Click here to load reader

REFERAT Alzheimer

  • View
    40

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

demensia

Text of REFERAT Alzheimer

REFERATALZHEIMER DISEASE(Blok Neuropsikiatri)

DISUSUN OLEH:SURYA MEKA NOVITA SARIH1A212058

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MATARAMMATARAM2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan penugasan referat jurnal Blok Neuropsikiatri dengan judul Alzheimer Disease. Kami mohon maaf jika dalam laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam menggali semua aspek yang menyangkut segala hal yang berhubungan dengan sumber bacaan ataupun pada pembahasan yang kurang memuaskan. Karena ini semua disebabkan oleh keterbatasan kami sebagai manusia. Tetapi, kami berharap referat ini dapat memberi pengetahuan serta manfaat kepada pembaca.

Mataram, 27 April 2015

(Penyusun)

DAFTAR ISI

Halaman judul Kata pengantar Daftar isi PENDAHULUANISI PENUTUP Daftar Pustaka

PENDAHULUAN

Alzheimer disease (AD) merupakan bentuk demensia yang tersering. AD merupakan penyakit degeneratif dan progresif pada otak yang menyebabkan defect spesifik pada neuron. Adanya defect ini dapat mengakibatkan gangguan memori, berpikir, dan tingkah laku (Price & Willson, 2010). Pada kasus AD terjadi degenerasi neuron dalam jumlah besar yang disebabkan oleh gangguan pada sinaps, metabolisme dan perbaikan sel saraf yang sebenarnya hal tersebut tidak terjadi dalam proses normal. Awalnya AD merusak sel-sel saraf yang terletak pada formasio hipokampus. Akibat dari sel-sel saraf hipokampus mengalami kerusakan, maka akan terjadi kegagalan daya ingat jangka pendek dan konsolidaasi memori, selanjutnya akan terjadi kegagalan kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas yang mudah dan tugas-tugas biasa (Robbins, 2007). Pada beberapa kasus, AD juga dapat mengenai korteks serebri khususnya area yang mengatur bahasa dan pemikiran (area Broca, Wernick dan Prefrontal), sehingga menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan berbahasa, membuat keputusan dan timbul perubahan perilaku. Kerusakan ini terjadi secara progresif, akibatnya ppasien dengan AD akan merasakan emosi yang meledak-ledak, gangguan perilaku, gangguan tidur, inkontinensia, kehilangan fungsi komunikasi, dan kehilangan kemandirian (Price & Willson, 2010).

ISIEPIDEMIOLOGIAlzheimers disease (AD) merupakan penyebab demensia tersering pada penduduk western. AD mengenai sekitar 5 juta orang di US dan 17 juta orang di Dunia. Insiden AD meningkat 1% diantara populasi yang berusia 60-70 tahun, dan meningkat 6-8% pada populasi yang berusia >85 tahun. Adapun proporsi pasien dengan AD pada populasi adalah 30% dan diperkirakan pproporsi ini akan terus meningkat (Mayeux, 2010).ETIOLOGIAdanya faktor genetic atau riwayat keluarga dengan demensia merupakan salah satu faktor risiko dari kejadian AD. Pada beberapa kasus yang jarang pada keluarga dengan autosomal dominan untuk gen AD, perkembangan penyakit terjadi pada usia 30 dan 50 tahun, setengah dari kasus ini dilaporkan terjadi mutasi pada gen yang mengkode protein precursor amiloid, presenilin 1, atau presinilin 2. Beberapa penelitian tentang genetic menyebutkan bahwa AD disebabkan oleh generasi dan agregasi dari peptide amiloid, yang berbentuk plak neuritic (Mayeux, 2010).Adapun faktor risiko dari kejadian AD adalah (Rowland, 2010):Mekanisme presumtifCedera kepala

Risiko meningkat A beta dan APP pada otakUsia

Risiko meningkatFisiologi aging yang meluasDepresi

Risiko meningkatAlterasi neurotransmitterCardio-Serebrovaskular disease

Risiko meningkat SmokingEstrogenAktivasi komplemen

Adapun penyebab dari demensia secara umum (Price & Willson, 2010) adalah:PenyebabContoh

InfeksiNeurosifilisTuberculosisVirus

Gangguan metabolicHipotiroidismeGangguan keseimbangan elektrolit

Defisiensi zat giziDefisiensi vitamin B12Defisiensi NiasinDefisiensi Tiamin

Lesi desak ruangHematoma subduralTumor otakAbses otak

Infark otakIskemikHemoragik

Zat-zat toksikObat-obatanAlcoholArsen

Gangguan vascularEmbolus serebralVaskulitis serebral

Penyakit lainAlzheimers diseaseParkinsons diseaseWilsons diseaseHungtintons diseaseDepresiCedera kepala

PATOFISIOLOGISecara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan structural dan biokimia pada neuron neuron. (proce & Willson, 2010).Pada saat otopsi, gambaran patologis yang paing sering terlihat adalah adanya protein amiloid ekstraseluler pada diffuse plaques dan pada plak yang mengandung elemnt dari neuron yang berdegenerasi. Perubahan intraseluler yang diamati adalah adanya deposit dari tangle neurofibril. Lesi patologis ini awalnya terletak pada region entorhinal dari hipokampus dan kemudian akan menyebar ke daerah lainnya. Semakin lama dari onset awal penyakit, akan terjadi kehilangan dari neuron dan sinaps yang luas (Mayeux, 2010).Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit.Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein tau. Dalam SSP, protein tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing-masing terluka. Dengan kolapsnya system transport internal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer (Price & Willson, 2010).

Gambar: mekanisme penyakit Alzheimer berdasarkan peningkatan CSF tau dan plak amiloid serta neurofibril tangles (Mayeux, 2010).Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. A-beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron.APP terbagi menjadi fragmen fragmen oleh protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut.Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan sel sel glia yang akhirnya membentuk fibril fibril plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga mengganggu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor. Selain karena lesi, perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD.Secara neurokimia kelainan pada otak (Price & Willson, 2010).

Gambar: mekanisme terjadinya disfungsi sinaps pada Alzheimer (Querthfurth, 2010).

Gambar: mekanisme normal pada protein precursor amiloid (Querfurth, 2010).

Gambar: struktur normal protein tau (Querthfurth, 2010).

Gambar: terjadinya oksidatif stress dan kegagalan mitokondrial dalam pathogenesis AD (Querthfurth, 2010).

Gambar: proses inflamasi dan pengeluaran A beta amiloid pada AD (Querthfurth, 2010).KLASIFIKASITerdapat 2 tipe AD, yaitu:a. AD familialb. AD sporadik

Berdasarkan onset kejadian gejala penyakit, AD diklasifikasikan menjadi:a. AD awitan dini (30-65 tahun)b. AD awitan lambat (diatas 65 tahun)

GAMBARAN KLINISOnset penyakit Ad adalah insidious, dan manifestasinya semakin memburuk seiring pertambahan tahun. Awalnya akan terjadi kelemahan memori yang sifatnya masih mild kemudan akan terjadi kehilangan fungsi kognitif yang parah (Mayeux, 2010).Selama stadium dini, pasien AD tidak bergejala namun mengalami pengurangan kemampuan dalam memecahkan masalah, berpikir abstrak, emosi yang labil, pelupa, apatis, dan kurangnya daya ingat. Seiring dengan perkembangan penyakit, perilaku pasien menjadi tidak menentudan memiliki emosi yang meledak-ledak. Kemunduran fungsi yang disebabkan oleh kerusakan korteks serebri terjadi setelah 3-10 tahun onset penyakit. Selama stadium akhir penyakit, kemampuan pasien menjadi sangat terbatas dan tidak mampu mengurus kebutuhan dasar mereka. Kematian biasanya disebabkan oleh malnutrisi dan infeksi (Ropper, 2005).Inisial gejala pada AD adalah adanya ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang baru terjadi. Seiring dengan progresifitas penyakit, terjadi gangguan padda beberapa area kognitif, seperti area bahasa, berfikir abstrak, dan fungsi kognitif atau pengambilan keputusan dengan berbagai derajat keparahan. Penyakit ini juga membuat seseorang menjadi sulit untuk bekerja atau kesulitan dalam sosial atau ketidakmampuan dalam melakukan kebutuhan sehari-hari. Pada dapat pula didapatkan adanya perubahan emosional. Pada beberapa pasien diteukan delusi atau gangguan psikotik, namun merupakan kasus yang jarang. Adanya psikosis yang mengawali demensia merupakan panduan untuk mengarah ke diagnosis lain, yaitu demensia dengan Lewy bodies (Mayeux, 2010).Pasien dengan gejala demensia sebaiknya melakukann serangkaian pemeriksaan penunjang, seperti deteksi gangguan gizi, endokrin, dan infeksi. Pemeriksaan yang sering dianjurkan adalah darah lengkap, pemeriksaan untuk sifilis, kadar elektrolit serum, vitamin B 12, serta uji fungsi tiroid. Selain itu dapat pula dilakukan CT scan untuk menilai apakah terdapat tumor atau abses otak maupun hematom subdural (Price & Willson, 2010).Manifestasi klinis penyakit Alzhetmer terdiri atas manifestasi gangguan kognitif dan gangguan psikiatrik serta per

Search related