Click here to load reader

· PDF filediinginkan bagi kehidupan sosial dan ... dimulai sejak masa prasejarah—suatu zaman yang ... tanggal Hari Jadi –nya dari peristiwa sebelum proklamasi

  • View
    234

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of · PDF filediinginkan bagi kehidupan sosial dan ... dimulai sejak masa prasejarah—suatu...

  • SEJARAH

    PROVINSI JAWA BARAT

    Jilid 1

    Pemerintah Provinsi Jawa Barat

    2011

  • SEJARAH

    PROVINSI JAWA BARAT

    Ketua Tim Penulis:

    Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M. S.

    Anggota:

    Dr. Toni Djubiantono, DEA

    Prof. Dr. Dadan Wildan, M. Hum.

    Dra. Etty Saringendyanti, M. Hum.

    Drs. Reiza D. Dienaputra, M. Hum.

    Kunto Sofianto, Ph.D.

    Drs. Awaludin Nugraha, M. Hum.

    Miftahul Falah, S. S., M. Hum.

  • iii

    PRAKATA

    Berbagai tumpukan peristiwa yang datang bertubi-tubi melanda persada

    tanah air tercinta ini, bisa saja menyebabkan sekian banyak peristiwa yang

    memberi arti bagi kehidupan kebangsaan terlewat saja dalam ingatan. Bukankah

    dalam tumpukan peristiwa dalam suasana kekinian, masa lalu bisa saja terasa

    hanya lewat seketika dalam ingatan, sedangkan masa depan bisa terasa sebagai

    mengimbau-imbau dengan berbagai corak janji dan ancaman. Peristiwa dan

    bahkan juga perubahan sosial-politik di tanah air yang datang silih berganti dapat

    menyebabkan kita lupa pada berbagai sumber kearifan yang terpancar dari

    peristiwa yang pernah dialami. Begitulah, dalam arus hasrat reformasi, yang ingin

    menciptakan tatanan sosial-politik yang sesuai dengan idaman bangsa, betapa

    mudahnya bangsa tergelincir pada pertengkaran yang menjengkelkan. Dalam

    kecenderungan seperti ini mestikah diherankan kalau salah satu perdebatan kreatif

    yang terjadi pada saat bangsa sedang mengayuh dalam arus kemerdekaan bangsa

    yang baru didapatkan, terlupakan begitu saja.

    Salah satu perdebatan yang kreatif itu terjadi antara dua tokoh Proklamator

    Kemerdekaan Bangsa, Sukarno dan Hatta. Peristiwa ini bermula ketika Presiden

    Sukarno, yang telah semakin tidak sabar dengan ketidakstabilan politik, yang

    ditandai oleh jatuh bangunnya kabinet dan bahkan juga keresahan berbagai daerah

    yang bahkan dinilainya telah mengancam keutuhan negara pada tahun 1950-an.

    Dalam suasana ketidakstabilan politik sedang menjadi-jadi dan ketika perjuangan

    untuk membawa kembali Irian Barat ke dalam pangkuan Ibu Pertiwi sedang

    menaik pula Bung Karno pun mengajak bangsa untuk mendapatkan kembali lan

    revolusi yang dianggapnya telah memudar. Dalam pidato-pidatonya, bahkan juga

    dalam tindakannya, ia menekankan bahwa revolusi Indonesia masih harus terus

    berjalan. Revolusi adalah pantulan patriotisme ketika ketika segala hal yang

    diinginkan bagi kehidupan sosial dan kenegaraan harus dijalankan dengan tempo

    yang serba cepat. Revolusi adalah ketika penghancuran dan pembangunan,

    herordening, harus dijalankan tanpa henti. Akan tetapi , timbul juga pertanyaan

  • iv

    apakah kembali ke suasana revolusi yang serba-cepat harus berarti mengabaikan

    keharusan konstitusional dan segala kepastian?

    Ketika itulah Bung Hatta, yang akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil

    Presiden, mengecam seruan serba revolusioner yang dianjurkan Presiden Sukarno.

    Dalam pidato pengukuhannya sebagai penerima doctor honoris-causa, di

    Universitas Gadjah Mada (Desember 1956) yang juga dihadiri Presiden Sukarno,

    Bung Hatta menolak doktrin revolusi tanpa henti, sesuatu yang kemudian malah

    dirumuskan Bung Karno sebagai the summary of many revolutions in one

    generation, dengan mengutip pendapat seorang ilmuwan asing. Dalam pidato

    pengukuhan yang sangat bernas dan yang praktis merupakan ikhtisar pemikiran

    tentang berbagai masalah kenegaraan itu Bung Hatta antara lain mengatakan

    bahwa adalah suatu kekeliruan untuk membangkitkan suasana revolusi ketika roda

    pembangunan telah harus dijalankan. Revolusi, katanya, harus berakhir dalam

    beberapa minggu atau beberapa bulan saja, sebab revolusi pada dasarnya

    membangkitkan suasana sambil mengutip ucapan Nietzche yang terkenal--

    Umwertung aller Werte, pembongkaran segala nilai-nilai. Revolusi, kata Bung

    Hatta, harus segera diakhiri dan tahap konsolidasi yang revolusioner harus

    dimasuki. Maka perdebatan terbuka antara dua sahabat, yang telah mengakhiri

    mitos dwitunggal, terjadi. Perdebatan itu berlanjut terus, meskipun Bung Hatta

    telah menjadi warga negara biasa dan tidak lagi menjawab tantangan Bung

    Karno. Sampai saat ia harus mengakhiri jabatannya sebagai Presiden, Bung Karno

    hampir-hampir tak pernah lupa membalas dan menyerang balik kritik yang sempat

    dilancarkan Bung Hatta, sahabat akrabnya yang sampai akhir hayatnya tetap

    dicintainya.

    Perdebatan itu terjadi ketika kedaulatan negara telah didapatkan, setelah

    lebih dulu bangsa harus mengalami gejolak revolusi yang keras dan pada saat

    negara kesatuan telah kembali berdiri setelah sempat mengalami situasi ketika

    Indonesia terdiri atas sekian banyak negara bagian. Pada saat berbagai keharusan

    struktural yang dibayangkan ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan

    dan kemerdekaan harus dipertahankan dengan darah dan air mata, mestikah

    suasana revolusi itu dihidupkan kembali?

  • v

    Perdebatan intelektual dan ideologis bisa saja tidak menemukan keputusan

    definitif yang menentukan, tetapi revolusi nasional adalah pengalaman sejarah

    yang tidak terlupakan. Ketika hasrat kemerdekaan telah menemukan salurannya

    dan pada saat semangat patriotisme yang telah ditempa oleh kesadaran

    nasionalisme yang kental tidak lagi terbendung, ketika itu revolusi nasional tidak

    lagi terelakkan , bahkan dengan begitu saja menampilkan diri sebagai keharusan

    sejarah. Ketika itulah, ketika revolusi telah dilancarkan, segala hal harus

    dijalankan serba cepat dan serba- revolusioner. Segala keteraturan yang sistematis,

    apalagi yang bercorak protokoler menjadi buyar dan tak lagi bisa berbunyi apa-

    apa.

    Seandainya sejarah revolusi bangsa ingin dikisahkan, rekonstruksi sejarah

    seperti apakah yang tampak kalau bukan serangkaian gerak cepat yang heroik

    dan patriotik? Begitulah segera setelah Proklamasi Kemerdekaan disampaikan

    Sukarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia, segala hal mengalir begitu saja

    seirama dengan semangat revolusi. Sehari setelah Proklamasi, pada tanggal 18

    Agustus 1945 dengan begitu saja Sukarno dan Hatta dipilih sebagai Presiden dan

    Wakil Presiden dan di hari yang sama rancangan Undang-Undang Dasar, yang

    telah dirancang sebulan sebelumnya, diresmikan pula sebagai UUD dari negara

    yang merdeka. Jadi dalam masa dua hari saja segala perlengkapan dari suatu

    negara telah dipenuhipemerintahan, wilayah, dan undang-undang dasar. Hanya

    dalam sehari saja beberapa perubahan kecil tetapi fundamental dilakukan terhadap

    UUD. Adalah suatu sikap patriotisme yang kental dan rasa persatuan yang

    mendalam memungkinkan perubahan itu dilakukan terhadap hasil kompromi yang

    sempat melalui perdebatan panjang lebar. Dalam suasana revolusioner ini pula,

    pada keesokan harinya, pada tanggal 19 Agustus 1945 pembagian wilayah

    administratif Republik Indonesia diumumkan. Dalam pengumuman itu dinyatakan

    bahwa secara administratif pemerintahan Republik Indonesia terdiri atas delapan

    provinsi. Salah satunya adalah Provinsi Jawa Barat. Ancaman terhadap negara

    yang diproklamirkan akan datang, tetapi secara formal sebuah negara-bangsa

    dalam bentuk republik yang demokratis telah terwujud. Maka terjadilah apa yang

    harus terjadi. Akhirnya setelah melalui perjuangan dan diplomasi, yang

  • vi

    meminta korban sekian banyak patriot bangsa ,kedaulatan negarapun mendapat

    pengakuan internasional.

    Sekarangsekian puluh tahun kemudianterasa juga betapa pengorbanan

    demi kemerdekaan dengan begitu saja bisa melupakan hasrat untuk mendapatkan

    jatah dalam pembagian kekuasaan. Di samping itu tampak dan terasa juga betapa

    mendasarnya perubahan pembagian wilayah administratif yang telah terjadi.

    Namun, Jawa Barat adalah satu dari sedikit provinsi yang sampai kini masih

    bertahan sebagai suatu kesatuan adminsitratif, betapapun sebagian dari wilayah

    administratif yang asli telah juga mengalami perubahan. Meskipun demikian

    tanggal 19 Agustus 1945 adalah tanggal kelahiran provinsi yang tak mungkin

    terlupakan, betapapun berbagai perubahan telah terjadi dan bahkan harus terjadi.

    Kelahiran Provinsi Jawa Barat,yang diumumkan dua hari setelah Proklamasi

    Kemerdekaan , senafas dengan kegairahan nasionalisme yang telah melahirkan

    NKRI yang revolusioner. Kelahiran ini adalah juga pantulan yang otentik dari

    sejarah pergerakan kebangsaan. Bukankah kegelisahan dan cita-cita nasionalisme

    pada masa penjajahan dengan lantang dan keras digaungkan dari Kota Bandung,

    yang nantinya menjadi ibukota Provinsi Jawa Barat, betapapun kota ini selalu

    ingin ditonjolkan kekuasaan kolonial sebagai Parijs van Java.

    Akan tetapi, bagaimanakah sejarah provinsi yang dilahirkan dalam denyut

    revolusi ini bisa direkonstruksi dan dipelajari? Provinsi adalah sebuah kesatuan

    administratif, yang sengaja dibuat demi kelancaran dan ketertiban roda

    pemerintahan. Sementara itu, sejarah , sebagai usaha rekonstruksi dari dinamika

    masyarakat dalam suatu rentangan waktu, tidak bisa dengan begitu saja terkurung

    oleh batas-batas keharusan administrasi pemerintahan. Batas teoretis yang bisa

    dikenakan pada uraian sejarah, yang ingin menyelusuri perjalanan masyarakat

    dalam suatu rintangan waktu, bukannya yang terpaut pada suatu peristiwa yang

    khusussuatu vnement, kata orang sanahanyalah yang bersifat geogr