acetabulum os coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yang berguna sebagai tempat melekatnya ligamentun capitis femoris. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dari arteri obturatoria dihantarkan melalui ligamentum ini dan memasuki tulang melalui fovea capitis.Collum yang menghubungkan caput dengan corpus berjalan ke bawah, belakang, dan lateral serta membentuk sudut 125 dan lebuh kecil pada perempuan dengan sumbu panjang corpus femoris. Besarnya sudut ini dapat berubah karena adanya penyakit. Trochanter mayor dan minor merupakan tonjolan yang besar pada taut antara collum dan corpus. Linea intertrocanterica menghubungkan kedua trocanter ini di bagian anterior, tempat melekatnya ligamentum iliofemorale dan di bagian posterior oleh crista intertrochanterica yang menonjol, pada crista ini terdapat tuberculum quadratum.Corpus femoris permukaan anteriornya lebih licin dan bulat, sedangkan permukaan posterior mempunyai rigi yang disebut linea asoera. Pada linea ini melekat otot-otot dan septa intermuskularis. Garis tepi linea melebar ke atas dan ke bawah. Tepi medial berlanjut ke distal sebagai crista supracondylaris medialis yang menuju ke tuberculum adductorum pada condylus medial. Tepi lateral melanjutkan diri ke distal sebagai crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior corpus, tepatnya dibawah trochanter major terdapat tuberositas glutea sebagai tempat melekatnya musculus gluteus maximus. Corpus melebar kearah ujung distalnya dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya yang disebut facies poplitea.Ujung bawah femur memiliki condyli medialis dan lateralis yang bagian posteriornya dipisahkan oleh insisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus ikut serta dalam pembentukan articulatio genus. Diatas condyli terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberkulum adductorum dilanjytkan oleh epicondylus medialis.Ruang fascia anterior tungkai atas diisi oleh musculus sartorius, muskulus iliacus, musculus psoas, musculus pectineus dan musculus cuadriceps femoris. Dipersarafi oleh nervus femoralis ruang anterior facia tungkai atas dialiri pembuluh darah arteri femoralis. Ruang fascia medial tungkai atas diisi oleh musculus gracilis, musculus adductor longus, musculus adductor magnus, musculus obturatorius externus dengan dipersarafi oleh nervus obturatorius ruang fascial medial diperdarahi oleh arteri profunda femoris dan arteri obturatoria. Ruang fascia posterior tungkai atas diisi oleh musculus biceps femoris, msculus semitendinosus, musculus semimembranosus, dan sebagian kecil musculus adductor magnus (otot-otot hamstring)/ dipersarafi oleh nervus ischiadicus ruang fascia posterior tungkai atas diperdarahi oleh cabang-cabang arteri profunda femoris.2.2 Definisi Fraktur femurFraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Femur merupakan tulang terkeras dan terpanjang pada tubuh, oleh karena itu butuh kekuatan benturan yang besar untuk menyebabkan fraktur pada femur2. Patah pada daerah ini dapat disertai perdarahan hebat karena femur dialiri oleh arteri besar (arteri femoralis). Pemeriksaan tanda-tanda perdarahan wajib dilakukan pada fraktur tertutup (perabaan pulsasi arteri)9. Pada fraktur terbuka, bebat tekan merupakan pilihan utama untuk membantu mengurangi perdarahan. Perdarahan yang cukup banyak dapat mengakibatkan penderita jatuh ke dalam syok.2.3 Etiologi Penyebab fraktur femur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, dan mayoritas fraktur akibat kecelakaan lalu lintas. Trauma-trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, cidera olah raga. Trauma bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan langsung apabila terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan secara tidak langsung apabila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan1. 2.4 Klasifikasi dan gejala klinisSecara umum, klasifikasi fraktur dibagi menjadi: 2, 51. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar.- Fraktur tertutup Fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.- Fraktur terbuka Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak. Menurut Gustilo, derajat fraktur terbuka adalah sebagai berikut:Tabel 2.1 Derajat fraktur terbuka 2,5DerajatLukaKerusakan JaringanFraktur

ILuka akibat tusukan fragmen tulang, bersih, ukuran < 1 cmSedikit kerusakan jaringan, tidak terdapat tanda trauma yang hebatFraktur simpel, transversal, oblik pendek atau sedikit kominutif

IILuka > 1 cm, sedikit terkontaminasiKerusakan jaringan sedang, tidak ada avulsi kulitDislokasi fragmen tulang jelas

IIILuka lebar, rusak hebat, kontaminasi hebatKerusakan jaringan hebat termasuk otot, kulit, dan struktur neurovaskulerKominutif, segmental, fragmen tulang ada yang hilang

IIIaLuka lebar dan rusak hebatJaringan lunak cukup menutup tulang yang patahKominutif atau segmental yang hebat

IIIbLuka lebar dan rusak hebat, kontaminasi hebatKerusakan hebat dan kehilangan jaringan, terdapat pendorongan periosteum, tulang terbukaKominutif yang hebat

IIIcLuka lebar dan rusak hebat, kontaminasi hebatKerusakan arteri yang memerlukan perbaikan tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jaringan lunakKuminutif yang hebat

Fraktur dengan komplikasiFraktur yang disertai dengan komplikasi seperti malunion, delayed union, nonunion dan infeksi tulang. 2. Menurut etiologis- Fraktur traumatik Terjadi karena trauma yang tiba-tiba.- Fraktur patologis Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis pada tulang maupun di luar tulang, misalnya tumor, infeksi atau osteoporosis. - Fraktur stres Terjadi karena beban lama atau trauma ringan yang terus-menerus pada suatu tempat tertentu, misalnya fraktur pada tulang tibia atau metatarsal pada tentara atau olehragawan yang sering berlari atau baris-berbaris.

3. Menurut gambaran radiologisKlasifikasi ini berdasarkan atas:-Lokalisasia. Diafisialb. Metafisialc. Intraartikulerd. Fraktur dengan dislokasi-Konfigurasia. Fraktur transversalb. Fraktur oblikc. Fraktur spirald. Fraktur Ze. Fraktur segmentalf. Fraktur kominutifj. Fraktur impaksik. Fraktur pecah (burst)l. Fraktur epifisis-Ekstensia. Fraktur komplitApabila garis patah yang melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.

b. Fraktur inkomplitApabila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti buckle fracture, hairline fracture, dan green stick fracture.-Hubungan antar fragmen tulanga. Tidak bergeser (undisplaced)b. Bergeser (displaced), dapat terjadi dalam 6 cara yaitu; bersampingan, angulasi, rotasi, distraksi, impaksi dan over riding.Manifestasi klinis fraktur femur secara umum adalah sebagai berikut : a) Nyerib) Ketidak mampuan untuk menggerakkan kakic) Deformitasd) BengkakDampak dari fraktur femur menyebabkan adanya gangguan pada aktivitas individu dimana rata-rata individu tidak bekerja atau tidak sekolah selama 30 hari, dan mengalami keterbatasan aktivitas selama 107 hari.Fraktur femur dapat terjadi mulai dari proksimal sampai ke distal tulang. Berdasarkan letak patahannya, fraktur femur dekategorikan sebagai2:a. Fraktur leher femurb. Fraktur trokanterikc. Fraktur subtrokanterikd. Fraktur diafisise. Fraktur suprakondilerf. Fraktur kondiler Gambar 2.2 Anatomi Lokasi Fraktur Femur2.4.1 Fraktur leher femurFraktur leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada orang tua terutama wanita umur 60 tahun ke atas disertai tulang yang osteoporosis.

Gambar 2.3 Fraktur Leher Femur

2.4.1.1 Mekanisme traumaJatuh pada daerah trokanter baik karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari tempat tidak terlalu tinggi seperti terpeleset di kamar mandi dimana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi.2.4.1.2 Klasifikasi1. Hubungan terhadap kapsul Ekstrakapsuler Intrakapsuler2. Sesuai lokasi Sub-kapital Trans-servikal Basal3. Radiologisa. Berdasarkan keadaan fraktur Tidak ada pergeseran fraktur Fragmen distal, rotasi eksterna, abduksi dan dapat bergeser ke proksimal Fraktur impaksib. Klasifikasi menurut Garden Tingkat I;Fraktur impaksi yang tidak total Tingkat II;Fraktur total tetapi tidak bergeser Tingkat III;Fraktur total disertai dengan sedikit pergeseran Tingkat IV;Fraktur disertai dengan pergeseran yang hebatc. Klasifikasi menurut PauwelKlasifikasi ini berdasarkan atas sudut inklinasi leher femur.

Gambar 2.4 Klasifikasi Sudut Inklinasi Leher Femur Tipe I:Fraktur dengan garis fraktur 30 Tipe II:Fraktur dengan garis fraktur 50 Tipe III: Fraktur dengan garis fraktur 702.4.1.3 PatologiKaput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber, yaitu:a. Pembuluh darah intrameduler di dalam leher femurb. Pembuluh darah servikal asendens dalam retinakulum kapsul sendic. Pembuluh darah dari ligamen yang berputarPada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intrameduler dan pembuluh darah retinakulum selalu mengalami robekan, bila terjadi pergeseran fragmen. Fraktur transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler yang mempunyai kapasitas yang sangat rendah dalam penyembuhan karena adanya kerusakan pembuluh darah, periosteum yang rapuh serta hambatan dari cairan sinovia.2.4.2 Fraktur daerah trokanterFraktur daerah trokanter biasa juga disebut fraktur trokanterik (intertrokanterik) adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Fraktur ini bersifat ekstra-artikuler dan sering terjadi pada orang tua di atas umur 60 tahun.

Gambar 2.4 Fraktur Trokanter Femur2.4.2.1 Mekanisme traumaFraktur trokanterik terjadi bila penderita jatuh dengan trauma langsung pada trokanter mayor atau pada trauma yang bersifat memuntir. Keretakan tulang terjadi antara trokanter mayor dan minor dimana fragmen proksimal cenderung bergeser secara varus. Fraktur dapat bersifat komunitif terutama pada korteks bagian posteromedial.2.4.2.2 KlasifikasiFraktur trokanterik dapat dibagi atas:a. Stabilb. Tidak stabilDisebut fraktur tidak stabil bila korteks bagian medial remuk dan fragmen besar mengalami pergeseran terutama trokanter minor.Fraktur trokanterik diklasifikasikan atas empat tipe, yaitu: Tipe IFraktur melewati trokanter mayor dan minor tanpa pergeseran Tipe IIFraktur melewati trokanter mayor disertai pergeseran trokanter nimor Tipe IIIFraktur disertai dengan fraktur komunitif Tipe IVFraktur yang disertai dengan fraktur spiral femur2.4.2.3 Gambaran klinisPenderita lanjut usia dengan riwayat trauma pada daerah femur proksimal. Pada pemeriksaan didapatkan pemendekan anggota gerak bawah disertai rotasi eksterna.

2.4.3 Fraktur subtrokanterFraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya akibat trauma yang hebat.2.4.3.1 Gambaran klinisAnggota gerak bawah dalam keadaan rotasi eksterna, memendek dan ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur disertai nyeri pada pergesekan.2.4.4 Fraktur diafisis femurFraktur diafisis femur dapat terjadi pada setiap umur, biasanya karena trauma hebat misalnya kecelakaan lalu lintas atau trauma lain misalnya jatuh dari ketinggian. Femur diliputi oleh otot yang kuat dan merupakan proteksi untuk tulang femur, tetapi juga daat berkibat jelek karena dapat menarik fragmen fraktur sehingga bergeser. Femur dapat pula mengalami fraktur patologis akibat metastasis tumor ganas. Fraktur femur sering disertai dengan perdarahan masif yang harus selalu dipikirkan sebagai penyebab syok.2.4.4.1 Mekanisme traumaFraktur spiral terjadi apabila jatuh dengan posisi kaki melekat erat pada dasar sambil terjadi putaran yang diteruskan pada femur. Fraktur yang bersifat transversal dan oblik terjadi karena trauma langsung dan trauma angulasi.

2.4.4.2 KlasifikasiFraktur femur dapat bersifat tertutup atau terbuka, simpel, komunitif, fraktur Z atau segmental.2.4.4.3 Gambaran klinisPenderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai dan mungkin datang dalam keadaan syok.2.4.5 Fraktur suprakondiler femurDaerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Terapi konservatif dengan cara lutut difleksi dilakukan untuk menghilangkan tarikan otot.2.4.5.1 Mekanisme traumaFraktur terjadi karena tekanan varus atau valgus disertai kekuatan aksial dan putaran.2.4.5.2 Klasifikasi1. Tidak bergeser2. Impaksi3. Bergeser4. Komunitif

Gambar 2.5 Fraktur Suprakondiler FemurPergeseran terjadi pada fraktur oleh karena tarikan otot sehingga pada terapi konservatif lutut harus difleksi untuk menghilangkan tarikan otot.

Gambar 2.6 Mekanisme Pergeseran Fraktur Suprakondiler2.4.5.3 Gambaran klinisBerdasarkan anamnesis ditemukan riwayat trauma yang disertai pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Pada pemeriksaan mungkin ditemukan adanya krepitasi.2.4.6 Fraktur suprakondiler femur dan fraktur interkondilerMenurut Neer, Grantham, Shelton (1967) Tipe I: Fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T Tipe IIA: Fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafisis (bentuk Y) Tipe IIB: Sama seperti IIA tetapi bagian metafisis lebih kecil Tipe III: Fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler yang tidak total

Gambar 2.7 Klasifikasi Fraktur Suprakondiler dan Interkondiler Femur2.4.7 Fraktur kondilus femur2.4.7.1 Klasifikasi Tipe I; Fraktur kondilus dalam posisi sagital Tipe II; Fraktur dalam posisi koronal dimana bagian posterior kondilus femur bergeser Tipe III; Kombinasi antara sagital dan koronal

Gambar 2.8 Klasifikasi Fraktur Kondilus Femoris2.4.7.2 Gambaran klinisTerdapat trauma pada lutut disertai nyeri dan pembengkakan. Mungkin ditemukan krepitasi dan hemaartrosis sendi lutut.2.5 Diagnosisa. AnamnesisPada anamnesis biasanya didapatkan adanya riwayat trauma, baik yang hebat maupun trauma ringan diikuti dengan rasa nyeri dan ketidakmampuan untuk menggunakan ekstremitas bawah. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin terjadi di daerah lain. Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. Riwayat cedera atau fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang dia konsumsi, merokok, riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain. Bila tidak ada riwayat trauma, teliti apakah ada kemungkinan fraktur patologis. 2,5b. Pemeriksaan fisikPada pemeriksaan awal perlu diperhatikan adanya tanda syok, anemia atau perdarahan, kerusakan organ lainnya dan faktor predisposisi seperti pada fraktur patologis. Pada pemeriksaan lokal, dilakukan tiga hal penting yakni inspeksi/look, palpasi/feel, dan pergerakan/move. Pada look dinilai adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, pemendekan atau pemanjangan, bengkak, luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau terbuka. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada feel adalah adanya nyeri tekan, krepitasi dan temperatur setempat yang meningkat. Pada feel juga perlu dinilai keadaan neurovaskuler pada daerah distal trauma berupa pulsasi arteri, warna kulit, waktu pengisian kapiler dan sensasi. Pergerakan dinilai dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah trauma. Kemudian dinilai adanya keterbatasan pada pergerakan sendi tersebut.2,6c. Pemeriksaan radiologisPemeriksaan radiologis berupa foto polos dapat digunakan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan prinsip rule of two: dua posisi, dua sendi, dua anggota gerak, dua trauma, dua kali dilakukan foto.

2.6 PenatalaksanaanSebelum melakukan penanganan pada suatu fraktur, perlu dilakukan pertolongan pertama pada penderita seperti pembebasan jalan nafas, penilaian ventilasi, menutup luka dengan verban steril, penghentian perdarahan dengan balut tekan dan imobilisasi fraktur sebelum diangkut dengan ambulans. Penderita dengan fraktur multipel biasanya datang dengan syok sehingga diperlukan resusitasi cairan dan transfusi darah serta pemberian obat anti nyeri.2,9Penanganan fraktur mengikuti prinsip umum pengobatan kedokteran yaitu jangan membuat keadaan lebih jelek, pengobatan didasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat, seleksi pengobatan dengan tujuan khusus seperti menghilangkan nyeri, memperoleh posisi yang baik dari fragmen, mengusahakan terjadinya penyambungan tulang dan mengembalikan fungsi secara optimal, mengingat hukum penyembuhan secara alami, bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan, dan seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual2.Terdapat empat prinsip dalam penanganan fraktur, yaitu:2,5,91. Recognition, dengan mengetahui dan menilai keadaan fraktur dari anamnesis, pemeriksaan klinis dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi.2. Reduction, reduksi fraktur apabila diperlukan. Posisi yang baik adalah alignment dan aposisi yang sempurna. Reduksi terbaik adalah kontak minimal 50% dan overriding