of 27 /27
BAB I PENDAHULUAN A. Konsep Tumbuh Kembang 1. Definisi Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh. Pertumbuhan adalah suatu proses alam terjadi pada individu,yaitu secara bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual (Supartini, 2000). Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya

Proposal Terapi Bermain

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Proposal

Citation preview

Page 1: Proposal Terapi Bermain

BAB I

PENDAHULUAN

A. Konsep Tumbuh Kembang

1. Definisi

Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah

dan besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut

membelah diri dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan

penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian.

Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat

badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara

kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam

pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan

perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam

setiap organ tubuh.

Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada

individu,yaitu secara bertahap,berat dan tinggi anak semakin

bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk

berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual

(Supartini, 2000).

Perkembangan (development) adalah perubahan secara

berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh,

meningkatkan dan meluasnya kapasitas seseorang melalui

pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan

pembelajaran (learning). Perkembangan manusia berjalan secara

progresif, sistematis dan berkesinambungan dengan perkembangan

di waktu yang lalu. Perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk

dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik, intelektual, dan

emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah dengan

bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual

ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak

Page 2: Proposal Terapi Bermain

seperti berbicara, bermain, berhitung. Perkembangan emosional

dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan mempunyai

dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan

dengan pematangan fungsi organ individu.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang

Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan

yang berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa

dengan cepat bahkan lambat, tergantung pada individu dan

lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-

faktor di antaranya :

a. Faktor heriditer/ genetik

Faktor heriditer pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang

terjadi pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak

semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan

untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual (

Supartini, 2000) merupakan faktor keturunan secara genetik dari

orang tua kepada anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah

sepanjang hidup manusia, dapat menentukan beberapa

karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,

pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh

seperti temperamen. Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya

intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat

sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan

berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas

hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif

agar memperoleh hasil yang optimal.

b. Faktor Lingkungan/ eksternal

Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap

hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi

Page 3: Proposal Terapi Bermain

tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia

tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara

garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :

1) Lingkungan prenatal (faktor lingkungan ketika masih dalam

kandungan)

Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada

waktu hamil, faktor mekanis, toksin atau zat kimia, endokrin,

radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.

2) Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran)

Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :

a) Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi,

perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi

metabolisme.

b) Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah,

dan radiasi.

c) Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar,

teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak

dengan orang tua.

d) Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan

atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas

rumah tangga, kepribadian orang tua.

c. Faktor Status Sosial ekonomi

Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang

anak. Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status

sosial yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan

gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan

dalam status ekonomi yang rendah.

d. Faktor Nutrisi

Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang

kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh

kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein,

Page 4: Proposal Terapi Bermain

karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan

tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang

selanjutnya dapat terhambat.

e. Faktor kesehatan

Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh

kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat,

percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun

sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang baik, akan

terjadi perlambatan.

3. Ciri-ciri Tumbuh kembang

Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa

konsepsi sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :

a. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi

sampai maturitas (dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan

daan lingkungan.

b. Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan

dalam proses tumbuh kembang pada setiap organ tubuh berbeda.

c. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya

berbeda antara anak satu dengan lainnya.

d. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas

oleh setiap organ.

Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang

dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Tumbuh kembang fisis

Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar

dan fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari

fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim

terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang

kompleks dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas.

Page 5: Proposal Terapi Bermain

b. Tumbuh kembang intelektual

Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian

berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat

abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau

membaca.

c. Tumbuh kembang emosional

Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada

kemampuan bayi umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan

untuk bercinta kasih.

4. Tahap-tahap Tumbuh Kembang Anak

a. Masa Pranatal

1) Masa embrio : konsepsi – 8 minggu

2) Masa janin/fetus : 9 minggu – lahir

b. Masa bayi : usia 0-1 tahun

c. Masa neonates : 0 – 28 hari

1) Masa neonates dini : 0 – 7 hari

2) Masa neonates lanjut : 8 – 28 hari

d. Masa pasca neonates : 29 hari – 1 tahun

e. Masa pra sekolah : usia 1 tahun – 6 tahun

f. Masa sekolah : usia 6 – 18 tahun

1) Masa pra remaja : usia 6 – 10 tahun

2) Masa remaja

a) Masa remaja dini

Wanita : usia 8-13 tahun

Pria : usia 10-15 tahun

b) Masa remaja lanjut

Wanita : 13-18 tahun

Pria : 15-20 tahun

Page 6: Proposal Terapi Bermain

5. Pertumbuhan Fisik

a. Berat Badan

Berat Badan pada bayi yang lahir cukup bulan berat badan

akan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5

bulan.Berat badan bayi 0-6 bulan setiap minggunya berat badan

akan bertambah 140-200 gr. Sedangkan panjangnya setiap

bulannya akan bertambah 2,5 cm/bln.

1) Perkiraan berat badan dalam kilogram :

a) Lahir : 3,25 kg

b) 3-12 bulan :umur (bulan) + 9

2

c) 1 – 6 tahun : umur ( tahun ) x 2 + 8

d) 6 -12 tahun : umur (tahun ) x 7 – 5

2

e) Menghitung berat badan ideal

(1) Berat badan ideal (BBI) bayi ( umur 0 – 12 bulan)

BBI = Umur ( bulan) + 4

2

(2) BBI anak = ( umur1 – 10 tahun )

BBI = ( umur(tahun) x 2) + 8

(3) Remaja dan dewasa

BBI = ( TB-100 ) – ( TB-100 ) X 10%

Atau BBI = ( TB-100 ) 90%

(4) Berat badan normal

Berat badan normal diperoleh dengan cara

menambah dan mengurangi 10% dari BBI.

(5) Body massa indeks

BMI = BB

(TB)2

Keterangan:

BMI < 18.5 : Berat Badan Kurang

Page 7: Proposal Terapi Bermain

BMI 18.5 – 24 : Normal

BMI 25 – 29 : Kelebihan Berat badan

BMI > 31 : Obesitas

b. Tinggi Badan

Tinggi badan rata-rata lahir adalah 50 cm. secara garis

besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan sebagai berikut :

1) Lahir : 50 cm

2) 1 tahun : 75 cm

3) 2 – 12 tahun : umur ( tahun ) x 6 + 77

c. Lingkar Kepala

Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm

1) Usia 0 dan 6 bulan bertambah 1,32 cm / bulan

2) Usia 6 dan 12 tahun bertambah 0,44 cm / bulan

3) Umur 6 bulan lingkar kepala rata-rata adalah 44 cm

4) Umur 1 tahun 47 cm, umur 2 tahun 49 cm, dewasa 54 cm.

d. Lingkar Dada

Ukuran normal lingkar dada sekitar 2 cm lebih keil lingkar kepala

Page 8: Proposal Terapi Bermain

B. Konsep Terapi Bermain

1. Definisi

Bermain adalah satu kegiatan menyenangkan bagi anak yang

dilakukan setiap hari secara sukarela untuk memperoleh kepuasan

dan merupakan media yang baik bagi anak-anak untuk belajar

komunikasi, mengenal lingkungan, dan untuk meningkatkan

kesejahteraan mental dan sosial anak.

Bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan

anak secara optimal. Anak bebas mengekspresikan perasaan takut,

cemas, gembira atau perasaan lainnya sehingga hal tersebut

memberikan kebebasan bermain untuk anak sehingga orang tua

dapat mengetahui suasana hati si anak. Oleh karena itu dalam

memilih alat bermain hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin

dan usia anak sehingga dapat merangsang perkembangan anak

secara optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit,

aktifitas bermain ini tetap perlu dilaksanakan disesuaikan dengan

kondisi anak.

Bermain juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak

bermasalah selain berguna untuk mengembangkan potensi anak.

Menurut Nasution (cit Martin, 2008), bermain adalah pekerjaan atau

aktivitas anak yang sangat penting. Melalui bermain akan semakin

mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik anak,

kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia nyata, menjadi

eksis di lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi

manfaat lainnya (Martin, 2008). Bermain adalah cerminan

kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan bermain

merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain,

anak akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dengan

lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukan, dan mengenal

waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000). Bermain adalah kegiatan

Page 9: Proposal Terapi Bermain

yang dilakukan sesuai dengan keinginanya sendiri dan memperoleh

kesenangan. (Foster, 1989).

Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas

bermain ini tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan

kondisi anak. Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan

mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan,

seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut

merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena

menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit.

Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari

ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan

permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada

permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya

melakukan permainan.

2. Kategori Bermain

Dua kategori bermain adalah sebagai berikut

a. Bermain bebas

Bermain bebas berarti anak bermain tanpa aturan dan tuntutan.

Anak bisa mempertahankan minatnya dan mengembangkan

sendiri kegiatannya.

b. Bermain terstruktur

Bermain terstruktur direncanakan dan dipandu oleh orang

dewasa. Kategori ini mambatasi dan meminimalkan daya cipta

anak.

Kedua kategori bermain ini sama pentingnya dan bila dilakukan

secara seimbang akan memberikan kontribusi untuk

mencerdaskan anak.

Page 10: Proposal Terapi Bermain

3. Klasifikasi bermain

a. Menurut isinya

1) Social affective play

  Anak belajar memberi respon terhadap respon yang

diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan, misalnya

orang tua berbicara memanjakan anak tertawa senang,

dengan bermain anak diharapkan dapat bersosialisasi dengan

lingkungan.

2) Sense of pleasure play

            Anak memperoleh kesenangan dari satu obyek yang ada di

sekitarnya, dengan bermain anak dapat merangsang perabaan

alat, misalnya bermain air atau pasir.

3) Skill play

Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh

ketrampilan tertentu dan anak akan melakukan secara

berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda.

4) Dramatika play role play

Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya

menjadi ayah atau ibu.

b. Menurut karakteristik sosial

1) Solitary play

Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun

ada beberapa orang lain yang bermain disekitarnya. Biasa

dilakukan oleh anak balita Toddler.

2) Paralel play

Permaianan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak

masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi yang

satu dengan yang lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling

tergantung, biasanya dilakukan oleh anak pre school.

Contoh : bermain balok

Page 11: Proposal Terapi Bermain

3) Asosiatif play

Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan

aktivitas yang sama tetapi belum terorganisasi dengan baik,

belum ada pembagian tugas, anak bermain sesukanya.

4) Cooperatif play

Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan

yang terorganisasi dan terencana dan ada aturan tertentu.

Biasanya dilakukan oleh anak usia sekolah Adolesen.

4. Fungsi bermain secara umum

Anak dapat melangsungkan perkembanganya antara lain

a. Perkembangan sensori motorik

Membantu perkembangan gerak dengan memainkan obyek

tertentu.

b. Perkembangan kognitif

Membantu mengenal benda sekitar (warna, bentuk dan

kegunaan)

c. Kreatifitas

Mengembangkan kreatifitas, mencoba ide baru.

d. Perkembangn sosial

Diperoleh dengan belajat berinteraksi dengan orang lain dan

mempelajari bagaimana belajar dalam kelompok.

e. Kesadaran diri (self awareness)

Bermain belajar memahami kemampuan diri, kelemahan, dan

tingkah laku terhadap orang lain.

f. Perkembangan moral

Interkasi dengan orang lain, bertingkah laku sesuai harapan

teman, menyesuaikan dengan aturan kelompok. Contoh: dapat

menerapkan kejujuran.

Page 12: Proposal Terapi Bermain

g. Terapi

Bermain merupakan kesempatan pada anak untuk

mengekspresikan perasaan yang tidak enak, misalnya: marah,

takut, dan benci.

h. Komunikasi

Bermain adalah salah satu alat komunikasi bagi anak yang belum

dapat mengatakan secara verbal, misalnya: menggambar,

melukis, dan bermain peran.

5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas bermain

a. Energi ekstra atau tambahan

Bermain memerlukan energi tambahan, anak yang sedang sakit

ringan mempunyai keinginan untuk bermain, namun apabila anak

mulai lelah atau bosan maka anak akan menghentiklan

permainannya.

b. Waktu

Anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain,

c. Alat permainan

Untuk bermain diperlukan alat permainan yang sesuai dengan

umur dan taraf perkembangan anak.

d. Ruangan atau tempat untuk bermain

Ruangan tidak usah terlalu besar, anak juga bisa bermain

dihalaman atau ditempat tidur.

e. Pengetahuaan cara bermain

Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru

teman-temannya, atau diberi tahu caranya.

f. Terapi bermain

Anak harus yakin bahwa anak mempunyai teman bermain. Kalau

anak bermain sendiri, maka anak anak kehilangan kesempatan

belajar dari teman-temanya. Akan tetapi kalau anak terlalu banyak

bermain dengan anak yang lain, maka anak tidak mempunyai

Page 13: Proposal Terapi Bermain

kesempatan yang cukup untuk menghibur diri sendiri dan

menemukan kebutuhanya sendiri.

g. Reward

Berikan semangat dan pujian atau hadiah pada anak bila berhasil

melakukan sebuah permainan.

Namun terkadang keseimbangan dalam bermain kadang tidak

dapat dicapai, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini:

a. Kesehatan anak menurun

Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain.

b. Tidak ada variasi dari alat permainan

c. Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya

Meskipun banyak alat permainan, tetapi tidak banyak

manfaatnta kalau anak tidak tahu bagaimana cara

menggunakannya.

d. Tidak mempunyai teman bermain

Kalau anak tidak mempunyai teman bermain, maka aktivitas

bermain yang dapat dikerjakan sendiri akan terbatas.

Page 14: Proposal Terapi Bermain

BAB II

DESKRIPSI KASUS

PROPOSAL TERAPI BERMAIN

Topik : Terapi Bermain

Sub Topik : permainan anak usia 0 – 28 hari (neonatus)

Tempat : ruang perawatan anak

Waktu : ± 15 menit

Identitas Anak

Nama Anak :

Umur :

Tanggal Pelaksanaan :

A. Latar Belakang

Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai

kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan, bukan ordes mini, juga

bukan merupakan harta atau kekayaan orang tua yang dapat dinilai

secara sosial ekonomi, melainkan masa depan bangsa yang berhak atas

pelayanan kesehatan secara individual. Anak membutuhkan lingkungan

yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan

untuk belajar mandiri. Anak sebagai orang atau manusia yang

mempunyai pikiran, sikap, perasaan dan minat yang berbeda dengan

orang dewasa dengan segala keterbatasan.

Bagi anak bermain merupakan seluruh aktivitas anak termasuk

bekerja, kesenangannya dan merupakan metode bagaimana mereka

mengenal dunia. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi

merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta

kasih, dll. Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak

baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas dan sosial.

Beberapa ahli mengatakan bahwa bermain pada anak merupakan

sarana untuk belajar. Bermain dan belajar untuk anak merupakan suatu

kesatuan dan suatu proses yang terus menerus terjadi dalam

Page 15: Proposal Terapi Bermain

kehidupannya. Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada

anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang

menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan

mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan

dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Melalui bermain anak dapat mengorganisasikan berbagai pengalaman

dan kemampuan kognitifnya dalam upaya menyusun kembali gagasan

yang cemerlang. Bermain adalah pekerjaan anak. Dalam bermain anak

mempraktekkan secara kontinu proses hidup yang rumit dan penuh

stress,komunikasi, dan mencapai hubungan yang memuaskan dengan

orang lain. Di situlah mereka belajar tentang diri mereka sendiri dan

dunia mereka. Anak mempuyai kesulitan dalam pemahaman mengapa

mereka sakit, tidak bisa bermain dengan temannya, mengapa mereka

terluka dan nyeri sehingga membuat mereka harus pergi ke rumah sakit

dan harus mengalami hospitalisasi. Reaksi anak tentang hukuman yang

diterimanya dapat bersifat passive, cooperative, membantu atau anak

mencoba menghindar dari orang tua, anak menjadi marah.

Dengan ini, untuk mengurangi dampak hospitalisasi terhadap

anak kita bermaksud untuk melaksanakan terapi bermain yang bertujuan

untuk membantu anak terhindar dari stress, stressor dan dampak

hospitalisasi yang mengancam pertumbuhan dan perkembangan anak.

B. Fungsi bermain di rumah sakit

1. Memfasilitasi anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang asing.

2. Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol.

3. Membantu mengurangi stress terhadap perpisahan

4. Memberikan kesempatan untuk mempelajari tentang bagian-bagian

tubuh, fungsinya dan penyakit.

5. Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan

tujuan peralatan serta prosedur medis.

6. Member peralihan (distraksi) dan relaksasi

Page 16: Proposal Terapi Bermain

7. Membantu anak untuk merasa lebih aman dalam lingkungan yang

asing.

8. Memberi cara untuk mengurangi tekanan dan untuk

mengksplorasikan perasaan.

9. Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap

yang positif terhadap orang lain.

10.Member cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat.

11.Memberi cara untuk mencapai tujuan theraupetik

C. Perkembangan Anak Usia 0 - 28 hari (neonatal)

1. Usia 0 – 4 minggu

a. Perkembangan motorik

1) Tangan dan kaki menekuk dan agak kaku

2) Kepala berpaling ke kiri dank e kanan

b. Perkembangan penglihatan

1) Mampu memandangi wajah

2) Fokus penglihatan berjarak 20-30 cm

c. Perkembangan pendengara

Belum bereaksi terhadap suara

d. Perkembangan social

Memberi respon jika digendong atau ditimang

2. Usia 4 minggu

a. Perkembangan motorik

1) Kaki sudah lebih lurus, lebih lentur dan rileks

2) Kepala sudah bisa lurus ke depan

b. Perkembangan penglihatan

Mengikuti benda yang bergerak

c. Perkembangan pendengaran

Berkedip, terkejut, mengerutkan dahi, atau terbangun ketika

mendengar suara berisik

Page 17: Proposal Terapi Bermain

d. Perkembangan sosial

Mulai tersenyum spontan

D. Jenis Permainan

Mengamati mainan

1. Persiapan :

a. Tempat tidur

b. Boneka atau kain berwarna cerah

2. Cara bermain :

a. Tidurkan bayi dengan posisi telentang

b. Pegang boneka/mainan/kain di depan bayi dengan jarak 20-30

cm

c. Pastikan bayi melihat mainan

d. Gerakkan mainan kea rah samping agar bayi mengikuti

dengan pandangan ke kiri dan ke kanan. Lakukan 2-3 kali

e. Ulangi langkah “b” dan “c”, kemudian gerakkan mainan

dengan arah gerak turun naik agar bayi berlatih fokus

penglihatan jauh-dekat.

E. Manfaat Bermain

1. Belajar memusatkan penglihatan pada objek sejauh 20-30 cm di

depannya

2. Menguatkan otot mata dan keserasian gerak kedua mata

F. Pelaksanaan

Waktu : ± 15 menit

Tempat :

Peserta

1. Pelaksana : Perawat (Mahasiswa)

2. Observer : 1 orang (Pembimbing)

3. Fasilitator : Orang Tua

Page 18: Proposal Terapi Bermain

4. Anak (Pasien) : 1 orang

G. Karakteristik peserta

Bayi usia 0-28 hari

Keadaan umum anak mulai membaik

H. Metode : Demonstrasi

I. Setting

Keterangan:

: observer

: peserta

: pasilitator

: tempat tidur

: pelaksana

Page 19: Proposal Terapi Bermain

J. STRATEGI PELAKSANAAN

1. Fase Prainteraksi: 5 Menit

a. Melakukan kontrak waktu dan ruangan

b. Mengecek kesiapan bayi

c. Menyiapkan alat

2. Fase Orientasi : 5 menit

a. Memberi salam dan perkenalan antara petugas dengan

keluarga

b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan

3. Fase Kerja: 15 menit

a. Bayi ditidurkan di tempat tidur dengan posisi telentang

b. Petugas memegang boneka/mainan/kain di depan bayi

dengan jarak 20-30 cm

c. Petugas memastikan bayi melihat mainan

d. Petugas menggerakkan mainan ke arah samping agar bayi

mengikuti dengan pandangan ke kiri dan ke kanan. Petugas

melakukan 2-3 kali

e. Petugas mengulangi langkah “b” dan “c”, kemudian petugas

menggerakkan mainan dengan arah gerak turun naik agar bayi

berlatih fokus penglihatan jauh-dekat.

4. Fase Terminasi Penutup: 3 Menit

a. Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan

b. Menjelaskan hasil kesimpulan pada keluarga

c. Berpamitan dengan keluarga

d. Membereskan dan kembalikan alat pada tempat semula

e. Mencuci tangan

Page 20: Proposal Terapi Bermain

K. EVALUASI YANG DIHARAPKAN

1. Bayi dapat memusatkan penglihatan pada objek sejauh 20-30 cm

di depannya

2. Bayi dapat mengikuti gerakan benda yang didekatkan padanya

dan ada keserasian antara gerak kedua mata.