38
REFRAT PENATALAKSANAAN TERBARU DIARE PADA ANAK Pembimbing dr. Finariawan,M. Kes, Sp. A Penyusun : Ndarumas Vany K.N (J500080011) Khoirotunnisa U.H (J500080049) Intan Rindy Mega D (J500080076) KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

referat diare ANAK 1

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: referat diare ANAK 1

REFRAT

PENATALAKSANAAN TERBARU DIARE PADA ANAK

Pembimbing

dr. Finariawan,M. Kes, Sp. A

Penyusun :

Ndarumas Vany K.N (J500080011)

Khoirotunnisa U.H (J500080049)

Intan Rindy Mega D (J500080076)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAKRSUD DR. HARJONO PONOROGO

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2012

Page 2: referat diare ANAK 1

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Penyakit diare adalah penyebab utama morbiditas dan kematian anak di

negara berkembang, dan penyebab penting kekurangan gizi. Pada tahun 2003

diperkirakan 1.87 juta anak-anak di bawah 5 tahun meninggal karena diare.

Delapan dari 10 kematian ini terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan.

Rata-rata, anak-anak di bawah usia 3 tahun pada negara-negara berkembang

mengalami tiga episode diare setiap tahun. Diare yang terjadi pada banyak

negara, termasuk kolera, juga merupakan penyebab penting morbiditas di

antara anak-anak dan orang dewasa.

Banyak kematian diare disebabkan oleh dehidrasi. Sebuah perkembangan

penting telah menemukan bahwa dehidrasi akibat diare akut dari setiap

etiologi dan pada usia berapa pun, kecuali bila parah, dapat dengan aman dan

secara efektif diobati dengan metode sederhana oral rehidrasi menggunakan

cairan tunggal pada lebih dari 90% kasus. Glukosa dan beberapa campuran

garam yang dikenal sebagai Garam Rehidrasi Oral (Oral Rehidration Salts

(ORS) atau oralit) yang dilarutkan dalam air untuk membentuk larutan ORS

atau oralit. Larutan ORS diserap di usus kecil bahkan selama terjadi diare

yang berlebihan, sehingga menggantikan air dan elektrolit hilang yang dalam

tinja. Larutan ORS dan cairan lain juga dapat digunakan sebagai perawatan di

rumah untuk mencegah dehidrasi. Setelah penelitian selama 20 tahun, telah

dilakukan perkembangan dari larutan ORS. Disebut larutan ORS osmolaritas

rendah, larutan ORS baru ini sebanyak 33% mengurangi kebutuhan tambahan

terapi cairan IV setelah rehidrasi awal bila dibandingkan dengan standar

larutan ORS WHO sebelumnya. Larutan oralit baru juga mengurangi insiden

muntah sebanyak 30% dan volume diare sebesar 20%. Larutan ORS

osmolaritas rendah baru ini, mengandung 75 mEq / l natrium dan 75 mmol / l

glukosa, dan sekarang perumusan ORS ini secara resmi direkomendasikan

oleh WHO dan UNICEF. Dalam dokumen yang direvisi ini, ketika ORS /

Page 3: referat diare ANAK 1

ORT disebutkan, artinya mengacu pada larutan ORS osmolaritas rendah baru

ini.

Unsur penting dalam pengelolaan anak dengan diare adalah penyediaan

terapi rehidrasi oral dan terus menyusui, dan penggunaan antimikroba hanya

untuk anak dengan diare berdarah, kasus kolera yang parah, atau infeksi non-

usus serius. Para pengasuh anak-anak yang masih muda juga harus diajarkan

tentang praktek-praktek cara pemberian makanan dan kebersihan yang dapat

mengurangi morbiditas diare.

Pedoman penatalaksanaan diare di Indonesia saat ini merujuk pada

pedoman penatalaksanaan diare yang dikeluarkan Departemen Kesehatan

Republik Indonesia (Depkes RI) pada tahun 1999. Sedangkan World Health

Organization (WHO) telah mengeluarkan pedoman penatalaksanaan diare

terbaru pada tahun 2005.

B. Tujuan penulisan

 Penulisan referat ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis, diagnosis

dan penatalaksanaan yang terbaru diare pada anak.

Page 4: referat diare ANAK 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Diare

Diare ialah buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari

biasanya, ≥ 3 kali per hari, dapat/tidak disertai dengan lendir/darah yang timbul

secara mendadak dan berlangsung kurang dari 2 minggu.

Diare adalah buang air besar yang sering dan cair, biasanya paling tidak

tiga kali dalam 24 jam. Namun, lebih penting konsistensi tinja daripada

jumlah. Seringkali, buang air besar yang berbentuk bukanlah diare. Hanya bayi

yang diberi ASI sering buang air besar, buang air besar yang "pucat" juga

bukan diare.

B. Jenis-jenis Diare

Diare terdiri dari beberapa jenis yang dibagi secara klinis, yaitu :

a. Diare cair akut (termasuk kolera), berlangsung selama beberapa jam atau

hari. mempunyai bahaya utama yaitu dehidrasi dan penurunan berat badan

juga dapat terjadi jika makan tidak dilanjutkan.

b. Diare akut berdarah, yang juga disebut disentri, mempunyai bahaya utama

yaitu kerusakan mukosa usus,sepsis dan gizi buruk, mempunyai komplikasi

seperti dehidrasi.

c. Diare persisten, yang berlangsung selama 14 hari atau lebih, bahaya

utamanya adalah malnutrisi dan infeksi non-usus serius dan dehidrasi.

d. Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor) mempunyai

bahaya utama adalah infeksi sistemik yang parah, dehidrasi, gagal jantung

dan kekurangan vitamin dan mineral.

Page 5: referat diare ANAK 1

C. Etiologi diare

Tabel 1. Etiologi Diare AkutInfeksi1. Enteral

Bakteri: Shigella sp, E. Coli patogen, Salmonella sp, Vibrio cholera, Yersinia entreo colytica, Campylobacter jejuni, V. Parahaemoliticus, VNAG, Staphylococcus aureus, Streptococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Aeromonas, Proteis, dll

Virus: Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Norwalk like virus, cytomegalovirus (CMV), echovirus , virus HIV

Parasit – Protozoa: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporadium parvum, Balantidium coli.

Worm: A. Lumbricoides, cacing tambang, Trichuris trichura, S. Sterocoralis, cestodiasis dll

Fungus: Kardia/moniliasis2. Parenteral: Otitits media akut (OMA), pneumonia, Traveler’s diartthea:

E.Coli, Giardia lamblia, Shigella, Entamoeba histolytica, dll Intoksikasi makanan: Makanan beracun atau mengandung logam berat,

makanan mengandung bakteri/toksin: Clostridium perfringens, B. Cereus, S. aureus, Streptococcus anhaemohytivus, dll

Alergi: susu sapi, makanan tertentu Malabsorpsi/maldifesti: karbohidrat: monosakarida (glukosa, galaktosa,

fruktosa), disakarida(laktosa, maltosa, sakarosa), lemak: rantai panjang trigliserida, protein: asam amino tertentu, celiacsprue gluten malabsorption, protein intolerance, cows milk, vitamin &mineral

ImunodefisiensiTerapi obat, antibiotik, kemoterapi, antasid, dllTindakan tertentu seperti gastrektomi, gastroenterostomi, dosis tinggi terapi radiasiLain-lain: Sindrom Zollinger-Ellison, neuropati autonomik (neuropatik diabetik)

Tabel 2. Etiologi Diare kronik berdasarkan patofisiologiJenis Diare Etiologi

1. Diare osmotik A. Eksogen1. Makanan cairan yang aktif osmotik, sulit

diabsorbsi seperti katartik sulfat dan fosfat, antasida, laktulosa dan sorbitol

2. Obat-obatan lain: kolkisin, paraamino asam salisilac, antibiotika, anti kanker, anti depresan, anti hipertensi, anti konvulsan, obat penurun kolesterol, obat diabetes mellitus, diuretika, theofilin

Page 6: referat diare ANAK 1

2. Diare sekretorik

3. Malabsorbsi asam empedu, malansorbsi lemak

4. Defek pada sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit

5. Motilias dan waktu transit usus abnormal

6. Gangguan permeabilitas usus

7. Eksudasi cairan, elektrolit dan mukus berlebihan

B. Endogen1. Kongenital: kelainan malabsorpsi spesifik,

penyakit malabsorpsi umum2. Didapat: kelainan malabsorpsi spesifik,

penyakit malabsorpsi umumA. InfeksiB. Neoplasma: Gastrinoma, sindrom Zollinger

Ellison, Ca meduler tirois, Adenoma Vilosa, Kolera pankreatik/vasoaktif intersinal polypeptide (vipoma), yumor/sindrome karsinoid

C. Hormon & Neurotransmiter:Secretine, Prostaglandin E, Cholecystokinine, Kolinergik, Serotonin, Calcitonine, Gastric Inhibitory Polipeptide, Glukagon, Substansi P

D. Katartik: hidroksi asam empedu (asam dioksilat dan kenodioksilat) dan hidroksi asam lemak (resinoleat kastroli)

E.Kolitis mikroskopik (limfositik), kolagenF.Lain-lain: Dioctyl natrium sulfosuccinaat, diare

asam empedu karena pasca kolesistektomi, reseksi ileum terminal, alergi makanan, enterokolitis iskemik

A. Maldigesti intraluminal: Sirosis hati, obstruksi saluran empedu, pertumbuhan bakteri yang berlebihan (Bacterial overgrowth), insufisiensi eksokrin pankreas, insufisiensi endokrin pankreaik kronik, fibrosis kistik, somatostatinoma

B. Malabsorpsi mukosa: Obat, penyakit infeksi, penuakit sistem imun (systemic mastocytosis, gastroenteritis eosinofilik), spru tropik, spru seliak, dermatitis herpetiformis, penyakit Whipple, Abetalipoprote inemia

C. Obstruksi pasca mucosa: limflangiektasia intestinal kongenital atau didapat karena trauma, limfoma, karsinoma atau penyakit Whipple

D. Campuran: sindrom usus pendek (short bowel), penyakit metabolik (tirotoksikodid, indufisiensi adrenal, malnutrisi protein-kalori), enterokolitis radiasi

A. Infeksi ususB. Kongenital:

1. Diare klorida kongenital2. Diare karena kelainan transpor Na+ usus

Sindrom kolon iritabel (psikogen), hipertiroid, diabates melitus dengan

Page 7: referat diare ANAK 1

polineuropati otonom, skleroderma, amiloidosis, pasca reseksi lambung dan vagotomi, sindrom karsinoid, obat prostigmin

A. Penyakit seliakB. Penyakit usus inflamatorikC. Infeksi ususKolitis ulseratif, Penyakit Srohn, Amubiasis, Shigelasis, Kampilobakteriasis, Yersiniasis, Enterokolitis radiasi, Gandidiasis, TB usus, Kanker usus, Kolitis pseudomembran

D. Patogenesis

Diare terjadi karena adanya gangguan proses absorpsi dan sekresi cairan serta

elektrolit di dalam saluran cerna. Pada keadaan normal, usus halus akan

mengabsorbsi Na+, Cl-, HCO3-. Timbulnya penurunan dalam absorpsi

dan peningkatan sekresi mengakibatkan cairan berlebihan melebihi kapasitas

kolon dalam mengabsorpsi.Mekanisme ini sangat dipengaruhi oleh faktor

mukosa maupun faktor intra luminal saluran cerna. Faktor mukosa dapat

berupa perubahan dinamik mukosa yaitu adanya peningkatan cell turnover

dan fungsi usus yang belum matang dapat menimbulkan gangguan

absorpsi-sekresi dalam saluran cerna. Penurunan area permukaan mukosa

karena atrofi vilus, jejas pada brush border serta pemotongan usus dapat

menurunkan absorpsi. Selain itu, gangguan pada sistem pencernaan (enzim

spesifik) atau transport berupa defisiensi enzim disakaridase dan enterokinase

serta kerusakan pada ion transport (Na+/H+, Cl-/HCO3-) juga menimbulkan

gangguan absorpsi. Faktor-faktor dalam intraluminal sendiri juga ikut

berpengaruh, seperti peningkatan osmolaritas akibat malabsorpsi

( defisiensi disakaridase) dan bacterial overgrowth. Insufisiensi pankreatik

eksokrin, defisiensi garam empedu dan parasit adalah faktor intra luminal

lain penyebab penurunan absorbsi. Sedangkan peningkatan sekresi

disebabkan oleh toksin bakteri ( toxin cholera, E. coli), mediator inflamasi

( eicosanoids, produk sel mast lain), asam empedu dihidroksi, asam lemak

hidroksi dan obat-obatan.

Page 8: referat diare ANAK 1

E. Diagnosis

1. Gejala klinis

Mula – mula bayi dan anak menjadi cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat,

nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan

mungkin disertai lendir dan atau darah. Pada diare oleh karena intoleransi,

anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin

lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal dari

laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.

Gejala muntah dapat terjadi sebelum / sesudah diare dan dapat disebabkan oleh

lembung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa

dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit,

maka gejala dehidrasi mulai tampak, berat badan turun, turgor kulit berkurang,

mata dan ubun – ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut

serta kulit tampak kering.

Berdasarkan banyak cairan yang hilang dapat dibagi menjadi :

- Dehidrasi ringan

- Dehidrasi sedang

- Dehidrasi berat

Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi :

- Dehidrasi hipotonik

- Dehidrasi isotonik

- Dehidrasi hipertonik

Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan

hipovolemik dengan gejala – gejala yaitu denyut jantung menjadi cepat, denyut

nadi cepat dan kecil, tekanan darah menurun, penderita menjadi lemah,

kesadaran menurun (apatis, somnolen sampai soporokomatous). Akibat

dehidrasi, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila sudah ada asidosis

metabolik, tampak pucat dengan pernafasan yang cepat dan dalam (pernafasan

Kussmaul).

Asidosis metabolik terjadi karena :

1. Kehilangan NaHCO3 melalui tinja

Page 9: referat diare ANAK 1

2. Ketosis kelaparan

3. Produk – produk metabolik yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan

(karena oliguria atau anuria).

4. Berpidahnya ion Na dari cairan ekstrasel ke cairan intrasel

5. Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan tubuh).

Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponetremia) yaitu kadar Na dalam plasma <

130 mEq/l, dehidrasi isotonik (dehidrasi isonatremia) bila kadar Na dalam

plasma 130 – 150 mEq/l, sedangkan dehidrasi hipertonik (hipernatremia) bila

kadar Na dalam plasma > 150 mEq/l.

2. Anamnesis

Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: lama diare,

frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir, dan darah.

Bila disertai muntah: volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang,

jarang, atau tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir. Makanan dan minuman

yang diberikan selama diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai

seperti batuk, pilek, otitis media, campak.

Tindakan yang telah dilakukan ibu selama anak diare: member oralit,

membawa berobat ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit dan obat-obatan yang

diberikan serta riwayat imunisasinya.

3. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi

denyut jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari

tanda-tanda utama dehidrasi: kesadara, rasa haus, dan turgor kulit abdomen

dan tanda-tanda tambahan lainnya, seperti ubun-ubun besar cekung atau tidak,

mata cowong atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut,

dan lidah kering atau basah.

Pernafasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolic.

Bisingusus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi. Pemeriksaan

4. Pemeriksaan Laboratorium

1. Pemeriksaan tinja

a. Makroskopis dan mikroskopis

Page 10: referat diare ANAK 1

b. pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet elinitest,

bila diduga intoleransi gula.

c. Bila perlu lakukan pemeriksaan biakan / uji resistensi.

2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan

menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan

analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan).

3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

4. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama natrium, kalium, kalsium dan fosfor

dalam serum (terutama bila ada kejang).

5. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit

secara kualitatif dan kuantitatif, terutama pada penderita diare kronik.

F. Penatalaksanaan

Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata Laksana

Pengobatan diare pada balita yang baru didukung oleh Ikatan Dokter Anak

Indonesia, dengan merujuk pada panduan WHO. Tata laksana ini sudah

mulai diterapkan di rumah sakit- rumah sakit. Rehidrasi bukan satu-satunya

strategi dalam penatalaksanaan diare. Memperbaiki kondisi usus dan

menghentikan diare juga menjadi cara untuk mengobati pasien. Untuk itu,

Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi

semua kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di rumah

maupun sedang dirawat di rumah sakit, yaitu:

1. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

3. ASI dan makanan tetap diteruskan

4. Antibiotik selektif

5. Nasihat kepada orang tua

Rehidrasi dengan oralit baru, dapat mengurangi rasa mual dan muntah

Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit

formula lama dikembangkan dari kejadian luar biasa diare di Asia Selatan

Page 11: referat diare ANAK 1

yang terutama disebabkan karena disentri, yang menyebabkan berkurangnya

lebih banyak elektrolit tubuh, terutama natrium. Sedangkan diare yang lebih banyak

terjadi akhir-akhir ini dengan tingkat sanitasi yang lebih banyak terjadi akhir-akhir

ini dengan tingkat sanitasi yang lebih baik adalah disebakan oleh karena virus.

Diare karena virus tersebut tidak menyebakan kekurangan elektrolit seberat pada

disentri. Karena itu, para ahli diare mengembangkan formula baru oralit

dengan tingkat osmolaritas yang lebih rendah. Osmolaritas larutan baru lebih mendekati

osmolaritas plasma,sehingga kurang menyebabkan risiko terjadinya

hipernatremia.

Oralit

Oralit baru ini adalah oralit dengan osmolaritas yang rendah. Keamanan oralit ini

sama dengan oralit yang selama ini digunakan, namun efektivitasnya lebih baik

daripada oralit formula lama. Oralit baru dengan low osmolaritas ini juga

menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu mengurangi

pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%.

Selain itu, oralit baru ini juga telah direkomendasikan oleh WHO dan

UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak.

Ketentuan pemberian oralit formula baru

a) Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru

b) Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang untuk

persediaan 24 jam

c) Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan

Page 12: referat diare ANAK 1

d) ketentuan:

Untuk anak berumur < 2 tahun: berikan 50-100 ml tiap kali BAB

Untuk anak 2 tahun atau lebih: berikan 100-200ml tiap BAB

e) Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka

sisa larutan harus dibuang.

Zinc diberikan selama 10 hari berturur-turut

Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu

makan anak. Penggunaan zinc ini memang popular beberapa tahun terakhir karena

memilik evidence based yang bagus. Beberapa penelitian telah

membuktikannya.Pemberian zinc yang dilakukan di awal masa diare selam 10 hari ke

depan secara signifikan menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien. Lebih lanjut,

ditemukan bahwa pemberian zinc pada pasien anak penderita kolera dapat

menurunkan durasi dan jumlah tinja/cairan yang dikeluarkan. Zinc termasuk

mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal.

Meski dalam jumlah yang sangat kecil, dari segi fisiologis, zinc berperan untuk

pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan seksual, kekebalan

seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta nafsu makan. Zinc juga berperan dalam

system kekebalan tubuh dan meripakan mediator potensial pertahanan tubuh

terhadap infeksi. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut

didasarkan pada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran

cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc

pada diare dapat meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus

halus,meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah

brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat

pembersihan pathogen dari usus. Pengobatan dengan zinc cocok diterapkan di

negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah

terjadinya kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang

rendah dan daya imunitas yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat

menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat

menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak.

Page 13: referat diare ANAK 1

Dosis zinc untuk anak-anak

Anak di bawah umur 6 bulan : 10mg (½ tablet) per hari

Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak telah sembuh

dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matangm ASIm

atau oralit, Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau

dilarutkan dalam air matang atau oralit. Group RDA Zinc

Bayi 4-5 mg

Anak usia 1-3 tahun 3 mg

Anak usia 4-8 tahun 4-5 mg

Wanita yang tidak hamil 8-9 mg

Wanita hamil dan menyusui 9-13mg

Pria 13-19mg

ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama

pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti

nutrisis yang hilang. Pada diare berdarah nafsu makan akan berkurang. Adanya

perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan.

Antibiotik jangan diberikan kecuali ada indikasi misalnya diare berdarah

atau kolera. Pemberian antibiotic yang tidak rasional justru akan

memperpanjang

lamanya diare karena akan megganggu keseimbangan flora usus dan Clostridium

difficile yang akan tumbuh dan menyebabkan diare sulit disembuhkan. Selain

itu,pemberian antibiotic yang tidak rasional akan mempercepat resistensi

kuman terhadap antibiotic, serta menambah biaya pengobatan yang tidak perlu.

Pada penelitian multiple ditemukan bahwa telah terjadi peningkatan resistensi terhadap

Page 14: referat diare ANAK 1

antibiotic yang sering dipakai seperti ampisilin, tetrasiklin, kloramfenikol, dan

trimetoprim sulfametoksazole dalam 15 tahun ini. Resistensi terhadap antibiotik

terjadi melalui mekanisme berikut inaktivasi obat melalui degradasi

enzimatik oleh bakteri, perubahan struktur bakteri yang menjadi target

antibiotik dan perubahan permeabilitas membran terhadap antibiotic.

Nasihat pada ibu atau pengasuh: kembali segera jika demam, tinja berdarah,

berulang, makan atau minum sedikit, sangat halus, diare makin sering, atau belum

membaik dalam 3 hari.

Terapi medikamentosa

Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare, seperti

antibiotika, antidiare, adsorben, antiemetic, dan obat yang mempengaruhi

mikroflora usus. Beberapa obat mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja,

banyak diantaranya mempunyai efek toksik sistemik dan sebagian besar tidak

direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2-3 tahun. Secara umum,, dikatakan

bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut.

Antibiotik

Antibiotika pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh

karena sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self-limited

dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotika.

Hanya sebagian kecil (10-20%) yang disebabkan oleh bakteri pathogen seperti

V. cholera, Shigella, Enterotoksigenik E. coli, Salmonella, Campylobacter,

dan sebagainya.

Page 15: referat diare ANAK 1

Rencana Terapi A : Terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan

malnutrisi

a. Anak-anak tanpa tanda-tanda dehidrasi memerlukan tambahan cairan dan

garam untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. Jika

ini tidak diberikan, tanda-tanda dehidrasi dapat terjadi.

b. Ibu harus diajarkan cara untuk mencegah dehidrasi di rumah dengan

memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya, bagaimana

mencegah kekurangan gizi dengan terus memberi makan anak, dan

mengapa tindakan-tindakan ini penting. Mereka harus juga tahu apa tanda-

tanda menunjukkan bahwa anak harus dibawa ke petugas kesehatan.

Langkah-langkah tersebut dirangkum dalam empat aturan Rencana Terapi

A.

Page 16: referat diare ANAK 1

Aturan 1 : Memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya,

untuk mencegah dehidrasi

Cairan yang diberikan adalah cairan yang mengandung garam (oralit),

dapat juga diberikan air bersih yang matang.

Komposisi larutan oralit baru :

-Natrium klorida 2,6 gram/liter

-Glukosa 13,5 gram/liter

-Kalium klorida 1,5 gram/liter

-Trisodium sitrat 2,9 gram/liter

Komposisi larutan oralit lama :

-Natrium klorida 3,5 gram/liter

-Glukosa 20 gram/liter

-Kalium klorida 1,5 gram/liter

-Trisodium sitrat 2,55 gram/liter

Dengan menurunkan osmolaritas dengan mengurangi konsentrasi glukosa dan

garam (NaCl) dimaksudkan untuk menghindari hipertonisitas cairan selama

absorpsi cairan oralit.

Cairan yang mengandung garam, seperti oralit, minuman asin (seperti

minuman youghert), atau sayuran dan sup ayam dengan garam. Ajari ibu

untuk memasukan garam (kurang lebih 3g/L) pada minuman yang tidak

bergaram (seperti air matang, air teh, jus buah-buahan yang tidak diberi gula)

atau sup selama diare.

Larutan oralit yang dapat dibuat dirumah mengandung 3g/L garam dapur (1

sendok teh penuh garam) dan 18g/L dari gula dapur (sukrosa) sangat efektif

namun tidak dianjurkan karena seringkali lupa resepnya.

Minuman yang tidak boleh diberikan ialah minuman bersoda, teh manis, jus

buah-buahan yang manis. Minuman tersebut dapat menyebabkan diare

Page 17: referat diare ANAK 1

osmotik dan hipernatremia. Sedangkan kopi tidak boleh diberikan karena

bersifat diuretik.

Umur (tahun) Jumlah cairan yang harus diberikan

< > 50-100 ml cairan

2-10 100-200 ml cairan

>10 >200 ml atau sebanyak yang mereka

mau

Tabel Jumlah Cairan yang Harus Diberi Sesuai Umur Menurut WHO 2005

Aturan 2 : Berikan tambahan zinc (10 - 20 mg) untuk anak, setiap hari

selama 10 -14 hari

Zinc dapat diberikan sebagai sirup atau tablet, dimana formulasinya

tersedia dan terjangkau. Dengan memberikan zinc segera setelah mulai diare,

durasi dan tingkat keparahan episode serta risiko dehidrasi akan berkurang.

Dengan pemberian zinc selama 10 sampai 14 hari, zinc yang hilang selama diare

diganti sepenuhnya dan risiko anak memiliki episode baru diare dalam 2 sampai 3

bulan ke depan dapat berkurang.

Pada pedoman penatalaksanaan diare sebelumnya tidak ada anjuran untuk

memberikan zinc, namun pada pedoman penatalaksanaan diare WHO 2005 ada

anjuran seperti ini.

Aturan 3 yaitu berikan anak makanan untuk mencegah kurang gizi

Diet bayi yang biasanya harus dilanjutkan selama diare dan ditingkatkan

setelahnya. Makanan tidak boleh ditahan dan makanan anak yang biasa tidak

boleh diencerkan. pemberian ASI harus dilanjutkan. Tujuannya adalah untuk

memberikan makanan yang kaya nutrisipada anak. Sebagian besar anak-anak

dengan diare cair mendapatkan kembali nafsu makan mereka setelah dehidrasi

diperbaiki, sedangkan orang-orang dengan diare berdarah seringkali nafsu makan

tetap buruk sampai penyakitnya sembuh. Anak-anak ini harus didorong untuk

mau makan secara normal sesegera mungkin.

Page 18: referat diare ANAK 1

Ketika makanan diberikan, gizi yang cukup biasanya diserap untuk

mendukung pertumbuhan dan pertambahan berat badan. Makan juga

mempercepat pemulihan fungsi usus normal, termasuk kemampuan untuk

mencerna dan menyerap berbagai nutrisi. Sebaliknya, pada anak-anak yang

dibatasi makannya dan makanan yang diencerkan dapat menurunkan berat badan,

menyebabkan diare lebih lama dan lebih lambat memulihkan fungsi usus.

Secara umum, makanan yang sesuai untuk anak dengan diare adalah sama

dengan yang diperlukan oleh anak-anak yang sehat.

Bayi segala usia yang menyusui harus tetap diberi kesempatan untuk

menyusui sesering dan selama mereka inginkan. Bayi sering menyusui

lebih dari biasanya dan ini harus didukung.

Bayi yang tidak disusui harus diberikan susu biasa mereka makan (atau

susu formula) sekurang-kurangnya setiap tiga jam, jika mungkin dengan

cangkir.

Bayi di bawah usia 6 bulan yang diberi makan ASI dan makanan lain

harus diberikan ASI lebih banyak. Setelah anak tersebut sembuh dan

meningkatnya pasokan ASI, makanan lain harus diturunkan.

Jika anak usia minimal 6 bulan atau sudah diberikan makanan lunak, ia

harus diberi sereal, sayuran dan makanan lain, selain susu. Jika anak di

atas 6 bulan dan makanan tersebut belum diberikan, maka harus dimulai

selama episode diare atau segera setelah diare berhenti. Daging, ikan atau

telur harus diberikan, jika tersedia. Makanan kaya akan kalium, seperti

pisang, air kelapa hijau dan jus buah segar akan bermanfaat.

Berikan anak makanan setiap tiga atau empat jam (enam kali sehari).

Makan porsi kecil yang Sering, lebih baik daripada makan banyak tetapi lebih

jarang. Setelah diare berhenti, dapat terus memberi makanan dengan energi yang

sama dan membrikan satu lagi makan tambahan daripada biasanya setiap hari

selama setidaknya dua minggu. Jika anak kekurangan gizi, makanan tambahan

harus diberikan sampai anak telah kembali berat badan normal-untuk-height.

Page 19: referat diare ANAK 1

Aturan 4 Bawa anak ke petugas kesehatan jika ada tanda-tanda dehidrasi

atau masalah lainnya

Ibu harus membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak:

• Buang air besar cair sering terjadi

• Muntah berulang-ulang

• Sangat haus

• Makan atau minum sedikit

• Demam

• Tinja Berdarah

• Anak tidak membaik dalam tiga hari.

WHO 2005 menambahkan pemberian zinc pada rencana terapi A ini.

Rencana Terapi B: Terapi rehidrasi oral untuk anak-anak dengan dehidrasi

ringan-sedang

Jika berat badan anak diketahui maka hal ini harus digunakan untuk

menentukan jumlah larutan yang tepat. Jumlah larutan ditentukan dari berat badan

(Kg) dikalikan 75 ml. Jika berat badan anak tidak diketahui maka penentuan

jumlah cairan ditentukan berdasarkan usia anak. Seperti yang terlihat pada tabel.

Jumlah cairan yang harus diberikan dalam 4 jam pertama

Usia < > 4-11

bulan

12-23

bulan

2-4 tahun 5-14

tahun

>15

tahun

Berat < > 5-7,9 kg 8-10,9 kg 11-15,9 16-29,9 >30 kg

Page 20: referat diare ANAK 1

Badan kg kg

Jumlah

(ml)

200-400 400-600 600-800 800-1200 1200-

2200

2200-

4000

Pedoman Pengobatan Dehidrasi Pada Anak dan Dewasa dengan Dehidrasi Sedang

• Jika pasien menginginkan lebih banyak oralit, maka dapat diberikan.

• Dorong ibu untuk terus menyusui anaknya.

• Untuk bayi di bawah 6 bulan yang tidak menyusui, jika menggunakan larutan

oralit WHO yang lama yang mengandung 90 mmol / L natrium, juga memberi

100-200ml air bersih selama periode ini. Namun, jika menggunakan larutan

oralit osmolaritas rendah yang baru mengandung 75mmol / L natrium, hal ini

tidak perlu menambah air bersih.

Edema (bengkak) kelopak mata adalah tanda dari over-hidrasi. Jika hal ini

terjadi, hentikan penggunaan oralit, tapi dapat diberi ASI atau air putih, dan

makanan. Jangan beri diuretik. Bila edema telah hilang, lanjutkan pemberian oralit

atau cairan rumah sesuai dengan Rencana Terapi A.

Keluarga harus diajarkan cara memberikan larutan oralit. Larutan dapat

diberikan pada anak-anak menggunakan sendok atau cangkir. Botol minum tidak

boleh digunakan. Untuk bayi dapat digunakan pipet atau syringe.

Jika tanda-tanda dehidrasi parah telah muncul, terapi intravena (IV) harus

dimulai sesuai Rencana Terapi C.

Jika anak masih memiliki tanda-tanda yang menunjukkan dehidrasi

beberapa, teruskan terapi rehidrasi oral dengan mengulangi Rencana Terapi B.

Pada saat yang sama dimulai pemberian makanan, susu dan cairan lain, seperti

yang dijelaskan dalam Rencana Terapi A, dan terus menilai kembali anak.

Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, harus dipertimbangkan rehidrasi telah

lengkap. Bila rehidrasi adalah lengkap:

Turgor kulit normal

Page 21: referat diare ANAK 1

Tidak haus

Urin

Anak menjadi tenang, tidak lagi mudah marah dan seringkali tertidur.

Ajarkan ibu cara untuk merawat anaknya di rumah dengan larutan oralit

dan makanan seperti pada Rencana Terapi A.

Dengan larutan oralit yang sebelumnya, tanda dehidrasi dapat menetap

atau muncul kembali selama pemberian oralit pada 5% anak-anak. Namun dengan

larutan oralit osmolaritas rendah yang baru, diperkirakan kegagalan pengobatan

sebelumnya dapat berkurang menjadi 3%, atau kurang.

Penyebab kegagalan tersering ialah:

Intake larutan oralit yang kurang (lebih dari 15-20 ml/kg/jam), seperti yang terjadi

pada beberapa anak-anak dengan kolera

Tidak cukup asupan larutan oralit karena kelelahan atau kelesuan

Sering terjadi muntah-muntah yang parah.

Anak-anak tersebut harus diberikan larutan oralit dengan selang

nasogastric (NG) atau larutan Ringer laktat intravena (IV) (75 ml/kg/4jam),

biasanya dilakukan di rumah sakit.

Mulailah untuk memberikan tambahan zinc, seperti dalam Rencana terapi

A, segera setelah anak dapat makan setelah 4 jam pertama periode rehidrasi.

Kecuali untuk ASI, makanan tidak boleh diberikan selama empat jam

pertama periode rehidrasi. Namun, anak-anak yang terus dalam Rencana Terapi B

lebih dari empat jam harus diberikan makanan setiap 3-4 jam seperti yang

dijelaskan dalam Rencana terapi A. Semua anak yang lebih tua dari 6 bulan harus

diberikan makanan sebelum pulang. Ini membantu untuk menekankan kepada

para ibu pentingnya terus makan selama diare.

Page 22: referat diare ANAK 1

Rencana Terapi C : untuk Pasien dengan Dehidrasi Berat

Pengobatan bagi anak-anak dengan dehidrasi berat adalah rehidrasi

intravena cepat, mengikuti Rencana Terapi C. Jika mungkin, anak harus dirawat

di rumah sakit.

Anak-anak yang masih dapat minum, walaupun buruk, harus diberikan

oralit secara peroral sampai infus berjalan. Selain itu, ketika anak dapat minum

tanpa kesulitan, semua anak harus mulai menerima larutan oralit (sekitar 5

ml/kg/jam), yang biasanya dalam waktu 3-4 jam (untuk bayi) atau 1-2 jam (untuk

pasien yang lebih tua). Ini memberikan tambahan dasar dan potasium, yang

mungkin tidak dapat secara memadai disediakan oleh cairan infus.

Mulai diberi cairan i.v segera. Bila pasien dapat minum berikan oralit

sampai cairan i.v dimulai. Berikan 100 ml/Kg cairan Ringer Laktat (atau cairan

normal salin bila ringer laktat tidak tersedia)

Lihat dan rasakan untuk semua tanda-tanda dehidrasi:

o Jika tanda-tanda dehidrasi berat masih ada, ulangi infus cairan IV seperti yang

diuraikan dalam Rencana terapi C.

o Jika anak membaik (dapat minum), tetapi masih menunjukkan tanda-tanda dari

dehidrasi sedang, hentikan infus IV dan berikan larutan oralit selama empat

jam, sebagaimana ditetapkan dalam Rencana terapi B.

o Jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi, ikuti Rencana terapi A. Ingatlah bahwa anak

membutuhkan terapi dengan larutan oralit sampai diare berhenti.

Jika fasilitas terapi IV tidak tersedia, tetapi dapat diberikan dalam jangka

waktu dekat (yaitu dalam waktu 30 menit), kirimlah anak untuk pengobatan IV

segera. Jika anak dapat minum, berikan ibu beberapa larutan oralit dan tunjukkan

kepadanya cara untuk memberikannya kepada anaknya selama perjalanan.

Jika terapi IV tidak tersedia di dekatnya, petugas kesehatan yang telah

dilatih dapat memberikan larutan oralit menggunakan selang Naso Gastrik,

Page 23: referat diare ANAK 1

dengan kecepatan 20 ml/kg BB /jam selama 6 (enam) jam (total 120 ml/kg BB).

Jika perut menjadi bengkak, larutan oralit harus diberikan perlahan-lahan sampai

menjadi kurang buncit.

Jika tidak bisa menggunakan selang NGT namun anak dapat minum,

larutan oralit harus diberikan melalui mulut dengan kecepatan 20 ml/kg BB/jam

selama 6 (enam) jam (total 120 ml / kg berat badan). Jika terlalu cepat, anak dapat

muntah berulang. Jika terjadi hal ini, maka memberikan larutan oralit secara lebih

lambat sampai muntah mereda.

Anak-anak menerima terapi NGT atau per oral harus dinilai ulang paling

sedikit setiap jam. Jika tanda-tanda dehidrasi tidak membaik setelah tiga jam, anak

harus segera dibawa ke fasilitas terdekat di mana terapi IV tersedia.

Kalau tidak, jika rehidrasi maju memuaskan, anak harus dinilai ulang

setelah enam jam dan keputusan pada perawatan lebih lanjut dibuat seperti yang

dijelaskan di atas untuk terapi IV yang diberikan.

Jika tidak ada fasilitas NGT dan tidak dapat dilakukan secara peroral, anak

harus segera dibawa ke fasilitas terdekat di mana terapi IV atau NGT tersedia.

KESIMPULAN

Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan

mortalitas anak di negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia.

Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari frekuensi tinja atau konsistensinya

menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal oleh ibunya. Secara garis

besar, diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronis atau persisten. Sebagian

Page 24: referat diare ANAK 1

besar bersifat self limiting sehingga hanya perlu diperhatikan keseimbangan

cairan dan elektrolit. Rehidrasi bukan satu-satunya strategi dalam penatalaksanaan

diare. Memperbaiki kondisi usus dan menghentikan diare juga menjadi cara

untuk mengobati pasien. Untuk itu, Departemen Kesehatan menetapkan lima

pilar penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare yang diderita anak balita baik

yang dirawat di rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA

1. M.K. Bhan, D. Mahalanabis, N.F. Pierce, N. Rollins, D. Sack, M. Santosham.

2005. The Treatment of Diarrhoea A manual for physicians and other senior

health workers. Web Site :

http://whqlibdoc.who.int/publications/2005/9241593180.pdf

Page 25: referat diare ANAK 1

2. Hery Garna, Emelia Suroto, Hamzah, Heda Melinda D Nataprawira, Dwi

Prasetyo. 2005. Diare Akut Dalam: Pedoman Diagnosis Dan Terapi Olmu

Kesehatan Anak Edisi Ke-3. Bandung: Bagian /SMF Ilmu Kesehatan Anak FK

Universitas Padjajaran/ RSUP HASAN SADIKIN BANDUNG. Hal. 271-278

3. Anonymus: 2009. Dehidrasi. Web site: http://id.wikipedia.org/wiki/Dehidrasi

(25 September 2009)

4. 1999. Buku Ajar Diare. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan

Lingkungan Pemukiman. Hal. 81,154.

5. Translametion of “Evidence for the Safety and Efficacy of Zinc

Supplementation in the Management of Diarrhea- oliver fontaine- Dept. of

Child and Adolescent Health and Development. Sari Pediatri Vol.10 No 1

Suplemen, juni 2008 distributed during KONIKA 2008 Surabaya, Indonesia

6. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Pada Balita.2011.Depkes RI

7. Subagyo B. Nurtjahjo NB. Diare Akut, Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY,

Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar

Gastroentero-hepatologi:jilid 1. Jakarta : UKK Gastroenterohepatologi

IDAI 2011; 87-120

8.Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Juffrie M, Soenarto

SSY, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar

Gastroentero-hepatologi:jilid 1. Jakarta : UKK Gastroenterohepatologi

IDAI 2011; 121-136