Referat Depresi Kehamilan Alen Fix

  • View
    37

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Referat Psikiatrik

Text of Referat Depresi Kehamilan Alen Fix

  • REFERAT

    DEPRESI PADA MASA KEHAMILAN

    Oleh:

    Aldy Valentino Maehca Rendak

    H1A 007 001

    DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA

    BAGIAN / SMF ILMU PENYAKIT JIWA

    RUMAH SAKIT JIWA MUTIARA SUKMA

    FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

    2015

  • 1

    PENDAHULUAN

    Depresi adalah gangguan mental umum yang menyajikan dengan mood depresi,

    kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah diri, tidur terganggu atau

    nafsu makan, energi rendah, dan hilang konsentrasi. Masalah ini dapat menjadi kronis atau

    berulang dan menyebabkan gangguan besar dalam kemampuan individu untuk mengurus

    tanggung jawab sehari-harinya. Episode depresi biasanya berlangsung selama 6 hingga 9

    bulan, tetapi pada 15-20% penderita bisa berlangsung selama 2 tahun atau lebih. Depresi

    merupakan gangguan mood yang muncul pada 1 dari 4 wanita yang sedang hamil dan hal ini

    bukan sesuatu yang istimewa. Penyakit ini selalu melanda mereka yang sedang hamil, tetapi

    sering dari mereka tidak pernah menyadari depresi ini karena mereka menganggap kejadian

    ini merupakan hal yang lumrah terjadi pada Ibu hamil, padahal jika tidak ditangani dengan

    baik dapat mempengaruhi bayi yang dikandung Ibu. 1,2

    Depresi selama kehamilan merupakan gangguan mood yang sama seperti halnya pada

    depresi yang terjadi pada orang awam secara umum, dimana pada kejadian depresi akan

    terjadi perubahan kimiawi pada otak. Depresi juga dapat dikarenakan adanya perubahan

    hormon yang berdampak mempengaruhi mood Ibu sehingga Ibu merasa kesal, jenuh atau

    sedih. Selain itu, gangguan tidur yang kerap terjadi menjelang proses kelahiran juga

    mempengaruhi Ibu karena letih dan kulit muka menjadi kusam.2

    Penelitian menunjukkan angka kematian maternal pada wanita berkulit hitam lebih

    tinggi dari wanita berkulit putih. Hal ini disebabkan oleh lebih banyaknya stress, nutrisi

    rendah, dan kurangnya supervisi medis diantara wanita berkulit hitam. Tenaga medis harus

    meningkatkan usaha mereka untuk memberikan perawatan awal dan berkelanjutan sepanjang

    masa kehamilan. Angka kematian ini dalam penelitian terutama ditunjukkan sebanding

    dengan tingkat depresi akibat stress pada ibu hamil. Terjadinya gejala depresi selama periode

    perinatal dapat mudah dikenali. Estimasi prevalensi adalah 7,4% -20% antenatal dan sampai

    19,2% pada tiga bulan pertama setelah melahirkan. Depresi antenatal dikaitkan dengan gizi

    buruk, penyalahgunaan alkohol dan substansi, pelayanan kesehatan yang buruk, kesehatan

    diri yang buruk, dan bayi yang sakit. Depresi postnatal memiliki dampak berarti pada ibu dan

    pasangannya, keluarga, interaksi ibu dengan bayi dan emosional jangka panjang dan

    perkembangan kognitif bayi.2

    Kehamilan seharusnya menjadi saat-saat yang paling membahagiakan bagi seorang Ibu.

    Namun terkadang, sebagai seorang calon Ibu (apalagi karena baru pertama kali menghadapi

    kehamilan) ada saja rasa kekhawatiran yang berlebihan sehubungan dengan semakin

  • 2

    dekatnya proses kelahiran. Sekitar 10-20% wanita berusaha untuk melawan gejala depresi

    dan seperempat sampai setengahnya terkena depresi yang berat. Pada suatu studi terhadap

    360 ibu hamil, maka 10% dari mereka mengalami depresi saat kehamilan dan hanya 6,8%

    yang mengalami depresi pasca kehamilan.2

    Depresi ini membutuhkan penanganan yang adekuat sehingga tidak menyebabkan

    gangguan fungsi mental pada wanita hamil dan tidak menyebabkan gangguan pada

    pertumbuhan janin serta proses persalinan.

    Oleh karena itu menurut penulis sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk dapat

    memahami mengenai depresi pada masa kehamilan dan penatalaksanaannya, sehingga

    kejadian depresi ini dapat ditangani dengan baik oleh tenaga kesehatan. Sehingga penulis

    mera perlu untuk membuat referat yang berjudul Depresi pada Masa Kehamilan

  • 3

    DEPRESI PADA MASA KEHAMILAN

    Epidemiologi

    Prevalensi kejadian depresi pada masa kehamilan berbeda-beda pada setiap studi dan

    pada setiap trimester kehamilan. Pada trimester pertama, prevalensi kejadian depresi sekitar

    7,4%. Sedangkan pada trimester kedua, angka prevalensi kejadian depresi meningkat hingga

    12,8% dan pada trimester ketiga berkisar pada 12%. Perbedaan antara trimester pertama

    dengan trimester kedua serta ketiga ini disebabkan oleh karena kecenderungan wanita hamil

    yang mengalami depresi baru mulai mencari bantuan medis setelah masuk trimester kedua,

    sehingga prevalensi kejadian depresi pada trimester pertama lebih kecil. Dari studi diperoleh

    data bahwa angka kejadian depresi pada wanita hamil dan wanita dewasa yang tidak hamil

    tidak jauh berbeda.3,4,5

    Secara global, kejadian depresi merupakan penyebab beban penyakit utama (disease

    burden) pada wanita. Pada studi yang dilakukan di Amerika selama tahun 1998 hingga tahun

    2005, diperoleh data bahwa sekitar 0,8% dari 32,2 juta wanita didiagnosa mengalami depresi

    pada masa kehamilan.4,6

    Faktor Resiko Kejadian Depresi Pada Masa Kehamilan

    Faktor resiko untuk kejadian depresi pada masa kehamilan antara lain:3,4,5,6,7

    riwayat gangguan depresi atau gangguan bipolar atau gangguan cemas sebelum

    kehamilan, baik pada riwayat pribadi maupun riwayat kesehatan mental keluarga,

    ketakutan terhadap kelahiran bayi,

    kurangnya dukungan sosial,

    kehamilan yang tidak diinginkan,

    status ekonomi rendah,

    riwayat kekerasan dalam rumah tangga, termasuk hubungan pernikahan yang kurang

    harmonis (pada masa kehamilan ataupun pada masa kanak-kanak),

    wanita yang berperan sebagai orangtua tunggal,

    usia pada saat hamil kurang dari 20 tahun (usia remaja) atau usia pada saat hamil

    mendekati masa menopause,

    wanita perokok,

    wanita hamil yang memiliki lebih dari 3 orang anak,

  • 4

    kejadian buruk yang menimpa wanita mendekati masa kehamilannya (kematian orang

    dekat).

    Dari studi didapatkan bahwa dari 511.938 wanita hamil, 0,8% mengalami episode

    depresi mayor selama kehamilan, dimana 46,9% memiliki riwayat gangguan depresi sebelum

    hamil. Sehingga riwayat gangguan depresi sebelum hamil menjadi faktor resiko terbesar

    untuk munculnya episode depresi mayor pada masa kehamilan. Selain itu faktor resiko kedua

    terbesar dari kejadian depresi pada masa kehamilan ini adalah rasa ketakutan wanita hamil

    terhadap kelahiran bayi yang mereka kandung.5

  • 5

    Diagnosa Gangguan Depresi Berat (Episode Depresi Mayor)

    Pada DSM V terdapat perubahan poin diagnosa Episode Depresi Mayor, yaitu pada

    poin B hingga E sebagai berikut:8

    A. (Sama Dengan DSM IV)

    B. Gejala yang ada menyebabkan distress atau kerusakan yang signifikan pada proses

    sosial, pekerjaan, dan area fungsi penting lainnya

    Tabel 1. DSM-IV-TR Kriteria Diagnosis Episode Depresi Mayor1,4,8

    A. Lima (atau lebih) gejala yang ada berlangsung selama 2 minggu dan memperlihatkan

    perubahan fungsi, paling tidak satu atau lainnya (1)mood depresi (2)kehilangan minat

    1. Mood depresi terjadi sepanjang hari atau bahkan setiap hari, diindikasikan dengan

    laporan yang subjektif (merasa sedih atau kosong) atau yang dilihat oleh orang

    sekitar. Note : pada anak dan remaja, dapat mudah marah

    2. Ditandai dengan hilangnya minat disemua hal, atau hampir semua hal

    3. Penurunan berat badan yang signifikan ketika tidak diet, atau penurunan atau

    peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. Catatan : pada anak-anak, berat badan

    yang tidak naik

    4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari

    5. Agitasi psikomotor atau retardasi hampir setiap hari (dilihat oleh orang lain, bukan

    perasaan yang dirasakan secara subjektif dengan kelelahan atau lamban)

    6. Cepat lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari

    7. Merasa tidak berguna atau perasaan bersalah yang berlebihan (bisa terjadi delusi)

    hampir setiap hari

    8. Tidak dapat berkonsentrasi atau berpikir hampir setiap hari

    9. Pemikiran untuk mati yang berulang, ide bunuh diri yang berulang tanpa

    perencanaan yang jelas, atau ide bunuh diri dengan perencanaan.

    B. Gejala-gejalanya tidak memenuhi episode campuran

    C. Gejala yang ada menyebabkan distress atau kerusakan yang signifikan secara klinis

    D. Gejala tidak disebabkan langsung oleh sebuah zat (penyalahgunaan obat, obat-obatan)

    atau kondisi medis umum (hipotiroid)

    E. Gejala yang muncul lebih baik tidak masuk dalam kriteria bereavement

  • 6

    C. Gejala tidak disebabkan langsung oleh sebuah zat (penyalahgunaan obat, obat-obatan)

    atau kondisi medis umum.

    Catatan: Kriteria A-C menunjukkan Episode Depresi Mayor

    D. Kemunculan dari Episode Depresi Mayor ini tidak dapat dijelaskan secara baik

    dengan diagnosa Gangguan Skizoafektif, Skizofrenia, Gangguan Skizofreniform,

    Gangguan Delusi, atau Spectrum Skizofrenia lainnya yang spesifik dan tidak spesifik

    serta Gangguan Psikotik lainna.

    E. Tidak pernah ada episode manik atau hipomanik sebelumnya.

    Tipe Depresi

    Spesifikasi Gangguan Depresi Mayor

    Sub tipe MDD dikelompokkan berdasarkan gejala klinis yang muncul dan pola dari

    episode depresi. DSM-IV-TR memberikan spesifikasi depresi dengan maksud agar pemilihan

    terapi yang diberikan lebih baik dan memprediksikan prognosisnya. Tabel 2 memperlihatkan

    kriteria-kriteria depresi dengan beberapa kunci-kuncinya. 1

    Walaupun tidak terientifikas