Ragnar Alm (Tuan Alam) di Batak Pardembanan

  • View
    716

  • Download
    20

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Terjemahan biografi misionaris Methodist Ragnar Alm ketika berkarya di Asahan Labuhan Batu (Pardembanan)

Transcript

RAGNAR ALM

Otobiografi Misionaris Metodis Di Pardembanan (Asahan-Labuhan batu)

Diterjemahkan dari bahasa Batak - oleh S.Simatupang sondanglaw@gmail.com

0

Pengantar Pernah dulu saya menerima surat dari pengelola Percetakan Gereja Methodist Indonesia yang meminta agar saya menulis sebuah tulisan pendek mengenai masa hidup dan pekerjaanku di tengah-tengah orang Indonesia. Disitu yang penting, kata mereka, ialah bagian pengalaman dari zaman Belanda dulu dari tahun 1931 sampai 1942, kedatangan dan pendudukan Jepang, zaman revolusi dan ketiga, zaman sekarang yakni setelah Indonesia berdamai dengan Belanda tahun 1949. Dalam buku kecil ini kucoba menceritakan sedikit tentang saya sendiri dan betapa besar kasih Tuhan padaku. Karena kisah ini haruslah berlandaskan Firman Tuhan sendiri maka saya memilih ayat-ayat dari dari Alkitab tersebut menjadi kepala setiap bab. Saya juga meminta agar para pembaca mengingat yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1 Kor.1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia untuk memalukan apa yang kuat. Karena bukan dari kekuatanku sendiri apapun hanya dari Tuhan sendirilah. Dia yang memilihku dan dia juga yang mengurus semua langkahku. Kalau memang benar apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1 Kor.1:27, lalu bagaimana perihal halaman-halaman berikut ini ? Dengan tulisan ini, saudaraku, ada syukur kepada Tuhan serta doa agar kiranya iman kepada Yesus Kristus semakin teguh, sang Juruselamat itu. Kiranya hadir lah sukacita yang penuh kepada anda semua dan kerajinan yang tidak mengenal lelah untuk mewartakan Kabar Gembira tentang Yesus Kristus, Tuhan selama-lamanya!

Diterjemahkan dari bahasa Batak - oleh S.Simatupang sondanglaw@gmail.com

1

Bab 1 SEJAK DARI KANDUNGAN

Allah telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku"Yes.49:1 Yang dikehendaki Tuhan dari setiap orang yang dilahirkan di dunia ini ialah agar ia menjadi pelayan Tuhan artinya seorang yang sedia taat padaNya selama ia hidup di dunia ini. Bahkan ada ahli teologi berkata: Tujuan hidup setiap orang ialah memuliakan Tuhan melalui kata dan perbuatannya. Dengan perilaku yang kudus orang dapat memuji Tuhan. Karenanya Yesaya berani mengatakan hal diatas. Juga karena itu saya berani memakai kata Nabi tersebut dalam kaitannya dengan hidupku sendiri. Tambahan lagi : Tuhan telah mengetahui namaku sebelum saya lahir di dunia ini. Menurut adat Batak dan juga banyak bangsa lain, ada sahala, kuasa didalam suatu nama. Maka itu kadangkala anak-anak tidak berani menyebut nama orangtuanya. Sekarang inipun anda berhati-hati menyebut nama orangtua. Saya tidak tahu bagaimana pikiran orangtuaku tentangku ketika masih dikandung ibu. Cuma ini kuketahui: mereka berdoa agar anaknya menjadi anak yang baik dan berhasil. Ketika itu mereka tidak menyinggung bagaimana jadinya anaknya sesudah dewasa. Tetapi dari perkataan ibu kumengerti, mereka akan sangat bersukacita kalau anaknya tersebut menjadi pewarta injil. Saya lahir dari keluarga miskin. Ayah bekerja sebagai penggiling gandum. Ia tidak memiliki kilang sendiri tapi bekerja sebagai orang gajian. Saya lahir tanggal 10 Oktober 1900 di desa kecil bernama Vadsbro di gereja Dunker di Swedia, anak sulung di keluarga. Dalam masa 10 tahun kemudian lahir lagi enam orang adikku, dua perempuan dan empat laki-laki. Jadi saat kanak-kanak kami ada sembilan orang di rumah. Aku mulai masuk sekolah tahun 1907 selama enam tahun. Saya senang sekali belajar dan ingin sekali melanjutkan sekolah, tetapi karena orangtuaku miskin dan meletus Perang Dunia I tahun 1914-1918, terpaksa saya kerja mencari nafkah agar makanan cukup di rumah kami. Karena itu saya bekerja di suatu pabrik ketika berumur 13 tahun. Gajiku sangat kecil, meskipun demikian dengan gaji itu saya sedikit dapat membantu orangtua. Sebelumnya aku sudah ikut menggembalakan ternak kalau liburan panjang bulan JuniAgustus. Di waktu panen pun anak-anak harus ikut membantu. Jadi tahun 1913 aku sudah mencari nafkah sendiri. Aku bersekolah minggu tahun 1907 sampai 1920. Tetapi , tahun 1915, umur 15 tahun aku menjadi guru sekolah minggu. Saya diminta mengajar anak anak berumur 12-13 tahun. Sebelumnya terjadi suatu perobahan pada diriku. Yang kumaksudkan, aku serahkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus. Hal itu terjadi ketika ada pelaksanaan kebangunan di gereja kami di Swedia. Saat itu banyak orang muda yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan.

Diterjemahkan dari bahasa Batak - oleh S.Simatupang sondanglaw@gmail.com

2

Sebelumnya waktu berumur 8 tahun pernah kudengar seorang zendeling perempuan yang bekerja di Negeri Cina menceritakan tentang orang-orang yang belum mengenal Kristus. Dikisahkan ada anak-anak perempuan yang dibuang orangtuanya karena anak perempuan tidak berarti. Para misionaris itu mendirikan rumah untuk anak-anak yatim piatu. Banyak orang menerima bantuan semacam itu. Dalam hatiku: Kelak nanti saya dewasa akan ikut membantu orang miskin dan menderita seperti yang mereka lakukan. Usia 15 tahun saya menjadi anggota Gereja Methodist di desa kami. Orangtuaku masih menjadi anggota Gereja Kerajaan, tapi tak lama kemudian mereka juga masuk Methodist karena mereka melihatnya sebagai gereja yang hidup. Pada akhirnya semua penduduk desa dari keluarga Richard dan Hilda Alm menjadi Methodist. Seluruhnya 9 orang, dua menjadi pendeta, satu diakones dan satu pemain organ gereja.

Diterjemahkan dari bahasa Batak - oleh S.Simatupang sondanglaw@gmail.com

3

Bab 2 AKU MASIH MUDA Maka aku menjawab: Ah, Tuhan Allah! sesungguhnya aku tidak pandai berbicara sebab aku masih muda (Yer.1:6)

Tidak ada yang dapat memastikan berapa usia Yeremia ketika datang Firman atau panggilan Tuhan yang berkata : Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. (Yer.1:5). Hal yang pasti kita tahu saat itu Yeremia sangat takut, sampai gemetaran dihadapan kemuliaan Allah. Inilah sebabnya dia berkata : Aku masih muda. Hal itu juga terjadi pada Musa sekalipun ia tidak muda lagi saat berdiri dihadapan Allah. Dapat kita baca dalam Keluaran 3: 6, Lalu Musa menutupi mukanya sebab ia takut memandang Allah. Demikian banyak nabi, pendeta dan misionaris yang merasakan hal seperti itu. Hal ini juga kualami sebab begitu datang panggilan Tuhan kepadaku, kujawab : Saya masih muda, tidak pandai berbicara. Dan saya adalah anak orang miskin. Darimana saya membayar uang sekolah? Sampai-sampai aku berkata pada Tuhan: Biarlah saya mengajar sekolah minggu dan memimpin kumpulan pemuda gereja, tidak pantas saya menjadi pekabar Injil. Akan tetapi Roh Kudus ternyata senantiasa bekerja dalam hatiku. Adakalanya saya seperti merasa putus asa. Harus kusampaikan kepada orang lain, pikirku, bagaimana perasaan yang kualami ini. Tetapi siapa yang akan sudi mendengarku? Suatu waktu, ketika saya pulang dari pekerjaan malam dengan adikku Herbert kusampaikan bahwa Tuhan telah memanggilku untuk menjadi seorang pekabar Injil. Ia terdiam sebentar, lalu katanya, Belum sempurna talentamu menjadi pendeta. Karena kata-kata ini aku menjadi semakin takut. Sedih sekali perasaanku atas panggilan Tuhan ini. Pada waktu itu aku belum berani mengutarakannya kepada pendeta gereja kami. Sampai pada suatu saat seorang mahasiswa dari Seminari Gereja Methodist datang berkotbah di gereja kami. Usai kebaktian kataku padanya: Aku telah menerima panggilan dari Tuhan agar menjadi pewarta Injil. Ia memandangku sejenak lalu katanya, Hati-hatilah, karena harus ada talenta yang luarbiasa bagi orang yang ingin menjadi pendeta. Sangat sedih hati mendengarnya. Dalam hatiku, kau bukan orang yang benar. Tetapi maksud Tuhan memang lain. Pada minggu advent 1920 saya ikut peserta kursus untuk Penginjil di kota Uppsala. Disana ada juga sekolah pendeta. Tujuanku ingin menambah pengetahuan akan Firman Tuhan selama dua atau tiga minggu. Nanti selesai mengikuti kursus saya bermaksud kembali bekerja di pabrik. Tetapi datang seorang pengawas gereja distrik bernama Norman mengatakan, Bagaimana kalau engkau tidak usah kembali lagi bekerja di pabrikmu itu. Sekarang sedang dibutuhkan seorang pemuda untuk membantu pendeta yang bekerja di pabrik. Banyak sekali pekerjannya disana. Kami sudah katakan akan mengirimmu kesana. Tidak usah kau takut. Sesudah berdoa maka ajakan kusanggupi. Boleh dikatakan sejak saat itulah aku menjadi seorang pekabar Injil. Tuhan sendiri yang memanggil. Kemudian disetujui gereja melalui seorang pendeta tua.Diterjemahkan dari bahasa Batak - oleh S.Simatupang sondanglaw@gmail.com

4

Ujian-ujian diselenggarakan pada kursus di Uppsala. Setiap peserta diminta berkotbah didepan guru dan rekan-rekan. Para pengajar akan memberikan ayat. Aku terima teks Ep. 3 : 8 :Kepadaku, yang paling hina diantara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu. Sesudah natal 1920 aku berangkat dari desa kelahiranku menuju suatu negeri Maroko. Aku menjadi Evangelis!. Benar-benar takut, aku masih muda, dan bukan lulusan sekolah pendeta. Kuserahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan berkata : Engkau yang memanggilku, sertai dan pakailah aku menjadi teladan bagi orang percaya dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan dalam kesucian. (I Tim. 4: 12). Datang jawaban dari Tuhan: Lihat, saya akan menyertaimu setiap hari, sampai akhir dunia ini. Aku percaya pada janji ini. Setelah saya bekerja di Maroko 4 bulan datang panggilan wajib militer dari pemerintah. Semua laki-laki Swedia diharuskan mengikuti pendidikan militer untuk membela negaranya kalau terjadi perang. Saya pergi ke resimen Svea Livgarde di Stockholm, resimen yang tersohor di Swedia kala itu. Raja Swedia memimpin langsung resimen. Tetapi sebelum saya masuk resimen sudah kutetapkan tidak akan berlatih senjata karena keyakinan saya jalan perang