5
o Mekanisme transportasi Na + , K + ATPase yang bergantung energi di membran basolateral yang penting untuk reabsorpsi Na + Reabsorpsi Na bersifat unit dan kompleks, 80% dari kebutuhan energi total digunakan untuk transportasi Na. Dari semua Na yang difiltrasi, dalam keadaan normal 99,5% direabsorpsi dengan rata-rata 67% direabsorpsi di tubulus proksimal, 25% di lengkung henle dan 8% di tubulus distal dan pengumpul. Mekanisme -> Langka aktif pada reabsorpsi Na melibatkan pembawa Na + , K + ATPase bergantung energi yang terletak di membran basolateral sel tubulus. Pada saat pompa basolateral ini memindahkan Na keluar dari sel tubulus menuju ruang lateral akibatnya konsentrasi Na di ruang lateral tinggi sedangkan konsentrasi Na di intrasel (sel tubulus rendah) JADI dengan adanya pompa ini, memindahkan Na dari sel tubulus (konsentrasi rendah) ke luar sel tubulus (konsentrasi tinggi) = melawan gradien konsentrasi Na. Konsentrasi Na di dalam sel tubulus rendah maka tercipta gradien konsentrasi yang mendorong difusi Na dari tempat dengan konsentrasi tinggi di lumen tubulus ke dalam sel tubulus. Setelah berada didalam sel tubulus, maka Na akan dipindahkan olah pompa basolateral ke ruang lateral. Untuk reabsorpsi Na baik di tubulus distal dan pengumpul dibawah kontrol hormon, yaitu Aldosteron. Reabsorpsi sejumlah kecil Na di bagian distal tubulus berada dibawah kontrol hormon. Tingkat reabsorpsi ini berbanding terbalik dengan besarnya beban Na di tubuh. Jadi apabila kadar Na di tubuh banyak, maka hanya sedikit dari Na ini di reabsorpsi bahkan Na dikeluarkan melalui urin. Dan sebaliknya terjadi. Sistem hormon terpenting yang berperan pada mekanisme ini adalah Sistem renin- angiotensin –aldosteron -> yang merangsang reabsorpsi Na di tubulus distal dan pengumpul. Beban Na di tubuh tercermin oleh volume CES, Natrium dan clorida menentukan > 90% aktivitas osmotiks CES. Tekanan osmotik ini merupakan gaya yang berperan untuk menarik dan menahan H2O. Mekanisme -> apabila volume CES/ NaCl maka aparatus jukstaglomerular mensekresikan renin sebangai respons penurunan ini. Renin bekerja sebagai enzim untuk mengaktifkan angiotensinogen (protein plasma yang disintesis di hati dan selalu terdapat di plasma dalam konsentrasi tinggi) menjadi angiotensin I. Pada saat melewati sirkulasi paru, angiotensin I ini akan diubah menjadi angiotensin II

Proses Reabsorpsi Tubulus

Embed Size (px)

DESCRIPTION

materi

Citation preview

Mekanisme transportasi Na+, K+ ATPase yang bergantung energi di membran basolateral yang penting untuk reabsorpsi Na+Reabsorpsi Na bersifat unit dan kompleks, 80% dari kebutuhan energi total digunakan untuk transportasi Na. Dari semua Na yang difiltrasi, dalam keadaan normal 99,5% direabsorpsi dengan rata-rata 67% direabsorpsi di tubulus proksimal, 25% di lengkung henle dan 8% di tubulus distal dan pengumpul.Mekanisme -> Langka aktif pada reabsorpsi Na melibatkan pembawa Na+, K+ ATPase bergantung energi yang terletak di membran basolateral sel tubulus. Pada saat pompa basolateral ini memindahkan Na keluar dari sel tubulus menuju ruang lateral akibatnya konsentrasi Na di ruang lateral tinggi sedangkan konsentrasi Na di intrasel (sel tubulus rendah) JADI dengan adanya pompa ini, memindahkan Na dari sel tubulus (konsentrasi rendah) ke luar sel tubulus (konsentrasi tinggi) = melawan gradien konsentrasi Na. Konsentrasi Na di dalam sel tubulus rendah maka tercipta gradien konsentrasi yang mendorong difusi Na dari tempat dengan konsentrasi tinggi di lumen tubulus ke dalam sel tubulus. Setelah berada didalam sel tubulus, maka Na akan dipindahkan olah pompa basolateral ke ruang lateral.Untuk reabsorpsi Na baik di tubulus distal dan pengumpul dibawah kontrol hormon, yaitu Aldosteron. Reabsorpsi sejumlah kecil Na di bagian distal tubulus berada dibawah kontrol hormon. Tingkat reabsorpsi ini berbanding terbalik dengan besarnya beban Na di tubuh. Jadi apabila kadar Na di tubuh banyak, maka hanya sedikit dari Na ini di reabsorpsi bahkan Na dikeluarkan melalui urin. Dan sebaliknya terjadi. Sistem hormon terpenting yang berperan pada mekanisme ini adalah Sistem renin-angiotensin aldosteron -> yang merangsang reabsorpsi Na di tubulus distal dan pengumpul. Beban Na di tubuh tercermin oleh volume CES, Natrium dan clorida menentukan > 90% aktivitas osmotiks CES. Tekanan osmotik ini merupakan gaya yang berperan untuk menarik dan menahan H2O. Mekanisme -> apabila volume CES/ NaCl maka aparatus jukstaglomerular mensekresikan renin sebangai respons penurunan ini. Renin bekerja sebagai enzim untuk mengaktifkan angiotensinogen (protein plasma yang disintesis di hati dan selalu terdapat di plasma dalam konsentrasi tinggi) menjadi angiotensin I. Pada saat melewati sirkulasi paru, angiotensin I ini akan diubah menjadi angiotensin II oleh angiotensin converting enzyme. Angiotensin II menstimulasi kelenjar adrenal untuk mengeluarkan aldosteron. Aldosteron ini yang nantinya meningkatkan reabsorpsi Na oleh tubulus distal dan pengumpul. Hasilnya adalah peningkatan reabsorpsi Na dan ion Cl juga secara pasif. Dengan demikian sistem RAA ini = mendorong retensi garam yang akhirnya menyebabkan retensi H2O dan peningkatan tekanan darah arteri.Selain itu, angiotensin II juga merupakan vasokonstriktor yang kuat bagi arteriol sehingga resistensi perifer total meningkat. Serta, angiotensin II merangsang rasa haus (meningkatkan asupan cairan) dan merangsang vasopresin (hormon yang meningkatkan retensi H2O oleh ginjal). Selain sistem RAA ini juga terdapat sistem penahan Na yang melibatkan hormon peptide natriuretik atrium yang menginduksi ekskresi sejumlah besar garan dalam urin. Hal ini berlangsung pada saat volume CES meningkat. ANP juga meningkatkan ekskresi urin dengan menghambat sekresi renin oleh ginjal dan bekerja pada korteks adrenal untuk menghambat sekresi aldosteron. Reabsorpsi glukosa dan asam aminoGlukosa dan asam amino yang difiltrasi setiap harinya, secara normal akan direabsorpsi secara total kembali ke dalam darah oleh mekanisme yang bergantung energi dan Na yang terletak di tubulus proksimal.Mekanisme -> glukosa dan asam amino diangkut melalui proses transportasi aktif sekunder, suatu pembawa kotransportasi khusus yang secara simultan memindahkan Na dan molekul organik tertentu dari lumen ke dalam sel. Gradien konsentrasi Na lumen ke sel yang diciptakan oleh pompa Na, K ATPase basolateral yang memerlukan energi ini mengaktifkan sistem kotransportasi ini dan menarik molekul-molekul organik melawan gradien konsentrasi tanpa secara langsung menggunakan energi.Transportasi aktif sekunder memerlukan keberadaan Na di lumen tanpa adanya Na pembawa kotranspor tidak dapat beroperasi.Semua bahan yang direabsorpsi secara aktif berikatan dengan pembawa di membran yang memindahkan mereka memiliki batas maksimum. Kecepatan reabsorpsi maksimum tercapai apabila semua pembawa yang spesik untuk suatu bahan terisi penuh atau jenuh sehingga tidak dapat lagi mengangkut tambahan. Hal ini disebut Tubulus maksimum (Tm) yaitu jumlah maksimum suatu bahan yang dapat diangkut secara aktif oleh sel-sel tubulus dalam rentang waktu tertentu. Reabsorpsi glukosaKonsentrasi glukosa normal dalam plasma adalah 100 mg/100 ml plasma. Karena glukosa difiltrasi secara bebas di glomerulus makan glukosa yang masuk ke dalam kpsula Bowma dengan konsentrasi yang sama dengan konsentrasi di plasma sebesar 100 mg glukosa/100 ml plasma. Jumlah setiap bahan yang di filtrasi per menti disebut beban filtrasi = konsentrasi bahan dalam plasma x GFR. Beban filtrasi gukosa = 100 mg/100 ml plasma x 125 ml/m = 125 mg/m.Sedangkan Tm untuk glukosa rata-rata sebesar 375 mg/ m jadi mekanime pembawa glukosa mampu secara aktif mereabsorpsi glukosa dengan jumlah sampai 375 mg/m sebelum kapasitas transportasi glukosa maksimum tercapai. Konsentrasi plasma pada saat Tm suatu bahan tertentu tercapai dan bahan tersebut mulai muncul di urin disebut ambang ginjal. Pada Tm normal 375 ml/menit dan GFR 125 ml/menit ambang ginjal untuk glukosa adalah 300mg/100ml. Reabsorpsi fosfatUntuk reabsorpsi fosfat dan kalsium ini bergantung pada konsentrasi plasma normal. Semakin besar fosfat yang berada di dalam tubuh di luar dari batas normal maka makin banyak fosfat yang dieliminasi oleh tubuh melewati urin. Reabsorpsi fosfat dan kalsium ini juga berada di bawah notrl hormon paratiroid. Reabsorpsi kloridaIon klorida yang bermuatan negatif direabsorpsi secara pasi mengikuti penurunan gradien listrik yang diciptakan oleh reabsorpsi aktif ion Na yang bermuatan positif. Jumlah Cl yang di reabsorpsi bergantung pada kecepatan reabsorpsi Na dan tidak di kontrol secara langsung oleh ginjal. Reabsorpsi air (H2O)Air secara pasif di reabsorpsi melalui osmosis di seluruh panjang tubulus. Dari H2O yang di filtrasi, 80% direabsorpsi secara obligatorik di tubulus proksimal dan lengkung Henle karena secara osmosis mengikuti reabsorpsi zat terlarut. Reabsorpsi ini terjadi tanpa di pengaruhi oleh beban H2O di tubuh dan tidak diatur. Sisanya 20% H2O direabsorpsi dalam jumlah yang bervariasi di bagian distal tubulus ; tingkat reabsorpsi ini berada dibawah kontrol langsung hormon dan bergantung pada hidrasi tubuh.Gaya yang mendorong reabsorpsi H2O di tubulus proksimal adalah kompartemen hipertonisitas di ruang lateral antara sel-sel tubulus yang diciptakan oleh pengeluaran aktif Na oleh pompa basolateral. Akibat aktivitas pompa ini -> konsentrasi Na di cairan tubulus dan sel tubulus rendah disertai peningkatan konsentrasi Na di ruang lateral. Pada saat Na berpindah difusi dari lumen tubulus ke sel-sel tubulus maka konsentrasi Na (zat terlarut) menjadi rendah atau disebut hipotonis dan secara simultan konsentrasi Na di sel tubulus meningkat yang nantinya akan dipindahkan oleh pompa basolateral ke ruang lateral. Terjadi perpindahan difusi pasif H2O dari lumen tubulus (hipotonis) ke luar ke sel tubulus (hipertonik).Reabsorpsi H2O makin ditingkatkan oleh tekanan osmotik koloid plasma lebih besar di kapiler peritubulus yang disebabkan oleh peningkatan protein-protein plasma di kapiler peritubulus. Dan tekanan hidrostatik di ruang lateral yang diakibatkan oleh peningkatan konsentrasi H2O di ruang lateral. Reabsorpsi ureaUrea adalah suatu produk sisa yang berasal dari penguraian protein. Reabsorpsi H2O yang diinduksi secara osmotis di tubulus proksimal yang sekunder terhadap reabsorpsi aktif Na menimbulkan gradien konsentrasi untuk urea yang mendorong reabsorpsi pasif zat-zat sisa bernitrogen ini.Karena reabsorpsi ekstensif H2O di tubulus proksimal, filtrat awal 125 ml/m secara progresif berkurang, sampai di akhir tubulus proksimal cairan yang tersisa hanya 44 ml/m. Zat-zat yang difiltrasi tetapi tidak direabsorpsi secara progresif menjadi lebih terkonsentrasi (terkumpul) di cairan tubulus karena H2O telah di reabsorpsi sedangkan mereka tertinggal. Konsentrasi urea sewaktu di filtrasi glomerulus adalah setara dengan konsentrasi di dalam plasma yang memasuki kapiler peritubulus. Namun jumlah urea yang terdapat pada 125 ml cairan filtrasi mengalami pemekatan hampir 3 x lipat dalam volume yang hanya 44 ml di akhir tubulus proksimal. Akibatnya konsentrasi urea di dalam cairan tubulus menjadi jauh lebih tinggi daripada konsentrasi urea dalam plasma di kapiler-kapiler sekitarnya sehingga terciptanya gradien konsentrasi agar urea dapat berdifusi pasif dari lumen tubulus ke dalam plasma kapiler peritubulus