Referat Aneta

  • View
    226

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

referat uveitis aneta stase mata

Text of Referat Aneta

1

TUGAS REFERAT UVEITIS

Pembimbing :

dr. Rety Sugiarti, Sp.M

Disusun oleh : Aneta Tria Sari

NIM : 2011730006FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

PROGRAM STUDI KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2015 BAB I

PENDAHULUAN

Uveitis adalah peradangan pada jaringan uvea akibat infeksi, trauma, neoplasia, atau proses autoimun. Insiden uveitis di Amerika Serikat dan di seluruh dunia diperkirakan sebesar 15 kasus/100.000 penduduk dengan perbandingan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Uveitis merupakan salah satu penyebab kebutaan. Morbiditas akibat uveitis terjadi karena terbentuknya sinekia posterior sehingga menimbulkan peningkatan tekanan intra okuler dan gangguan pada nervus optikus. Selain itu, dapat timbul katarak akibat penggunaan steroid. Oleh karena itu, diperlukan penanganan uveitis yang meliputi anamnesis yang komprehensif, pemeriksaan fisik dan oftalmologis yang menyeluruh, pemeriksaan penunjang dan penanganan yang tepat.1

BAB II

PEMBAHASAN1. Anatomi Uvea

Uvea merupakan lapisan vaskuler berpigmen dari dinding bola mata yang terletak antara kornesklera dan neuroepitelium. Uvea terdiri dari tiga bagian, yaitu iris, badan siliaris,dan koroid.2

Gambar 1 : Anatomi Uvea

Gambar 2 : lapisan cleraa tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan skelra, bagian ini ikut memasok darah ke retina.

a) Iris

Iris merupakan sklera yang berwarna, berbentuk sirkuler yang tengahnya mempunyai sklera bulat yang dinamakan pupil. Pupil berfungi untuk mengatur cahaya yang masuk ke dalam mata. Iris berpangkal pada badan siliar dan merupakan pemisah antara bilik mata depan dan belakang. Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos yang berjalan melingkari pupil (sfingter pupil) dan radial tegak lurus pupil (dilator pupil). Ukuran pupil pada prinsipnya ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi akibat aktivitas parasimpatis yang dihantarkan melalui nervus kranialis III dan dilatasi yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatik.

Pembuluh darah disekitar pupil disebut sirkulus minor dan pembuluh darah disekitar badan siliar disebut sirkulus mayor. Kapiler-kapiler iris mempunyai lapisan endotel yang tidak berlobang sehingga normalnya tidak membocorkan fluoresein yang disuntikkan secara intravena. Persarafan iris adalah melalui serat-serat di dalam nervi siliares.3b) Korpus Siliaris

Korpus siliaris atau badan siliar membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris (sekitar 6 mm). Korpus siliaris terdiri dari suatu zona anterior yang berombak-ombak (pars plikata) dan zona posterior yang datar (pars plana). Processus siliaris berasal dari pars plikata. Processus siliaris ini terutama terbentuk dari kapiler-kapiler dan vena yang bermuara ke vena-vena korteks. Kapiler-kapilernya besar dan berlobang-lobang sehingga membocorkan fluoresein yang disuntikkan secara intravena. Ada dua lapisan epitel siliaris, yaitu satu lapisan tanpa pigmen di sebelah dalam yang merupakan perluasan neuroretina ke anterior, dan lapisan berpigmen di sebelah luar yang merupakan perluasan dari lapisan epitel pigmen retina. Processus siliaris dan epitel siliaris pembungkusnya berfungsi sebagai pembentuk humor aquaeus.Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat longitudinal, sirkuler dan radial. Fungsi serat-serat sirkuler adalah untuk mengerutkan dan relaksasi serat-serat zonula, yang berorigo di lembah-lembah di antara processus siliaris. Otot ini mengubah tegangan pada kapsul lensa, sehingga lensa dapat mempunyai berbagai cler baik untuk objek berjarak dekat maupun yang berjarak jauh dalam lapangan pandang. Serat-serat longitudinal muskulus siliaris menyisip ke dalam anyaman-anyaman trabekula untuk mempengaruhi besar porinya. Pembuluh darah yang mendarahi korpus siliaris berasal dari lingkar utama iris. Sarar sensorik iris adalah melalui saraf-saraf siliaris.3c) Koroid

Koroid adalah segmen posterior uvea di antara retina dan sklera. Koroid tersusun dari tiga lapisan pembuluh darah koroid: besar, sedang, dan kecil. Semakin dalam pembuluh darah terletak di dalam koroid, semakin lebar lumennya. Bagian dalam pembuluh darah koroid dikenal sebagai khorikapilaris. Darah dari pembuluh darah koroid dialirkan melalui empat vena korteks, satu di masing-masing kuadran posterior. Koroid di sebelah dalam dibatasi oleh sklera Bruch dan di sebelah luar oleh clera. Ruang suprakoroid terletak di antara koroid dan sklera. Koroid melekat erat ke posterior ke tepi-tepi nervus optikus, sedangkan ke anterior, koroid bersambung dengan korpus siliaris. Agregat pembuluh darah koroid memperdarahi bagian luar retina.3

Koroid merupakan bagian posterior dari uvea yang terletak antara retina dan clera. Terdapat tiga lapisan vaskuler koroid, yaitu vaskuler besar, sedang, dan kecil. Pada bagian interna koroid dibatasi oleh sklera Bruch, sedangkan di bagian luar terdapat suprakoroidal.4

Gambar 3 : Lapisan Koroid

Vaskularisasi uvea berasal dari arteri siliaris anterior dan posterior yang berasal dari arteri oftalmika. Vaskularisasi iris dan badan siliaris berasal dari sirkulus arteri mayoris iris yang terletak di badan siliaris yang merupakan anastomosis arteri siliaris anterior dan arteri siliaris posterior longus. Vaskularisasi koroid berasal dari arteri siliaris posterior longus dan brevis.52. Uveitis a) Definisi

Uveitis merupakan inflamasi pada traktus uvealis. Definisi uveitis yang digunakan sekarang menggambarkan setiap inflamasi yang tidak hanya melibatkan uvea, tapi juga struktur lain yang berdekatan dengan uvea.6b) Epidemiologi

Penderita umumnya berada pada usia 20-50 tahun. Setelah usia 70 tahun, angka kejadian uveitis mulai berkurang. Pada penderita berusia tua umumnya uveitis diakibatkan oleh toksoplasmosis, herpes zoster, dan afakia. Bentuk uveitis pada laki-laki umumnya oftalmia simpatika akibat tingginya angka trauma tembus dan uveitis nongranulomatosa anterior akut. Sedangkan pada wanita umumnya berupa uveitis anterior kronik idiopatik dan toksoplasmosis.7c) Klasifikasi

Klasifikasi uveitis dibedakan menjadi empat kelompok utama, yaitu klasifikasi secara anatomis, klinis, etiologis, dan patologis.81) Klasifikasi Anatomis

a) Uveitis anterior

- Iritis : inflamasi yang dominan pada iris

- Iridosiklitis : inflamasi pada iris dan pars plicatab) Uveitis intermediet : inflamasi dominan pada pars plana dan retina perifer

c) Uveitis posterior : inflamasi bagian uvea di belakang batas basis vitreus

d) Panuveitis : inflamasi pada seluruh uvea

Gambar 4 : klasifikasi uveitis secara anatomis

Gambar 5 : klasifikasi uveitis berdasarkan anatomis lesi

2) Klasifikasi Klinis

a) Uveitis akut

: onset simtomatik terjadi tiba-tiba dan berlangsung

selama < 6 minggu

b) Uveitis kronik : uveitis yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, seringkali onset tidak jelas dan bersifat asimtomatik3) Klasifikasi etiologis

a) Uveitis eksogen: trauma, invasi mikroorganisme atau agen lain dari luar tubuh

b) Uveitis endogen: mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh

- Berhubungan dengan penyakit sistemik, contoh: ankylosing spondylitis

- Infeksi yaitu infeksi bakteri (cleraast

), jamur (kandidiasis), virus (herpes zoster), protozoa (toksoplasmosis), atau roundworm (toksokariasis)

- Uveitis spesifik idiopatik yaitu uveitis yang tidak berhubungan dengan penyakit sistemik, tetapi memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari bentuk lain (sindrom uveitis Fuch)

- Uveitis non-spesifik idiopatik yaitu uveitis yang tidak termasuk ke dalam kelompok di atas.4) Klasifikasi patologis

a) Uveitis non-granulomatosa: infiltrasi dominan limfosit pada koroid

b) Uveitis granulomatosa

: koroid dominan sel epiteloid dan sel-sel

raksasa multinukleus

Gambar 6 : a.non-granulomatosa, b. granulomatosa3. Uveitis Anteriora) Definisi Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan bagian depan badan siliar (pars plicata), kadang-kadang menyertai peradangan bagian belakang bola mata, kornea, dan sclera. Peradangan pada uvea dapat mengenai hanya pada iris yang disebut iritis atau mengenai badan siliar disebut siklitis. Biasanya iritis akan disertai dengan siklitis yang disebut iridosiklitis atau uveitis anterior.9

b) Klasifikasi Menurut klinisnya uveitis anterior dibedakan dalam uveitis anterior akut yang berlangsung < 6 minggu, onsetnya cepat dan bersifat simptomatik dan uveitis anterior kronik yang berlangsung > 6 minggu bahkan sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, seringkali onset tidak jelas dan bersifat asimptomatik.

Berdasarkan patologi dapat dibedakan dua jenis besar uveitis yang non-granulomatosa (lebih umum) dan granulomatosa. Uveitis non-granulomatosa terutama timbul di bagian anterior traktus uvealis yaitu iris dan korpus siliaris. Terdapat reaksi radang, dengan terlihatnya infiltrate sel-sel limfosit dan sel plasma dengan jumlah cukup banyak dan sedikit cleraast. Uveitis granulomatosa yaitu adanya invasi mikroba aktif ke jairngan oleh bakteri, dapat mengenai uvea bagian anterior maupun posterior. Infiktrat dominan sel limfosit, adanya agregasi makrofag dan sel-sel raksasa multinukleus. Pada kasus berat dapat terbentuk bekuan fibrun besar atau hipopion di kornea okuli anterior.9

Perbedaan uveitis granulomatosa dan non-granulomatosa

Non-GranulomatosaGranulomatosa

Onset

Nyeri

Fotofobia

Penglihatan kabur

Merah sirkumneal

Keratic precipitates

Pupil

Sinekia posterior

Nodul iris

Lokasi

Perjalanan penyakit

Kekambuhan Akut

Nyata

Nyata

Sedang

Nyata