Click here to load reader

referat Dm, Ulkus, Ht, Obes

  • View
    16

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

referat DM, ulkus, HT, obes

Text of referat Dm, Ulkus, Ht, Obes

Laporan Kunjungan Kasus Diabetes Melitus Tipe II pada Tn. S dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Kembangan Selatan, Kecamatan Kembangan, Kabupaten Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta, Periode 28 Februari 10 April 2015BAB IPENDAHULUANI.1. Latar belakangKedokteran keluarga adalah suatu pengetahuan kedokteran yang memberi perhatian khusus mengenai masalah kesehatan untuk individu dan keluarga sebagai satu unit secara komprehensif dan berkelanjutan (Azwar, 1997). Pelayanan dokter keluarga adalah upaya kesehatan dasar paripurna, mencakup semua kebutuhan dasar kesehatan dalam keluarga, yaitu, dokter keluarga sebagai pemberi layanan (care provider), pengambil keputusan (decision maker), penyampai pesan kesehatan (communicator), pemimpin kelompok (community leader), serta koordinator pemeliharaan kesehatan (Manager) (BUKD, 2013).Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari hormon insulin itu sendiri. Apabila dibiarkan tidak terkendali, diabetus mellitus dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat fatal, misalnya terjadi penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan lain-lain. Menurut data stastistik tahun 1995 dari WHO terdapat 135 juta penderita Diabetes Mellitus di seluruh dunia. Tahun 2005 jumlah Diabetes Mellitus diperkirakan akan meningkat mencapai sekitar 230 juta, dan diprediksi jumlah penderita Diabetes Mellitus lebih dari 220 juta penderita di tahun 2010.Saat ini penyakit Diabetes Mellitus banyak dijumpai penduduk Indonesia. Bahkan WHO menyebutkan, jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia menduduki ranking empat setelah India, China, dan Amerika Serikat. Berdasarkan data WHO tahun 2000, terdapat 40.903.000 jiwa di Asia Tenggara yang menderita diabetes mellitus, dan 8,426,000 jiwa berada di Indonesia.Hasil penelitian epidemiologi di Jakarta Jumat, 25 Jan 2008 oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) membuktikan adanya peningkatan prevalensi Diabetes Mellitus dari 1,7 % pada tahun 1982 menjadi 5,7% ditahun 1993, yang disusul pada 2001 di Depok (sub-urban Jakarta) menjadi 14,7%, dan diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia akan mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care,2004).Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Mellitus yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Mellitus yang tidak terdiagnosis. Dan diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat Diabetes Mellitus pada kelompok usia 45-54 tahun didaerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.Data pada Kelurahan Kembangan Selatan sendiri mencatat setidaknya terdapat 193 kasus baru untuk penderita Diabetes Mellitus yang langsung terdiagnosa pada kunjungan pertama, dimana penderita terbanyak merupakan wanita dengan usia diatas 40 tahun.Alasan kami melakukan kunjungan keluarga terhadap pasien Tn. S adalah karena kadar gula darah yang masih belum dapat terkontrol dengan obat dan luka yang tidak kunjung sembuh pada punggung kanan bawah, akibat pasien tidak mau melakukan perawatan luka dipuskesmas oleh tenaga medis dengan alasan takut lukanya bertambah parah, malas mengantri dan tidak adanya biaya untuk berobat. Ditakutkan apabila hal tersebut terus berlanjut, maka dapat terjadi komplikasi berupa amputasi bagian yang mengalami perlukaan akibat gangren pada luka yang telah ada, atau bahkan menjadi sepsis dan ditakutkan juga akan munculnya luka baru akibat ketidaktahuan pasien tentang penyakitnya dan cara menjaga kebersihan pada pasien DM.I.2. PermasalahanI.2.1 Pernyataan masalahTidak terkendalinya kadar gula darah pada Tn. S yang menyebabkan munculnya ulkus diabetikum.I.2.2 Pertanyaan masalah1. Apa faktor-faktor risiko yang menyebabkan Tn. S menderita diabetes mellitus?1. Apa faktor-faktor internal berdasarkan Mandala of Health yang menyebabkan tidak terkendalinya kadar gula darah pada Tn. S yang menyebabkan munculnya ulkus diabetikum?1. Apa faktor-faktor eksternal berdasarkan Mandala of Health yang menyebabkan tidak terkendalinya kadar gula darah pada Tn. S yang menyebabkan munculnya ulkus diabetikum?1. Bagaimana alternatif jalan keluar untuk mengatasi masalah yang ada?I.3 TujuanI.3.1 Tujuan UmumTerkendalinya kadar gula darah Tn.S sehingga mencegah terjadinya ulkus diabetikum.I.3.2 Tujuan Khusus1. Diketahuinya faktor-faktor risiko yang menyebabkan tidak terkendalinya kadar gula darah pada Tn. S yang menyebabkan munculnya ulkus diabetikum.1. Diketahuinya faktor-faktor internal berdasarkan Mandala of Health yang menyebabkan tidak terkendalinya kadar gula darah pada Tn. S yang menyebabkan munculnya ulkus diabetikum.1. Diketahuinya faktor-faktor eksternal berdasarkan Mandala of Health yang menyebabkan tidak terkendalinya kadar gula darah pada Tn. S yang menyebabkan munculnya ulkus diabetikum.1. Diketahuinya alternatif jalan keluar untuk mengatasi masalah yang ada.

BAB IIKERANGKA TEORI

DIABETES MELLITUS1. DefinisiMenurut American Diabetes Association (ADA) 2010, diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut ataupun relatif dan gangguan fungsi insulin. WHO telah mengidentifikasi 3 macam diabetes, yaitu diabetes mellitus tipe 1 atau insuline dependent diabetes mellitus (IDDM), tipe 2 atau non-insuline dependent diabetes mellitus (NIDDM), dan diabetes mellitus gestasional.

2. KlasifikasiKlasifikasi etiologis diabetes mellitus menurut PERKENI (ADA,2011):

a. Diabetes mellitus tipe IDestruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut baik melalui proses imunologik maupun idiopatik.b. Diabetes mellitus tipe IIBervariasi, mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin bersama resistensi insulin.c. Diabetes mellitus tipe lain1. Defek genetik fungsi sel beta

2. Defek genetik kerja insulin

3. Penyakit eksokrin pankreas

4. Endokrinopati

5. Obat atau zat kimia: vacor, pentamidin, asam nikotinat, lukokortikoid, hormon tiroid, tiazid, dilantin, interferon-alfa, dll6. Infeksi

7. Sebab imunologi yang jarang

8. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM

d. Diabetes mellitus gestasional (DMG)

3. Manifestasi KlinikKeluhan umum pada pasien Diabetes Mellitus seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada Diabetes Mellitus lanjut usia pada umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada Diabetes Mellitus lanjut usia, terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menjadi tua sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai dengan komplikasi yang lebih lanjut. Hal yang sering menyebabkan pasien datang berobat ke dokter adalah adanya keluhan yang mengenai beberapa organ tubuh, antara lain:a) Gangguan penglihatan: katarakb) Kelainan kulit: gatal dan bisul-bisulc) Kesemutan, rasa baald) Kelemahan tubuhe) Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh f) Infeksi saluran kemih

Kelainan kulit berupa gatal, biasanya terjadi di daerah genital ataupun daerah lipatan kulit lain, seperti di ketiak dan di bawah payudara, biasanya akibat tumbuhnya jamur. Sering pula dikeluhkan timbulnya bisul-bisul atau luka lama yang tidak mau sembuh. Luka ini dapat timbul akibat hal sepele seperti luka lecet karena sepatu, tertusuk peniti dan sebagainya. Rasa baal dan kesemutan akibat sudah terjadinya neuropati juga merupakan keluhan pasien, disamping keluhan lemah dan mudah merasa lelah. Keluhan lain yang mungkin menyebabkan pasien datang berobat ke dokter adalah keluhan mata kabur yang disebabkan oleh katarak ataupun gangguan- gangguan refraksi akibat perubahan-perubahan pada lensa akibat hiperglikemia.Tanda-tanda dan gejala klinik diabetes melitus pada lanjut usia:a) Penurunan berat badan yang drastis dan katarak yang sering terjadi pada gejala awalb) Infeksi bakteri dan jamur pada kulit (pruritus vulva untuk wanita) dan infeksi traktus urinarius sulit untuk disembuhkan.c) c. Disfungsi neurologi, termasuk parestesi, hipestesi, kelemahan otot dan rasa sakit, mononeuropati, disfungsi otonom dari traktus gastrointestinal (diare),sistem kardiovaskular (hipotensi ortostatik), sistem reproduksi (impoten), dan inkontinensia stress.d) Makroangiopati yang meliputi sistem kardiovaskular (iskemia, angina, dan infark miokard), perdarahan intra serebral (TIA dan stroke), atau perdarahan darah tepi (tungkai diabetes dan gangren).e) Mikroangiopati meliputi mata (penyakit makula, hemoragik, eksudat), ginjalf) (proteinuria, glomerulopati, uremia)

4. AnamnesisBanyak pasien dengan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang asimptomatik dan baru diketahui adanya peningkatan kadar gula darah pada pemeriksaan laboratorium rutin. Para ahli masih berbeda pendapat mengenai kriteria diagnosis Diabetes Mellitus pada lanjut usia. Kemunduran, intoleransi glukosa, bertambah sesuai dengan pertambahan usia, jadi batas glukosa pada Diabetes Mellitus lanjut usia lebih tinggi dari pada orang dewasa yang menderita penyakit Diabetes Mellitus.Kriteria diagnostik Diabetes Mellitus dan gangguan toleransi glukosa (WHO 1985):a) Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) 200mg/ dl, ataub) Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) 126 mg/dl, atauc) Kadar g